Bidan DELIMA

Posted: September 15, 2011 in konsep kebidanan
Tag:,

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.Latar Belakang

Sebagai salah satu profesi dalam bidang kesehatan, bidan memiliki kewenangan untuk memberikan Pelayanan Kebidanan Kesehatan Reproduksi kepada perempuan remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, bersalin, nifas, masa interval, klimakterium dan menopause, bayi baru lahir, serta anak balita dan prasekolah. Selain itu, bidan juga berwenang untuk memberikan Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Masyarakat.

Dari tahun ke tahun, permintaan masyarakat terhadap peran aktif bidan dalam memberikan pelayanan terus meningkat. Ini merupakan bukti bahwa eksistensi bidan di tengah masyarakat semakin memperoleh kepercayaan, pengakuan, dan penghargaan. Berdasarkan hal inilah, bidan dituntut untuk selalu berusaha meningkatkan kemampuan sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanannya termasuk pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Hanya melalui pelayanan berkualitas pelayanan yang terbaik dan terjangkau yang diberikan oleh bidan, kepuasan pelanggan baik kepada individu, keluarga, dan masyarakat dapat tercapai.

Program Bidan Delima mulai dicanangkan pada akhir tahun 2003 dengan bantuan dana dari USAID melalui STARH program. Program ini dilaksanakan di enam propinsi yakni, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. Pada tahun 2005, Program Bidan Delima dikembangkan di tiga propinsi baru, yaitu Bali, DIY, dan Sumatera Selatan. Menyusul kemudian di propinsi NAD dan Banten pada akhir tahun 2006.

B. Tujuan

            Tujuan yang ingin dicapai dari penyusunan makalah ini adalah:

  1. Memberikan pengetahuan tentang apa itu bidan delima.
  2. Memberikan pengetahuan tentang visi dan misi bidan delima.
  3. Memberikan pengetahuan tentang proses sertifikasi bidan delima.
  4. Memberikan pengetahuan tentang filosofi logo bidan delima.

 

 

C. Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh dengan disusunnya makalah ini antara lain:

  1. Mahasiswa mengetahui seluk beluk bidan delima.
  2. Mahasiswa termotivasi untuk belajar sehingga kelak menjadi bidan yang berkualitas.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian

Bidan Delima adalah suatu program terobosan strategis yang mencakup:

  1. Pembinaan peningkatan kualitas pelayanan bidan dalam lingkup Keluarga Berencana (KB) dan Kesehatan Reproduksi.
  2. Merk Dagang/Brand.
  3. Mempunyai standar kualitas, unggul, khusus, bernilai tambah, lengkap, dan memiliki hak paten.
  4. Rekrutmen Bidan Delima ditetapkan dengan kriteria, sistem, dan proses baku yang harus dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan.
  5. Menganut prinsip pengembangan diri atau self development, dan semangat tumbuh bersama melalui dorongan dari diri sendiri, mempertahankan dan meningkatkan kualitas, dapat memuaskan klien beserta keluarganya.
  6. Jaringan yang mencakup seluruh Bidan Praktek Swasta dalam pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi.

 

  1. B.      Dasar Hukum

1. UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.

2. Anggaran Dasar IBI Bab II Pasal 8 dan Anggaran Rumah Tangga IBI Bab III Pasal 4.

3. Kepmenkes No. 900/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktek Bidan.

4. SPK (Standar Pelayanan Kebidanan) IBI 2002.

 

  1. C.  Tujuan
    1. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
    2. Meningkatkan profesionalitas Bidan.
    3. Mengembangkan kepemimpinan Bidan di masyarakat.
    4. Meningkatkan cakupan pelayanan Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana.
    5. Mempercepat penurunan angka kesakitan dan kematian Ibu, Bayi dan Anak.

                                                                                           

 

  1. D.  Manfaat

Manfaat yang bisa diperoleh dengan berpartisipasi sebagai Bidan Delima antara lain:

1. Kebanggaan profesional

2. Kualitas pelayanan meningkat

3. Pengakuan organisasi profesi

4. Pengakuan masyarakat

5. Cakupan klien meningkat

6. Pemasaran dan promosi

7. Penghargaan bidan delima

 

E. Logo Bidan Delima

Makna yang ada pada Logo Bidan Delima adalah:

Bidan : Petugas Kesehatan yang memberikan pelayanan yang berkualitas, ramah-tamah, aman-nyaman, terjangkau dalam bidang kesehatan reproduksi, keluarga berencana dan kesehatan umum dasar selama 24 jam.
Delima : Buah yang terkenal sebagai buah yang cantik, indah, berisi biji dan cairan manis yang melambangkan kesuburan (reproduksi).
Merah : Warna melambangkan keberanian dalam menghadapi tantangan dan pengambilan keputusan yang cepat, tepat dalam membantu masyarakat.
Hitam : Warna yang melambangkan ketegasan dan kesetiaan dalam melayani kaum perempuan (ibu dan anak) tanpa membedakan.
Hati : Melambangkan pelayanan Bidan yang manusiawi, penuh kasih sayang (sayang Ibu dan sayang Bayi) dalam semua tindakan/ intervensi pelayanan.

Bidan Delima melambangkan pelayanan berkualitas dalam Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana yang berlandaskan kasih sayang, sopan santun, ramah-tamah, sentuhan yang manusiawi, terjangkau, dengan tindakan kebidanan sesuai standar dan kode etik profesi.

Logo/branding/merk Bidan Delima menandakan bahwa BPS tersebut telah memberikan pelayanan yang berkualitas yang telah diuji/diakreditasi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, memberikan pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan dan kepuasan pelanggannya (Service Excellence).

 

  1. F.   Visi Dan Misi
  2. Visi

Meningkatkan kualitas pelayanan untuk memberikan yang terbaik, agar dapat memenuhi keinginan masyarakat.

  1. Misi

Bidan Delima adalah Bidan Praktek Swasta yang mampu memberikan pelayanan berkualitas terbaik dalam bidang kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, bersahabat dan peduli terhadap kepentingan pelanggan, serta memenuhi bahkan melebihi harapan pelanggan.

 

  1. G.  Proses Menjadi Bidan Delima

Ada beberapa tahap yang harus dilalui seorang Bidan/BPS yang ingin menjadi Bidan Delima, yaitu:

  1. Untuk menjadi Bidan Delima, seorang Bidan Praktek Swasta harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, yaitu : memiliki SIPB, bersedia membayar iuran, bersedia membantu BPS menjadi Bidan Delima dan besedia mentaati semua ketentuan yang berlaku.
  2. Melakukan pendaftaran di Pengurus Cabang.
  3. Mengisi formulir prakualifikasi.
  4. Belajar dari Buku Kajian Mandiri dan mendapat bimbingan fasilitator.
  5. Divalidasi oleh fasilitator dan diberi umpan balik. Prosedur validasi standar dilakukan terhadap semua jenis pelayanan yang diberikan oleh Bidan Praktek Swasta yang bersangkutan.

 

Bagi yang lulus, yaitu yang telah memenuhi seluruh persyaratan minimal dan prosedur standar, diberikan sertifikat yang berlaku selama 5 tahun dan tanda pengenal signage, pin, apron (celemek), dan buku-buku. Bagi yang belum lulus, fasilitator terus mementor sampai ia berhasil lulus jadi Bidan Delima.

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Bidan delima adalah suatu wadah bagi bidan – bidan yang telah terkualifikasi berdasarkan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh IBI dan kualitas pelayanannya terjamin, sehingga masyarakat tidak perlu ragu lagi apabila akan meminta pelayanan kepada bidan yang telah terdaftar sebagai bidan delima.

 

  1. B.     Saran

Penyusun makalah menyarankan agar pihak yang terkait ( IBI ) lebih gencar lagi melakukan promosi bidan delima agar masyarakat meminta asuhan kepada bidan yang telah bersertifikasi bidan delima. Selain itu, para bidan harus lebih meningkatkan kualitas pelayanan agar bisa lolos sertifikasi bidan delima dan bisa melayani klien secara profesional.

Masyarakat hendaknya mulai menyadari pentingnya mengetahui kualitas bidan yang mengasuhnya demi kesejahteraan dirinya dan janinnya.

SEJARAH PELAYANAN KEBIDANAN DI NEW ZEALAND

 

Selandia Baru telah mempunyai peraturan tentang cara kerja kebidanan sejak tahun 1904. Tetapi, lebih dari seratus tahun yang lalu lingkup praktek bidan telah berubah secara berarti sebagai hasil dari meningkatnya sistem perumahsakitan dan pengobatan atau pertolongan dalam kelahiran. Karena adanya otonomi bagi pekerja yang bergerak dalam praktiknya dengan lingkup praktik yang penuh di awal tahun 1900, secara perlahan bidan menjadi asisten dokter. Bidan bekerja di masyarakat dimulai dengan bekerja di rumah sakit dalam area tertentu, seperti klinik antenatal, ruang bersalin, ruang nifas, kehamilan dan persalinan menjadi terpisah, khusus dan tersendiri secara keseluruhan. Dalam proses ini bidan kehilangan pandangan bahwa persalinan adalah suatu peristiwa yang normal dan dengan peran mereka sendiri pun sebagai pendamping pada peristiwa normal tersebut. Di samping itu bidan menjadi berpengalaman memberikan intervensi dan asuhan maternitas yang penuh dengan pengaruh medis, dimana seharusnya para dokter di rumah sakit secara langsung yang lebih tepat memberikannya.

Model di atas ditujukan untuk memberikan pelayanan maternal dan untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian ibu dan janin, hal ini berlangsung pada tahun 1920 sampai tahun 1980, dimana yang memberlakukan model tersebut adalah negara-negara barat seperti Selandia Baru, Australia, Inggris dan Amerika. Tetapi strategi seperti itu tidak mencapai kesuksesan.

 

PERAN DAN FUNGSI BIDAN DI SELANDIA BARU

  1. Kebidanan sebagai profesi otonomi

Midwifery in New Zealand regained its status as an autonomous profession in 1990.  Midwifery is a profession with a distinct body of knowledge and its own Scope of Practice, Code of Ethics and Standards of Practice.            Kebidanan di Selandia Baru kembali statusnya sebagai profesi yang otonom pada tahun 1990. Kebidanan adalah profesi dengan tubuh  ilmu pengetahuan berbeda dan mempunyai bidang praktik sendiri, Kode Etik dan Standar Praktek.

 

New Zealand telah mematok 4 kompetensi utama yang harus dimiliki oleh seorang

bidan. Yakni ilmu tentang prenatal hingga postnatal, pengetahuan tentang keluarga, kemampuan

menggunakan hasil-hasil penelitian, dan bagaimana bidan itu bisa mengembangkan diri sendiri.

 

 

Bidan diharapkan untuk bekerja dalam kemitraan dengan perempuan, menyediakan atau mendukung kesinambungan asuhan kebidanan melalui pendekatan pengalaman wanita. Midwives work collaboratively with other health professionals when necessary to meet any additional medical, health or social needs of mothers and their babies. Bidan bekerja sama dengan tenaga profesional kesehatan lain bila diperlukan untuk memenuhi banyak kebutuhan medis, kesehatan atau kebutuhan sosial ibu dan bayi mereka.

 

  1. Konteks dalam praktik

Semua perawatan bersalin gratis, kecuali jika seorang wanita memilih persalinan pribadi, yang mungkin menuntut wanita mengeluarkan biaya tambahan di samping biaya tetap yang sudah diterima dari pemerintah.

Lead Maternity Carers are selected by women to provide their lead maternity care and can be midwives or general practitioners with a diploma in obstetrics or obstetricLead Carers Maternity dipilih oleh perempuan untuk memberikan bimbingan asuhan bersalin mereka yang dapat dilakukan bidan atau praktisi umum dengan lulusan diploma kebidanan atau dokter kandungan. Lead Maternity Carers take responsibility for the care provided to women throughout pregnancy and the postpartum period including the management of labour and birth. Lead Carers Maternity bertanggung jawab atas perawatan yang diberikan kepada perempuan selama kehamilan dan periode pasca-melahirkan termasuk manajemen kerja dan kelahiran. Perempuan  Women in New Zealand can give birth at home, in primary maternity facilities or birthing centres, or in secondary maternity hospitals.di Selandia Baru dapat melahirkan di rumah, di  fasilitas bersalin dasar atau klinik bersalin pusat, atau di rumah bersalin sekunder.

 

  1. Model terpadu dalam layanan persalinan

The LMC model of primary maternity care is the cornerstone of the maternity service.Model LMC perawatan ibu hamil primer adalah batu penjuru dari layanan bersalin. All other services fit in around this model so that the woman experiences a seamless maternity service that meets her individual needs, whatever these might be. Semua layanan lainnya sesuai dengan model ini sehingga wanita hamil mendapatkan layanan dengan lancar, yang memenuhi kebutuhan individu-nya, This model is unique in the world and has been highly successful in New Zealand with women expressing considerable satisfaction with their maternity services.Model ini unik di dunia dan telah sangat berhasil di Selandia Baru dengan perempuan menyatakan cukup puas dengan layanan bersalin.

4.    Pendidikan Kebidanan

Pendidikan kebidanan model terpadu yang telah dikembangkan di Selandia Baru di mana pendidikan yang mencerminkan kebutuhan dan arah praktek, dan pendidik dan  praktisi berbagi tanggung jawab untuk persiapan semua praktisi kebidanan. (Further discussion of partnerships in midwifery education can be found in Sally Pairman’s paper published in the NZCOM Journal [Pairman, S.(2001). International trends and partnerships in midwifery education. New Zealand College of Midwives Journal, 24, 7-9].NZCOM yang mempunyai andil besar dalam pendidikan kebidanan di Selandia Baru mempunyai kerangka kerja pendidikan, yakni:

  • menetapkan peranan dari Selandia Baru College of Midwives (NZCOM) dalam kaitannya dengan latihan dan pendidikan kebidanan di Selandia Baru, dan hubungan NZCOM dengan organisasi lain dengan tanggung jawab untuk pendidikan kebidanan. Ini juga membahas hubungan antara kebidanan dan pendidikan keperawatan dalam konteks layanan bersalin Selandia Baru.
  • memberikan latar belakang pengembangan kerangka kerja
  • menetapkan Kerangka Nasional Pendidikan Kebidanan. Ini memberikan arah untuk pendidikan kebidanan dan lembaga pendidikan menawarkan program-program kebidanan dan mewakili pandangan konsensus bidan anggota NZCOM

 

5.    Tinjauan Standar Kebidanan

  • maintain professional standards of practice mempertahankan standar praktik profesional
  • reflect on the partnership between women and midwives throughout the childbirth experience using the feedback received from women. merefleksikan kemitraan antara perempuan dan bidan di seluruh pengalaman melahirkan menggunakan umpan balik yang diterima dari kaum perempuan. (Consumer feedback forms provide women with the opportunity to provide feedback on the care they received. This information is used by the midwife and her reviewers during her review. There are seperate forms available for core and LMC midwives
  • berpikir tentang pekerjaannya menggunakan Standar NZCOM Praktek diterima sebagai prinsip-prinsip perawatan kebidanan di Selandia Baru
  • demonstrate her commitment to ongoing professional development and accountabilitymenunjukkan komitmennya terhadap pengembangan profesional berkelanjutan dan akuntabilitas
  • examine her practice with midwifery peers and consumers of midwifery servicesmemeriksa praktiknya dengan rekan-rekan kebidanan dan konsumen layanan kebidanan

KOMENTAR

Kebidanan di Selandia Baru menempati posisi yang penting dalam pemeliharaan kesehatan ibu dan anak. Bidan mempunyai tanggungjawab dalam menerapkan asuhan kebidanannya dengan berdasarkan kode etik dan standar praktik kebidanan. Model kebidanan yang dipakai di negara ini adalah model terpadu yang meggunakan pendekatan kemitraan atau partnership dengan klien sehingga tercapai kepuasan klien terhadap layanan persalinan yang diberikan. Dalam praktiknya, bidan dapat praktik mandiri maupun kolaborasi dengan tenaga medis yang lain jika diperlukan.

Pendidikan kebidanan di Selandia Baru, aturannya diatur oleh NZCOM(Selandia Baru College of Midwife) dan organisasi pendidikan lainnya. Lead Carers Maternity dipilih oleh perempuan di Selandia Baru yang terdiri dari bidan atau praktisi umum dengan lulusan diploma kebidanan atau dokter kandungan.

Perempuan  Women in New Zealand can give birth at home, in primary maternity facilities or birthing centres, or in secondary maternity hospitals.di Selandia Baru dapat melahirkan di rumah, di  fasilitas bersalin dasar atau klinik bersalin pusat, atau di rumah bersalin sekunder. Semua perawatan bersalin gratis, kecuali jika memilih persalinan secara pribadi, mereka diharuskan mengeluarkan biaya tambahan selain biaya yang digratiskan pemerintah.

Peran dan fungsi bidan di Selandia Baru sebagai pelaksana memberikan kepuasan bagi para pasien. Program Pemerintah dalam membebaskan biaya persalinan bagi para warga berbeda dengan di Indonesia. Terdapat berbagai kasus setelah persalinan pasien tidak mampu membayar biaya persalinan karena masalah ekonomi ,pemerintah tidak ikut campur dalam pelaksanaan pelayanan kebidanan.

Dilihat dari kemitraannya, di Indonesia hubungan warga dengan bidan belum begitu terlihat kedekatannya sehingga masyarakat kurang puas dalam mendapatkan pelayanan. Selain itu biaya yang ditetapkan bidan masih tinggi bagi masyarakat kelas bawah.

Di New Zealand sendiri, profesi bidan sudah berjalan dengan mantab. Meski hanya berpenduduk

4 juta jiwa. New Zealand telah berhasil mengatur dengan baik masalah kebidanannya. “Jika dilihat, bidan kita jauh lebih

banyak menangani kelahiran, ketimbang bidan di New Zealand, tapi untuk ilmu kita masih harus

belajar dari sana,” sahut salah seorang peserta konferensi.

Dalam hal ini,

Lalu bagaimana dengan bidan Indonesia ? bidan kita

sudah merujuk pada 9 perilaku professional bidan. Yakni bertindak sesuai keahliannya, bermoral

tinggi, berlaku jujur, tidak melakukan coba-coba, tidak memberi janji berlebihan, mengembangkan

kemitraan, terampil berkomunikasi, mengenal batas kemampuan, serta mengadvokasi pilihan ibu.

Sebenarnya yang sulit itu adalah bagaimana menata skill untuk bidan. Bidan perlu kolaborasi yang kuat. Memadukan antara organisasi profesi, pendidikan, dan

layanan, serta kerjasama antara IBI dan stake holder.

 

 

(file://localhost/H:/haiiiii/KEBIDANAN%20SELANDIA%20BARU.htm

file://localhost/H:/haiiiii/NZCOM-Midwifery-Education-Framework.htm)

 

SPIROCHAETA

Posted: September 13, 2011 in mikrobiologi

SPIROCHAETA

Golongan kuman ini termasuk dalam orgo Spirochaetales yang dibagi kedalam 2 familia morfologi seperti panjang sel. Jumlah spiral. Ada tidaknya filament aksial, dan lain – lain.

Klasifikasi menurut Bergey 1984 adalah sebagai berikut :

Spirochetes :

Order I. Spirochaetales

Family I. Spirochaetaceae

Genus 1. Spirochaeta

Genus 2. Christispira

Genus 3. Treponema

Genus 4. Borrelia

Family II. Leptospiraceae

Genus 1. Leptospira

 

FAMILIA SPIROCHAETACEAE

Bekteri ini tidak memiliki flagella, berbentuk spiral halus, langsing, fleksibel, merupakan gram negatif, bersifat anaerob, fakulatif anaerob atau mikroaerofil. Ukuran lebar 0.1 – 0.3 um, panjang 5 – 300 um. Walaupun tanpa flagella dapat bergerak aktif secara cepat melalui 3 cara yakni rotasi, kontraksi, dan gerakan seperti ular. Gerakan tersebut disebabkan karena kuman ini memiliki beberapa lembar filament yang terletak diantara dinding sel dan membrane sitoplasma terentang dari ujung satu keujung lainya.

Spirochaeta hidup bebas didalam air yang mengandung H2S, dilumpur, atau didasar laut. Bagi pertumbuhanya dibutuhkn media yang diperkaya dengan serum dan dalam suasana anaerob.

Kuman ini dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop medan gelap atau dengan pengecatanm khusus seperti Giemsa Fontana, atau Levaditti (impregnasi perak). Terdapat 3 genus yang patogen bagi manusia yakni Treponema, Boriela, dan Leptospira.

GENUS TREPONEMA

Treponema pallidum

Kuman ini merupakan penyebab penyakit lues (safilis) dengan membentuk ulkus pada organ genital kemudian menjadi infeksi umum.

A.    Morfologi dan Identifikasi

Berbentuk spiral halus, ramping berukuran panjang 5-15 um dan tebal 0.2 um. Untuk pengamatan biasanya digunakan mikroskop medan gelap, imunofloerosensi atau dengan impregnasi perak karena kuman ini mampu mereduksi perak nitrit menjadi perak metalik sehingga treponema dalam jaringan dapat teramati (Impregnasi perak dari Levaditti).

Koil spiral tersusun teratur dengan jarak 1 um. Kuman ini bergerak aktif dengan berputar teratur mengelilingi sumbu panjang. Sumbu sepanjang spiral biasanya lurus, tetapi kadang-kadang membengkok sehingga memungkinkan kuman ini suatu saat membentuk lingkaran kemudian kembali keposisi normal. Selain bentuk spiral dikenal fase granulair berbentuk bulat seperti kista.

T. pallidum belum berhasil dibiakkan dengan baik pada media buatan, telur berembrio ataupun biakkan jaringan, tetapi strain Reiter yang non patogen dapat tumbuh secara anaerob (in vitro). Kuman ini tetap hidup selama 3-6 hari pada 25° C, sedangkan pada darah yang disimpan pada suhu 4° C dapat hidup selama 24 jam. Sifat ini perlu diperhatikan mengingat ada kemungkinan penularan lues melalui transfusi darah. Pada suhu 24°C kuman ini akan mati, sifat ini dahulu digunakan sebagai terapi lues (fefer therapy) dengan menyuntikan parasit malaria secara intravena agar penderita menjadi demam sehingga treponema mati.

Treponema peka terhadap pengeringan dan pemanasan, senyawa arsen, merkuri dan bismut.

T. pallidum berkembang dengan belah pasang secara transversal setelah membelah kuman saling melekat satu sama lain untuk beberapa saat. Penisilin pada konsentrasi rendah bersifat mamatikan treponema secara lambat, hal ini disebabkan karena lambatnya multiplikasi kuman ini.

Antigen T. pallidum belum diketahui secara jelas. Antibodi terhadap kuman ini pada manusia dapat dideteksi dengan tes immobilisasi (TPI), FAT (imunoflourensi) dan tes ikatan komplemen. Didalam tubuh manusia akibat infeksi lues akan terbentuk regain. Zat tersebut terbentuk karena adanya jaringan yang rusak (yang bersifat sebagai hapten) yang apabila berikatan dengan protein T. pallidum akan membentuk antigen lengkap sehingga menginduksi terbentuknya reagin. Zat ini akan memberikan hasil positif pada tes ikatan komplemen dan tes flokulasi dengan suspensi ekstrak jantung mamalia (sapi). Zat ini kemudian digunakan dalam uji serelogik untuk diagnosa penyakit sifilis seperti tes Wasserman, VDRL, Kahn.

B.     Patogenesis, patologi dan gejala klinik

Penularan penyakit lues pada manusia dapat melaui kohabitasi, saliva, transfusi darah, serta transplantasi. Masa tunas 4 – 6 minggu. Kurang lebih 30% kasus infeksi sifilis dini sembuh sempurna tampa pengobatan, pada 30% lainya infeksi yang tidak diobati menjadi laten, dengan uji serologi positif, sedangkan sisanya penyakit berkembang menjadi stadium lebih lanjut.

 

Stadium I : afek primer :

Lesi primer 10 – 20% terjadi pada intrarektal, perianal dan oral. T. pallidum masuk tubuh dengan mnembus mukosa atau luka pada kulit. Kuman berkembang biak pada tempat ia masuk, sebagian menyebar ke kelenjar limfe setempat dan peredaran darah. Pada 2 – 10 minggu setelah infeksi pada tempat masuk (organ genitalia) terbentuk papula merah yang membesar, mengeras (indurasi), kemudian terjadi nekrosis, pecah dan menjadi ulkus (ulkus durum). Dasar ulkus bersih, pada palpalasi keras, tidak nyeri, lesi ini sembuh spontan. Bila lesi ini dipijit akan keluar eksudat yang mengandung kuman. Cairan ini disebut serum Reitz. Lesi primer pada pria biasanya terjadi pada glans atau preputium penis, sedangkan pada wanita terdapat pada vulva, labia mayora, labia minora atau vagina.

Stadium II : stadium bubo :

Terjadi pada minggu 6 – 12 setelah efek primer. Timbul pembengkaknan kalenjer limfe yang tidak nyeri dan tidak melekat pada kulit. Pembengkakan kemudian menghilang, kuman masuk peredaran darah menyebar keseluruh tubuh disertai demam, kelainan kulit, mukosa mulut, anus serta alat genitalia. Kelainan berbentuk macula, vesikula, pustula yang efektif.

 

Stadium III : stadium laten :

Kelainan kulit tang terjadi kadang-kadang dapat sembuh dengan sendirinya untuk kemudian terbentuk suatu gumma (granulomatosa), suatu ulkus dengan tepi tidak meradang. Gumma dapat tejadi pada tulang, sendi, kulit dean alat-alat dalam. Pada stadium ini terjadi perubahan degeneratif system syaraf pusat (safilis meningovaskuler, paresis dan tabes) Rambut rontok dalam beberapa tahun karena folikel.

 

 

Stadium IV : stadium neurollus :

Terjadi pada 5 – 15 tahun setelah efek primer, merupakan akibat penyebaran kuman ke system syaraf pusat, dengan gejala : tabes dorsalis atau gejala psikiatrik seperti dimentia paralitika. Pada stadium II dan IV, T. pallidum sulit ditemukan dalam lesi.

Penyakit ini dibagi 2 menurut cara perolehnya yakni sifilis dapatan dan sifilis kongenita

  1. Sifilis dapatan (aquisita) :

Secara alamiah infeksi T. pallidum hanya terbatas pada manusia, ditullarkan lewat hubungan seksual dengan lesi pada kulit atau membrana mukosa alat kelamin.

  1. Sifilis kongenita :

Bila seorang ibu hamil menderita sifilis, terutama pada stadium II, penularan dapat terjadi pada bayinya secara transplasental. Akibat yang terjadi tergantung pada masa kehamilanya.

Trimerter I       : dapat timbul abortus atau sifilis congenital

Trimester II     : stillbirth, prematuritas atau lues tarda

Trimester III    : anak lahir aterm, tetapi meninggal dengan maserasi, kulit penuh dengan bula yang efektif. Segala sesuatu yang dikeluarkan ibunya lewat vagina bersifat infeksius.

Anak yang lahir hidup menderita gejala : hidung pelana (saddle nose), kulit keriput, pada telapak dan tangan terdapat gelembung (pemfigus sifilitikus), splenomegali. Pada foto tulang panjang ditemukan osteochondritis, dengan daerah metaphisis yang mengapur dan melebar.

Lues tarda : anak yang lahir tampak normal dan sehat, tetapi sebenarnya sedang terjadi infeksi laten. Kurang lebih 8 tahun kemudian timbul gejala tuli sentral, kornea keruh, gigi seri bergerigi. Ketiga gejala tersebut dikenal sebagai Trias Hutchinson. Bila anak menjadi dewasa, timbul kelainan SSP seperti hemiplegi, tabes dorsalis, dimentia paralitika, serta idiosi.

C.    Diagnosa labolatorik

Bahan pemeriksaan berupa cairan jaringan lesi awal untuk uji mikroskopik. Serum untuk uji serologik.

  1. 1.      Pemeriksaan mikroskopik

Pada stadium I :

Bersihkan lesi dengan pinset dan kain kasa dengan NaCl, tekan lesi sampai keluar serum Ritz yang jernih (bila berdarah diulang). Dibuat preparat basah untuk mikroskop medan gelap. Disamping itu dibuat pula preparat basah dengan tinta cina atau preparat kering dengan pengecatan Fontana.

Ada kemungkinan hasil mikroskopik negatif, bila telah diberi pengobatan atau pada lesi diberi antiseptik atau lesi primer telah sembuh. Untuk keadaan ini bisa dilakukan aspirasi kelenjar limfe yang membesar. Bila perlu serum Ritz dapat dihisap dengan kapiler, ditutup dengan paraffin. Jangan disimpan di almari pendingin atau incubator.

Pada stadium II : stadium bubo

Bahan pemeriksaan dapat berupa kerokan lesi kulit atau bercak-bercak dimulut, kondiloma divulva atau anus. Pemeriksaan mikroskopik harus dilakukan 3 kali berturut-turut sebelum dinyatakan negatif.

  1. 2.      Pemeriksaan serelogik

Pada infeksi T. pallidum terbentuk 3 antibodi :

  1. Reagin (non Troponemal) : bereaksi dengan antigen yang terdiri dari otot jantung sapi, diekstrasi dengan alcohol ditambah dengan kolestrol dan lesitin (kardioolipin). Reagin dapat dideteksi dengan Tes Wasserman atau dengan tes flokulasi baik secara makroskopik ataupun mikroskopik (VDRL). Reagin adalah campuran IgM dan IgA terhadap beberapa antigen yang tersebar dalam jaringan normal, zat ini dijumpai dalam tubuh penderita setelah 2 – 3 minggu infeksi sifilis yang tidak diobati dan dalam cairan spinal setelah 4 – 8 minggu infeksi.

1)      Uji flokulasi VDRL (Veneral Disease Research Laboratory)

Dasar pengujian : partikel antigen lipid (kardiolipin jantung sapi) tersebar rata dengan serum normal, tetapi bila bereaksi dengan reagin akan terjadi gumpalan terutama setelah digojog. Uji VDRL atau RPR akan menjadi negatif dalam 6 – 18 bulan setelah pengobatan sifilis secara efektif.

2)      Uji Fiksasi Komplemen : CF, Waserman, Kolmer

Dasar pengujian : serum yang berisi regain mengikat komplemen dengan adanya kardiolipin. Perlu dipastikan bahwa serum tidak bersifat antikomplementer (tidak merusak komplemen tampa adanya antigen).

Kedua pengujian tersebut dapat memberikan hasil secara kuantitatif, dengan pengeceran serum secara seri.

  1. Antibodi yang bereaksi dengan protein T. pallidum non patogen (strain Reiter). Dapat diperiksa dengan Reiter Protein Complemen Fixation Test (RPCT).

Uji nontroponemal dapat memberikan hasil positif palsu sebagai akibat kesulitan teknis atau karena biologik karena terjadinya regain pada bebagai penyakit antara lain (malaria, lepra, campak, mononucleosis infeksiosa), atau karena vaksinasi, penyakit pembuluh darah dan kolagen (Lupus erimatosus sistematik, poliartritis, penyakit rematik)

  1. Antibodi yang bereaksi dengan T. pallidum patogen (strain Nichols) dapat diperiksa dengan :

T. pallidum Immobilitation Test (TPI)

Menggunakan T. pallidum hidup dari testis kelinci yang aktif bergerak. Apabila ditambahkan pada serum penderita yang mengandung antibody divcampur dengan komplemen, secara mikroskopik terlihat kuman berhenti bergerak.

T pallidum Flourescent Antibody test (TPFAT)

Uji ini menggunakan cara immunoflouresen tak langsung. Pada cara ini T. pallidum mati ditambah serum penderita dan anti human gamma globulin yang telah dilabel. Hasilnya sangat spesifik dan peka.

T. pallidum Hemaglutination Test (TPHA)

Sel darah merah yang disiapkan mampu mengabsorpsi treponema bila ditambah serum yang mengandung antibody anti treponema akan menggumpal.

D.    Immunitas

Penderita sifilis aktif, laten atau penderita frambosia akan menjadi resiten terhadap superinfeksi T. pallidum.Tetapi jika sifilis dini atau frambosia diobati dengan baik, maka penyakit ini dapat dibasmi dan individu kembali menjadi sangat peka. Berbagai respon imun biasanya gagal dalam membasmi atau menfhentikan perkembanganya.

E.     Pengobatan

Penicillin merupakan obat pilihan dengan konsentrasi 0.003 unit/ml mempunyai aktifitas treponemisidal. Pada sifilis yang kurang dari 1 tahun, kadar penicillin dipertahankan selama 2 minggu dengan satu suntikan Benzathine Penicillin G 2.4 juta unit i.m. Pada sifilis yang laten atau lebih lama, maka Benzathine Penicillin G 2.4 juta diberikan 3 kali dengan interfal waktu satu minggu. Pada neurosifilis diberikan Penicillin G dalam air sebanyak 20 juta unit secara i.v tiap hari untuk selama 2-3 minggu. Antibiotika lain seperti Tetracyclin atau Erythromycin kadang-kadang dapat dipakai sebagai pengganti. Pemantauan yang terus menerus sangat penting. Pada neurosifilis Treponema kadang-kadang masih hidup pada pengobatan diatas.

F.     Epidemiologi, Pencegahan dan Pengawasan

Dewasa ini insiden penyakit sifilis penyakit seksual lain cenderung meningkat. Penyakit sifilis umumnya ditularkan secara seksual, dengan insiden tertinggi pada homoseksual. Penderita yang terinfeksi tetap menular selama 3 – 5 tahun dari sifilis dini, masa selanjutnya biasanya tidak menular.

Pengawasan disini meliputi :

  1. Pengobatan cepat & memadai terhadap kasus yang ditemukan.
  2. Pemantauan sember infeksi dan pengawasan yang memadai.
  3. Higiene seksual dan pencegahan pada waktu hubungan seksual; baik secara mekanik (kondom) atau pengobatan (pemberian Penisilin setelah hubungan seksual).

Mengingat penyakit kelamin penularanya bersifat serentak, jika didapat adanya satu jenis penyakit kelamin pada manusia, harus dipikirkan juga kemungkinan sifilis pada penderita tersebut.

TREPONEMA PENYEBAB PENYAKIT YANG LAIN

Penyakit lain yang mentebabkan oleh Treponema lain ; memberikan uji serologis positif untuk sifilis baik uji treponema ataupun non treponema, dan juga timbul adanya imunitas silang. Semua termasuk penyakit non venereal, penularanya secara kontak langsung dan penyebabnya tidak dapat diisolasi pada media buatan.

  1. Treponema pallidum penyebab penyakit Bejel

Terdapat terutama di Afrika, Timur Tenggah dan Asia Tenggara, terutama pada anak-anak menyebabkan lesi kulit yang sangat menular. Jarang terjadi komplikasi pada organ dalam, tetapi kadang-kadang menimbulkan kelainan meningo-vaskiler. Diduga penularan terjadi karena kontak dengan penderita, alat makan/minum atau lesi pabila mammae pada saat lektasi, Penisilin merupakan obat pilihan.

  1. Treponema pertenue penyebab Yaw (frambosia/patek)

Bersifat endemik, menahun, non venerik, terutama pada anak-anak di negara tropik yang panas dan lembab. Penyebab penyakit ini adalah T. pertenue Lesi pertama, berupa papula yang mengalami ulserasi, biasanya pada lengan dan kaki, dengan penularan secara kontak lansung, terutama dengan lesi kulit basah, kuman masuk melalui luka kulit yang tidak tampak.Penularan dapat pula secara mekanis melalui lalat yang hinggap pada lesi basah kemudian hinggap pada kulit yang luka. Biasanya terjadijaringan parut pada kulit. Jarang terjadi komplikasi pada system syaraf dan alat dalam. Ada immunitas silang diantara penyakit frambosia dan sifilis, pengobatan penicillin memberi hasil sangat baik.

Penyakit ini terdiri dari beberapa stadium, dengan masa tunas 3-4 minggu. Stadium I : lesi primer ekstra genital, beupa papula merah kuning, tidak nyeri, membesar menjadi ulkus granulomatus yang mengeluarkan cairan (mother jaw) dikelilingi daerah yang meradang dan papula-papula kecil seperti buah frambus. Kemudian mongering, ditutup deengan kerak hitam. Lesi basah ini nsangat interaktif, biasanya dilengan dan kaki.

Stadium II : 6 minggu sampai 3 bulan setelah Mother jaw sembuh, timbul banyak papula secara spontan seperti mula-mula pada bagian tubuh lainya, pada batas mukosa dan kulit pada muka dan genitalia.

Stadium III : Lesi biasanya terbatas pada kulit, persendian dan tulang. Kadang-kadang berupa nodul yang berulserasi dalam (gumma) dan kerusakan tulang (persendian), membengkok sehingga tidak dapat menahan berat badan. Jarang terjadi kerusakan kardiovaskuler dan neurologis. Penularan transplasental tidak dijumpai.

  1. c.       Treponema carateum penyebab penyakit Pinta

Penyakit yang disebabkan oleh oleh T. curateum bersifat endemic pada semua golongan umur di Meksiko, Ameika tengah dan selatan, Filipina dan beberpa daerah dikawasan Pasifik. Penyakit ini nampaknya terdapat secara terbatas pada golongan kulit berwarna. Lesi pertama berupa papula non-ulserasi, kemudian berkembang sebagai lesi kulit yang bersifat datar dan hiperpigmentasi. Setelah beberapa tahun akan terjadi depigmentasi dan hiperkeratosis. Jarang diikuti kelainan syaraf dan kardiovaskuler. Penularan bersifat non venereal baik dengan kontak langsung ataupun melalui vector (lalat). Diagnosa dan pengobatan sama dengan penyakit sifilis.

TREPONEMA YANG HIDUP DI RONGGA MULUT

Spirochaeta merupakan flora normal rongga mulut, khususnya terdapat didaerah interproksiamal dan leher gigi. Bakteri ini hampir selalu ada pada orang dewasa dan jarang pada bayi atau anak-anak yang belum, tumbuh giginya atau pada orang tua yang tidak bergigi. Daerah interdental papil memungkinkan spirochaeta tumbuh baik. Terjadinya resensi gusi dan saku gusi akan menyebabkan bertambah suburnya kuman ini. Dalam sulkus gigi sehat kuman ini tidak patogen.

Spirochaeta didalam rongga mulut tidak dapat memfermentasikan karbohidrat secara aktif. Bagi pertumbuhanya diperlukan oksigen rendah, sehingga saku gusi merupakan lingkungan yang mendukung pertumbuhanya.

Jenis Spirochaeta yang sering dijumpai pada rongga mulut adalah Treponema anbigum, Treponema denticola, Treponema macrodentinum, Treponema microdentinum, Treponema comandonii, Treponema vincentii. Pada keadaan tertentu kuman-kuman tersebut dapat menimbulkan penyakit periodontal, walaupun kuman jenis lain dapat pula berperan pada timbulnya penyakit tersebut.

Belum dapat dipastikan bagaimana spirochaeta dalam mulut dapat memasuki jaringan, diperkirakan bakteri ini dapat menempel dan menembus sel-sel epitel pada mukosa mulut. Spirochaeta dapat menghasilkan bahan-bahan toksik sebagai hasil metabolismenya diantaranya ammonia, indol, H2S, asam butirat dan putresin. Khususnya Treponema vincentii menghasilkan asetilglukosamidase yang dapat merusak jaringan periodontal.

Mekanisme spirochaeta menimbulkan penyakit periodontal dengan berbagai tahap :

  1. Dengan cara invansi bakteri. Bakteri ini selalu dijumpai pada setiap tahap penyakit periodontal. Dengan gerakan aktifnya kuman ini mendoromng bakteri lain yang tidak bergerak masuk kedalam jaringan dan membentukbahan-bahan toksik seperti ensim sisteindesulhidrase yang dapat membentuk H2S dicairan gusi yang juga sebagai penyebab penyakit periodontal.
  2. Dengan menghasilkan ensim esetilglukosa midase yang mampu merusak jaringan dan sekaligus menyebar infeksi dan penyabab pendarahan pada kapiler gusi.
  3. Dengan menghasilkan endotoksin yang merupakan lipopolisakaridadan protein kompleks yang terdapat pada didind bakteri dan dilepas saat bakteri lilies. Endotoksin ini menyebabkan peradangan, nekrotik jaringan dan tulang karena mampu berpenetrasi pada jaringan yang rusak. Jadi endotoksin merupakan initiating factor pada terjadinya penyakit periodontal.
  4. Bakteri ini dapat menghasilkan toksin lain bersama-sama dengan vibrio, fusiform, veillonela dan beberapa bacteroides. Toksin dapat berupa : H2S, putresin, ammonia, indol.

Terdapat peningkatan populasi spirochaeta pada gusi yang sakit dibanding gusi normal. Juga pada gusi yang dalam lebih banyak ditemukan kuman ini disbanding saku gusi yang dangkal. Artinya makin banyak populasi spirochaeta sejalan dengan makin dalamnya saku gusi yang berkaitan makin parahnya penyakit periodontal. Mengingat kuman ini mampu merusak dan menghancurkan jaringan, maka akibat yang paling sering terjadi adalah gigi menjadi goyah dan lama kelamaan menjadi menjadi lepas sehingga merugikan penderita.

GENUS BORELIA

Borelia adalah spirochaeta (lebih besar dan lebih panjang daripada Treponema), bergerak aktif secara rotasi sepanjang sumbunya. Umumnya hidup komensal pada mukosa mulut dan pada keadaan ganggrenous atau ulseratif dari mulut, tenggorokan atau genital.

Borelia recurentis

Merupakan penyebab penyakit relapsing fever (febris recurentis). Penyakit ini dapat desebabkan pula oleh Borrelia duttonii dan Borrelia nouyi.

Morfologi dan Identifikasi

Bakteri ini berbentuk spiral, panjang 10-30 um dengan diameter 0.3 um, sangat fleksibel, bergerak secara rotasi atau berliku-liku. Dapat diwarnai dengan pewarnaan Giemsa, Wright, Gram atau dengan impregnasi perak.

Karakteristik Pertumbuhan

Kuman ini dapat tumbuh pada media cair yang mengandung darah, serum, cairan asites yang mengandung darah dan ginjal kelinci dan telur berembrio lebih cepat berkembang.

Pada suhu 40 C,baik dalam darah atau kultur, kuman tahan hidup sampai beberapa bulan.

Struktur Antigen

Pada uji serologik terhadap penderita biasanya terdapat zat anti aglutinin,  zat anti ikatan komplemen dan zat anti litik dalam titer tinggi.  Struktur antigen ini sering berubah ubah sehingga terjadi berbagai variasi,  diduga bahwa terjadinya relaps dari penyakit ini disebabkan karena berkembangnya varian tersebut sehingga hospes harus membentuk zat anti baru.

Patologi

Hasil otopsi penderita menunjukkan bahwa kuman banyak ditemukan di limpa,hati, focus-fokus nekrotik parenkhim alat-alat lain, dalam lsi berdarah dari ginjal dan dalam saluran pencernaan. Kadang-kadang pada penderita yang menunjukkan gejala meningitis, kumannya dapat ditemukan dalam liquor dan jaringan otak.

Patogenesis dan Gejala Klinik

Setelah masa inkubasi 3-10hari timbul demam disertai menggigil yang berlangsung antara 3-5 hari, kemudian panas turun penderita tampaktidak sakit,  hanya lemah. Kemudian setelah 4-10 hari timbul lagi demam dengan menggigil, sakit kepala hebat dan rasa tidak enak badan.  Hal demikian dapat terjadi 3-10 kali dengan derajat kesakitan yang makin berkurang.  Selama fase demam,terutama waktu panas tinggi kuman banyak terdapat dalam darah, setelah panas turun kuman tidak ditemukan dalam darah.  Kuman dapat pula ditemukan dalam urine dalam jumlah  sedikit.

Diagnosa Laboratorik

Bahan pemeriksaan berupa darah, diambil sewaktu terjadi demam tinggi.  Pemeriksaan dapat dilakukan dengan pewarnaan Giemsa atau Wright,  tampak kuman diantara sel-sel darah merah.  Dapat pula digunakan hewan percobaan, darah disuntikkan intraperitoneal pada tikus putih atau subkutan pada kera.  Setelah 2-4 hari diambil darahnya kemudan diwarnai dan diamati  dibawah mikroskop.  Selama fase demam biasanya albuminuria positif,  lekosit meninggi sampai 10.000-20.000.

Kekebalan

Sifat kekebalan terhadap kuman ini sangat pendek.

Pengobatan

Dengan penisilin, eritromisin atau tetrasiklin.  Evaluasi hasil klinik sulit dilakukan karena adanya remisi spontan yang bervariasi.

Epidemiologi

Relapsing fever merupakan penyakit endemic pada banyak  tempat dunia.  Sebagai reservoir utama adalah hewan pengerat (rodensia) sebagai sumber infeksi adalah kutu dari genus Ornithodorus.  Penyebaran insiden musiman penyakit ini ditentukan oleh ekologi kutu di berbagai daerah. Berdasarkan vektornya,  penyakit ini dibagi dalam 2 golongan yakni: Tick borne relapsing fever,  Loose borne relapsing fever. Keduanya terdapat secara endemik.

  1. Tick Borne Replapsing Fever : umumnya terjadi secara sporadic. Penularan pada manusia terjadi melalui gigitan tick infektik, antara lain Ornithodorus parkeri, O. hermsi, O rudis, dan lain-lain. Apabila kutu kepala menghisap darah penderita, kutu akan terinfeksi setelah mengisap darah , 4-5 hari kemudian kutu akan dapat merupakan sumber infeksi  baru bagi orang lain. Tick tetap infektif slama hidupnya dan dapat menularkan kuman ini kepada keturunan berikutnya secara tranovarial.
  2. Loose Borne Replapsing Fever : umumnya terjadi secara epidemik, walaupun kadang-kadang terjadi secara sporadic. Penularan pada manusia terjadi tidak melalui gigitan kutu (Pediculus vestimenti corporis), tetapi melalui garukan sehingga bagian infektif kutu masu melalui lesi garukan sehingga bagian infektif kutu masuk malaui lesi garukan.

Epidemi penyakit ini dipengaruhi oleh jumlah populasi kutu kepala , kepadatan penduduk, malnutrisi dan musim dingin. Pada daerah endemic infeksi pada manusia dapat terjadi akibat berhubungan dengan darah atau jaringan yang berasal dari roden yang terinfeksi. Angka kematian pada penyakit endemic rendah, tetapi pada endemic dapat mencapai 30 %.

Pencegahan

Pencegahan didasarkan pada usaha menghindarai kutu atau kutu kepala dan mnghilangkan kutu dengan menggunakan insektisida terhadap tick  (sengkenit) dan kutu manusia. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin untuk mencegah penyakit ini.

 

Berrelia vincentii

Sering ditemukan bersama dengan kuman fusobacterium. Bacteriodes pada eksudat pseudomembran tonsil/faring penyakit Vincent sangina, gingivitis ulceratif akuta, abses paru, lesi ulceratif pada genital, ulkus tropikus (ulkus kulit menahun).

Borrelia vincentii dan Fusobacterium fusiforme merupakan penghuni normal dan hidup secara simbiotik pada gusi sehat. Apabila terjadi kerusakan gusi karena trauma, kekurangan vitamin C, infeksi oleh Herpes simpleks, infasi Streptococcus hemoliticus atau bakteri, maka kedua kuman ini mnjadi patogen dan menyebabkan infeksi sekunder. Jadi sumber penularan pada penyakit ini adalah factor endogen.

Biakan

Perlu pembebiakan secara obligat anaerob dalam media yang mengandung asites.

Diagnosa Laboratorik

Secara mikroskopik bahan pemeriksaan berupa hapusan ulkus dalam mulut diwarnai dengan karbolfukhsin, kemudian dilihat dibawah mikroskop. Bila kedua jenis kuman ditemukan cukup banyak, apalagi dengan jumlah lekosit yang tinggi, maka dapat didiagnosa sebagai Vincent’s infection.

Biakan dilakukan hanya untuk mengetahui adanya Streptococcus hemoliticus dan kuman difteri.

Pengobatan

Biasanya digunakan Penisilin atau Tetrasiklin.

Borrelia burdorferi

Merupakan penyebab penyakit lime (nama kota di Amerika) terutama dipantai timur Amerika Serikat, juga di Eropa dan Autralia yang terjadi dimusim panas. Ditandai dengan lesi melingkar dikulit kemudian berkembang meluas. Sering disertai sakit kepala, demam, kaku duduk, mialgia, artalgia dan limadenopati. Beberapa bulan selanjutnya gejala neurologik dan arthritis berkurang.

Penularan terjadi melalui ixodid tick. Pembentukan IgM terjadi pada 3-6 minggu setelah serangan penyakit dan titernya berhubungan dengan aktivitas penyakit. Artritis dan gangguan neurologik kemungkinan disebabkan oleh reaksi komplek antigen-antibodi. Pemberian penisilin atau tetrasiklin secara dini memberikan respon yang baik terhadap gejala yang timbul pada penyakit lyme.

FAMILIA LEPTOSPIRACEAE

GENUS LEPTOSPIRA

Genus Leptospira dibagi dalam 2 golongan, yakni :

  1. Leptospira interrogans (strain parasit) : patogen bagi hewan dan manusia. Terdapat lebih dari 100 tipe.
  2. Leptospira biflexa (strain saprofit) : hidup dalam air, tidak menyebabkan sakit pada hewan dan dapat tumbuh dalam media dalam serum.

Morfologi dan Identifikasi

Kuman ini mempunyai struktur yang fleksibel berupa benang-benag halus berbentuk spiral dengan satu atau kedua ujungnya melengkung sehingga dapat berbentuk tongkat, huruf C atau S. Panjangnya bervariasi antara 6-20 u, diameter 0.5 u. Bentuk vegetative dapat sampai 40 u panjangnya. Bergerak secara rotasi kadang-kadang meluncur atau bergerak seperti cambuk (whipping motion). Gerak ini harus dapat dibedakan dengan gerak Brownian dari pseudo leptospira. Dapat diwarnai dengan Giemsa, Anilin atau Impregnasi perak.

Karakteristik Pertumbuhan

Sumber utama tenaga kuman ini berasal dari oksidasi asam lema rantai panjang, sedang kebutuhan nitrogen berasal dari garam ammonium.

Berkembang biak dengan pembelahan melintang. Tumbuh baik pada suhu 370 C. pH 7.2 dalam suasana aerob. Isolasi harus dalam media yang mengandung serum (kelinci, marmut) antara lain agar pada semi solid Noguchi, Fletcher atau media cair dari Vervoort, Stuart, Korthof.

Strain parasit tidak dapat tahan lama diluar tubuh hospes. Dalam media Vervoot pada temperatur kamar, ditempat gelap tampa subkultur dapat bertahan hidup sampai beberapa tahun. Pada agar semi solid Noguchi tetap virulen untukbeberapa tahun, sensitive terhadap asam. Mati pada 500 C dalam 10 menit. Pada –700 C tahan bertahun-tahun tampa kehilangan sifat virulen. Agak resisten terhadap desinfektan seperti : streptomisin, tetrasikin, dan eritromisin.

Patogenesis dan Cara Penularan

Leptospira merupakan penyakit primer pada hewan (zoonosis) dan manusia terinfeksi secara kebetulan. Hospes reservoir adalah hewan mengerat, kadang-kadang anjing, babi, sapi atu kuda, dsb. Setiap serotipe mempunyai hospes predileksi tertentu, misalnya :

Leptospira icterohaemorrhagiae, Ratus norwegius, Leptospira hebdomadis , Mocrotus, Montabelli

Pada hewan kuman ini berada didalam tubuli kontorti ginjal tampa menimbulkan gejala dan diekskresi bersama urinya. Penularan terjadi karena manusia menelan makanan/ minuman yang telah terkontaminasi dengan urine tikus infektif, atau berenang.

Gambaran Klinik

Sifat infeksi mringan/subklinis tampa ikterus, dapat berakibat fatal. Infeksi Leptospira pada manusia menimbulkan gambaran klinik berupa : demam tinggi akut disertai menggigil, sakit kepala, nyeri otot terutama punggung dan betis, konyungtivitis, hepatospenomegali. Pada keadaan demam kuman dalam darah dapat menyebar kehepar (menimbulkan nekrosis  ikterus), ginjal (menimbulkan pendarahan dan nekrosis timbul albuminuria), Susunan syaraf pusat (menimbulkan meningitis aseptika benigna) atau oto dan kulit (menimbulkan rasa nyeri).

Diagnosa Laboratorik

Dalam minggu pertama penyakit sering kuman terdapat banyak didalam darh, Oeptosperemia jarang terjadi setelah hari ke 8. Pada minggu ke 4-6 setelah gejala pertama kuman terdapat dalam urine. Didalam urine asam kuman mengalami lisis sehingga urine harus segera diperiksa dan semalam sebelumnya penderita diberi Na bikarbonat. Pada fase permulaan kadang-kadang kuman dijumpai pada cairan spinal. Sebagai penentu diagnosa perlu diamati adanya kenaikan titer zat anti selama sakit. Pada minggu pertama antibody dalam serum meningkat, pada minggu ke 2-3 titer meningkat sedangkan setelah minggu ke 3 titer antibody menurun lagi dan kadang-kadang titer yang rendah masih terdapat dalm beberapa tahun.

 

 

Bahan Pemeriksaan

Bahan pemeriksaan dapat berupa :

  1. Darah (minggu pertama)

Mikroskopik : 10 ml darah + 1 ml 1% Na oksalat, diputar 500 putaran/menit. Satu tetes plasma diamati dibawah mikroskop medan gelap. Endapanya disuntikan pada marmot secara intraperitoneal.

Biakan : darah atau endapan ditanam pada media Kortof.

Hewan percobaan: darah, plasma atau urine disuntikkan, setiap hari diperiksa cairan peritoneal dibawah mikroskop medan gelap, bila hasilnya positif diambil jantung hewan ditanam pada media Kortof.

  1. Urine (pada minggu ke 2-3)

Mikroskopik: Urine diputar selama 3000 putaran/menit selama 10 menit. Endapanya diperiksa dibawah mikroskop medan gelap.

Biakan : tidak dapat langsung dibiakkan karena urin berisi bermacam-macam kuman sehingga pertumbuhan Leptospira akan tertkan. Pada urine alkalis disuntikan intraperitoneal, bila positif diambil darah jantung dan ditanam pada media Korthof.

Diagnosa Serologik

Titer zat anti aglutinim dapat mencapai lebih dari 1/1000, maksimal pada minggu ke 5-8 setelah infeksi.

  1. Uji aglutinasi – lisis dari Schuffuer dan Wolff. Serum penderita dalam beberapa pengenceran dicampur dengan suspensi kuman, dieramkan pada 320 –370 C selama 3 jam, kemudian npada suhu kamar selama 1 jam. Diambil 1 tetes dari setiap campuran diamati terjadinya aglutinasi dan lisis dibawah mikroskop medan gelap.
  2. Uji aglitinasi dari Broom : Prosedurnya sama dengan metode diatas tetapi kuman dimatikan dahulu dengan formalin. Sebelum dibaca campuran tersebut disimpan dalam almari pendingin selama semalam.
  3. MetodaFlouresen Antibodi : Sangat baik untuk mendeteksi adanya leptospira dalam urine atau jaringan.

Penilaian Titer Diagnostik :

Mengigat banyaknya serotip yang menimbulkan reaksi silang, maka penilaian tetrasi serum tunggal harus berhati-hati, sebaiknya mengamati kenaikn titer dari sepasang serum.

 

Pengobatan :

Pemberian antibiotika sebaiknya dilakukan pada stadium lanjut kurang memuaskan. Antibiotika yang dapat dipilih adalah penisilin, tetrasiklin atau eritromisin.

Epidemiologi

Mengigat Leptospirosis merupakan penyakit primer pada hewan, maka pencegahan utama adalah menghindarkan diri dari kontak dengan bahan infektif yng berasal dari hospes reservoir. Orang yang sering terkena penyakit ini adalah mereka yang sering kontak dengan air yang tercemar kotoran tikus antara lain petani, tukang pembersih selokan, perenang.

Beberapa strain penyebab penyakit lain :

L. icterohaemorrhagiae : menyebabkan Weill diease

hospes reservoir : Rattus norvegicus, anjing, babi, kuda.

L. canicola                     : menyebabkan Canicola fever.

hospes reservoir : anjing, kuda, dan sapi.

L. pyrogenes                   : menyebabkan febrile spirochaetosis

hospes reservoir : Rattus brevicaudatus

L. hebbdomadis              : menyebabkan seven-day fever

hospes reservoir : Microtus montebelloi, anjing, sapi

L. Pomona                     : menyebabkan Swineherd’s disese

hospes reservoir : babi, sapi, kuda

L. bataviae                    : menyebabkan Indonesia Wei’s disease

hospes reservoir : Rattus norvegicus, babi, kucing dan anjing

Rattus norvegicus merupakan maintenance carrier artinya persentasi isolasi dari urine sama tingginya dengan persentase aglutinasi positif dari darah. Sangat berbahaya bagi manusia, tetapi karena hidupnya selalu didalam selokan infeksi pada manusia jarang terjadi. Sedangkan Rattus rattus diardi (tikus rumah) adalah suatu fleeting carrier artinya persentase isolasi positif dari urin lebih kecil disbanding persentase aglutinasi positif, tetapi karena tikus ini selau dekat dengan manusia maka dianggap sangat berbahaya bagi manusia.

Spirillum minor

(Spirillum morsus muris)

Merupakan penyebab rat bite fever yang ditularkan oleh

 

Pengambilan Spesimen

Posted: September 13, 2011 in mikrobiologi

PENGAMBILAN SPESIMEN

 

Salah satu cara menanggulangi penyakit infeksi adalah dengan menentukan penyebab dan kemudian memberi terapi yang rasional berdasarkan hasil uji laboratorium. Dalam hal ini peranan laboratorium sebagai penunjang diagnosis dan terapi penyakit infeksi menjadi sangat penting .

Hasil pemeriksaan mikrobiologik sangat tergantung oleh kualitas spesimen. Spesimen yang diperiksa di lab Mikrobiologi sebagian besar merupakan klinik berkaitan dengan penyakit infeksi. Kualitas specimen ditentukan oleh metoda pengambilan dan proses tranportasi ke laboratorium. Hasil pemeriksaan mikrobiologik negatif tidak selalu berarti bahwa diagnosis salah.

Kegagalan isolasi mikroorganisme penyebab infeksi sering ditentukan oleh beberapa hal, antara lain :

-          Pengambilan dan pengiriman spesimen yang tidak benar

-          Teknik atau cara kerja di laboratorium uang tidak tepat

Pengambilan specimen atau bahan pemeriksaan merupakan langkah awal yang sangat menentukan hasil pemeriksaan dalam rangka memperoleh jawaban yang menentukan penyebab infeksi. Dapat terjadi bahwa yang diisolasi bukan penyebab tetapi organisme flora normal sehingga akan memberikan intreprestasi hasil laboratorium yang keliru dan menyebabkan langkah terapi yang salah.

Hasil pemeriksaan laboratorium mikrobiologik sangat ditentukan oleh cara pengambilan, saat pengambilan dan seleksi spesimen. Beberapa hal penting yang perlu dilakukan untuk memperoleh hasil pemerisaan yang baik adalah :

  1. Bahan pemeriksaan sedapat mungkin diambil dari lokasi yang paling besar kemungkinannya mengandung penyebab infeksi pada stadium tertentu.
  2. Pada lokasi tubuh yang pada keadaan normal mengandung flora normal, hasil laboratorium positif sebaiknya dikorelasikan dengan keterangan klinik , sehingga mendapatkan suatu interpertasi yang bermakna.
  3. Hasil laboratorium positif sangat bermakna bila diperoleh dari lokasi tubuh yang dalam keadaan normal steril (cairan serebro – spinal darah, cairan pleura, cairan).

Agar diperoleh kualitas spesimen yang baik, pengambilan spesimen harus memenuhi beberapa kriteria tertentu.

 

Pedoman Umum

Spesimen yang diambil harus memiliki syarat sbb :

 

  1. Representatif untuk proses infeksi :

Bahan pemeriksaan harus benar-benar berasal dari tempat infeksi, misalnya:

-          bahan pemeriksaan dari luka, sebaiknya diambil dari dasar luka dan dihindari kontak dengan kulit sekitarnya sehingga tidak memungkinkan bagi kontaminasi oleh flora kulit.

-          bahan dari asbes diambil dengan cara aspirasi steril.

-          sebelum dilakukan pengambilan urine, alat genital dibersihkan untuk menghindari kontaminasi.

-           bahan sputum harus benar-benar berasal dari saluran nafas bagian bawah, bukan hanya berupa saliva.

  1. Jumlah spesimen cukup untuk memungkinkan pemeriksaan.

Misalnya :

-          bahan dari pus dalam keadaan infeksi aktif, jumlahnya tidak perlu diperhatikan, tetapi pada infeksi kronik jumlah bahan yang diambil sebaiknya agak banyak.

-          Bahan berupa darah, jumlah nya harus cukup. Perbandingan volume darah dengan medium cair adalah 1 :5 atau 1 :10.

-          Bahan urine : sebaiknya diambil setelah penderita tidak berkemih sekurang-kurangnya 3 jam, sehingga diperoleh volume cukup untuk diambil.

  1. Saat pengambilan perlu diperhatikan. Pengambilan harus dilakukan pada stadium yang tepat, untuk ini perlu diketahui riwayat penyakit penderita. Pada demam tifoid minggu pertama, bakteri akan dapat ditemukan di darah. Sedangkan pada minggu ke 2 dan ke 3, tinja dan urine biasanya positif. S. typhi akan ditemukan pada tinja dan urine selama fase akut dari stadium diare.
  2. Terhindar dari kemungkinan kontaminasi baik dari alat, lingkungan, bagian tubuh lain, dan petugas pengambil. Alat  dan tempat spesimen harus steril dan sesuai. Misalnya pengambilan urine atau sputum sebaiknya dengan pot bermulut lebar. Setelah bahan ditampung hendaknya ditutup rapat dan dicegah adanya kebocoran untuk menghindari kontaminasi dan pencemaran dari dan pada lingkungan.
  3. Pengambilan spesimen dilakukan sebelum pemberian terapi antibiotik. Perlu diperhatikan hal-hal sbb :

-          cairan serebrospinal yang purulen, dalam waktu 24 jam setelah pemberian antibiotik seringkali sudah  tidak mengandung bakteri penyebab, misalkan Haemophilus influenzae.

-          selama pemberian terapi antibiotik pada penderita salmonelosis, dalam tinja penderita tidak akan diketemukan S.typhi.

-          Bila bahan yang diperiksa berasal dari pasien yang telah diterapi, sebaiknya klinisi memberi catatan khusus, sehingga bisa dilakukan tindakan-tindakan tertentu. Misalnya dapat diberikan Penisinase untuk merusak penisilin. Jadi pada penderita yang telah diterapi bisa dilakukan pemeriksaan mikrobiologik.

  1. Bahan pemeriksaan sebaiknya segera dibawa ke laboratorium atau kalau diperlukan dapat pula digunakan media transport yang sesuai, agar bisa diperiksa secepatnya.

 

Pedoman khusus

 

Dalam melakukan pengambilan spesimen klinik, perlu diperhatikan beberapa hal khusus sesuai lokasi pengambilan :

1.   Cara Pengambilan Darah

Darah biasanya diambil pada saat demam tinggi, dari vena cubiti. Pertama-tama dilakukan palpasi untuk mencari letak vena yang akan diambil. Sebelum pengambilan kulit sekitarnya diusap dengan antiseptik, misalnya Jodium tincture 2%, atau alkhohol 80%. Setelah itu tidak boleh dilakukan palpasi lagi, juga tidak boleh mengusap jarum suntik dengan kapas alkohol.

Volume pengambilan : 10-20 ml untuk dewasa

1-5 ml untuk anak- anak

Karena organisme pada bakteri jumlahnya kecil, sebaiknya segera diinokulasikan kedalam media kultur setelah pengambilan.

Contoh media kultur darah yang digunakan:

-     Trypticase Soy Broth, untuk kultur aerob

-     Brain Heart Infusion, untuk kultur bakteri aerob atau anaerob

-     Thioglikolat broth, untuk kultur anaerob

-     Gal medium, untuk kultur Salmonella

Dapat pula ditransport secara stril dalam tabung mengandung SPS

Interval pengambilan :

endocarditis : 3 kali pengambilan (kultur) dalam 24 jam

bakterima     : 3 kali pengambilan (kutur) dalam 24-48 jam

-    pasien yang diberi antibiotik : 4-6 kali pengambilan dalam 48 jam

2.   Cara Pengambilan Tinja atau Usapan Rektal

Tinja diambil dari bagian yang diperkirakan banyak mengandung organisme penyebab (lendir atau darah), ditampung pada tempat steril, harus segera dibawa ke laboratorim. Sedangkan usapan rectal diambil dengan kapas lidi steril, diputar (360º) pada mukosa rektal diambil dengan kedalaman 1-2 cm, kemudian dimasukkan media transport bersama kapas lidi atau kedalam tabung kosong bertutup ulir steril, tutup rapat, segera dikirim ke laboratorium. Sebaiknya tidak digunakan kertas toilet dalam pengambilan/penampungan tinja, karena pada umumnya mengandung garam bismuth yang dapat membunuh mikroorganisme.

3.   Cara Pengambilan Urine

Bahan berupa urine dapat diambil dengan berbagai teknik :

-    aspirasi supra public

-    kateterisasi

-    urine pancaran tengah (Mid Stream Urine)

Cara pertama dan kedua hanya dilakukan oleh dokter dengan indikasi tertentu karena mengandung resiko, harus dilakukan secara aseptik untuk menghindari infeksi. Volume urine minimal 10 ml dan segera dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Seperti diketahui urine adalah medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri, terutama bagi pemeriksaan angka kuman harus segera diperiksa agar tidak terjadi pertumbuhan pesat sebelum diperiksa. Apabila terpaksa bisa disinpan dalam almari pendingin selama 24 jam, tetapi dianjurkan tidak lebih dari 8 jam.

4.   Cara Pengambilan Dahak atau Sputum

Dahak yang diambil diusahakan tidak tercemar oleh flora normal di rongga mulut, sebaiknya pasien diminta berkumur sebelumnya dengan akuades steril, atau larutan garam fisiologis steril. Dahak ditampung didalam pot steril, dengan cara batuk dalam-dalam, perlu kerjasama dengan pasien. Segera mungkin ditanam dalam media perbenihan yang sesuai dengan jenis pemeriksaan.

5.   Cara Pengambilan Discharge Mukosa

Bahan dari mukosa diambil dengan kapas lidi steril, bahan diambil dari : hidung, tenggorokan, mata, telinga, lubang urogenital, luka.

6.   Abses

Seleksi dan pengambilan yang adekuat sangat berpengaruh pada hasil pemerisaan. Jika lesi luas atau terdapat beberapa lesi, bahan diambil dari beberapa tempat. Sampel dari abses harus mengandung pus dan bagian dari dinding abses. Sebelum pengambilan kulit dibersihkan dengan larutan fisiologis steril. .

7.   Cara Pengambilan Cairan Serebrospinal

Dilakukan dengan punksi lumbal oleh seorang dokter ahli dengan memperhatikan aspek sterilitas alat dan teknik pengambilan secara benar. Kuman pada bahan ini pada umumnya hanya bertahan beberapa jam, sehingga harus segera dikirim ke laboratorium. Meningokokus sangat rentan terhadap suhu rendah, sama sekali tidak dibenarkan menyimpan bahan pemeriksaan ini pada almari pendingin.

 

PENGIRIMAN SPESIMEN DAN PENANGANAN SPESIMEN

Apabila bahan pemeriksaan diambil diluar laboratorium seharusnya segera dikirim untuk diperiksa. Akan tetapi bila tidak memungkinkan karena beberapa keadaan, dapat digunakan media transport sebagai media yang mampu memberikan bahan pertumbuhan untuk mikroorganisme tersangka, terutama bagi organisme yang sensitif terhadap pengaruh lingkungan. Kadang-kadang bahan pemeriksaan yang tidak memerlukan media transport karena bahan tersebut telah mengandung bahan yang diperlukan bagi pertumbuhan organisme tersangka. Pada saat pengiriman temperatur dan tempat pengiriman harus diperhatikan. Adapun medium transport yang biasa digunakan adalah : medium Carry & Blair, medium Stuart, medium Amies.

 

1.Pengiriman Darah

Setelah diperoleh darah harus segera dikirim ke laboratorium karena kuman didalam darah akan dipengaruhi oleh sel-sel dalam darah ataupun zat-zat yang ada dalam darah. Secara umum telah direkomendasikan bahwa darah untuk perbenihan ditanam dalam perbenihan cair dengan perbandingan 1 : 10 untuk membantu menetralkan efek bakterisidal karena adanya antimikroba dalam (darah pada pasien yang telah diterapi) atau efek komplemen dan fagosit.

Bila darah dikirim tanpa menggunakan perbenihan cair seperti penjelasan dimuka, maka volume darah yang dikirim untuk kepentingan isolasi adalah sebanyak 10-20 ml dengan menggunakan antikoagulan, sebaiknya digunakan SPS (Sodium Polynethol Sulfonate) 0.05% atau 0.025 %. Disamping sebagai antikoagulan, SPS merupakan antikomplemen dan antifagosit dan dapat menetralkan efek anti mikroba. Suhu pengiriman supaya dipertahankan untuk tidak lebih dari 37ºC, dan terhindar dari kekeringan.

 

2.Pengiriman Tinja

Tinja dapat dikirim tanpa medium transport bila tidak terlalu lama. Apabila jarak pengiriman jauh sehingga memerlukan waktu lebih dari 4 jam, maka perlu digunakan media transport yang sekaligus merupakan medium selektif bagi jenis kuman tertentu. Medium transport atau selektif ini berupa medium cair, misalknya : Air peptone alkali, Selenit Broth, dsb. Perlu diperhatikan suhu dan hindarkan dari kekeringan.

3. Pengiriman urine

Urine dikirim tanpa medium transport karena urine merupakan medium yang baik pertumbuhan kuman. Pengiriman bahan ini harus dilakukan segera mungkin untuk menghindari perkembangan pesat organisme tersangka, dalam waktu 1 jam organisme per ml akan menjadi berlipat ganda. Hal ini perlu diperhatikan mengingat diagnosis bakteriuri didasarkan pada jumlah kuman per ml urine. Suhu dan  kekeringan harus diperhatikan.

4.Pengiriman Dahak

Dikirim tanpa medium transport, tetapi harus segera.

5. Pengiriman discharge mukosa

Setelah diambil dengan kapas lidi dapat dimasukkan dalam media transport, kapas lidi

dimasukkan dalam tabung media transport secara aseptic.

6.  Pengiriman abses, jaringan, spesimen drainage

Bahan pemeriksaan dikirim dengan medium transport semisolid Sturt, Carry & Blair (untuk kuman anaerob). Spesimen dari usapan (swab), sebaliknya dihindari, lebih baik spesimen langsung. Bila terpaksa, swab harus merupakan sampel yang mewakili bagian yang mengandung kuman penyebab.

7.   Pengiriman Cairan Serebrospinal

Bahan ini dikirim tanpa medium transport, tetapi harus sesegera mungkin dibawa ke laboratorium dalam waktu kurang dari 1 jam. Segera ditanam pada medium perbenihan padat yang cocok.

 

 

Mycobacteria

Posted: September 13, 2011 in mikrobiologi

MYCOBACTERIA

Mycobacteria adalah golongan bakteri berbentuk batang, tidak membentuk spora, bersifat aerob. Tak mudah dibedakan pewarnaan, akan tetapi jika telah diberi pewarnaan, akan sukar dilunturkan dengan asam dan alkohol. Oleh karenanya Mycobacteria disebut pula bakteri tahan asam atau disingkat BTA. Mycobacteria dapat dikelompokkan menjadi golongan saprofit dan golongan patogen.

 

Mycobacterium Tuberculosis

 

  1. A.      Morfologi dan Identifikasi
  1. Bentuk: Mycobacterium Tuberculosis atau basil tbc berbentuk batang lurus atau agak bengkok berukuran 0,2 – 0,4 X 1 – 4 mikron, berpasangan atau mem­bentuk kelompok kecil. Ukuran tersebut tergantung pada lingkungan pertum­buhan, sehingga kadang-kadang berbentuk filamen panjang dan bercabang.

Pewarnaan untuk basil tbc dapat dilakukan dengan pengecatan Ziehl-­Neelsen, atau pengecatan dengan zat warna fluoresensi (auramin-rhodamin). Cara-cara pengecatan tersebut berdasar atas sifat tahan asam Mycobacteria. Sifat tahan asam ini menggambarkan adanya asam mycolat atau adanya membran semipermeabel. Keadaan tersebut berkaitan dengan keutuhan sel dan merupakan sifat dinding sel. Wama pengecatan dapat merata dapat granuler. Pada M.tuberculosis pewamaan Bering tampak pecah-pecah sedang pada M.bovis pewamaan lebih merata. Much (1907) menemukan granula pada basil tbc yang bersifat tidak tahan asam tetapi bersifat gram positif.

  1. Penanaman: Basil ini tumbuh lambat, waktu generasi in vitro antara 14 -15 jam. Koloni tampak setelah lebih kurang 2 minggu bahkan kadang-kadang setelah 6-8 minggu. Suhu optimum 37°C dan tidak tumbuh pada suhu kurang dad 25°C atau lebih dad 40°C. pH optimum antara 6,4 – 7,0. M.tuberculosis obligat aerobe sedang M.bovis pada isolasi primer bersifat mikroaerofilik, tetapi pada subkultur bersifat aerobe. Medium padat yang biasa banyak dipergunakan adalah medium LowensteinAensen.
  2. Pertumbuhan khusus: pada suatu medium, M.tuberculosis tumbuh rapat, dan pertumbuhan semacam ini dinamakan pertumbuhan yang eugonik. Sedang pertumbuhan M.bovis adalah jarang-jarang dan dinamakan pertumbuhan yang digonik.

Pada medium padat, M.tuberculosis membentuk koloni kering, kasar, menon­jol, tidak teratur dengan permukaan berkeriput. Wama koloni mula-mula putih krem, kemudian menjadi kekuning-kuningan yang akhimya menjadi suram, Koloni-koloni sangat lekat dan sukar dibuat emulsi. Sebaliknya M.bovis, mem­bentuk koloni datar, licin, lembab, berwarna putih. Mudah hancur jika disentuh. Pada medium cair, strain virulen membentuk semacam tali yang menjalar, sedang strain avirulen tumbuh menyebar. Walaupun demikian “cord factor” sendiri bukanlah faktor yang menentukan virulensi. “Cord factor” terdiri dari dua molekul asam mycolat yang dirangkaikan pada satu molekul trehalose, dan terdapat pula pada beberapa spesies mycobacteria yang apathogen. Basil tbc dapat tumbuh pada embryo ayam dan pada biakan jaringan.

  1. Sifat-sifat.
  1. Ketahanan hidup. Mycobacteria tidak tahan terhadap panas, akan mati pada pemanasan 60°C selama 15 – 20 menit. Ketahanan hidupnya di­pengaruhi oleh keadaan sekitamya. Biakan dapat mati jika terkena sinar matahari langsung selama 2 jam, tetapi jika masih berada dalam sputum dapat bertahan 20 – 30 jam. Basil yang berada dalam percikan-percikan bahan masih dapat bertahan hidup selama 8 – 10 hari. Biakan basil ini dalam temperatur kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari suhu -20°C selama 2 tahun.

Mycobacteria tahan terhadap berbagai khemikalia dan desinfektan antara lain phenol 5%, asam sulfas 15%, asam nitrat 3% dan NaOH 4%. Basil ini dihancurkan oleh jodium tinctur dalam 5 menit, dengan alkohol 80% akan dihancurkan dalam waktu 2-10 menit.

  1. Reaksi biokimiawi

1)        Uji niasin. Dalam medium yang mengandung telor, basil tbc tipe human tumbuh dan membentuk niasin. Larutan cyanogen bromide 10%, anilin 4% dalam alkohol 96% jika ditambahkan pada suspensi biakan basil tbc di atas akan memberikan warns kuning gading. Keadaan demikian dinamakan reaksi uji niasin positif. Mycobacteria yang lain umumnya memberikan hasil uji niasin negatif. Kecuali M.simiae dan beberapa strain dari M.cheloneli.

2)        Uji aryl sulfatase. Enzim aryl sulfatase dihasilkan oleh Mycobacteria atipikal. Basil ini ditanam pada medium yang mengandung tripo­tassium phenolphthelin disulfat 0,001 M. NaOH 2 N diteteskan tetes demi tetes pada koloni pertumbuhan. Reaksi positif jika wama koloni menjadi pink.

3)        Uji merah netral. Strain basil tbc yang virulen mampu mengikat merah netral dalam larutan buffer alkali, sedang strain yang avirulen tidak mampu.

 

  1. B.      Struktur Antigen

Di dalam darah penderita tbc terdapat berbagai macam antibodi untuk mela­wan antigen-antigen polisakharid, protein dan fosfatid. Adanya antigen poli­sakharid dapat ditunjukkan dengan reaksi yang mempergunakan eritrosit yang telah tersensitized. Antigen protein dapat diperiksa dengan reaksi yang mem­pergunakan eritrosit yang dilapisi protein dan difiksasi. Sedang adanya antigen fosfatid dapat diperiksa dengan uji aglutinasi fosfatida kaolin.

 

  1. C.      Produk Intraseluller

Ada beberapa macam antigen pada Mycobacteria. Spesifisitas group diten­tukan oleh antigen polisakharid. Spesifisitas tipe ditentukan oleh antigen protein. Infeksi oleh basil tbc akan diikuti dengan timbulnya reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap suatu antigen protein yang dinamakan pula tuberkulin. Produk lain yang penting dari Mycobacteria adalah niacin dan berbagai enzim seperti aryl sulfatase, katalase, peroksidase.

 

  1. D.      Patogenesis

Proses patologik tuberkulosis yang penting adalah terbentuknya lesi khan disebut tuberkel pada jaringan terinfeksi. Tuberkel adalah suatu granuloma avaskuler; tersusun atas:

a)      Daerah central: mengandung sel raksasa dengan atau tanpa nekrosis yang mengalami kaseasi, dikelilingi oleh sel-sel epiteloid.

b)      Daerah perifer: terdiri dari limfosit dan fibroblast. Dasar virulensi basil tbc belum diketahui dengan pasti, oleh karena basil tbc tidak mengandung atau memproduksi toksin. Berbagai komponen basil tbc mempunyai aktivitas biologic berbeda yang berpengaruh pada proses penyakit dalam hal patogenesis, alergi dan imunitas.

 

  1. E.      Patologi

M.tuberculosis dan M.bovis keduanya patogen bagi manusia. M.tuberculosis sangat infeksius pada marmut juga patogen pada beberapa binatang lain, tetapi tidak patogen pada kelinci. M.bovis sangat infeksius pada kelinci juga patogen bagi beberapa jenis binatang lain terutama temak. Beberapa species Mycobac­teria atipikal ada yang menyebabkan sakit pada manusia.

Lesi jaringan oleh basil tbc pada dasamya ada dua tipe, tipe eksudatif dan tipe produktif. Tipe eksudatif adalah suatu rekasi radang akut; terjadi udema sel leukosit polimorfonuklear, kemudian monosit terkumpul di sekeliling basil tbc yang bersarang di tempat itu. Lesi ini kemungkinan sembuh sempuma, nekrosis jaringan, atau berkembang menjadi tipe produktif.

Tipe produktif ditandai timbunan sel radang di sekitar basil. Lesi ini tersusun alas banyak tuberkel yang kemudian membesar, atau mengelompok, atau mencair dan mengalami proses kaseasi.

Pada tipe anak-anak, infeksi primer mengarah pada bentuk lesi yang disebut kompleks primer, berupa fokus subpleural pneumonia tuberkulosis parenchym paru (fokus Ghon) yang biasanya terdapat pada lobus inferior atau bagian bawah lobus posterior paru, bersama-sama dengan pembesaran kelenjar limfe di daerah tersebut. Tuberkulosis tipe dewasa umumnya akibat aktifasi kembali infeksi primer (infeksi endogeny, atau infeksi ulang (infeksi eksogen). Lesi tipe ini mung­kin mengalami penyembuhan dengan resorbsi, atau fibrosis, atau kadang-kadang kalsifikasi. Dapat jugs berkembang menjadi tuberkulosis kronik dengan pemben­tukan tuberkel, kaseasi, kavitasi dan mengeluarkan sputum yang mengandung basil tbc (tuberculosis terbuka). Pada orang dewasa jarang terjadi infeksi yang akut dan fatal..LM 14.

 

  1. F.       Gejala Klinik

Gejala umum tuberkulosis antara lain badan lemah, mudah capai, berat ba­dan menurun, demam, jika tbc paru maka ditambah dengan gejala batuk kronis, dapat pula terjadi hempotoe. Adanya basil tbc dalam sirkulasi darah menun­jukkan terjadinya tuberkulosis milier yang berarti banyak lesi pada berbagai organ. Dan keadaan ini menunjukkan mortalitas yang tinggi.

 

  1. G.      Diagnosa Laboratorik

Bakteriologik. Bahan pemeriksaan untuk tbc paru terutama adalah sputum. jika sukar mendapatkan sputum, dapat dilakukan dengan usapan larynx atau cairan kurasan lambung. Pelepasan basil tbc dalam sputum kadang-kadang ber­henti, kemudian dilepaskan lagi. Oleh karenanya pengambilan bahan dan peme­riksaan sebaiknya dilakukan sedikitnya 3 hari berturut-turut. Bahan (sputum) ditampung dalam botol bermulut lebar.

 

Cara pemeriksaan

  1. 1.        Mikroskopik:

1)      Pemeriksaan langsung. Bahan pemeriksaan dibuat sediaan apus pada gelas bends yang barn dan bersih. Sediaan yang telah kering, dilakukan pengecatan menurut cara Ziehl-Neelsen. Mula-mula digenangi dengan Ziehl-Neelsen A (carbon-fuchsin) dan dipanaskan tidak sampai mendidih tetapi tampak ads asap, selama 5 – 7 menit. Dicuci dengan air dan dila­kukan dekolorisasi dengan Ziehl-Neelsen B (larutan 3% HCI pekat dalam alkohol 95%) sampai wama hilang. Setelah dicuci, dicat dengan wama kontras Ziehl-Neelsen C (biro methylen 0,2%). Setelah dicuci dan kering diperiksa di bawah mikroskop perbesaran 100 kali. Basil tbc atau basil tahan asam (BTA) tampak bentuk batang tak rats berwama merah di atas dasar biru. jika di bawah mikroskop tampak adanya basil tahan asam, maka cliperkirakan sedikitnya ada 10.000 basil tahan asam dalam tiap 1 ml sputum.

Hasil positif dapat diberi graasi:

3 +, jika pada setiap lapangan penglihatan tampak 10 basil tahan asam atau lebih.

2 +, jika dalam satu sediaan tampak 10 basil tahan asam atau lebih.

1 +, jika dalam satu sediaan tampak 3-9 basil tahan asam. Jika dalam satu sediaan hanya tampak basil tahan asam 1 – 2, hasil ditulis positif dengan menyebutkan jumlah basil tahan asam yang tampak.

2)      Cara homogenisasi dan konsentrasi. Di samping untuk maksud penge­catan, cara ini jugs untuk pembiakan dan percobaan binatang. Ada bebe­rapa cara homogenisasi dan konsentrasi, di antaranya adalah cara Petroff: sputum ditambah 4% NaOH dengan volume sama, kemudian dieram 37°C selama lebih kurang 20 menit, dan tiap kali dikocok, sampai jernih (proses homogenisasi). Diputar 3000 putaran per menit selama 30 menit (konsentrasi). Endapannya dinetralkan dengan HCI 0,1 N, dan siap dila­kukan untuk pembiakan atau untuk percobaan binatang.

  1. 2.        Biakan (kultur):

Biakan cukup sensitif untuk deteksi basil tahan asam yang hanya 10 -100 basil per ml sputum. Bahan yang sudah dilakukan homogenisasi dan kon­sentrasi diinokulasikan pada perbenihan (medium) Lowenstein-Jensen. Dieram pada suhu 37°C. Jika pemeriksaan mikroskopik positif, dilakukan uji kepekaan terhadap berbagai obat tuberkulostatika. Pertumbuhan pada perbenihan diamati setelah 4 hari, mungkin ada golongan “rapid grower”, atau golongan jamur, atau ada kontaminasi. Setelah itu diamati sedikitnya seminggu sekali. Hasil negatif clitetapkan setelah pengamatan selama 8-12 minggu tidak ada pertumbuhan.

 

  1. H.      Imunitas dan Hipersensitivitas

Infeksi basil tbc memungkinkan timbulnya reaksi imunitas dan reaksi hipersensitivitas tipe lambat (alergi). Kedua reaksi tersebut merupakan imunitas seluler. Imunitas humoral tidak mempunyai relevansi terhadap perjalanan penyakit. Pada orang yang tidak mempunyai imunitas seluler, basil tbc dapat berbiak dalam fagosit dan menghancurkannya. jika mempunyai imunitas seluler, sel-sel T yang telah diaktifkan mengeluarkan limfokin yang dapat mengubah fagosit menjadi bersifat bakterisidal. Adanya reaksi imunitas dan hipersensitivitas

tampak pada fenomen Koch. Fenomen Koch dapat ditunjukkan dengan 2 macam marmut:

  1. Marmut sehat disuntik subkutan dengan basil tbc yang virulen. Benjolan di tempat suntikan akan timbul setelah 10 – 14 had yang kemudian pecah membentuk ulcus. Ulcus ini akan tetap ada sampai marmut tersebut akhimya mati.
  2. Marmut yang telah terinfeksi tbc 4 – 6 minggu sebelumnya, disuntik subkutan dengan basil tbc. Benjolan di tempat suntikan timbul dalam 1 atau 2 hari. Hari berikutnya benjolan tersebut ulcus yang dengan cepat akan sembuh.

Dengan demikian tampak bahwa fenomen Koch mempunyai tiga unsur pokok, reaksi lokal, respons fokal dan respons sistemik.

Proses alergi timbul tidak hanya oleh infeksi basil virulen, tetapi dapat timbul jugs oleh suntikan basil yang telah dilemahkan atau yang sudah mati. Untuk me­ngetahui adanya proses alergi dapat dilakukan dengan suntikan tuberkuloprotein (tuberkulin), yang dikenal dengan test (uji) tuberkulin. Alergi oleh tuberkulin adalah reaksi hipersensitivitas tipe lambat.

 

Uji tuberkulin

1)      Bahan:

  1. Old tuberculin (OT), adalah filtrat pertumbuhan basil tbc 6 minggu dalam medium cair, yang kemudian dipekatkan. Selain tuberkuloprotein, bahan ini. mengandung pula berbagai bahan lain dari basil tbc dan dari medium.
  2. PPD (purified protein derivative), diperoleh dengan proses fraksionasi OT secara kimiawi. PPD kini banyak digunakan, telah clibakukan secara inter­nasional dengan saloon “tuberculin units” (TU).

Kekuatan tuberkulin dibedakan menjadi

  1. Kekuatan pertama adalah 1 TU
  2. Kekuatan kedua adalah 250 TU
  3. Kekuatan antara adalah 5 TU

 

2)      Dosis tuberkulin:

Yang biasa diberikan adalah 5 TU, terhadap orang yang sensitif, maka diberikan 1 TU. Jika pada pemberian 5 TU menunjukkan reaksi negatif, dapat diberikan dengan 250 TU. Pemberian dilakukan intrakutan dalam volume 0,1 ml.

 

3)      Reaksi terhadap tuberkulin:

Orang yang belum pemah kontak dengan mycobacteria, tak ada reaksi terhadap tuberkulin. Orang sudah pemah mendapat infeksi primer dengan basil tbc, dalam 24-48 jam akan timbul reaksi yang sangat kuat dengan adanya indu­rasi, edema, eritema, bahkan dapat terjadi nekrosis di tengah-tengah tempat sun­tikan. Reaksi tersebut hares dibaca dalam waktu 48-72 jam. Hasilnya dinyatakan positif jika pada penyuntikan dengan 5 TU memberikan indurasi dengan dia­meter 10 mm atau lebih. Pada reaksi yang kuat, indurasi tidak hilang sampai beberapa hari. Sedang pada reaksi yang lemah akan menghilang lebih cepat.

 

4)      Interpretasi uji tuberkulin:

Uji tuberkulin positif menunjukkan bahwa seseorang pemah terinfeksi oleh mycobacteria dan hasil itu masih ada dalam suatu jaringan tubuh. Hal ini tidak berarti bahwa orang tersebut menderita penyakit tbc aktif, atau telah mempunyai imunitas terhadap tbc. Uji tuberkulin positif dapat diartikan bahwa infeksi primer yang telah diperolehnya suatu waktu menjadi aktif. Uji tuberkulin negatif berarti belum pemah terkena infeksi mycobacteria, basil yang ada dalam jaringan, tetapi orang ini masih mungkin terkena infeksi mycobacteria dari luar misalnya ketu­laran penderita lain.

PPD dari berbagai jenis mycobacteria telah dibuat pula. PPD ini pada kadar yang rendah dapat menunjukkan reaksi khan terhadap suatu infeksi myco­bacteria, tetapi pada kadar yang tinggi terjadi reaksi silang.

 

  1. I.         Pengobatan

Obat-obat yang banyak dipakai untuk penyakit tbc saat ini adalah INH (isoniazid), ethambutol, rifampicin, dan streptomisin. Namun, cepat sekali mun­cul strain-strain basil tbc yang resisten terhadap obat-oabt di atas. Umumnya INH masih merupakan obat pilihan untuk tbc. Pengobatan lebih berhasil dengan kombinasi 2-3 macam obat, misalnya INH dengan ethambutol, atau INH dengan rifampicin, atau kombinasi yang lain. Kesembuhan klinik umumnya dapat dica­pai dalam 6-12 bulan. Penderita dengan sputum positif menjadi tidak infektif setelah 2-3 minggu mendapat pengobatan efektif.

Pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama mengingat:

  1. Umumnya basil tbc adalah intraseluler.
  2. Bahan pengkejuan dalam lesi, walaupun dapat menghambat perbiakan basil tbc, tetapi jugs menghambat efektivitas obat.
  3. Dalam lesi kronis, basil tbc yang bertahan dalam keadaan tidak aktif dalam berbiak dan metabolisme, bersifat resisten terhadap aktivitas obat.
  1. J.        Epidemiologi, Pencegahan dan Pengawasan

Sumber infeksi basil tbc paling Bering adalah manusia yang mengeluarkan ekskret mengandung banyak sekali basil tersebut terutama dari saluran perna­fasan. Kontak yang erat dengan penderita misalnya keluarga atau perawat, sangat besar kemungkinan mendapat penularan melalui percikan-percikan dari ekskret tersebut. Susu sapi yang menderita tbc dapat menjadi sumber infeksi lebih-lebih jika tidak dilakukan pasteurisasi terhadap susu sapi tersebut.

Kepekaan seseorang terhadap infeksi basil tbc mempunyai dua tingkatan masalah:

  1. Tingkatan pertama, masalah kemungkinan besar terinfeksi.
  2. Tingkatan kedua, masalah kemungkinan besar menderita penyakit aktif.

Orang dengan tuberkulin negatif, kemungkinan terinfeksi tergantung pada kontak dengan sumber penularan terutama penderita dengan sputum positif. Kemungkinan terinfeksi ini akan sejalan dengan tingkatan keaktifan penyakit, kepadatan penduduk, keadaan sosial ekonomi yang kurang balk, dan kurang memadainya pelayanan medik. Faktor genetik mungkin hanya sedikit berperan­nya.

Tingkatan kedua, tentang kemungkinan besar menderita penyakit tbc aktif, bukti-bukti menunjukkan bahwa jelas ada faktor genetik yang ikut mempenga­ruhi. Faktor-faktor penting lainnya yang mempengaruhi pula adalah gizi kurang, usia (usia 16-21 tahun lebih peka), status imunologik, penyakit lain yang ada ber­samaan (misalnya silikosis, diabetes) dan faktor-faktor resistensi seseorang. Di daerah perkotaan, infeksi terjadi pada usia-usia lebih muda.

Pencegahan dan pengawasan dilakukan terhadap:

  1. Pelayanan kesehatan masyarakat untuk deteksi sedini mungkin adanya kasus dan sumber-sumber infeksi. Tindakan yang perlu dilakukan misal­nya uji tuberkulin, foto Rd, dan pengobatan efektif sampai penderita tidak menularkan penyakit.
  2. Pemberantasan tbc pada temak dan pasteurisasi susu.
  3. Imunisasi, dengan pemberian vaksin BCG (bacille Calmette Guerin). BCG adalah basil tbc tipe bovin yang telah dilemahkan. Di London vaksinasi BCG diberikan pada anak umur 12 tahun dengan uji tuberkulin negatif. Di Swjeclia umumnya diberikan pada anak umur 1 tahun. Di USA vaksi­nasi BCG diberikan pada orang-orang dengan uji tuberkulin negatif dan banyak berhubungan dengan penderita tbc misalnya keluarga penderita, perawat. Bukti-bukti statistik menunjukkan bahwa setelah vaksinasi BCG akan menaikkan resistensi dalam jangka waktu tertentu.
  4. Resistensi seseorang. Beberapa faktor nonspesifik dapat mengurangi keta­hanan tubuh sehingga memudahkan konversi dari infeksi asimtomatik menjadi penyakit aktif. Faktor-faktor tersebut antara lain kekurangan ma­kan, gastrektomi, pemberian dosis tinggi obat-obat kortikosteroid atau obat-obat yang bersifat imunosupressif.

Yang termasuk basil tbc adalah M.tuberculosis dan M.bovis. Mycobacteria tersebut termasuk dalam golongan Mycobacterium tipikal.

Mycobacterium atipikal, terdiri dari 4 golongan (menurut Runyon, 1957):

Group I      Golongan fotokromogen, wama koloni menjadi lebih tug jika terkena cahaya. Contoh: M.kansasi.

Group II     Golongan skotokromogen, koloni selalu berwama dan tidak terpengaruh oleh cahaya. Contoh : M.serofulaceum.

Group III   Golongan non-fotokromogen, koloni selalu tidak berwama dan tidak terpengaruh oleh cahaya. Contoh: M.intracellulare.

Group IV   Golongan “rapid growers”, koloni ada yang tidak berwama dan tumbuh dalam waktu 3-7 hari. Contoh: M.fortuitum.

 

Mycobacterium Leprae

 

  1. A.      Morfologi dan Identifikasi
  1. Bentuk. M.leprae berbentuk batang lurus atau sedikit bengkok, berukuran 1-8 X 0,2-0,5 mikron. Tahan asam, tetapi dibandingkan dengan M.tuberculosis lebih lemah. Dengan pengecatan Ziehl-Neelsen basil lepra tampak satu-satu atau umum­nya bergerombol karena diikat oleh suatu glia (zat semacam lipid) dan ini mem­bentuk bangunan yang khan. Bentuk itu ada yang disebut globus. Dalam bentuk ini basil lepra tersusun sejajar, keseluruhannya membentuk semacam bola. Ben­tuk lain disebut bentuk cerutu. Basil-basil lepra tersusun sejajar, tetapi bentuk keseluruhannya menyerupai cerutu.
  2. Penanaman. Sampai saat ini belum ada suatu jenis medium, balk medium buatan maupun biakan jaringan, yang dapat dipergunakan untuk pembiakan basil lepra. Penanaman pada binatang percobaan yang telah berhasil dan dija­dikan standar adalah inokulasi pada telapak kaki mencit dan dipertahankan pada suhu 20°C. Binatang lain yang jugs peka terhadap basil lepra adalah suatu jenis dari armadillo.
  3. Pertumbuhan khusus. Penanaman pada binatang percobaan menunjukkan bahwa basil lepra mempunyai waktu generasi cukup panjang, yaitu antara 12 hari sampai 42 hari, dibanding dengan 14 jam pada basil tbc atau 20 menit pada coliform.

 

  1. Sifat-sifat. Basil lepra dalam suasana panas dan lembab dapat tetap hidup selama 9-16 hari. Jika terkena sinar matahari secara langsung dapat bertahan hidup selama 2 jam, terhadap sinar u.v. hanya dapat bertahan 30 menit.

 

 

  1. B.       Struktur Antigen

Jenis-jenis antigen pada basil lepra belum dapat dijelaskan secara pasti, tetapi ada sedikit hubungan antigenik antara basil tbc dan basil lepra. Proses timbulnya penyakit lepra diduga akibat reaksi antara antigen pada lepra yang berikatan de­ngan antibodinya. lkatan antibodi dan antigen dari basil lepra tersebut kemudian dideposit ke jaringan tertentu.

 

  1. C.      Produk Ekstraseluler

Produk ekstraseluler tidak banyak dikenal, tetapi dapat dibuat bahan serupa tuberkulin yang disebut Lepromin. Bahan yang masih kasar dibuat dari basil lepra oleh Mitsuda, disebut antigen Mitsuda, yang dapat lebih dimurnikan sehingga tidak mengandung komponen-komponen dari sel basil lepra. Sekarang banyak dipakai lepromin yang dibuat dari lesi lepra pada armadillo.

 

  1. D.      Patogenesis

Lepra adalah suatu granulomatosa kronik, disebabkan oleh basil lepra, yang terutama menyerang kulit, saraf perifer dan mukosa hidung. Akan tetapi pada dasamya dapat menyerang pula setiap jaringan tubuh yang lain.

 

  1. E.       Patologi

Penyakit lepra digolongkan menjadi 2 tipe pokok, tipe lepromatosa dan tipe tuberkuloid. Di antara kedua tipe itu terdapat tipe-tipe antara misalnya tipe di­morphosa atau “borderline” dan tipe intermediate.

Ridley dan jopling membagi tipe lepra menurut tinSkatannya, menjadi 5 group:

  1. Tuberculoid (TT)
  2. Borderline tuberculoid (BT)
  3. Borderline (BB)
  4. Borderline leprornatosa, (BL)
  5. Lepromatosa (LL).

Tipe-tipe tersebut menggambarkan status imunitas seseorang. Oleh karenanya tipe lepra pada seseorang dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan imunitas atau keberhasilan peRgobatan pada orang tersebut. Akan tetapi sifat-sifat dan virulensi basil lepra tidak berbeda, walaupun diisolasi dari penderita dengan tipe yang berbeda-beda.

 

  1. F.       Gejala Klinik

Tipe lepromatosa muncul pada orang yang days tahannya menurun. Tampak beberapa lesi nodular pada kulit (lepromata), yang terdid dari jaringan granulasi, monosit dan basil lepra. Lesi ini dapat menjadi ulcus, sehingga dapat terjadi infeksi sekunder dan kemudian terjadi proses mutilasi. Selanjutnya basil lepra menyerang mukosa hidung, mulut, saluran nafas bagian atas, basil lepra tersebut keluarkan bersama-sama sekret, sehingga lepra tipe lepromatosa sangat menular.

Di samping itu basil lepra juga menyerang organ-organ lain seperti sistema reti­kulo-endotelial, mats, testis, ginjal dan tulang, sehingga biasa terjadi basilaemia. Prognose lepra tipe lepromatosa adalah jelek.

Tipe tuberkuloid terjadi pada penderita yang mempunyai days tallan tinggi. Lesi pada kulit hanya beberapa dan berbatas jelas, berupa bercak-bercak makula anestetik. Saraf-saraf dapat terserang lebih awal dan efek nyata dengan timbulnya deformitas terutama pada tangan dan kaki. Basil sangat sedikit pada lesi dan kecil pula kemungkinan menular.

 

  1. G.      Diagnosa Laboratorium

Bahan pemeriksaan diambil dari goresan dengan skalpel pada lesi di kulit atau mukosa hidung atau daun telinga. Dibuat sediaan apus pada gelas benda dan dilakukan pengecatan menurut cara Ziehl-Neelsen. Adanya basil lepra tam­pak berwama merah dengan susunan bentuk globus, cerutu atau satu-satu.

 

  1. H.      Imunitas

Ada hubungan antara imunitas terhadap basil tbc dan basil lepra. Dari hasil suatu penelitian, orang-orang yang mendapat vaksinasi BCG, sekitar 85% juga terlindung dari infeksi basil lepra.

 

  1. I.         Pengobatan

Obat-obat yang dapat dipergunakan untuk penyakit lepra antara lain:

  1. Golongan sulphon, merupakan obat pilihan utama. Obat yang diper­gunakan umumnya diami nodi phenyl sui I phone (DDS, dapson).
  2. Clofazimine, diberikan pada lepra yang telah resisters terhadap DDS.
  3. Rifampicin, diberikan sebagai kombinasi dengan obat pilihan utama.

 

  1. J.        Epidemiologi, Pencegahan dan Pengawasan

Penyakit lepra sangat menular, dan sumber penularan adalah penderita lepra. Cara penularan belum diketahui secara pasti, sangat mungkin terjadi pada mass kanak-kanak, dalam waktu yang sangat panjang selalu kontak dengan penderita yang dalam sekretnya banyak mengandung basil lepra. Sekret hidung merupakan sumber penularan utama, kemudian bare discharg dari lesi di kulit.

Sering terjadi orang tampak normal, tidak merasa menderita lepra tetapi mengeluarkan sekret yang menularkan lepra. Keadaan seperti ini berlangsung 2-3 tahun sampai kemudian jelas orang tersebut menunjukkan tanda-tanda menderita lepra. Masa inkubasi lepra rats-rats 2-5 tahun.

Kunci pengawasan adalah tedetak pada penetapan diagnosa dan pengobatan penderita lepra. Anak-anak dari keluarga pendedta lepra yang dianggap dapat menularkan, peHu diberi pengobatan sampai pengobatan terhadap yang sakit dinyatakan tidak menular lagi.

Usaha vaksinasi sudah banyak dilakukan dengan vaksin BCG dan dicoba pula dengan vaksin lepra. Percobaan di Uganda ffmnunjukkan bahwa sekitar 85% dari orang-orang yang diberi vaksinasi BCG terhindar dari penyakit lepra.

metabolisme organisme

Posted: September 13, 2011 in mikrobiologi

METABOLISME MIKROORGANISME

ENZIM: KATALISATOR BIOLOGIK

Hampir swemua proses metabolisme memerlukan enzim, bila tidak ada enzim tidak akan ada kehidupan sel. Enzim adalah protein yang mempunyai kisaran berat molekul 600- 12.000 . Fungsinya mempercepat reaksi kimia yang terjadi dalam sel. Molekul yang mampu mempercepat reaksi kimia disebut katalisator. Dalam kerjanya enzim tidak berdiri sendiri, tetapi dibantu oleh molekul yang disebut kofaktor. Kebanyakan kofaktor berupa molekul organik seperti vitamin dan sring disebut sebagai koenzim. Kofaktor yang berupa molekul anorganik dapat berupa ion-ion metal seperti calsium, zink, dan magnesium. Pada setiap reaksi kimia dalam sel terdapat molekul yang disebut substrat(S), yang akan berinteraksi dengan enzim(E) dan akan mengubahnya menjadi produk(P) reaksi enzimatis dapat ditulis dengan rumus sbb:

S + E = SE(kompleks S-E )——-P + E

Reaksi kimia terlibat dalam sintesis (pembuatan) dan pemecahan suatu ikatan kimia, dan ini memerlukan energi yang disebut energi aktivasi. Vitamin yang berfungsi dalam metabolisme mikroorganisme adalah: Thiamine, Riboflavin, Niacin, Asam pantotenat, Pyridoxal, Biotin, Asam Folat, Vitamin B12. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas enzim yakni: ion Hydrogen, temperatur, konsentrasi substrat, inhibitor(penghambat).

PROSES METABOLISME YANG MENGHASILAKAN ENERGI
FERMENTASI
Fermentasi adalah proses oksidasi,disini donor memberikan elektron organik kepada penerima . Oksigen sendiri tidak terlibat fermentasi karena merupakan proses anaerobik. Proses fermentasi terjadi pada kebanyakan sel hidup dan disebut proses glikolisis atau jalur Emden-Meyerhoff-Parnas (EMP)
RESPIRASI
Respirasi adalah sistem pembentukan energi sel dimana elektron dibebaskan dengan cara oksidasi dipindahkan ke rangkaian transport elektron. Rangkaian transport elektron bertempat di membran sitoplasma bakteri dan membran mitokondria pada eukariot. Penerima terakhir elektron adalah oksigen(pada respirasi aerob) atau molekul anorganik selain oksigen(pada respirasi anaerob)
BIOSINTESIS: PROSES YANG MEMERLUKAN ENERGI
Kebanyakan komponen seluler dan enzim akan mengalami degradasi selama siklus kehidupan dan biosintesis diperlukan untuk memperbaiki atau menyusun kembali menjadi keadaan normal. Dalam rangka biosintesis terdapat 3 syarat : harus ada sumber kerangka karbon, kedua harus ada kekuatan reduksi untuk pembentukan hidrogen, ketiga harus ada sumber energi.
PERTUMBUHAN MIKROORGANISME

Pertumbuhan adalah proses koordinasi kemik dan fisik dalam sel yang secara ideal akan menghasilkan pembelahan sel. Proses kimia dan fisika dalam sel juga dipengaruhi oleh kekuatan kemik dan fisik eksternal.
Pertumbuhan sel bakterial
Sel bakteri membelah dengan proses aseksual yang disebut pembelahan binair. Ketika membelah setiap progeni membentuk salinan dari DNA dan komponen selular lainnya. Setelah terbentuk dua sel, populasi akan manjadi kelipatan 2 ykni 4,8,16,32,64, dst. Waktu yang diperlukan oleh satu sel ataun populasi menjadi dua kali lipat disebut waktu pertumbuhan.
Kurve pertumbuhan
Populasi bakteri yang ditumbuhkan di laboratorium dengan jumlah tertentu ditumbuhkan dalam mediium sampai pertumbuhan berhenti. Setelah dievaluasi menghasilkan suatu . kurve pertumbuhan, dengan tahapan fase lag, fase log, fase stationer, , kematian, dan fase penurunan pertumbuhan.
Fase lag
Bila mikroorganisme dipaparkan pada medium pertumbuhan, maka akan terdapat periode penyesuaian terhadap lingkungan fisik dan kemik setempat. Pada saat ini pembelahan sel terlambat. Hal ini tampak pada kurve pertumbuhan populasi yang mendatar.
Fase log
Populasi sel tumbuh secara logaritmik Selama fase ini pembelahan terjadi secara konstant misalnya setiap 30 menit. Kurve tampak meningkat dalam gambaran vertikal
Fase stationer
Bila mikroorganisme ditumbuhkan pada medium pertumbuhan yang tidak mengalami pergantian nutrien, maka populasi mikroorganisme makin lama makin menurun. Bebrapa anggota populasi banyak yang mati. Terjadi keseimbangan antara jumlah yang tumbuh dan jumlah yang mati. Tampak kurve mendatar.
Fase penurunan dan kematian
Makin lama makin banyak anggota populasi yang mati . Faktor yang berpengaruh adalah dilepaskannya enzim litik oleh beberapa bakteria ketika lisis.

BAHAN KIMIA YANG DIPERLUKAN UNTUK PERTUMBUHAN

AIR
Air diperlukan untuk melarutkan nutrien yang diperlukan sehingga nutrien dapat ditransportasi masuk melalui membran sitoplasma . Disamping itu kebanyakan reaksi biokimia memerlukan air untuk memecah gugusan kimia tertentu(hidrolisis)
KARBON
Kebanyakan mikroorganisme termasuk yang berperan dalam aspek medik memerlukan sumber karbon dalam bentuk organik. Hanya ada beberapa jenis bakteria yang menggunakan karbon anorganik seperti karbondioksida sebagai sumber karbon. Organisme yang menggunakan molekul organik sebagai sumber karbon disebut heterotrof. Penggunaan sumber karbon organik tergantung pada potensial genetik dari bakteri, yakni bagaimana bakteri memproduksi enzim yang mampu mengubah sumber karbon tersebut. Sumber karbon untuk sel bakteri biasanya adalah gula seperti glukose karena mudah diuraikan secara glikolosis disamping zat tersebut merupakan sumber energi. Sumber karbon lain untuk kebanyakan mikroorganisme sering berupa makromolekul seperti selulose. Mikroorganisme biasanya memiliki enzim selulase yang mampu mengubah selulose menjadi glukose. Makromolekul tidak dapat ditransport melalui membran sitoplasma , tetapi unit yang kecil seperti glukose dapat ditransport.
NITROGEN
Nitrogen adalah molekul penting penyusun protein yang ditemukan pula pada purin dan pirimidin. Kebutuhan nitrogen disuplai dari molekul anorganik sperti amonia (NH3) atau nitrat (NO3) tetapi nitrit (NO2) dan gas nitrogen (N2) dapat dipakai oleh beberpa jenis mikroorganisme. Bentuk anorganik dari nitrogen mula-mula akan diubah menjadi amonia kemudian diubah menjadi asam amino.
SULFUR DAN FOSFAT
Sulfur adalah elemen yang dapat ditemukan pada kebanyakan asam amino,diserap oleh sel mikroorganisme dalam bentuk sulfat anorganik. Sulfat diubah menjadi amino sulfide (H2S). Fosfor penting dalam sintesis asam nukleat DNA dan RNA. Salah satu komponen dari asam nukleat yakni ATP (Adenosin Tri Fosfat) yang merupakan energi di sel.
OKSIGEN
Produk metabolisme oksigen
Beberapa mikrorganisme membentuk enzim yang mereduksi oksigen tidak hanya terhadap air, seperti pada respirasi aerob tetapi juga produk toksik. Produk antara yang toksik adalah hidrogen peroksida dan superokside. Ensim yang terlibat adalah katalase yang mengubah hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen adalah sbb:
H2O2 ——— H2O + O2
Ensim lain adalah superoksid desmutase yang mengubah superokside menjadi hidroge peroksida dan oksigen
Berdasar atas kebutuhan oksigen mikroorganisme dibagi dalam 4 grup,yakni:
Aerob Obligat
Organisme ini secara total tergantung adanya oksigen untuk pertumbuhannya. Kebutuhan oksigen biasanya 1 atmosfer atau 20% oksigen dalam udara 1 atm. Aerob obligat memproduksi hidrogen peroksida dan superoksid tetapi juga menghasilkan enzim katalase dan superoksid desmutase yang memungkinkan toleran terhadap oksigen konsentrasi tinggi.
Mikroaerofilik
Mikroarerofilik tumbuh pada lingkungan mengandung oksigen tetapi hanya toleran hanya terhadap sedikit oksigen(kira-kira 0.2 atmosfer, atau 4%). Mikroaerofilik menghasilkan enzim yang diperlukan untuk memecah hidrogen peroksida dan superokside tetapi banyak bahan toksik yang terbentuk sistem enzimatik menjadi tak mampu dan pertumbuhan terhambat
Anaerob fakultatif
Mikroorganisme anaerob fakultatif dapat tumbuh dengan adanya oksigen atau tanpa oksigen. Bila tersedia oksigen mereka menggunakan respirasi aerob untuk produksi energi sedang bila tidak ada oksigen mereka menggunakan fermentasi atau respirasi anaerob sebagai sumber energi. Anaerob Fakultatif tumbuh baik dibawah kondisi aerob dan memproduksi katalase dan superoksid desmutase untuk memecah hidrogen peroksida dan superoksid yang terakumulasi.

Anaerob obligat
Orgnisme ini hanya akan tumbuh dalam kondisi tanpa oksigen . organisme seperti clostridium yang dapat ditemukan di tanah tetapi dapat tumbuh pada lingkungan hospes manusia. Lingkungan anaerob termasuk intestinal dan kantung antara gigi dan gusi. Oksigen bersifat letal terhadap mikroorganisme grup ini karena mikroorganisme ini membentuk enzim yang mereduksi oksigen menjadi hidrogen peroksida dan superoksid tetapi tidak memiliki enzim yang mengubah zt-zat tersebut menjadi zat non toksik Obligat anaerob yang lain dapat toleran terhadap sedikit oksigen karena kekurangan enzim yang mereduksi oksigen menjadi air atau zat perantara yang toksik.
MINERAL
Kebutuhan akan mineral sangat bervariasi Beberapa mineral seperti calsium, magnesium, besi diperlukan bagi kebanyakan bakteri. Mineral lain seperti sodium, zink, molibdenum, kobalt, kuper dan mangan biasanya diperlukan sebagai trace elemen.

FAKTOR FISIK YANG DIPERLUKAN UNTUK PERTUMBUHAN
Beberapa faktor fisik sering berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroorganisme
ION HIDROGEN
Kebanyakan bakteri tumbuh baik diantara pH 6 sampai 8 sedangkan fungi diantara pH 5 sampai 6. Dengan prinsip ini merupakan jawaban mengapa di lambung banyak mikroorganisme tidak mampu menimbulkan infeksi di bagian tubuh ini karena pH disini adalah sekitar 2.0.
TEMPERATUR
Dengan dasar kebutuhan temperatur untuk pertumbuhan mikroorganisme dibagi dalam
Psykrofil
Bakteri ini tumbuh pada kisaran temperatur antara -10 sampai 20C. Mereka ditemukan di lingkungan yang ekstrim dingin di dunia.
Mesofil
Mikroorganisme yang mampu menyebabkan infeksi pada manusia . Mereka sangat menyukai temperatur antara 30 sampai 37C
Termofil
Menyukai temperatur yang tinggi yakni diantara 45 sampai 70 C. Biasanya ditemukan di daerah panas. Mikroorgnisme ini tidak mampu tumbuh di tubuh manusia
TEKANAN OSMOTIK
Konsentrasi zat-zat dalam larutan medium sangat menentukan pertumbuhan mikroorganisme . Faktor ini mengatur kekuatan ionik dalam sel yang sangat diperlukan dalam aktivitas enzim. Kehilangan air dalam sel akan menyebabkan kondisi yang disebut plasmolisis. Plasmolisis akan menghambat pertumbuhan sel

Epidemiologi

Posted: September 13, 2011 in mikrobiologi

EPIDEMIOLOGI

 

A.TAHAPAN KLINIK PENYAKIT DALAM TUBUH HOSPES

 

Individu yang terinfeksi mikroorganisme patogen akan menanggapi dengan berbagai cara. Seringkali sistem imune hospes akan menghambat patogen sebelum patogen tersebut  berhasil mengakibatkan   simtom atau atau simtom masih sangat ringan sehingga tidak terasa. Kasus seperti ini disebut subklinik atau tidak jelas. Ketika patogen berinteraksi dengan sistem pertahanan hospes, manifestasi penyakit akan terjadi dan berproses dalam bentuk akut atau kronik.

 

PENYAKIT AKUT

Penyakit akut dapat ditentukan dari gejala-gejala yang muncul secara cepat, kuat, dan mereda ketika sistem pertahanan tubuh melimpah dan dapat mengatasi patogen atau produk toksin. Penyakit akut adalah tipe penyakit yang kebanyakan merupakan acquitance (dapatan,kenalan) misalnya pada anak-anak adalah campak, chickenpox, dan berbagai macam influenza.

 

PENYAKIT KRONIK

Beberapa macam mikroorganisme mampu menetap dalam hospes untuk waktu cukup panjang karena kemampuannya menghindari respon hospes. Infeksi kronik dapat dibagi dalam kronik, laten, dan lambat . Infeksi kronik terjadi bila gejala penyakit terjadi dalam waktu yang panjang. Kebanyakan penyakit kronik agen infeksi (mikroorganisme) berada secara intraseluler di dalam fagosit. Organisme ini dapat dipindahkan ke berbagai organ dan lokasi dalam tubuh. Kemudian mereka dapat bermultiplikasi(berkembang biak) atau bila mikroorganisme tersebut lisis menghasilkan produk yang memunculkan  simptom. Simptom akan meningkat selama relaps(kambuh) disebabkan karena reaksi hipersensitif oleh hospes. Penyakit kronik seperti bruselosis atau tuberkulosis yang terjadi karena hospes tidak mampu merespon secara efisien. Kemungkinan antigen mikrobial tidak cukup imunogenik untuk menginduksi hospes memproduksi antibodi yang mampu memberantas patogen.

 

Pada penyakit kronik maupun akut terdapat beberapa proses yakni inkubasi, prodromal, akut dan convalescent. Proses-proses tersebut tidak selalu sama pada keadaan kronik dan akut.

Periode inkubasi   

Adalah saat ketika agen infeksi memasuki tubuh hospes sampai gejala/simptom muncul. Periode ini bisa pendek dalam waktu beberapa jam atau panjang sampai beberapa tahun. Interval waktu tersebut dipengaruhi oleh seberapa cepat agen infeksi berkembang biak dan seberapa cepat produk mikroorganisme mempengaruhi jaringan hospes. Keracunan makanan disebabkan menelan makanan mengandung toksin sering menyebabkan simptom dalam 8-24 jam. Penyakit lain, dimana agen infeksi masuk tubuh dapat memilki masa inkubasi beberapa minggu. Patogen berupa jamur memiliki periode inkubasi panjang. Masa inkubasi suatu penyakit sangat ditentukan oleh virulaensi mikroorganisme, potensi antigen dari mikroorganisme atau produknya dan status imune hospes. Campak yang menyerang anak sehat dalam periode 7-10 hari, virus yang sama yang menyerang pasien rawat inap rumah sakit dapat memiliki masa inkubasi hanya 1-2 hari. Kebanyakan penyakit memiliki masa inkubasi antara 10-21 hari.

Periode Prodromal

Adalah gejala yang merupakan tanda yang menunjukkan onset suatu penyakit. Disini biasanya individu merasa tidak enak badan atau sering disebut ‘malaise’. Kebanyakan berupa pusing , mual, atau demam ringan. Pada saat ini agen infeksi sedang berkembang biak hanya meluas sampai produknya menginduksi respon ringan dari hospes.

Periode Akut

Periode akut adalah tahap dimana simptom penyakit ada dalam puncak. Selama periode ini mikroorganisme penginfeksi mencapai  tingkat populasi yang mampu menginduksi respon hospes dengan intensitas imunologik cukup tinggi . Baik intensitas respon imunologik maupun intensitas gejala sangat tergantung pada tingkat hubungan  interaksi hospes –parasit . Jika pertemuan/ interaksi tersebut merupakan yang pertama maka simptom penyakit biasanya sangat berat dan respon imunologik sangat maksimum dan terjadi dalam waktu yang panjang . Respon yang cepat dan tidak terlalu berat akan terjadi bila merupakan pertemuan  ulangan antara hospes –parasit.

Periode Convalescens

Periode penyembuhan, dihubungkan dengan penurunan simptom yang sangat cepat. Simptom tersebut berhubungan dengan level maksimum antibodi yang mampu mengatasi/membasmi  patogen.

 

B. SUMBER-SUMBER PENYAKIT MENULAR

BENDA HIDUP

MANUSIA

Kebanyakan  agen viral seperti campak, rubella, gondong, influenza dan virus poliomyelitis seperti juga agen bakterial penyebab penyakit seksual menular , batuk, juga difteri, hanya bersumber pada manusia.

Manusia juga ditempati oleh mikroorganisme yang menyebabkan infeksi yang persisten/menetap. Ada 2 hal yang merupakan konsekuensi : 1. mikroorganisme akan berada di komunitas uantuk waktu yang lama. 2. terdapat reaktivasi penyakit ketika sistem pertahanan hospes lemah baik sementara maupun menetap. Sebagai contoh adalah pada penyakit tifoid dan tuberkulosis, yang disebabkan oleh Salmonella typhi dan Mycobacterium tuberculosis. Ketika  sembuh dari demam tifoid hospes masih ditinggali oleh bakteri di kandung empedu dan gejala tidak tampak. Secara periodik ( lebih dari satu bulan sampai  tahun) bakteri berkembang biak dan bersembunyi dari kandung empedu ke traktus intestinal dan keluar lewat feses. Individu yang mengandung mikroorganisme seperti ini disebut karier. Karier dapat menyimpan mikroorganisme yang mengkontaminasi makana atau minuman. Jadi karier akan menjadi sumber infeksi kepada orang lain secara tetap. Pada tuberkulosis bakteri penyebab infeksi dapat dilingkupi oleh lesi granulomatous seperti di paru yang tidak dapat dijangkau daya tahan hospes. Bakteri akan tinggal dan hidup  dalam lesi sampai beberapa tahun. Lesi dapat robek suatu saat , dan melepaskan bakteri hidup yang berkembang biak di jaringan sehingga terjadi reaktivasi penyakit. Realktivasi ini dapat menyebabkan hospes menjadi sumber infeksi. Karier Convalescent adalah individu yang telah sembuh dari sakit tetapi sebenarnya agen infeksi masih berkembang biak di dalam tubuhnya tanpa menimbulkan gejala( contoh demam tifoid).

Karier sehat adalah individu yang tidak sakit tetapi mengandung mikroorganisme infektif. Seperti pembawa strain Staphylococcus aureus penyebab keracunan makanan. Karier dihuni staphylococcus di nares(nostril) dan ketika dia memasak  makanan dapat menyebabkan kontaminasi pada makanan. Deteksi karier ini sangat penting untuk memutus rantai penularan.

HEWAN

Hewan terutama hewan piaraan merupakan sumber penting penyakit manusia . Penyakit yang secara primer menginfeksi hewan dan secara sekunder ditularkan ke manusia disebut zoonosis. Salmonella enteritidis  secara normal ditemukan di traktus intestinalis hewan seperti ayam atau sapi. Bila mengkontaminasi makanan, salmonella dapat menyebabkan penyakit. Kebanyakan jika sumber infeksinya adalah hewan, manusia adalah tempat terakhir untuk penularan,karena penyakit tidak bisa ditularkan dari manusia ke manusia . Contohnya Q fever dan bruselosis . Tetapi pada salmonellosis , salmonella awalnya mungkin diperoleh dari hewan tetapi manusia yang terinfeksi dapat menularkan pada orang lain.

INSEKTA

Terdapat 2 kelas arthropoda yakni Insecta dan Arachnida merupakan pembawa penting untuk penularan agen infeksi ke hospes lain. Arthropoda disebut sebagai vektor pada proses penyakit. Kelas insekta termasuk lalat, nyamuk, kutu, tungau. Vektor insekta dibagi dalam 2 tipe yakni vektor biologi dan mekanik. Lalat dapat membawa organisme salmonella dari feses hewan dan ditransfer ke manusia melalui makanan yang terkontaminasi. Jadi lalat bukan sumber asli dari agen infeksi. Vektor biologi adalah invertebrata yang menjadi sumber dari agen infeksi. Kebanyakan arthropoda menggigit hewan dan manusia untuk mengkonsumsi darah, selama gigitannya sambil menularkan agen infeksi.

BENDA MATI

Sumber benda mati adalah tanah, air, dan makanan. Banyak mikroorganisme memiliki siklus hidup di tanah atau air, namun kebanyakan tidak patogen untuk manusia . kebanyakan jamur terdapat di tanah sebagai spora. Jika spora terhirup ke manusia yang peka, dapat berkecambah menjadi bentuk vegetativedan menyebabkan sakit. Bakteri yang mampu memproduksi toksin mematikan seperti Clostridium tetani dan Clostridium botulinum berada di tanah sebagai spora. C. botilinum dapat mengkontaminasi makanan dalam kondisi anaerob memproduksi toksin yang dikaitkan dengan keracunan makanan. Jika spora C.tetani mengkontaminasi luka kuman ini akan bberkecamabah dan memproduksi toksin yang bertanggung jawab gejala yangsanagt fatal yakni tetanus.

Air tanah mampu mendukung pertumbuhan mikroorganisme, kebanyakan air mengandung mineral dan nutrien organik dari lingkungan. Manusia juga dapat mengkontaminasi air baik langsung ataupun tidak langsung melalui limbah ataupun septik tank. Mikroorganisme patogen dan non patogen dapat mancapai hewan atau manusia melalui sumber air. Beberapa patogen potensial untuk manusia hidup dalam ikan dan kerang yang hidup di air pantai dan air tawar.

Makanan adalah sumber mikroorganisme infeksius untuk manusia. Penyakit  dapat diakibatkan mengkonsumsi daging dari hewan terinfeksi atau daging yang tidak terinfeksi pada awalnya namun terkontaminasi pada proses berikutnya. Telur dapat terinfeksi salmonella dan menyevbabkan penyakit pada manusia yang mengkonsumsi. Sapi adalah pembawa berbagai mikroorganisme infektif pada manusia . Meminum susu atau daging yang terkontaminasi kuman penyebab  tuberkulosis, Q fever, brucellosis dapat menyebabkan manusia tertular penyakit tersebut.

Makanan dapat secara tidak sengaja terkontaminasi oleh mikroorganime infektif. Kerang-kerangan seperti tiram dapat dipanen dari air yang terpolusi limbah kotoran manusia . Menelan makanan ini tanpa dimasak dengan baik dapat tertular hepatitis viral. Penyakit seperti salmonellosis, shigellosis, amebiasis, dan kolera dapat diperoleh dengan cara diatas.

 

 

 

 

 

 

 

BAKTERI PENYEBAB INFEKSI

 

SALURAN PERNAFASAN DAN PARU

 

 

 

Mycobacterium tuberculosis

 

 

Streptococcus pneumoniae

 

 

Staphylococcus aureus

 

 

Klebsiella pneumoniae

 

 

Haemophilus influenzae

 

 

Pseudomonas aeruginosa

 

 

Legionella pneumophilia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MYCOBACTERIA

 

BATANG

Tidak mbtk SPORA

AEROB

 

          Tdk mudah diberi warna

Sukar dilunturkan dgn asam dan alcohol

BTA

Gol saprofit

Gol pathogen

 

Mycobacterium tuberculosis

Morfologi dan indentifikasi

 

Bentuk

Jaringan      : batang lurus atau agak bengkok

Perbenihan  : filament dan kokus

(0,2 – 0,4) x (1 – 4) um

Ziehl – Neelsen

Sifat tahan asam

Biakan

Tumbuh lambat ± 2 minggu

Kadang – kadang 6 – 8 minggu

Suhu optimum 37 ºC

Tidak tumbuh pada    < 25 ºC

> 40 ºC

PH optimum 6,4 – 7,0

M tuberculosis  obligat aerob

M bovis     isolasi primer mikro aerofilik

Sub kultur aerob

 

Media Lowenstein – Jensen

 

 

 

 

 

 

 

 

Karakteristik pertumbuhan

 

          M tuberculosis

              Eugenik tumbuh rapat

Kering kasar menonjol tdk teratur permukaan keriput

Mula –mula putih krem –à ke kuning – kuningan –à suram

Sangat lekat sukar dibuat emulsi

M bovis

Disgonik pertumbuhan jarang – jarang

Lembab licin datar putih

Mudah hancur

 

Ketahanan hidup

 

          Mati             60 ºC 15 – 20 menit

Sinar matahari langsung selama 2 jam

Jodium tincture dalam 5 menit

Alcohol 80 %      dalam 2 – 10 menit

 

          Bertahan hidup

                              20 – 30 jam dlm sputum

8 – 10 hari pada percikan – percikan dalam bahan

6 – 8 bulan biakan dalam temp kamar

2 tahun dalam almari – 20 ºC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEM LAB

 

BAHAN PEM

PERHATIKAN – WAKTU PENGAMBILAN

- TEMPAT PENAMPUNGAN

- WAKTU PENYIMPANAN

- CARA PENGIRIMAN

 

WAKTU PENGAMBILAN

 

SPUTUM (DAHAK)

          BUKAN LUDAH ATAU INGUS

- SPUTUM PAGI PERTAMA KALI KELUAR

- 24 JAM < 10 ml

- JANGAN SPUTUM YG DIKELUARKAN DI TEMPAT PEM.

 

AIR KEMIH

- PAGI PERTAMA KALI

- 12 – 24 JAM

- SEBAIKNYA AIR KEMIH KATETER

 

AIR KURAS LAMBUNG

TIDAK DAPAT MENGELUARKAN DAHAK, UMUMNYA ANAK-ANAK

PAGI SEBELUM MAKAN

CEPAT DIKERJAKAN

 

BAHAN – BAHAN LAIN

NANAH, CAIRAN CEREBROSPINAL, CAIRAN PLEURA

JARINGAN, TINJA, USAPAN TENGGOROK

 

 

 

 

 

 

TEMPAT PENAMPUNGAN

          Botol dgn mulut lebar

              Mudah memasukkan tidak mengotori botol

–à mencegah kontaminasi & penularan

 

WAKTU PENYIMPANAN

          SEGERA dikerjakan

Atau disimpan                – almari es

- ruang terlindung panas / sinar matahari

Mikroskopik       dapat disimpan sampai 2 minggu

Biakan               dapat disimpan sampai 1 minggu

 

CARA PENGIRIMAN

          SEGERA dikirim untuk segera diperiksa

Luar kota     kertas saring steril

Sputum / nanah 1 – 1,5 ml –à kering

Lipat empat –à kantong plastic

Amplop –à POS

 

CARA PEMERIKSAAN

 

MIKROSKOPIK      langsung

Homogenisasi dan konsentrasi

 

KULTUR

REAKSI BIOKIMIA

UJI KEPEKAAN KUMAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PNEUMOKOKUS

(Streptococcus pneumoniae )

 

 

                                              Diplokokus

                                              Gram positif

Lanset

Berpasangan

rantai

 

 

 

 

Simpai / kapsula polisakarida

Antiserum spesifik —-à TIPE

 

FN sal pernafasan atas

 

Pneumonia, sinusitis, otitis, bronchitis, bakteremia, dan meningitis

 

BIAKAN

 

          Koloni          mula – mula btk kubah

Lekukan ditengah, pinggiran meninggi

a hemosilis

 

STRUKTUR ANTIGEN

         

Dgn adanya polisakarida pada kapsula,secara imunologik pneumokokus dapat dibedakan lebih dari 90 tipe

Jika kuman dicampur dgn anti serum spesifik, maka kapsula akan membengkak (Reaksi Quellung)

“Omniserum”

Anti serum polivalen

Anti bodi thd semua tipe

 

 

 

 

 

PENYAKIT YG DITIMBULKAN

 

Khas Pneumonia lobaris

Sinusitis, otitis, bronchitis, dan meningitis

 

Pneumonia lobaris —à   septikemia, empiemia, endokarditis

Perikarditis, meningitis, dan arthritis

 

PEM LAB

 

Darah ——à biakan

Dahak——-à      sediaan apus dan biakan

 

Dahak

Cirri khas –à  merah karat

Banyak neutrofil polimorfonuklir

Banyak sel darah merah

 

1. pengecata gram

2. tes pembengkakan kapsula

Reaksi quellung —-à identifikasi

Penentuan tipe

3. biakan

Agar darah dgn CO2, 5 – 10%

Atau metode lilin padam (candle jar)

4. hewan percobaan

Penyuntikan intraperi toneal dahak pada mencit

18 – 48 jam mencit mati

Biakan murni pneumokokus dari darah jantung

5. meningitis pneumokokus

Segera! Biakan cairan serebrospiral

 

 

                             

 

KEPEKAAN THD AM

 

Sensitive thd byk am

Drug of choice : penisilin

 

Ada yg res thd bbrp am

Tetra siklin, eritromisin dan linkromisin

Bahkan ad yg res thd pen

 

Berbahaya bila ada infeksi sekunder oleh stafilokokus yg res

thd pen dan am lainnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HAEMOPHILUS

 

Kecil, gram – neg.    pleomorfik

Butuh media kaya (biasanya mgdg darah)

Flora normal, kecuali :

Haemophilus influenzae tipe b

Patogen ptg pd man

Haemophilus ducreyi

Ditularkan secara seksual penyebab chancroid

 

Haemophilus influenzae

          Mukosa sal nafas atas man

Meningitis pada anak

Inf sal nafas pada anak dan dewasa

 

Morfologi dan identifikasi

 

 

                                                      Bentuk

                                                        Infeksi akut

- koko basil

- kdg – kdg rantai pendek

6 – 8 jam dalam media kaya

- koko basil terbanyak

- kemudian batang yg lbh pjg

Bakteri lisis, sgt pleomorfik

 

 

 

Penanaman

Pd agar BH 1 dgn darah –à 24 jam —à koloni kecil, bulat, konveks

Pd agar coklat –à 36 – 48 jam

Koloni Æ 1 mm

Iso vitale x membantu pertumb

Tak ada hemolisis

Disekitar koloni stafilokokus, koloni H influenzae tumbuh jauh lbh besar

(“fenomena satelit”)

sifat – sifat pertumb

haemophilus influenzae membutuhkan faktor x (hemin) dan

faktor V (nukleotida nikotinamid adenin)

fermentasi thd KH tdk dpt unt identifikasi (tdk menentu)

 

STRUKTUR ANTIGEN

 

Kapsula H influenzae (polisakharida) –à 6 tipe (a – f)

Antigen kapsular dari tipe b berupa polyribose – ribitol phosphate (PRP)

 

Dgn anti sera spesifik H influenzae –à bbrp tipe

Tes ini analog dgn reaksi Quellung untk S pneumoniae. Penentuan tipe

dpt pula dgn immunofluoresensi

 

H influenzae yg tdk berkapsul –à flora normal pada sal naf atas

 

PENYAKIT YG DITIMBULKAN

 

H influenzae berkapsul terut tipe b –à inf sal nafas supuratif

- sinusitis                   – epiglotittis

- laryngotracheitis       – otitis

- meningitis pada anak – anak kecil

Influenza tipe pandemik

Virus influenzae merusak saluran nafas

H influenzae dpt mrpkan penyerang kedua

–à pneumoniae

 

PEMERIKSAAN LABORATORIK

 

          BAHAN PEMERIKSAAN

Usap nasofaring

Nanah

Darah

Cairan spirial

         

 

 

          Identifikasi langsung

 

Kuman dlm jumlah besar

- imuofluoresensi

                  - tes pembengkakan kapsul

- antiserum spesifik (kelinci) tipe b

 

Biakan

 

              Agar coklat + Iso Vitalex

- koloni di identifikasi dgn tes pembengkakan kapsul

                  - kebutuhan faktor X dan V dan hemolisis pada agar darah

 

Kuman

Kebutuhan

Hemolisis

X

V

kapsul

H influenzae

H para influenzae

H hemolyticus

H suis

H haemoglobinophilus

B pertussis

-

-

+

-

-

+

+

-

+

+

+

-

+

+

+

+

-

-

+

+

-

+

-

+

          TERAPI / KEPEKAAN THD ANTI MIKROBA

             

              Angka kematian meningitis H influenzae tanpa diobati 90 %

75% H influenzae tipe b sensitive thd ampisilin

25% resisten krna produksi beta laktamase

Kebanyakan strain sensitif thd kloramfenikol

Praktis semua strain peka thd sefalosporin baru

SEFOTAKSIM IV —à hasil sangat baik

 

 

 

 

 

 

 

MORFOLOGI BAKTERI

 

 

BENTUK

 

          BULAT

          Kokus

              Bola

Elips

Biji kopi (ginjal)

Huruf D

Lancet (nyala lilin)

 

          Susunan

              gerombol

berpasangan

berderet

berderet dan berpasangan

 

 

 

BATANG

 

Basilus

              Silindris

Batang

 

Beda-beda panjang dan

lebarnya

 

 

 

ujung persegi

ujung bundar

ujung lancip

           

 

Susunan

              Tersebar

Berderet

Menggerombol

Khas spt globus

Seperti huruf

L,T,K,X,Y

Atau spt pagar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SPIRAL

Batang bengkak spt koma

Gelombang

Halus dan teratur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

STRUKTUR BAKTERI

 

Dalam dinding sel

Umumnya sama pada semua bakteri

 

Diluar dinding sel

Flagella, pili dan kapsul

 

FLAGELLA

 

Spt rambut

Alat gerak bakteri

 

Berdasarkan letak dan banyak flagella

1. Monotrikus

tunggal

diujung

 

 

 

2. Lofotrikus

Lbh dari satu disatu bagian ujung, misal : P fluorescens

 

3. Amfitrikus

Satu atau lbh di kedua ujung, misal : S serpens

 

4. Peritrikus

Tersebar disekeliling kuman

 

Pem lab :

  1. mikroskopik dgn pengecatan khusus
  2. preparat basah (hidup)
  3. media semi solid

 

 

 

 

          PILI (FIMBRIAE)

         

              - mikroskop electron

              - lbh kecil, lbh pendek, lbh banyak darpda flagella

- bukan alat gerak

- alat melekat pada sumber nutriennya

 

Pilus F (pilus seks)

Pintu gerbang masuknya bahan genetik

 

KAPSUL

             Lapisan di sekeliling sel

Pada umumnya polisakarida

 

 

 

 

 

                                                         

 

 

 

 

Pengecatan Hiss                             tes Neufeld

Pembengkakan kapsul

 

DINDING SEL

Sebelah luar membrana sitoplasma

 

Kuman Gram positif :

Susunan dinding sel kompak

30 lapisan peptidoglikan

 

Kuman Gram negative :

Susunan dinding sel tidak kompak

Hanya 1 – 2 lapisan peptidoglikan

          NUKLEOID

 

Daerah khusus yg mgdg DNA

Sebanding dgn inti eukariotik

Tidak punya dinding

Terdapat benang DNA dgn panjang kira – kira 1 mm

Disebut kromosom

 

          STRUKTUR SITOPLASMA

 

Granula sitoplasma

Mrpkn simpanan makanan cadangan

Ribosom

Mrpkn partikel – partikel RNA – protein

Terdapat diseluruh daerah sitoplasma

 

MEMBRANA SITOPLASMA

 

= membra sel

 

Mesosom

Membrana sitoplasma yg melekuk ke dalam

Ada dua jenis : – mesosom penyekat

- mesosom internal

ENDOSPORA

 

Lingkungan jelek ——à SPORA

Kekurangan nutrisi

Kuman dalam btk istirahat

Resisten thd panas, kering dan zat kimia

 

Lingkunngan baik —à germinasi —-à sel vegetatif

 

 

 

 

 

FLORA NORMAL

Pendahuluan

Pada bab-bab dimuka telah dijelaskan mengenai berbagai macam mikroorganisme dalam kaitannya dengan penyakit infeksi. Dalam bab ini akan diulas peran mikroorganisme dari sisi yang lain, yakni sebagai anggota flora normal tubuh. Bahan ini diberikan dalam bentuk kuliah dengan alokasi waktu 2 X 50 menit.

Setelah membaca bahan ajar dan mengikuti kuliah bab ini, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan apa yang dimaksud flora normal, faktor-faktor yang berpengaruh pada flora normal, resident dan transient flora, peran flora normal dan komposisi flora di bagian tubuh.

Apakah Flora Normal?

Manusia sejak lahir berada didalam biosfer yang penuh dengan mikroorganisme. Mikroorganisme berada didalam tubuh manusia, tumbuhan dibeberapa bagian tubuh dalam keadaan tidak pernah statis, selalu berubah dari waktu ke waktu sesuai kondisi lingkungan setempat.

Pada tubuh dalam keadaan normal, diperkirakan terdapat lebih kurang 1012 bakteri yang menghuni kulit, 1010 di mulut dan 1014 di saluran pencernaan. Kebanyakan diantaranya merupakan bakteri yang sangat spesifik dalam hal kemampuan menggunakan bahan makanan, kemampuan menempel pada permukaan tubuh, dan mampu beradaptasi (secara evolusi) terhadap hospes.

Adanya flora normal pada beberapa bagian tubuh manusia sangat menyulitkan bagi seorang mokrobiolog untuk menentukan mikroorganisme penyebab infeksi pada spesimen klinik yang diperiksanya. Biasanya seorang ahli mikrobiologi klinik dituntut bertanggung jawab untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab infeksi pada spesimen secara tepat, dalam waktu singkat. Untuk menentukan mikroorganisme mana yang bertanggung jawab pada timbulnya infeksi di area mengandung flora normal, adalah suatu pekerjaan yang sulit. Seorang klinisi atau ahli mikrobiologi klinik harus mengkorelasikan dengan data-data klinik pasien, sebelum menentukan penyebabnya. Untuk itu pengetahuan mengenai flora normal sangat penting dlam penegakan diagnosis penyakit infeksi.

Flora normal adalah berbagai bakteri dan fungi yang secra tetap menghuni bagian tubuh tertentu, terutama kulit, orofaring, kolon dan vagina. Virus dan parasit tidak dianggap sebagai anggota flora normal, walaupun keduanya dapat berada secara asimtomatik. Dari satu bagian tubuh dengan bagian tubuh yang lain flora normal bervariasi baik dalam hal jumlah maupun macamnya.

Fetus berada dalam kondisi lingkungan yang steril. Pada saat lahir fetus segera kontak dengan ibunya atau perawat atau yang lain. Pada saat itulah fetus diinfeksi oleh mikroorganisme dari sekitarnya mikroorganisme tersebut kemudian sebagian akan menetap sebagai flora normal.

Hubungan mikroorganisme flora normal dengan hospes bersifat komensal satu fihak yakni berbah menjadi hubungan parasitisme.

Faktor-faktor apa yang memperngaruhi flora normal ?

Beberapa faktor mempengaruhi jumlah dan tipe mikroorganisme penyusun flora normal diantaranya adalah :

Oksigen, reseptor tertentu perlekatan, pH, nutrient, respon imun hospes dan mikroorganisme yang lain sebagai pesaing.

 

Apakah transient flora dan resident flora?

Terdapat 2 macam flora yakni transient flora dan resident  flora. Resident flora/indigenous (menetap) merupakan berbagai tipe mikroorganisme yang selalu ditemukan pada area tertentu, pada umur tertentu. Bila terganggu mempengaruhi keseimbangan flora. Transient flora (tidak menetap) terdiri atas patogen dan non potensial pathogen yang mendiami kulit atau membrana mukosa atau tempat lain hanya dalam waktu sesaat, beberapa jam, hari atau minggu tergantung lingkungan setempat, biasanya tidak menyebabkan penyakit. Namun bila resident flora terganggu keseimbangannya maka mikroorganisme transient flora menggantikan kedudukannya, berkolonisasi di area tersebut, terjadi proliferasi dan akibatnya timbul penyakit. Perubahan resident flora biasanya disebabkan oleh perubahan gizi, perubahan hormonal, sakit dan sebagainya.

Bagian tubuh yang secara normal dihuni mikroorganisme adalah: respiratori atas, traktus intestinalis bawah, kulit. Sedangkan esophagus, traktus urinarius, lambung hanya mengandung beberapa jenis mikroorganisme. Bagian yang dalam keadaan normal steril adalah darah, susunan saraf pusat, urine, jaringan endothel.

 

Apakah  peran flora normal?

Keuntungan adanya mikroorganisme flora normal adalah mampu mencegah kolonisasi mikroorganisme lain pada area yang dihuninya. Bakteri intestinal seperti E.coli tidak pernah berhasil menetap di mulut ataupun tenggorokan. Apakah hospes menggunakan antibiotik berspektrum luas jangka panjang, flora normal akan terganggu. Keadaan tersebut mendukung pertumbuhan pesat Candida albicans di mulut atau staphylococcus di intestinum.

Terdapat suatu penelitian pada 14 sukarelawan yang masing-masing diberi 1000 Salmonella typhi secara oral, tidak satupun menjadi sakit. Sakit terjadi pada 1 diantara 4 orang yang diberi  sreptomisin secara bersamaan dengan pemberian kuman. Streptomisin diduga menginduksi infeksi karena aktivitasnya sebagai bakteriostatik terhadap mikroorganisme komensal intestinal.

Kompensasi flora normal pada manusia sangat kompleks, tetapi hanya terdapat beberapa tipe yang menjadi predominan. Hal ini tergantung pada diet sehari-hari. Sebagai contoh: Sarcina ventriculi, merupakan bakteri intestinal, yang biasanya terdapat pada vegetarian dalam jumlah sangat banyak. Jumlah yang banyak tersebut diduga berpotensi metabolik dan produk metabolismenya dapat diadsorpsi. Bakteri intestinal sangat penting dalam degradasi asam empedu dan glikosida seperti cascara. Atau senna yang bila diberikansecara oral akan dikonversi oleh bakteri dalam bentuk aktif (aglycons), bentuk ini memiliki aktifitas farmakologik.

Produk metabolik seringkali menimbulkan kesulitan. Substansi seperti ammonia yang secara normal diadsorpsi oleh sirkulasi portal akan dinetralkan oleh liver. Namun apabila liver mengalami kerusakan berat (dapat karena hepatitis), ammonia akan masuk pada peredaran umum dan menyebabkan koma hepatikum.

Suku Aborigin Australia, bangsa China, berbeda dengan bangsa Anglo-saxon dalam hal ketidakmampuan mukosa intestinalnya menghasilkan ensim lactase. Hal tersebut diduga berhubungan dengan fakta bahwa orang-orang tersebut tidak minum susu secara normal ketika dewasa. Jika laktosa diingesti akan dimetabolisasi oleh bakteri di caecum dan kolon dengan hasil samping berupa asam lemak, karbon dioksida, hydrogen dan sebagainya. Hal ini berakibat tingginya flatulensi dan terjadi diare.

Anggota flora normal memiliki peran dalam mempertahankan kesehatan tubuh atau menyebabkan penyakit dengan 3 cara:

  1. Akan menimbulkan penyakit, terutama pasien imunokompromis dan individu yang lemah. Walaupun sebenarnya organism tersebut adalah non pathogen pad lokasi normal, dapat menjadi pathogen diluar lokasi normal.
  2. Akan menyusun mekanisme protektif hospen. Bakteri residen yang non pathogen memerlukan kebutuhan ekologi untuk hidupnya sehingga bakteri pathogen yang akan berproliferasi di suatu lokasi yang dihuni flora normal. Mikroorganisme non residen akan kesulitan bersaing dengan residen. Jika flora normal tertekan, pathogen akan pesat dan menyebabkan sakit.
  3. Kemungkinan mikroorganisme flora normal memiliki peran nutrisional. Bakteri intestinal memproduksi beberapa vitamin B dan vitamin K. individu yang memperoleh terapi antibiotic per-oral akan mengalami defisiensi sebagai akibat dari reduksi flora normal. Hal tersebut masih menjadi kontroversi mengingat  hewan percobaan steril (germ-free animals) tetap sehat, sehingga belum terbukti bahwa flora normal esensial untuk nutrisi.

 

Tabel.1. bakteri flor normal dan lokasi anatomiknya

Bakteri

Lokasi anatomik

Bacterioides

Candida albicans

Clostridium

Corynebacterium (difteroid)

Eschericia coli

Gardharella vaginalis

Haemophylus

Lactobacillus

Neisseria

Pseudomonas aeruginosa

Staphylococcus aureus

Staphylococcus epidermidis

Streptococcus faecalis (enterococcus)

Streptococcus viridans

Kolon, tenggorokan, vagina

Mulut, kolon, vagina

Kolon

Nasofaring, kulit, vagina

Kolon, vagina, uretra luar

Vagina

Nasofaring, konjungtiva

Mulut, kolon, vagina

Mulut, nasofaring

Kolon, kulit

Hidung, kulit

Kulit, hidung, mulut, vagina, uretra

Kolon

Mulut, nasofaring

Bagaimana flora normal kulit?

Bakteri komensal kulit mendapat tempat persembunyian yang cocok. Bakteri kulit kebanyakan menempel pada sisik deskuamasi, rata-rata terdapat 5×108 sisik, 107 diantaranya ditempelibakteri (per orang per hari), tergantung aktifitas fisik. Organisme predominan di kulit adalah Staphylococcus epidermidis yang nono pathogen di kulit tetapi dapat menyebabkan sakit bila mencapai katup jantung prostesa. Ditemukan pula organism potensial pathogen staphylococcus aureus, terutama berkolonisasi diarea hidung, jari dan perineum. Persembunyian (shedding) utama  adalah di hidung, disamping pada area perineal. Laki-laki cenderung menjadi perineal shedder dibandingkan dengan wanita. Hal ini mungkin pengaruh hormonal atau friksi (lecet) di area tersebut, seperti diketahui shedding dapat terlindung oleh pemakaian pakaian dalam yang ketat. Terdapat lebih kurang 103 sampai 104 organisme per cm2 di kulit. Kebanyakan diantaranya berlokasi dipermukaan stratum korneum, tetapi ada pula yang berada di dalam folikel di dermis yang mengandung oksigen dengan tekanan rendah.

 

Bagaimana Flora Di Traktus Intestinalis?

Semua mikroorganisme yang mengikfeksi traktus intestinalis terdapat pada feses. Organisme yang terdapat di empedu, seperti hepatitis-A (enterovirus) dan basil tifus pada karier tifoid, juga akan muncul pada feses. Mikroorganisme yang tertelan setelah tumbuh di mulut, tenggorokan atau traktus respiratorius juga akan terdapat di feses, tetapi yang tidak resisten asam, empedu dan substansi intestinal lainnya akan inaktif. Mikroorganisme feses biasanya merupakan komensal yang tidak berbahaya. Ketika terjadi infeksi intestinal, isi intestinal sering menjadi lebih cair, terjadi diare.

Pada manusia normal, lambung mengandung beberapa mikroorganisme karena pH yang rendah. Usus halus biasanya mengadung sejumlah streptococci, lactobacilli,yang terutama Candida albicans. Sejumlah besar mikroorganisme terdapat di ujung ileum. Kolon adalah lokasi mengandung mikroorganisme terbesar ditubuh. Dua puluh persen (20%) berat kering dari feses mengandung bakteri, mendekati 1011 organisme/g.

Flora normal trakt. Intestinal mempunyai peran penting pada timbulnya penyakit ektraintestinal. Contohnya E.coli dapat menyebabkan UTI (urinary tract. Infection), dan Bacteroides fragilis penyebab penting peritonilis yang dihubungkan dengan perforasi dinding intestinal mengikuti suatu trauma, appendicitis atau diverticulitis. Bakteri lain seperti streptococcus faecalis (Enterococcus faecalis) dapat menyebabkan UTI atau endokartidis, dan Pseudomonas aeruginosa yang dapat menyebabkan berbagai infeksi terutama pada pasien rawat inap di rumah sakit dengan penurunan daya tahan. P.aeruginosa terdapat pada 10% feses normal, juga terdapat pada air dan tanah.

Table. 2. Bakteri penyusun utama kolon

Bakteri

Jumlah/gr feses

Pathogen penting

Bacterioides, t.u B. fragilis

Bifidobacterium

Eubacterium

Coliform

Streptococcus t.u S. faecalis

Lactobacillus

Clostridium, t.u C.perfringens

1010-1011

1010

1010

107-108

107-108

107

104

Ya

Tidak

Tidak

Ya

Ya

Tidak

ya

Terapi antibiotik, misalnya dengan clindamycin akan menekan predominan flora normal. Keadaan tersebut memungkinkan organisme yang biasanya sangat sedikit yakni Clostridium deficile (penghasil toksin) menjadi tumbuh pesat dan menyebabkan colitis. Pengobatan dengan antibiotik tertentu seperti neomycin per oral, ysng diberikan menjelang pembedahan gastrointestinal akan ‘mensterilkan’ perut sehingga terjadi reduksi flora normal untuk beberapa hari, kemudian secara bertahap akan kembali seperti sediakala.

 

Bagaimana flora di traktus urogenitalis?

Urin secara normal steril selama traktus urinarius dipancari dengan urin setiap 1 atau 2 jam, sehingga mikroorganisme yang masuk mejadi tidak dapat bertahan. Uretra pada laki-laki steril kecuali di 1/3 ujung akhir, mikroorganisme dibagian atas akan terguyur kebawah ketika urinase. Parasit uretral yakni gonokokus berhasil berkolonisasi karena mampu menempel pada permukaan sel epitel iyang difasilitasi oleh adanya pili. Blader pada laki-laki sulit diinfeksi, karena uretra panjangnya 20 cm. infeksi dibagian ini biasanya hanya terjadi setelah proses kateterisasi. Uretra wanita lebih pendek hanya sekitar 5 cm panjangnya, legih mudah dimasuki mikroorganisme atau terkontaminasi dari daerah yang kaya mikroorganisme.

Urin bila tidak terlalu asam, sebenarnya merupakan medium yang baik bagi mikroorganisme sehingga seluruh traktus sesungguhnya memiliki resiko untuk terjadinya infeksi. Namun karena adanya aliran bebas dan flushing action dari aliran urin, maka kejadian infeksi sangat sulit. Simpanan atau sisa urin di kandung kemih akan meningkatkan resiko infeksi. Infeksi traktus urinarus berkaitan dengan struktur abnormal dari blader/kandung kemih, ureter, atau karena adanya batu atau pembesaran prostat yang menghambat aliran urin. Hambatan pengosongan kandung kemih juga terjadi pada wanita hamil.

Vagina tidak memiliki mekanisme pembersihan alami (cleansing mechanism). Kehidupan mikroorganisme di lokasi ini tidak ada hambatan dan merupakan area yang subur bagi pertumbuhan mikroorganisme komensal. Selama masa reproduksi, sejak masa pubertas sampai menupouse, epitel vagina mengandung glikogen karena aktivitas estrogen. Doderlein bacillus (laktobasillus) berkoloni di vagina, memetabolisasi glikogen tersebut dengan hasil disamping berupa asam laktat. Asam laktat menimbulkan suasana asam di vagina (sekitar 5), dan bersama produk lain akan menyebabkan hambatan bagi kolonisasi bakteri selain Doderlein basilus. Keadaan tersebut menyebabkan seleksi sejumlah bakteri streptococcus dan difteroid. Vagina normal mengandung 108 per ml. Mikroorganisme tidak akan mampu bertahan hidup pada keadaan tersebut kecuali penyebab penyakit STD (sexual transmitted diseases).

Jadi, estrogen membentuk mekanisme pertahanan berupa produksi antimikroba terhadap kontaminasi di vagina pada periode reproduksi wanita. Sebelum pubertas dan setelah menopause, epitel vagina tidak mengandung glikogen, sekresinya bersifat alkalis. Bakteri yang menetap di vulva adalah streptococci dan staphylococci.

 

 

 

 

 

 

Tabel.3. anggota flora normal utama di berbagai lokasi

Lokasi

Organisme utama

Penghuni lainnya

Kulit Staphylococcus epidermidis Stephaureus, corynebacterium, straptococci, P. Aeruginosa, anaerob (peptococcus), yeast

Mis: Candida albicans

Hidung Staphylococcus aureus Staph. Epidermidis, corynebacterium, berbagai streptococci
Plak gigi Streptococcus mutant

-

Mulut Streptococcus viridans berbagai streptococci
Sela ginggiva Berbagai anaerob (bacterioides)

-

Kolon Fusobacterium, streptococci, actinomyces Bifibacterium, eubacterium, fusobacterium, lactobacillus, batang gram negatif, strep faecalis, streptococcus lain, clostridium
Vagina Lactobacillus, E.coli, streptococcus, grup-B

-

Tenggorak Streprococcus viridans Berbagai streptococci (S.pyogenes, S.pneumonia), Neisseria, Haemophylus influenzae, S.epidermidis
Uretra

-

S.epidermidids, Corynebacetrium, berbagai strptococcus, berbagai batang gram negatif

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Latihan

  1. Apa perbedaan antara flora dan karier?
  2. Apa saja penyusun flora normal kulit dan orofaring? Penyakit apa yang dapat ditimbulkan dari beberapa penyusun di area tersebut?
  3. Sebutkan bakteri anaerob yang penting pada flora kolon.?
  4. Apabila flora normal kolon dengan antibiotik, penyakit apa yang dapat timbul, jelaskan
  5. Apa peran penting laktobacilus sebagai bagian dari flora vagina?
  6. Vagina beberapa wanita kadang-kadang mengandung Eschericia coli. Apa arti hasil observasi ini? Bagaimana jika mengandung streptococcus grup-B?
  7. Jika dari kultur urin tumbuh koloni Staphylococcus epidermis, apa interperetasi anda?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Soal Formatif

 

Pilihlah salah satu pernyataan a,b,c,d,e yang tepat

 

  1. Mikroorganisme transient akan menimbulkan ancaman, bila:
a. Resident flora tertekan
b. ’cleansing mechanism’ terganggu
c. Kemampuan sistem imunitas meningkat
d. Gizi menurun
e. Terjadi perubahan mormonal

 

  1. ’Cleansing mechanism’ di intestinal, berupa:
a. Lisozim
b. Diare
c. Peristaltik
d. Pepsin
e. Mukus

 

Pilihan ganda

 

  1. Flora normal terdiri atas:
1 Transient flora
2. Indigenous flora
3. Resident flora
4. Plak

 

  1. Secara normal beberapa lokasi tumbuh yang dihuni mikroorganisme adalah:
1 Respiratori atas
2. Seluruh traktus intestinalis
3. Kulit
4. Darah

 

  1. Resident flora akan tinggal bersama hospes selama hidup, perubahan dapat terjadi karena:
1 Gizi
2. Perubahan hormonal
3. Sakit
4. Adanya patogen

 

  1. Resident usus normal:
1 Laktobasilus
2. Corynebacteria
3. Bacterioides fragilis
4. Neisseria cattaralis

 

  1. Beberapa jam stelah lahir, bakteri yang mulai menghuni mulut dan menetap di mulut adalah:
1 Streptococcus mutant
2. Staphylococuus
3. Laktobasilus
4. Streptococcus viridans

 

  1. Pada pasien dengan dehidrasi, aliran saliva menurun, akbatnya mikroorganisme mulut akan:
1 Meningkat jumlahnya
2. Menurun jumlahnya
3. Berubah status menjadi patogen
4. Pindah tempat

 

  1. Mikroorganisme non komensal yang akan menginvasi kulit harus menghadapi pertahanan berupa:
1 Asam lemak
2. pH alkalis
3. Komensal
4. Bakteriosin

 

  1. Pertumbuhan pesat mikroorganisme di kolon akan merugikan hospes:
1 Kekurangan asam empedu
2. Kekurangan vitamin B-12
3. Adsorpsi lemak ktertanggu
4. Mukus meningkat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jawaban tes formatif

 

1.

A

2.

B

3.

A

4.

A

5.

A

6.

A

7.

D

8.

A

9.

A

10.

A

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

INVASI MIKROORGANISME

Pendahuluan

Pada bab ini akan diulas bagaimana cara masuk dan cara invasi mikroorganisme patogen kedalam bagian tubuh hospes, faktor-faktor apa yang mendukung. Bahan ajar ini disampaikan dalam bentuk kuliah dengan alokasi waktu 1 X 50 menit. Setelah mengikuti kuliah dan membaca bahan ajar ini., mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan bagaimana cara mikroorganisme memasuki dan menginvasi kulit, traktus respiratorius, traktus intestinalis, dan konjungtiva.

Cara invasi di kulit

Kulit merupakan barier alamiah terhadap mikroorganisme dan segala sesuatu yang akan berpenetrasi. Mikroorganisme selain komensal (residen) akan segala inaktif karena asam lemak (pH sekitar5.5) dan bahan lain yang diproduksi oleh komensal dari sebum. Di daerah perianal terdapat berjuta-juta bakteri fekal yang setiap hari dideposit di kulit di bagian ini. Area tersebut terbukti resisten terhadap infeksi. Bakteri fekal di area ini segera mengalami inaktivasi, diduga karena sekresi gland perianal, mekanismenya belum diketahui.

Bakteri kulit juga memasuki folikel rambut dan menyebabkan lesi, kadang-kadang juga menyebabkan masalah setelah memasuki orifisium. Goresan karena luka berpotensi sebagai jalan masuk suatu infeksi. Virus hepatitis-B masuk kedalam tubuh melalui jarum suntik, tato, pecandu narkoba, akupuntur atau tusuk telinga (Bhs. Jawa: tindik) yang telah terkontaminasi dengan darah penderita. Mencukur dapat mengurangi pertahanan antimikroba di kulit dan member kemungkinan infeksi staphylococcal pada area cukur di wajah pria (‘sycosis barbae’). Pencukuran pre-operatif yang merupakan prosedur rutin, lebih member kemungkinan mendorong terjadinya infeksi daripada mencegah infeksi di luka bedah.

Gigitan serangga juga merupakan jalan masuk bagi mikroorganisme. Gigitan artropoda seperti nyamuk, tungau, kutu akan menembus kulit. Selama menghisap artropoda dapat memasukkan agen pathogen masuk kedalam tubuh. Banyak infeksi yang ditularkan secara mekanik, mulut artropoda akan terkontaminasi dengan agen infeksi yang berasal dari korban gigitannya dan tidak berkembang biak di tubuh artropoda. Sedangkan transmisi yang bersifat biologic, seperti demam kuning dan malaria, agen infeksi berkembang biak pada artropoda, setelah periode inkubasi, agen tersebut terkumpul di saliva dan ditularkan pada hospes yang peka pada proses ‘feeding’.

Pada aktivitas feeding nyamuk atau kutu, probosis masuk jaringan dermal, sambil meneteskan salivanya. Probosis nyamuk dapat masuk sampai pembuluh darah, menginjeksikan salivanya sambil menyedot darah hospes. Saliva terinfeksi langsung dipaparkan pada dermis dan sering sampai ke system vascular, tentunya sambil memasukkan mikroorganisme yang terkandung dalam saliva.

Penyakit klasik yang ditularkan lewat gigitan mamalia adalah rabies. Virus yang terkandung didalam ksaliva anjing, kelelawar, serigala, dan lain-lain. Dipaparkan lewat luka gigutan.

Cara invasi di Traktus Respiratorius

Untuk mengadung berbagai partikel padat. Jumlah partikel di atmosfer lebih dari 1000 juta ton. Kebanyakan berupa asap, jelaga dan debu dan selalu mengandung mikroorganisme. Di dalam gedung dapat 400-900 mikroorganisme per m3, hamper semuanya adalah bakteri non pathogen atau jamur. Di dlam gedung dengan ventilasi 6 liter/menit dalam keadaan istirahat, rata-rata manusia akan menghirup sedikitnya 8 mikroorganisme per menit atau kira-kira 10.000 per hari. ‘Cleaning mehanism’ yang efesien akan menghalau partikel-partikel tersebut dan membuat traktus respirtaorius bersih. Infeksi pada traktus respirtaorius selalu dikaitkan dengan lemahnya data mekanisme pembersihan ini.

Lapisan mukosilier melingkupi sebagian besar permukaan respiratori bagian bawah. Lapisan ini terdiri atas sel-sel bersilia bersama-sama dengan sel goblet yang memproduksi mukus, dan kelenjar penghasil mukus subepitelial. Partikel asing akan terdeposit di permukaan ini terlengkapi dalam mukus  dan dihalau kembali keatas ke tenggorok karenaaktivitas silia (escalator mukosilier). Dalam kavum nasalis respiratori atas dikembalikan pula lapisan mukosilier, partikel yang terdeposit juga akan dikembalikan ke atas ke tenggorok dan ditelan. Setiap individu per hari rata-rata memproduksi 10-100 ml mukus dari cavum nasalis, jumlah yang sama terdapat di paru. Di ujung traktus respiratori bagian bawah yakni alveoli, tgidak terdapat silia atau mukus, namun di bagian ini terdapat makrofag.

Telah dilakukan suatu penelitian tentang pertahanan tubuh terhadap partikel yang diinhalasi, dengan penekanan pada ukuran partikel. Partikel besar tampaknya sulit mencapai paru. Hal ini berlaku bagi semua partikel termasuk virus, bakteri fungsi. Partikel yang lebih besar difiltrasi oleh lapisan rambut dinostril,dan partikel 10 um cenderung dideposit di cavitas nasalis, yang tersusun oleh tulang melekuk dan dilapisi mukosa. Partikel yang lebigh keciltampaknya dapat memasuki paru, yang berukuran 5 um atau kurang dapat mencapaialveoli. Sebagian penelitian ini menggunakan hewan percobaan, ada beberapa bagian yang menggunakan sekarelawan. Dengan menggunakan polistirene yang dilabel dengan 51Cr, dapat diamati bahwa separuh dari meteri yang dilabel dibebaskan dari paru dlam beberapa jam, setelah dideposit di escalator mukosilier, dan dibalikkan ke tenggorok. Partikel yang tertinggal di paru diatasi secara perlahan, untuk mencapai ‘half life’ dibutuhkan lebih dari 150 hari, mengalami fagositorius oleh makrofag.

Untuk dapat mengawali infeksi di traktus respiratorius, mikroorganisme harus mampu menghindari perangkap mukus, dibalikkan kembali ke tenggorokan dan tertelan. Bila sampai dideposit di alveoli, mikroorganisme harus resisten terhadap fagositosis oleh makrofag. Jika telah mengalami proses fagositosis harus mampu survive atau bermultiplikasi dudalamnya, tidak terdigesti dan terbunuh.

Mikroorganisme biasanya hanya memiliki sedikit kesempatan untuk dapat menghindari perangkap mukus pada proses awal, kecuali bila mekanisme mukosilier mengalami keruskan atau ia memiliki kemampuan menempel erat pada sel epithel. Sebagai contoh adalah mixovirus atau virus influenza memiliki henaglutinin pada permukaan yang berkaitan dengan reseptor (sialic acid pada glikoprotein) di sel epitel. Ikatan tersebut sangat kuat, sehingga virus memiliki kesempatan untuk menginfeksi sel. Rhinovirus juga memiliki reseptor serupa. Mycoplasma pneumonia memiliki komponen yang dapat berikatan dengan reseptor neuraminic acid pada permukaan sel epitel. Bakteri Bordetella pertussis yang bertanggung jawab terhadap batuk rejam memiliki mekanisme serupa untuk menginfeksi epitel respiratorius. Bakteri yang tidak memiliki mekanisme diatas hanya mampu menginfeksi bila terjadi kerusakan ‘cleansing mechanism’. Streptococcus pneumonia akan memiliki kesempatan kerusakan atau pertahanan tubuh hospes lemah. Infeksi virus sering merupakan sumber kerusakan mukosilier. Seseorang dengan bronchitis kronik yang menunjukkan gangguan fungsi mukosilier akan menginduksi infeksio bacterial ringan di paru. Terdapat bukti bahwa perokok dan penghirup polutan udara cenderung mengalami kerusakan permanen pada pertahanan kukosiliernya. Pasien yang menjalani penanganan dengan ‘tracheal tubes’ akan peka terhadap infeksi respiratories karena udara yang melewati alat tersebut tidak difiltrasi ataupun tidak dilembabkan oleh hidung lebih dahulu. Udara yang kering akan merusak aktivitas silia. Disamping itu pemasukan tracheal tube menyebabkan kerusakan epitel. Anestesi umum akan menurunkan resistensi paru dengan dan akan menekan reflex baruk.

Mikroorganisme tertentu yang menginfeksi traktus respiratorius memiliki aktivitas menekan fungsi mukolisier, sehingga tidak terusir dari paru dan dapat megawali infeksinya. Bordetella pertussis disamping mampu menempel pada reseptor epitel juga mengganggu aktivitas mukosilier. Haemophylus influenza memproduksi faktor yang memperlemah silia rontok. Pseudomonas aeruginosa diketahui memiliki 7 subtansi siliostatik yang dapat menyebabkan infeksi respiratori berat dan menyebabkan sistik fibrosis. Aktivitas silia juga dihambat oleh Mycoplasma pnemoniae. Mycoplasma melekat sambil bermultiplikasi pada sel epitel. Efek siliostatik diduga diakibatkan oleh hydrogen peroksidayang diproduksi secara local oleh bakteri tersebut.

Kelemahan silia dapat disebabkan karena faktor genetik. Pada kartegener’s syndrome, gerakan silia yang lemah menyebabkan infeksi paru dan sinus yang kronik. Spermatozoa pada individu tersebut juga terpengaruh, dan menyebabkan infeksi itu.

Secara normal, paru steril karena mikroorganisme yang terhalasi secara kontinyu akan terfagositosis dan dirusak, atau terusir karena gerakan mukosilier. Hanya mikroorganisme yang mampu bertahan terhadap fagositosis yang dapat menginfeksi paru. Mycobacterium tubercolusis dapat bertahan di makrofag alveolar pada hospes yang peka. Virus sering terfagositosis oleh makrofag dan gagal bertahan, sehingga gagal menginfeksi. Pertumbuhan virus ini terhambat pada 370C, menjadi optimal pada 330C, temperature itu terdapat pada mokusa nasal. Dibawah kondisi tersebut aktivitas antimikroba makrofag alveolar tertekan. Hal ini terjadi pada individu yang menghirup partikel asbestos yang toksik, kemudian difagositosis oleh makrofag alveolar. Pasien dengan asbestosis biasanya peka terhadap infeksi tuberkolusis paru. Makrofag alveolar yang diinfeksi oleh virus respiratori seringkali menunjukkan kelemahan dalam menghadapi bakteri yang terinhalasi, walaupun bakteri bersebut nonpatogen dan akan mengalami infeksi sekunder pneumonia bakterial.

Cara invasi Traktus intestinalis

Traktus intestinalis harus menerima segala sesuatu yang dimakan dan diminum juga semua materi  yang ditelan yang bersal dari mulut, nasofaring, dan paru. Traktus ini tidak memiliki mekanisme pembersihan, selain diare dan muntah. Intestinal bagian bawah seolah-olah merupakan kancah dari aktivitas mikroorganisme, hal ini dapat digambarkan dari pemeriksaan langsung terhadap feses segar. Multiplikasi bakteri selalu seimbang dengan aliran yang keluar dengan isi intestinal yang tertinggal. E.coli tunggal dibawah kondisi yang cocok akan bermultiplikasi menjadi 108 dlaam waktu transit 12-18 jam. Makin tinggi rate aliran ini intestinal, makin sedikit kesempatan untuk pertumbuhan mikroorganisme. Dengan demikian jumlah bakteri pada feses diare lebih sedikit disbanding pada feses normal. Dengan kata lain makin rendah aliran feses keluar, makin besar jumlah mikroorganisme intestinal. Pertumbuhan pesat mikroorganisme di intestinal terutama usus halus dapat berdampak pada gangguan malabsorsi, karena bakteri yang melimpah tersebut memetabolisir asam empedu yang diperlukan pada adsopsi lemak, dan berkompetisi mendapatkan vitamin B-12 dan nutrient yang lain.

Komensal intestinal seringkali berasosiasi dengan dinding usus, dapat didalam lapisan mukus atau melekat di epithelium. Kemampuannya berasosiasi di dinding usus member dukungan menjadi residen tetap. Pathogen intestinal harus mampu bertahan dan bermultiplikasi.untuk itu biasanya bakteri pathogen memiliki mekanisme melekat pada sel epitel intestinal, sehingga tidak hanyut aluran keluar. Patogenisitas bakteri ini sangat tergantung pada kapasitas perlekatan dan penetrasi. Patogenitas kolera contohnya tergantung pada adhesi bakteri pada reseptor spesifik di permukaan epitel intestinal.

Infeksi melalui traktus intestinal akan dihambat oleh adanya mukus, asam, ensim dan empedu. Mukus melindungi sel epitel, sebagai barier mekanik terhadap infeksi, disamping mengandung IgA yang mampu menginaktivasi mikroorganisme. Mikroorganisme motil (Vibrio cholerae, E.coli strain tertentu) dapat menembus lapisan mukus dan menempel secara spesifik di epitel. Vibrio cholera memperoduksi musinase, diduga membantunya menembus mukus. Mikroorganismeyang mnenginfeksi intestinal biasanya mampu bertahan pada asam, ensim proteolitik dan empedu. Streptococci yang merupakan penghuni intestinal normal (Streptococcus faecalis) mampu tumbuh pada empedu, tidak seperti streptococcus lainnya. Kemampaun ini dimiliki pula oleh E.coli, Proteus, Pseudomonas dan pathogen yakni Salmonela, shigella. Sedangkan enterovirus seperti hepatitis-A, caxochie, echo dan poliovirus resisten terhadap asam dan garam empedu. Basil tuberkel penyebab tuberkulosis  intestinal tahan terhadap kondisi asam di lambung. Pada umumnya kebanyakan bakteri tidak tahan terhadap asam akan lebih memiliki kondisi alkaililemah. Pathogen intestinal seperti Vibrio cholerae mampu melakukan infeksi karena terlindung oleh partikel makanan atau ketika produksi asam pada hospes terganggu (achlorrhydria).

Traktus intestinal berbeda dengan traktus respiratorius dalam hal gerakan konstan dengan perubahan kontur permukaan. Permukaan disusun oleh vili, kripta dan bentuk lain yang dapat berkontraksi dan elastic. Partikel di lumen bergerak terus, mendukung pertambahan sel mikroorganisme. Hal ini memberikan kesempatan bagi virus melekat erat pada reseptor dan kemudian berpenetrasi ke sel epitel. Bakteri enteric meningkatkan jumlahnya sebelum menempel di epitel.

Flora normal intestinal tampaknya resisten terhadap kolonisasi organisme lain. Diduga terdapat mekanisme melenyapkan saingannya dengan memproduksi zat inhibitor seperti bakteriosin, mampu berkompetisi menepel pada subtansi makanan, dan lebih dahulu mendapatkan reseptor yang lcocok. Pasien dengan pengobatan antibiotic ‘boatd sprctrum’ jangka panjang akan mengalami perubahan keseimbangan flora normal, mikroorganisme yang tumbuh adalah yang resisten antibiotic, seperti Candida albicans. Pada bayi yang disusui dengan ASI, bakteri predominan dalam intestinalnya adalah laktobasili aktivitas metabilik bakteri adalah menghasilkan asam dan faktor lain yang menghambat pertumbuhan bakteri lain. Bayi yang minum susu botol akan kehilangan mekanisme proteksi tersebut, disamping kehilangan immune protector lainnya yang terkandung pada ASI. Bayi tanpa ASI akan mudah mengalami infeksi intestinal.

 

Cara invasi di Konjungtiva

Konjungtiva selalu dibuat basah dan sehat oleh aliran kontinyu dari sekresi kelenjar lakrinal dan kelenjar lainnya. Setiap beberapa detik kelopak mata akan berledip seolah menyapu kotoran yang akan menempel (‘wiper action’). Walaupun sekresi air mata mengandung lisosim, namun protector utama adalah mekanisme pencucian alamiah (‘washing away’) terhadap benda asing yang masuk. Mikroorganisme atau partikel debu yang masuk konjungtiva akan terbuang melalui duktus air mata ke dalam cavum nasi. Tampaknya kecil kesempatan bagi mikroorganisme dapat mengawali infeksi, kecuali bila ia memiliki mekanisme menempel di permukaan konjungtiva. Apabila terjadi luyka di mata, akan memberikan kesempatan terjadinya infeksi oportunistik. Demikian pula bila cleansing mechanism terganggu karena penyakit pada glandula lakrimalis. Chlamidya dapat menginfeksi mata, diduga karena memiliki reseptor untuk menempel pada permukaan sel.

 

Latihan:

  1. Mengapa bayi yang tidak mendapatkan ASI mudah terserang diare karena rotavirus dan ETEC?
  2. Mengapa sering terjadi infeksi sekunder karena bakteri (mis: pneumokokus) setelah terjadi infeksi viral di traktus respiratoris, padahal bakteri tersebut sebenarnya dalam keadaan normal tidak menimbulkan gangguan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Soal formatif

Pilihan ganda

  1. Mycoplasma pneumoniaemengikat reseptor berupa:
1 Asam sialik
2. Peptida
3. Glukan
4. Asam neuramin

 

  1. Patogenitas kuman enteric tergantung padea kemampuannya:
1 Melekat pada epitel
2. Melawan komensal
3. Berpenetrasi
4. Mengadopsi lemak

 

  1. Mixovirus dan rhinovirus mampu bertahan di traktus respiratorius karena memiliki:
1 Selubung
2. Mucin
3. Kapsula
4. Reseptor asam sialik

 

  1. Komposal menjadi pathogen, bila:
1 Pindah lokasi
2. Keseimbangan flora terganggu
3. Sistem imun terganggu
4. Umur bertambah

 

  1. Bakteri mulut mengalami peningkatan jumlah, bila individu yang bersangkutan:
1 Puasa
2. Banyak bicara
3. Kurang bicara
4. Banyak makan

 

Soal sebab akibat

  1. Penggunaan antibiotic jangka panjang dapat meningkatkan resiko infeksi Candida albicans sebab antibiotik menyuburkan pertumbuhan C.albicans.

 

  1. Bayi tanpa pemberian ASI lebih peka terhadap rotavirus sebab bayi kehilangan proteksi oleh laktobasilus intestinal.

 

 

Jawaban tes formatif

 

1.

d

2.

a

3.

d

4.

a

5.

b

6.

c

7.

a

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Cocbrn, W.C and Assaad, F. 1974. Some observation on communicable Diseases as public health problem. Bill WHO, 49, 1-12.

Hentges, D.L, 1983. Human intestinal Microflora in health and in disease Acad, Press, NY and Ldn.

Levinson, W.E, and Jaetz, E. 1994. Medical Microbiology and Immunology. Appleton and Lange, USA.

Mims, C.A, the pathogenesis of infectious disease. I987, trird ed. Academic Press, Harcourt, brace Jovanovich, publ, Ldn.