PERAN DAN FUNGSI BIDAN DI SELANDIA BARU

Posted: September 15, 2011 in konsep kebidanan

PERAN DAN FUNGSI BIDAN DI SELANDIA BARU

  1. Kebidanan sebagai profesi otonomi

Midwifery in New Zealand regained its status as an autonomous profession in 1990.  Midwifery is a profession with a distinct body of knowledge and its own Scope of Practice, Code of Ethics and Standards of Practice.            Kebidanan di Selandia Baru kembali statusnya sebagai profesi yang otonom pada tahun 1990. Kebidanan adalah profesi dengan tubuh  ilmu pengetahuan berbeda dan mempunyai bidang praktik sendiri, Kode Etik dan Standar Praktek.

 

New Zealand telah mematok 4 kompetensi utama yang harus dimiliki oleh seorang

bidan. Yakni ilmu tentang prenatal hingga postnatal, pengetahuan tentang keluarga, kemampuan

menggunakan hasil-hasil penelitian, dan bagaimana bidan itu bisa mengembangkan diri sendiri.

 

 

Bidan diharapkan untuk bekerja dalam kemitraan dengan perempuan, menyediakan atau mendukung kesinambungan asuhan kebidanan melalui pendekatan pengalaman wanita. Midwives work collaboratively with other health professionals when necessary to meet any additional medical, health or social needs of mothers and their babies. Bidan bekerja sama dengan tenaga profesional kesehatan lain bila diperlukan untuk memenuhi banyak kebutuhan medis, kesehatan atau kebutuhan sosial ibu dan bayi mereka.

 

  1. Konteks dalam praktik

Semua perawatan bersalin gratis, kecuali jika seorang wanita memilih persalinan pribadi, yang mungkin menuntut wanita mengeluarkan biaya tambahan di samping biaya tetap yang sudah diterima dari pemerintah.

Lead Maternity Carers are selected by women to provide their lead maternity care and can be midwives or general practitioners with a diploma in obstetrics or obstetricLead Carers Maternity dipilih oleh perempuan untuk memberikan bimbingan asuhan bersalin mereka yang dapat dilakukan bidan atau praktisi umum dengan lulusan diploma kebidanan atau dokter kandungan. Lead Maternity Carers take responsibility for the care provided to women throughout pregnancy and the postpartum period including the management of labour and birth. Lead Carers Maternity bertanggung jawab atas perawatan yang diberikan kepada perempuan selama kehamilan dan periode pasca-melahirkan termasuk manajemen kerja dan kelahiran. Perempuan  Women in New Zealand can give birth at home, in primary maternity facilities or birthing centres, or in secondary maternity hospitals.di Selandia Baru dapat melahirkan di rumah, di  fasilitas bersalin dasar atau klinik bersalin pusat, atau di rumah bersalin sekunder.

 

  1. Model terpadu dalam layanan persalinan

The LMC model of primary maternity care is the cornerstone of the maternity service.Model LMC perawatan ibu hamil primer adalah batu penjuru dari layanan bersalin. All other services fit in around this model so that the woman experiences a seamless maternity service that meets her individual needs, whatever these might be. Semua layanan lainnya sesuai dengan model ini sehingga wanita hamil mendapatkan layanan dengan lancar, yang memenuhi kebutuhan individu-nya, This model is unique in the world and has been highly successful in New Zealand with women expressing considerable satisfaction with their maternity services.Model ini unik di dunia dan telah sangat berhasil di Selandia Baru dengan perempuan menyatakan cukup puas dengan layanan bersalin.

4.    Pendidikan Kebidanan

Pendidikan kebidanan model terpadu yang telah dikembangkan di Selandia Baru di mana pendidikan yang mencerminkan kebutuhan dan arah praktek, dan pendidik dan  praktisi berbagi tanggung jawab untuk persiapan semua praktisi kebidanan. (Further discussion of partnerships in midwifery education can be found in Sally Pairman’s paper published in the NZCOM Journal [Pairman, S.(2001). International trends and partnerships in midwifery education. New Zealand College of Midwives Journal, 24, 7-9].NZCOM yang mempunyai andil besar dalam pendidikan kebidanan di Selandia Baru mempunyai kerangka kerja pendidikan, yakni:

  • menetapkan peranan dari Selandia Baru College of Midwives (NZCOM) dalam kaitannya dengan latihan dan pendidikan kebidanan di Selandia Baru, dan hubungan NZCOM dengan organisasi lain dengan tanggung jawab untuk pendidikan kebidanan. Ini juga membahas hubungan antara kebidanan dan pendidikan keperawatan dalam konteks layanan bersalin Selandia Baru.
  • memberikan latar belakang pengembangan kerangka kerja
  • menetapkan Kerangka Nasional Pendidikan Kebidanan. Ini memberikan arah untuk pendidikan kebidanan dan lembaga pendidikan menawarkan program-program kebidanan dan mewakili pandangan konsensus bidan anggota NZCOM

 

5.    Tinjauan Standar Kebidanan

  • maintain professional standards of practice mempertahankan standar praktik profesional
  • reflect on the partnership between women and midwives throughout the childbirth experience using the feedback received from women. merefleksikan kemitraan antara perempuan dan bidan di seluruh pengalaman melahirkan menggunakan umpan balik yang diterima dari kaum perempuan. (Consumer feedback forms provide women with the opportunity to provide feedback on the care they received. This information is used by the midwife and her reviewers during her review. There are seperate forms available for core and LMC midwives
  • berpikir tentang pekerjaannya menggunakan Standar NZCOM Praktek diterima sebagai prinsip-prinsip perawatan kebidanan di Selandia Baru
  • demonstrate her commitment to ongoing professional development and accountabilitymenunjukkan komitmennya terhadap pengembangan profesional berkelanjutan dan akuntabilitas
  • examine her practice with midwifery peers and consumers of midwifery servicesmemeriksa praktiknya dengan rekan-rekan kebidanan dan konsumen layanan kebidanan

KOMENTAR

Kebidanan di Selandia Baru menempati posisi yang penting dalam pemeliharaan kesehatan ibu dan anak. Bidan mempunyai tanggungjawab dalam menerapkan asuhan kebidanannya dengan berdasarkan kode etik dan standar praktik kebidanan. Model kebidanan yang dipakai di negara ini adalah model terpadu yang meggunakan pendekatan kemitraan atau partnership dengan klien sehingga tercapai kepuasan klien terhadap layanan persalinan yang diberikan. Dalam praktiknya, bidan dapat praktik mandiri maupun kolaborasi dengan tenaga medis yang lain jika diperlukan.

Pendidikan kebidanan di Selandia Baru, aturannya diatur oleh NZCOM(Selandia Baru College of Midwife) dan organisasi pendidikan lainnya. Lead Carers Maternity dipilih oleh perempuan di Selandia Baru yang terdiri dari bidan atau praktisi umum dengan lulusan diploma kebidanan atau dokter kandungan.

Perempuan  Women in New Zealand can give birth at home, in primary maternity facilities or birthing centres, or in secondary maternity hospitals.di Selandia Baru dapat melahirkan di rumah, di  fasilitas bersalin dasar atau klinik bersalin pusat, atau di rumah bersalin sekunder. Semua perawatan bersalin gratis, kecuali jika memilih persalinan secara pribadi, mereka diharuskan mengeluarkan biaya tambahan selain biaya yang digratiskan pemerintah.

Peran dan fungsi bidan di Selandia Baru sebagai pelaksana memberikan kepuasan bagi para pasien. Program Pemerintah dalam membebaskan biaya persalinan bagi para warga berbeda dengan di Indonesia. Terdapat berbagai kasus setelah persalinan pasien tidak mampu membayar biaya persalinan karena masalah ekonomi ,pemerintah tidak ikut campur dalam pelaksanaan pelayanan kebidanan.

Dilihat dari kemitraannya, di Indonesia hubungan warga dengan bidan belum begitu terlihat kedekatannya sehingga masyarakat kurang puas dalam mendapatkan pelayanan. Selain itu biaya yang ditetapkan bidan masih tinggi bagi masyarakat kelas bawah.

Di New Zealand sendiri, profesi bidan sudah berjalan dengan mantab. Meski hanya berpenduduk

4 juta jiwa. New Zealand telah berhasil mengatur dengan baik masalah kebidanannya. “Jika dilihat, bidan kita jauh lebih

banyak menangani kelahiran, ketimbang bidan di New Zealand, tapi untuk ilmu kita masih harus

belajar dari sana,” sahut salah seorang peserta konferensi.

Dalam hal ini,

Lalu bagaimana dengan bidan Indonesia ? bidan kita

sudah merujuk pada 9 perilaku professional bidan. Yakni bertindak sesuai keahliannya, bermoral

tinggi, berlaku jujur, tidak melakukan coba-coba, tidak memberi janji berlebihan, mengembangkan

kemitraan, terampil berkomunikasi, mengenal batas kemampuan, serta mengadvokasi pilihan ibu.

Sebenarnya yang sulit itu adalah bagaimana menata skill untuk bidan. Bidan perlu kolaborasi yang kuat. Memadukan antara organisasi profesi, pendidikan, dan

layanan, serta kerjasama antara IBI dan stake holder.

 

 

(file://localhost/H:/haiiiii/KEBIDANAN%20SELANDIA%20BARU.htm

file://localhost/H:/haiiiii/NZCOM-Midwifery-Education-Framework.htm)

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s