Archive for the ‘makalah’ Category

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A. Latar Belakang

Kelangsungan sebuah bangsa bergantung pada generasi penerusnya, jika generasi penerus itu baik maka baik juga sebuah bangsa, tapi jika generasi penerusnya tidak baik maka kehancuran yang akan didapat sebuah bangsa. Generasi penerus bangsa yang baik tidak terlepas dari peran serta seorang ibu yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak sejak dalam janin. Maka kesejahteraan dan kesehatan ibu hamil sangatlah penting.

Ibu hamil harus mendapatkan cukup nutrisi dan selalu dalam keadaan yang sehat agar bisa menghasilkan keturunan yang baik. Namun jika ibu sampai terkena penyakit maka akan sangat berbahaya bagi perkembangan janin sehingga generasi yang dihasilkan menjadi tidak baik. Salah satunya ibu harus terhindar dari TORCH, yaitu infeksi yang terdiri dari toksoplasmosis, ruberlla, CMV, dan Herpes. Dan yang akan dibahas kali ini adalah mengenai Herpes, terutama herpes genital.

Herpes genital termasuk penyakit menular seksual yang ditakuti oleh setiap orang. Angka kejadian penyakit ini termasuk tinggi di Indonesia. Kelompok resiko yang rentan terinfeksi tentunya adalah seseorang dengan perilaku yang tidak sehat. Ibu hamil mempunyai resiko yang besar jika sampai terkena penyakit menular seksual, tidak hanya pada dirinya tapi jula pada janinnya.

 

  1. B. Tujuan
  1. Mengetahui definisi infeksi Herpes Genital
  2. Mengetahui epidemiologi infeksi Herpes Genital
  3. Mengetahui penyebab infeksi Herpes Genital
  4. Mengetahui gejala infeksi Herpes Genital
  5. Mengetahui pengaruh infeksi Herpes Genital pada kehamilan
  6. Mengetahui diagnosa infeksi Herpes Genital
  7. Mengetahui pengobatan infeksi Herpes Genital
  8. Mengetahui pencegahan infeksi Herpes Genital

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. A. Definisi

Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I atau tipe II yang ditandai adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan merah. Vesikel ini paling sering terdapat di sekitar mulut, hidung, daerah genital dan bokong, walaupun dapat juga terjadi di bagian tubuh lain.

 

  1. B. Epidemiologi

Penyakit ini tersebar di seluruh dunia dan menyerang baik pria dan wanita dengan frekuensi yang tidak berbeda. Infeksi virus herpes simpleks tipe I biasanya dimulai pada usia anak-anak, sedangkan infeksi virus herpes simpleks tipe II biasanya terjadi pada usia dewasa dan berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual.

  1. C. Penyebab

Terdapat 2 jenis virus herpes simpleks yang menginfeksi kulit, yaitu HSV-1 dan HSV-2.

HSV-1 merupakan penyebab dari luka di bibir (herpes labialis) dan luka di kornea mata (keratitis herpes simpleks); biasanya ditularkan melalui kontak dengan sekresi dari atau di sekitar mulut.

HSV-2 biasanya menyebabkan herpes genitalis dan terutama ditularkan melalui kontak langsung dengan luka selama melakukan hubungan seksual.

 

  1. D. Gejala
  1. timbul erupsi bintik kemerahan disertai rasa panas dan gatal pada kulit region genitalis.
  2. Kadang disertai demam seperti influenza dan setelah 2-3 hari bintik kemerahan tersebut berubah menjadi vesikel disertai rasa nyeri.
  3. 5-7 hari kemudian, vesikel pecah dan keluar cairan jernih dan pada lokasi vesikel yang pecah timbul koropeng (atau ditutupi lapisan kekuningan bila terkena infeksi sekunder).
  4. Bila mengenai region genetalia yang cukup luas dapar menyebabkan gangguan mobilitas, vaginitis, urethritis, sistitis, dan fisura ani hepetika.

  1. E. Pengaruh herpes genital pada kehamilan
  • Virus dapat sampai ke sirkulasi fetal melalui plasenta dan dapat menyebabkan kerusakan dan kematian janin.
  • Infeksi neonatal ( 0-20 hari) angka mortalitasnya 60%, jika dapat bertahan hidup setengahnya mempunyai kemungkinan cacat neurologis yang nantinya juga berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan serta menyebabkan kelainan mata.
  • Dapat menyebabkan kelainan ensefalitis, mikro/hidrosephalus, koriodorenitis, keratokonjungtivitis.
  • Dapat menyebabkan abortus dan prematuritas

 

  1. F. Diagnosa

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya yang timbul di bagian tubuh tertentu dan khas untuk herpes simpleks.

Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pembiakan virus, pemeriksaan darah untuk mengetahui adanya peningkatan kadar antibodi serta biopsi.

Pada stadium yang sangat dini, diagnosis ditegakkan dengan menggunakan teknik terbaru yaitu reaksi rantai polimerase, yang bisa digunakan untuk mengenali DNA dari virus herpes simpleks di dalam jaringan atau cairan tubuh.

 

  1. G. Pengobatan

Untuk mengobati herpes simpleks, dokter dokter biasanya memberikan pengobatan antivirus dalam bentuk krim atau pil. Pengobatan ini tidak dapat menyembuhkan herpes simpleks, namun dapat mengurangi durasi terjadinya penyakit dan mengurangi beratnya penyakit. Antivirus yang diakui oleh FDA (badan pengawas obat-obatan Amerika Serikat) antara lain: Acyclovir, Valacyclovir dan Famcyclovir. Jika seseorang sedang mendapat pengobatan untuk herpes simpleks, maka pasangan seksualnya disarankan untuk diperiksa, dan bila perlu, diobati juga walaupun tidak ada gejala. Hal ini akan mengurangi resiko terjadinya komplikasi yang serius pada infeksi herpes simpleks yang tidak terdiagnosis atau mencegah penyebaran infeksi ini ke orang lain. Mereka juga disarankan untuk tidak berhubungan seksual sampai selesai pengobatan.

 

  1. H. Pencegahan

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran herpes simpleks antara lain:

- Hindari berhubungan seksual dengan orang lain bila masih terdapat vesikel

- Hindari pinjam meminjam barang pribadi seperti handuk

- Hindari pencetus terjadinya episode rekuren seperti kurang tidur, stress berlebihan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN

 

Asuhan Kebidanan pada Ibu hamil

Ny. A umur 26 tahun G1P0Ab0Ah0 umur kehamilan 15 minggu dengan herpes genital.

 

DATA SUBJEKTIF

Seorang ibu hamil hamil pertama, HPMT  tanggal 14 Desember 2009, HPL tanggal 21 September 2010, umur kehamilan 15 minggu. Ibu mengeluh terasa gatal, kemerahan dan terdapat lepuhan yang bergerombol di daerah kemaluannya. Ibu mengatakan pekerjaanya hanya di rumah mengurus rumah tangga dan suaminya bekerja sebagai supir dan jarang di rumah.

 

DATA OBJEKTIF

 

  1. Keadaan umum ibu lemas, kesadaran:CM, status emosional:stabil
  2. Tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 74 kali/menit, pernafasan 23 kali/menit, suhu 37,3 0 C
  3. Terdapat vesikel yang multipel di daerah vulva.
  4. Palpasi leopold I teraba TFU setinggi pertengahan antara simpisis dengan pusat.

 

ASSESMENT

 

  1. Diagnosis Kebidanan

Seorang ibu usia 25 tahun G1P0Ab0Ah0, UK 15 minggu dengan herpes genital

  1. Masalah

Ibu mengatakan merasa terasa gatal, kemerahan dan terdapat lepuhan yang bergerombol di daerah kemaluannya.

  1. Kebutuhan

KIE tentang herpes genetalia dalam kehamilan

  1. Diagnosis potensial

Herpes genital pada kehamilan potensial terjadi terjadi kelainan ensefalitis, mikro/hidrosephalus, koriodorenitis, keratokonjungtivitis, kecacatan janin, prematuritas, dan abortus.

 

  1. Masalah potensial

Tidak ada

  1. Kebutuhan tindakan segera
    1. Mandiri

Tidak dilakukan

    1. Kolaborasi

Laboratorium Pramita untuk pembiakan virus dan pemeriksaan darah

    1. Merujuk

Dirujuk ke Dr. Evi, SpOg untuk mendapatkan terapi obat

 

PLANNING (tanggal 28 Maret 2010, jam 15.00)

  1. Memberi tahu ibu bahwa saat ini sedang terkena infeksi Herpes genital, memberi tahu ibu resiko bagi janin kemungkinan bisa terjadi kecacatan, lahir prematur,maupun keguguran.

 

Ibu mengerti dan merasa khawatir dengan janinnya.

 

  1. Menganjurkan ibu untuk tetap tenang, dan mengahadapi keadaanya dengan berpikiran positif, meminta bantuan suami dan keluarga untuk mendukung ibu.

 

Keluarga bersedia mendampingi dan kecemasan ibu berkurang.

 

  1. Menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan laboratorium agar mendapatkan hasil pemeriksaan yang lebih akurat.

 

Ibu bersedia untuk melakukan pemeriksaan di laboratorium.

 

  1. Memberitahu ibu bahwa dirinya akan dirujuk ke dokter spesialis kebidanan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, memberitahu suami ibu untuk turut memeriksakan dirinya, dan jika terbukti terkena Herpes juga disarankan untuk menjalani pengobatan.

 

Ibu bersedia untuk dirujuk ke dokter

DAFTAR PUSTAKA

Saifuddin, Abdul Bari.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.2006.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo

 

http://www.klikdokter.com/illness/detail/137 diunduh tanggal 29 Maret 2010 jam 19.05

 

http://medicastore.com/penyakit/186/Herpes_Simpleks.html duinduh tanggal 29 Maret 2010 jam 19.15

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Kehamilan ganda atau kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih ( Rustam Mochtar, 1998 ). Kehamilan kembar mempengaruhi ibu dan janin, diantaranya adalah kebutuhan akan zat-zat ibu bertambah sehingga dapat menyebabkan anemia dan defisiensi zat-zat lainnya, terhadap janin yaitu usia kehamilan tambah singkat dengan bertambahnya jumlah janin pada kehamilan kembar : 25% pada gemelli, 50% pada triplet, 75% pada quadruplet, yang akan lahir 4 minggu sebelum cukup bulan. Jadi kemungkinan terjadinya bayi premature akan tinggi.

Persalinan dengan kehamilan kembar memiliki resiko lebih tinggi dari pada persalinan satu janin ( Tunggal ). Semakin banyak jumlah janin yang dikandung ibu, semakin tinggi resiko yang akan ditanggung ibu.

Sejak ditemukannya obat-obat dan cara induksi ovulasi, maka dari laporan-laporan dari seluruh pelosok dunia, frekuensi kehamilan kembar cenderung meningkat. Bahkan sekarang telah ada hamil kembar lebih dari 6 janin (Mochtar, Buku Sinopsis Obstetri Fisiologi dan Patologi, 1998).

Berbagai faktor mempengaruhi frekuensi kehamilan kembar, seperti bangsa, hereditas, umur, dan paritas ibu. Bangsa Negro di Amerika Serikat mempunyai frekuensi kehamilan kembar yang lebih tinggi daripada bangsa kulit putih. Juga frekuensi kehamilan kembar berbeda pada tiap negara, angka yang tertinggi ditemukan di Finlandia yang terendah di Jepang.

Faktor umur, makin tua makin tinggi angka kejadian kehamilan kembar dan menurun lagi setelah umur 40 tahun. Paritas, pada primipara 9,8 per 1000  dan pada multipara (oktipara) naik jadi 18,9 per 1000 persalinan. Keturunan, keluarga tertentu akan cenderung melahirkan anak kembar yang biasanya diturunkan secara paternal, namun dapat pula secara maternal.

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. A. PENGERTIAN

Kehamilan kembar ialah suatu kehamilan dengan dua janin atau lebih. Kehamilan tersebut selalu menarik perhatian wanita itu sendiri, dokter dan masyarakat. Bahaya bagi ibu tidak begitu besar, tetapi wanita dengan kehamilan kembar memerlukan perhatian dan pengawasan khusus bila diinginkan hasil yang memuaskan bagi ibu janin.

Kehamilan kembar adalah dua atau lebih janin yang ada didalam kandungan selama proses kehamilan.

  1. B. FREKUENSI

Frekuensi menurut hukum Hellin antara kehamilan ganda dan tunggal :

  1. gemelli (2)                      1   :  89
  2. triplet (3)                       1   :  892
  3. duadruplet (4)            1     :  89 3
  4. duintuplet (5)             1 :    89 4
  5. sextuplet (6)           1     :    89 5

Menurut penelitian Ereulich (1930) pada 120 juta persalinanmemperoleh angka kejadian kehamilan ganda : gemelli  1 : 85  ; triplet 1 : 7.629 ; duardriplet 1 : 670.743 dan duantuplet  1 : 41.600.000.

Bangsa mempengaruhi kehamilan ganda ; di Amerika Serikat lebih banyak dijumpai pada wanita negro dibandingkan kulit putih. Angka  tertinggi kehamilan ganda dijumpai di Finlandai dan terendah di Jepang.

Faktor umur  : makin tua umur makin tinggi angka kejadian kehamilan kembar dan munurun lagi setelah berumur 40 tahun.

Paritas :pada primipara 9,8 per 1000 dan pada multipara (oktipara) baik jadi 18,9 per 1000 persalinan.

Keturunan : keluarga tertentu akan cenderung melahirkan anak kembar yang biasanya diturunkan secara paternal,namun dapat pula secara maternal.

  1. C. JENIS GEMELLI
  2. Gemelli dizigotik  =  kembar dua telur , heterolog, biovuler dan praternal :

Kedua telur berasal dari :

  1. 1 ovarium dan daridua folikel de graff;
  2. 1 ovurium dan dari 1 folikelde graff;
  3. 1 dari ovarium kanan dan satu lagi dari ovarium kiri.

2.  Gemelli monozigotik  =  kembar satu telur, homolog, uniovuler, identik dapat terjadi karena :

  1. Satu telur dengan 2 inti,hambatan  pada tingkat blastula :
  2. Hambatan pada tibgkat segmentasi
  3. Hambatan setelah amnian dibentuk,tetapi sebelum primitive steak.

Perbedaan ciri,  sifat dan lain-lainnya antara kembar monozigotik dan zigotik (satu telur dan dua telur):

Perbedaan kembar monozigot kembar dizigot
Plasenta 1 (70%) 

2 (30%)

2 (_+ 100%) 

 

Khorium 1(70%) 

2 (30%)

2 (_+ 100%)
Amnion 1 (70%) 

2 (30%)

2 (_+ 100%)
Tali  pusat 2 2
Sirkulasi  darah janin Bersekutu Terpisah
Jenis  kelamin Sama Sama atau tidak
Kupa  dan sifat Sama Agak berlainan
Mata, kuping, gigi, kulit Sama Berbeda
Ukuran  antropologik Sama Berbeda
Sidik  jari Sama Berbeda
Cara  pegangan bisa sama 

Bisa satu kidal

Yang lain kanan

sama,bisa dua 

duanya kanan

 

Kira-kira sepertiga kembar adalah monozigotik,dan dua pertiga lainnya adalah dizigotik.

  1. Conjoined  twins, superfekkundasi  2  superfetasi

Conjoined twins atau kembar siam adalah kembar dimana janin melengket satu dengan yang lainnya.misalnya torakopagus (dada dengan dada),abdominopagus (perlengketan antara kedua abdomen)kraniopagus (kedua kepala)dan sebagainya.banyak kembar siam telah dapat dipisahkan setara  operatif dengan berhasil.

Superfekundasi adalah pembuahan dua telur yang dikeluarkan dalam ovulasi yang sama pada dua kali koitus yang dilakukan pada jarak waktu yang pendek.hal ini dilaporkan oleh archer (1910)seorang wanita kulit putihmelakukan koitus berturut-turut dengan seorang kulit putih dan kemudian dengan pria negro melahirkan bayi kembar : satu bayi putih dan satu bayi negro (mulato).

Superfetasi adalah kehamilan kedua yang terjadi beberapa mingguatau bulan setelah kehamilan pertama.belum pernah dibuktikan pada manusia,namun dapat ditemukan pada kuda.

  1. D. ETIOLOGI

Etilogi Gemelli

1.  Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah : bangsa, umur dan paritas sering mempengaruhi kehamilan 2 telur

2.  Faktor obat-obat induksi ovulasi profertil, domid dan hormon gonadotropin dapat menyebabkan kehamilan dizigotik dan kembar lebih dari dua.

3.  Faktor keturunan

4.  Faktor yang lain belum diketahui

Bangsa, hereditas, umur dan paritas hanya mempunyai pengaruh terhadap kehamilan kembar yang berasal dari 2 telur, juga obat klomit dan hormon gonadotropin yang dipergunakan untuk menimbulkan ovulasi dilaporkan menyebabkan kehamilan dizigotik. Faktor-faktor tersebut dan mungkin pula faktor lain dengan mekanisme tertentu menyebabkan matangnya 2 atau lebih folikel de graff atau terbentuknya 2 ovum atau lebih dalam satu folikel. Kemungkinan  pertama dibuktikan dan ditemukan 21 korpora lutea pada kehamilan kembar. Pada  fertilisasi in vitro dapat pula terjadi kehamilan kembar, jika telur-telur yang diperoleh dapat dibuahi lebih dari satu, jika semua embrio yang kemudian dimasukan kedalam rongga rahim ibu tumbuh berkembang lebih dari satu. Pada   kembar yang berasal dari satu telur, faktor bangsa, hereditas, umur dan paritas tidak atau sedikit sekali mempengaruhi kehamilan kembar itu. Diperkirakan  disini sebabnya ialah faktor penghambat pada masa pertumbuhan dini hasil konsepsi.

Faktor penghambat yang mempengaruhi segmentasi sebelum blastula terbentuk,menghasilkan kehamilan kembar dengan 2 amnion, 2 korion, dan 2 plasenta seperti pada kehamilan kembar dizigotik.

  1. E. TANDA DAN GEJALA

Gemelli

  1. Pada kehamilan kembar distensi uterus berlebihan, sehingga melewati batas toleransinya dan seringkali terjadi partus prematurus. Usia kehamilan makin pendek dan makin banyaknya janin pada kehamilan kembar.
  2. Kebutuhan ibu akan zat-zat makanan pada kehamilan kembar bertambah sehingga dapat menyebabkan anemia dan penyakit defisiensi lain.
  3. Frekuensi hidramnion kira-kira sepuluh kali lebih besar pada kehamilan kembar daripada kehamilan tunggal.
  4. Frekuensi pre-eklamsia dan eklamsia juga dilaporkan lebih sering pada kehamilan kembar.
  5. Solusio plasenta dapat terjadi, seperti sesak nafas, sering kencing, edema dan varises pada tungkai bawah dan vulva.
  1. F. PATOFISISOLOGI

kehamilan kembar

Secara garis besar, kembar dibagi menjadi dua. Monozigot, kembar yang berasal dari satu telur dan dizigot kembar yang berasal dari dua telur. Dari seluruh jumlah kelahiran kembar, sepertiganya adalah monozigot. Kembar dizigot berarti dua telur matang dalam waktu bersamaan, lalu dibuahi oleh sperma. Akibatnya, kedua sel telur itu mengalami pembuahan dalam waktu bersamaan. Sedangkan kembar monozigot berarti satu telur yang dibuahi sperma, lalu membelah dua. Masa pembelahan inilah yang akan berpengaruh pada kondisi bayi kelak.

Masa pembelahan sel telur terbagi dalam empat waktu, yaitu 0 – 72 jam, 4 – 8 hari, 9-12 dan 13 hari atau lebih. Pada pembelahan pertama, akan terjadi diamniotik yaitu rahim punya dua selaput ketuban, dan dikorionik atau rahim punya dua plasenta. Sedangkan pada pembelahan kedua, selaput ketuban tetap dua, tapi rahim hanya punya satu plasenta. Pada kondisi ini, bisa saja terjadi salah satu bayi mendapat banyak makanan, sementara bayi satunya tidak. Akibatnya, perkembangan bayi bisa terhambat. Lalu, pada pembelahan ketiga, selaput ketuban dan plasenta masing-masing hanya sebuah, tapi bayi masih membelah dengan baik.

Pada pembelahan keempat, rahim hanya punya satu plasenta dan satu selaput ketuban, sehingga kemungkinan terjadinya kembar siam cukup besar. Pasalnya waktu pembelahannya terlalu lama, sehingga sel telur menjadi berdempet. Jadi kembar siam biasanya terjadi pada monozigot yang pembelahannya lebih dari 13 hari.

Dari keempat pembelahan tersebut, tentu saja yang terbaik adalah pembelahan pertama, karena bayi bisa membelah dengan sempurna. Namun, keempat pembelahan ini tidak bisa diatur waktunya. Faktor yang mempengaruhi waktu pembelahan, dan kenapa bisa membelah tidak sempurna sehingga mengakibatkan dempet, biasanya dikaitkan dengan infeksi, kurang gizi, dan masalah lingkungan

  1. G. PERTUMBUHAN JANIN KEMBAR
    1. Berat  badan satu janin kehamilan kembar rata-rata 1000 gr lebih ringan dari janin tunggal.
    2. Berat badan baru lahir biasanya pada kembar dibawah 2500 gr triplet dibawah 2000 gr, duadriplet dibawah 1500 gr dan duintuplet dibawah 1000 gr.
    3. Berat badan masing-masing janin dari kehamilan kembar tidak sama umumnya berselisih  antara 50 – 100 gr, karena pembagian sirkulasi darah tidak sama, maka yang satu kurang bertumbuh dari yang lainnya.
      1. a. Pembuluh darah janin yang satu beranastomosis dengan pembuluh darah janin yang lain, karena itu setelah bayi satu lahir tali pusat harus diikat untuk menghindari perdarahan.

b. Karena itu  janin yang satu daapt terganggu pertumbuhannya dan menjadi  monstrum seperti akardiakus, dan kelainan lainnya.

c.  Dapat terjadi sondroma transfusi fetal : pada janin yang dapt darah lebih banyak terjadi hidramnion, polisitemia, edema dan pertumbuhan yang baik. Sedangkan janin kedua kurang pertumbuhannya terjadilah bayi kecil, anemia, dehidrasi, oligohidrami dan mikrokardia.

  1. Pada kehamilan kembar dizigotik
    1. Dapat terjadi satu janin meninggal dan yang satu tumbuh sampai cukup bulan.
    2. Janin yang mati dapat diresorbsi (kalau pada kehamilan muda) atau pada kehamilan agak tua janin jadi gepeng disebut fetus papyraseus atau kompresus.
  1. H. LETAK DAN PRESENTASI JANIN

Pada hamil kembar sering terjadi kesalahan presentasi dan posisi kedua janin. Begitu pula letak janin kedua dapat berubah setelah janin pertama lahir, misalnya dari letak lintang berubah jadi letak sungsang atau letak kepala. Berbagai kombinasi letak, presentasi dan posisi bisa terjadi ; yang paling sering dijumpai adalah :

  1. Kedua janin dalam letak membujur, presentasi kepala ; (44-47 %).
  2. Letak membujur, presentasi kepala bokong (37-38 %).
  3. Keduanya presentasi bokong (8-10 %).
  4. Letak lintang dan presentasi kepala (5-5,3 %).
  5. Letak lintang dan presentasi bokong (1,5-2 %).
  6. Keduanya letak lintang (0,2-0,6 %).
  7. Letak dan presentasi 69 adalah letak yang berbahaya karena dapat terjadi kunci-mengunci (interlocking).
  1. I. DIAGNOSIS

Kehamilan Kembar

  1. Anamnesa
    1. Perut lebih buncit dari semestinya tua kehamilan
    2. Gerakan janin lebih banyak dirasakan ibu hamil
    3. Uterus terasa lebih cepat membesar
    4. Pernah hamil kembar atau ada sejarah keturunan.
    5. Inspeksi dan palpasi
      1. Pada pemeriksaan pertama dan ulang ada kesan uterus lebih besar dan cepat tumbuhnya dari biasa.
      2. Teraba gerakan-gerakan janin lebih banyak
      3. Banyak bagian-bagian kecil teraba
      4. Teraba 3 bagian besar janin
      5. Teraba 2 balotemen
      6. Auskultasi

Terdengar 2 denyut jantung janin pada 2 tempat yang agak berjauhan dengan perbedaan kecepatan sedikitnya 10 denyut per menit atau sama-sama dihitung dan berselisih 10.

  1. Rontgen foto abdomen, kelihatan 2 janin.
  2. Ultrasonografi: kelihatan 2 janin, 2 jantung yang berdenyut telah dapat ditentukan pada triwulan I.
  3. Elektrokardiogram fetal : diperoleh dua EKG yang berbeda dari kedua janin.
  4. Reaksi kehamilan : karena pada hamil kembar umumnya plasenta besar atau ada 2 plasenta, maka HCE akan tinggi ; jadi reaksi kehamilan titrasi bisa positif kadang-kadang sampai 1/200. hal ini dapat meragukan dengan malahidatidosa.
  1. J. PENANGANAN DALAM KEHAMILAN

Untuk kepentingan ibu dan janin perlu diadakan pencegahan terhadap pre-eklamsia dan eklamsia, partus prematurus dan anemia. Pemeriksaan antenatal perlu diadakan lebih sering. Kehamilan 24 minggu pemeriksaan dilakukan tiap 2 minggu, sesudah kehamilan 36 minggu tiap minggu ; sehingga tanda-tanda pre-eklamsia dapat diketahui dini dan penanganan dapat dikerjakan dengan segera.

Istirahat baring dianjurkan lebih banyak karena hal itu menyebabkan aliran darah ke plasenta meningkat, sehingga pertumbuhan janin lebih baik.

Penanganan dalam Kehamilan Mochtar, Buku Sinopsis Obstetri Fisiologi dan Patologi, 1998)

  1. Perawatan prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan mencegah komplikasi yang timbul, dan bila diagnosis telah ditegakkan pemeriksaan ulangan harus lebih sering (1× seminggu pada kehamilan lebih dari 32 minggu)
  2. Setelah kehamilan 30 minggu, koltus dan perjalanan jauh sebaiknya dihindari, karena akan merangsang partus prematurus.
  3. Pemakaian korset gurita yang tidak terlalu ketat diperbolehkan, supaya terasa lebih ringan.
  4. Periksa darah lengkap, Hb, dan golongan darah.

ASUHAN KEBIDANAN PADA KEHAMILAN

GEMELLI TERHADAP Ny. S G1P0A0 UK 37 minggu

DI BPS HANDAYANI 15 A METRO PUSAT

TAHUN 2009

  1. I. Data Subyektif
    1. A. Pengkajian

Pada tanggal 27-11-2009 pukul 14.00 WIB

  1. Identitas

Nama isteri  : Ny. Salwa                     Nama suami : Tn. Fadhil

Umur           : 24 tahun                        Umur             : 24 tahun

Agama         : Islam                             Agama           : Islam

Suku            : Lampung                       Suku              : Lampung

Pendidikan  : SMA                             Pendidikan    : SMA

Pekerjaan     : IRT                               Pekerjaan       : Wiraswasta

Alamat         : Jl. Nurul Iman               Alamat          : Jl. Nurul Iman

15 A Metro Pusat                                 15 A Metro Pusat

  1. Keluhan utama

Ibu ingin memeriksakan kehamilannya

  1. Riwayat Menstruasi

Menarche umur 14 tahun. Siklus 30 hari. Teratur. Lama 7 hari. Sifat darah encer. Bau amis. Tidak ada fluor albus. Tidak dismenorroe.

HPM 11 Maret 2009. HPL 18 Desember 2010

  1. Riwayat kehamilan ini.

Riwayat ANC

ANC sejak umur kehamilan 10 minggu. ANC di BPS Handayani

Frekuensi :  Trimester I       3          kali

Trimester II     2          kali

Trimester III    2          kali

  1. Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir

Ibu mengatakan masih merasakan gerakan janin, gerakan aktif sebanyak 18x dalam 24 jam.

6.   Riwayat kehamilan, persalinan,dan nifas yang lalu.

G1 P0 Ab0 Ah0

Hamil 

Ke

Persalinan Nifas
Tgl lahir UK Jenis persalinan Penolong Komplikasi JK BB Laktasi Kompli kasi
Ibu Bayi
1 Hamil saat ini
2
3
  1. Riwayat kontrasepsi yang digunakan
No Jenis kontrasepsi Mulai memakai Berhenti/ganti cara
Tanggal Oleh Tempat Keluhan Tanggal Oleh Tempat Alasan
1 Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi
  1. Riwayat kesehatan : Ibu mempunyai riwayat keturunan kembar
  1. Pengetahuan Ibu tentang kehamilan ini : :Ibu mengetahui kehamilannya kembar dan usia kehamilannya 37 minggu
  2. Psikologis : Ibu menerima kehamilan ini
    1. II. Data Obyektif
    2. Keadaan umum : baik          Kesadaran : composmentis
    3. Tanda-tanda vital

TD               : 120/80 mmHg

RR               : 20 ×/menit

Temp            : 36,5 ºC

Nadi             : 80 ×/menit

  1. Inspeksi
    1. Mamae                            : Simetris, hiperpigmentasi aerola mamae, tidak ada benjolan yang abnormal, colostrum sudah keluar
    2. Perut                               : Pembesaran perut melebihi usia kehamilan biasa, teraba 3 bagian besar, dan terdapat striae gravidarum
    3. Genetalia                         : Pada vulva dan vagina tidak ada varises maupun oedema, tidak ada luka cedera dan peradangan pada perineum.
    4. Palpasi
      1. Leopold I        :  TFU 3 jari bawah px, pada fundus teraba 2 bagian yang lunak, tidak melenting dan kurang bundar yang berarti bokong.

MC. Donald   :  38 cm (pada pemeriksaan leopold I)

TBJ                 :  (TFU-11) × 155

:  (38-11) × 155

:  4.185 gram

  1. Leopold II      :  Pada perut bagian kiri dan kanan teraba lebar dan memberikan rintangan yang besar berarti punggung.
  2. Leopold III     :  Bagian terendah janin teraba 2 balotemen, bulat, dan keras yang berarti kepala.
  3. Leopold IV     :  Bagian terendah sudah masuk PAP.
  4. Auskultasi

Terdengar 2 denyut jantung janin pada 2 tempat, puctum maximum di bawah pusat sebelah kiri dan kanan, pada janin pertama DJJ terdengar 136 ×/menit di sebelah kiri dan pada janin kedua DJJ 140 ×/menit di sebelah kanan.

  1. Perkusi

Reflek patela ada (+)

  1. Pemeriksaan penunjang

Pada USG tampak 2 janin dan dua jantung yang berdenyut.

  1. III. Assesment
    1. Diagnosis Kebidanan

Seorang Ibu 24 tahun G1P0A0 UK 37 minggu intrauterin, ganda, hidup, DJJ (+)

  1. Masalah

Tidak ada

  1. Kebutuhan

KIE tentang kehamilan gemelli, KIE tentang persalinan

  1. Diagnosis Potensial

Kehamilan kembar potensial terjadi eklamsi dan solusio plasenta

  1. Masalah Potensial

Tidak ada

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
  2. Mandiri

Tidak ada

  1. Kolaborasi

Tidak ada

  1. Merujuk

Merujuk Ibu ke RSP Metro Jaya

  1. IV. Planning
  2. Memberitahukan kepada ibu bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan, keadaan ibu dan janin saat ini baik, TD=120/80 mmHg, N=80x/menit, DJJ kanan=140x/menit, DJJ kiri=136x/menit

Ibu merasa lega dan tenang

  1. Menjelaskan kepada Ibu tanda-tanda persalinan yaitu kontaksi 3x-4x dalam 10 menit durasi 30-40 detik, keluar lendir darah, ketuban pecah. Jika terjadi segera hubungi tenaga kesehatan terdekat.

Ibu mengerti tanda-tanda persalinan yang dijelaskan bidan

  1. Menjelaskan kepada Ibu bahwa meskipun saat ini kondisi Ibu baik namun  kehamilan kembar lebih berisiko eklamsi maupun solusio plasenta yang bisa membahayakan kondisi Ibu sendiri maupun kondisi janian.

Ibu merasa cemas setelah mendengar penjelasan bidan

  1. Memberikan dukungan emosional kepada Ibu dan menjelaskan bahwa kondisi eklamsi dan solusio plasenta bisa diantisipasi, apalagi kondisi Ibu saat ini baik-baik saja. Menyarankan Ibu untuk tetap tenang dan banyak beristirahat.

Ibu merasa lebih tenang

  1. Menjelaskan kepada Ibu untuk mempersiapkan biaya persalinan, pakaian ganti, kain, handuk, baju bayi, topi bayi saat persalinan.

Ibu sudah meyiapkan biaya persalinan.

  1. Menyarankan kepada Ibu untuk dirujuk ke RSP Metro Jaya yang mempunyai fasilitas PONEK dan Dokter Spesialis Kandungan.

Ibu bersedia dirujuk ke RSP Metro Jaya.

  1. Merujuk Ibu dengan pendampingan ke RSP Metro Jaya.

BAB III

DAFTAR PUSTAKA

Mochtar R, 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I Edisi ke-2, EGC : Jakarta

Oxorn Harry, 1996. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan, yayasan Essentia Medica : Yogyakarta

Winkjosastro H, 1999. Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta

http://9reen.wordpress.com/2007/06/30/kehamilan-kembar/

http://info.g.excess.com/id/Askeb_%28Asuhan_Kebidanan%29/kehamilan gemelli%29_Dalam_Kehamilan.info

http://ayurai.wordpress.com/2009/04/05/gemelli-dengan-partus-prematurus-imminens/

http://www.scribd.com/doc/19704472/KEHAMILAN-GEMELLI

BAB I

PENDAHULUAN

Rubella dan Kehamilan Di Indonesia, akhir-akhir ini mulai merebak kembali penyakit yang namanya Rubella. Dulu, dikatakan bahwa penyakit ini sudah semakin menurun angka kejadiannya di Indonesia. Namun, di Bogor bulan Juni 2008 ditemukan 108 anak positif terkena Rubella dan telah dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Rubella atau yang sering disebut Campak Jerman ini adalah penyakit virus akut yang menyerang baik anak-anak maupun dewasa dengan gejala umum yang meliputi bercak kemerahan pada kulit, demam serta pembesaran kelenjar getah bening (lymphadenopathy). Gejala Bercak merah yang ditimbulkan biasanya mulai dari wajah lalu menyebar ke batang tubuh. Sedangkan kelenjar getah bening yang terlibat dan membesar biasanya kelenjar getah bening yang terletak di belakang telinga (postauricular), tengkuk (suboccipital) serta leher (cervical). Dibanding anak-anak, jika virus ini menyerang orang dewasa biasanya mengalami gejala yang lebih berat. Mungkin disertai radang selaput mata (conjunctivitis), pilek yang berat (coryza) dan juga radang sendi (arthritis). Radang sendi ini lebih sering terjadi pada wanita. Namun umumnya infeksi penyakit ini biasanya tidak menunjukan gejala klinis yang berarti. Gejala yang muncul hanya seperti lemas, tidak nafsu makan, demam sedikit. Virus ini menyebar lewat hubungan yang dekat (close contact) antar individu misalnya dengan orang yang tinggal serumah. Batuk dan bersin juga dapat membantu penyebaran virus ini jika orang tersebut sudah terjangkit.

Cegah sebelum hamil. Bagi ibu-ibu yang merencanakan kehamilan ada baiknya memeriksakan diri ke ahli kesehatan berkaitan dengan penyakit ini. Tes darah yang dapat menjadi petunjuk apakah Anda sudah kebal (imun) terhadap Rubella atau tidak. Jika dahulu pernah terjangkit virus ini atau pernah divaksin yang mengandung komponen virus ini, maka tubuh akan memberi respon dengan membentuk zat antibody untuk menghabisi virus tersebut. Zat antibody ini lah yang dapat menjadi patokan apakah tubuh Anda cukup poten untuk kebal terhadap virus Rubella. Biasanya, antibody dalam tubuh Anda akan dites beberapa kali. Jika jumlah antibody Anda tetap dalam beberapa kali tes tersebut, menunjukan infeksi terjadi sudah lama terjadi dan Anda boleh bernafas lega untuk  melanjutkan ke tahap kehamilan. Namun jika terjadi perubahan, mungkin Anda masih dalam keadaan terinfeksi. Anda dianjurkan melaksanakan pengobatan dahulu sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Untuk itu kali ini akan dibahas mengenain kehamilan yang disertai dengan penyakit malaria.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Definisi

Rubella yang sering disebut orang dengan Campak Jerman merupakan jenis penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Rubella dapat menyerang siapa saja tidak pandang bulu. Bisa menyerang orang tua, remaja, anak – anak, bahkan bayi sekalipun. Sebenarnya Rubella ditemukan oleh Sir Norman Greg dari Eropa sejak tahun 1941, namun baru dapat disosialisasikan pada tahun 1962. Walaupun penderita Rubella tidak menampakkan gejala klinis 14-21 hari, namun virus ini sebetulnya telah berada di beberapa tempat misalnya tenggorokan, bulu hidung, air seni, dan kotoran manusia. Anak-anak biasanya sembuh lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Virus ini menular lewat udara. Rubela juga biasanya ditularkan oleh ibu kepada bayinya, makanya disarankan untuk melakukan tes Rubela sebelum hamil. Bayi yang terkena virus Rubela selama di dalam kandungan beresiko cacat. Sering dijumpai apabila infeksi dijumpai pada kehamilan trimester I (30-50%). Anggota tubuh anak yang bisa menderita karena rubella:

  1. Mata (katarak, glaucoma, mikroftalmia)
  2. Jantung (Duktus arteriosus persisten, stenosis pulmonalis, septum terbuka)
  3. Alat pendengaran (tuli)
  4. Susunan syaraf pusat (meningoensefalitis, kebodohan)

Dapat pula terjadi hambatan pertumbuhan intra uterin, kelainan hematologik (termasuk trombositopenia dan anemia), hepatosplenomegalia dan ikterus, pneumonitis interstisialis kronika difusa, dan kelainan kromosom. Selain itu bayi dengan rubella bawaan selama beberapa bulan merupakan sumber infeksi bagi anak-anak dan orang dewasa lain.

  1. Waktu inkubasi

Virus Rubela memiliki waktu inkubasi 2 sampai dengan 3 minggu.

  1. Diagnosis

Diagnosis rubella tidak selalu mudah karena gejala-gejala kliniknya hampir sama dengan penyakit lain, kadang tidak jelas atau tidak ada sama sekali. Virus pada rubella sering mencapai dan merusak embrio dan fetus. Diagnosis pasti dapat dibuat dengan isolasi virus atau dengan ditemukannya kenaikan titer anti rubella dalam serum.

Nilai titer antibody

  • Imunitas 1:10 atau lebih
  • Imunitas rendah < 1:10
  • Indikasi adanya infeksi saat ini > 1:64

Apabila wanita hamil dalam trimester I menderita viremia, maka abortus buatan perlu dipertimbangkan. Setelah trimester I, kemungkinan cacat bawaan menjadi kurang yaitu 6,8% dalam trimester II dan 5,3% dalam trimester III.

  1. Gejala
  • Pembengkakan pada kelenjar getah bening.
  • Demam diatas 38 derajat Celsius.
  • Mata terasa nyeri.
  • Muncul bintik-bintik merah di seluruh tubuh.
  • Kulit kering.
  • Sakit pada persendian.
  • Sakit kepala.
  • Hilang nafsu makan.

 

  1. Isolasi

Dianjurkan selama diisolasi sekurang-kurangnya 4 hari setelah gejala bintik-bintik merah muncul.

  1. Pencegahan

Imunisasi MMR pada usia 12 bulan dan 4 tahun. Vaksin rubella merupakan bagian dari imunisasi rutin pada masa kanak-kanak. Vaksin MMR diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun.

Wanita usia subur bisa menjalani pemeriksaan serologi untuk rubella. Jika tidak memiliki antibodi, diberikan imunisasi dan baru boleh hamil 3 bulan setelah penyuntikan. Vaksinasi sebaiknya tidak diberikan ketika ibu sedang hamil atau kepada orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan akibat kanker, terapi kortikosteroid maupun terapi penyinaran.

 

 

 

 

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL DENGAN RUBELLA

NO.REGISTER                                  : A-75250

MASUK BPS TANGGAL, JAM      : 11 Februari 2008 jam 09.00

 

S

 

  1. Biodata                   Ibu                                                       Suami

Nama               : Ny. Ariska                                                     Tn. Beni

Umur               : 24 tahun                                                        28 tahun

Alamat                        : Mekarsari, Bogor

Keluhan Utama

Ibu mengeluh demam menggigil, berkeringat, sakit kepala, hilang nafsu makan, sakit pad persendian

O

 

1. Pemeriksaan Fisik

a.  Keadaan umum : Pucat                  kesadaran: compos mentis

b.         Tanda vital

Tekanan darah : 90/70 mmHg

Nadi                : 76 kali per menit

Pernafasan       : 20 kali per menit

Suhu                : 38,5 ºC

c.  TB             : 160 cm

BB              : 60 kg

d. Kepala dan leher

Edema wajah : tidak ada

Cloasma gravidarum + / – (tidak ada)

Mata    : simetris, konjuctiva pucat/putih, nyeri tekan

Mulut  : Bibir kering dan pucat

Leher   : terdapat pembesaran kelenjar getah bening

e. Kulit                        : Kering dan muncul bintik-bintik merah diseluruh tubuh

2. Pemeriksaan Penunjang

Tanggal 11 Februari 2008  jam 09.05 dilakukan pemeriksaan HB : 11gr%

A

 

  1. Diagnosis Kebidanan

Primigravida 24 th  umur kehamilan 25 minggu dengan Rubella

 

2. Masalah

Ibu  tidak mengetahui penyebab keluhan yang dirasakannya dan cara     mengatasinya.

3. Kebutuhan

KIE tentang penyebab keluhan dan cara mengatasinya.

4. Diagnosa potensial

Rubella yang tidak teratasi bisa membuat janin cacat ataupun keguguran

  1. Masalah Potensial

Tidak ada

6. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien

a. Mandiri

Mengurangi rasa cemas pada ibu dan keluarga, dan memrikan obat turun panas

b. Kolaborasi

Test darah serologi antigen Rubella di laboratorium

c. Merujuk

Merujuk ke RS

P

 

Tanggal 11 Februari 2008 jam 09.20 WIB

  1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa keluhan yang dirasakan seperti demam menggigil, berkeringat, sakit kepala, nyeri tekan pada mata dan bintik-bintik merah pada seluruh tubuh merupakan gejala penyakit campak/Rubella.

Ibu dan keluarga sedikit cemas mendengar penjelasan bidan.

  1. Memberi KIE singkat tentang penyakit rubella pada ibu dan keluarga. Menjelaskan bahwa Rubella merupakan virus yang menyebar melalui udara namun virus ini sebetulnya telah berada di beberapa tempat misalnya tenggorokan, bulu hidung, air seni, dan kotoran manusia sebelum akhirnya menginfeksi tubuh. Namun penyakit ini apabali menginfeksi pada keadaan hamil trimester II atau III kemungkinan cacat yang terjadi pada janin semakin berkurang sehingga ibu dan keluarga tidak perlu khawatir asal penanganan sakit ibu diatasi dengan baik.

Ibu dan keluarga mengerti penjelasan bidan

  1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa untuk memastikan ibu menderita penyakit malaria atau tidak ibu harus menjalani tes laboratorium di rumah sakit.

Ibu dan keluarga bersedia melakukan tes laboratorium di rumah sakit.

  1. Memberitahu keluarga untuk merujuk ibu ke RS untuk mendapatkan penangan penyakit Rubella dengan segera.

Keluarga bersedia untuk merujuk ibu ke RS.

5. Mendampingi ibu pada saat dirujuk.

6. Menganjurkan ibu untuk tetap makan dan minum untuk masukan nutrisi dalam tubuh.

DAFTAR PUSTAKA

rubella/380bb3edb81f28dae4ae8582f7166fa6.htm

rubella/rubella_torch.html

RUBELLA Dalam Kehamilan atau Kandungan « Asuhan Keperawatan dan Asuhan Kebidanan.htm

BAB I

PENDAHULUAN

Jantung merupakan organ yang sangat penting bagi manusia, karena jantung diperlukan untuk memompa darah ke seluruh tubuh sehingga tubuh mendapatkan oksigen dan sari makanan yang diperlukan untuk metabolisme tubuh. Karena itu, jantung perlu dijaga agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

Kehamilan akan menyebabkan perubahan fisiologis yang luas pada sistem kardiovaskular., dan berakibat terjadinya gangguan pada jantung dan aliran darah sehingga perlu dipertimbangkan jika terjadi kehamilan. Pada wanita sehat dapat beradaptasi terhadap perubahan hemodinamik (denyut jantung, sistem pernafasan, volume darah, hormon dan lain sebagainya).

Namun perubahan-perubahan ini dapat menjadi ancaman pada wanita dengan penyakit jantung. Walaupun penyakit jantung jarang muncul secara de novo selama kehamilan, namun banyak  wanita dengan penyakit jantung yang telah diketahui sebelumnya atau wanita dengan potensi penyakit jantung mengalami kehamilan.

Insiden penyakit jantung pada kehamilan adalah sekitar 1% dan terus meningkat. Perubahan ini mungkin sebagai hasil dari kemajuan penatalaksaan penyakit jantung selama beberapa dekade terakhir, hal ini menyebabkan bertambahnya jumlah wanita dengan penyakit jantung bawaan mencapai usia dewasa dan mampu melahirkan. Kemajuan teknik  operasi dan medika mentosa  menyebabkan penurunan penyakit jantung rematik secara drastis dibandingkan dengan penyakit jantung kongenital di dunia barat.

Namun di negara berkembang, penyakit jantung rematik masih cukup tinggi. Hal ini akan menambah penyebab utama kematian pada maternitas, terhitung  35 kematian secara tidak langsung di Inggris dari tahun 1997-1999. Di Malaysia, suatu laporan yang diterbitkan tahun 2000, terdapat 77 kematian  akibat penyakit jantung pada kehamilan, sekitar 16,4%  dari seluruh kematian pada kehamilan dari tahun 1995-1996. Sebagai tambahan, masih terdapat angka morbiditas yang patut dipertimbangkan berkenaan dengan gagal jantung kongestif, komplikasi tromboemboli, dan gangguan irama jantung. Komplikasi  pada fetus mencakup keguguran, restriksi pertumbuhan intrauterinne, dan kelahiran premature.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit Jantung

Secara umum, penyakit jantung dapat diklasifikasikan menjadi penyakit jantung sianosis dan penyakit jantung asianosis. Keterlibatan katup jantung yang multipel tidak umum terjadi, termasuk 17 wanita dengan penyakit yang melibatkan 2 katup, sedangkan 2 wanita memiliki  penyakit  jantung yang melibatkan 3 katup jantung.

Studi retrospektif yang membandingkan kasus penyakit jantung dengan populasi  obstetri secara umum selama lebih dari periode 3 tahun. Tingkat induksi kelahiran tidak berbeda.  Penggunaan analgesia epidural yang lebih tinggi pada persalinan memicu bertambahnya tingkat kelahiran dengan alat, walupun tidak ada perbedaan  dengan tingkat persalinan dengan opeasi caesar. Banyak bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir rendah,  pada kelompok dengan penyakit jantung, namun angka mortalitas perinatal tidak berubah.

Tidak ada kasus penyakit jantung sianosis selama periode penelitian ini. Secara mencolok, pada penelitian tentang penyakit jantung sianosis (tidak termasuk  Eisenmenger’s complex) ditemukan bahwa komplikasi kardiovaskular pada kehamilan muncul pada 32% pasien dengan 1 kematian, dan hanya 43% dari kehamilan yang dapat lahir hidup.

Penyakit jantung juga bisa dikategorikan menurut risiko kematian, yang tergantung dari lesi jantung yang mendasari dan klasifikasi fungsional dari New York Heart Association (NYHA). Kategori berdasarkan resiko akan memandu kepada evaluasi lebih lanjut yang  lebih komprehensif dan penatalaksanaan yang optimal dari tiap kasus.

 

 

 

 

 

 

Penyakit jantung asianosis; klasifikasi dan insiden

Jumlah (n)

Lesi jantung congenital

Atrial septal defect                                                     20

Ventricular septal defect                                             15

Patent ductus arteriosus                                              5

Lesi jantung didapat

Rheumatic

-         mitral stenosis                                                   45

-         mitral incompetence                                          32

-         aortic incompetence                                          14

-         aortic stenosis                                                   5

-         pulmonary stenosis                                           4

Non-rheumatic

-         hypertrophic obstructive cardiomyopathy        2

-         Wolf-Parkinson-White syndrome                     1

Kategori berdasarkan resiko

Resiko

Tinggi

(mortalitas 25-50%)

Eisenmenger’s complex

 

 

Penyakit jantung sianosis (teralogy of  Fallot, Ebstein, transposition of the great vessels)

Hipertensi pulmonal

Penyakit jantung iskemik (infark miokard akut)

Obstruktif hipertrofi kardiomiopati

Gagal jantung (kardiomiopati peripartum).

Sedang – tinggi (mortalitas 5-15 %)

Stenosis katup

Koartasio aorta

Riwayat infark miokard

Sindrom Marfan

Katup prostetik mekanis

 

Rendah

(mortalitas kurang dari 1%)

Regurgitasi mitral ringan s/d sedang

Prolaps katup mitral

Defek septum ventrikel ringan

Defek septum atrium ringan

 

 

 

 

Perubahan Hemodinamik Normal Selama Kehamilan

Selama kehamilan volume plasma  mulai meningkat sejak dini mulai minggu keenam dan mendekati 150 % dari status normal  pada saat melahirkan. Kenaikan ini terjadi secara cepat pada kehamilan dini sampai trimester kedua dan menetap pada trimester ketiga sampai melahirkan. Pertukaran kompleks dari sistem renin angiotensin aldosteron, hormon reproduksi, prostaglandin, dan faktor natriuretik atrium memberi peranan pada perubahan volume ini. Bertambahnya volume darah ini meningkatkan volume distribusi obat. Penyesuaian dosis obat harus dipertimbangkan, dengan hasil meningkatnya klirens obat pada ginjal (laju filtrasi glomerulus  meningkat hingga 150%) dan meningkatnya metabolisme obat di hepar.

Penelitian secara longitudinal menunjukkan  peningkatan cardiac output  mendekati 1.3 sampai 1.5 l selama kehamilan. Cardiac output meningkat pada usia kehamilan 5 minggu dan meningkat sampai 45 % diatas garis batas pada gestasi 24 minggu. Hal ini dicapai dengan meningkatnya heart rate ( 29% ) dan stroke volume ( 18% ) penelitian Pulsed Doppler juga telah mengkonfirmasi perubahan ini. Pada kehamilan kembar peningkatan ini lebih tinggi.

Perubahan hemodinamik yang paling dalam muncul selama proses melahirkan, terutama akibat konstriksi uterus, rasa sakit, dan kecemasan. Autotransfusi transien muncul dengan kontraksi uterus dan sekitar 500 mL darah memasuki sirkulasi sentral, meningkatkan stroke volume dan cardiac output. Terdapat penambahan 12% demand pada kala 1 persalinan dengan peningkatan cardiac output 34% pada kala akhir. Segera setelah kelahiran terdapat peningkatan yang nyata pada intravaskular yang berhubungan dengan terlepasnya kompresi vena kava inferior secara tiba-tiba, yang menyebabkan peningkatan cardiac output yang lebih tinggi.

Diluar perubahan ini, tekanan darah  tetap tidak berubah. Stroke volume, heart rate dan cardiac output tetap meningkat selama 2 hari pertama postpartum dan turun secara drastis menuju garis batas dalam 10 hari.

 

 

 

 

Kehamilan yang Menggambarkan Penyakit Jantung

Banyak gejala pada kehamilan yang dapat menggambarkan penyakit jantung. Selama kehamilan terus berlangsung, pembesaran uterus menekan diagfragma ke atas sehingga menurunkan kapasitas vital dan total volume paru, menyebabkan sulit bernafas. Udema pada ekstremitas terjadi pada hampir semua wanita hamil, sebagai akibat meningkatnya total sodium dan air dalam tubuh dan kompresi vena kava inferior pada uterus yang matang. Kompresi vena kava inferior menyebabkan menurunnya venous return ke jantung dan menyebabkan sakit kepala ringan dan sinkop.

Palpitasi bisa terjadi dan biasanya merupakan tanda sinus takikardi, yang normal pada kehamilan. Bagaimanapun, paroksismal nokturnal dyspnoea dan sinkop, hemoptisis dan nyeri dada bukan merupakan gejala normal pada kehamilan dan harus dievaluasi lebih lanjut. Peningkatan volume plasma menyebabkan vena jugularis terisi lebih banyak dan tekanan vena sentral sedikit meningkat. Perubahan ukuran dan massa pada ventrikel kiri yang berhubungan dengan peningkatan volume dapat menyebabkan apical impulse bergeser ke kiri. Elevasi dan rotasi jantung yang disebabkan pelebaran uterus, juga memberi kontribusi pada pergeseran ini.

Perubahan pada auskultasi pada kehamilan normal telah didokumentasikan dengan baik. Intensitas bunyi jantung I dan bunyi jantung III terdengar pada 84% pasien. Hal ini dapat menyebabkan  kebingungan, karena dapat diinterpretasikan sebagai suatu murmur diastolik atau suatu opening snap. Bunyi jantung  IV umumnya tidak terdengar pada kehamilan dan terdengar hanya pada sekitar 4% pasien.

Ejeksi murmur sistolik umumnya terdengar pada 96% wanita hamil normal, baik pada batas sternum bawah atau pada daerah katup pulmonal. Hal ini terjadi secara sekunder terhadap perubahan hiperdinamik, mengindikasi adanya peningkatan aliran yang melalui katup aorta. Oleh karena itu, kecurigaan adanya murmur ejeksi sistolik, yang perlu dirujuk kepada ahli jantung, termasuk murmur pansistolik yang menyebar ke seluruh prekordium dan karotis dan kelainan lain dengan intensitas yang tidak berubah dengan posisi. Murmur diastol  tidak umum ditemukan pada kehamilan dan biasanya menandai adanya fungsi atau anatomi jantung yang tidak normal, yang memerlukan evaluasi lebih jauh. Sebagai tambahan, murmur sistolik atau kontinyu dapat terdengar pada ruang intercosta kanan atau kiri, berkenaan dengan meningkatnya aliran darah pada arteri mammaria interna.

Murmur ini dapat  berubah saat dilakukan penekanan pada stetoskop atau saat pasien pada posisi tegak lurus. Suara redup vena pada fossa supraklavikula kanan dapat membingungkan dengan murmur kontinyu  pada patent ductus arteriosus (PDA) atau fistula arteri-vena. Secara umum, murmur sistolik pada stenosis katup meningkat intensitasnya selama gestasi sebagai akibat dari meningkatnya volume sirkulasi darah dan stroke volume   dan murmur regurgitasi menurun intensitasnya sebagai akibat menurunnya tahanan perifer total.

Etiologi Penyakit jantung

  1. Hipervolumia
  2. Pembesaran rahim
  3. Demam rematik

Tanda dan gejala Penyakit jantung

  1. Aritmia
  2. Pembesaran jantung
  3. Mudah lelah
  4. Dispenea
  5. Nadi tidak teratur
  6. Edema pulmonal
  7. Sianosis

 

 

 

 

 

 

Menyelidiki Pasien dengan Penyakit Jantung Pada Kehamilan

Elektrokardiografi (EKG)

Perubahan normal pada pembacaan EKG yang muncul selama kehamilan mencakup sinus takikardi, pergeseran axis QRS ke kiri atau ke kanan dan denyut prematur atrium atau ventrikel. Denyut prematur atrium dan ventrikel, sinus aritmia, sinus arrest dengan irama nodal escape, wandering atrial pacemaker dan paroksismal supraventrikular takikardi, umumnya tidak terjadi selama proses melahirkan. ST segment elevasi, depresi, atau perubahan amplitudo gelombang P, QRS, atau T harus diinterpretasikan secara hati-hati. Beberapa pengarang telah melaporkan hal ini tidak menjadi masalah.

Dengan tidak adanya gejala, banyak perubahan EKG yang tidak spesifik ini tidak membutuhkan evaluasi lebih lanjut. EKG lebih berguna untuk mendiagnosa aritmia daripada untuk menggambarkan kelainan struktural.

Ekokardiografi

Ekokardiografi (m-mode, two-dimensional, Doppler) merupakan tes diagnostik non invasif yang terpilih pada kehamilan dan tidak menimbulkan bahaya terhadap janin. Prosedur ini akan menyediakan informasi mengenai cadangan kardiovaskular, termasuk diagnosa definitif dari berbagai kelainan struktural. Transesophageal echocardiography aman dan berguna untuk menyelidiki kelainan jantung kongenital yang kompleks dan endokarditis infektif, terutama  pada pasien dengan katup prostetik atau pasien yang sebelumnya menjalani operasi.

Perubahan echocardiography normal selama kehamilan mencakup peningkatan ukuran jantung dan massa ventrikel kiri. Sebuah efusi perikardial yang kecil dapat tercatat. Penyelidikan lain telah menunjukkan regurgitasi ringan pada katup, yang tidak memiliki makna klinis. Bagaimanapun, kelainan apapun pada ekokardiogram membutuhkan evaluasi klinis.

Radiografi dada

Paparan terhadap sinar X, terutama selama trimester pertama, dapat berbahaya terhadap janin, dan harus dihindari selama kehamilan. Bagaimanapun, radiografi dada normal dengan memberi penutup pada abdomen memberi dosis sekitar 0,1 rad terhadap ibu dan hanya sekitar 0,008 rad terhadap janin. Ini berarti janin dapat terpapar terhadap 625 kali radiografi dada sebelum melebihi batas 5 rads untuk durasi pada kehamilan.

Perubahan yang terlihat  pada radiografi dada pada kehamilan normal dapat menggambarkan adanya penyakit jantung. Hal ini mencakup peningkatan ringan ukuran jantung , pergeseran jantung secara horizontal  yang meningkat seiring gestasi, batas jantung kiri dan supply pembuluh darah pulmonal yang penuh seiring pembesaran palsu (pseudoenlargement) di atrium kiri yang berkaitan dengan lordosis tulang belakang.

Magneting resonance imaging

Prosedur ini hanya memberi sedikit peranan, walaupun terdapat peningkatan minat dan penelitian dalam hal ini. MRI merupakan model yang menarik untuk penyelidikan, selama tidak melibatkan iradiasi. Bagaimanapun, berbaring secara datar  merupakan masalah yang serius pada kehamilan dengan penyakit jantung.

Radioisotope scanning

Radioisotope scan, seperti thallium scan atau positron emission tomography, menggunakan paparan terhadap irradiasi sehingga berpotensi mendatangkan resiko pada kehamilan. Informasi yang sama dapat diperoleh menggunakan modalitas lain seperti stress echocardiography, yang tidak menggunakan radiasi. Uji latih dapat dilakukan secara aman pada kehamilan untuk menduga penyakit jantung iskemik atau kapasitas fungsional. Bradikardi janin telah dilaporkan dengan uji maksimal dan untuk itu pasien tidak diizinkan untuk melebihi 75% dari heart rate maksimalnya.

Invasive investigations

Kateterisasi jantung menghasilkan paparan sekitar 0,005 rads pada janin yang telah dilindungi penutup. Jika kateterisasi jantung diperlukan, akses dari arteri radialis atau arteri brakialis sebaiknya digunakan daripada pendekatan dari arteri femoral, yang berarti paparan radiasi yang lebih sedikit terhadap janin. Akses dari arteri radialis sekarang lebih populer daripada pendekatan dari arteri brakhialis, dengan kateter yang lebih kecil dan bentuk balon dan stent yang lebih baik, percutaneous transluminal coronary angioplasty (PTCA) dapat dibawa keluar secara aman melalui rute arteri radialis, jika diperlukan.

 

Penatalaksanaan Pasien Hamil dengan Penyakit Jantung

Pertimbangan umum

Untuk meminimalkan resiko maternal dan fetal pada wanita hamil dengan penyakit jantung yang terjadi bersamaan membutuhkan usaha bersama dari para spesialis yang berpengalaman dengan penatalaksanaan mereka. Tim ini hendaknya melibatkan dokter ahli kandungan,  ahli jantung, ahli anestesi dan jika perlu, ahli bedah jantung. Klinik yang berisi berbagai ahli lebih dipilih dan kunjungan sebelum kehamilan akan memerlukan konseling yang sesuai berkenaan dengan  potensi resiko meternal dan fetal pada kehamilan. Pengaturan ini akan memberi dugaan yang akurat dari keparahan dan perjalanan  lesi jantung pada wanita tsb dan cadangan kardiovaskularnya.

Kehamilan merupakan kontraindikasi pada Eisenmenger sindrom, hipertensi pulmonal ( didefinisikan sebagai tekanan pulmonal lebih dari 40 mmHg) dan sindrom Marfan dengan keterlibatan aorta (diameter lebih dari 40mm), masing-masing berhubungan dengan resiko tinggi. Wanita dengan riwayat kardiomiopati peripartum sebelumnya disarankan untuk tidak hamil lagi karena kondisi ini akan kambuh dan memiliki prognosis buruk.

Terapi obat harus ditinjau ulang. Kebanyakan obat kardiovaskulas dapat digunakan pada kehamilan saat ada indikasi, dengan mempertimbangkan potensi resiko dan keuntungan untuk ibu dan janin. Bagaimanapun, obat-obat tertentu, seperti angiotensin-converting enzyme inhibitor, harus dihindari pada kehamilan berkenanan dengan gagal ginjal neonatal dan kematian.

Sindrom Marfan memiliki model genetik Mendelian yang diturunkan secara genetik dimana penyakit jantung kongenital diturunkan secara multifaktorial. Penatalaksanaan pada pasien ini juga mencakup konseling tentang implikasi genetik pada janin. Walaupun resikonya kecil namun dapat setinggi 10% saat dua anggota keluarga terkena dan 50% jika tiga anggota keluarga terkena.

Saat hamil, wanita dengan penyakit jantung secepat mungkin ditangani oleh berbagai ahli di klinik. Sebagian besar dari mereka tidak memiliki masalah hemodinamik dan hanya membutuhkan sedikit intervensi atau tidak sama sekali, sementara sebagian lainnya dapat memperlihatkan gejala dekompensasi jantung. Terminasi kehamilan atau operasi jika ada  indikasi, mungkin dibutuhkan. Idealnya operasi apapun hendaknya dilaksanakan sebelum kehamilan, namun pasien dengan intractable heart failure atau gejala yang tidak bisa ditoleransi dan kegagalan terapi medis dapat memerlukan bedah jantung. Pada pasien dengan mitral stenosis yang berat, jika ada indikasi ( contoh saat balloon valvuloplasti menjadi kontraindikasi ) valvotomi mitral tertutup lebih disarankan daripada operasi jantung terbuka dimana terdapat risiko tinggi terhadap janin.

Dengan tehnik anastesi dan operasi yang canggih dan pemilihan pasien secara hati-hati, risiko valvulotomi tertutup tidak lebih tinggi daripada keadaan tidak hamil. Stres pada operasi itu sendiri dapat memicu persalinan dan untuk itu penggunaan tokolitik harus secara bijaksana.

Terkadang suatu PDA harus diligasi selama kehamilan karena derajat pirau kiri-kanan yang berat. Namun, penutupan defek septum atrium atau ventrikel sebaiknya dilakukan selama kehamilan karena perubahan hemodinamik yang dapat dipicu oleh penggunaan cardiopulmonary bypass. Namun telah dilaporkan beberapa operasi sukses dilakukan. Cardiopulmonary bypass  dapat mengatasi hipotermia, perfusi arteri yang berkurang dan perubahan pada koagulasi, dan keseimbangan asam basa pada plasenta dan janin. Angka mortalitas janin yang dilaporkan adalah antara 2,9% dan 20,2% dan anangka mortalitas maternal adalah antara 0 sampai 21 %.

Untuk menghindari komplikasi  ini, cardiopulmonary support harusnya  dengan aliran tinggi, normothermic, dan  diaktifkan tanpa hyperkalaemic arrest. Operasi hendaknya dilakukan pada posisi left decubitus dengan persiapan untuk caesar jika kehamilan sudah lebih dari masa gestasi 24 minggu.

Wanita dengan penyakit jantung paling baik diterapi pada klinik berbagai ahli pada pusat pelayanan tersier. Tujuan utama dari penatalaksanaan selama kehamilan adalah untuk menghindari faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko gagal jantung dan untuk memulai terapi  secara tepat. Faktor resiko gagal jantung mencakup anemia, infeksi (terutama infeksi saluran kemih), hipertensi, perkembangan aritmia dan kehamilan multipel. Pengawasan terhadap berat, tekanan darah dan denyut nadi, termasuk pemeriksaan kardiovaskular secara detail, hendaknya dilakukan setiap pemeriksaan antenatal untuk meyakinkan status hemodinamik pasien tetap optimal selama kehamilan.

Pemeriksaan ultrasound dini merupakan hal yang penting untuk mengkonfirmasi usia gestasi. Scan Ultrasound resolusi tinggi dengan echocardiography janin dilakukan pada usia gestasi 18- 22 minggu untuk menyingkirkan kelainan srtuktural, terutama kelainan jantung janin pada wanita dengan penyakit jantung kongenital  seperti VSD (ventricular septal defect) ,  atrial septal defect , dan PDA. Penilaian perkembangan janin dengan scan ultrasound secara serial adalah penting pada wanita dengan penyakit jantung berat dan lesi jantung kongenital sianosis. Jika pertumbuhan intrauterine yang terhambat terlihat, keadaan janin sebaiknya dinilai dengan Doppler velocimetry dan biophysical profile .

Persalinan  sebaiknya tanpa induksi karena alasan jantung, juga kemungkinan gagal induksi dan sepsis merupakan kontraindikasi. Bagaimanapun, induksi persalinan untuk alasan obstetri harus tetap dilakukan. Telah disepakati bahwa induksi yang mendekati persalinan dapat dibenarkan  untuk rencana persalinan selama jam-jam siang pada kasus yang rumit, sehingga perawatan pasien dapat optimal. Secara umum, persalinan spontan lebih baik karena tidak ada bukti yang mengatakan bahwa operasi caesar elektif memberi keuntungan, baik untuk ibu maupun untuk janin.

Namun untuk beberapa pasien dengan penyakit jantung berat, operasi caesar elektif dapat tetap menjadi pilihan yang terbaik. Penatalaksanaan intrapartum pada pasien dengan penyakit jantung sama pentingnya seperti pada wanita sehat. Persalinan yang lebih cepat akan meminimalkan stress persalinan  pada ibu dan efek hipoksia pada janin. Penanganan harus dilakukan untuk menghindari supine hypotension berkenaan dengan efek kompresi aortocaval oleh uterus yang gravid. Hal ini dapat dicapai dengan menopang ibu dengan bantal atau dengan berbaring pada posisi lateral kiri..

Keseimbangan cairan memerlukan perhatian lebih. Banyak persalinan yang tidak familier dengan kateter Swan-Ganz yang digunakan untuk monitor tekanan. Namun menjadi indikasi pada kasus-kasus resiko tinggi saat penggunaan cairan, diuretik dan agen ionotropic pada persalinan diperlukan. Untungnya, pada kebanyakan pasien, persalinan berlangsung cepat dan tanpa komplikasi.

Pada sebagian besar pasien dengan cadangan sirkulasi yang adekuat, anestesi epidural  cukup efektif dan dapat ditoleransi dengan baik. Anestesi epidural menurunkan cardiac output dengan menurunkan pengisian vena yang diikuti dengan dilatasi arteri perifer. Hal ini ditandai dengan tekhnik anestesi lokal dosis rendah. Anestesi epidural tinggi dapat berbahaya karena dapat menghambat plexus simpatis jantung yang dapat memicu denyut nadi yang menurun secara tiba-tiba. Walaupun  anestesi epidural dapat menstabilkan hemodinamik, tatap harus digunakan secara hati-hati pada hipertensi pulmonal primer atau pirau kanan ke kiri. Di bawah keadaan ini, anestesi umum dapat menjadi pilihan yang lebih aman.

Kebanyakan pasien mengalami persalinan yang cepat, terutama saat mereka telah mengkonsumsi digoxin. Weaver dan Pearson membuat sebuah postulat bahwa digoxin memiliki efek stimulasi secara langsung pada myometrium. Persalinan dibantu untuk meminimalkan peningkatan tekanan darah secara drastis yang disebabkan usaha mengedan. Namun melakukan persalinan dengan bantuan alat pada pasien yang mudah mendorong bayi keluar dengan sendirinya tidak memberi keuntungan apapun. Saat operasi caesar  diindikasikan, pilihan jenis anestesi harus ditentukan sesuai individu, tergantung pada kepentingan dan status penyakit maternal. Anestesi epidural aman selama tetap memperhatikan pengisian cairan dan pengawasan ketat. Anestesi spinal dapat menurunkan tekanan darah secara drastis. Walaupun kontroversial, anestesi umum mungkin lebih dipilih pada sindrom Eisenmenger.

Penggunaan obat sitotoksik pada kala III persalinan masih diperdebatkan. Syntometrine, kombinasi Syntocinon dan ergometrine, menurut teori akan menyebabkan kontraksi tonik pada uterus, memaksa sekitar 500 ml darah memasuki sirkulasi. Hal ini menyebabkan peningkatan tekanan atrium kiri dan merugikan pada pasien dengan stenosis mitral yang signifikan. Bagaimanapun, dalam situasi dimana perdarahan postpartum sulit diatasi, egometrine merupakan obat pilihan. Pada keseimbangan, Syntocinon lebih dipilih untuk profilaksis daripada ergometrine sejak syntocinon memiliki efek pada pembuluh darah dan dapat digunakan sbagai cairan infus. Obat ini juga dapat digunakan dalam kombinasi dengan diuretik seperti furosemide. Oxytocics digunakan bersamaan  pada pasien dengan gagal jantung.

Karena tingginya angka mortalitas pada endokarditis infektif,  banyak pusat kesehatan yang telah menetapkan praktek pemberian antibiotik profilaksis saat persalinan dan masa puerperium.  Pembenaran penggunaan antibiotik berdasarkan pada munculnya bakteremia transien yang asimptomatik pada lebih dari 5% ibu saat persalinan dan pada laporan endokarditis pada masa puerperium. Namun tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa regimen antibiotik ini memiliki efek pada frekuensi endokarditis. Pada lebih dari  2165 wanita dengan penyakit jantung rematik atau penyakit jantung kongenital  dimana tidak digunakan antibiotik peripartum rutin, hanya ada 2 kasus (0,05%) dari endokarditis infektif  yang secara samar-samar berhubungan dengan  persalinan.

 

Lebih jauh lagi, antibiotik profilaksis rutin membawa resiko toksisitas obat dan endokarditis resisten antibiotik. Di Inggris direkomendasikan antibiotik profilaksis hanya pada wanita dengan katup artifisial yang mempunyai resiko tinggi. Bagaimanapun, karena adanya potensi konsekuensi  yang berat dan fatal pada endokarditis dan terapi biaya rendah, banyak yang menganjurkan antibiotik profilaksis pada pasien dengan penyakit jantung struktural.

Profilaksis endokarditis.

Kriteria

-          Katup jantung prostetik (termasuk  katup bioprostetik dan homograft

-          Malformasi kongenital

-          Endokarditis bakterial sebelum

-          Rematik dan disfungsi katup didapat (bahkan setelah operasi katup)

-          Kardiomiopati hipertrofi.

-          Prolaps katup mitral dengan regurgitasi katup.

Regimen yang direkomendasi

1 g ampicillin intravena/intramuscular + 120 mg gentamicin iv/im saat onset persalinan atau ruptur membran atau saat induksi anestesi dan 6-8 jam pasca persalinan.

Jika alergi terhadap penisilin , berikan 1 g vancomycin iv

Pengaruh kehamilan terhadap penyakit jantung. Saat-saat yang berbahaya bagi penderita adalah :

  1. Pada kehamilan 32-36 minggu dimana volume darah mencapai puncaknya.
  2. Pada kala II wanita mengerahkan tenaganya untuk mengedan dan memerlukan tenaga jantung yang erat.
  3. Pada post partum,dimana darah dari ruang internilus plasenta yang sudah lahir, sekarang masuk dalam sirkulasi darah ibu.
  4. Pada masa nifas, karena kemungkinan adanya infeksi.

Pengaruh penyakit jantung terhadap kehamilan :

  1. Dapat terjadi abortus
  2. Prematuritas : lahir tidak cukup bulan.
  3. Dismaturitis : lahir cukup bulan namun dengan berat badan rendah.
  4. Lahir dengan apgar rendah atau lahir mati.
  5. Kematian jani dalam lahir ( KJDL )

Klasifiksi penyakit jantung dalam kehamilan :

Kelas 1 :

  1. Tanpa pembatasan gerak fisik.
  2. Tanpa gejala pada kegiatan biasa

Kelas II :

  1. Sedikit dibatasi kegiatan fsiknya
  2. Waktu istirahat tidak ada keluhan
  3. Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insulfisiensi jantung.
  4. Gejalanya adalah lelah, palpitalis, sesak nafas, dan nyeri dada ( angin pectoris ).

 

Kelas III :

  1. Kegiatan fisik sangat dibatasi
  2. Waktu istirahat tidak ada keluhan
  3. Sedikit kegiatan fisik menimbulkan keluhan insufisiensi jantung.

 

 

 

Kelas IV :

Waktu istirahat dapat menimbulkan keluhan insufisiensi jantung, apalagi kerja fisik. Kira-kira 80 % penderita adalah kelas I dan II dan kehamilan dapat meningkatkan kelas tersebut menjadi III atau IV, Faktor-faktor yang dapat pula mempengaruhi adalah umur, anemia, adanya aritmia jantung, dan hipertropi ventrikuler dan erhan sakit jantung.

Penatalaksanaan Penyakit jantung

Pengobatan dan penatalaksanaan penyakit jantung dalam kehamilan tergantung pada derajat fungsionalnya :

-          Kelas I : tidak ada pengobatan tambahan yang dibutuhkan.

-          Kelas II : Biasanya tidak memerlukan terapi tambahan. Kurangi kerja fisik

terutama antara kehamilan28-36 minggu.

-          Kelas III : Memerlukan digitalisasi atau obat lainnya. Sebaiknya dirawat di RS

sejak kehamilan 28 – 30 minggu.

-          Kelas IV : Harus dirawat di RS dan dinerikan pengobatan bekerjasama dengan

kardiolog.

Perencanaan waktu dan proses persalinan, analgesia dan anestesia, pengawasan ketat jantung dan lokasi  persalinan harus direncanakan dengan baik, terutama pada pasien dengan penyakit yang berat. Pendekatan tim, termasuk pasien, sangat penting dalam proses membuat keputusan. Secara umum, persalinan normal per vaginam dengan analgesia yang efektif dan kala II yang cepat dan difasilitasi ( dengan forceps atau ekstraksi vacuum) lebih dipilih. Operasi caesar dilakukan untuk indikasi obstetri dan kondisi jantung yang spesifik. Kehilangan darah saat persalinan hendaknya diminimalkan dan diganti dengan segera jika diperlukan. Perawatan postpartum hendaknya mencakup early ambulation, perhatian pada masalah neonatal, dan pertimbangan  kontrasepsi

 

 

 

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

DENGAN PENYAKIT JANTUNG

 

DATA SUBJEKTIF

-          Ibu tidak mampu melakukan aktifitas normal dan terdapat edema pada tungkai ibu.

-          Ibu sulit bernafas dan merasakan nyeri hebat pada daerah dada bagian kiri.

-          Ibu sering BAK.

 

DATA OBJEKTIF

  1. Keadaan Umum : sulit bernafas
  2. Tanda Vital

-          Pernafasan       : kurang dari 14 x / menit , terjadi Krekle, Hemoptisis, Takipnea, Dispnea, Ortopnea

-          TD                   : 160/110 mmHg

-          Suhu                : 38º C

-          Nadi                : >80 x/ menit

 

ASSESMENT

  1. Diagnosa kebidanan

Seorang ibu hamil dengan penyakit jantung.

  1. Masalah kebidanan

Ibu mengeluh nyeri pada dada bagian kiri serta mengalami ketidakmampuan melakukan aktifitas normal.

  1. Kebutuhan

KIE pada ibu tentang tanda-tanda penyakit jantung.

Penatalaksanaan penyakit jantung pada ibu hamil.

  1. Tindakan

Merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap untuk penanganan penyakit jantung.

 

PLANNING

  1. Menjelaskan pada ibu bahwa kehamilannya mengalami komplikasi penyakit jantung dan apabila tidak segera ditangani akan mengganggu kesehatan ibu serta janinnya serta penyebab terjadinya penyakit jantung antara lain dikarenakan oleh : Hipervolumia, Pembesaran rahim, Demam rematik.
  2. Memberitahu ibu tentang tanda dan gejala penyakit jantung seperti : Aritmia, Pembesaran jantung, Mudah lelah, Dispenea, Nadi tidak teratur, Edema pulmonal, Sianosis
  3. Memberitahu ibu tentang resiko yang akan terjadi pada kehamilan dengan penyakit jantung seperti :

-          Dapat terjadi abortus

-          Prematuritas : lahir tidak cukup bulan.

-          Dismaturitis : lahir cukup bulan namun dengan berat badan rendah.

-          Lahir dengan apgar rendah atau lahir mati.

-          Kematian jani dalam lahir ( KJDL )

  1. Ibu perlu dirujuk dan dilakukan pengobatan sesuai dengan kriteria kelas penyakit jantung yang diderita ibu serta penatalaksanaan yang tepat sehingga tidak membahayakan kesehatan ibu dan janin.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Fakultas Kedokteran Universitas Pedjajaran Bandung. 1984. Obstetri Patologi.

Bandung : Elstar Offset.

Doenges E, Marilynn. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. Kajarta : EGC

Mochtar, Rustam. Prof. DR. 1989. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Edisi I.

Jakarta : EGC

Prawiroharjo, Sarwono. 1976. Ilmu Kebidanan. Jakarta : yayasan Bina Pustaka

Chamberlain, Geofferey. 1994. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Jakarta : Widya Medika

Ledewig. W. Patricia. 2005. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir.

Jakarta :EGC

Manumba, Ida Bagus. 1993. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi

Jakarta : EGC

Oxorn, Harry. 1990. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan . Yayasan

Esentia Medika

Heller, Luz 1991. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Jakarta : EGC

BAB I

PENDAHULUAN

Asma terdapat 3,4 – 8,4 % pada wanita hamil dan gangguan nafas sangat sering terjadi pada wanita hamil. Perjalanan asma selama kehamilan sangatlah bervariasi bisa tidak ada perubahan, bertambah buruk atau malah membaik dan akan kembali ke kondisi seperti sebelum hamil setelah tiga bulan melahirkan. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma pada setiap penderita tidaklah sama, bahkan pada seseorang penderita asma serangannya tidak sama pada kehamilan pertama dan kehamilan berikutnya. Biasanya serangan muncul pada usia kehamilan 24 – 36 minggu, dan akan berkurang pada akhir kehamilan.

Pada asma yang tidak terkontrol selama kehamilan akan mempunyai efek yang serius baik bagi ibu maupun bagi janin. Komplikasi untuk ibu pada asma yang tidak terkontrol adalah kemungkinan pre-eklampsia, eklampsia, perdarahan vagina dan persalinan premature, sedangkan komplikasi terhadap bayi adalah intra uterine growth retardation, bayi premature dan meningkatkan kemungkinan resiko kematian perinatal. Oleh karenanya pasien hamil dengan asma harus dianggap sebagai pasien dengan kehamilan resiko tinggi. Tujuan penatalaksanaan pasien asma dalam kehamilan harus meliputi : pencegahan eksaserbasi akut, mengontrol symptoms, mengurangi inflamasi saluran nafas, memelihara fungsi paru rata – rata mendekati normal.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Definisi

Asma adalah radang kronis pada jalan nafas yang berkaitan dengan obstruksi reversible dari spasme, edema, dan produksi mucus dan respon yang berlebihan terhadap stimuli. (Varney, Helen. 2003)

Asma adalah keadaan klinis yang ditandai oleh masa penyempitan bronkus yang reversibel, dipisahkan oleh masa di mana ventilasi jalan nafas terhadap berbagai rangsang. (Sylvia Anderson (1995 : 149)

Asma adalah suatu inflamasi kronis saluran nafas yang melibatkan sel eosinofil, sel mast, sel netrofil, limfosit dan makrofag yang ditandai dengan wheezing, sesak nafas kumat-kumatan, batuk, dada terasa tertekan dapat pulih kembali dengan atau tanpa pengobatan (Cris Sinclair, 1994)

Asma dalam kehamilan adalah gangguan inflamasi kronik jalan napas terutama sel mast dan eosinofil sehingga menimbulkan gejala periodik berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk yang ditemukan pada wanita hamil. Asma yang terkendali dengan baik tidak memiliki efek yang berarti pada wanita yang hamil, melahirkan ataupun menyusui. Asma mungkin membaik, memburuk atau tetap tidak berubah selama masa hamil, tetapi pada kebanyakan wanita gejala-gejalanya cenderung meningkat selama tiga bulan terakhir dari masa kehamilan. Dengan bertumbuhnya bayi dan membesarnya rahim, sebagian wanita mungkin mengalami semakin sering kehabisan nafas. Tetapi ibu-ibu yang tidak menderita asmapun mengalami hal tersebut karena gerakan diafragma/sekat rongga badan menjadi terbatas. Adalah penting untuk memiliki sebuah rancang tindak asma dan ini harus ditinjau kembali secara teratur

selama masa kehamilan.

 

B.Etiologi

Sebagian besar penyempitan pada saluran nafas disebabkan oleh semacam  reaksi alergi. Alergi adalah reaksi tubuh normal terhadap allergen, yakni zat-zat yang tidak berbahaya bagi kebanyakan orang yang peka. Alergen menyebabkan alergi pada orang-orang yang peka. Allergen menyebabkan otot saluran nafas menjadi mengkerut dan selaput lendir menjadi menebal. Selain produksi lendir yang meningkat, dinding saluran nafas juga menjadi membengkok. Saluran nafas pun menyempit, sehingga nafas terasa sesak. Alergi yang diderita pada penderita asma biasanya sudah ada sejak kecil. Asma dapat kambuh apabila penderita mengalami stres dan hamil merupakan salah satu stress secara psikis dan fisik, sehingga daya tahan tubuh selama hamil cenderung menurun, daya tahan tubuh yang menurun akan memperbesar kemungkinan tersebar infeksi dan pada keadaan ini asma dapat kambuh. (Ilmu Penyakit Dalam)

Berdasarkan etiologinya, asma dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu asma intrinsik dan asthma ektrinsik.

a. Asma ektrinsik (atopi) ditandai dengan reaksi alergik terhadap pencetus-pencetus            spesifik yang dapat diidentifikasi seperti : tepung sari jamur, debu, bulu binatang, susu           telor ikan obat-obatan serta bahan-bahan alergen yang lain.

b. Asma intrinsik ( non atopi ) ditandai dengan mekanisme non alergik yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik seperti : Udara dingin, zat kimia,yang bersifat sebagai iritan seperti : ozon ,eter, nitrogen, perubahan musim dan cuaca, aktifitas fisik yang berlebih , ketegangan mental serta faktor-faktor intrinsik lain. ( Antoni C, 1997 dan Tjen Daniel, 1991 ).

 

Klasifikasi Asma Berdasarkan Etiologi :

1.Asma Bronkiale Tipe Atopik (Ekstrinsik)

Asma timbul karena seseorang yang atopi akibat pemaparan alergen. Alergen yang masuk tubuh melalui saluran pernafasan, kulit, saluran pencernaan dan lain-lain akan ditangkap oleh makrofag yang bekerja sebagai antigen presenting cells (APC). Setelah alergen diproses dalam sel APC, kemudian oleh sel tersebut, alergen dipresentasikan ke sel Th. Sel APC melalui penglepasan interleukin I (II-1) mengaktifkan sel Th. Melalui penglepasan Interleukin 2 (II-2) oleh sel Th yang diaktifkan, kepada sel B diberikan signal untuk berproliferasi menjadi sel plasthma dan membentuk IgE.

IgE yang terbentuk akan segera diikat oleh mastosit yang ada dalam jaringan dan basofil yang ada dalam sirkulasi. Hal ini dimungkinkan oleh karena kedua sel tersebut pada permukaannya memiliki reseptor untuk IgE. Sel eosinofil, makrofag dan trombosit juga memiliki reseptor untuk IgE tetapi dengan afinitas yang lemah. Orang yang sudah memiliki sel-sel mastosit dan basofil dengan IgE pada permukaan tersebut belumlah menunjukkan gejala. Orang tersebut sudah dianggap desentisisasi atau baru menjadi rentan

Bila orang yang sudah rentan itu terpapar kedua kali atau lebih dengan alergen yang sama, alergen yang masuk tubuh akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada permukaan mastofit dan basofil. Ikatan tersebut akan menimbulkan influk Ca++ ke dalam sel dan terjadi perubahan dalam sel yang menurunkan kadar cAMP.

Kadar cAMP yang menurun itu akan menimbulkan degranulasi sel. Dalam proses degranulasi sel ini yang pertama kali dikeluarkan adalah mediator yang sudah terkandung dalam granul-granul (preformed) di dalam sitoplasma yang mempunyai sifat biologik, yaitu histamin, Eosinophil Chemotactic Factor-A (ECF-A), Neutrophil Chemotactic Factor (NCF), trypase dan kinin. Efek yang segera terlihat oleh mediator tersebut ialah obstruksi oleh histamin.

Hiperreaktifitas bronkus yaitu bronkus yang mudah sekali mengkerut (konstriksi) bila terpapar dengan bahan / faktor dengan kadar yang rendah yang pada kebanyakan orang tidak menimbulkan reaksi apa-apa, misalnya alergen (inhalan, kontaktan), polusi, asap rokok / dapur, bau-bauan yang tajam dan lainnya baik yang berupa iritan maupun yang bukan iritan. Dewasa ini telah diketahui bahwa hiper rektifitas bronkus disebabkan oleh inflamasi bronkus yang kronik. Sel-sel inflamasi terutama eosinofil ditemukan dalam jumlah besar dalam cairan bilas bronkus pasien asthma bronkiale sebagai bronkhitis kronik eosinofilik. Hiper reaktifitas berhubungan dengan derajad berat penyakit. Di klinik adanya hiperreaktifitas bronkhus dapat dibuktikan dengan uji provokasi yang menggunakan metakolin atau histamin.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas saat ini penyakit asthma dianggap secara klinik sebagai penyakit bronkhospasme yang reversibel, secara patofisiologik sebagai suatu hiper reaksi bronkus dan secara patologik sebagai suatu peradangan saluran nafas.

Bronkus pada pasien asma oedema di mukosa dan dindingnya, infiltrasi sel radang terutama eosinofil serta terlepasnya sel silia yang menyebabkan getaran silia dan mukus di atasnya sehingga salah satu daya pertahanan saluran nafas menjadi tidak berfungsi lagi. Ditemukan pula pada pasien asthma bronkiale adanya penyumbatan saluran nafas oleh mukus terutama pada cabang-cabang bronkhus

Akibat dari bronkhospasme, oedema mukosa dan dinding bronkhus serta hipersekresi mukus maka terjadi penyempitan bronkhus dan percabangannya sehingga akan menimbulkan rasa sesak, nafas berbunyi (wheezing) dan batuk yang produktif.

Adanya stressor baik fisik maupun psikologis akan menyebabkan suatu keadaan stress yang akan merangsang HPA axis. HPA axis yang terangsang akan meningkatkan adeno corticotropic hormon (ACTH) dan kadar kortisol dalam darah. Peningkatan kortisol dalam darah akan mensupresi immunoglobin A (IgA). Penurunan IgA menyebabkan kemampuan untuk melisis sel radang menurun yang direspon oleh tubuh sebagai suatu bentuk inflamasi pada bronkhus sehingga menimbulkan  asma bronkiale.

 

2.Asma Bronkiale Tipe Non Atopik (Intrinsik)

Asma non alergenik (asma intrinsik) terjadi bukan karena pemaparan alergen tetapi terjadi akibat beberapa faktor pencetus seperti infeksi saluran nafas atas, olah raga atau kegiatan jasmani yang berat, serta tekanan jiwa atau stress psikologik. Serangan asma terjadi akibat gangguan saraf otonom terutama gangguan saraf simpatis yaitu blokade adrenergik beta dan hiperreaktifitas adrenergik alfa. Dalam keadaan normal aktifitas adrenergik beta lebih dominan daripada adrenergik alfa. Pada sebagian penderita asma aktifitas adrenergik alfa diduga meningkat yang mengakibatkan bronkhokonstriksi sehingga menimbulkan sesak nafas.

Reseptor adrenergik beta diperkirakan terdapat pada enzim yang berada dalam membran sel yang dikenal dengan adenyl-cyclase dan disebut juga messengner kedua. Bila reseptor ini dirangsang, maka enzim adenyl-cyclase tersebut diaktifkan dan akan mengkatalisasi ATP dalam sel menjadi 3’5’ cyclic AMP. cAMP ini kemudian akan menimbulkan dilatasi otot-otot polos bronkus, menghambat pelepasan mediator dari mastosit / basofil dan menghambat sekresi kelenjar mukus. Akibat blokade reseptor adrenergik beta maka fungsi reseptor adrenergik alfa lebih dominan akibatnya terjadi bronkhus sehingga menimbulkan sesak nafas. Hal ini dikenal dengan teori blokade adrenergik beta. (baratawidjaja, 1990).

 

3.Asma Bronkiale Campuran (Mixed)

Pada tipe ini keluhan diperberat baik oleh faktor-faktor intrinsik maupun ekstrinsik.

 

C. Faktor  Predisposisi

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan serangan asma bronkiale atau sering disebut sebagai faktor pencetus adalah :

a.Alergen

Alergen adalah sat-zat tertentu bila dihisap atau di makan dapat menimbulkan serangan asthma, misalnya debu rumah, tungau debu rumah (Dermatophagoides pteronissynus) spora jamur, serpih kulit kucing, bulu binatang, beberapa makanan laut dan sebagainya.

b.Infeksi saluran nafas

Infeksi saluran nafas terutama oleh virus seperti influenza merupakan salah satu faktor pencetus yang paling sering menimbulkan asthma bronkiale. Diperkirakan dua pertiga penderita asthma dewasa serangan asthmanya ditimbulkan oleh infeksi saluran nafas (Sundaru, 1991).

c.Stress

Adanya stressor baik fisik maupun psikologis akan menyebabkan suatu keadaan stress yang akan merangsang HPA axis. HPA axis yang terangsang akan meningkatkan adeno corticotropic hormon (ACTH) dan kadar kortisol dalam darah. Peningkatan kortisol dalam darah akan mensupresi immunoglobin A (IgA). Penurunan IgA menyebabkan kemampuan untuk melisis sel radang menurun yang direspon oleh tubuh sebagai suatu bentuk inflamasi pada bronkhus sehingga menimbulkan  asma bronkiale.

d.Olah raga / kegiatan jasmani yang berat

Sebagian penderita asthma bronkiale akan mendapatkan serangan asthma bila melakukan olah raga atau aktifitas fisik yang berlebihan. Lari cepat dan bersepeda paling mudah menimbulkan serangan asthma. Serangan asthma karena kegiatan jasmani (Exercise induced asthma /EIA) terjadi setelah olah raga atau aktifitas fisik yang cukup berat dan jarang serangan timbul beberapa jam setelah olah raga.

e.Obat-obatan

Beberapa pasien asthma bronkiale sensitif atau alergi terhadap obat tertentu seperti penicillin, salisilat, beta blocker, kodein dan sebagainya.

f.Polusi udara

Pasien asthma  sangat peka terhadap udara berdebu, asap pabrik / kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung hasil pembakaran dan oksida fotokemikal, serta bau yang tajam.

g.Lingkungan kerja

Diperkirakan 2 – 15% pasien asthma bronkiale pencetusnya adalah lingkunagn kerja (Sundaru, 1991).

D. Tanda dan Gejala

Keluhan yang biasanya dirasakan saat terjadi asma, yaitu :

a.Nafas pendek

b.Nafas terasa sesak dan yang paling khas pada penderita asma adalah terdengar bunyi wising yang timbul saat menghembuskan nafas.

c.Kadang-kadang batuk kering menjadi salah  satu  penyebabnya

d.Pada kehamilan, biasanya serangan asma akan timbul pasa usia kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu dan pada akhir kehamilan serangan jarang terjadi.

E.Komplikasi

1. PENGARUH ASMA TERHADAP KEHAMILAN

Asma sewaktu kehamilan terutama asma yang berat dan tidak terkontrol dapat menyebabkan peningkatan resiko komplikasi perinatal seperti preeklampsi, kematian perinatal, prematur dan berat badan lahir rendah.

Pada asma yang sangat berat dapat mengakibatkan kematian ibu. Mekanisme yang dapat menerangkan ini adalah hipoksia akibat dari asma yang tidak terkontrol, akibat pengobatan asma, atau faktor patogenetis.

Walaupun beberapa mekanisme yang pasti belum diketahui tetapi dari hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen yang baik sewaktu kehamilan akan memberikan hasil yang baik pada periode perinatal.

Penelitian Shiliang Liu terhadap 2193 wanita dengan asma dibandingkan dengan 8772 wanita yang dipilih secara random sebagai kelompok kontrol di Canada, menemukan bahwa asma pada ibu hamil secara signifikan berhubungan dengan beberapa kondisi seperti kelahiran preterm, bayi kecil atau besar dari usia kehamilan, preeklampsia, hipertensi selama kehamilan, perdarahan antepartum, korioamnionitis dan persalinan dengan seksio sesar. Kelainan terhadap janin didapatkan bayi besar dari usia kehamilan 12,4%, bayi kecil dari masa kehamilan 12,2% dan persalinan preterm 10%.

Efek pada ibu :

Komplikasi untuk ibu pada asma yang tidak terkontrol adalah kemungkinan :

  1. Abortus
  2. Perdarahan vagina
  3. Persalinan premature
  4. Solusio plasenta 2,5%
  5. Korioamnionitis 10,4%

Efek pada janin :
Kompensasi yang terjadi pada fetus adalah :
1. Menurunnya aliran darah pada uterus
2. Menurunnya venous return ibu
3. Kurva dissosiasi oksiHb bergeser ke kiri

Sedangkan pada ibu yang hipoksemia, respon fetus yang terjadi :
1. Menurunnya aliran darah ke tali pusat
2. Meningkatnya resistensi pembuluh darah paru dan sistemik
3. Menurunnya cardiac output

Asma yang tidak ditangani dapat menyebabkan BBLR (Berat badan Lahir rendah). Jika ibu sering mengalami serangan asama selama hamil, maka dapat menyebabkan suplai oksigen ke janin yang sangat diperlukan sel darah merah untuk mengangkut nutrisi ke janin menjadi teganggu sehingga janin dapat mengalami hipoksia dan pertumbuhannya menjadi terhambat (IUGR).

Terhadap ibu didapatkan juga beberapa keadaan seperti preeklampsia 3,3%, hipertensi selama kehamilan 8%, solusio plasenta 2,5%, korioamnionitis 10,4% dan persalinan dengan seksio sesar 26,4%. Oleh karena itu diperlukan perhatian ekstra terhadap ibu dan janin pada wanita hamil dengan asma.

F.Patofisiologi

Pada asma akut, obstruksi akut disebabkan oleh kontraksi otot polos bronkus, meningkatnya sekresi lender, dan radang saluran nafas serangan ini dipicu oleh stimulasi yang beragam misalnya infeksi saluran nafas menghirup tepung sari atau bahan kimia, udara dingin atau kelembapan. Penyempitan bronkus terjadi sebagai respon terhadap infeksi yang diperantai saraf vagus atau akibat dari kerja zat-zat yang dilepaskan oleh sel mast terhadap otot polos, atau sebagai akibat kedua dari mekanisme itu penyempitan bronkiolus meningjkatkan resistensi saluran nafas, menurunkan kecepatan aliran gas, dan menyebabkan terperangkapnya udara. Ketidaksesuaian ventilasi/perfusi yang diakibatkannya menimbulkan hipoksemia, yang mula-mula merangsang pernafasan, mengakibatkan hiperventilasi yang ditunjukan oleh suatu PaCO2 yang rendah dan alkalosis pernafasan akut.

Suatu serangan asthma timbul karena seorang yang atopi terpapar dengan alergen yang ada dalam lingkungan sehari-hari dan membentuk imunoglobulin E ( IgE ). Faktor atopi itu diturunkan. Alergen yang masuk kedalam tubuh melalui saluran nafas, kulit, dan lain-lain akan ditangkap makrofag yang bekerja sebagai antigen presenting cell (APC). Setelah alergen diproses dalan sel APC, alergen tersebut dipresentasikan ke sel Th. Sel Th memberikan signal kepada sel B dengan dilepaskanya interleukin 2 ( IL-2 ) untuk berpoliferasi menjadi sel plasma dan membentuk imunoglobulin E (IgE).

IgE yang terbentuk akan diikat oleh mastosit yang ada dalam jaringan dan basofil yang ada dalan sirkulasi. Bila proses ini terjadai pada seseorang, maka orang itu sudah disensitisasi atau baru menjadi rentan. Bila orang yang sudah rentan itu terpapar kedua kali atau lebih dengan alergen yang sama, alergen tersebut akan diikat oleh Ig E yang sudah ada dalam permukaan mastoit dan basofil. Ikatan ini akan menimbulkan influk Ca++ kedalam sel dan perubahan didalam sel yang menurunkan kadar cAMP.

Penurunan pada kadar cAMP menimbulkan degranulasi sel. Degranulasi sel ini akan menyebabkan dilepaskanya mediator-mediator kimia yang meliputi : histamin, slow releasing suptance of anaphylaksis ( SRS-A), eosinophilic chomotetik faktor of anaphylacsis (ECF-A) dan lain-lain. Hal ini akanmenyebabakan timbulnya tiga reaksi utama yaitu : kontraksi otot-otot polos baik saluran nafas yang besar ataupun yang kecil yang akan menimbulkan bronkospasme, peningkatan permeabilitas kapiler yang berperan dalam terjadinya edema  mukosa yang menambah semakin menyempitnya saluran nafas , peningkatansekresi kelenjar mukosa dan peningkatan produksi mukus. Tiga reaksi tersebut menimbulkan gangguan ventilasi, distribusi ventilasi yang tidak merata dengan sirkulasi darah paru dan gangguan difusi gas ditingkat alveoli, akibatnya akan terjadi hipoksemia, hiperkapnea dan asidosis pada tahap yang sangat lanjut, (Barbara C.L,1996, Karnen B. 1994, William R.S. 1995 )

G. Pemeriksaan fisik

1. Riwayat

Pasien dengan riwayat asma yang telah berlangsung sejak lama ditanya sejak kapan, derajat serangan-serangan sebelumnya. Penggunaan kortikosteroid yang telah lalu, riwayat sering dirawat di rumah sakit, riwayat ventilasi mekanik yang pernah dialami, atau perawatan di ruang rawat darurat yang baru dialami dapat memberikan petunjuk bagi adanya serangan lebih parah atau membandel yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

2. Pemeriksaan Fisik

Serangan yang parah dicurigai dari adanya sesak nafas pada waktu istirahat, kesulitan mengucapkan kalimat, diaforesis atau penggunaan otot-otot pernafasan tambahan. Kecepatan respirasi lebih besar dari 30 kali/menit, nadi berdenyut lebih cepat dari 120 kali/menit dan pulsus paradoksus yang lebih besar dari 18 mmHg menunjukkan serangan berat yang berbahaya.

Gejala yang ditemui : wheezing sedang sampai bronkokonstriksi berat. Bronkospasme akut dapat bergejala obstruksi saluran nafas dan menurunnya aliran udara. Kerja system pernafasan menjadi meningkat drastis dan pada pasien dapat dilihat gerakan dada yang tertinggal, wheezing atau kesukaran bernafas. Peristiwa berikutnya pada refleks oksigen primer terjadi reflek ventilasi perfusi yang tidak sepadan karena distribusi dari saluran udara (bronchus) secara merata tidak terjadi.

3. Pemeriksaan Fungsi Paru

Pemeriksaan fungsi paru seringkali normal dalam masa remisi. Selama masa serangan akut dan kadang-kadang ketika tidak ada simptom, volume ekspirasi paksa dalam satu detik (FEV1) berkurang dan juga kapasitas vital paksa (FVC) mengalami penurunan yang secara proporsional lebih kecil sehingga perbandingan FEV1 terhadap FVC menjadi berkurang (< 0,75). Dapat juga dijumpai hiperinflasi dengan kenaikan volume residual (FRC).

4. Pemeriksaan-pemeriksaan Laboratorium

a. Spirometri

Pengukuran yang objektif terhadap aliran udara sangat penting dalam evaluasi dan terapi terhadap serangan. Perawatan di rumah sakit dianjurkan bila FEV1 inisial kurang dari 30% dari harga normal atau tidak meningkat hingga paling sedikit 40% dari harga normal setelah diberikan terapi kuat selama 1 jam.

b. Gas-gas Darah Arteri (GDA)

Ketimpangan ventilasi dan perfusi (ketimpangan V/Q) akibat obstruksi jalan nafas akan menimbulkan peningkatan selisih tekanan oksigen alveolar-arterial [P(A-a) O2] yang berkorelasi secara kasar dengan keparahan serangan. Tekanan oksigen arterial (Pa O2) kurang dari 60 mmHg bisa merupakan tanda suatu serangan akut atau keadaan yang menyulitkan.

Hampir semua pasien asma yang mengalami serangan ringan hingga sedang-berat akan mengalami hiperventilasi dan mempunyai tekanan CO2 arterial (Pa CO2) kurang dari 35 mmHg. Pada serangan berat atau yang berlangsung lama Pa CO2 bisa meninggi sebagai akibat dari kombinasi obstruksi berat jalan nafas, perbandingan V/Q yang tinggi menyebabkan peningkatan ventilasi, dan kelelahan otot-otot pernafasan. Pa CO2 yang meninggi bisa merupakan tanda bagi kegagalan pernafasan yang sedang mengancam.

Pa CO2 lebih besar dari 40 mmHg yang berkelanjutan dan disertai tanda-tanda lain asma berat, hendaknya dikelola dalam unit perawatan intensif dengan evaluasi yang seksama untuk mengetahui perlu tidaknya diberikan intubasi atau ventilasi mekanik.

c. Foto Thorax

Foto Thorax perlu dilakukan ringan. Pertimbangkan usia kehamilan

G.Penatalaksanaan

a.Mencegah timbulnya stress

b.Mencegah penggunaan obat seperti aspirin  semacamnya yang dapat menjadi pencetus timbulnya serangan

c.Pada penderita asma ringan dapat digunakan obat local yang berbentuk inhalasi atau peroral seperti isoproterenol

d.Serangan asma yang ringan diatasi dengan pemberian bronkodilator hirup misalnya isoproterenol yang akan memperlebar penyempitan saluran udara pada paru-paru. Tetapi obat ini tidak boleh terlalu sering digunakan.

e.Serangan asma yang lebih berat biasanya diatasi dengan infus aminofilin.

Serangan asma yang sangat berat (status asmatikus) diatasi dengan pemberian infus kortikosteroid. Jika terdapat infeksi, diberikan antibiotik.

f.Setelah suatu serangan, bisa diberikan tablet yang mengandung teofilin untuk mencegah serangan lanjutan. Bronkodilator dan kortikosteroid banyak digunakan oleh ibu hamil dan tidak menimbulkan masalah yang berat.

 

Obat asma dibedakan menurut fungsinya, yaitu obat untuk melebarkan saluran nafas (bronkodilator) mengurangi bengkak saluran nafas (anti inflamasi), dan untuk memudahkan pengeluaran lender. Selain itu obat dapat diberiakan melalui peroral, inhaler, infuse, suntikan dan melalui rectal. Namun bagi ibu hamil yang paling aman digunakan adalah melalui inhaler (Alupen efeknya paling keras, Ventolin, Bereotech, Inflamide efeknya paling lembut ), karena efeknya tidak terlalu berdampak dan langsung focus pada saluran nafas, selain itu dosisnya lebih kecil, sehingga relative tidak akan mempengaruhi janin dalam kandungan.

Pengobatan asma secara garis besar dibagi dalam pengobatan non farmakologik dan pengobatan farmakologik

1.Pengobatan non farmakologik

a. Penyuluhan

Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien tentang penyakit asthma sehinggan klien secara sadar menghindari faktor-faktor pencetus, serta menggunakan obat secara benar dan berkonsoltasi pada tim kesehatan.

b. Menghindari faktor pencetus

Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asthma yang ada pada lingkungannya, serta diajarkan cara menghindari dan mengurangi faktor pencetus, termasuk pemasukan cairan yang cukup bagi klien.

c. Fisioterapi

Fisioterpi dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus. Ini dapat dilakukan dengan drainage postural, perkusi dan fibrasi dada.

 

2.Pengobatan farmakologik

a. Agonis beta

Bentuk aerosol bekerja sangat cepat diberika 3-4 kali semprot dan jarak antara semprotan pertama dan kedua adalan 10 menit. Yang termasuk obat ini adalah metaproterenol ( Alupent, metrapel ).

b. Metil Xantin

Golongan metil xantin adalan aminophilin dan teopilin, obat ini diberikan bila golongan beta agonis tidak memberikan hasil yang memuaskan. Pada orang dewasa diberikan 125-200 mg empatkali sehari.

c. Kortikosteroid

Jika agonis beta dan metil xantin tidak memberikan respon yang baik, harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol ( beclometason dipropinate ) dengan disis 800  empat kali semprot tiap hari. Karena pemberian steroid yang lama mempunyai efek samping maka yang mendapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat.

d. Kromolin

Kromolin merupakan obat pencegah asthma, khususnya anak-anak . Dosisnya berkisar 1-2 kapsul empat kali sehari.

  1. Ketotifen

Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2 x 1 mg perhari. Keuntunganya dapat diberikan secara oral.

  1. Iprutropioum bromide (Atroven)

Atroven adalah antikolenergik, diberikan dalam bentuk aerosol dan bersifat bronkodilator.

 

 

 

Pengobatan selama serangan status asthmatikus

  1. Infus RL : D5  = 3 : 1 tiap 24 jam
  2. Pemberian oksigen 4 liter/menit melalui nasal kanul
  3. Aminophilin bolus 5 mg / kg bb diberikan pelan-pelan selama 20 menit dilanjutka drip Rlatau D5 mentenence (20 tetes/menit) dengan dosis 20 mg/kg bb/24 jam.
  4. Terbutalin 0,25 mg/6 jam secara sub kutan.
  5. Antibiotik spektrum luas.

 

 

 

 

 

 

BAB III

Asuhan Kebidanan Pada ibu Hamil dengan Asma

DATA SUBJEKTIF

Seorang ibu hamil dengan umur kehamilan 24 minggu mengeluh sesak napas, dada terasa berat, dan batuk kering sejak memasuki umur kehamilan 24 minggu. Ibu mengatakan pernah menderita asma dan ada keturunan asma dari orang tuanya. baru dialami dapat memberikan petunjuk bagi adanya serangan lebih parah atau membandel yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga. Asmanya sering kambuh kalau terkena debu saat melakukan pekerjaan rumah tangga seperti saat membersihkan rumah.

 

DATA OBJEKTIF

  1. Keadaan umum           : baik               kesadaran        : CM
  2. Status emosional         : stabil
  3. Tanda vital     

Tekanan darah : 120/90

Nadi                : 80 kali/menit

Pernafasan       : 31 kali/menit

Suhu                : 36,50C

BB/TB             : 57 kg/155 cm

 

ASSESMENT

  1. Diagnosa Kebidanan

Ny ‘S’ umur 25 tahun G1P0Ab0Ah0 UK : 24 minggu dengan asma

  1. Masalah

Ibu mengatakan sesak napas, dada terasa berat, dan batuk kering

  1. Kebutuhan

-KIE tentang penyakit asma dalam kehamilan

-KIE cara mencegah timbulnya serangan asma

  1. Diagnosa potensial

Ibu hamil dengan asma berpotensi terjadi abortus, perdarahan pervaginam, persalinan premature, solusio plasenta, korioamnionitis pada ibu; BBLR dan IUGR pada bayi.

  1. Masalah potensial

Tidak ada

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Tidak dilakukan

  1. Kolaborasi

Pemeriksaan laboratorium di Laboratorium ‘CITO’ untuk pemeriksaan spirometri, GDA, dan foto torax

  1. Merujuk

Merujuk ke dr. Ahsanudin SpOg bagian kebidanan Rumah sakit dr. Sarjito untuk pengobatan dan penanganan lebih lanjut.

PLANNING

  1. Menjelaskan kepada ibu bahwa kondisi ibu saat ini baik.

Ibu memahami bahwa kondisinya saat ini baik.

  1. Menjelaskan pada ibu bahwa biasanya serangan asma akan timbul pasa usia kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu karena gerakan diafragma/sekat rongga badan menjadi terbatas.

Ibu memahami bahwa usia kehamilannya saat ini biasanya timbul serangan asma.

  1. Menjelaskan kepada ibu tentang gejala asma, yaitu sesak napas, dada terasa berat, dan batuk kering, dan adanya bunyi nafas/wheezing

Ibu memahami tentang gejala asma.

  1. Menjelaskan pada ibu:
    1. Menghindari faktor pencetus,yaitu allergen. Alergen adalah sat-zat tertentu bila dihisap atau di makan dapat menimbulkan serangan asthma, misalnya debu rumah, tungau debu rumah (Dermatophagoides pteronissynus) spora jamur, serpih kulit kucing, bulu binatang, beberapa makanan laut dan sebagainya..
    2. Menganjurkan pasien untuk menghindari udara berdebu, asap pabrik / kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung hasil pembakara dan serta bau yang tajam.
    3. Menganjurkan ibu untuk mengurangi stressor baik fisik maupun psikologis dengan istirahat cukup, tidak melakukan aktivitas berat/aktivitas yang melelahkan, dan melakukan ralaksasi.

Ibu paham dan akan melaksanakan nasehat bidan

  1. Menjelaskan pada ibu bahwa asma bisa menimbulkan komplikasi pada ibu dan bayi sehingga ibu harus menjaga kondisinya.

Ibu memahami penjelasan bidan dan akan selalu menjaga kondisinya.

  1. Menganjurkan ibu untuk pemeriksaan laboratorium di laboratorium ‘CITO’ untuk pemeriksaan spirometri, GDA, dan foto torax.

Ibu bersedia melakukan pemeriksaan laboratorium di Laboratorium ‘CITO’

  1. Merujuk ibu ke dr. Ahsanudin SpOg bagian kebidanan Rumah Sakit dr. Sarjito untuk pengobatan dan penanganan lebih lanjut.

Ibu bersedia dirujuk ked dr. Ahsanudin SpOg bagian kebidanan Rumah Sakit dr. Sarjito untuk pengobatan dan penanganan lebih lanjut.

  1. Menjelaskan kepada ibu untuk kunjungan ulang satu bulan lagi atau jika ada keluhan.

Ibu bersedia datang satu bulan lagi atau jika ada keluhan.

BAB I

PENDAHULUAN

Diabetes Gestational merupakan komplikasi medis yang paling umum terjadi selama kehamilan tetapi dapat juga berlanjut meski sudah tidak hamil lagi. Pengendalian kadar glukosa darah adalah hal penting selama kehamilan. Menurut penelitian sekitar 40-60 persen ibu yang mengalami diabetes mellitus pada kehamilan dapat berlanjut mengidap diabetes mellitus setelah persalinan. Disarankan agar setelah persalinan pemeriksaan gula darah diulang secara berkala misalnya setiap enam bulan sekali.

Pada pasien yang telah menderita DM sebelumnya jika kemudian hamil maka akan cukup rawan untuk terjadi komplikasi pada janin yang dikandung, dan juga kesehatan si ibu dapat memburuk apabila terjadi komplikasi-komplikasi diabetik. Akhir dari kehamilan penderita DM dapat dibuat lebih aman apabila ditangani dengan penatalaksanaan yang tepat, perawatan yang optimum meliputi inisiasi terapi intensif sebelum konsepsi. Pasien-pasien ini memerlukan diagnosis dan penatalaksanaan prenatal yang khusus.

Faktor risiko diabetes mellitus pada kehamilan adalah riwayat keguguran berulang, pernah melahirkan bayi yang beratnya sama dengan atau melebihi 4000 g, pernah mengalami preeklamsia (keracunan kehamilan), atau pernah melahirkan bayi mati tanpa sebab yang jelas atau bayi dengan cacat bawaan.

Selain itu yang juga merupakan faktor risiko adalah usia ibu hamil yang melebihi 30 tahun, riwayat diabetes mellitus dalam keluarga, serta pernah mengalami diabetes mellitus pada kehamilan sebelumnya.

Penatalaksanaan diabetes pada kehamilan sebaiknya dilakukan secara terpadu antara dokter kebidanan, penyakit dalam, ahli gizi, dan spesialis anak. Sasaran penatalaksanaan adalah mencapai kadar gula darah yang normal yaitu gula darah puasa kurang dari 105 mg/dl dan dua jam sesudah makan kurang dari 120 mg/dl. Sasaran dapat dicapai dengan melakukan pengaturan makan.

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

 

Diabetes mellitus pada kehamilan adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (DM), terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap DM (tetapi belum terdeteksi) yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil.

Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin sehingga kadar gula ibu yang mempengaruhi kadar pada janin. Pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin, disamping beberapa hormon lain : estrogen, steroid dan plasenta laktogen. Akibat lambatnya resopsi makanan maka terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin.

 

Diagnosis

Deteksi dini sangat diperlukan agar penderita DM dapat dikelola sebaik-baiknya. Terutama dilakukan pada ibu dengan factor resiko berupa beberapa kali keguguran, riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab, riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan, melahirkan bayi lebih dari 4000 gr, riwayat PE dan polyhidramnion.

Juga terdapat riwayat ibu : umur ibu > 30 tahun, riwayat DM dalam keluarga, riwayat DM pada kehamilan sebelumnya, obesitas, riwayat BBL > 4500 gr dan infeksi saluran kemih berulang selama hamil.

 

 

 

 

 

 

Klasifikasi :

  1. Tidak tergantung insulin (TTI) – Non Insulin Dependent diabetes mellitus (NIDDN) yaitu kasus yang tidak memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula darah.
  2. Tergantung insulin (TI) – Insulin dependent Diabetes Melitus yaitu kasus yang memerlukan insulin dalam mengembalikan kadar gula darah.

 

Komplikasi

Maternal : infeksi saluran kemih, hydramnion, hipertensi kronik, PE, kematian ibu

Fetal : abortus spontan, kelainan congenital, insufisiensi plasenta, makrosomia, kematian intra uterin,

Neonatal : prematuritas, kematian intra uterin, kematian neonatal, trauma lahir, hipoglikemia, hipomegnesemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia, syndroma gawat nafas, polisitemia.

 

Penatalaksanaan

Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia, yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl, 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl, dan kadar HbA1c<6%. Selain itu juga menjaga agar tidak ada episode hipoglikemia, tidak ada ketonuria, dan pertumbuhan fetus normal. Pantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosila. Ajarkan pasien memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan untuk kontrol 2-4 minggu sekali bahkan lebih sering lagi saat mendekati persalinan. Obat hipoglikemik oral tidak dapat dipakai saat hamil dan menyusui mengingat efek teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI, kenaikan BB pada trimester I diusahakan sebesar 1-2,5 kg dan selanjutnya 0,5 kg /minggu, total kenaikan BB sekitar 10-12 kg.

 

 

 

 

 

Penatalaksanaan Obstetric

Pantau ibu dan janin dengan mengukur TFU, mendengarkan DJJ, dan secara khusus memakai USG dan KTG. Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. Adanya makrosomia pertumbuhan janin terhambat dan gawat janin merupakan indikasi SC. Janin sehat dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa.

Ibu hamil dengan DM tidak perlu dirawat bila keadaan diabetesnya terkendali baik, namun harus selalu diperhatikan gerak janin (normalnya >20 kali/12 jam). Bila diperlukan terminasi kehamilan, lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila UK <38 minggu). Kehamilan dengan DM yang berkomplikasi harus dirawat sejak UK 34 minggu dan baisanya memerlukan insulin.

BAB III

FORMAT DOKUMENTASI ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN DIABETES GESTASIONAL

Data Subjektif

Seorang ibu hamil dengan umur kehamilan 24 minggu mengeluh sering kencing,makan,minum,merasa cepat lelah dan gatal pada daerah gentalia sejak memasuki umur 24 minggu. Ibu mengatakan ada keturunan diabetes mellitus dari orangtuanya. Ibu merasa cemas jika mengidap penyakit diabetes dan akan mempengaruhi kondisinya serta bayinya.

Data Objektif

  1. Keadaan umum                        : baik               kesadaran        : CM
  2. Status emosional           : stabil
  3. Tanda vital

Tekanan darah  : 150 / 100 mmhg

Nadi                  : 80 kali/menit

Pernafasan        : 31 kali/menit

Suhu                 : 36,50C

  1. BB/TB              : 57 kg/155 cm
  2. Status gizi         :

IMT                  : 57/(1,5)² = 25,3

LILA                : 24 cm

  1. Muka                : Oedema
  2. Alat genital       : Kemerahan, bengkak
  3. Ekstrimitas        : Oedema, pucat pada kuku
  4. Pemeriksaan penunjang

1)      Urine         : Protein, glukosa

 

 

ASSESMENT

  1. Diagnosa Kebidanan

Ny ‘S’ umur 30 tahun G1P0Ab0Ah0 UK : 24 minggu dengan diabetes mellitus

  1. Masalah

Ibu mengatakan sering kencing,minum,makan dan cepat lelah

  1. Kebutuhan

KIE tentang penyakit diabetes mellitus

KIE tentang pengaturan makanan

  1. Diagnosa potensial

Terjadi preeklamsi jika penyakit diabetes mellitus tidak segera ditangani

  1. Masalah Potensial

Tidak ada untuk saat ini

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Memberitahu ibu tentang penyakit diabetes mellitus dan pengaturan makan

  1. Kolaborasi

Pemeriksaan di laboratorium untuk periksa kadar glukosa darah dan Hb glikosila

  1. Merujuk

Tidak ada

 

PLANNING

  1. Menjelaskan kepada ibu bahwa kondisi ibu saat ini baik namun .

Ibu memahami bahwa kondisinya saat ini baik.

  1. Menjelaskan pada ibu bahwa biasanya penyakit diabetes biasanya akan timbul pada usia lebih dari 30 tahun dan dalam keluarga ada keturunan penyakit diabetes mellitus.

Ibu memahami bahwa usia 30 tahun dan beresiko tinggi menderita penyakit diabetes mellitus.

  1. Menjelaskan kepada ibu tentang gejala diabetes, yaitu sering kencing,minum, makan, cepat lelah dan mengantuk.

Ibu mengerti gejala diabetes

  1. Menjelaskan pada ibu:
    1. Menganjurkan ibu untuk memantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosila.

Ibu bersedia memantau kadar glukosa darah dan Hb glikosila.

  1. Menganjurkan ibu untuk memantau gerakan janinnya ( > 20 kali/12 jam )

Ibu bersedia memantau gerakan janinnya.

  1. Menganjurkan ibu untuk memantau pengaturan makan dan kenaikan berat badan 0,5 kg/minggu,total kenaikan BB 10-12 kg.

Ibu paham dan akan melaksanakan nasehat bidan

  1. Menjelaskan pada ibu bahwa diabetes bisa menimbulkan komplikai pada ibu dan bayi sehingga ibu harus menjaga kondisinya.

Ibu memahami penjelasan bidan dan akan selalu menjaga kondisinya

  1. Menjelaskan kepada ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan.

Ibu bersedia datang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan.

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Pandangan bahwa perempuan yang menderita penyakit ginjal sebaiknya menghindari kehamilan, telah ada sejak abad lalu. Luaran bayi dipercaya akan kurang baik dan pasien yang menderita penyakit ginjal disarankan melakukan terminasi kehamilan.

Setelah tahun 1975 rasa pesimis itu berganti menjadi optimis sehubungan dengan banyaknya publikasi studi kasus mengenai kehamilan dengan penyakit ginjal yang dikonfirmasi dengan biopsy ginjal, sehingga kebanyakan perempuan dengan gangguan ginjal dapat melewati kehamilan tanpa kelainan yang berarti. Selain itu, data-data mengenai perempuan hamil dengan transplantasi ginjal sejak tahun 2000 telah memberikan hasil yang menggembirakan. Kesemuanya ini memberikan pandangan bahwa sebagian besar perempuan yang mempunyai gangguan fungsi ginjal minimal dapat hamil dengan kemungkinan kehamilannya berhasil mencapai 90%.

Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomic ginjal dan saluran kemih, yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan pemeriksaan hasil laboraturium. Apabila hal itu tidak diperhatikan dan diperhitungkan, ada kemungkinan salah membuat diagnosis, sehingga dapat merugikan ibu dan janin. Untuk itu, diperlukan asuhan yang tepat bagi ibu hamil dengan penyakit ginjal, dan dalam makalah ini akan dibahas tentang penyakit ginjal dalam kehamilan dan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan penyakit ginjal.

  1. Tujuan
    1. Untuk mengetahui perubahan anatomik dan fungsional ginjal dan saluran kemih selama kehamilan.
    2. Untuk mengetahui penyakit-penyakit ginjal dan saluran kemih yang sering terjadi pada kehamilan dan pengaruhnya terhadap kehamilan.
    3. Untuk mengetahui pengaruh kehamilan terhadap penyakit ginjal dan saluran kemih.
    4. Untuk mengetahui asuhan kebidanan yang tepat untuk ibu hamil dengan penyakit ginjal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomic ginjal dan saluran kemih, yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan pemeriksaan hasil laboraturium. Apabila hal itu tidak diperhatikan dan diperhitungkan, ada kemungkinan salah membuat diagnosis, sehingga dapat merugikan ibu dan janin. Perubahan anatomic terdapat peningkatan pembuluh darah, dan ruangan intertisiil pada ginjal. Dan juga ginjal akan memanjang kira-kira 1 cm. Semuanya itu akan kembali normal setelah melahirkan. Ureter, pielum dan kaliks mengalami pelebaran dalam kurun waktu yang pendek sesudah kehamilan 3 bulan, dan terutama pada sisi sebelah kanan. Pelebaran yang tidak sama ini mungkin karena perubahan uterus yang membesar dan mengalami dekstrorotasi atau karena terjadinya penekanan pada vena ovarium kanan yang terletak di atas ureter, sedangkan pada yang di sebelah kiri tidak terdapat karena adanya sigmoid sebagai bantalan. Pelebaran juga karena pengaruh progesterone, sehingga terjadi hidroureter dan hidronefrosis fisiologis dalam kehamilan. Ureter juga mengalami pemanjangan, melekuk, dan kadang berpindah letak ke lateral, dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. Semua hal di atas dapat dilihat dengan pemeriksaan pielografi intravena (IVP=intravenosus pylography).

Selain itu juga terjadi hyperplasia dan hipertrofi otot dinding ureter dan kaliks, dan berkurangnya tonus otot-otot saluran kemih karena pengaruh kehamilan. Dilatasi ureter ini memunginkan timbulnya refluks air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter. Akibat pembesaran uterus, hiperemi organ-organ pelvis dan pengaruh hormonal, terjadi perubahan pada kandung kemih yang dimulai pada kehamilan usia 4 bulan. Kandung kemih akan berpindah ke lebih anterior dan superior. Pembuluh-pembuluh di daerah mukosa akan membengkak dan melebar. Otot kandung kemih mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormone esterogen. Kapasitas kandung kemih meningkat sampai 1 Liter, kemungkinan karena efek relaksasi dari hormone progesterone.

Perubahan fungsi

Segera sesudah konsepsi, terjadi peningkatan aliran plasma (RPF) dan tingkat filtrasi glomerolus (GFR). Sejak kehamilan trimester 2 GFR akan meningkat sampai 30-50%, di atas nilai normal wanita tidak hamil. Akibatnya akan terjadi penurunan dari kadar kreatinin serum dan urea nitrogen darah. Nilai normal kreatinin serum adalah 0,5 mg-0,7 mg/100 ml dan urea nitrogen darah 8-12 minggu/100ml.

Infeksi saluran kemih

Infeksi saluran kemih adalah bila pada pemeriksaan urin, ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 per ml. urin yang diperiksa harus bersih, segar, dan dari aliran tengah (midstream) atau duambil dengan pungsi suprasimpisis. Ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 103  per ml ini disebut dengan istilah bakteriuria. Bakteriuria ini mungkin tidak disertai gejala, disebut bakteriuria asimtomatik, dan mungkin pula disertai dengan gejala-gejala disebut bakteriuria simptomatik. Walaupun infeksi ini dapat terjadi karena penyebaran kuman melalui pembuluh darahatau saluran limfe, akan tetapi yang terbanyak atau tersering adalah kuman-kuman naik ke atas melalui uretra, ke dalam kandung kemih dan saluran kemih yang lebih atas. Kuman yang tersering dan terbanyak sebagai penyebab adalah Escheria coli (E.coli), di samping kemungkinan kumn-kuman lain seperti Enterbacter aerogenes, Klebsiella, Psedomonas dan lain-lain.

  1. Bakteriuria tanpa gejala (asimptomatik)

Frekuensi bacterium tanpa gejala kira-kira 2-10 %, dan dipengaruhi oleh parietas, sosioekonomi wanita hamil tersebut. Di Amrika Serikat paling tiggi ditemukan pada wanita Negro. Di RS Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta, frekuensi bakteriuria tanpa gejaala dalam kehamilan sangat tinggi, yaitu 25%.

Beberapa peneliti mendapatkan adanya hubungan kejaian bakteriuria ini dengan peningkatan kejadian anemia dalam kehamilan persalinan premature, gangguan pertumbuhan janin, dan preeklamsia. Oleh karena itu pada wanita hamil dengan bakteriuria harus diobati dengan seksama sampai air kemih bebas dari bakteri yan dibuktikan dengan pemeriksaan beberapa kali. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian obat sulfonamide ampisilin, atau nitrofurantoin.

  1. Bakteriuria dengan gejala (simptomatik)

SISTISIS

Sistitis adalah peradangan kandung kemih tanpa disertai radang bagian atas saluran kemih. Sistitis ini cukup dijumpai dalam kehamilan dan nifas. Kuman penyebab utama adalah E.coli, di samping dapat pula oleh kuman-kuman lain. Factor predisposisi lain adalah uretra wanita yang pendek, sistokel, adanya sisa air kemih yang tertinggal, di samping penggunaan kateter yang sering dipakai dalam usaha mengeluarkan air kemih dalam pemeriksaan ginekologik atau persalinan. Penggunaan kateter ini akan mendorong kuman-kuman yang ada di uretra distal untuk masuk ke dalam kandung kemih. Dianjurkan untuk tidak menggunakan kateter bila tidak perlu betul.

Gejala-gejala sistitis khas sekali, yaitu disuria terutama pada akhir berkemih, meningkatnya frekuensi bekemih dan kadang-kadang disertai nyeri di bagian atas simpisis, perasaan ingin berkemih yang tidak dapat ditahan,air kemih kadang-kadang terasa panas, suhu badan mungkin normal atau meningkat, dan nyeri di daerah suprasimpisis. Pada pemeriksaan laboratorium, biasanya ditemukan banyak leukosit dan eritrosit dan kadang-kadang juga ada bakteri. Kadang-kadang dijumpai hematuria sedangkan proteinuria biasanya tidk ada.

Sistititis dapat diobati dengan sulfonamide, ampicilin, eritromisin. Perlu diperhatikan obat-obat lain yang baik digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih, akan tetapi mempunyai pengaruh tidak bagi janin, ataupun bagi ibu.

 

PIELONEFRITIS AKUTA

Merupakan salah satu komplikasi yang sering dijumpai dalam kehamilan, dan frekuensinya kira-kira 2%, terutama pada kehamilan terakhir, dan permulaan masa nifas.

Penyakit ini biasanya disebabkan oleh Escheria coli, dan dapat pula oleh kuman-kuman lain seperti Stafilokokus aereus, Basillus proteus, dan pseudomonas aeruginosa. Kuman dapat menyebar secara hematogen atau limfogen, akan tetapi terbanyak berasal dari kandung kemih. Predisposisinya antara lain yaitu penggunaan kateter untuk mengeluarkan air kemih waktu persalinan atau kehamilan, air kemih yang tertahan sebab perasaan sakit waktu berkemih karena trauma persalinan, atau luka pada jalan lahir. Diajurkan tidak menggunakan kateter untuk mengeluarkan air kemih, bila tidak diperlukan betul. Penderita yang menderita pielonefritis kronik atau glomeroluneftitis kronik yang sudah ada sebelum kehamilan, sangat mendorong terjadinya pielonefritis akuta ini.

Gejala-gejala penyakit biasanya timbul mendadak, wanita yang sebelumnya merasa sakit sedikit pada kandung kemih, tiba-tiba menggigil, badan panas, dan rasa nyeri di punggung (angulus kostovertebralis) terutama sebelah kanan. Nafsu makan berkurang, mual, muntah-muntah, dan kadang diare, dan dapat pula jumlah urin sangat berkurang (oligouria). Pada pemeriksaan air kemih ditemukan banyak sel leukosit dan sering bergumpal-gumpal, silinder sel darah, dan kadang-kadang ditemukan bakteri E.coli. pembiakan air kemih menunjukkan hasil positif. Perlu diperhatikan diagnosis banding lain seperti appendicitis akuta, solusio plasenta, tumor putaran tungkai, dan infeksi nifas.

Pengobatan pielonefritis akuta, penderita harus dirawat, istirahat berbaring, dan diberikan cukup cairan dan antibioitika seperti ampicilin atau sulfonamide, sampai tes kepekaan kuman ada, kemudian tes antibiotic disesuaikan dengan hasil tes kepekaan tersebut. Biasanya pengobatan berhasil baik, walaupun kadang-kadang penyakit ini dapat timbul lagi. Pengobatan sedikitnya dilanjutkan selama 10 hari, dan kemudian penderita harus tetap diawasi akan kemungkinan berulangnya penyakit. Perlu diingat ada obat-obat yang tidak boleh diberikan pada kehamilan walaupun mungkin baik untuk pengobatan infeksi saluran kemih seperti tetrsiklin. Terminasi kehamilan segera biasanya tidak diperlukan, kecuali apabila pengobatan tidak berhasil atau fungsi ginjal makin memburuk. Prognosis bagi ibu umumnya cukup baik bila pengobatan cepat dan tepat diberikan, sedangkan pada hasil konsepsi seringkali menimbulkan keguguran atau persalinan premature.

PIELONEFRITIS KRONIKA

Pielonefritis kronik biasanya tidak atau sedikit sekali menunjukkkan gejala-gejala penyakit saluran kemih, dan merupakan predisposisi terjadinya pielonefritis akuta dalam kehamilan. Penderita mungkin menderita tekanan darah tinggi. Pada keadaan penyakit yang lebih berat didapatkan penurunan tingkat filtrasi glomerolus (GFR) dan pada urinalisis urin mungkin normal, mungkin ditemukan protein kurang dari 2 gr per hari, gumpalan sel-sel darah putih.

Prognosis bagi ibu dan janin tergantung dari luasnya kerusakan jaringan ginjal. Penderita yang hipertensi dan insufisiensi ginjal mempunyai prognosis buruk. Penderita ini sebaiknya tidak hamil, karena risiko tinggi. Pengobatan penderita yang menderit pielonefritis kronika ini tidak banyak yang dapat dilakukan, dan kalau menunjuk ke arah pielonefritis akuta, terapi sperti yang telah diuraikan. Perlu dipertimbangkan untuk terminasi kehamilan pada penderita yang menderita pielonefritis kronika.

GLOMERULONEFRITIS AKUTA

Glomerulonefritis akuta jarang dijumpai pada wanita hamil. Peyakit ini dapat timbul setiap saat dalam kehamilan, dan penderita nefritis dapat menjadi hamil. Yang menjadi penyebab biasanya Streptococcus beta-haemolyticus jenis A. sering ditemukan bahwa penderita pada saat yang sama atau beberapa minggu sebelumnya menderita infeksi jalan pernapasan, seperti tonsillitis, atau infeksi lain-lain oleh streptokokus, suatu hal yang menyokong teori infeksi local.

Gambaran klinik ditandai oleh timbulnya hematuria dengan tiba-tiba, edema dan hipertensi pada penderita sebelumnya tampak sehat. Kemudian sindroma ditambah dengan oligouria sampai anuria, nyeri kepala, dan mundurnya visus (retinitis albuminika). Diagnosis menjadi sulit apabila timbul serangan kejang-kejang dengan atau tanpa koma yang disebabkan oleh komplikasi hipertensi serebral, atau oleh uremia, atau apabila timbul edema paru-paru akut. Apabila penyakitnya diketahui dalam trimester III, maka perbedann dengan preeklamsia dan eklampsia selalu harus dibuat. Pemeriksaan air kencing menghasilkan sebagai berikut: sering proteinuria, ditemukan eritrosit dan silinder hialin, silinder korel, dan silinder eritrosit.

Pengobatan sama di luar kehamilan dengan perhatian khusus, istirahat baring, diet yang sempurna dan rendah garam, pengendalian hipertensi serta keseimbangan cairan dan elektrolit. Untuk pemberantasan infeksi cukup diberi penicillin, karena streptococcus peka terhadap penicillin. Apabila ini tidak berhasil, maka harus dipakai antibiotika yang sesuai dengan hasil tes kepekaan.

Biasanya penderita sembuh tanpa sisa-sisa penyakit dan fungsi ginjal yang tetap baik. Kehamilan dapat berlangsung sampai lahirnya anak hidup, dan apabila diinginkan wanita boleh hamil lagi di kemudian hari. Ada kalanya penyakit menjadi menahun dengan segala akibatnya. Ada umumnya prognosis ibu cukup baik. Kematian ibu sangat jarang, dan apabila terjadi biasanya itu diakibatkan oleh dekompensasi kordis, komplikasi serebro-vaskuler anuria, dan uremia.

Kehamilan tidak banyak mempengaruhi jalan penyakit. Sebaliknya glomerulonefritis akuta mempunyai pengaruh tidak baik terhadap hasi konsepsi; terutama yang disertai tekanan darah yang sangat tingggi dan insufisiensi ginjal, dapat menyebabkan abortus, partus prematurus dan kematian janin.

GLOMERULONEFRITIS KRONIKA

Wanita hamil dengan glomerulonefritis kronika sudah menderita penyakit itu beberapa tahun sebelumnya. Karena itu, pada pemeriksaan kehamilan pertama dapat dijumpai proteinuria, sedimen yang  tidak normal, dan hipertensi. Diagnosis mudah dibuat bila dijumpai proteinuria, sedimen yang  tidak normal, dan hipertensi. Apabila gejala-gejala penyakit penyakit baru timbul dalam kehamilan yang sudah lanjut, atau ditambah dengan pengaruh kehamilan (superimposed preeclampsia), maka lebih sulit untuk membedakannya dari preeklampsi  murni.

Suatu ciri tetap ialah makin memburuknya fungsi ginjal karena makin lama makin banyak kerusakan yang diderita oleh glomerulus-glomerulus ginjal, bahkan sampai mencapai tingkat akhir, yakni apa yang disebut ginjal kisut. Penyakit ini dapat menampakkan diri dalam 4 macam: (01) hanya terdapat proteinuria menetap dengan atau tanpa kelainan sedimen; (02) dapat menjadi jelas sebagai sindroma nefrotik; (03) dalam bentuk mendadak seperti pada glomerulonefritis akuta; (04) gagal ginjal sebagai penjelmaaan pertama. Keempat-empatnya dapat menimbulkan gejala-gejala insufisiensi ginjal dan penyakit kardiovaskuler hipertensif.

Selain proteinuria, kelainan sedimen dan hipertensi, dapat pula dijumpai edema (terutama di muka), dan anemia. Pemeriksaan kimiawi darah menunjukkan urea-nitrogen, kadar asidum urikum, dan kadar kreatinin yang tinggi. Pengeluaran fenosufonftalein dan kreatinin oleh ginjal lebih lambat.

Pengobatan tidak memberi hasil yang memuaskan karena penyakitnya bertambah berat. Peningkatan penyakit, tensi yang sangat tinggi, dan tambahan dengan pielonefritis akuta harus ditanggulangi dengan seksama. Dalam hal-hal terakhir pengakhiran kehamilan perlu dipertimbangkan. Sebaiknya penderita glomerulonefritis kronika tidak menjadi hamil. Karena kerusakan ginjal  berbeda-beda pada waktu penderita ditemukan hamil, maka sulit untuk menafsirkan pengaruh kehamilan pada jalan penyakit. Yang tanpa kehamilan juga makin lama makin menjadi lebih buruk. Agaknya kehamilan tidak mempercepat proses kerusakan ginjal, walaupun sebaliknya dapat pula terjadi.

Prognosis bagi ibu akhirnya buruk: ada yang segera meninggal, ada yang agak lama. Hal itu tergantung dari luasnya kerusakan ginjal waktu diagnosis dibuat, dan ada atau tidaknya faktor-faktor yang mempercepat proses penyakit.

Prognosis bagi janin dalam kasus tertentu tergantung pada fungsi ginjal dan derajat hipertensi. Wanita dengan fungsi ginjal yang cukup baik tanpa hipertensi yang berarti dapat melanjutkan kehamilan sampai cukup bulan walaupun biasanya bayinya lahir dismatur akibat insufisiensi placenta. Apabila penyakit sudah berat, apalagi disertai tekanan darah yang sangat tinggi, biasanya kehamilan berakhir dengan abortus dan partus prematurus, atau janin mati dalam kandungan.

SINDROMA NEFROTIK

Sindroma nefrotik, yang dahulu dikenal dengan nama nefrosis, ialah suatu kumpulan gejala yang terdiri atas edema, proteinuria (lebih dari 5 gram sehari), hipoalbuminemia, dan hiperkolesterolemia. Mungkin sindroma ini diakibatkan oleh reaksi antigen-antibodi dalam pembuluh-pembuluh kapiler glomerulus. Penyakit-penyakit yang dapat menyertai sindroma nefrotik adalah glomerulonefritis kronika (paling sering), lupus eritemosus, DM, amiloidosis, sifilis, dan thrombosis vena renalis. Selain itu sindroma ini dapat pula timbul akibat keracunan logam berat (timah, air raksa), obat-obatan antikejang, serta racun serangga.

Apabila kehamilan disertai sindroma nefrotik, maka pengobatan serta prognosis ibu dan anak tergantung pada faktor penyebabnya dan pada beratnya insufisiensi ginjal.

Sedapat mungkin faktor penyebabnya harus dicari; jikalau perlu, dengan biopsy ginjal. Penderita harus diobati dengan seksama, atau pemakaian obat-obat yang menjadi sebab harus dihentikan. Penderita diberi diet tinggi protein. Infeksi sedapat-dapatnya dicegah dan yang sudah ada harus diberantas dengan antibiotika. Tromboembolismus dapat timbul dalam nifas. Siberman dan Adam mengajarkan pengobatan antibeku (heparin) dalam nifas pada wanita dengan sindroma nefrotik. Dapat pula diberi obat-obat kortikosteroid dalam dosis tinggi.

GAGAL GINJAL MENDADAK DALAM KEHAMILAN

Gagal ginjal mendadak (acute renal failure) merupakan komplikasi yang sangat gawat dalam kehamilan dan nifas, karena dapat menimbulkan kematian atau kerusakan fungsi ginjalyang tidak bisa sembuh lagi.  Kejadiannya 1 dalam 1300-1500 kehamilan.

Kelainan ini didasari oleh 2 jenis patologi.

  1. Nekrosis tubular akut, apabila sumsum ginjal mengalami kerusakan.
  2. Nekrosis kortikal bilateral apabila sampai kedua ginjal ayng menderita.

Penderita yang mengalami gagal ginjal mendadak ini sering dijumpai pada kehamilan muda 12-18 minggu, dan kehamilan telah cukup bulan. Pada kehamilan muda, sering diakibatkan oleh abortus septic yang diakibatkan oleh bakteri Chlostridia welchii atau streptococcus. Gambaran klinik lain yaitu berupa sepsis, dan adanya tanda-tanda oligouria mendadak dan azothemia serta pembekuan darah intravaskuler (DIC), sehingga terjadi nekrosis tubular yg akut. Kerusakan ini dapat sembuh kembali bila kerusakan tubulus tidak terlalu luas dalam waktu 10-14 hari. Seringkali dilakukan tindakan tindakan histerektomi untuk menagatasinya, akan tetapi ada peneliti yang menganjurkan tidak perlu melakukan operasi histerektomi tersebut asalkan penderita diberikan antibiotic yang adekuat dan intensif serta dilakukan dialysis terus menerus sampai fungsi ginjal baik. Lain halnya dengan nekrosis kortikal yang bilateral, biasanya dihubungkan dengan solusio plasenta, preeclampsia berat atau eklampsia, kematian janin dalam kandungan yang lama, emboli air ketuban yang mnyebabkan terjadinya DIC,  reaksi transfuse darah atau pada perdarahan banyak yang dapat menimbulkan iskemi.

Penderita dapat meninggal dalam waktu 7-14 hari setelah timbulnya anuria. Kerusakan jaringan dapat terjadi di beberapa tempat yang tersebar atau ke seluruh jaringan ginjal.

Pada masa nifas sulit diketahui sebabnya,  sehingga disebut sindrom ginjal idiopatik postpartum. Penanggulangan pada keadaan ini, penderita diberi infuse, atau transfusi darah, diperhatikan keseimbangan elektrolit dan cairan dan segera dilakukan hemodialisis bila ada tanda-tanda uremia. Banyak penderita membutuhkan hemodialis secara teratur atau dilakukan transplantasiginjal untuk ginjal yang tetap gagal. Gagal ginjal dalam kehamilan ini dapat dicegah bila dilakukan:

  1. Penangan kehamilan dan persalinan dengan baik:
  2. Perdarahan, syok, dan infeksi segera diatasi atau diobati dengan baik;
  3. Pemberian trannfusi darah dengan hati-hati.

BATU GINJAL (NEFROLITIASIS) DAN SALURAN KEMIH (UROLITIASIS)

Batu saluran kemih dalam kehamilan tidaklah biasa. Frekuensinya sangat sedikit 0.03-0,07%. Walaupun demikian perlu juga diperhatikan karena urotiasis ini dapat mendorong timbulnya infeksi saluran kemih, atau menimbulkan keluhan pada penderita berupa nyeri mendadak, kadang-kadang berupa kolik, dan hematuria. Perlu anamnesis tentang riwayat penyakit sebelumnya, terutama mengenai penyakit saluran kencing, untuk membantu membuat diagnosis urolitiasis. Diagnosis lebih tepat dengan melakukan pemeriksaan intravenous pielografi; akan tetapi janin harus dilindungi dari efek penyinaran. Dewasa ini dapat pula dengan USG dan MRI.

Bila diketahui adanya urolitiasis dalam kehamilan, terapi pertama adalah analgetika untuk menghilangkan sakitnya, diberi cairan banyak agar batu dapat ke bawah, karena hampir  80% batu akan dapat turun ke bawah, serta antibiotika. Pada penderita yang membutuhkan tindakan operasi, sebaiknya operasi dilakukan setelah trimester pertama atatu setelah post partum. Pada batu buli-buli, bila batu tersebut diperkirakan menghalangi jalannya persalinan, kehamilan diakhiri dengan SC, dan batu diangkat post partum dengan seksio alta atau lipotripsi.

GINJAL POLIKISTIK

Ginjal polikistik merupakan kelainan bawaan (herediter). Kehamilan umunya tidak mempengaruhi perkembangan pembentukan kista pada ginjal, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi bila fungsi ginjal kurang baik, maka kehamilan akan memperberat atau merusak fungsinya. Sebaliknya wanita yang telah mempunyai kelainan sebaiknya tidak hamil karena kemungkinan timbul komplikasi akibat kehamilan selalu tingggi.

TUBERKULOSIS GINJAL

Jarang dijumpai wanita hamil dengan tuberculosis ginjal, walaupun dalam literature disebutkan ada. Kehamilan akan mempengaruhi TBC ginjal tersebut, bila tidak diobati. TBC pada ginjal dapat hamil terus, asal fungsi ginjalnya baik.

Diagnosis TBC ginjal ditentukan bila ditemukan tuberkel kuman MIkrobakterium tuberculosis pada ginjal, tetapi hal ini sulit dilakukan karena diperlukan tindakan invasive. Tes Tuberkulin tidak dapat dijadikan patokan karena kehamilan mengurangi sensitivitas tuberculin. Diagnosis dapat ditegakkan bila ditemukan leukosit, eritrosit, dan tuberculosis dalam urin.

Penanganan TBC ginjal dalam kehamilan:

  1. Konservatif, dengan mengobati gejala yang timbul sampai akhir kehamilan.
  2. Paliatif, dengan melakukan terminasi kehamilan bertujuan untuk mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh proses tuberculosis.
  3. Radikal, yang terdiri atas nefroktomi atau kombinasi aborsi dan nefrektomi. Nefrektomi merupakan pilihan apabila tuberculosis hanya terjadi pada 1 ginjal. Tindakan ini diperlukan pada 69% kasus tuberculosis ginjal dengan eksaserbasi akut pada kehamilan. Aborsi tidak menghentikan proses tuberculosis.

Komplikasi yang dapat terjadi adalah abortus dan janin yang terinfeksi. Mortalitas ibu dan bayi apabila tidak diobati berkisar 30-40%. Terapi TBC ginjal sama dengan terapi TBC organ-organ lain. Untuk membuat diagnosis TBC ginjal diperlukan pemeriksaan laboraturium khusus

KEHAMILAN PASCA NEFREKTOMI

Pada penderita yang mempunyai  1 ginjal karena kelainan congenital atau pasca nefrektomi, dapat atau boleh hamil sampai aterm asalkan fungsi ginjalnya normal. Perlu pemeriksaan fungsi ginjal sebelum hamil dan selama kehamilan serta diawasi dengan baik karena kemungkinan timbulnya infeksi saluran kemih. Persalinan dapat berlangsung pervaginam kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu.

KEHAMILAN PASCA TRANSPLANTASI GINJAL

Akhir-akhir ini terdapat laporan tentang kehamilan sampai cukup bulan, setelah wanita mengalami transplantasi ginjal. Prognosisnya cukup baik, bila ginjal yang diimplantasikan tersebut berasal dari donor yang hidup. Selama kehamilan mungkin timbul kompikasi pada ibu dan janinnya.

Kira-kira 50% kehamilan akan berakhir dengan kelahiran premature, dan mungkin pula timbul komplikasi hipertensi, proteinuria, atau infeksi saluran kemih. Pada ginjal sendiri mungkin dapat timbul kerusakan yang sifatnya dapat pulih kembali normal.

Bila ginjal yang ditransplantasikan tersebut berasal dari ginjal donor yang telah meninggal (cadaver), maka kemungkinan akan terjadi kerusakan atau fungsi ginjal akan memburuk setelah 1 tahun, sehingga pada waniat tersebut harus dilakukan dialysis terus menerus untuk mempertahankan kehidupannya. Wanita yang menginginkan hamil hamil setelah dapat tranplantasi giinjal, haruslah diawasi ketat oleh spesialis obstetric dan spesialis penyakit ginjal.

Sebaiknya tentu wanita ini tidak hamil lagi. Davidson dkk mengajukan 8 kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang wanita yang telah mendapatkan transplantasi ginjal, untuk diperbolehkan hamil.

  1. Kesehatan penderita dalam keadaan baik dalam waktu 1-2 tahun setelah mendapatkan transplantasi ginjal
  2. Tidak ada kontraindikasi obstetric untuk ibu hamil.
  3. Tidak ada proteinuria
  4. Tidak ada tanda-tanda penolakan graft
  5. Fungsi ginjal harus baik, dengan hasil pemeriksaan laboraturium didapat kadar kreatinin darah antara 0,8 -2 mg/ml
  6. Tidak ada tanda-tanda bendungan, yang dibuktikan dengan pemeriksaan urogram
  7. Tidak ada tanda-tanda hipertensi
  8. Mendapat terapi
    1. Prednisone 10-15 mg/hari
    2. Aothioprin 2-3 mg/kg bb/ hari

Perlu diperhatikan kriteria Davidson tersebut, agar wanita yang mempunyai transplantasi ginjal dapt ditolong, sehingga kehamilan tidak membuat penderita atau janin mengalami komplikasi yang tidak diharapkan sama sekali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN

Seorang ibu umur 27 tahun G2P1Ab0Ah1 umur kehamilan 26 minggu dengan pielonefritis akut

Di BPS Bonita Dewi

 

DATA SUBJEKTIF

Seorang ibu hamil dengan umur kehamilan 26 minggu mengeluh merasa sakit sedikit pada kandung kemih, badan panas, menggigil, dan rasa nyeri di punggung kanan. Ibu mengaku nafsu makannya berkurang, mual, muntah-muntah, dan sering BAK tetapi air kencingnya sedikit.

Ibu mengatakan pernah menderita penyakit infeksi saluran kemih pada usia 19 tahun.

Ibu mengatakan anak pertamanya lahir 3 tahun yang lalu dengan persalinan normal, tetapi dijahit 8, dan pernah menggunakan kateter setelah melahirkan.

 

DATA OBJEKTIF

Pemeriksaan Fisik

  1. Keadaan umum      : lemah             kesadaran        : Compos Mentis
  2. Status emosional    : stabil
  3. Tanda vital

Tekanan darah        : 130/ 90 mmHg

Nadi                       : 94 kali / menit

Pernafasan              : 26 kali / menit

Suhu                       : 38,6 0C

  1. BB/TB                    : 59 kg / 155 cm
  2. Palpasi kandung kemih: nyeri
  3. Perkusi region lumbal : nyeri pada sisi kanan sudut costovertebra

 

Pemeriksaan penunjang

Tanggal 23 Maret 2010

-          Pemeriksaan urine ditemukan banyak sel leukosit dan sering bergumpal-gumpal, silinder sel darah, dan ditemukan bakteri E.coli. pembiakan air kemih menunjukkan hasil positif.

-          Pemeriksaan Hb, hasilnya Hb=10,5 gr%

 

ASSEMENT

  1. Diagnosis Kebidanan

Sekundigravida umur 27 tahun  UK : 26 minggu dengan pielonefritis akut

  1. Masalah

Ibu tidak mengetahui penyakit yang dideritanya.

  1. Kebutuhan

KIE tentang pileonefritis akut.

  1. Diagnosis potensial

Kehamilan dengan pielonefritis akut berpotensi terjadinya pielonefritis kronik.

  1. Masalah Potensial

Tidak ada

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Tidak dilakukan

  1. Kolaborasi

Dengan Laboratrium Pramita untuk pemeriksaan urine

  1. Merujuk

Ke RSUP Sardjito untuk terapi obat dan tindakan medis selanjutnya.

 

 

 

 

 

PLANNING (Termasuk Pendokumentasian Implementasi dan Evaluasi)

Tanggal 24 Maret 2010           jam 09.00 WIB

 

  1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa keluhan yang dialami ibu seperti sakit sedikit pada kandung kemih, badan panas, menggigil dan rasa nyeri di punggung kanan, nafsu makan berkurang, mual, muntah-muntah, dan sering BAK tetapi air kencingnya sedikit merupakan tanda gejala penyakit radang ginjal atau yang disebut pielonefritis akut.

Ibu dan keluarga cemas mendengar penjelasan bidan.

  1. Memberikan KIE singkat tentang pielonefritis akut yaitu merupakan infeksi bakteri pada bagian organ ginjal yang dapat disebabkan karena infeksi kuman akibat pemasangan kateter, serta adanya riwayat infeksi saluran kemih yang pernah diderita oleh ibu. Ibu dan keluarga mengerti penjelasan singkat yang diberikan bidan.
  2. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa ibu perlu dirujuk untuk terapi obat dan tindakan medis lebih lanjut ke RSUP Sardjito.

Ibu dan keluarga bersedia jika ibu dirujuk ke RSUP Sardjito.

  1. Mendampingi ibu merujuk ke Sardjito sambil terus memantau tanda-tanda vital ibu.

Tekanan Darah:130/90 mmHg

Nadi                : 91 kali / menit

Pernafasan       : 24 kali / menit

Suhu                : 38,6 0C

  1. Mengurus alur perujukan ibu.

RSUP Sardjito telah menerima perujukan.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Wiknyosastro, Hanifah. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono.

BAB I

PENDAHULUAN

Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain

Letak lintang merupakan salah satu malpresentasi janin yang dapat menyebabkan kelambatan atau kesulitan dalam persalinan. Letak lintang merupakan keadaan yang berbahaya karena besarnya kemungkinan risiko kegawatdaruratan pada proses persalinan baik pada ibu maupun janin.

Pada penelitian yang dilakukan di RSUP Dr.Pirngadi, Medan dilaporkan angka kejadian letak lintang sebesar 0,6 %; RS Hasan Sadikin bandung 1,9 %; RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo selama 5 tahun 0,1 % dari 12.827 persalinan; sedangkan Greenhill menyebut angka 0,3 % dan Holland 0,5-0,6 %.

Bila persalinan letak lintang dibiarkan tanpa pertolongan akan dapat menyebabkan kematian baik pada ibu maupun janin. Ruptur uteri, perdarahan dan infeksi berakibat fatal bagi ibu sedangkan pada janin bisa terjadi prolapsus umbilikus, asfiksia hingga berlanjut pada kematian janin.

Letak lintang terjadi rata-rata pada 1 dari 322 kelahiran tunggal (0,3%) baik di Mayo Clinic maupun di University of Iowa Hospital (Cruikshank dan White, 1973; Johnson, 1964). Di Parkland Hospital, dijumpai letak lintang pada 1 dari 335 janin tunggal yang lahir selama lebih dari 4 tahun. Janin letak lintang seringkali ditemukan dengan pemeriksaan USG pada awal gestasi. Angka kejadian meningkat jika janinnya prematur.

Beberapa Rumah sakit di Indonesia melaporkan angka kejadian letak lintang, antara lain: RSUP Dr.Pirngadi, Medan 0,6 %; RS Hasan Sadikin Bandung 1,9 %; RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo selama 5 tahun 0,1 % dari 12.827 persalinan; sedangkan Greenhill menyebut angka 0,3 % dan Holland 0,5-0,6 %.

Sehingga dengan adanya insidensi letak lintang yang cukup tinggi sebagai tanaga kesehatan khususnya bidan haruslah mengetahui seluk beluk dari letak lintang tersebut sehingga dapat mendeteksi lebih dini jika terjadi kelainan letak lintang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

  1. a. Definisi

Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi yang lain. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin, sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul. Punggung janin dapat berada di depan (dorsoanterior), di belakang (dorsoposterior) atau di bawah (dorsoinferior).

 

  1. b. Etiologi

Penyebab paling sering adalah kelemahan otot uterus dan abdomen. Kelaianan letak paling sering terjadi pada wanita paritas tinggi (grande multipara). Faktor lain yang mendukung terjadinya letak lintang adalah plasenta previa, selain itu juga ada beebrapa faktor yang mendukung terjadinya letak lintang yaitu: kehamilan ganda, polihidramnion, abnormalitas uterus, pengkerutan pelvis, fibroid uterus yang besar.

 

  1. c. Diagnosis

Letak lintang mudah didiagnosis dalam kehamilan dari bentuk uterus, terlihat melebar, lebih menonjol ke salah satu bagian abdomen, engan TFU rendah. Palpasi akan teraba kepala janin pada salah satu sisi dan bokong pada sisi yang lain, tetapi tidak ada bagian presentasi yang berada di pelvis. Pada palpasi kepala janin atau bokong ditemukan di salah satu bagian fossa iliaca. USG dapat digunakan untuk memastikan dignosis untuk mendeteteksi kemungkinan penyebab.

 

 

  1. d. Proses Persalinan

Setelah ketuban pecah, jika persalinan berlanjut, bahu janin akan dipaksa masuk ke dalam panggul dan tangan yang sesuai sering menumbung. Setelah terjadi sedikit penurunan, bahu tertahan oleh tepi atas panggul, dengan kepala di salah satu fossa iliaca dan bokong pada fossa iliaca yang lain. Bila proses persalinan berlanjut, bahu akan terjepit kuat di bagian atas panggul. Uterus kemudian berkontraksi dengan kuat dalam upayanya yang sia-sia untuk mengatasi halangan tersebut. Setelah beberapa saat, akan terbentuk cincin retraksi yang semakin lama semakin meninggi dan semakin nyata. Keadaan ini disebut sebagai letak lintang kasep. Jika tidak cepat ditangani dengan benar, uterus akhirnya akan mengalami ruptur dan baik ibu maupun bayi dapat meninggal.

Bila janin amat kecil (biasanya kurang dari 800 gram) dan panggul sangat lebar, persalinan spontan dapat terjadi meskipun kelainan tesebut menetap. Janin akan tertekan dengan kepala terdorong ke abdomen. Bagian dinding dada di bawah bahu kemudian menjadi bagian yang paling bergantung dan tampak di vulva. Kepala dan dada kemudian melewati rongga panggul secara bersamaan, dan bayi dapat dikeluarkan dalam keadaan terlipat (conduplicati corpore)

 

  1. e. Komplikasi

Letak lintang merupakan keadaan malpresentasi yang paling berat dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi pada ibu dan janin. Komplikasi akan bertambah berat jika kasus letak lintang telambat didiagnosa. Pada ibu, dapat terjadi dehidrasi, pireksia, sepsis, perdarahan antepartum, perdarahan pos partum, ruptur uteri, kerusakan organ abdominal hingga kematian ibu. Pada janin, dapat terjadi prematuritas, bayi lahir dengan apgar skor yang rendah, prolapsus umbilikus, maserasi, asfiksia hingga kematian janin .

 

 

 

 

  1. f. Penatalaksanaan

 

Apabila pada pemeriksaan antenatal ditemukan letak lintang, sebaiknya diusahakan menjadi presentasi kepala dengan versi luar. Sebelum melakukan versi luar harus dilakukan pemeriksaan teliti ada atau tidaknya panggul sempit, tumor dalam panggul, atau plasenta previa, sebab dapat membahayakan janin dan meskipun versi luar berhasil, janin mungkin akan memutar kembali. Untuk mencegah janin memutar kembali, ibu dianjurkan menggunakan korset dan dilakukan pemeriksaan antenatal ulangan untuk menilai letak janin. Ibu diharuskan masuk rumah sakit lebih dini pada permulaan persalinan, sehingga apabila terjadi perubahan letak, segera dapat ditentukan prognosis dan penanganannya. Pada permulaan persalinan, masih dapat diusahakan mengubah letak lintang janin menjadi presentasi kepala asalkan pembukaan masih kurang dari 4 cm dan ketuban belum pecah.

Pada primigravida, jika versi luar tidak berhasil sebaiknya segera dilakukan seksio sesaria. Sikap ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

1. Bahu tidak dapat melakukan dilatasi pada serviks dengan baik, sehingga pada primigravida kala I menjadi lama dan pembukaan serviks sukar menjadi lengkap

2. Karena tidak ada bagian besar janin yang menahan tekanan intra-uterin pada waktu his, maka lebih sering terjadi ketuban pecah sebelum pembukaan serviks sempurna dan dapat mengakibatkan terjadinya prolapsus funikuli

3. Pada primigravida versi ekstraksi sulit dilakukan.

Pertolongan persalinan letak lintang pada multipara bergantung kepada beberapa faktor. Apabila riwayat obstetri yang bersangkutan baik, tidak didapat kesempitan panggul, dan janin tidak seberapa besar, dapat ditunggu dan diawasi sampai pembukaan lengkap untuk melakukan versi ekstraksi. Selama menunggu harus diusahakan supaya ketuban tetap utuh dan melarang ibu meneran atau bangun. Apabila ketuban pecah sebelum pembukaan lengkap dan terdapat prolapsus funikuli, harus segera dilakukan seksio sesaria. Jika ketuban pecah, tetapi tidak ada prolapsus funikuli, maka bergantung tekanan dapat ditunggu sampai pembukaan lengkap kemudian dilakukan versi ekstraksi atau mengakhiri persalinan dengan seksio sesaria. Dalam hal ini, persalinan dapat diawasi untuk beberapa waktu guna mengetahui apakah pembukaan terjadi dengan lancar atau tidak. Versi ekstraksi dapat dilakukan pula pada kehamilan kembar, apabila setelah bayi pertama lahir, ditemukan bayi kedua berada dalam letak lintang.

Pada letak lintang kasep, bagian janin terendah tidak dapat didorong ke atas, dan tangan pemeriksa yang dimasukkan ke dalam uterus tertekan antara tubuh janin dan dinding uterus. Demikian pula ditemukan lingkaran Bandl yang tinggi. Berhubung adanya bahaya ruptur uteri, letak lintang kasep merupakan kontraindikasi mutlak melakukan versi ekstraksi. Bila janin masih hidup, hendaknya dilakukan seksio sesaria dengan segera

Versi dalam merupakan alternatif lain pada kasus letak lintang. Versi dalam merupakan metode dimana salah satu tangan penolong masuk melalui serviks yang telah membuka dan menarik salah satu atau kedua tungkai janin ke arah bawah. Umumnya versi dalam dilakukan pada kasus janin letak lintang yang telah meninggal di dalam kandungan dengan pembukaan serviks lengkap. Namun, dalam keadaan tertentu, misalnya pada daerah-daerah terpencil, jika dilakukan oleh penolong yang kompeten dan berpengalaman, versi dalam dapat dilakukan untuk kasus janin letak lintang yang masih hidup untuk mengurangi risiko kematian ibu akibat ruptur uteri. Namun, pada kasus letak lintang dengan ruptur uteri mengancam, korioamnionitis dan risiko perdarahan akibat manipulasi uterus, maka pilihan utama tetaplah seksio sesaria.

 

  1. g. Prognosis

Meskipun letak lintang dapat diubah menjadi presentasi kepala, tetapi kelainan-kelainan yang menyebabkan letak lintang, misalnya panggul sempit, tumor panggul dan plasenta previa, masih tetap dapat menimbulkan kelainan pada persalinan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kematian ibu dan janin pada letak lintang, disamping kemungkinan terjadinya letak lintang kasep dan ruptura uteri, juga sering akibat adanya tali pusat menumbung serta trauma akibat versi ekstraksi untuk mengeluarkan janin.

Prognosis pada kehamilan letak lintang sangat dipengaruhi oleh riwayat pemeriksaan kehamilan, kecepatan penegakkan diagnosa dan sarana-prasarana kesehatan yang ada. Semakin lambat diagnosa letak lintang ditegakkan, maka kemungkinan bayi akan tetap berada dalam posisi lintang pada saat persalinan akan semakin besar. Sebagai perbandingan jika diagnosa dibuat pada UK 20-25 minggu, ± 2,6 % akan tetap pada posisi lintang dan jika diagnosa dibuat pada UK 36-40 minggu, ± 11,8 % akan tetap pada posisi lintang (4). Di negara dengan sarana-prasarana yang sudah maju, angka kematian ibu dan janin pada kasus letak lintang sudah cukup rendah. Namun, pada negara tertinggal, berbagai komplikasi masih terjadi akibat tidak adanya fasilitas seksio sesaria (10).

Angka kematian ibu sekitar 0-2 % ( RS Hasan Sadikin Bandung, 1966). Sedangkan angka kematian janin sekitar 18,3 % (RS Hasan Sadikin) dan 23,3 % (RS Umum Pusat Prop. Medan). Angka ini kira-kira sama dengan yang didapatkan oleh Wilson santara tahun 1935-1950. Tetapi dengan meningkatnya frekuensi seksio sesaria pada letak lintang, pada tahun 1951-1956 Wilson melaporkan angka kematian janin sangat menurun menjadi 5,6 % .

Berdasarkan penelitian WHO pada tahun 2004, rerata angka kematian akibat malposisi dan malpresentasi janin di negara-negara berkembang, seperti Brazil, Nikaragua, Ekuador dan Meksiko, sebesar 1,3 % .

 

 

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN DENGAN KELAINAN LETAK LINTANG

Ny ‘R’ Usia 34 Tahun G4P2Ab1Ah2 UK 29 Minggu

dengan Kelainan Letak Lintang

DATA SUBJEKTIF

  1. Keluhan Utama

Seorang ibu hamil dengan umur kehamilan 29 minggu mengeluh perut sebelah kiri sering terasa nyeri seperti ada tekanan dari dalam, dan bila diraba sedikit menonjol, sedangkan perutnya sebelah kanan sering terasa ada gerakan janin (ditendang-tendang).

  1. Riwayat Obstetri
Hamil

Ke

Persalinan Nifas
Tgl lahir UK Jenis persalinan Penolong Komplikasi JK BB

(gr)

Lakta si Kompli kasi
Ibu Bayi
1 1997 aterm Spontan bidan tdk tdk P 3200 2 th Tdk
2 2000 Abortus
3 2002 aterm Spontan bidan tdk tdk L 3300 1,5 th tdk
4 Hamil saat ini

 

DATA OBJEKTIF

  1. Keadaan umum     : baik               kesadaran        : Compos Mentis
  2. Status emosional   : stabil
  3. Tanda vital

Tekanan darah       : 110/80 mmHg

Nadi                      : 82 kali/menit

Pernafasan             : 20 kali/menit

Suhu                      : 36,60C

  1. BB/TB                   : 60 kg/158 cm
  2. Abdomen

Bentuk                  : Melintang, perut membuncit ke samping

Bekas Luka           : Tidak ada

Strie Gravidarum  : Ada

Palpasi Leopold    :

Leopold I       : Kosong

Leopold II     : Kiri : Bulat, keras ,melenting,

Kanan : Kurang Bulat, lunak, kurang melenting

Leopold III    : Kosong

Leopold IV    : Belum dilakukan

TFU                       : 1 Jari dibawah pusat

Mc Donald            : 20 cm

Osborn test            :Tidak Dilakukan

TBJ                        : (20-11) x 155 = 1395 gram

Auskultasi DJJ      :

Punctum maksimum  : Setinggi pusat disebelah kiri

Frekuensi                   : 144 x/ menit

 

ASSESMENT

  1. Diagnosa Kebidanan

Ny ‘R’ Usia 34 Tahun G4P2Ab1Ah2 UK 29 Minggu  dengan kelaianan letak lintang.

  1. Masalah

Ibu mengatakan ibu mengalami nyeri tekan di perut sebelah kiri dan terasa gerakan janin di sebelah kanan.

 

  1. Kebutuhan

KIE tentang kelainan letak lintang dan komplikasinya

KIE cara mengatasi kelainan letak lintang

 

  1. Diagnosa potensial

Ibu berpotensi dehidrasi, pireksia, sepsis, perdarahan antepartum, perdarahan post partum, ruptur uteri, kerusakan organ abdominal hingga kematian ibu, sedangkan pada janin dapat menyebabkan prematuritas, BBLR, prolapsus umbilikus, maserasi, asfiksia hingga kematian janin.

 

  1. Masalah Potensial

Tidak ada

 

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
  2. Mandiri

Tidak ada

 

  1. Kolaborasi

Kolaborasi dengan dr. Hasan, Sp.OG bagian kebidanan RSUP dr. Sarjito untuk pemeriksaan USG untuk memastikan letak lintang dan mengetahui penyebabnya.

 

  1. Merujuk

Merujuk ke dr. Hasan, Sp.OG bagian kebidanan RSUP dr. Sarjito untuk penanganan lebih lanjut.

 

PLANNING (30 Maret 2010, 17.00 WIB)

  1. Menjelaskan kepada ibu tentang kondisinya saat ini.

Ibu mengerti tentang kondisinya saat ini

  1. Menjelaskan kepada ibu tentang posisi janin ibu yang kemungkinannya janin ibu letaknya melintang berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.

Ibu memahami tentang posisi janinnya saat ini.

  1. Memberi contoh dan menganjurkan ibu untuk melakukan kneechest atau posisi lutut dada, setiap hari minimal 2 kali sehari selama ± 5 menit, untuk mengembalikan posisi bayinya menjadi presentasi kepala.

Ibu bersedia untuk melakukan kneechest sesuai yang telah dianjurkan.

  1. Menjelaskan kepada ibu tentang komplikasi bagi ibu dan janin yang bisa ditimbulkan dari kelainan letak lintang.

Ibu mengerti tentang komplikasi yang bisa ditimbulkan dari kelainan letak lintang dan akan berhati-hati.

  1. Menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan USG (pada dokter ahli kebidanan yang telah ditunjuk oleh bidan) untuk memastikan letak janin dan mengetahui penyebab dari letak lintang.

Ibu bersedia untuk melakukan pemeriksaan USG.

  1. Merujuk ibu ke dr. Hasan Sp.OG bagian kebidanan RSUP dr. Sardijo untuk penanganan selanjutnya.

Ibu bersedia dirujuk ke dr. Hasan, Sp.OG bagian kebidanan RSUP dr. Sardjito untuk dilakukan penanganan selanjutnya.

  1. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang dua minggu lagi atau jika ada keluhan.

Ibu bersedia datang dua minggu lagi atau jika ada keluhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro, H. (Ed.). 2007. Ilmu Kebidanan (kesembilan ed.). Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

http://sembiring-jo.blogspot.com/2009/11/persalinan-letak-lintang.html. Jumat, 26 Maret 2010, 16.00 WIB

http://askepasbid.wordpress.com/tag/letak-lintang/ Jumat, 26 Maret 2010, 16.02 WIB

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Sampai saat ini mortalitas dan mordibitas neonatus pada bayi preterm/premature masih sangat tinggi. Hal ini berkaitan dengan maturitas organ pada bayi lahir seperti paru, otak dan gastrointestinal. Di Negara barat sampai 80% dari kematian neonatus adalah akibat prematuritas, dan pada bayi yang selamat5 10% mengalami permasalahan dalam jangka panjang. Penyebab persalinan preterm sering dapat dikenali dengan jelas. Namun, pada banyak kasus penyebab pasti tidak dapat diketahui. Beberapa factor mempunyai andil dalam terjadinya persalinan preterm seperti factor pada ibu, factor janin dan plasenta, ataupun factor lain seperti sosioekonomik.

Pendekatan obstetric yang baik terhadap persalinan preterm akan memberikan harapan terhadap ketahanan hidup dan kualitas hidup bayi preterm. Di beberapa Negara maju Angka Kematian Neonatal pada persalinan premature menunjukan penurunan yang umumnya disebabkan oleh meningkatnya peranan neonatal intensive care dan akses yang lebih baik dari pelayanan ini. Di  Amerika Serikat bahkan menunjukan kemajuan yang dramatis berkaitan dengan meningkatnya umur kehamilan, dengan 50% neonatus selamat pada persalinan usia kehamilan 25 minggu, dan lebih dari 90% pada usia 28-29 minggu. Hal ini menunjukan bahwa teknologi dapat berperan banyak dalam keberhasilan persalinan bayi preterm.

Masih ada sisi lain yang perlu diperhatikan dalam menangani neonatus preterm, terutama bayi dengan berat lahir yang sangat rendah (< 1500 gram), yaitu biaya yang sangat mahal dan meminta tenaga yang banyak. Upaya primer mempunyai dampak biaya yang relative murah bagi masyarakat mengingat akses rumah sakit sangat kecil, sedangkan upaya sekunder di rumah sakit lebih mahal.

BAB II

LANDASAN TEORI

PARTUS PREMATUR

  1. A. Definisi

Persalinan preterm adalah persalinan yang berlangsung pada umur kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (ACOG 1995).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa bayi premature adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37 minggu atau kurang.

Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI di Semarang tahun 2005 menetapkan bahwa persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu.

 

  1. B. Etiologi dan Faktor Risiko

Etiologi persalinan prematur sering kali tidak diketahui. Ada beberapa kondisi medik yang mendorong untuk dilakukannya tindakan sehingga terjadi persalinan prematur. Kondisi yang menimbulkan partus premature, antara lain:

  1. Hipertensi

Tekanan darah tinggi menyebabkan penolong cenderung untuk mengakhiri kehamilan, hal ini menimbulkan prevatensi persalinan prematur meningkat.

  1. Perkembangan Janin Terhambat.

Merupakan kondisi dimana salah satu sebabnya ialah pemasokan oksigen dan makanan mungkin kurang adekuat dan hal ini mendorong untuk terminasi kehamilan lebih dini.

  1. Solusio Plasenta.

Terlepasnya plasenta akan merangsang untuk terjadi persalinan prematur. Meskipun sebagian besar terjadi pada matur. Pada pasien dengan riwayat solusio plasenta maka kemungkinan terulang menjadi lebih besar.

 

 

  1. Plasenta Previa.

Sering kali berhubungan dengan persalinan prematur akibat harus dilakukan tindakan pada perdarahan yang banyak. Bila terjadi perdarahan banyak maka kemungkinan kondisi janin kurang baik karena hipoksia.

  1. Kelainan Rhesus.

Sebelum ditemukan anti D imunoglabulin maka kejadian induksi menjadi berkurang, meskipun demikian hal ini masih sering terjadi.

  1. Diabetes.

Pada kehamilan dengan diabetes yang tidak terkendali maka dapat dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Tapi saat ini dengan pemberian insulin dan diet yang terprogram, umunya gula darah dapat dikendalikan.

Ada beberapa kondisi ibu yang merangsang terjadinya kontraksi spontan, kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin.

  1. Kelainan Bawaan Uterus

Meskipun jarang terjadi tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm dengan kelainan  uterus yang ada.

  1. Ketuban Pecah Dini.

Mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. Ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten, hidramnion, kehamilan ganda, infeksi vagina dan serviks dan lain-lain. Infeksi asenden merupakan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan kemungkinan ketuban pecah.

  1. Serviks Inkompeten.

Hal ini mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm. Riwayat tindakan serviks dapat dihubungkan dengan terjadinya inkompeten. Chamberlain dan Gibbings menemukan 60% dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49% mengalami pengakhiran kehamilan pervaginam.

  1. Kehamilan Ganda

Sebanyak 10% pasien dengan partus preterm ialah kehamilan ganda dan secara umum kehamilan ganda mempunyai masa gestasi yang lebih pendek.

 

  1. C. Menifestasi Klinis
    1. Kontraksi uterus yang teratur sedikitnya 3 – 5 menit sekali selama 45 detik dalam waktu minimal 2 jam.
    2. Pada fase aktif, intensitas dan frekuensi kontraksi meningkat saat pasien melakukan aktivitas.
    3. Usia kehamilan antara 20 – 37 minggu.
    4. Taksiran berat janin sesuai usia kehamilan antara 20 – 37 minggu.
    5. Presentasi janin abnormal lebih sering ditemukan pad persalinan preterm.

Bila persalinan kemudian menjadi nyata, maka pengobatan dapat dimulai. Bila tidak fungsi uterus dievaluasi lebih lanjut dengan menggunakan topografi ekstenal untuk merekam dan lamanya kontraksi, pembukaan serviks yang progresif, merupakan tanda persalinan.

 

  1. D. Pemeriksaan Penunjang
    1. Pemeriksaan darah lengkap dan hitung jenis.
    2. Urinalisis.
    3. Ultrasonografi untuk melihat taksiran berat janin, posisi janin dan letak plasenta.
    4. Amniosentesis untuk melihat kematangan beberapa organ janin, seperti rasio lasitin, spingo myelin, surfaktan, dll.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN PADA PERSALINAN

DENGAN PARTUS PREMATUR

Kasus : Seorang primigravida,umur 25 tahun, datang ke BPS Atika pada tanggal 25 Juli 2007, Pukul 05.00 WIB. Ibu mengatakan mulas dan nyeri perut bagian bawah dan mengeluarkan cairan pervaginam lendir bercampur darah. HPHT 17 Oktober 2006, HPL 24 Juli 2007. Usia kehamilan 32 minggu.

 

ASUHAN KEBIDANAN PADA PERSALINAN

DENGAN PARTUS PREMATUR

G1P0Ab0Ah0 umur 25 tahun UK 32 minggu

Di BPS Atika

 

Kala II

DATA SUBJEKTIF

  1. Keluhan Utama :

Ibu hamil anak pertama, usia kehamilan 32 minggu, ibu mengatakan mulas dan nyeri perut bagian bawah dan mengeluarkan cairan pervaginam lendir bercampur darah.

b.   Riwayat Menstruasi

HPHT        : 17 Oktober 2006

HPL          : 24 Juli 2007

 

DATA OBJEKTIF

a. Keadaan umum ibu : Baik         Kesadaran             : Composmentis

b. Tanda vital: TD       : 140/90 mmHg           RR       : 20x/menit

Pols     : 80x/menit                  Temp   : 36,5°C

c. Palpasi :

Leopold I              :  TFU 3 jari bawah Px

Leopold II   :         Puka

Leopold III  :         Presentasi kepala

Leopold IV  :         Bagian terendah sudah masuk PAP

Mc Donald  :         TFU : 32 minggu

TBJ   : (TFU – 11) x 155 = (32 – 11) x 55 = 3.255 gram

  1. Auskultasi DJJ (+), frekuensi 134 x/menit

e. Pemeriksaan Dalam

Pukul 05.00 WIB

Perineum                             :         Tidak kaku

Dinding Vagina               :  Cekung

Ujung sacrum                     :         Masih teraba

Portio                               :  Masih tebal

Konsistensi                         :         Lembut

Pembukaan                         :         3 cm

Dilatasi serviks                :  30%

Ketuban                              :         Utuh

Penurunan kepala            :  Hodge III, 3/5

 

ASSESMENT

  1. Diagnosa

G1P0A0 hamil 32 minggu, inpartu kala I fase laten, Janin tunggal, hidup intrauterine memanjang, presentasi kepala dengan partus premature.

  1. Masalah

Ada nyeri His, Gangguan peningkatan tekanan darah, Ibu merasa takut dan gelisah dalam menghadapi persalinan karena kehamilan yang kurang cukup bulan.

  1. Kebutuhan
  2. Pemberian nutrisi dan cairan.
  3. Penyuluhan menghadapi persalinan kala III
    1. Cara mengedan yang efektif.
    2. Persiapkan fisik dan mental ibu.
    3. Pengurangan rasa nyeri.
    4. Pertolongan persalinan yang aman dan nyaman.
    5. Dukungan psikologis
      1. Diagnosa dan Masalah Potensial yang Berhubungan (Kala I)

Potensial terjadi penyulit dalam persalinan seperti pada ibu (perdarahan) dan pada bayi (BBLR).

  1. Kebutuhan  Tindakan Segera dan Kolaborasi.
    1. a.      Kolaborasi dengan dokter ahli kebidanan.
    2. b.      Segera merujuk.

 

PLANNING

  1. Menjelaskan pada ibu tentang kondisinya saat ini bahwa ketuban belum pecah. Ibu tidak boleh mengedan, agar menarik nafas panjang bila perutnya terasa sakit dan ibu boleh mencari posisi yang nyaman, ibu boleh minum dan BAK ke kamar kecil.
  2. Mempersiapkan alat untuk persalinan yaitu.
    1. Menyiapkan ruangan untuk bersalin yang bersih dan membuat lingkungan senyaman mungkin.
    2. Alat untuk persalinan yaitu partus set, heating set, obat-obatan dan alat resusitasi.
    3. Perlengkapan pakaian ibu dan bayi.
  3. Menyiapkan ibu. Mengganti pakaian ibu dan menempatkan ibu di ruang bersalin.
  4. Mengatur posisi ibu senyaman mungkin.
    1. Menganjurkan ibu agar tidur dengan posisi miring ke kiri agar tidak menghambat aliran darah ke janin.
    2. Menganjurkan ibu untuk mengedan yang baik yaitu menarik nafas panjang. Kedua tangan merangkul paha, mata dibuka dan mulut ditutup. Kemungkinan mengedan sewaktu ada his dan teknik relaksasi yaitu ibu diminta menahan nafas panjang, tahan nafas sebentar kemudian lepaskan dengan meniup melalui mulut sewaktu his serta ibu istirahat di luar his.
  5. Melibatkan orang-orang untuk memberi dukungan psikologis yaitu menghadirkan suami dan keluarga yang dianggap penting bagi ibu.
  6. Memberi nutrisi. Memberi kebutuhan nutrisi pada ibu berupa makanan dan minuman.
  7. Memantau dan mengukur tanda-tanda vital.

TD              : 130/80 mmHg          RR       : 18 x/menit

Puls            : 78x/menit                 Temp   : 36,2°C

  1. Menggunakan partograf untuk memantau kemajuan persalinan
  2. Kontraksi uterus dalam 10 menit.
  3. Denyut jantung janin setiap 30 menit.

 

Evaluasi

  1. Ibu mengerti tentang kondisinya saat ini bahwa ibu sedang menghadapi proses persalinan.
  2. Ibu sudah merasa tenang setelah mendapat penjelasan tentang kondisinya.
  3. Ruang dan alat pesalinan sudah siap.
  4. Ibu mangatakan tahu cara mengedan yang baik.
  5. Ibu mengatakan perutnya semakin mules dan terasa ingin BAB.
  6. Pemeriksaan Dalam pukul 10.30 WIB

Pembukaan serviks 10 cm tidak teraba, ketuban pecah pukul 10.30 WIB secara spontan, vulva membuka, uuk kanan depan, turunnya kepala di Hodge IV.

  1. Pengawasan kala I.

a. Fase Laten

Pukul Pembu-kaan Kontrak-si Lamanya (detik) Nadi (x/mnt) DJJ (x/mnt) Penurunan Ketuban
05.00

05.30

06.00

06.30

07.00

07.30

08.00

08.30

09.00

3 cm

 

 

 

 

 

 

 

7 cm

3x/10’

3x/10’

3x/10’

3x/10’

3x/10’

3x/10’

3x/10’

3x/10’

3x/10’

20-40

20-40

20-40

20-40

35

35

40

40

40

80

82

80

83

78

80

82

83

80

134

130

132

130

135

132

130

132

134

3/5

 

 

 

 

 

 

 

2/5

(+)

 

 

 

 

 

 

 

(+)

CATATAN PERKEMBANGAN

Tanggal 25 Juli 2007. Pukul 10.30 WIB

Kala II

S :     a. Ibu mengatakan rasa ingin BAB dan ingin mengedan.

b. Ibu mengatakan rasa sakit bertambah sering dan lama menjalar dari punggung ke perut bagian bawah.

 

O :     a. His 3 – 4 x/10 menit, teratur lamanya 40-45 detik

b.  DJJ 135 x/ment, teratur.

c.  Keadaan kandung kemih kosong.

d.  Pengeluaran dari vagina blood slym yang semakin banyak.

e.  Inspeksi vulva membuka, anus mengembang, perineum menonjol

f.  PD pukul 10. 30 WIB dengan hasil

Dinding vagina tidak ada kelainan.

Portio tidak teraba, effacement 100%.

Pembukaan serviks 10 cm (lengkap)

Ketuban pecah.

Presentasi kepala, penurunan bagian terendah di Hodge IV.

g.  Tanda-tanda vital.

TD       : 120/70 mmHg     RR       : 22 x/menit

Pols      : 78 x/menit           Temp   : 37,3°C.

 

A :    G1P0A0 hamil 32 minggu inpartu kala II, jainin tunggal, hidup memanjang, intrauterin, dan presentasi kepala.

 

P :     a.  Jelaskan pada ibu tentang kondisinya saat ini bahwa pembukaan serviks sudah 10 cm (lengkap) dan ibu memasuki proses persalinan untuk melahirkan bayinya.

b.  Berikan dukungan / support terus-menerus : ibu harus semangat dalam menjalani proses persalinan.

c.  Pimpin ibu untuk meneran : ibu boleh mengedan pada waktu timbul his, seperti orang BAB keras meneran di bawah, kepala melihat ke fundus tangan merangkul ke-2 pahanya, jangan bersuara saat meneran sampai his hilang.

d.  Anjurkan ibu untuk bernafas yang baik selama persalinan.

Saat his hilang dianjurkan ibu untuk menarik nafas dalam dari hidung dan keluarkan lewat mulut, beri minum diantara his.

  1. Menolong melahirkan bayi.
    1. Ketika kepala krowing, letakkan tangan kiri pada kepala bayi agar tidak terjadi defleksi maksimal yang terlalu cepat, sementara tangan kanan mensupport perineum.
    2. Ketika kepala bayi telah lahir seluruhnya, lap wajah bayi dan mulut dengan kassa steril.
    3. Periksa apakah ada lilitan tali pusat.
    4. Menunggu sambil membantu putaran paksi luar sesuai letak punggung.
    5. Letakkan tangan secara biparietal, kemudian tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan kemudian lembut ke atas menyesuaikan sumbu jalan lahir untuk melahirkan bahu belakang.
    6. Lahirkan bayi seluruhnya pukul 11.00 WIB.
    7. Keringkan bayi,klem tali pusat dan potong tali kemudian ikat taIi pusat.
    8. Zlym Zhuinger rangsangan untuk bernafas.
    9. Antropometri.

Bayi lahir pukul 11.00 WIB

BB                 : 2.300 gram

PB                  : 47 cm

Jenis kelamin : laki-laki, anus (+), cacat (-)

Keadaan bayi :

Bayi belum bisa beradaptasi di luar uterus secara sempurna, sehingga perlu dilakukan perawatan pada bayi:

  1. Memberikan lingkungan yang baik agar bayi tetap hangat (suhu bayi harus 36°C – 37°C) dengan memasukkan bayi kedalam inkubator.
  2. Menjaga agar saluran nafas bagian atas tetap bebas dengan memperhatikan posisi bayi dan pengisapan lendir jalan nafas secara berkala.

 

Kala III.

Tanggal 25 – 0 7 – 2007 Pukul 11.15 WIB.

S :     a. Ibu mengatakan bahwa ia merasa lega dan senang atas kelahiran meskipun bayinya masih dalam perawatan.

b. Ibu mengatakan masih merasa mulas pada perutnya.

 

O :     a. Bayi lahir spontan pervaginam, letak belakang kepala, jenis kelamin laki-laki.

b. Ibu tampak senang dan bahagia.

TD     : 120/70 mmHg       Temp   : 37,2° C

RR     : 22 x/menit             Pols     : 76 x/menit

  1. Janin tunggal.
  2. Plasenta belum lahir
  3. Pada palpasi didapat, uterus terasa bulat dan keras TFU : sepusat
  4. Pada inspeksi tidak terdapat robekan jalan lahir.

 

A :     Diagnosa

P1A0 partus spontan pervaginam, partu Kala III

Kebutuhan.

Melakukan manajemen aktif kala III.

 

P :     a. Lakukan pengawasan Kala III

b.  Periksa fundus untuk memastikan janin tunggal, kandung kemih kosong dan adanya kontraksi.

c.  Melakukan manajemen aktif kala III.

1. Berikan oksitosin 10 U IM di 1/3 paha bagian luar.

2. Lakukan peregangan tali pusat terkendali.

3. Lakukan masase fundus untuk membantu kontraksi.

d. Melakukan pengeluaran plasenta dengan teknik memutar searah jarum jam. Setelah plasenta lepas, periksa plasenta dan selaput ketuban.

e. Masase fundus uteri selama 15 detik.

f.  Observasi kontraksi uterus, perdarahan dan tanda-tanda vital.

g.  Bersihkan bekuan darah dari vagina.

h.  Pastikan kandung kemih kosong.

i.   Plasenta lahir lengkap dan spontan pukul 11.25 WIB.

Kotiledon dan selaput       : Utuh

Panjang tali pusat                          : 45 cm

Tebal plasenta                   : 2 cm

Lebar plasenta                   : 15 cm

Berat plasenta                   : 400 gram

Insersi                                : Marginal

Tidak terdapat robekan jalan lahir.

Pengeluaran pervaginam darah ± 100cc

  1. a.   Jaga Personal Hygiene.

Membersihkan ibu dan mengganti pakaian ibu.

 

Kala IV.

S :     a. Ibu mengatakan senang dengan kelahiran bayi laki-lakinya.

b. Ibu mengatakan perutnya msih terasa mulas-mulas.

c.  Ibu merasa lega karena plasenta sudah lahir.

 

O :     a. Keadaan umum   : Baik

b. Kesadaran            : composmentis

c.  Tanda-tanda vital.

TD     : 120/70 mmHg       Temp   : 37,2° C

RR     : 20 x/menit             Pols     : 76 x/menit

d. TFU 2 jari dibawah pusat.

e.  15 detik pertama kontraksi uterus baik.

f. Pengeluaran urine sebanyak ± 150 cc tiap BAK.

g.  Colostrum sudah mulai keluar tetapi hanya sedikit.

h.  Lochea berawarna merah, berbau normal amis.

i.   Ibu belum BAB selama post partum.

 

A :     Diagnosa

P1A0 partus spontan, partu Kala IV.

Kebutuhan

Observasi keadaan ibu ; keadaan umum, perdarahan yang keluar involusi uterus dan TTV.

 

P :     a. Periksa fundus

TFU   : 2 jari bawah pusat.

Kontraksi uterus  : baik

Perdarahan normal.

b.  Periksa kandung kemih     : Tekan blasnya, apabila terasa penuh, rangsang untuk berkemih.

c.  ganti pakaian ibu.

d.  Membereskan alat-alat.

e.  Mengukur tanda-tanda vital

TD     : 110/70 mmHg       RR       : 22 x/menit

Pols    : 78 x/menit             Temp   : 36,5°C

  1. Ajarkan dan anjurkan ibu untuk bergerak sedikit, miring ke kiri dan kanan, duduk dan berjalan (mobilisasi dini).
  2. Anjurkan ibu untuk makan dan minum.
  3. Libatkan suami dan keluarga dalam perawatan ibu.

 

DAFTAR PUSTAKA

Markum AH, Asril Aminullah, dkk. 1981. Kegawatan Pada Anak. FKUI: Jakarta.

 

R. Stright, Barbara. Keperawatan Ibu.-BBL. EGC: Jakarta.

 

Mansjoer, Arif, Kuspuji Triyanti, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius: Jakarta.

 

Prawirohardjo, Sarwono, 2005. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pusatka: Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wanita hamil mengalami perubahan jiwa dalam kehamilan, yang biasanya tidak seberapa berat dan kemudian hilang dengan sendirinya. Adakalanya diperlukan perhatian khusus atau pengobatan. Kadang-kadang terjadi penyakit jiwa (psikosis) dalam kehamilan. Ini tidak mengherankan karena ovulasi dan haid juga dapat menimbulkan psikoneurosis. Penderita sembuh setelah anaknya lahir, akan tetapi dalam kehamilan berikutnya biasanya penyakitnya timbul lagi. Eklamsia dan infeksi dapat pula disertai atau disusul oleh psikoneurosis. Selain itu psikoneurosis dapat menjadi lebih berat dalam kehamilan.

Masalah kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya. Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui tetapi sebagian lagi menganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupan selanjutnya.

Perubahan kondisi fisik dan emosional yang kompleks memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan prokreasi, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosiokultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri, dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan, hingga ke tingkat gangguan jiwa yang berat.

Dukungan psikologik dan perhatian akan memberi dampak terhadap pola kehidupan sosial (keharmonisan, penghargaan, pengorbanan, kasih sayang dan empati). Pada wanita hamil dan dari aspek teknis dapat mengurangi aspek sumber daya (tenaga ahli, cara penyeleraian persalinan normal, akselerasi, kendali nyeri dan asuhan neonatal.

B. Tujuan

1)       Menjelaskan tentang pengertian psikoneurosa / psikoneurosis (neurosis)

2)       Menjelaskan tentang jenis-jenis psikoneurosa / psikoneurosis (neurosis)

3)       Menjelaskan penyebab, gejala dan terapi pada psikoneurosa / psikoneurosis (neurosis)

 

C.        Manfaat

1)        Mendapat penjelasan dan pengetahuan mengenai psikoneurosa / psikoneurosis (neurosis)

2)        Dapat mengetahui tentang penanganan jenis-jenis psikoneurosa /  psikoneurosis (neurosis)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

Perubahan kondisi fisik dan emosional yang kompleks memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pada hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan prokreasi, kebanggaan yang ditimbulkan dari norma-norma sosiokultural dan persoalan dalam kehamilan. Itu sendiri dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan hingga ketingkat gangguan jiwa yang berat.

A. PENGERTIAN NEUROSIS

Neurosis kadang-kadang disebut psikoneurosis dan gangguan jiwa (untuk membedakannya dengan psikosis atau penyakit jiwa. Menurut Singgih Dirgagunarsa (1978 : 143),  Neurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian dari kepribadian, sehingga orang yang mengalaminya masih bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa sehari-hari atau masih bisa belajar, dan jarang memerlukan perawatan khusus di rumah sakit.

Dali Gulo (1982 : 179), berpendapat bahwa neurosis adalah suatu kelainan mental, hanya memberi pengaruh pada sebagaian kepribadian, lebih ringan dari psikosis, dan seringkali ditandai dengan : keadaan cemas yang kronis, gangguan-gangguan pada indera dan motorik, hambatan emosi, kurang perhatian terhadap lingkungan, dan kurang memiliki energi fisik, dst.

Neurosis, menurut W.F. Maramis (1980 : 97), adalah suatu kesalahan penyesuaian diri secara emosional karena tidak diselesaikan suatu konflik tidak sadar.

Berdasarkan pendapat mengenai neurosis dari para ahli tersebut dapat diidentifikasi pokok-pokok pengertian mengenai neurosis sebagai berikut.

  1. Neurosis merupakan gangguan jiwa pada taraf ringan.
  2. Neurosis terjadi pada sebagian aspek kepribadian.
  3. Neurosis dapat dikenali gejala-gejala yang menyertainya dengan ciri khas kecemasan.
  4. Penderita neurosis masih mampu menyesuaikan diri dan melakukan aktivitas sehari-hari.

Psikoneurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian kepribadian. Karena gangguan hanya pada sebagian kepribadian, maka yang bersangkutan masih bisa melakukan pekerjaan/aktivitas sehari-hari. Sebenarnya psikoneurosis bukanlah suatu penyakit, yang bersangkutan masih dapat kita sebut normal. Yang diderita yang bersangkutan adalah ketegangan pribadi yang terus sebagai akibat konflik yang berkepanjangan. Orang tersebut tidak dapat mengatasi konflik yang tidak kunjung reda yang pada taraf terakhir menjadi neurosis (suatu kelainan mental dengan kepribadian terganggu yang ringan seperti cemas yang kronis, hambatan emosi, sukar tidur, kurang perhatian terhadap lingkungan dan kurang memiliki energi). Ada kalanya penyakit ini baru timbul setelah lama penyebabnya terjadi atau sama sekali tidak ingat lagi, atau telah diendapkan dalam alam ketidaksadaran. Untuk menyembuhkan penyakit digunakan tehnik wawancara yang lazim disebut psikoterapi.

B. JENIS-JENIS NEUROSIS

Kelainan jiwa yang disebut neurosis ditandai dengan bermacam-macam gejala. Dan berdasarkan gejala yang paling menonjol, sebutan atau nama untuk jenis neurosis diberikan. Dengan demikian pada setiap jenis neurosis terdapat ciri-ciri dari jenis neurosis yang lain, bahkan kadang-kadang ada pasien yang menunjukkan begitu banyak gejala sehingga gangguan jiwa yang dideritanya sukar untuk dimasukkan pada jenis neurosis tertentu (W.F. Maramis, 1980 : 258).

Bahwa nama atau sebutan untuk neurosis diberikan berdasarkan gejala yang paling menjonjol atau paling kuat. Atas dasar kriteria ini para ahli mengemukakan jenis-jenis neurosis sebagai berikut (W.F. Maramis, 1980 : 257-258).

 

1. Neurosis cemas (anxiety neurosis atau anxiety state)

a. Gejala-gejala neurosis cemas

Tidak ada rangsang yang spesifik yang menyebabkan kecemasan, tetapi bersifat mengambang bebas, apa saja dapat menyebabkan gejala tersebut. Bila kecamasan yang dialami sangat hebat maka terjadi kepanikan.

Gejala-gejala neurosis cemas : 1) Gejala somatis dapat berupa sesak nafas, dada tertekan, kepala ringan seperti mengambang, lekas lelah, keringat dingan, dst. 2) Gejala psikologis berupa kecemasan, ketegangan, panik, depresi, perasaan tidak mampu,dst.

b. Faktor penyebab neurosis cemas

Menurut Maramis (1980 : 261), faktor pencetus neurosis cemas sering jelas dan secara psikodinamik berhubungan dengan faktor-faktor yang menahun seperti kemarahan yang dipendam.

Sebab-sebab anxiety secara umum :

1)      Ketakutan dan kecemasan yang terus menerus, disebabkan oleh kesusahan-kesusahan dan kegagalan yang bertubu-tubi

2)      Repressi terhadap macam – macam masalah emosional, akan tetapi tidak bisa berlangsung secara sempurna

3)      Kecenderungan harga diri yang terhalang.

4)      Dorongan-dorongan seksual tidak mendapat kepuasan yang terhambat, sehingga menimbulkn banyak konflik batin.

c. Terapi untuk penderita neurosis cemas

Terapi untuk penederita neurosis cemas dilakukan dengan menemukan sumber ketakutan atau kekuatiran dan mencari penyesuaian yang lebih baik terhadap permasalahan. Mudah tidaknya upaya ini pada umumnya dipengaruhi oleh kepribadian penderita. Ada beberapa jenis terapi yang dapat dipilih untuk menyembuhkan neurosis cemas, yaitu :

 

  • psikoterapi individual
  • psikoterapi kelompok
  • psikoterapi analitik
  • sosioterapi
  • terapi seni kreatif
  • terapi kerja
  • terapi perilaku
  • farmakoterapi

 

2. Histeria

a. Gejala-gejala histeria

Histeria merupakan neurosis yang ditandai dengan reaksi-reaksi emosional yang tidak terkendali sebagai cara untuk mempertahankan diri dari kepekaannya terhadap rangsang-rangsang emosional. Pada neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah dapat hilang tanpa dikehendaki oleh penderita. Gejala-gejala sering timbul dan hilang secara tiba-tiba, terutama bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi emosional yang hebat.

b. Jenis-jenis histeria

Histeria digolongkan menjadi 2, yaitu reaksi konversi atau histeria minor dan reaksi disosiasi atau histeria mayor.

1) Histeria minor atau reaksi konversi

Pada histeria minor kecemasan diubah atau dikonversikan (sehingga disebut reaksi konversi) menjadi gangguan fungsional susunan saraf somatomotorik atau somatosensorik, dengan gejala : lumpuh, kejang-kejang, mati raba, buta, tuli, dst.

2) Histeria mayor atau reaksi disosiasi

Histeria jenis ini dapat terjadi bila kecemasan yang yang alami penderita demikian hebat, sehingga dapat memisahkan beberapa fungsi kepribadian satu dengan lainnya sehingga bagian yang terpisah tersebut berfungsi secara otonom, sehingga timbul gejala-gejala : amnesia, somnabulisme, fugue, dan kepribadian ganda.

c. Faktor penyebab histeria

Menurut Sigmund Freud, histeria terjadi karena pengalaman traumatis (pengalaman menyakitkan) yang kemudian direpresi atau ditekan ke dalam alam tidak sadar. Maksudnya adalah untuk melupakan atau menghilangkan pengalaman tersebut. Namun pengalaman traumatis tersebut tidak dapat dihilangkan begitu saja, melainkan ada dalam alam tidak sadar (uncociousness) dan suatu saat muncul kedalam sadar tetapi dalam bentuk gangguan jiwa.

Sebab-sebab hysteria:

1)      Ada prediposisi pembawaan berupa system syaraf yang lemah.

2)      Tekanan-tekanan mental yang disebabkan oleh, kesusahan, kekecawaan,shocks, dan pengalaman-pengalamn taraumatis/luka jiwa.nya sugesti diri yag buruk dan melemahkan mental.

3)      Oleh kelemahan-kelemahan diri, individu berusaha menguasai keadaan, lalu mentiranisasi lingkungan dengan tingkah lakunya yang dibuat-buat.

4)      Kebiasaan hidup dan disiplin-disiplin yang keliru, sehingga mengakibatkan control pribadi yang lemah dan integrasi kepribadian yang miskin, sangat kekanak-kanakan.

5)      Sering atau selalu menggunakan escape mechanism dan defence mechanism, sehingga mengakibatkan malajustment, dan semakin banyak timbul kesulitan.

6)      Kondidi fisik yang buruk, misalnya sakit-sakitan, lemah, lelah, fungsi-fungsi organic yang lemah, gangguan pikiran, dan badaniah.

d. Terapi terhadap penderita histeria

Ada beberapa teknik terapi yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan hysteria yaitu :

  • Teknik hipnosis (pernah diterapkan oleh dr. Joseph Breuer);
  • Teknik asosiasi bebas (dikembangkan oleh Sigmund Freud);
  • Psikoterapi suportif.
  • Farmakoterapi.

 

3. Neurosis fobik

a. Gejala-gejala neurosis fobik

Neurosis fobik merupakan gangguang jiwa dengan gejala utamanya fobia, yaitu rasa takut yang hebat yang bersifat irasional, terhadap suatu benda atau keadaan. Fobia dapat menyebabkan timbulnya perasaan seperti akan pingsan, rasa lelah, mual, panik, berkeringat, dst. Ada bermacam-macam fobia yang nama atau sebutannya menurut faktor yang menyebabkan ketakutan tersebut, misalnya :

  • Hematophobia : takut melihat darah
  • Hydrophobia : takut pada air
  • Pyrophibia : takut pada api
  • Acrophobia : takut berada di tempat yang tinggi

b. Faktor penyebab neurosis fobik

Neurosis fobik terjadi karena penderita pernah mengalami ketakutan dan shock hebat berkenaan dengan situasi atau benda tertentu, yang disertai perasaan malu dan bersalah. Pengalaman traumastis ini kemudian direpresi (ditekan ke dalam ketidaksadarannya). Namun pengalaman tersebut tidak bisa hilang dan akan muncul bila ada rangsangan serupa.

c. Terapi untuk penderita neurosis fobik

Menurut Maramis, neurosa fobik sulit untuk dihilangkan sama sekali bila gangguan tersebut telah lama diderita atau berdasarkan fobi pada masa kanak-kanak. Namun bila gangguan tersebut relatif baru dialami proses penyembuhannya lebih mudah. Teknik terapi yang dapat dilakukan untuk penderita neurosis fobik adalah:

  • Psikoterapi suportif, upaya untuk mengajar penderita memahami apa yang sebenarnya dia alami beserta psikodinamikanya.
  • Terapi perilaku dengan deconditioning, yaitu setiap kali penderita merasa takut dia diberi rangsang yang tidak menyenangkan.
  • Terapi kelompok.
  • Manipulasi lingkungan.

4. Neurosis obsesif-kompulsif

a. Gejala-gejala neurosis obsesif-kompulsif

Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran atau menguasai kesadaran dan istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk tidak dilakukan, meskipun sebenarnya perbuatan tersebut tidak perlu dilakukan.

Contoh obsesif-kompulsif antara lain ;

  • Kleptomania : keinginan yang kuat untuk mencuri meskipun dia tidak membutuhkan barang yang ia curi.
  • Pyromania : keinginan yang tidak bisa ditekan untuk membakar sesuatu.
  • Wanderlust : keinginan yang tidak bisa ditahan untuk bepergian.
  • Mania cuci tangan : keinginan untuk mencuci tangan secara terus menerus.

b. Faktor penyebab neurosis obsesif-kompulsif

Neurosis jenis ini dapat terjadi karena faktor-faktor sebagai berikut (Yulia D., 2000 : 116-117).

  • Konflik antara keinginan-keinginan yang ditekan atau dialihkan.
  • Trauma mental emosional, yaitu represi pengalaman masa lalu (masa kecil).

c.  Terapi untuk penderita neurosis obsesif-kompulsif

  • psikoterapi suportif;
  • penjelasan dan pendidikan;
  • terapi perilaku.

5. Neurosis depresif

a. Gejala-gejala neurosis depresif

Neurosis depresif merupakan neurosis dengan gangguang utama pada perasaan dengan ciri-ciri : kurang atau tidak bersemangat, rasa harga diri rendah, dan cenderung menyalahkan diri sendiri.

Gejala-gejala utama gangguan jiwa ini adalah :

  • gejala jasmaniah : senantiasa lelah.
  • gejala psikologis : sedih, putus asa, cepat lupa, insomnia, anoreksia, ingin mengakhiri hidupnya, dst.

b.Faktor penyebab neurosis depresif

Menurut hasil riset mutakhir sebagaimana dilakukan oleh David D. Burns (1988 : 6), bahwa depresi tidak didasarkan pada persepsi akurat tentang kenyataan, tetapi merupakan produk “keterpelesetan’ mental, bahwa depresi bukanlah suatu gangguan emosional sama sekali, melainkan akibat dari adanya distorsi kognitif atau pemikiran yang negatif, yang kemudian menciptakan suasana jiwa, terutama perasaan yang negatif pula. Burns berpendapat bahwa persepsi individu terhadap realitas tidak selalu bersifat objektif. Individu memahami realitas bukan bagaimana sebenarnya realitas tersebut, melainkan bagaimana realitas tersebut ditafsirkan. Dan penafsiran ini bisa keliru bahkan bertentangan dengan realitas sebenarnya. Konsepsi tersebut kemudian oleh Burns dijelaskan dengan visualisasi sebagai berikut (1988 : 21).

c. Terapi untuk penderita neurosis depresif

Untuk menyembuhkan depresi, Burns (1988 : 5) telah mengembang-kan teknik terapi dengan prinsip yang disebut terapi kognitif, yang dilakukan dengan prinsip sebagai berikut.

  • o Bahwa semua rasa murung disebabkan oleh kesadaran atau pemikiran yang bersangkutan.
  • o Jika depresi sedang terjadi maka berarti pemikiran telah dikuasai oleh kekeliruan yang mendalam.
    • o Bahwa pemikiran negative menyebabkan kekacauan emosional.

Terapi kognitif dilakukan dengan cara membetulkan pikiran yang salah, yang telah menyebabkan terjadinya kekacauan emosional.

 

6. Neurasthenia

a. Gejala-gejala neurasthenia

Neurasthenia disebut juga penyakit payah.

Gejala utama :

gangguan ini adalah tidak bersemangat, cepat lelah meskipun

hanya mengeluarkan tenaga yang sedikit, emosi labil, dan

kemampuan berpikir menurun.

Di samping gejala-gejala utama tersebut juga terdapat gejalagejala

tambahan, yaitu insomnia, kepala pusing, sering merasa dihinggapi bermacam-macam penyakit, dst.

b. Faktor penyebab neurasthenia

Neurasthenia dapat terjadi karena beberapa faktor (Zakiah

Daradjat, 1983 : 34), yaitu sebagai berikut.

  • Terlalu lama menekan perasaan, pertentangan batin,
  • kecemasan.
  • Terhalanginya keinginan-keinginan.
  • Sering gagal dalam menghadapi persaingan-persaingan

 

 

 

c. Terapi untuk penderita neurasthenia

Upaya membantu penyembuahn penderita neurasthenia dapat

dilakukan dengan teknik terapi sebagai berikut.

  • Psikoterapi supportif;
  • Terapi olah raga;
  • Farmakoterapi.

 

7. Psikotenis

Gejala penyakit ini ialah kelesuan mental, phobia, takut berdiri di tempat yang tinggi, takut akan tempat yang sempit, takut mati. Selain phobia timbul obsesi (meningkatnya suatu ide yang sulit dilupakan) yang disertai compulsion (kecenderungan untuk melakukan sesuatau tanpa dapat dicegah). Seseorang yang mempunyai obsesi selalu mencuci tangannya karena selalu merasa penuh kuman. Dengan mencuci tangan dia merasa puas, sedang bila dia tidak mencuci tangan dia akan penuh kegelisahan. Salah satu jenis compulsion ialah cleptomani ( kecenderungan mencuri)

Sebab-sebab psikotenis :

  1. Represi terhadap pengalaman-pengalaman traumatis yang sangat menakutkan pada masa silam.
  2. Disertai rasa malu atau berdosa, yang kemudian ditekan kuat-kuat dalam ketidaksadaran, dalam usahanya untuk melupakan insiden tersebut, sehingga muncul gejala phobia, obsesi, dan kompulsif.
  3. Ada konflik antar untuk berani melawan rasa taku-takut yang mengerut, yang dicobanya menekan kuat-kuat dalam alam tidak sadar.

 

 

8. Neurastania

Penyakit ini ditandai oleh kelelahan yang terus menerus, wajah murung, nafsu makan berkurang, sulit tidur (insomania).

  1. Risau disebabkan oleh kekurangan kerja/kesibukan. Kelelahan dan kelemahan yang ekstrem disebabkan oleh kebanyakan kerja.
  2. Banyak menderita ketegangan emosional karena konflik-konflik internal, kesusahan, dan frustasi-frustasi.
  3. Disebabkan oleh perasaan interior, akibat dari kegagalan-kegagalan di masa lampau dan disusuli dengan tingkah laku yang agresif.
  4. Factor-faktor herediter diperkirakan juga menjadi sebabnya, akn tetapi tidak teramat penting artinya.

 

9. Hipokondria

Adalah kondisi kecemasan yang kronis, dimana pasien selalu merasakan ketakutan yang patologis terhadap terhadap kesehatan sendiri..individu yang bersangkutan merasa yakin betul bahwa dirinya mengidap suatu penyakit yang kronis. Setiap simpton kesakitan yang sekecil-kecilnya, dirasakannya sebagai suatu bencana hebat dan merupakan tragedy hidup yang dianggap bisa menyebabkan kematiannya. Semua itu disebabkan oleh banyaknya konflik-konflik intrapsikis yang sudah lama dan amat parah.

Kesehatan emosi berkaitan erat dengan kesehatan dan kondisi jiwa seseorang. Kesehatan emosi juga berkaitan dengan kondisi fisik seseorang apakah ia memiliki kondisi tubuh yang fit, bebas tekanan ( stres dan depresi ), mental yang kuat dan sebagainya. Keadaan tubuh atau fisik yang kuat saja tidak cukup untuk mencegah adanya gangguan emosi pada seseorang. Dalam hal ini asupan gizi turut mempengaruhi untuk tetap menjaga kebugaran sehingga tidak hanya kesehatan fisik yang didapat tetapi juga kesehatan jiwa.

Sebaliknya kesehatan emosi juga dapat mempengaruhi kondisi tubuh. Jika keadaan jiwanya tidak stabil, yang disebabkan stress atau depresi, maka fisiknya juga dapat menjadi lemah. Karena jiwa, perasaan, dan emosi seseorang sangat mempengaruhi keadaan fisik orang tersebut.

Cara untuk mengatasi kelabilan dari kesehatan emosi ini dapat dilakukan dengan cara memakan makanan yang sehat yang disertai asupan gizi yang cukup bagi tubuh, melakukan olah raga secara teratur, dan istirahat yang proporsional. Rekreasi atau liburan ke suatu tempat yang relatif menyenangkan dapat juga menjadi salah satu cara untuk mengembalikan kesehatan dan menekan stress.

Freud berpendapat bahwa psikoneurosis pada dasarnya adalah psiogenik. Freud mengemukakan lima interpretasi yang berbeda mengenai penyebab tingkah laku neurotik:

  1. psikoneurosis adalah akibat dari trauma-trauma yang pertama-tama bersifat seksual
  2. psikoneurosis akibat komplek oedipus yang tidak terpecahkan
  3. psikoneurosis sebagai akibat dari konflik antara dorongan id dan penyensoran moral dari superego
  4. reaksi-reaksi emosional yang ditimbulkan oleh lingkungan yang sejak awal menolak individu sebagai faktor-faktor yang mempercepat psikoneurosis
  5. penyebab psikoneurosis tidak hanya satu, melainkan banyak dan kemudian Freud memusatkan perhatiannya pada uraian mengenai reaksi-reaksi neurotik.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

CONTOH KASUS ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL DENGAN NEUROSIS CEMAS

 

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

Ny. “M” usia 26 tahun G2P1Ab0Ah1 UK 13 minggu dengan Neurosis Cemas

 

NO. REGISTER                                 : 224455

MASUK RS TANGGAL, JAM         : 28 Maret 2010, 11.00  WIB

DI RUANG                                        : RB Karya Rini

TANGGAL PENGKAJIAN              : 28 Maret 2010, 11.00 WIB

 

A. DATA SUBJEKTIF

Ibu mengatakan bahwa akhir-akhir ini sering merasa sesak nafas, dada tertekan, kepala ringan seperti mengambang, lekas lelah, keringat dingin, cemas, tegang, anorexia dan cepat panik.

 

B. DATA OBJEKTIF

1)     Keadaan umum lemah dan pucat, kesadaran compos mentis, ekspresi murung

2)     Tanda vital

Tekanan darah       : 120/80 mmHg

Nadi                       : 80 kali per menit

Pernafasan             : 24 kali per menit

Suhu                      : 38,3 ºC

3)  Edema wajah         : tidak ada

4)  Abdomen

Bentuk                   : masih tampak datar

Bekas luka             : tidak ada

Strie gravidarum    : ada

Palpasi Leopold

Leopold I               : TFU 3 jari di atas simpisis

Leopold II                                     tidak dilakukan

Leopold III

Leoplod IV

5)  Ekstremitas

Edema                   : tidak ada

6)         Pemeriksaan Penunjang

a.    Protein urine ( – )

b.    Pemeriksaan haemoglobin tanggal 28 Maret 2010 9,6 gr%

 

C.  ASSESMENT

Diagnosis kebidanan   : Ny “ M “ usia 26 tahun G2P1Ab0Ah1 UK 13 minggu dengan neurosis cemas

Masalah           : Ibu mengatakan bahwa akhir-akhir ini sering merasa sesak nafas, dada tertekan, kepala ringan seperti mengambang, lekas lelah, keringat dingin, cemas, tegang, anorexia dan cepat panik.

Kebutuhan      : KIE tentang neurosis cemas, pemberian tablet besi dan kolaborasi dengan dr. Suharto,Sp.KJ

D.  PLANNING

Tanggal 28 Maret 2010, jam 11.15 WIB

1)        Menjelaskan kepada ibu bahwa kondisi ibu kurang baik. Sekaligus memberi KIE tentang penyakit yang diderita ibu yaitu neurosis cemas, sejenis gangguan jiwa yang menyebabkan kecemasan, kepanikan maupun masalah-masalah emosional yang dihadapi ibu. Ibu paham dengan penjelasan bidan.

2)        Memberikan ibu tablet besi sebanyak 10 tablet untuk diminum setiap hari 1 kali, ibu dianjurkan untuk meminumnya sebelum tidur pada malam hari dengan sari buah atau air putih jika tidak ada sari buah karena sari buah / jus yang mengandung vitamin C dapat mempercepat penyerapan tubuh terhadap tablet besi dan mengurangi rasa mual. Ibu bersedia untuk meminumnya.

3)        Memotivasi ibu agar tidak memikirkan hal-hal yang dapat cepat memicu perasaan cemas, tegang, sesak nafas, tegang  karena sebenarnya apa yang dirasakan ibu terlalu berlebihan dan dapat mempengaruhi psikologis ibu sehingga dapat mengganggu pertumbuhan janin. Ibu mengerti dengan penjelasan bidan dan berusaha untuk bersikap rileks.

4)        Bidan memberikan konseling mengenai cara mengatasi/mengurangi kecemasan,kepanikan/emosional yaitu dengan mengajari ibu hamil memahami apa yang sebenarnya sedang dialaminya, sehingga dapat dicari jalan keluar untuk masalahnya. Serta mengajari ibu teknik relaksasi dan napas dalam untuk mengurangi ketegangan sehingga membuat perasaan ibu lebih nyaman. Ibu mau bercerita kepada bidan dan belajar teknik relaksasi.

5)        Menganjurkan klien istirahat ditempat tidur untuk mengurangi intesitas kecemasan. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin, posisi yang tepat mengurangi kepanikan dan kecemasan yang dialami. Klien berbaring ditempat tidur.

6)        Memotivasi ibu untuk menambah asupan gizi/nutrisinya, makan-makanan yang bergizi seperti sayur-sayuran hijau, daging, telur, ikan dan kacang-kacangan, maupun buah-buahan sehingga perkembangan janin dalam kandungan dapat optimal. Ibu bersedia untuk menambah asupan nutrisinya.

7)        Dengan kondisi kehamilan ibu saat ini, apabila bidan belum bisa menangani masalah yang dihadapi ibu hamil tersebut ibu dianjurkan untuk konsultasi kepada dr. Suharto SpKJ. Ibu mengerti dan bersedia untuk berkonsultasi pada dr. Suharto SpKJ apabila kondisi emosional dan kecemasannya belum bisa teratasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

1)     Dirgagunarsa, Singgih. 1982. Pengantar Psikologi. Jakarta : Mutiara Sumber Widya.

2)     Hanafiah Zulfadin, Rusman, dkk. 1989. Stres, Kecemasan dan Depresi. Surabaya. Yayasan Kesehatan Jiwa ” Aditama ”.

3)     http://irsmamuhikra.blogspot.com

4)     Kuntjojo.2009. Diktat Psikologi Abnormal. Kediri : Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Nusantara PGRI.

5)     www.okezone.com

6)     Suroto. 1994. Stress. Jakarta : Gajah Mada University Press.

7)     http: //Yuntaq3. wordpress.com