Sampai sekarang penyakit hipertensi dalam kehamilan (HDK) masih merupakan masalah kebidanan yang belum dapat dipecahkan dengan tuntas. HDK adalah salah satu dari trias

penyebab utama kematian ibu di camping perdarahan dan infeksi. Penanganan kasus HDK atau Gestosis atau EPH Gestosis masih tetap merupakan kontroversi karena sampai saat ini etiologi dan patofisiologi penyakit HDK masih belum jelas diketahui, sehingga penanganan yang definitif belum mungkin dijalankan dengan sempurna. Hanya tenninasi kehamilan yang dapat di-

anggap sebagai terapi yang definitif.

HDK adalah komplikasi kehamilan setelah kehamilan 20 minggu yang ditandai dengan timbulnya hipertensi, disertai salah satu dari : edema, proteinuria, atai – edua-duanya. Klasifikasinya sebagai berikut :

  1. HDK sebagai penyulit yang berhubungan langsung dengan kehamilan :
    1. 1)Pre-eklamsia
    2. 2)Eklamsia
    3. HDK sebagai penyulit yang tidak berhubungan langsung dengan kehamilan :
      1. Hipertensi kronik.
      2. Pre-eklamsia/eklamsiapadahipertensikronik/superimposed.
      3. 4.      Transient hypertension.
      4. 5.      HDK yang tidak dapat dikiasifikasikan.

 

  1. a.      Definisi dan Kriteria
  2. 1.  Hipertensi ialah :

a)  Bila tekanan darah sistolik 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik >_ 90 mmHg.

b)  Kenaikan tekanan darah sistolik 30 mmHg.

c)   Kenaikan tekanan darah diastolik  15 mmHg. Untuk mengukur tekanan darah yang pertama dilakukan dua kali setelah istirahat duduk 10 menit. Pengukuran tekanan darah ini harus dilakukan sekurang-kurangnya 2 kali dengan selang waktu 6 jam dan ibu dalam keadaan istirahat.

  1. Pre-eklamsia

Ialah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan/atau edema akibat kehamilan, setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblas.

  1. Eklamsia

ialah timbulnya kejang pada penderita pre-eklamsia yang disusul dengan koma. Kejang ini bukan akibat dari kelainan neurologik.  

  1. Hipertensi kronik

Hipertensi yang menetap oleh sebab apapun, yang ditemukanpada umur kehamilan kurang dari 20 minggu, atau hipertensi yang menetap setelah 6 minggu pasca persalinan.

  1. Superimposed pre-eklamsia/eklamsia

Ialah timbulnya pre-eklamsia atau eklamsia pada hipertensi kronik.

  1. Transient hypertension

lalah hipertensi dalam kehamilan pada wanita yang tekanan darahnya normal sebelum hamil dan tidak mempunyai gejala-gejala hipertensi kronik atau pre-eklamsia atau eklamsia.  Gejala ini akan hilang setelah 10 hari pasca persalinan.

  1. b.      Etologi

Faktor predisposisi :

1)      Primigravida atau nullipara, terutama pada umur reproduksi ekstrem, yaitu remaja dan umur 35 tahun ke atas.

2)      Multigravida dengan kondisi klinis :

a) Kehamilan ganda dan hidrops fetalis.

b) Penyakit vaskuler termasuk hipertensi esensial kronik dan diabetes mellitus.

c) Penyakit-penyakit ginjal.

3)      Hiperplasentosis : Molahidatidosa,kehamilan ganda, hi drops fetalis, bay i besar, diabetes mellitus.

4)      Riwayat keluarga pernah pre-eklamsia atau eklamsia.

5)      Obesitas dan hidramnion.

6)      Gizi yang kurang dan anemi.

7)      Kasus-kasus dengan kadar asam urat yang tinggi, defisiensi kalsium, defisiensi asam lemak tidak jenuh, kurang antioksidans.

 

  1. c.       Patogenesis

Belum diketahui dengan pasti. Proses iskemik uteroplasenter menyebabkan vasospasmus arteriole/kapiler secara umum sehingga menimbulkan kelainan patologis pada organ-organ vital.

  1. 1.      Pre-Eklamsia Ringan

Kriteria :

1)      Tekanan darah > 140/90 mmHg atau tekanan darah sistolik naik > 30 mmHg atau kenaikan tekanan darah diastolik > 15 mmHg tetapi < 160/110 mmHg.

2)      Edema

3)      Proteinuria, setelah kehamilan 20 minggu.

  1. 2.      Pre-Eklamsia Berat

Kriteria :

1)    Tekanan darah 160/110 mmHg.

2)    Proteinuria lebih 5 gram/24 jam atau kualitatif 3+/4+.

3)    Oliguria 500 ml/24 jam.

4)    Nyeri kepala frontal atau gangguan penglihatan.

5)    Nyeri epigastrium.

6)    Edema paru atau sianosis.

7)    Pertumbuhan janin intrauterin yang terlambat (IUFGR).

8)    HELLP syndrome (H = Hemolysis; EL = Elevated Liver enzymes; LP = Low Platelet counts).

 

  1. 3.      Eklamsia

Eklamsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang dan atau koma. Sebelumnya wanita tadi menunjukkan gejala-gejala pre-eklamsia (kejang-kejang timbul bukan akibat kelainan neu- rologik).

 

  1. 4.      Hipertensi Kronik Dalam Kehamilan

Adanya hipertensi yang persisten oleh sebab apapun juga yang ditemukan pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu atau hipertensi persisten setelah 6 minggu pasca persalinan. Diagnosis klinik Diagnosis hipertensi kronik pada kehamilan ditegakkan berdasarkan gejala-gejala sebagai berikut :

a)   Adanya riwayat hipertensi sebelum kehamilan atau didapatkan hipertensi pada kehamilan kurang dari 20 minggu.

b)   Ditemukan kelainan organik, misalnya : pembesaran jantung, kelainan ginjal, dan sebagainya.

c)   Umur ibu di atas 30 tahun dan umumnya multigravida.

d)   Bila terjadi superimposed preeclampsia, maka didapatkan : tekanan darah sistolik lebih dari 200 mmHg adanya perubahan-perubahan pada pembuluh darah retin berupa eksudasi, perdarahan, dan penyempitan.

e)   Retensi air dan natrium tidak menonjol. Jarang didapatkan edema dan proteinuria.

f)   Hipertensi masih temp didapatkan sampai 6 bulan pasca persalinan.

 

Komplikasi

Gagal ginjal, gagal jantung, edema paru-paru, kelainan

pembekuan darah, perdarahan otak, kematian janin.

 

 

 

 

 

 Image

INTISARI

Hubungan antara pelaksanaan IMD dengan Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Mlati II tahun 2011

 

Latar Belakang :P uskesmas Mlati II salah satu Puskesmas rawat inap di Kabupaten Sleman  telah menerapkan pertolongan persalinan APN dengan IMD. IMD sebagai pilar utama  proses menyusui dapat  memberikan  ibu kesempatan meningkatkan rasa percaya diri dalam memberikan  ASI sehingga keberlangsungan menyusui terjadi, sudah dilaksanakan lebih dari 90%. Cakupan ASI Eksklusif di Kabupaten Sleman tertinggi dibandingkan kabupaten lain sebanyak  35,28%.

Tujuan : Diketahuinya hubungan antara pelaksanaan IMD dengan pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Mlati II tahun 2011.

Metode : Penelitian observasional ini menggunakan metode cross sectional dengan teknik pengambilan subjek accidental sampling. Subjek yang diteliti sejumlah 64 ibu dengan kriteria inklusi memiliki anak minimal usia 6 bulan dan berkunjung ke Puskesmas. Hasil penelitian dianalisis secara analitik korelasional dengan uji statistika Chi Square.

Hasil : Karakteristik subyek pada penelitian ini sebagian besar berumur 20-35 tahun (79,68%), berpendidikan SMA (56,25%), dan tidak bekerja (46%). Berdasarkan dari analisa data menunjukkan bahwa p-value 0,00 < 0,05 yaitu menunjukkan ada hubungan antara pelaksanaan  IMD dengan pemberian ASI Eksklusif. Hubungan antara kedua variabel rendah dengan hasil perhitungan koefisien kontingensi yaitu 0,347.

Kesimpulan : Terdapat hubungan antara pelaksanaan IMD dengan pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Mlati II tahun 2011.

Kata Kunci : IMD, ASI Eksklusif

Bidan DELIMA

Posted: September 15, 2011 in konsep kebidanan
Tag:,

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.Latar Belakang

Sebagai salah satu profesi dalam bidang kesehatan, bidan memiliki kewenangan untuk memberikan Pelayanan Kebidanan Kesehatan Reproduksi kepada perempuan remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, bersalin, nifas, masa interval, klimakterium dan menopause, bayi baru lahir, serta anak balita dan prasekolah. Selain itu, bidan juga berwenang untuk memberikan Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Masyarakat.

Dari tahun ke tahun, permintaan masyarakat terhadap peran aktif bidan dalam memberikan pelayanan terus meningkat. Ini merupakan bukti bahwa eksistensi bidan di tengah masyarakat semakin memperoleh kepercayaan, pengakuan, dan penghargaan. Berdasarkan hal inilah, bidan dituntut untuk selalu berusaha meningkatkan kemampuan sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanannya termasuk pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Hanya melalui pelayanan berkualitas pelayanan yang terbaik dan terjangkau yang diberikan oleh bidan, kepuasan pelanggan baik kepada individu, keluarga, dan masyarakat dapat tercapai.

Program Bidan Delima mulai dicanangkan pada akhir tahun 2003 dengan bantuan dana dari USAID melalui STARH program. Program ini dilaksanakan di enam propinsi yakni, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. Pada tahun 2005, Program Bidan Delima dikembangkan di tiga propinsi baru, yaitu Bali, DIY, dan Sumatera Selatan. Menyusul kemudian di propinsi NAD dan Banten pada akhir tahun 2006.

B. Tujuan

            Tujuan yang ingin dicapai dari penyusunan makalah ini adalah:

  1. Memberikan pengetahuan tentang apa itu bidan delima.
  2. Memberikan pengetahuan tentang visi dan misi bidan delima.
  3. Memberikan pengetahuan tentang proses sertifikasi bidan delima.
  4. Memberikan pengetahuan tentang filosofi logo bidan delima.

 

 

C. Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh dengan disusunnya makalah ini antara lain:

  1. Mahasiswa mengetahui seluk beluk bidan delima.
  2. Mahasiswa termotivasi untuk belajar sehingga kelak menjadi bidan yang berkualitas.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian

Bidan Delima adalah suatu program terobosan strategis yang mencakup:

  1. Pembinaan peningkatan kualitas pelayanan bidan dalam lingkup Keluarga Berencana (KB) dan Kesehatan Reproduksi.
  2. Merk Dagang/Brand.
  3. Mempunyai standar kualitas, unggul, khusus, bernilai tambah, lengkap, dan memiliki hak paten.
  4. Rekrutmen Bidan Delima ditetapkan dengan kriteria, sistem, dan proses baku yang harus dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan.
  5. Menganut prinsip pengembangan diri atau self development, dan semangat tumbuh bersama melalui dorongan dari diri sendiri, mempertahankan dan meningkatkan kualitas, dapat memuaskan klien beserta keluarganya.
  6. Jaringan yang mencakup seluruh Bidan Praktek Swasta dalam pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi.

 

  1. B.      Dasar Hukum

1. UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.

2. Anggaran Dasar IBI Bab II Pasal 8 dan Anggaran Rumah Tangga IBI Bab III Pasal 4.

3. Kepmenkes No. 900/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktek Bidan.

4. SPK (Standar Pelayanan Kebidanan) IBI 2002.

 

  1. C.  Tujuan
    1. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
    2. Meningkatkan profesionalitas Bidan.
    3. Mengembangkan kepemimpinan Bidan di masyarakat.
    4. Meningkatkan cakupan pelayanan Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana.
    5. Mempercepat penurunan angka kesakitan dan kematian Ibu, Bayi dan Anak.

                                                                                           

 

  1. D.  Manfaat

Manfaat yang bisa diperoleh dengan berpartisipasi sebagai Bidan Delima antara lain:

1. Kebanggaan profesional

2. Kualitas pelayanan meningkat

3. Pengakuan organisasi profesi

4. Pengakuan masyarakat

5. Cakupan klien meningkat

6. Pemasaran dan promosi

7. Penghargaan bidan delima

 

E. Logo Bidan Delima

Makna yang ada pada Logo Bidan Delima adalah:

Bidan : Petugas Kesehatan yang memberikan pelayanan yang berkualitas, ramah-tamah, aman-nyaman, terjangkau dalam bidang kesehatan reproduksi, keluarga berencana dan kesehatan umum dasar selama 24 jam.
Delima : Buah yang terkenal sebagai buah yang cantik, indah, berisi biji dan cairan manis yang melambangkan kesuburan (reproduksi).
Merah : Warna melambangkan keberanian dalam menghadapi tantangan dan pengambilan keputusan yang cepat, tepat dalam membantu masyarakat.
Hitam : Warna yang melambangkan ketegasan dan kesetiaan dalam melayani kaum perempuan (ibu dan anak) tanpa membedakan.
Hati : Melambangkan pelayanan Bidan yang manusiawi, penuh kasih sayang (sayang Ibu dan sayang Bayi) dalam semua tindakan/ intervensi pelayanan.

Bidan Delima melambangkan pelayanan berkualitas dalam Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana yang berlandaskan kasih sayang, sopan santun, ramah-tamah, sentuhan yang manusiawi, terjangkau, dengan tindakan kebidanan sesuai standar dan kode etik profesi.

Logo/branding/merk Bidan Delima menandakan bahwa BPS tersebut telah memberikan pelayanan yang berkualitas yang telah diuji/diakreditasi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, memberikan pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan dan kepuasan pelanggannya (Service Excellence).

 

  1. F.   Visi Dan Misi
  2. Visi

Meningkatkan kualitas pelayanan untuk memberikan yang terbaik, agar dapat memenuhi keinginan masyarakat.

  1. Misi

Bidan Delima adalah Bidan Praktek Swasta yang mampu memberikan pelayanan berkualitas terbaik dalam bidang kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, bersahabat dan peduli terhadap kepentingan pelanggan, serta memenuhi bahkan melebihi harapan pelanggan.

 

  1. G.  Proses Menjadi Bidan Delima

Ada beberapa tahap yang harus dilalui seorang Bidan/BPS yang ingin menjadi Bidan Delima, yaitu:

  1. Untuk menjadi Bidan Delima, seorang Bidan Praktek Swasta harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, yaitu : memiliki SIPB, bersedia membayar iuran, bersedia membantu BPS menjadi Bidan Delima dan besedia mentaati semua ketentuan yang berlaku.
  2. Melakukan pendaftaran di Pengurus Cabang.
  3. Mengisi formulir prakualifikasi.
  4. Belajar dari Buku Kajian Mandiri dan mendapat bimbingan fasilitator.
  5. Divalidasi oleh fasilitator dan diberi umpan balik. Prosedur validasi standar dilakukan terhadap semua jenis pelayanan yang diberikan oleh Bidan Praktek Swasta yang bersangkutan.

 

Bagi yang lulus, yaitu yang telah memenuhi seluruh persyaratan minimal dan prosedur standar, diberikan sertifikat yang berlaku selama 5 tahun dan tanda pengenal signage, pin, apron (celemek), dan buku-buku. Bagi yang belum lulus, fasilitator terus mementor sampai ia berhasil lulus jadi Bidan Delima.

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Bidan delima adalah suatu wadah bagi bidan – bidan yang telah terkualifikasi berdasarkan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh IBI dan kualitas pelayanannya terjamin, sehingga masyarakat tidak perlu ragu lagi apabila akan meminta pelayanan kepada bidan yang telah terdaftar sebagai bidan delima.

 

  1. B.     Saran

Penyusun makalah menyarankan agar pihak yang terkait ( IBI ) lebih gencar lagi melakukan promosi bidan delima agar masyarakat meminta asuhan kepada bidan yang telah bersertifikasi bidan delima. Selain itu, para bidan harus lebih meningkatkan kualitas pelayanan agar bisa lolos sertifikasi bidan delima dan bisa melayani klien secara profesional.

Masyarakat hendaknya mulai menyadari pentingnya mengetahui kualitas bidan yang mengasuhnya demi kesejahteraan dirinya dan janinnya.

SEJARAH PELAYANAN KEBIDANAN DI NEW ZEALAND

 

Selandia Baru telah mempunyai peraturan tentang cara kerja kebidanan sejak tahun 1904. Tetapi, lebih dari seratus tahun yang lalu lingkup praktek bidan telah berubah secara berarti sebagai hasil dari meningkatnya sistem perumahsakitan dan pengobatan atau pertolongan dalam kelahiran. Karena adanya otonomi bagi pekerja yang bergerak dalam praktiknya dengan lingkup praktik yang penuh di awal tahun 1900, secara perlahan bidan menjadi asisten dokter. Bidan bekerja di masyarakat dimulai dengan bekerja di rumah sakit dalam area tertentu, seperti klinik antenatal, ruang bersalin, ruang nifas, kehamilan dan persalinan menjadi terpisah, khusus dan tersendiri secara keseluruhan. Dalam proses ini bidan kehilangan pandangan bahwa persalinan adalah suatu peristiwa yang normal dan dengan peran mereka sendiri pun sebagai pendamping pada peristiwa normal tersebut. Di samping itu bidan menjadi berpengalaman memberikan intervensi dan asuhan maternitas yang penuh dengan pengaruh medis, dimana seharusnya para dokter di rumah sakit secara langsung yang lebih tepat memberikannya.

Model di atas ditujukan untuk memberikan pelayanan maternal dan untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian ibu dan janin, hal ini berlangsung pada tahun 1920 sampai tahun 1980, dimana yang memberlakukan model tersebut adalah negara-negara barat seperti Selandia Baru, Australia, Inggris dan Amerika. Tetapi strategi seperti itu tidak mencapai kesuksesan.

 

PERAN DAN FUNGSI BIDAN DI SELANDIA BARU

  1. Kebidanan sebagai profesi otonomi

Midwifery in New Zealand regained its status as an autonomous profession in 1990.  Midwifery is a profession with a distinct body of knowledge and its own Scope of Practice, Code of Ethics and Standards of Practice.            Kebidanan di Selandia Baru kembali statusnya sebagai profesi yang otonom pada tahun 1990. Kebidanan adalah profesi dengan tubuh  ilmu pengetahuan berbeda dan mempunyai bidang praktik sendiri, Kode Etik dan Standar Praktek.

 

New Zealand telah mematok 4 kompetensi utama yang harus dimiliki oleh seorang

bidan. Yakni ilmu tentang prenatal hingga postnatal, pengetahuan tentang keluarga, kemampuan

menggunakan hasil-hasil penelitian, dan bagaimana bidan itu bisa mengembangkan diri sendiri.

 

 

Bidan diharapkan untuk bekerja dalam kemitraan dengan perempuan, menyediakan atau mendukung kesinambungan asuhan kebidanan melalui pendekatan pengalaman wanita. Midwives work collaboratively with other health professionals when necessary to meet any additional medical, health or social needs of mothers and their babies. Bidan bekerja sama dengan tenaga profesional kesehatan lain bila diperlukan untuk memenuhi banyak kebutuhan medis, kesehatan atau kebutuhan sosial ibu dan bayi mereka.

 

  1. Konteks dalam praktik

Semua perawatan bersalin gratis, kecuali jika seorang wanita memilih persalinan pribadi, yang mungkin menuntut wanita mengeluarkan biaya tambahan di samping biaya tetap yang sudah diterima dari pemerintah.

Lead Maternity Carers are selected by women to provide their lead maternity care and can be midwives or general practitioners with a diploma in obstetrics or obstetricLead Carers Maternity dipilih oleh perempuan untuk memberikan bimbingan asuhan bersalin mereka yang dapat dilakukan bidan atau praktisi umum dengan lulusan diploma kebidanan atau dokter kandungan. Lead Maternity Carers take responsibility for the care provided to women throughout pregnancy and the postpartum period including the management of labour and birth. Lead Carers Maternity bertanggung jawab atas perawatan yang diberikan kepada perempuan selama kehamilan dan periode pasca-melahirkan termasuk manajemen kerja dan kelahiran. Perempuan  Women in New Zealand can give birth at home, in primary maternity facilities or birthing centres, or in secondary maternity hospitals.di Selandia Baru dapat melahirkan di rumah, di  fasilitas bersalin dasar atau klinik bersalin pusat, atau di rumah bersalin sekunder.

 

  1. Model terpadu dalam layanan persalinan

The LMC model of primary maternity care is the cornerstone of the maternity service.Model LMC perawatan ibu hamil primer adalah batu penjuru dari layanan bersalin. All other services fit in around this model so that the woman experiences a seamless maternity service that meets her individual needs, whatever these might be. Semua layanan lainnya sesuai dengan model ini sehingga wanita hamil mendapatkan layanan dengan lancar, yang memenuhi kebutuhan individu-nya, This model is unique in the world and has been highly successful in New Zealand with women expressing considerable satisfaction with their maternity services.Model ini unik di dunia dan telah sangat berhasil di Selandia Baru dengan perempuan menyatakan cukup puas dengan layanan bersalin.

4.    Pendidikan Kebidanan

Pendidikan kebidanan model terpadu yang telah dikembangkan di Selandia Baru di mana pendidikan yang mencerminkan kebutuhan dan arah praktek, dan pendidik dan  praktisi berbagi tanggung jawab untuk persiapan semua praktisi kebidanan. (Further discussion of partnerships in midwifery education can be found in Sally Pairman’s paper published in the NZCOM Journal [Pairman, S.(2001). International trends and partnerships in midwifery education. New Zealand College of Midwives Journal, 24, 7-9].NZCOM yang mempunyai andil besar dalam pendidikan kebidanan di Selandia Baru mempunyai kerangka kerja pendidikan, yakni:

  • menetapkan peranan dari Selandia Baru College of Midwives (NZCOM) dalam kaitannya dengan latihan dan pendidikan kebidanan di Selandia Baru, dan hubungan NZCOM dengan organisasi lain dengan tanggung jawab untuk pendidikan kebidanan. Ini juga membahas hubungan antara kebidanan dan pendidikan keperawatan dalam konteks layanan bersalin Selandia Baru.
  • memberikan latar belakang pengembangan kerangka kerja
  • menetapkan Kerangka Nasional Pendidikan Kebidanan. Ini memberikan arah untuk pendidikan kebidanan dan lembaga pendidikan menawarkan program-program kebidanan dan mewakili pandangan konsensus bidan anggota NZCOM

 

5.    Tinjauan Standar Kebidanan

  • maintain professional standards of practice mempertahankan standar praktik profesional
  • reflect on the partnership between women and midwives throughout the childbirth experience using the feedback received from women. merefleksikan kemitraan antara perempuan dan bidan di seluruh pengalaman melahirkan menggunakan umpan balik yang diterima dari kaum perempuan. (Consumer feedback forms provide women with the opportunity to provide feedback on the care they received. This information is used by the midwife and her reviewers during her review. There are seperate forms available for core and LMC midwives
  • berpikir tentang pekerjaannya menggunakan Standar NZCOM Praktek diterima sebagai prinsip-prinsip perawatan kebidanan di Selandia Baru
  • demonstrate her commitment to ongoing professional development and accountabilitymenunjukkan komitmennya terhadap pengembangan profesional berkelanjutan dan akuntabilitas
  • examine her practice with midwifery peers and consumers of midwifery servicesmemeriksa praktiknya dengan rekan-rekan kebidanan dan konsumen layanan kebidanan

KOMENTAR

Kebidanan di Selandia Baru menempati posisi yang penting dalam pemeliharaan kesehatan ibu dan anak. Bidan mempunyai tanggungjawab dalam menerapkan asuhan kebidanannya dengan berdasarkan kode etik dan standar praktik kebidanan. Model kebidanan yang dipakai di negara ini adalah model terpadu yang meggunakan pendekatan kemitraan atau partnership dengan klien sehingga tercapai kepuasan klien terhadap layanan persalinan yang diberikan. Dalam praktiknya, bidan dapat praktik mandiri maupun kolaborasi dengan tenaga medis yang lain jika diperlukan.

Pendidikan kebidanan di Selandia Baru, aturannya diatur oleh NZCOM(Selandia Baru College of Midwife) dan organisasi pendidikan lainnya. Lead Carers Maternity dipilih oleh perempuan di Selandia Baru yang terdiri dari bidan atau praktisi umum dengan lulusan diploma kebidanan atau dokter kandungan.

Perempuan  Women in New Zealand can give birth at home, in primary maternity facilities or birthing centres, or in secondary maternity hospitals.di Selandia Baru dapat melahirkan di rumah, di  fasilitas bersalin dasar atau klinik bersalin pusat, atau di rumah bersalin sekunder. Semua perawatan bersalin gratis, kecuali jika memilih persalinan secara pribadi, mereka diharuskan mengeluarkan biaya tambahan selain biaya yang digratiskan pemerintah.

Peran dan fungsi bidan di Selandia Baru sebagai pelaksana memberikan kepuasan bagi para pasien. Program Pemerintah dalam membebaskan biaya persalinan bagi para warga berbeda dengan di Indonesia. Terdapat berbagai kasus setelah persalinan pasien tidak mampu membayar biaya persalinan karena masalah ekonomi ,pemerintah tidak ikut campur dalam pelaksanaan pelayanan kebidanan.

Dilihat dari kemitraannya, di Indonesia hubungan warga dengan bidan belum begitu terlihat kedekatannya sehingga masyarakat kurang puas dalam mendapatkan pelayanan. Selain itu biaya yang ditetapkan bidan masih tinggi bagi masyarakat kelas bawah.

Di New Zealand sendiri, profesi bidan sudah berjalan dengan mantab. Meski hanya berpenduduk

4 juta jiwa. New Zealand telah berhasil mengatur dengan baik masalah kebidanannya. “Jika dilihat, bidan kita jauh lebih

banyak menangani kelahiran, ketimbang bidan di New Zealand, tapi untuk ilmu kita masih harus

belajar dari sana,” sahut salah seorang peserta konferensi.

Dalam hal ini,

Lalu bagaimana dengan bidan Indonesia ? bidan kita

sudah merujuk pada 9 perilaku professional bidan. Yakni bertindak sesuai keahliannya, bermoral

tinggi, berlaku jujur, tidak melakukan coba-coba, tidak memberi janji berlebihan, mengembangkan

kemitraan, terampil berkomunikasi, mengenal batas kemampuan, serta mengadvokasi pilihan ibu.

Sebenarnya yang sulit itu adalah bagaimana menata skill untuk bidan. Bidan perlu kolaborasi yang kuat. Memadukan antara organisasi profesi, pendidikan, dan

layanan, serta kerjasama antara IBI dan stake holder.

 

 

(file://localhost/H:/haiiiii/KEBIDANAN%20SELANDIA%20BARU.htm

file://localhost/H:/haiiiii/NZCOM-Midwifery-Education-Framework.htm)

 

SPIROCHAETA

Posted: September 13, 2011 in mikrobiologi

SPIROCHAETA

Golongan kuman ini termasuk dalam orgo Spirochaetales yang dibagi kedalam 2 familia morfologi seperti panjang sel. Jumlah spiral. Ada tidaknya filament aksial, dan lain – lain.

Klasifikasi menurut Bergey 1984 adalah sebagai berikut :

Spirochetes :

Order I. Spirochaetales

Family I. Spirochaetaceae

Genus 1. Spirochaeta

Genus 2. Christispira

Genus 3. Treponema

Genus 4. Borrelia

Family II. Leptospiraceae

Genus 1. Leptospira

 

FAMILIA SPIROCHAETACEAE

Bekteri ini tidak memiliki flagella, berbentuk spiral halus, langsing, fleksibel, merupakan gram negatif, bersifat anaerob, fakulatif anaerob atau mikroaerofil. Ukuran lebar 0.1 – 0.3 um, panjang 5 – 300 um. Walaupun tanpa flagella dapat bergerak aktif secara cepat melalui 3 cara yakni rotasi, kontraksi, dan gerakan seperti ular. Gerakan tersebut disebabkan karena kuman ini memiliki beberapa lembar filament yang terletak diantara dinding sel dan membrane sitoplasma terentang dari ujung satu keujung lainya.

Spirochaeta hidup bebas didalam air yang mengandung H2S, dilumpur, atau didasar laut. Bagi pertumbuhanya dibutuhkn media yang diperkaya dengan serum dan dalam suasana anaerob.

Kuman ini dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop medan gelap atau dengan pengecatanm khusus seperti Giemsa Fontana, atau Levaditti (impregnasi perak). Terdapat 3 genus yang patogen bagi manusia yakni Treponema, Boriela, dan Leptospira.

GENUS TREPONEMA

Treponema pallidum

Kuman ini merupakan penyebab penyakit lues (safilis) dengan membentuk ulkus pada organ genital kemudian menjadi infeksi umum.

A.    Morfologi dan Identifikasi

Berbentuk spiral halus, ramping berukuran panjang 5-15 um dan tebal 0.2 um. Untuk pengamatan biasanya digunakan mikroskop medan gelap, imunofloerosensi atau dengan impregnasi perak karena kuman ini mampu mereduksi perak nitrit menjadi perak metalik sehingga treponema dalam jaringan dapat teramati (Impregnasi perak dari Levaditti).

Koil spiral tersusun teratur dengan jarak 1 um. Kuman ini bergerak aktif dengan berputar teratur mengelilingi sumbu panjang. Sumbu sepanjang spiral biasanya lurus, tetapi kadang-kadang membengkok sehingga memungkinkan kuman ini suatu saat membentuk lingkaran kemudian kembali keposisi normal. Selain bentuk spiral dikenal fase granulair berbentuk bulat seperti kista.

T. pallidum belum berhasil dibiakkan dengan baik pada media buatan, telur berembrio ataupun biakkan jaringan, tetapi strain Reiter yang non patogen dapat tumbuh secara anaerob (in vitro). Kuman ini tetap hidup selama 3-6 hari pada 25° C, sedangkan pada darah yang disimpan pada suhu 4° C dapat hidup selama 24 jam. Sifat ini perlu diperhatikan mengingat ada kemungkinan penularan lues melalui transfusi darah. Pada suhu 24°C kuman ini akan mati, sifat ini dahulu digunakan sebagai terapi lues (fefer therapy) dengan menyuntikan parasit malaria secara intravena agar penderita menjadi demam sehingga treponema mati.

Treponema peka terhadap pengeringan dan pemanasan, senyawa arsen, merkuri dan bismut.

T. pallidum berkembang dengan belah pasang secara transversal setelah membelah kuman saling melekat satu sama lain untuk beberapa saat. Penisilin pada konsentrasi rendah bersifat mamatikan treponema secara lambat, hal ini disebabkan karena lambatnya multiplikasi kuman ini.

Antigen T. pallidum belum diketahui secara jelas. Antibodi terhadap kuman ini pada manusia dapat dideteksi dengan tes immobilisasi (TPI), FAT (imunoflourensi) dan tes ikatan komplemen. Didalam tubuh manusia akibat infeksi lues akan terbentuk regain. Zat tersebut terbentuk karena adanya jaringan yang rusak (yang bersifat sebagai hapten) yang apabila berikatan dengan protein T. pallidum akan membentuk antigen lengkap sehingga menginduksi terbentuknya reagin. Zat ini akan memberikan hasil positif pada tes ikatan komplemen dan tes flokulasi dengan suspensi ekstrak jantung mamalia (sapi). Zat ini kemudian digunakan dalam uji serelogik untuk diagnosa penyakit sifilis seperti tes Wasserman, VDRL, Kahn.

B.     Patogenesis, patologi dan gejala klinik

Penularan penyakit lues pada manusia dapat melaui kohabitasi, saliva, transfusi darah, serta transplantasi. Masa tunas 4 – 6 minggu. Kurang lebih 30% kasus infeksi sifilis dini sembuh sempurna tampa pengobatan, pada 30% lainya infeksi yang tidak diobati menjadi laten, dengan uji serologi positif, sedangkan sisanya penyakit berkembang menjadi stadium lebih lanjut.

 

Stadium I : afek primer :

Lesi primer 10 – 20% terjadi pada intrarektal, perianal dan oral. T. pallidum masuk tubuh dengan mnembus mukosa atau luka pada kulit. Kuman berkembang biak pada tempat ia masuk, sebagian menyebar ke kelenjar limfe setempat dan peredaran darah. Pada 2 – 10 minggu setelah infeksi pada tempat masuk (organ genitalia) terbentuk papula merah yang membesar, mengeras (indurasi), kemudian terjadi nekrosis, pecah dan menjadi ulkus (ulkus durum). Dasar ulkus bersih, pada palpalasi keras, tidak nyeri, lesi ini sembuh spontan. Bila lesi ini dipijit akan keluar eksudat yang mengandung kuman. Cairan ini disebut serum Reitz. Lesi primer pada pria biasanya terjadi pada glans atau preputium penis, sedangkan pada wanita terdapat pada vulva, labia mayora, labia minora atau vagina.

Stadium II : stadium bubo :

Terjadi pada minggu 6 – 12 setelah efek primer. Timbul pembengkaknan kalenjer limfe yang tidak nyeri dan tidak melekat pada kulit. Pembengkakan kemudian menghilang, kuman masuk peredaran darah menyebar keseluruh tubuh disertai demam, kelainan kulit, mukosa mulut, anus serta alat genitalia. Kelainan berbentuk macula, vesikula, pustula yang efektif.

 

Stadium III : stadium laten :

Kelainan kulit tang terjadi kadang-kadang dapat sembuh dengan sendirinya untuk kemudian terbentuk suatu gumma (granulomatosa), suatu ulkus dengan tepi tidak meradang. Gumma dapat tejadi pada tulang, sendi, kulit dean alat-alat dalam. Pada stadium ini terjadi perubahan degeneratif system syaraf pusat (safilis meningovaskuler, paresis dan tabes) Rambut rontok dalam beberapa tahun karena folikel.

 

 

Stadium IV : stadium neurollus :

Terjadi pada 5 – 15 tahun setelah efek primer, merupakan akibat penyebaran kuman ke system syaraf pusat, dengan gejala : tabes dorsalis atau gejala psikiatrik seperti dimentia paralitika. Pada stadium II dan IV, T. pallidum sulit ditemukan dalam lesi.

Penyakit ini dibagi 2 menurut cara perolehnya yakni sifilis dapatan dan sifilis kongenita

  1. Sifilis dapatan (aquisita) :

Secara alamiah infeksi T. pallidum hanya terbatas pada manusia, ditullarkan lewat hubungan seksual dengan lesi pada kulit atau membrana mukosa alat kelamin.

  1. Sifilis kongenita :

Bila seorang ibu hamil menderita sifilis, terutama pada stadium II, penularan dapat terjadi pada bayinya secara transplasental. Akibat yang terjadi tergantung pada masa kehamilanya.

Trimerter I       : dapat timbul abortus atau sifilis congenital

Trimester II     : stillbirth, prematuritas atau lues tarda

Trimester III    : anak lahir aterm, tetapi meninggal dengan maserasi, kulit penuh dengan bula yang efektif. Segala sesuatu yang dikeluarkan ibunya lewat vagina bersifat infeksius.

Anak yang lahir hidup menderita gejala : hidung pelana (saddle nose), kulit keriput, pada telapak dan tangan terdapat gelembung (pemfigus sifilitikus), splenomegali. Pada foto tulang panjang ditemukan osteochondritis, dengan daerah metaphisis yang mengapur dan melebar.

Lues tarda : anak yang lahir tampak normal dan sehat, tetapi sebenarnya sedang terjadi infeksi laten. Kurang lebih 8 tahun kemudian timbul gejala tuli sentral, kornea keruh, gigi seri bergerigi. Ketiga gejala tersebut dikenal sebagai Trias Hutchinson. Bila anak menjadi dewasa, timbul kelainan SSP seperti hemiplegi, tabes dorsalis, dimentia paralitika, serta idiosi.

C.    Diagnosa labolatorik

Bahan pemeriksaan berupa cairan jaringan lesi awal untuk uji mikroskopik. Serum untuk uji serologik.

  1. 1.      Pemeriksaan mikroskopik

Pada stadium I :

Bersihkan lesi dengan pinset dan kain kasa dengan NaCl, tekan lesi sampai keluar serum Ritz yang jernih (bila berdarah diulang). Dibuat preparat basah untuk mikroskop medan gelap. Disamping itu dibuat pula preparat basah dengan tinta cina atau preparat kering dengan pengecatan Fontana.

Ada kemungkinan hasil mikroskopik negatif, bila telah diberi pengobatan atau pada lesi diberi antiseptik atau lesi primer telah sembuh. Untuk keadaan ini bisa dilakukan aspirasi kelenjar limfe yang membesar. Bila perlu serum Ritz dapat dihisap dengan kapiler, ditutup dengan paraffin. Jangan disimpan di almari pendingin atau incubator.

Pada stadium II : stadium bubo

Bahan pemeriksaan dapat berupa kerokan lesi kulit atau bercak-bercak dimulut, kondiloma divulva atau anus. Pemeriksaan mikroskopik harus dilakukan 3 kali berturut-turut sebelum dinyatakan negatif.

  1. 2.      Pemeriksaan serelogik

Pada infeksi T. pallidum terbentuk 3 antibodi :

  1. Reagin (non Troponemal) : bereaksi dengan antigen yang terdiri dari otot jantung sapi, diekstrasi dengan alcohol ditambah dengan kolestrol dan lesitin (kardioolipin). Reagin dapat dideteksi dengan Tes Wasserman atau dengan tes flokulasi baik secara makroskopik ataupun mikroskopik (VDRL). Reagin adalah campuran IgM dan IgA terhadap beberapa antigen yang tersebar dalam jaringan normal, zat ini dijumpai dalam tubuh penderita setelah 2 – 3 minggu infeksi sifilis yang tidak diobati dan dalam cairan spinal setelah 4 – 8 minggu infeksi.

1)      Uji flokulasi VDRL (Veneral Disease Research Laboratory)

Dasar pengujian : partikel antigen lipid (kardiolipin jantung sapi) tersebar rata dengan serum normal, tetapi bila bereaksi dengan reagin akan terjadi gumpalan terutama setelah digojog. Uji VDRL atau RPR akan menjadi negatif dalam 6 – 18 bulan setelah pengobatan sifilis secara efektif.

2)      Uji Fiksasi Komplemen : CF, Waserman, Kolmer

Dasar pengujian : serum yang berisi regain mengikat komplemen dengan adanya kardiolipin. Perlu dipastikan bahwa serum tidak bersifat antikomplementer (tidak merusak komplemen tampa adanya antigen).

Kedua pengujian tersebut dapat memberikan hasil secara kuantitatif, dengan pengeceran serum secara seri.

  1. Antibodi yang bereaksi dengan protein T. pallidum non patogen (strain Reiter). Dapat diperiksa dengan Reiter Protein Complemen Fixation Test (RPCT).

Uji nontroponemal dapat memberikan hasil positif palsu sebagai akibat kesulitan teknis atau karena biologik karena terjadinya regain pada bebagai penyakit antara lain (malaria, lepra, campak, mononucleosis infeksiosa), atau karena vaksinasi, penyakit pembuluh darah dan kolagen (Lupus erimatosus sistematik, poliartritis, penyakit rematik)

  1. Antibodi yang bereaksi dengan T. pallidum patogen (strain Nichols) dapat diperiksa dengan :

T. pallidum Immobilitation Test (TPI)

Menggunakan T. pallidum hidup dari testis kelinci yang aktif bergerak. Apabila ditambahkan pada serum penderita yang mengandung antibody divcampur dengan komplemen, secara mikroskopik terlihat kuman berhenti bergerak.

T pallidum Flourescent Antibody test (TPFAT)

Uji ini menggunakan cara immunoflouresen tak langsung. Pada cara ini T. pallidum mati ditambah serum penderita dan anti human gamma globulin yang telah dilabel. Hasilnya sangat spesifik dan peka.

T. pallidum Hemaglutination Test (TPHA)

Sel darah merah yang disiapkan mampu mengabsorpsi treponema bila ditambah serum yang mengandung antibody anti treponema akan menggumpal.

D.    Immunitas

Penderita sifilis aktif, laten atau penderita frambosia akan menjadi resiten terhadap superinfeksi T. pallidum.Tetapi jika sifilis dini atau frambosia diobati dengan baik, maka penyakit ini dapat dibasmi dan individu kembali menjadi sangat peka. Berbagai respon imun biasanya gagal dalam membasmi atau menfhentikan perkembanganya.

E.     Pengobatan

Penicillin merupakan obat pilihan dengan konsentrasi 0.003 unit/ml mempunyai aktifitas treponemisidal. Pada sifilis yang kurang dari 1 tahun, kadar penicillin dipertahankan selama 2 minggu dengan satu suntikan Benzathine Penicillin G 2.4 juta unit i.m. Pada sifilis yang laten atau lebih lama, maka Benzathine Penicillin G 2.4 juta diberikan 3 kali dengan interfal waktu satu minggu. Pada neurosifilis diberikan Penicillin G dalam air sebanyak 20 juta unit secara i.v tiap hari untuk selama 2-3 minggu. Antibiotika lain seperti Tetracyclin atau Erythromycin kadang-kadang dapat dipakai sebagai pengganti. Pemantauan yang terus menerus sangat penting. Pada neurosifilis Treponema kadang-kadang masih hidup pada pengobatan diatas.

F.     Epidemiologi, Pencegahan dan Pengawasan

Dewasa ini insiden penyakit sifilis penyakit seksual lain cenderung meningkat. Penyakit sifilis umumnya ditularkan secara seksual, dengan insiden tertinggi pada homoseksual. Penderita yang terinfeksi tetap menular selama 3 – 5 tahun dari sifilis dini, masa selanjutnya biasanya tidak menular.

Pengawasan disini meliputi :

  1. Pengobatan cepat & memadai terhadap kasus yang ditemukan.
  2. Pemantauan sember infeksi dan pengawasan yang memadai.
  3. Higiene seksual dan pencegahan pada waktu hubungan seksual; baik secara mekanik (kondom) atau pengobatan (pemberian Penisilin setelah hubungan seksual).

Mengingat penyakit kelamin penularanya bersifat serentak, jika didapat adanya satu jenis penyakit kelamin pada manusia, harus dipikirkan juga kemungkinan sifilis pada penderita tersebut.

TREPONEMA PENYEBAB PENYAKIT YANG LAIN

Penyakit lain yang mentebabkan oleh Treponema lain ; memberikan uji serologis positif untuk sifilis baik uji treponema ataupun non treponema, dan juga timbul adanya imunitas silang. Semua termasuk penyakit non venereal, penularanya secara kontak langsung dan penyebabnya tidak dapat diisolasi pada media buatan.

  1. Treponema pallidum penyebab penyakit Bejel

Terdapat terutama di Afrika, Timur Tenggah dan Asia Tenggara, terutama pada anak-anak menyebabkan lesi kulit yang sangat menular. Jarang terjadi komplikasi pada organ dalam, tetapi kadang-kadang menimbulkan kelainan meningo-vaskiler. Diduga penularan terjadi karena kontak dengan penderita, alat makan/minum atau lesi pabila mammae pada saat lektasi, Penisilin merupakan obat pilihan.

  1. Treponema pertenue penyebab Yaw (frambosia/patek)

Bersifat endemik, menahun, non venerik, terutama pada anak-anak di negara tropik yang panas dan lembab. Penyebab penyakit ini adalah T. pertenue Lesi pertama, berupa papula yang mengalami ulserasi, biasanya pada lengan dan kaki, dengan penularan secara kontak lansung, terutama dengan lesi kulit basah, kuman masuk melalui luka kulit yang tidak tampak.Penularan dapat pula secara mekanis melalui lalat yang hinggap pada lesi basah kemudian hinggap pada kulit yang luka. Biasanya terjadijaringan parut pada kulit. Jarang terjadi komplikasi pada system syaraf dan alat dalam. Ada immunitas silang diantara penyakit frambosia dan sifilis, pengobatan penicillin memberi hasil sangat baik.

Penyakit ini terdiri dari beberapa stadium, dengan masa tunas 3-4 minggu. Stadium I : lesi primer ekstra genital, beupa papula merah kuning, tidak nyeri, membesar menjadi ulkus granulomatus yang mengeluarkan cairan (mother jaw) dikelilingi daerah yang meradang dan papula-papula kecil seperti buah frambus. Kemudian mongering, ditutup deengan kerak hitam. Lesi basah ini nsangat interaktif, biasanya dilengan dan kaki.

Stadium II : 6 minggu sampai 3 bulan setelah Mother jaw sembuh, timbul banyak papula secara spontan seperti mula-mula pada bagian tubuh lainya, pada batas mukosa dan kulit pada muka dan genitalia.

Stadium III : Lesi biasanya terbatas pada kulit, persendian dan tulang. Kadang-kadang berupa nodul yang berulserasi dalam (gumma) dan kerusakan tulang (persendian), membengkok sehingga tidak dapat menahan berat badan. Jarang terjadi kerusakan kardiovaskuler dan neurologis. Penularan transplasental tidak dijumpai.

  1. c.       Treponema carateum penyebab penyakit Pinta

Penyakit yang disebabkan oleh oleh T. curateum bersifat endemic pada semua golongan umur di Meksiko, Ameika tengah dan selatan, Filipina dan beberpa daerah dikawasan Pasifik. Penyakit ini nampaknya terdapat secara terbatas pada golongan kulit berwarna. Lesi pertama berupa papula non-ulserasi, kemudian berkembang sebagai lesi kulit yang bersifat datar dan hiperpigmentasi. Setelah beberapa tahun akan terjadi depigmentasi dan hiperkeratosis. Jarang diikuti kelainan syaraf dan kardiovaskuler. Penularan bersifat non venereal baik dengan kontak langsung ataupun melalui vector (lalat). Diagnosa dan pengobatan sama dengan penyakit sifilis.

TREPONEMA YANG HIDUP DI RONGGA MULUT

Spirochaeta merupakan flora normal rongga mulut, khususnya terdapat didaerah interproksiamal dan leher gigi. Bakteri ini hampir selalu ada pada orang dewasa dan jarang pada bayi atau anak-anak yang belum, tumbuh giginya atau pada orang tua yang tidak bergigi. Daerah interdental papil memungkinkan spirochaeta tumbuh baik. Terjadinya resensi gusi dan saku gusi akan menyebabkan bertambah suburnya kuman ini. Dalam sulkus gigi sehat kuman ini tidak patogen.

Spirochaeta didalam rongga mulut tidak dapat memfermentasikan karbohidrat secara aktif. Bagi pertumbuhanya diperlukan oksigen rendah, sehingga saku gusi merupakan lingkungan yang mendukung pertumbuhanya.

Jenis Spirochaeta yang sering dijumpai pada rongga mulut adalah Treponema anbigum, Treponema denticola, Treponema macrodentinum, Treponema microdentinum, Treponema comandonii, Treponema vincentii. Pada keadaan tertentu kuman-kuman tersebut dapat menimbulkan penyakit periodontal, walaupun kuman jenis lain dapat pula berperan pada timbulnya penyakit tersebut.

Belum dapat dipastikan bagaimana spirochaeta dalam mulut dapat memasuki jaringan, diperkirakan bakteri ini dapat menempel dan menembus sel-sel epitel pada mukosa mulut. Spirochaeta dapat menghasilkan bahan-bahan toksik sebagai hasil metabolismenya diantaranya ammonia, indol, H2S, asam butirat dan putresin. Khususnya Treponema vincentii menghasilkan asetilglukosamidase yang dapat merusak jaringan periodontal.

Mekanisme spirochaeta menimbulkan penyakit periodontal dengan berbagai tahap :

  1. Dengan cara invansi bakteri. Bakteri ini selalu dijumpai pada setiap tahap penyakit periodontal. Dengan gerakan aktifnya kuman ini mendoromng bakteri lain yang tidak bergerak masuk kedalam jaringan dan membentukbahan-bahan toksik seperti ensim sisteindesulhidrase yang dapat membentuk H2S dicairan gusi yang juga sebagai penyebab penyakit periodontal.
  2. Dengan menghasilkan ensim esetilglukosa midase yang mampu merusak jaringan dan sekaligus menyebar infeksi dan penyabab pendarahan pada kapiler gusi.
  3. Dengan menghasilkan endotoksin yang merupakan lipopolisakaridadan protein kompleks yang terdapat pada didind bakteri dan dilepas saat bakteri lilies. Endotoksin ini menyebabkan peradangan, nekrotik jaringan dan tulang karena mampu berpenetrasi pada jaringan yang rusak. Jadi endotoksin merupakan initiating factor pada terjadinya penyakit periodontal.
  4. Bakteri ini dapat menghasilkan toksin lain bersama-sama dengan vibrio, fusiform, veillonela dan beberapa bacteroides. Toksin dapat berupa : H2S, putresin, ammonia, indol.

Terdapat peningkatan populasi spirochaeta pada gusi yang sakit dibanding gusi normal. Juga pada gusi yang dalam lebih banyak ditemukan kuman ini disbanding saku gusi yang dangkal. Artinya makin banyak populasi spirochaeta sejalan dengan makin dalamnya saku gusi yang berkaitan makin parahnya penyakit periodontal. Mengingat kuman ini mampu merusak dan menghancurkan jaringan, maka akibat yang paling sering terjadi adalah gigi menjadi goyah dan lama kelamaan menjadi menjadi lepas sehingga merugikan penderita.

GENUS BORELIA

Borelia adalah spirochaeta (lebih besar dan lebih panjang daripada Treponema), bergerak aktif secara rotasi sepanjang sumbunya. Umumnya hidup komensal pada mukosa mulut dan pada keadaan ganggrenous atau ulseratif dari mulut, tenggorokan atau genital.

Borelia recurentis

Merupakan penyebab penyakit relapsing fever (febris recurentis). Penyakit ini dapat desebabkan pula oleh Borrelia duttonii dan Borrelia nouyi.

Morfologi dan Identifikasi

Bakteri ini berbentuk spiral, panjang 10-30 um dengan diameter 0.3 um, sangat fleksibel, bergerak secara rotasi atau berliku-liku. Dapat diwarnai dengan pewarnaan Giemsa, Wright, Gram atau dengan impregnasi perak.

Karakteristik Pertumbuhan

Kuman ini dapat tumbuh pada media cair yang mengandung darah, serum, cairan asites yang mengandung darah dan ginjal kelinci dan telur berembrio lebih cepat berkembang.

Pada suhu 40 C,baik dalam darah atau kultur, kuman tahan hidup sampai beberapa bulan.

Struktur Antigen

Pada uji serologik terhadap penderita biasanya terdapat zat anti aglutinin,  zat anti ikatan komplemen dan zat anti litik dalam titer tinggi.  Struktur antigen ini sering berubah ubah sehingga terjadi berbagai variasi,  diduga bahwa terjadinya relaps dari penyakit ini disebabkan karena berkembangnya varian tersebut sehingga hospes harus membentuk zat anti baru.

Patologi

Hasil otopsi penderita menunjukkan bahwa kuman banyak ditemukan di limpa,hati, focus-fokus nekrotik parenkhim alat-alat lain, dalam lsi berdarah dari ginjal dan dalam saluran pencernaan. Kadang-kadang pada penderita yang menunjukkan gejala meningitis, kumannya dapat ditemukan dalam liquor dan jaringan otak.

Patogenesis dan Gejala Klinik

Setelah masa inkubasi 3-10hari timbul demam disertai menggigil yang berlangsung antara 3-5 hari, kemudian panas turun penderita tampaktidak sakit,  hanya lemah. Kemudian setelah 4-10 hari timbul lagi demam dengan menggigil, sakit kepala hebat dan rasa tidak enak badan.  Hal demikian dapat terjadi 3-10 kali dengan derajat kesakitan yang makin berkurang.  Selama fase demam,terutama waktu panas tinggi kuman banyak terdapat dalam darah, setelah panas turun kuman tidak ditemukan dalam darah.  Kuman dapat pula ditemukan dalam urine dalam jumlah  sedikit.

Diagnosa Laboratorik

Bahan pemeriksaan berupa darah, diambil sewaktu terjadi demam tinggi.  Pemeriksaan dapat dilakukan dengan pewarnaan Giemsa atau Wright,  tampak kuman diantara sel-sel darah merah.  Dapat pula digunakan hewan percobaan, darah disuntikkan intraperitoneal pada tikus putih atau subkutan pada kera.  Setelah 2-4 hari diambil darahnya kemudan diwarnai dan diamati  dibawah mikroskop.  Selama fase demam biasanya albuminuria positif,  lekosit meninggi sampai 10.000-20.000.

Kekebalan

Sifat kekebalan terhadap kuman ini sangat pendek.

Pengobatan

Dengan penisilin, eritromisin atau tetrasiklin.  Evaluasi hasil klinik sulit dilakukan karena adanya remisi spontan yang bervariasi.

Epidemiologi

Relapsing fever merupakan penyakit endemic pada banyak  tempat dunia.  Sebagai reservoir utama adalah hewan pengerat (rodensia) sebagai sumber infeksi adalah kutu dari genus Ornithodorus.  Penyebaran insiden musiman penyakit ini ditentukan oleh ekologi kutu di berbagai daerah. Berdasarkan vektornya,  penyakit ini dibagi dalam 2 golongan yakni: Tick borne relapsing fever,  Loose borne relapsing fever. Keduanya terdapat secara endemik.

  1. Tick Borne Replapsing Fever : umumnya terjadi secara sporadic. Penularan pada manusia terjadi melalui gigitan tick infektik, antara lain Ornithodorus parkeri, O. hermsi, O rudis, dan lain-lain. Apabila kutu kepala menghisap darah penderita, kutu akan terinfeksi setelah mengisap darah , 4-5 hari kemudian kutu akan dapat merupakan sumber infeksi  baru bagi orang lain. Tick tetap infektif slama hidupnya dan dapat menularkan kuman ini kepada keturunan berikutnya secara tranovarial.
  2. Loose Borne Replapsing Fever : umumnya terjadi secara epidemik, walaupun kadang-kadang terjadi secara sporadic. Penularan pada manusia terjadi tidak melalui gigitan kutu (Pediculus vestimenti corporis), tetapi melalui garukan sehingga bagian infektif kutu masu melalui lesi garukan sehingga bagian infektif kutu masuk malaui lesi garukan.

Epidemi penyakit ini dipengaruhi oleh jumlah populasi kutu kepala , kepadatan penduduk, malnutrisi dan musim dingin. Pada daerah endemic infeksi pada manusia dapat terjadi akibat berhubungan dengan darah atau jaringan yang berasal dari roden yang terinfeksi. Angka kematian pada penyakit endemic rendah, tetapi pada endemic dapat mencapai 30 %.

Pencegahan

Pencegahan didasarkan pada usaha menghindarai kutu atau kutu kepala dan mnghilangkan kutu dengan menggunakan insektisida terhadap tick  (sengkenit) dan kutu manusia. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin untuk mencegah penyakit ini.

 

Berrelia vincentii

Sering ditemukan bersama dengan kuman fusobacterium. Bacteriodes pada eksudat pseudomembran tonsil/faring penyakit Vincent sangina, gingivitis ulceratif akuta, abses paru, lesi ulceratif pada genital, ulkus tropikus (ulkus kulit menahun).

Borrelia vincentii dan Fusobacterium fusiforme merupakan penghuni normal dan hidup secara simbiotik pada gusi sehat. Apabila terjadi kerusakan gusi karena trauma, kekurangan vitamin C, infeksi oleh Herpes simpleks, infasi Streptococcus hemoliticus atau bakteri, maka kedua kuman ini mnjadi patogen dan menyebabkan infeksi sekunder. Jadi sumber penularan pada penyakit ini adalah factor endogen.

Biakan

Perlu pembebiakan secara obligat anaerob dalam media yang mengandung asites.

Diagnosa Laboratorik

Secara mikroskopik bahan pemeriksaan berupa hapusan ulkus dalam mulut diwarnai dengan karbolfukhsin, kemudian dilihat dibawah mikroskop. Bila kedua jenis kuman ditemukan cukup banyak, apalagi dengan jumlah lekosit yang tinggi, maka dapat didiagnosa sebagai Vincent’s infection.

Biakan dilakukan hanya untuk mengetahui adanya Streptococcus hemoliticus dan kuman difteri.

Pengobatan

Biasanya digunakan Penisilin atau Tetrasiklin.

Borrelia burdorferi

Merupakan penyebab penyakit lime (nama kota di Amerika) terutama dipantai timur Amerika Serikat, juga di Eropa dan Autralia yang terjadi dimusim panas. Ditandai dengan lesi melingkar dikulit kemudian berkembang meluas. Sering disertai sakit kepala, demam, kaku duduk, mialgia, artalgia dan limadenopati. Beberapa bulan selanjutnya gejala neurologik dan arthritis berkurang.

Penularan terjadi melalui ixodid tick. Pembentukan IgM terjadi pada 3-6 minggu setelah serangan penyakit dan titernya berhubungan dengan aktivitas penyakit. Artritis dan gangguan neurologik kemungkinan disebabkan oleh reaksi komplek antigen-antibodi. Pemberian penisilin atau tetrasiklin secara dini memberikan respon yang baik terhadap gejala yang timbul pada penyakit lyme.

FAMILIA LEPTOSPIRACEAE

GENUS LEPTOSPIRA

Genus Leptospira dibagi dalam 2 golongan, yakni :

  1. Leptospira interrogans (strain parasit) : patogen bagi hewan dan manusia. Terdapat lebih dari 100 tipe.
  2. Leptospira biflexa (strain saprofit) : hidup dalam air, tidak menyebabkan sakit pada hewan dan dapat tumbuh dalam media dalam serum.

Morfologi dan Identifikasi

Kuman ini mempunyai struktur yang fleksibel berupa benang-benag halus berbentuk spiral dengan satu atau kedua ujungnya melengkung sehingga dapat berbentuk tongkat, huruf C atau S. Panjangnya bervariasi antara 6-20 u, diameter 0.5 u. Bentuk vegetative dapat sampai 40 u panjangnya. Bergerak secara rotasi kadang-kadang meluncur atau bergerak seperti cambuk (whipping motion). Gerak ini harus dapat dibedakan dengan gerak Brownian dari pseudo leptospira. Dapat diwarnai dengan Giemsa, Anilin atau Impregnasi perak.

Karakteristik Pertumbuhan

Sumber utama tenaga kuman ini berasal dari oksidasi asam lema rantai panjang, sedang kebutuhan nitrogen berasal dari garam ammonium.

Berkembang biak dengan pembelahan melintang. Tumbuh baik pada suhu 370 C. pH 7.2 dalam suasana aerob. Isolasi harus dalam media yang mengandung serum (kelinci, marmut) antara lain agar pada semi solid Noguchi, Fletcher atau media cair dari Vervoort, Stuart, Korthof.

Strain parasit tidak dapat tahan lama diluar tubuh hospes. Dalam media Vervoot pada temperatur kamar, ditempat gelap tampa subkultur dapat bertahan hidup sampai beberapa tahun. Pada agar semi solid Noguchi tetap virulen untukbeberapa tahun, sensitive terhadap asam. Mati pada 500 C dalam 10 menit. Pada –700 C tahan bertahun-tahun tampa kehilangan sifat virulen. Agak resisten terhadap desinfektan seperti : streptomisin, tetrasikin, dan eritromisin.

Patogenesis dan Cara Penularan

Leptospira merupakan penyakit primer pada hewan (zoonosis) dan manusia terinfeksi secara kebetulan. Hospes reservoir adalah hewan mengerat, kadang-kadang anjing, babi, sapi atu kuda, dsb. Setiap serotipe mempunyai hospes predileksi tertentu, misalnya :

Leptospira icterohaemorrhagiae, Ratus norwegius, Leptospira hebdomadis , Mocrotus, Montabelli

Pada hewan kuman ini berada didalam tubuli kontorti ginjal tampa menimbulkan gejala dan diekskresi bersama urinya. Penularan terjadi karena manusia menelan makanan/ minuman yang telah terkontaminasi dengan urine tikus infektif, atau berenang.

Gambaran Klinik

Sifat infeksi mringan/subklinis tampa ikterus, dapat berakibat fatal. Infeksi Leptospira pada manusia menimbulkan gambaran klinik berupa : demam tinggi akut disertai menggigil, sakit kepala, nyeri otot terutama punggung dan betis, konyungtivitis, hepatospenomegali. Pada keadaan demam kuman dalam darah dapat menyebar kehepar (menimbulkan nekrosis  ikterus), ginjal (menimbulkan pendarahan dan nekrosis timbul albuminuria), Susunan syaraf pusat (menimbulkan meningitis aseptika benigna) atau oto dan kulit (menimbulkan rasa nyeri).

Diagnosa Laboratorik

Dalam minggu pertama penyakit sering kuman terdapat banyak didalam darh, Oeptosperemia jarang terjadi setelah hari ke 8. Pada minggu ke 4-6 setelah gejala pertama kuman terdapat dalam urine. Didalam urine asam kuman mengalami lisis sehingga urine harus segera diperiksa dan semalam sebelumnya penderita diberi Na bikarbonat. Pada fase permulaan kadang-kadang kuman dijumpai pada cairan spinal. Sebagai penentu diagnosa perlu diamati adanya kenaikan titer zat anti selama sakit. Pada minggu pertama antibody dalam serum meningkat, pada minggu ke 2-3 titer meningkat sedangkan setelah minggu ke 3 titer antibody menurun lagi dan kadang-kadang titer yang rendah masih terdapat dalm beberapa tahun.

 

 

Bahan Pemeriksaan

Bahan pemeriksaan dapat berupa :

  1. Darah (minggu pertama)

Mikroskopik : 10 ml darah + 1 ml 1% Na oksalat, diputar 500 putaran/menit. Satu tetes plasma diamati dibawah mikroskop medan gelap. Endapanya disuntikan pada marmot secara intraperitoneal.

Biakan : darah atau endapan ditanam pada media Kortof.

Hewan percobaan: darah, plasma atau urine disuntikkan, setiap hari diperiksa cairan peritoneal dibawah mikroskop medan gelap, bila hasilnya positif diambil jantung hewan ditanam pada media Kortof.

  1. Urine (pada minggu ke 2-3)

Mikroskopik: Urine diputar selama 3000 putaran/menit selama 10 menit. Endapanya diperiksa dibawah mikroskop medan gelap.

Biakan : tidak dapat langsung dibiakkan karena urin berisi bermacam-macam kuman sehingga pertumbuhan Leptospira akan tertkan. Pada urine alkalis disuntikan intraperitoneal, bila positif diambil darah jantung dan ditanam pada media Korthof.

Diagnosa Serologik

Titer zat anti aglutinim dapat mencapai lebih dari 1/1000, maksimal pada minggu ke 5-8 setelah infeksi.

  1. Uji aglutinasi – lisis dari Schuffuer dan Wolff. Serum penderita dalam beberapa pengenceran dicampur dengan suspensi kuman, dieramkan pada 320 –370 C selama 3 jam, kemudian npada suhu kamar selama 1 jam. Diambil 1 tetes dari setiap campuran diamati terjadinya aglutinasi dan lisis dibawah mikroskop medan gelap.
  2. Uji aglitinasi dari Broom : Prosedurnya sama dengan metode diatas tetapi kuman dimatikan dahulu dengan formalin. Sebelum dibaca campuran tersebut disimpan dalam almari pendingin selama semalam.
  3. MetodaFlouresen Antibodi : Sangat baik untuk mendeteksi adanya leptospira dalam urine atau jaringan.

Penilaian Titer Diagnostik :

Mengigat banyaknya serotip yang menimbulkan reaksi silang, maka penilaian tetrasi serum tunggal harus berhati-hati, sebaiknya mengamati kenaikn titer dari sepasang serum.

 

Pengobatan :

Pemberian antibiotika sebaiknya dilakukan pada stadium lanjut kurang memuaskan. Antibiotika yang dapat dipilih adalah penisilin, tetrasiklin atau eritromisin.

Epidemiologi

Mengigat Leptospirosis merupakan penyakit primer pada hewan, maka pencegahan utama adalah menghindarkan diri dari kontak dengan bahan infektif yng berasal dari hospes reservoir. Orang yang sering terkena penyakit ini adalah mereka yang sering kontak dengan air yang tercemar kotoran tikus antara lain petani, tukang pembersih selokan, perenang.

Beberapa strain penyebab penyakit lain :

L. icterohaemorrhagiae : menyebabkan Weill diease

hospes reservoir : Rattus norvegicus, anjing, babi, kuda.

L. canicola                     : menyebabkan Canicola fever.

hospes reservoir : anjing, kuda, dan sapi.

L. pyrogenes                   : menyebabkan febrile spirochaetosis

hospes reservoir : Rattus brevicaudatus

L. hebbdomadis              : menyebabkan seven-day fever

hospes reservoir : Microtus montebelloi, anjing, sapi

L. Pomona                     : menyebabkan Swineherd’s disese

hospes reservoir : babi, sapi, kuda

L. bataviae                    : menyebabkan Indonesia Wei’s disease

hospes reservoir : Rattus norvegicus, babi, kucing dan anjing

Rattus norvegicus merupakan maintenance carrier artinya persentasi isolasi dari urine sama tingginya dengan persentase aglutinasi positif dari darah. Sangat berbahaya bagi manusia, tetapi karena hidupnya selalu didalam selokan infeksi pada manusia jarang terjadi. Sedangkan Rattus rattus diardi (tikus rumah) adalah suatu fleeting carrier artinya persentase isolasi positif dari urin lebih kecil disbanding persentase aglutinasi positif, tetapi karena tikus ini selau dekat dengan manusia maka dianggap sangat berbahaya bagi manusia.

Spirillum minor

(Spirillum morsus muris)

Merupakan penyebab rat bite fever yang ditularkan oleh

 

Pengambilan Spesimen

Posted: September 13, 2011 in mikrobiologi

PENGAMBILAN SPESIMEN

 

Salah satu cara menanggulangi penyakit infeksi adalah dengan menentukan penyebab dan kemudian memberi terapi yang rasional berdasarkan hasil uji laboratorium. Dalam hal ini peranan laboratorium sebagai penunjang diagnosis dan terapi penyakit infeksi menjadi sangat penting .

Hasil pemeriksaan mikrobiologik sangat tergantung oleh kualitas spesimen. Spesimen yang diperiksa di lab Mikrobiologi sebagian besar merupakan klinik berkaitan dengan penyakit infeksi. Kualitas specimen ditentukan oleh metoda pengambilan dan proses tranportasi ke laboratorium. Hasil pemeriksaan mikrobiologik negatif tidak selalu berarti bahwa diagnosis salah.

Kegagalan isolasi mikroorganisme penyebab infeksi sering ditentukan oleh beberapa hal, antara lain :

-          Pengambilan dan pengiriman spesimen yang tidak benar

-          Teknik atau cara kerja di laboratorium uang tidak tepat

Pengambilan specimen atau bahan pemeriksaan merupakan langkah awal yang sangat menentukan hasil pemeriksaan dalam rangka memperoleh jawaban yang menentukan penyebab infeksi. Dapat terjadi bahwa yang diisolasi bukan penyebab tetapi organisme flora normal sehingga akan memberikan intreprestasi hasil laboratorium yang keliru dan menyebabkan langkah terapi yang salah.

Hasil pemeriksaan laboratorium mikrobiologik sangat ditentukan oleh cara pengambilan, saat pengambilan dan seleksi spesimen. Beberapa hal penting yang perlu dilakukan untuk memperoleh hasil pemerisaan yang baik adalah :

  1. Bahan pemeriksaan sedapat mungkin diambil dari lokasi yang paling besar kemungkinannya mengandung penyebab infeksi pada stadium tertentu.
  2. Pada lokasi tubuh yang pada keadaan normal mengandung flora normal, hasil laboratorium positif sebaiknya dikorelasikan dengan keterangan klinik , sehingga mendapatkan suatu interpertasi yang bermakna.
  3. Hasil laboratorium positif sangat bermakna bila diperoleh dari lokasi tubuh yang dalam keadaan normal steril (cairan serebro – spinal darah, cairan pleura, cairan).

Agar diperoleh kualitas spesimen yang baik, pengambilan spesimen harus memenuhi beberapa kriteria tertentu.

 

Pedoman Umum

Spesimen yang diambil harus memiliki syarat sbb :

 

  1. Representatif untuk proses infeksi :

Bahan pemeriksaan harus benar-benar berasal dari tempat infeksi, misalnya:

-          bahan pemeriksaan dari luka, sebaiknya diambil dari dasar luka dan dihindari kontak dengan kulit sekitarnya sehingga tidak memungkinkan bagi kontaminasi oleh flora kulit.

-          bahan dari asbes diambil dengan cara aspirasi steril.

-          sebelum dilakukan pengambilan urine, alat genital dibersihkan untuk menghindari kontaminasi.

-           bahan sputum harus benar-benar berasal dari saluran nafas bagian bawah, bukan hanya berupa saliva.

  1. Jumlah spesimen cukup untuk memungkinkan pemeriksaan.

Misalnya :

-          bahan dari pus dalam keadaan infeksi aktif, jumlahnya tidak perlu diperhatikan, tetapi pada infeksi kronik jumlah bahan yang diambil sebaiknya agak banyak.

-          Bahan berupa darah, jumlah nya harus cukup. Perbandingan volume darah dengan medium cair adalah 1 :5 atau 1 :10.

-          Bahan urine : sebaiknya diambil setelah penderita tidak berkemih sekurang-kurangnya 3 jam, sehingga diperoleh volume cukup untuk diambil.

  1. Saat pengambilan perlu diperhatikan. Pengambilan harus dilakukan pada stadium yang tepat, untuk ini perlu diketahui riwayat penyakit penderita. Pada demam tifoid minggu pertama, bakteri akan dapat ditemukan di darah. Sedangkan pada minggu ke 2 dan ke 3, tinja dan urine biasanya positif. S. typhi akan ditemukan pada tinja dan urine selama fase akut dari stadium diare.
  2. Terhindar dari kemungkinan kontaminasi baik dari alat, lingkungan, bagian tubuh lain, dan petugas pengambil. Alat  dan tempat spesimen harus steril dan sesuai. Misalnya pengambilan urine atau sputum sebaiknya dengan pot bermulut lebar. Setelah bahan ditampung hendaknya ditutup rapat dan dicegah adanya kebocoran untuk menghindari kontaminasi dan pencemaran dari dan pada lingkungan.
  3. Pengambilan spesimen dilakukan sebelum pemberian terapi antibiotik. Perlu diperhatikan hal-hal sbb :

-          cairan serebrospinal yang purulen, dalam waktu 24 jam setelah pemberian antibiotik seringkali sudah  tidak mengandung bakteri penyebab, misalkan Haemophilus influenzae.

-          selama pemberian terapi antibiotik pada penderita salmonelosis, dalam tinja penderita tidak akan diketemukan S.typhi.

-          Bila bahan yang diperiksa berasal dari pasien yang telah diterapi, sebaiknya klinisi memberi catatan khusus, sehingga bisa dilakukan tindakan-tindakan tertentu. Misalnya dapat diberikan Penisinase untuk merusak penisilin. Jadi pada penderita yang telah diterapi bisa dilakukan pemeriksaan mikrobiologik.

  1. Bahan pemeriksaan sebaiknya segera dibawa ke laboratorium atau kalau diperlukan dapat pula digunakan media transport yang sesuai, agar bisa diperiksa secepatnya.

 

Pedoman khusus

 

Dalam melakukan pengambilan spesimen klinik, perlu diperhatikan beberapa hal khusus sesuai lokasi pengambilan :

1.   Cara Pengambilan Darah

Darah biasanya diambil pada saat demam tinggi, dari vena cubiti. Pertama-tama dilakukan palpasi untuk mencari letak vena yang akan diambil. Sebelum pengambilan kulit sekitarnya diusap dengan antiseptik, misalnya Jodium tincture 2%, atau alkhohol 80%. Setelah itu tidak boleh dilakukan palpasi lagi, juga tidak boleh mengusap jarum suntik dengan kapas alkohol.

Volume pengambilan : 10-20 ml untuk dewasa

1-5 ml untuk anak- anak

Karena organisme pada bakteri jumlahnya kecil, sebaiknya segera diinokulasikan kedalam media kultur setelah pengambilan.

Contoh media kultur darah yang digunakan:

-     Trypticase Soy Broth, untuk kultur aerob

-     Brain Heart Infusion, untuk kultur bakteri aerob atau anaerob

-     Thioglikolat broth, untuk kultur anaerob

-     Gal medium, untuk kultur Salmonella

Dapat pula ditransport secara stril dalam tabung mengandung SPS

Interval pengambilan :

endocarditis : 3 kali pengambilan (kultur) dalam 24 jam

bakterima     : 3 kali pengambilan (kutur) dalam 24-48 jam

-    pasien yang diberi antibiotik : 4-6 kali pengambilan dalam 48 jam

2.   Cara Pengambilan Tinja atau Usapan Rektal

Tinja diambil dari bagian yang diperkirakan banyak mengandung organisme penyebab (lendir atau darah), ditampung pada tempat steril, harus segera dibawa ke laboratorim. Sedangkan usapan rectal diambil dengan kapas lidi steril, diputar (360º) pada mukosa rektal diambil dengan kedalaman 1-2 cm, kemudian dimasukkan media transport bersama kapas lidi atau kedalam tabung kosong bertutup ulir steril, tutup rapat, segera dikirim ke laboratorium. Sebaiknya tidak digunakan kertas toilet dalam pengambilan/penampungan tinja, karena pada umumnya mengandung garam bismuth yang dapat membunuh mikroorganisme.

3.   Cara Pengambilan Urine

Bahan berupa urine dapat diambil dengan berbagai teknik :

-    aspirasi supra public

-    kateterisasi

-    urine pancaran tengah (Mid Stream Urine)

Cara pertama dan kedua hanya dilakukan oleh dokter dengan indikasi tertentu karena mengandung resiko, harus dilakukan secara aseptik untuk menghindari infeksi. Volume urine minimal 10 ml dan segera dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Seperti diketahui urine adalah medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri, terutama bagi pemeriksaan angka kuman harus segera diperiksa agar tidak terjadi pertumbuhan pesat sebelum diperiksa. Apabila terpaksa bisa disinpan dalam almari pendingin selama 24 jam, tetapi dianjurkan tidak lebih dari 8 jam.

4.   Cara Pengambilan Dahak atau Sputum

Dahak yang diambil diusahakan tidak tercemar oleh flora normal di rongga mulut, sebaiknya pasien diminta berkumur sebelumnya dengan akuades steril, atau larutan garam fisiologis steril. Dahak ditampung didalam pot steril, dengan cara batuk dalam-dalam, perlu kerjasama dengan pasien. Segera mungkin ditanam dalam media perbenihan yang sesuai dengan jenis pemeriksaan.

5.   Cara Pengambilan Discharge Mukosa

Bahan dari mukosa diambil dengan kapas lidi steril, bahan diambil dari : hidung, tenggorokan, mata, telinga, lubang urogenital, luka.

6.   Abses

Seleksi dan pengambilan yang adekuat sangat berpengaruh pada hasil pemerisaan. Jika lesi luas atau terdapat beberapa lesi, bahan diambil dari beberapa tempat. Sampel dari abses harus mengandung pus dan bagian dari dinding abses. Sebelum pengambilan kulit dibersihkan dengan larutan fisiologis steril. .

7.   Cara Pengambilan Cairan Serebrospinal

Dilakukan dengan punksi lumbal oleh seorang dokter ahli dengan memperhatikan aspek sterilitas alat dan teknik pengambilan secara benar. Kuman pada bahan ini pada umumnya hanya bertahan beberapa jam, sehingga harus segera dikirim ke laboratorium. Meningokokus sangat rentan terhadap suhu rendah, sama sekali tidak dibenarkan menyimpan bahan pemeriksaan ini pada almari pendingin.

 

PENGIRIMAN SPESIMEN DAN PENANGANAN SPESIMEN

Apabila bahan pemeriksaan diambil diluar laboratorium seharusnya segera dikirim untuk diperiksa. Akan tetapi bila tidak memungkinkan karena beberapa keadaan, dapat digunakan media transport sebagai media yang mampu memberikan bahan pertumbuhan untuk mikroorganisme tersangka, terutama bagi organisme yang sensitif terhadap pengaruh lingkungan. Kadang-kadang bahan pemeriksaan yang tidak memerlukan media transport karena bahan tersebut telah mengandung bahan yang diperlukan bagi pertumbuhan organisme tersangka. Pada saat pengiriman temperatur dan tempat pengiriman harus diperhatikan. Adapun medium transport yang biasa digunakan adalah : medium Carry & Blair, medium Stuart, medium Amies.

 

1.Pengiriman Darah

Setelah diperoleh darah harus segera dikirim ke laboratorium karena kuman didalam darah akan dipengaruhi oleh sel-sel dalam darah ataupun zat-zat yang ada dalam darah. Secara umum telah direkomendasikan bahwa darah untuk perbenihan ditanam dalam perbenihan cair dengan perbandingan 1 : 10 untuk membantu menetralkan efek bakterisidal karena adanya antimikroba dalam (darah pada pasien yang telah diterapi) atau efek komplemen dan fagosit.

Bila darah dikirim tanpa menggunakan perbenihan cair seperti penjelasan dimuka, maka volume darah yang dikirim untuk kepentingan isolasi adalah sebanyak 10-20 ml dengan menggunakan antikoagulan, sebaiknya digunakan SPS (Sodium Polynethol Sulfonate) 0.05% atau 0.025 %. Disamping sebagai antikoagulan, SPS merupakan antikomplemen dan antifagosit dan dapat menetralkan efek anti mikroba. Suhu pengiriman supaya dipertahankan untuk tidak lebih dari 37ºC, dan terhindar dari kekeringan.

 

2.Pengiriman Tinja

Tinja dapat dikirim tanpa medium transport bila tidak terlalu lama. Apabila jarak pengiriman jauh sehingga memerlukan waktu lebih dari 4 jam, maka perlu digunakan media transport yang sekaligus merupakan medium selektif bagi jenis kuman tertentu. Medium transport atau selektif ini berupa medium cair, misalknya : Air peptone alkali, Selenit Broth, dsb. Perlu diperhatikan suhu dan hindarkan dari kekeringan.

3. Pengiriman urine

Urine dikirim tanpa medium transport karena urine merupakan medium yang baik pertumbuhan kuman. Pengiriman bahan ini harus dilakukan segera mungkin untuk menghindari perkembangan pesat organisme tersangka, dalam waktu 1 jam organisme per ml akan menjadi berlipat ganda. Hal ini perlu diperhatikan mengingat diagnosis bakteriuri didasarkan pada jumlah kuman per ml urine. Suhu dan  kekeringan harus diperhatikan.

4.Pengiriman Dahak

Dikirim tanpa medium transport, tetapi harus segera.

5. Pengiriman discharge mukosa

Setelah diambil dengan kapas lidi dapat dimasukkan dalam media transport, kapas lidi

dimasukkan dalam tabung media transport secara aseptic.

6.  Pengiriman abses, jaringan, spesimen drainage

Bahan pemeriksaan dikirim dengan medium transport semisolid Sturt, Carry & Blair (untuk kuman anaerob). Spesimen dari usapan (swab), sebaliknya dihindari, lebih baik spesimen langsung. Bila terpaksa, swab harus merupakan sampel yang mewakili bagian yang mengandung kuman penyebab.

7.   Pengiriman Cairan Serebrospinal

Bahan ini dikirim tanpa medium transport, tetapi harus sesegera mungkin dibawa ke laboratorium dalam waktu kurang dari 1 jam. Segera ditanam pada medium perbenihan padat yang cocok.

 

 

Mycobacteria

Posted: September 13, 2011 in mikrobiologi

MYCOBACTERIA

Mycobacteria adalah golongan bakteri berbentuk batang, tidak membentuk spora, bersifat aerob. Tak mudah dibedakan pewarnaan, akan tetapi jika telah diberi pewarnaan, akan sukar dilunturkan dengan asam dan alkohol. Oleh karenanya Mycobacteria disebut pula bakteri tahan asam atau disingkat BTA. Mycobacteria dapat dikelompokkan menjadi golongan saprofit dan golongan patogen.

 

Mycobacterium Tuberculosis

 

  1. A.      Morfologi dan Identifikasi
  1. Bentuk: Mycobacterium Tuberculosis atau basil tbc berbentuk batang lurus atau agak bengkok berukuran 0,2 – 0,4 X 1 – 4 mikron, berpasangan atau mem­bentuk kelompok kecil. Ukuran tersebut tergantung pada lingkungan pertum­buhan, sehingga kadang-kadang berbentuk filamen panjang dan bercabang.

Pewarnaan untuk basil tbc dapat dilakukan dengan pengecatan Ziehl-­Neelsen, atau pengecatan dengan zat warna fluoresensi (auramin-rhodamin). Cara-cara pengecatan tersebut berdasar atas sifat tahan asam Mycobacteria. Sifat tahan asam ini menggambarkan adanya asam mycolat atau adanya membran semipermeabel. Keadaan tersebut berkaitan dengan keutuhan sel dan merupakan sifat dinding sel. Wama pengecatan dapat merata dapat granuler. Pada M.tuberculosis pewamaan Bering tampak pecah-pecah sedang pada M.bovis pewamaan lebih merata. Much (1907) menemukan granula pada basil tbc yang bersifat tidak tahan asam tetapi bersifat gram positif.

  1. Penanaman: Basil ini tumbuh lambat, waktu generasi in vitro antara 14 -15 jam. Koloni tampak setelah lebih kurang 2 minggu bahkan kadang-kadang setelah 6-8 minggu. Suhu optimum 37°C dan tidak tumbuh pada suhu kurang dad 25°C atau lebih dad 40°C. pH optimum antara 6,4 – 7,0. M.tuberculosis obligat aerobe sedang M.bovis pada isolasi primer bersifat mikroaerofilik, tetapi pada subkultur bersifat aerobe. Medium padat yang biasa banyak dipergunakan adalah medium LowensteinAensen.
  2. Pertumbuhan khusus: pada suatu medium, M.tuberculosis tumbuh rapat, dan pertumbuhan semacam ini dinamakan pertumbuhan yang eugonik. Sedang pertumbuhan M.bovis adalah jarang-jarang dan dinamakan pertumbuhan yang digonik.

Pada medium padat, M.tuberculosis membentuk koloni kering, kasar, menon­jol, tidak teratur dengan permukaan berkeriput. Wama koloni mula-mula putih krem, kemudian menjadi kekuning-kuningan yang akhimya menjadi suram, Koloni-koloni sangat lekat dan sukar dibuat emulsi. Sebaliknya M.bovis, mem­bentuk koloni datar, licin, lembab, berwarna putih. Mudah hancur jika disentuh. Pada medium cair, strain virulen membentuk semacam tali yang menjalar, sedang strain avirulen tumbuh menyebar. Walaupun demikian “cord factor” sendiri bukanlah faktor yang menentukan virulensi. “Cord factor” terdiri dari dua molekul asam mycolat yang dirangkaikan pada satu molekul trehalose, dan terdapat pula pada beberapa spesies mycobacteria yang apathogen. Basil tbc dapat tumbuh pada embryo ayam dan pada biakan jaringan.

  1. Sifat-sifat.
  1. Ketahanan hidup. Mycobacteria tidak tahan terhadap panas, akan mati pada pemanasan 60°C selama 15 – 20 menit. Ketahanan hidupnya di­pengaruhi oleh keadaan sekitamya. Biakan dapat mati jika terkena sinar matahari langsung selama 2 jam, tetapi jika masih berada dalam sputum dapat bertahan 20 – 30 jam. Basil yang berada dalam percikan-percikan bahan masih dapat bertahan hidup selama 8 – 10 hari. Biakan basil ini dalam temperatur kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari suhu -20°C selama 2 tahun.

Mycobacteria tahan terhadap berbagai khemikalia dan desinfektan antara lain phenol 5%, asam sulfas 15%, asam nitrat 3% dan NaOH 4%. Basil ini dihancurkan oleh jodium tinctur dalam 5 menit, dengan alkohol 80% akan dihancurkan dalam waktu 2-10 menit.

  1. Reaksi biokimiawi

1)        Uji niasin. Dalam medium yang mengandung telor, basil tbc tipe human tumbuh dan membentuk niasin. Larutan cyanogen bromide 10%, anilin 4% dalam alkohol 96% jika ditambahkan pada suspensi biakan basil tbc di atas akan memberikan warns kuning gading. Keadaan demikian dinamakan reaksi uji niasin positif. Mycobacteria yang lain umumnya memberikan hasil uji niasin negatif. Kecuali M.simiae dan beberapa strain dari M.cheloneli.

2)        Uji aryl sulfatase. Enzim aryl sulfatase dihasilkan oleh Mycobacteria atipikal. Basil ini ditanam pada medium yang mengandung tripo­tassium phenolphthelin disulfat 0,001 M. NaOH 2 N diteteskan tetes demi tetes pada koloni pertumbuhan. Reaksi positif jika wama koloni menjadi pink.

3)        Uji merah netral. Strain basil tbc yang virulen mampu mengikat merah netral dalam larutan buffer alkali, sedang strain yang avirulen tidak mampu.

 

  1. B.      Struktur Antigen

Di dalam darah penderita tbc terdapat berbagai macam antibodi untuk mela­wan antigen-antigen polisakharid, protein dan fosfatid. Adanya antigen poli­sakharid dapat ditunjukkan dengan reaksi yang mempergunakan eritrosit yang telah tersensitized. Antigen protein dapat diperiksa dengan reaksi yang mem­pergunakan eritrosit yang dilapisi protein dan difiksasi. Sedang adanya antigen fosfatid dapat diperiksa dengan uji aglutinasi fosfatida kaolin.

 

  1. C.      Produk Intraseluller

Ada beberapa macam antigen pada Mycobacteria. Spesifisitas group diten­tukan oleh antigen polisakharid. Spesifisitas tipe ditentukan oleh antigen protein. Infeksi oleh basil tbc akan diikuti dengan timbulnya reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap suatu antigen protein yang dinamakan pula tuberkulin. Produk lain yang penting dari Mycobacteria adalah niacin dan berbagai enzim seperti aryl sulfatase, katalase, peroksidase.

 

  1. D.      Patogenesis

Proses patologik tuberkulosis yang penting adalah terbentuknya lesi khan disebut tuberkel pada jaringan terinfeksi. Tuberkel adalah suatu granuloma avaskuler; tersusun atas:

a)      Daerah central: mengandung sel raksasa dengan atau tanpa nekrosis yang mengalami kaseasi, dikelilingi oleh sel-sel epiteloid.

b)      Daerah perifer: terdiri dari limfosit dan fibroblast. Dasar virulensi basil tbc belum diketahui dengan pasti, oleh karena basil tbc tidak mengandung atau memproduksi toksin. Berbagai komponen basil tbc mempunyai aktivitas biologic berbeda yang berpengaruh pada proses penyakit dalam hal patogenesis, alergi dan imunitas.

 

  1. E.      Patologi

M.tuberculosis dan M.bovis keduanya patogen bagi manusia. M.tuberculosis sangat infeksius pada marmut juga patogen pada beberapa binatang lain, tetapi tidak patogen pada kelinci. M.bovis sangat infeksius pada kelinci juga patogen bagi beberapa jenis binatang lain terutama temak. Beberapa species Mycobac­teria atipikal ada yang menyebabkan sakit pada manusia.

Lesi jaringan oleh basil tbc pada dasamya ada dua tipe, tipe eksudatif dan tipe produktif. Tipe eksudatif adalah suatu rekasi radang akut; terjadi udema sel leukosit polimorfonuklear, kemudian monosit terkumpul di sekeliling basil tbc yang bersarang di tempat itu. Lesi ini kemungkinan sembuh sempuma, nekrosis jaringan, atau berkembang menjadi tipe produktif.

Tipe produktif ditandai timbunan sel radang di sekitar basil. Lesi ini tersusun alas banyak tuberkel yang kemudian membesar, atau mengelompok, atau mencair dan mengalami proses kaseasi.

Pada tipe anak-anak, infeksi primer mengarah pada bentuk lesi yang disebut kompleks primer, berupa fokus subpleural pneumonia tuberkulosis parenchym paru (fokus Ghon) yang biasanya terdapat pada lobus inferior atau bagian bawah lobus posterior paru, bersama-sama dengan pembesaran kelenjar limfe di daerah tersebut. Tuberkulosis tipe dewasa umumnya akibat aktifasi kembali infeksi primer (infeksi endogeny, atau infeksi ulang (infeksi eksogen). Lesi tipe ini mung­kin mengalami penyembuhan dengan resorbsi, atau fibrosis, atau kadang-kadang kalsifikasi. Dapat jugs berkembang menjadi tuberkulosis kronik dengan pemben­tukan tuberkel, kaseasi, kavitasi dan mengeluarkan sputum yang mengandung basil tbc (tuberculosis terbuka). Pada orang dewasa jarang terjadi infeksi yang akut dan fatal..LM 14.

 

  1. F.       Gejala Klinik

Gejala umum tuberkulosis antara lain badan lemah, mudah capai, berat ba­dan menurun, demam, jika tbc paru maka ditambah dengan gejala batuk kronis, dapat pula terjadi hempotoe. Adanya basil tbc dalam sirkulasi darah menun­jukkan terjadinya tuberkulosis milier yang berarti banyak lesi pada berbagai organ. Dan keadaan ini menunjukkan mortalitas yang tinggi.

 

  1. G.      Diagnosa Laboratorik

Bakteriologik. Bahan pemeriksaan untuk tbc paru terutama adalah sputum. jika sukar mendapatkan sputum, dapat dilakukan dengan usapan larynx atau cairan kurasan lambung. Pelepasan basil tbc dalam sputum kadang-kadang ber­henti, kemudian dilepaskan lagi. Oleh karenanya pengambilan bahan dan peme­riksaan sebaiknya dilakukan sedikitnya 3 hari berturut-turut. Bahan (sputum) ditampung dalam botol bermulut lebar.

 

Cara pemeriksaan

  1. 1.        Mikroskopik:

1)      Pemeriksaan langsung. Bahan pemeriksaan dibuat sediaan apus pada gelas bends yang barn dan bersih. Sediaan yang telah kering, dilakukan pengecatan menurut cara Ziehl-Neelsen. Mula-mula digenangi dengan Ziehl-Neelsen A (carbon-fuchsin) dan dipanaskan tidak sampai mendidih tetapi tampak ads asap, selama 5 – 7 menit. Dicuci dengan air dan dila­kukan dekolorisasi dengan Ziehl-Neelsen B (larutan 3% HCI pekat dalam alkohol 95%) sampai wama hilang. Setelah dicuci, dicat dengan wama kontras Ziehl-Neelsen C (biro methylen 0,2%). Setelah dicuci dan kering diperiksa di bawah mikroskop perbesaran 100 kali. Basil tbc atau basil tahan asam (BTA) tampak bentuk batang tak rats berwama merah di atas dasar biru. jika di bawah mikroskop tampak adanya basil tahan asam, maka cliperkirakan sedikitnya ada 10.000 basil tahan asam dalam tiap 1 ml sputum.

Hasil positif dapat diberi graasi:

3 +, jika pada setiap lapangan penglihatan tampak 10 basil tahan asam atau lebih.

2 +, jika dalam satu sediaan tampak 10 basil tahan asam atau lebih.

1 +, jika dalam satu sediaan tampak 3-9 basil tahan asam. Jika dalam satu sediaan hanya tampak basil tahan asam 1 – 2, hasil ditulis positif dengan menyebutkan jumlah basil tahan asam yang tampak.

2)      Cara homogenisasi dan konsentrasi. Di samping untuk maksud penge­catan, cara ini jugs untuk pembiakan dan percobaan binatang. Ada bebe­rapa cara homogenisasi dan konsentrasi, di antaranya adalah cara Petroff: sputum ditambah 4% NaOH dengan volume sama, kemudian dieram 37°C selama lebih kurang 20 menit, dan tiap kali dikocok, sampai jernih (proses homogenisasi). Diputar 3000 putaran per menit selama 30 menit (konsentrasi). Endapannya dinetralkan dengan HCI 0,1 N, dan siap dila­kukan untuk pembiakan atau untuk percobaan binatang.

  1. 2.        Biakan (kultur):

Biakan cukup sensitif untuk deteksi basil tahan asam yang hanya 10 -100 basil per ml sputum. Bahan yang sudah dilakukan homogenisasi dan kon­sentrasi diinokulasikan pada perbenihan (medium) Lowenstein-Jensen. Dieram pada suhu 37°C. Jika pemeriksaan mikroskopik positif, dilakukan uji kepekaan terhadap berbagai obat tuberkulostatika. Pertumbuhan pada perbenihan diamati setelah 4 hari, mungkin ada golongan “rapid grower”, atau golongan jamur, atau ada kontaminasi. Setelah itu diamati sedikitnya seminggu sekali. Hasil negatif clitetapkan setelah pengamatan selama 8-12 minggu tidak ada pertumbuhan.

 

  1. H.      Imunitas dan Hipersensitivitas

Infeksi basil tbc memungkinkan timbulnya reaksi imunitas dan reaksi hipersensitivitas tipe lambat (alergi). Kedua reaksi tersebut merupakan imunitas seluler. Imunitas humoral tidak mempunyai relevansi terhadap perjalanan penyakit. Pada orang yang tidak mempunyai imunitas seluler, basil tbc dapat berbiak dalam fagosit dan menghancurkannya. jika mempunyai imunitas seluler, sel-sel T yang telah diaktifkan mengeluarkan limfokin yang dapat mengubah fagosit menjadi bersifat bakterisidal. Adanya reaksi imunitas dan hipersensitivitas

tampak pada fenomen Koch. Fenomen Koch dapat ditunjukkan dengan 2 macam marmut:

  1. Marmut sehat disuntik subkutan dengan basil tbc yang virulen. Benjolan di tempat suntikan akan timbul setelah 10 – 14 had yang kemudian pecah membentuk ulcus. Ulcus ini akan tetap ada sampai marmut tersebut akhimya mati.
  2. Marmut yang telah terinfeksi tbc 4 – 6 minggu sebelumnya, disuntik subkutan dengan basil tbc. Benjolan di tempat suntikan timbul dalam 1 atau 2 hari. Hari berikutnya benjolan tersebut ulcus yang dengan cepat akan sembuh.

Dengan demikian tampak bahwa fenomen Koch mempunyai tiga unsur pokok, reaksi lokal, respons fokal dan respons sistemik.

Proses alergi timbul tidak hanya oleh infeksi basil virulen, tetapi dapat timbul jugs oleh suntikan basil yang telah dilemahkan atau yang sudah mati. Untuk me­ngetahui adanya proses alergi dapat dilakukan dengan suntikan tuberkuloprotein (tuberkulin), yang dikenal dengan test (uji) tuberkulin. Alergi oleh tuberkulin adalah reaksi hipersensitivitas tipe lambat.

 

Uji tuberkulin

1)      Bahan:

  1. Old tuberculin (OT), adalah filtrat pertumbuhan basil tbc 6 minggu dalam medium cair, yang kemudian dipekatkan. Selain tuberkuloprotein, bahan ini. mengandung pula berbagai bahan lain dari basil tbc dan dari medium.
  2. PPD (purified protein derivative), diperoleh dengan proses fraksionasi OT secara kimiawi. PPD kini banyak digunakan, telah clibakukan secara inter­nasional dengan saloon “tuberculin units” (TU).

Kekuatan tuberkulin dibedakan menjadi

  1. Kekuatan pertama adalah 1 TU
  2. Kekuatan kedua adalah 250 TU
  3. Kekuatan antara adalah 5 TU

 

2)      Dosis tuberkulin:

Yang biasa diberikan adalah 5 TU, terhadap orang yang sensitif, maka diberikan 1 TU. Jika pada pemberian 5 TU menunjukkan reaksi negatif, dapat diberikan dengan 250 TU. Pemberian dilakukan intrakutan dalam volume 0,1 ml.

 

3)      Reaksi terhadap tuberkulin:

Orang yang belum pemah kontak dengan mycobacteria, tak ada reaksi terhadap tuberkulin. Orang sudah pemah mendapat infeksi primer dengan basil tbc, dalam 24-48 jam akan timbul reaksi yang sangat kuat dengan adanya indu­rasi, edema, eritema, bahkan dapat terjadi nekrosis di tengah-tengah tempat sun­tikan. Reaksi tersebut hares dibaca dalam waktu 48-72 jam. Hasilnya dinyatakan positif jika pada penyuntikan dengan 5 TU memberikan indurasi dengan dia­meter 10 mm atau lebih. Pada reaksi yang kuat, indurasi tidak hilang sampai beberapa hari. Sedang pada reaksi yang lemah akan menghilang lebih cepat.

 

4)      Interpretasi uji tuberkulin:

Uji tuberkulin positif menunjukkan bahwa seseorang pemah terinfeksi oleh mycobacteria dan hasil itu masih ada dalam suatu jaringan tubuh. Hal ini tidak berarti bahwa orang tersebut menderita penyakit tbc aktif, atau telah mempunyai imunitas terhadap tbc. Uji tuberkulin positif dapat diartikan bahwa infeksi primer yang telah diperolehnya suatu waktu menjadi aktif. Uji tuberkulin negatif berarti belum pemah terkena infeksi mycobacteria, basil yang ada dalam jaringan, tetapi orang ini masih mungkin terkena infeksi mycobacteria dari luar misalnya ketu­laran penderita lain.

PPD dari berbagai jenis mycobacteria telah dibuat pula. PPD ini pada kadar yang rendah dapat menunjukkan reaksi khan terhadap suatu infeksi myco­bacteria, tetapi pada kadar yang tinggi terjadi reaksi silang.

 

  1. I.         Pengobatan

Obat-obat yang banyak dipakai untuk penyakit tbc saat ini adalah INH (isoniazid), ethambutol, rifampicin, dan streptomisin. Namun, cepat sekali mun­cul strain-strain basil tbc yang resisten terhadap obat-oabt di atas. Umumnya INH masih merupakan obat pilihan untuk tbc. Pengobatan lebih berhasil dengan kombinasi 2-3 macam obat, misalnya INH dengan ethambutol, atau INH dengan rifampicin, atau kombinasi yang lain. Kesembuhan klinik umumnya dapat dica­pai dalam 6-12 bulan. Penderita dengan sputum positif menjadi tidak infektif setelah 2-3 minggu mendapat pengobatan efektif.

Pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama mengingat:

  1. Umumnya basil tbc adalah intraseluler.
  2. Bahan pengkejuan dalam lesi, walaupun dapat menghambat perbiakan basil tbc, tetapi jugs menghambat efektivitas obat.
  3. Dalam lesi kronis, basil tbc yang bertahan dalam keadaan tidak aktif dalam berbiak dan metabolisme, bersifat resisten terhadap aktivitas obat.
  1. J.        Epidemiologi, Pencegahan dan Pengawasan

Sumber infeksi basil tbc paling Bering adalah manusia yang mengeluarkan ekskret mengandung banyak sekali basil tersebut terutama dari saluran perna­fasan. Kontak yang erat dengan penderita misalnya keluarga atau perawat, sangat besar kemungkinan mendapat penularan melalui percikan-percikan dari ekskret tersebut. Susu sapi yang menderita tbc dapat menjadi sumber infeksi lebih-lebih jika tidak dilakukan pasteurisasi terhadap susu sapi tersebut.

Kepekaan seseorang terhadap infeksi basil tbc mempunyai dua tingkatan masalah:

  1. Tingkatan pertama, masalah kemungkinan besar terinfeksi.
  2. Tingkatan kedua, masalah kemungkinan besar menderita penyakit aktif.

Orang dengan tuberkulin negatif, kemungkinan terinfeksi tergantung pada kontak dengan sumber penularan terutama penderita dengan sputum positif. Kemungkinan terinfeksi ini akan sejalan dengan tingkatan keaktifan penyakit, kepadatan penduduk, keadaan sosial ekonomi yang kurang balk, dan kurang memadainya pelayanan medik. Faktor genetik mungkin hanya sedikit berperan­nya.

Tingkatan kedua, tentang kemungkinan besar menderita penyakit tbc aktif, bukti-bukti menunjukkan bahwa jelas ada faktor genetik yang ikut mempenga­ruhi. Faktor-faktor penting lainnya yang mempengaruhi pula adalah gizi kurang, usia (usia 16-21 tahun lebih peka), status imunologik, penyakit lain yang ada ber­samaan (misalnya silikosis, diabetes) dan faktor-faktor resistensi seseorang. Di daerah perkotaan, infeksi terjadi pada usia-usia lebih muda.

Pencegahan dan pengawasan dilakukan terhadap:

  1. Pelayanan kesehatan masyarakat untuk deteksi sedini mungkin adanya kasus dan sumber-sumber infeksi. Tindakan yang perlu dilakukan misal­nya uji tuberkulin, foto Rd, dan pengobatan efektif sampai penderita tidak menularkan penyakit.
  2. Pemberantasan tbc pada temak dan pasteurisasi susu.
  3. Imunisasi, dengan pemberian vaksin BCG (bacille Calmette Guerin). BCG adalah basil tbc tipe bovin yang telah dilemahkan. Di London vaksinasi BCG diberikan pada anak umur 12 tahun dengan uji tuberkulin negatif. Di Swjeclia umumnya diberikan pada anak umur 1 tahun. Di USA vaksi­nasi BCG diberikan pada orang-orang dengan uji tuberkulin negatif dan banyak berhubungan dengan penderita tbc misalnya keluarga penderita, perawat. Bukti-bukti statistik menunjukkan bahwa setelah vaksinasi BCG akan menaikkan resistensi dalam jangka waktu tertentu.
  4. Resistensi seseorang. Beberapa faktor nonspesifik dapat mengurangi keta­hanan tubuh sehingga memudahkan konversi dari infeksi asimtomatik menjadi penyakit aktif. Faktor-faktor tersebut antara lain kekurangan ma­kan, gastrektomi, pemberian dosis tinggi obat-obat kortikosteroid atau obat-obat yang bersifat imunosupressif.

Yang termasuk basil tbc adalah M.tuberculosis dan M.bovis. Mycobacteria tersebut termasuk dalam golongan Mycobacterium tipikal.

Mycobacterium atipikal, terdiri dari 4 golongan (menurut Runyon, 1957):

Group I      Golongan fotokromogen, wama koloni menjadi lebih tug jika terkena cahaya. Contoh: M.kansasi.

Group II     Golongan skotokromogen, koloni selalu berwama dan tidak terpengaruh oleh cahaya. Contoh : M.serofulaceum.

Group III   Golongan non-fotokromogen, koloni selalu tidak berwama dan tidak terpengaruh oleh cahaya. Contoh: M.intracellulare.

Group IV   Golongan “rapid growers”, koloni ada yang tidak berwama dan tumbuh dalam waktu 3-7 hari. Contoh: M.fortuitum.

 

Mycobacterium Leprae

 

  1. A.      Morfologi dan Identifikasi
  1. Bentuk. M.leprae berbentuk batang lurus atau sedikit bengkok, berukuran 1-8 X 0,2-0,5 mikron. Tahan asam, tetapi dibandingkan dengan M.tuberculosis lebih lemah. Dengan pengecatan Ziehl-Neelsen basil lepra tampak satu-satu atau umum­nya bergerombol karena diikat oleh suatu glia (zat semacam lipid) dan ini mem­bentuk bangunan yang khan. Bentuk itu ada yang disebut globus. Dalam bentuk ini basil lepra tersusun sejajar, keseluruhannya membentuk semacam bola. Ben­tuk lain disebut bentuk cerutu. Basil-basil lepra tersusun sejajar, tetapi bentuk keseluruhannya menyerupai cerutu.
  2. Penanaman. Sampai saat ini belum ada suatu jenis medium, balk medium buatan maupun biakan jaringan, yang dapat dipergunakan untuk pembiakan basil lepra. Penanaman pada binatang percobaan yang telah berhasil dan dija­dikan standar adalah inokulasi pada telapak kaki mencit dan dipertahankan pada suhu 20°C. Binatang lain yang jugs peka terhadap basil lepra adalah suatu jenis dari armadillo.
  3. Pertumbuhan khusus. Penanaman pada binatang percobaan menunjukkan bahwa basil lepra mempunyai waktu generasi cukup panjang, yaitu antara 12 hari sampai 42 hari, dibanding dengan 14 jam pada basil tbc atau 20 menit pada coliform.

 

  1. Sifat-sifat. Basil lepra dalam suasana panas dan lembab dapat tetap hidup selama 9-16 hari. Jika terkena sinar matahari secara langsung dapat bertahan hidup selama 2 jam, terhadap sinar u.v. hanya dapat bertahan 30 menit.

 

 

  1. B.       Struktur Antigen

Jenis-jenis antigen pada basil lepra belum dapat dijelaskan secara pasti, tetapi ada sedikit hubungan antigenik antara basil tbc dan basil lepra. Proses timbulnya penyakit lepra diduga akibat reaksi antara antigen pada lepra yang berikatan de­ngan antibodinya. lkatan antibodi dan antigen dari basil lepra tersebut kemudian dideposit ke jaringan tertentu.

 

  1. C.      Produk Ekstraseluler

Produk ekstraseluler tidak banyak dikenal, tetapi dapat dibuat bahan serupa tuberkulin yang disebut Lepromin. Bahan yang masih kasar dibuat dari basil lepra oleh Mitsuda, disebut antigen Mitsuda, yang dapat lebih dimurnikan sehingga tidak mengandung komponen-komponen dari sel basil lepra. Sekarang banyak dipakai lepromin yang dibuat dari lesi lepra pada armadillo.

 

  1. D.      Patogenesis

Lepra adalah suatu granulomatosa kronik, disebabkan oleh basil lepra, yang terutama menyerang kulit, saraf perifer dan mukosa hidung. Akan tetapi pada dasamya dapat menyerang pula setiap jaringan tubuh yang lain.

 

  1. E.       Patologi

Penyakit lepra digolongkan menjadi 2 tipe pokok, tipe lepromatosa dan tipe tuberkuloid. Di antara kedua tipe itu terdapat tipe-tipe antara misalnya tipe di­morphosa atau “borderline” dan tipe intermediate.

Ridley dan jopling membagi tipe lepra menurut tinSkatannya, menjadi 5 group:

  1. Tuberculoid (TT)
  2. Borderline tuberculoid (BT)
  3. Borderline (BB)
  4. Borderline leprornatosa, (BL)
  5. Lepromatosa (LL).

Tipe-tipe tersebut menggambarkan status imunitas seseorang. Oleh karenanya tipe lepra pada seseorang dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan imunitas atau keberhasilan peRgobatan pada orang tersebut. Akan tetapi sifat-sifat dan virulensi basil lepra tidak berbeda, walaupun diisolasi dari penderita dengan tipe yang berbeda-beda.

 

  1. F.       Gejala Klinik

Tipe lepromatosa muncul pada orang yang days tahannya menurun. Tampak beberapa lesi nodular pada kulit (lepromata), yang terdid dari jaringan granulasi, monosit dan basil lepra. Lesi ini dapat menjadi ulcus, sehingga dapat terjadi infeksi sekunder dan kemudian terjadi proses mutilasi. Selanjutnya basil lepra menyerang mukosa hidung, mulut, saluran nafas bagian atas, basil lepra tersebut keluarkan bersama-sama sekret, sehingga lepra tipe lepromatosa sangat menular.

Di samping itu basil lepra juga menyerang organ-organ lain seperti sistema reti­kulo-endotelial, mats, testis, ginjal dan tulang, sehingga biasa terjadi basilaemia. Prognose lepra tipe lepromatosa adalah jelek.

Tipe tuberkuloid terjadi pada penderita yang mempunyai days tallan tinggi. Lesi pada kulit hanya beberapa dan berbatas jelas, berupa bercak-bercak makula anestetik. Saraf-saraf dapat terserang lebih awal dan efek nyata dengan timbulnya deformitas terutama pada tangan dan kaki. Basil sangat sedikit pada lesi dan kecil pula kemungkinan menular.

 

  1. G.      Diagnosa Laboratorium

Bahan pemeriksaan diambil dari goresan dengan skalpel pada lesi di kulit atau mukosa hidung atau daun telinga. Dibuat sediaan apus pada gelas benda dan dilakukan pengecatan menurut cara Ziehl-Neelsen. Adanya basil lepra tam­pak berwama merah dengan susunan bentuk globus, cerutu atau satu-satu.

 

  1. H.      Imunitas

Ada hubungan antara imunitas terhadap basil tbc dan basil lepra. Dari hasil suatu penelitian, orang-orang yang mendapat vaksinasi BCG, sekitar 85% juga terlindung dari infeksi basil lepra.

 

  1. I.         Pengobatan

Obat-obat yang dapat dipergunakan untuk penyakit lepra antara lain:

  1. Golongan sulphon, merupakan obat pilihan utama. Obat yang diper­gunakan umumnya diami nodi phenyl sui I phone (DDS, dapson).
  2. Clofazimine, diberikan pada lepra yang telah resisters terhadap DDS.
  3. Rifampicin, diberikan sebagai kombinasi dengan obat pilihan utama.

 

  1. J.        Epidemiologi, Pencegahan dan Pengawasan

Penyakit lepra sangat menular, dan sumber penularan adalah penderita lepra. Cara penularan belum diketahui secara pasti, sangat mungkin terjadi pada mass kanak-kanak, dalam waktu yang sangat panjang selalu kontak dengan penderita yang dalam sekretnya banyak mengandung basil lepra. Sekret hidung merupakan sumber penularan utama, kemudian bare discharg dari lesi di kulit.

Sering terjadi orang tampak normal, tidak merasa menderita lepra tetapi mengeluarkan sekret yang menularkan lepra. Keadaan seperti ini berlangsung 2-3 tahun sampai kemudian jelas orang tersebut menunjukkan tanda-tanda menderita lepra. Masa inkubasi lepra rats-rats 2-5 tahun.

Kunci pengawasan adalah tedetak pada penetapan diagnosa dan pengobatan penderita lepra. Anak-anak dari keluarga pendedta lepra yang dianggap dapat menularkan, peHu diberi pengobatan sampai pengobatan terhadap yang sakit dinyatakan tidak menular lagi.

Usaha vaksinasi sudah banyak dilakukan dengan vaksin BCG dan dicoba pula dengan vaksin lepra. Percobaan di Uganda ffmnunjukkan bahwa sekitar 85% dari orang-orang yang diberi vaksinasi BCG terhindar dari penyakit lepra.

metabolisme organisme

Posted: September 13, 2011 in mikrobiologi

METABOLISME MIKROORGANISME

ENZIM: KATALISATOR BIOLOGIK

Hampir swemua proses metabolisme memerlukan enzim, bila tidak ada enzim tidak akan ada kehidupan sel. Enzim adalah protein yang mempunyai kisaran berat molekul 600- 12.000 . Fungsinya mempercepat reaksi kimia yang terjadi dalam sel. Molekul yang mampu mempercepat reaksi kimia disebut katalisator. Dalam kerjanya enzim tidak berdiri sendiri, tetapi dibantu oleh molekul yang disebut kofaktor. Kebanyakan kofaktor berupa molekul organik seperti vitamin dan sring disebut sebagai koenzim. Kofaktor yang berupa molekul anorganik dapat berupa ion-ion metal seperti calsium, zink, dan magnesium. Pada setiap reaksi kimia dalam sel terdapat molekul yang disebut substrat(S), yang akan berinteraksi dengan enzim(E) dan akan mengubahnya menjadi produk(P) reaksi enzimatis dapat ditulis dengan rumus sbb:

S + E = SE(kompleks S-E )——-P + E

Reaksi kimia terlibat dalam sintesis (pembuatan) dan pemecahan suatu ikatan kimia, dan ini memerlukan energi yang disebut energi aktivasi. Vitamin yang berfungsi dalam metabolisme mikroorganisme adalah: Thiamine, Riboflavin, Niacin, Asam pantotenat, Pyridoxal, Biotin, Asam Folat, Vitamin B12. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas enzim yakni: ion Hydrogen, temperatur, konsentrasi substrat, inhibitor(penghambat).

PROSES METABOLISME YANG MENGHASILAKAN ENERGI
FERMENTASI
Fermentasi adalah proses oksidasi,disini donor memberikan elektron organik kepada penerima . Oksigen sendiri tidak terlibat fermentasi karena merupakan proses anaerobik. Proses fermentasi terjadi pada kebanyakan sel hidup dan disebut proses glikolisis atau jalur Emden-Meyerhoff-Parnas (EMP)
RESPIRASI
Respirasi adalah sistem pembentukan energi sel dimana elektron dibebaskan dengan cara oksidasi dipindahkan ke rangkaian transport elektron. Rangkaian transport elektron bertempat di membran sitoplasma bakteri dan membran mitokondria pada eukariot. Penerima terakhir elektron adalah oksigen(pada respirasi aerob) atau molekul anorganik selain oksigen(pada respirasi anaerob)
BIOSINTESIS: PROSES YANG MEMERLUKAN ENERGI
Kebanyakan komponen seluler dan enzim akan mengalami degradasi selama siklus kehidupan dan biosintesis diperlukan untuk memperbaiki atau menyusun kembali menjadi keadaan normal. Dalam rangka biosintesis terdapat 3 syarat : harus ada sumber kerangka karbon, kedua harus ada kekuatan reduksi untuk pembentukan hidrogen, ketiga harus ada sumber energi.
PERTUMBUHAN MIKROORGANISME

Pertumbuhan adalah proses koordinasi kemik dan fisik dalam sel yang secara ideal akan menghasilkan pembelahan sel. Proses kimia dan fisika dalam sel juga dipengaruhi oleh kekuatan kemik dan fisik eksternal.
Pertumbuhan sel bakterial
Sel bakteri membelah dengan proses aseksual yang disebut pembelahan binair. Ketika membelah setiap progeni membentuk salinan dari DNA dan komponen selular lainnya. Setelah terbentuk dua sel, populasi akan manjadi kelipatan 2 ykni 4,8,16,32,64, dst. Waktu yang diperlukan oleh satu sel ataun populasi menjadi dua kali lipat disebut waktu pertumbuhan.
Kurve pertumbuhan
Populasi bakteri yang ditumbuhkan di laboratorium dengan jumlah tertentu ditumbuhkan dalam mediium sampai pertumbuhan berhenti. Setelah dievaluasi menghasilkan suatu . kurve pertumbuhan, dengan tahapan fase lag, fase log, fase stationer, , kematian, dan fase penurunan pertumbuhan.
Fase lag
Bila mikroorganisme dipaparkan pada medium pertumbuhan, maka akan terdapat periode penyesuaian terhadap lingkungan fisik dan kemik setempat. Pada saat ini pembelahan sel terlambat. Hal ini tampak pada kurve pertumbuhan populasi yang mendatar.
Fase log
Populasi sel tumbuh secara logaritmik Selama fase ini pembelahan terjadi secara konstant misalnya setiap 30 menit. Kurve tampak meningkat dalam gambaran vertikal
Fase stationer
Bila mikroorganisme ditumbuhkan pada medium pertumbuhan yang tidak mengalami pergantian nutrien, maka populasi mikroorganisme makin lama makin menurun. Bebrapa anggota populasi banyak yang mati. Terjadi keseimbangan antara jumlah yang tumbuh dan jumlah yang mati. Tampak kurve mendatar.
Fase penurunan dan kematian
Makin lama makin banyak anggota populasi yang mati . Faktor yang berpengaruh adalah dilepaskannya enzim litik oleh beberapa bakteria ketika lisis.

BAHAN KIMIA YANG DIPERLUKAN UNTUK PERTUMBUHAN

AIR
Air diperlukan untuk melarutkan nutrien yang diperlukan sehingga nutrien dapat ditransportasi masuk melalui membran sitoplasma . Disamping itu kebanyakan reaksi biokimia memerlukan air untuk memecah gugusan kimia tertentu(hidrolisis)
KARBON
Kebanyakan mikroorganisme termasuk yang berperan dalam aspek medik memerlukan sumber karbon dalam bentuk organik. Hanya ada beberapa jenis bakteria yang menggunakan karbon anorganik seperti karbondioksida sebagai sumber karbon. Organisme yang menggunakan molekul organik sebagai sumber karbon disebut heterotrof. Penggunaan sumber karbon organik tergantung pada potensial genetik dari bakteri, yakni bagaimana bakteri memproduksi enzim yang mampu mengubah sumber karbon tersebut. Sumber karbon untuk sel bakteri biasanya adalah gula seperti glukose karena mudah diuraikan secara glikolosis disamping zat tersebut merupakan sumber energi. Sumber karbon lain untuk kebanyakan mikroorganisme sering berupa makromolekul seperti selulose. Mikroorganisme biasanya memiliki enzim selulase yang mampu mengubah selulose menjadi glukose. Makromolekul tidak dapat ditransport melalui membran sitoplasma , tetapi unit yang kecil seperti glukose dapat ditransport.
NITROGEN
Nitrogen adalah molekul penting penyusun protein yang ditemukan pula pada purin dan pirimidin. Kebutuhan nitrogen disuplai dari molekul anorganik sperti amonia (NH3) atau nitrat (NO3) tetapi nitrit (NO2) dan gas nitrogen (N2) dapat dipakai oleh beberpa jenis mikroorganisme. Bentuk anorganik dari nitrogen mula-mula akan diubah menjadi amonia kemudian diubah menjadi asam amino.
SULFUR DAN FOSFAT
Sulfur adalah elemen yang dapat ditemukan pada kebanyakan asam amino,diserap oleh sel mikroorganisme dalam bentuk sulfat anorganik. Sulfat diubah menjadi amino sulfide (H2S). Fosfor penting dalam sintesis asam nukleat DNA dan RNA. Salah satu komponen dari asam nukleat yakni ATP (Adenosin Tri Fosfat) yang merupakan energi di sel.
OKSIGEN
Produk metabolisme oksigen
Beberapa mikrorganisme membentuk enzim yang mereduksi oksigen tidak hanya terhadap air, seperti pada respirasi aerob tetapi juga produk toksik. Produk antara yang toksik adalah hidrogen peroksida dan superokside. Ensim yang terlibat adalah katalase yang mengubah hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen adalah sbb:
H2O2 ——— H2O + O2
Ensim lain adalah superoksid desmutase yang mengubah superokside menjadi hidroge peroksida dan oksigen
Berdasar atas kebutuhan oksigen mikroorganisme dibagi dalam 4 grup,yakni:
Aerob Obligat
Organisme ini secara total tergantung adanya oksigen untuk pertumbuhannya. Kebutuhan oksigen biasanya 1 atmosfer atau 20% oksigen dalam udara 1 atm. Aerob obligat memproduksi hidrogen peroksida dan superoksid tetapi juga menghasilkan enzim katalase dan superoksid desmutase yang memungkinkan toleran terhadap oksigen konsentrasi tinggi.
Mikroaerofilik
Mikroarerofilik tumbuh pada lingkungan mengandung oksigen tetapi hanya toleran hanya terhadap sedikit oksigen(kira-kira 0.2 atmosfer, atau 4%). Mikroaerofilik menghasilkan enzim yang diperlukan untuk memecah hidrogen peroksida dan superokside tetapi banyak bahan toksik yang terbentuk sistem enzimatik menjadi tak mampu dan pertumbuhan terhambat
Anaerob fakultatif
Mikroorganisme anaerob fakultatif dapat tumbuh dengan adanya oksigen atau tanpa oksigen. Bila tersedia oksigen mereka menggunakan respirasi aerob untuk produksi energi sedang bila tidak ada oksigen mereka menggunakan fermentasi atau respirasi anaerob sebagai sumber energi. Anaerob Fakultatif tumbuh baik dibawah kondisi aerob dan memproduksi katalase dan superoksid desmutase untuk memecah hidrogen peroksida dan superoksid yang terakumulasi.

Anaerob obligat
Orgnisme ini hanya akan tumbuh dalam kondisi tanpa oksigen . organisme seperti clostridium yang dapat ditemukan di tanah tetapi dapat tumbuh pada lingkungan hospes manusia. Lingkungan anaerob termasuk intestinal dan kantung antara gigi dan gusi. Oksigen bersifat letal terhadap mikroorganisme grup ini karena mikroorganisme ini membentuk enzim yang mereduksi oksigen menjadi hidrogen peroksida dan superoksid tetapi tidak memiliki enzim yang mengubah zt-zat tersebut menjadi zat non toksik Obligat anaerob yang lain dapat toleran terhadap sedikit oksigen karena kekurangan enzim yang mereduksi oksigen menjadi air atau zat perantara yang toksik.
MINERAL
Kebutuhan akan mineral sangat bervariasi Beberapa mineral seperti calsium, magnesium, besi diperlukan bagi kebanyakan bakteri. Mineral lain seperti sodium, zink, molibdenum, kobalt, kuper dan mangan biasanya diperlukan sebagai trace elemen.

FAKTOR FISIK YANG DIPERLUKAN UNTUK PERTUMBUHAN
Beberapa faktor fisik sering berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroorganisme
ION HIDROGEN
Kebanyakan bakteri tumbuh baik diantara pH 6 sampai 8 sedangkan fungi diantara pH 5 sampai 6. Dengan prinsip ini merupakan jawaban mengapa di lambung banyak mikroorganisme tidak mampu menimbulkan infeksi di bagian tubuh ini karena pH disini adalah sekitar 2.0.
TEMPERATUR
Dengan dasar kebutuhan temperatur untuk pertumbuhan mikroorganisme dibagi dalam
Psykrofil
Bakteri ini tumbuh pada kisaran temperatur antara -10 sampai 20C. Mereka ditemukan di lingkungan yang ekstrim dingin di dunia.
Mesofil
Mikroorganisme yang mampu menyebabkan infeksi pada manusia . Mereka sangat menyukai temperatur antara 30 sampai 37C
Termofil
Menyukai temperatur yang tinggi yakni diantara 45 sampai 70 C. Biasanya ditemukan di daerah panas. Mikroorgnisme ini tidak mampu tumbuh di tubuh manusia
TEKANAN OSMOTIK
Konsentrasi zat-zat dalam larutan medium sangat menentukan pertumbuhan mikroorganisme . Faktor ini mengatur kekuatan ionik dalam sel yang sangat diperlukan dalam aktivitas enzim. Kehilangan air dalam sel akan menyebabkan kondisi yang disebut plasmolisis. Plasmolisis akan menghambat pertumbuhan sel

Epidemiologi

Posted: September 13, 2011 in mikrobiologi

EPIDEMIOLOGI

 

A.TAHAPAN KLINIK PENYAKIT DALAM TUBUH HOSPES

 

Individu yang terinfeksi mikroorganisme patogen akan menanggapi dengan berbagai cara. Seringkali sistem imune hospes akan menghambat patogen sebelum patogen tersebut  berhasil mengakibatkan   simtom atau atau simtom masih sangat ringan sehingga tidak terasa. Kasus seperti ini disebut subklinik atau tidak jelas. Ketika patogen berinteraksi dengan sistem pertahanan hospes, manifestasi penyakit akan terjadi dan berproses dalam bentuk akut atau kronik.

 

PENYAKIT AKUT

Penyakit akut dapat ditentukan dari gejala-gejala yang muncul secara cepat, kuat, dan mereda ketika sistem pertahanan tubuh melimpah dan dapat mengatasi patogen atau produk toksin. Penyakit akut adalah tipe penyakit yang kebanyakan merupakan acquitance (dapatan,kenalan) misalnya pada anak-anak adalah campak, chickenpox, dan berbagai macam influenza.

 

PENYAKIT KRONIK

Beberapa macam mikroorganisme mampu menetap dalam hospes untuk waktu cukup panjang karena kemampuannya menghindari respon hospes. Infeksi kronik dapat dibagi dalam kronik, laten, dan lambat . Infeksi kronik terjadi bila gejala penyakit terjadi dalam waktu yang panjang. Kebanyakan penyakit kronik agen infeksi (mikroorganisme) berada secara intraseluler di dalam fagosit. Organisme ini dapat dipindahkan ke berbagai organ dan lokasi dalam tubuh. Kemudian mereka dapat bermultiplikasi(berkembang biak) atau bila mikroorganisme tersebut lisis menghasilkan produk yang memunculkan  simptom. Simptom akan meningkat selama relaps(kambuh) disebabkan karena reaksi hipersensitif oleh hospes. Penyakit kronik seperti bruselosis atau tuberkulosis yang terjadi karena hospes tidak mampu merespon secara efisien. Kemungkinan antigen mikrobial tidak cukup imunogenik untuk menginduksi hospes memproduksi antibodi yang mampu memberantas patogen.

 

Pada penyakit kronik maupun akut terdapat beberapa proses yakni inkubasi, prodromal, akut dan convalescent. Proses-proses tersebut tidak selalu sama pada keadaan kronik dan akut.

Periode inkubasi   

Adalah saat ketika agen infeksi memasuki tubuh hospes sampai gejala/simptom muncul. Periode ini bisa pendek dalam waktu beberapa jam atau panjang sampai beberapa tahun. Interval waktu tersebut dipengaruhi oleh seberapa cepat agen infeksi berkembang biak dan seberapa cepat produk mikroorganisme mempengaruhi jaringan hospes. Keracunan makanan disebabkan menelan makanan mengandung toksin sering menyebabkan simptom dalam 8-24 jam. Penyakit lain, dimana agen infeksi masuk tubuh dapat memilki masa inkubasi beberapa minggu. Patogen berupa jamur memiliki periode inkubasi panjang. Masa inkubasi suatu penyakit sangat ditentukan oleh virulaensi mikroorganisme, potensi antigen dari mikroorganisme atau produknya dan status imune hospes. Campak yang menyerang anak sehat dalam periode 7-10 hari, virus yang sama yang menyerang pasien rawat inap rumah sakit dapat memiliki masa inkubasi hanya 1-2 hari. Kebanyakan penyakit memiliki masa inkubasi antara 10-21 hari.

Periode Prodromal

Adalah gejala yang merupakan tanda yang menunjukkan onset suatu penyakit. Disini biasanya individu merasa tidak enak badan atau sering disebut ‘malaise’. Kebanyakan berupa pusing , mual, atau demam ringan. Pada saat ini agen infeksi sedang berkembang biak hanya meluas sampai produknya menginduksi respon ringan dari hospes.

Periode Akut

Periode akut adalah tahap dimana simptom penyakit ada dalam puncak. Selama periode ini mikroorganisme penginfeksi mencapai  tingkat populasi yang mampu menginduksi respon hospes dengan intensitas imunologik cukup tinggi . Baik intensitas respon imunologik maupun intensitas gejala sangat tergantung pada tingkat hubungan  interaksi hospes –parasit . Jika pertemuan/ interaksi tersebut merupakan yang pertama maka simptom penyakit biasanya sangat berat dan respon imunologik sangat maksimum dan terjadi dalam waktu yang panjang . Respon yang cepat dan tidak terlalu berat akan terjadi bila merupakan pertemuan  ulangan antara hospes –parasit.

Periode Convalescens

Periode penyembuhan, dihubungkan dengan penurunan simptom yang sangat cepat. Simptom tersebut berhubungan dengan level maksimum antibodi yang mampu mengatasi/membasmi  patogen.

 

B. SUMBER-SUMBER PENYAKIT MENULAR

BENDA HIDUP

MANUSIA

Kebanyakan  agen viral seperti campak, rubella, gondong, influenza dan virus poliomyelitis seperti juga agen bakterial penyebab penyakit seksual menular , batuk, juga difteri, hanya bersumber pada manusia.

Manusia juga ditempati oleh mikroorganisme yang menyebabkan infeksi yang persisten/menetap. Ada 2 hal yang merupakan konsekuensi : 1. mikroorganisme akan berada di komunitas uantuk waktu yang lama. 2. terdapat reaktivasi penyakit ketika sistem pertahanan hospes lemah baik sementara maupun menetap. Sebagai contoh adalah pada penyakit tifoid dan tuberkulosis, yang disebabkan oleh Salmonella typhi dan Mycobacterium tuberculosis. Ketika  sembuh dari demam tifoid hospes masih ditinggali oleh bakteri di kandung empedu dan gejala tidak tampak. Secara periodik ( lebih dari satu bulan sampai  tahun) bakteri berkembang biak dan bersembunyi dari kandung empedu ke traktus intestinal dan keluar lewat feses. Individu yang mengandung mikroorganisme seperti ini disebut karier. Karier dapat menyimpan mikroorganisme yang mengkontaminasi makana atau minuman. Jadi karier akan menjadi sumber infeksi kepada orang lain secara tetap. Pada tuberkulosis bakteri penyebab infeksi dapat dilingkupi oleh lesi granulomatous seperti di paru yang tidak dapat dijangkau daya tahan hospes. Bakteri akan tinggal dan hidup  dalam lesi sampai beberapa tahun. Lesi dapat robek suatu saat , dan melepaskan bakteri hidup yang berkembang biak di jaringan sehingga terjadi reaktivasi penyakit. Realktivasi ini dapat menyebabkan hospes menjadi sumber infeksi. Karier Convalescent adalah individu yang telah sembuh dari sakit tetapi sebenarnya agen infeksi masih berkembang biak di dalam tubuhnya tanpa menimbulkan gejala( contoh demam tifoid).

Karier sehat adalah individu yang tidak sakit tetapi mengandung mikroorganisme infektif. Seperti pembawa strain Staphylococcus aureus penyebab keracunan makanan. Karier dihuni staphylococcus di nares(nostril) dan ketika dia memasak  makanan dapat menyebabkan kontaminasi pada makanan. Deteksi karier ini sangat penting untuk memutus rantai penularan.

HEWAN

Hewan terutama hewan piaraan merupakan sumber penting penyakit manusia . Penyakit yang secara primer menginfeksi hewan dan secara sekunder ditularkan ke manusia disebut zoonosis. Salmonella enteritidis  secara normal ditemukan di traktus intestinalis hewan seperti ayam atau sapi. Bila mengkontaminasi makanan, salmonella dapat menyebabkan penyakit. Kebanyakan jika sumber infeksinya adalah hewan, manusia adalah tempat terakhir untuk penularan,karena penyakit tidak bisa ditularkan dari manusia ke manusia . Contohnya Q fever dan bruselosis . Tetapi pada salmonellosis , salmonella awalnya mungkin diperoleh dari hewan tetapi manusia yang terinfeksi dapat menularkan pada orang lain.

INSEKTA

Terdapat 2 kelas arthropoda yakni Insecta dan Arachnida merupakan pembawa penting untuk penularan agen infeksi ke hospes lain. Arthropoda disebut sebagai vektor pada proses penyakit. Kelas insekta termasuk lalat, nyamuk, kutu, tungau. Vektor insekta dibagi dalam 2 tipe yakni vektor biologi dan mekanik. Lalat dapat membawa organisme salmonella dari feses hewan dan ditransfer ke manusia melalui makanan yang terkontaminasi. Jadi lalat bukan sumber asli dari agen infeksi. Vektor biologi adalah invertebrata yang menjadi sumber dari agen infeksi. Kebanyakan arthropoda menggigit hewan dan manusia untuk mengkonsumsi darah, selama gigitannya sambil menularkan agen infeksi.

BENDA MATI

Sumber benda mati adalah tanah, air, dan makanan. Banyak mikroorganisme memiliki siklus hidup di tanah atau air, namun kebanyakan tidak patogen untuk manusia . kebanyakan jamur terdapat di tanah sebagai spora. Jika spora terhirup ke manusia yang peka, dapat berkecambah menjadi bentuk vegetativedan menyebabkan sakit. Bakteri yang mampu memproduksi toksin mematikan seperti Clostridium tetani dan Clostridium botulinum berada di tanah sebagai spora. C. botilinum dapat mengkontaminasi makanan dalam kondisi anaerob memproduksi toksin yang dikaitkan dengan keracunan makanan. Jika spora C.tetani mengkontaminasi luka kuman ini akan bberkecamabah dan memproduksi toksin yang bertanggung jawab gejala yangsanagt fatal yakni tetanus.

Air tanah mampu mendukung pertumbuhan mikroorganisme, kebanyakan air mengandung mineral dan nutrien organik dari lingkungan. Manusia juga dapat mengkontaminasi air baik langsung ataupun tidak langsung melalui limbah ataupun septik tank. Mikroorganisme patogen dan non patogen dapat mancapai hewan atau manusia melalui sumber air. Beberapa patogen potensial untuk manusia hidup dalam ikan dan kerang yang hidup di air pantai dan air tawar.

Makanan adalah sumber mikroorganisme infeksius untuk manusia. Penyakit  dapat diakibatkan mengkonsumsi daging dari hewan terinfeksi atau daging yang tidak terinfeksi pada awalnya namun terkontaminasi pada proses berikutnya. Telur dapat terinfeksi salmonella dan menyevbabkan penyakit pada manusia yang mengkonsumsi. Sapi adalah pembawa berbagai mikroorganisme infektif pada manusia . Meminum susu atau daging yang terkontaminasi kuman penyebab  tuberkulosis, Q fever, brucellosis dapat menyebabkan manusia tertular penyakit tersebut.

Makanan dapat secara tidak sengaja terkontaminasi oleh mikroorganime infektif. Kerang-kerangan seperti tiram dapat dipanen dari air yang terpolusi limbah kotoran manusia . Menelan makanan ini tanpa dimasak dengan baik dapat tertular hepatitis viral. Penyakit seperti salmonellosis, shigellosis, amebiasis, dan kolera dapat diperoleh dengan cara diatas.