Posts Tagged ‘kb’

Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)

Pengertian

Komunikasi, informasi dan edukasi atau yang disingkat menjadi KIE adalah suatu proses yang sangat penting dalam pelayanan KB di bidang kebidanan. Untuk itu sangat penting pula bagi kita untuk mengetahui pengertian KIE itu sendiri sehingga diharapkan dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi kesehatan ibu dan anak, serta keluarga.

1.    Komunikasi

Penyampaian pesan secara langsung ataupun tidak langsung melalui saluran komunikasi kepada penerima pesan, untuk mendapatkan suatu efek (DEPKES RI, 1984).

Menurut Effendy (1998), komunikasi adalah pertukaran pikiran atau keterangan dalam rangka menciptakan rasa saling mengerti dan saling percaya, demi terwujudnya hubungan yang baik antara seseorang dengan orang lain. Komunikasi adalah pertukaran fakta, gagasan, opini atau emosi antara dua orang atau lebih.

Komunikasi kesehatan adalah usaha yang sistematis untuk mempengaruhi secara positif perilaku kesehatan masyarakat , dengan menggunakan berbagai prinsip dan metode komunikasi, baik menggunakan komunikasi antar pribadi maupun komunikasi massa (Notoatmodjo, 2003).

2.    Informasi

Informasi adalah keterangan, gagasan, maupun kenyataan-kenyataan yang perlu diketahui oleh masyarakat (BKKBN, 1993). Sedangkan menurut DEPKES, 1990 Informasi adalah pesan yang disampaikan.

3.    Edukasi

Pendidikan adalah proses perubahan perilaku kearah yang positif (DEPKES RI, 1990). Menurut Effendy (1998), pendidikan kesehatan merupakan salah satu kompetensi yang dituntut dari tenaga kesehatan, karena merupakan salah satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap memberikan pelayanan kesehatan, baik itu terhadap individu, keluarga, kelompok ataupun masyarakat.

PENDOKUMETASIAN PELAYANAN KB SUNTIK DAN PIL

A. Penapisan Klien KB suntik dan Pil

Tujuan utama penapisan klien sebelum pemberian metode suntik dan pil adalah untu menentukan

1.      Adanya keadaa yang membutuhkan perhatian khusus

2.      Adanya masalah yang membutuhkan perhatian khusus

Daftar Tilik Penapisan Kliaen Suntik dan Pil

No Keadaan Klien YA TIDAK
1 Hari pertama Haid terakhir 7 hari yang lalu atau lebih    
2 Menyusui dan kurang dari 6 minggu pasca persalinan¹⁾²⁾    
3 Perdarahan/ perdarahan bercak antara haid setelah senggama    
4 Ikterus pada kulit atau mata    
5 Nyeri kepala hebat/ gangguan visual    
6 Nyeri hebat pada betis,paha,dada,atau tungkak bengkak (edema)    
7 Tekanan darah diatas 150 mmHg(sistolik) atau 90 mmHg(diastolik)    
8 Massa atau benjolan pada payudara    
9 Sedang minum (mengkonsumsi) obat-obatan anti kejang(epilepsi)³⁾    

Keterangan :

1) apabila klien menyusui dari 6 minggu pasca persalinan maka pil kombinasi adalah metode pilihan terakhir.

2) tidak cocok untuk pil progestin (mini pil), suntikan (DMPA NET-ET)

3) Tidak cocok untuk suntikan progestin (DMPA  atau NET-ET)

Jika semua jawaban diatas adalah “Tidak” dan tidak dicurigai adanya kehamilan dapat diteruskan dengan konseling khusus. Bila respon banyak yang “Ya” berarti klien perlu dievaluasi sebelum keputusan akhir dibuat.

Catatan : klien tidak selalu memberikan informasi yang benar tentang kondisi diatas. Namun, petugas harus mengetahui bagaimana keadaan klien sebenarnya. Bila diperlukan petugas dapat mengulang pertanyaan dengan cara yang berbeda. Juga  perlu diperhitungkan masalah social, budaya, atau agama yang mungkin berpengaruh terhadap espon klien tersebut ( dan pasangannya).

Bagaimana menyakini klien tidak dalam keadaan hamil, yaitu apabila:

a)      Tidak senggama sejak haid terakhir

b)      Sedang memakai metode efektif secara baik dan benar

c)      Sekarang di dalam 7 hari pertama haid terakhir

d)     Didalam 4 minggu pasca persalinan

e)      Dalam 7 pasca keguguran

f)       Menyusui dan tidak haid (MAL)

B. Pencatatan dan pelaporan pelayanan KB Suntik dan Pil

1) Jenis dan Kegunaan Kartu, Register, Formulir dalam Pelayanan KB Suntik dan Pil

a. Kartu Peserta KB (K/I/KB/10)

Kartu ini diberikan oleh klinik KB kepada peserta KB dan digunakan sebagai tanda bukti diri sebagai  KB. Kartu ini juga dapat digunakan untuk mencari kembal kartu status peserta KB (K/KIV/KB/10) ditempat pelayanan pertama, dan dapat digunakan pula untuk memperoleh pelayanan ulang di semua klinik KB/ tempat pelayanan KB lain.

b. Kartu Status Peserta KB (K/KIV/KB/10)

Adalah kartu yang digunakan untuk mencatat identitas diri, catatan medic hasi skrining dalam pelayanan dan pemilihan penggunaan metode/alat kontrasepsi yang tepat bagi peserta KB. Kartu ini dibuat untuk setiap pengunjung baru di klinik KB, baik sebagai peserta KB baru maupun sebagai peserta KB lama dan disimpan secara rapi di klinik KB.

c. Register hasil pelayanan KB di klinik KB(R/I/KB/10)

Buku ini digunakan oleh klinik KB untuk mencatat tiap hari hasil pelayanan kontrasepsi yang diberikan pada Pasangan Usia Subur (PUS), termasuk PUS dari keluarga Pra Sejahtera (Pra S) dan keluarga sejahtera I(KS I), yang datang untuk menjadi peserta KB baru, atau peserta KB lama yang datang berkunjung ulang (ulangan) di klinik KB tersebut. Register ini menjadi sumber data untuk membuat laporan bulanan klinik KB pada setiap akhir bulan

d. Register alat kontrasepsi di klinik KB(R/II/KB/10)

Register ini digunakan oleh klinik KB Untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran (Mutasi), serta peserdiaan semua jenis alat kontrasepsi di klinik KB. Register ini menjadi sumber data untuk membuat laporan bulanan klinik KB tentang keadaan alat kontrasepsi pada setiap akhir bulan.

e. Buku Bantu Hasil Pelayanan Kontrasepsi pada Dokter/Bidan Praktek Swasta (B/I/DBS/10)

Buku bantu hasil pelayanan kontrasepsi dokter/BPS ini digunakan oleh dokter/BPS utu mencatat hasil pelayanan peserta KB baru/ulangan pada setiap hari pelayanan KB di tempat pelayanan dokter/BPS.

f. Laporan Bulanan Petugas Penghubung tentang Hasil Pelayanan Kontrasepsi, oleh Dokter/BPS ( F/I/PH/DBS/10 )

Formulir ini digunakan oleh petugas penghubung DBS untuk mencatat dan melaporkan hasil pelayanan kontrasepsi. Laporan ini dibuat dengan cara mengambil atau mencatat data atau informasi dari buku bantu hasil peayanan kontrasepsi pada dokter/BPS setiap akhir bulan.

g. Laporan Bulanan Klinik KB ( F/II/KB/10 )

Digunakan oleh klinik KB untuk melakukan kegiatan dan hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi, baik pelayan peserta KB baru maupun pelayan KB ulang. Laporan ini mencakup identitas klinik KB, termasuk jumlah dokter dan bidan praktek swasta hasil pelayanan peserta KB baru, kontrasepsi ulang dan persediaan alat kontrasepsi

 

2) Penggunaan Kartu Catatan Pasien KB Suntik dan Pil.

a. Penjelasan Umum

1) K/IV/KB/10 dibuat untuk setiap pengunjung baru klinik KB, yaitu peserta KB baru dan peserta KB lama, pindahan dari klinik KB atau tempat pelayanan KB lain. Sedangkan untuk pelayanan di dokter/bidan praktek swasta menggunakan kartu pasien yang sudah ada di masing-masing DBS.

2)K/KB/10 berfungsi untuk mencatat identitas, catatan medic hasil skrining atau pemeriksaan dan kunjungan ulang peserta KB

3)K/IV/KB/10 terdiri dari dua halaman

b. Halaman Depan

1) Bagian pertama : berisikan Nomor Kode Klinik KB, Nomor Seri Kartu Peserta KB, Nama Peserta KB, Tgl/Bln/Thn lahir/Umur Istri, Nama Suami dan Istri, Pendidikan Suami dan Istri, Alamat Peserta KB, Pekerjaan Suami dan Istri, serta Tahapan KS.

2) Bagian kedua : menunjukkan jumlah anak hidup, umur Anak terkecil, Status Peserta KB(Baru, Pernah pakai alat kontrasepsi berhenti sesudah bersalin/ keguguran dengan anti cara) dan cara KB terakhir 7 jenis ( IUD, MOW, MOP, Kondom,  Implant, Suntikan dan Pil).

3) Bagian ketiga : berisi penapisan (skrining) untuk menentukan alat kontrasepsi yang dapat digunakan calon peserta KB yang terdiri dari Anamnesa dan pemeriksaan

  • Anamnesa tersebut mencakup Haid Terakhir Tanggal, Hamil/Diduga Hamil, Jumlah GPA(Gravida, Partus, Abortus), Menyusui dan riwayat penyakit sebelumnya ( sakit kuning, perdarahan pervaginam yang tidak diketahui sebabnya, keputihan yang lama dan tumor)
  • Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, Berat badan dan Tekanan darah

Catatan : untuk klien KB suntik dan pil tidak memerlukan pemeriksaan point 9, 10 dan 11 (pemeriksaan dalam, pemeriksaan tambahan)

  • Jenis alat kontrasepsi yang boleh diberikan 7 jenis ( IUD, MOW, MOP, Kondom, Implant, Suntikan dan Pil)

4) Bagian  keempat : merupakan kesimpulan dai ketiga bagian diatas yang meliputi pemberian alat kontrasepsi, tanggal pelayanan dan tanggal dipesan kembali, serta tanda tangan dokter/bidan/perawat yang memberikan pelayanan

HALAMAN BELAKANG :

Berisi tentang kunjungan ulang untuk mencatat tanggal dating, haid terakhir, berat badan, tekanan darah, akibat kontrasepsi ( komplikasi berat dan kegagalan), pemeriksaan dan tindakan serta tanggal yang dipesan kembali.

C. Dokumentasi Rujukan

Merujuk berarti meminta pertolongan secara timbale balik kepada fasilitas pelayanan yang lebih kompeten untuk penanggulangan masalah yang dihadapi. Efek samping dari Kontrasepsi yang memerlukan rujukan :

Efek samping dan masalah KB Suntik / Pil
1.Kegagalan (kehamilan, termasuk kehamilan ektopik)

2.Acne/kulit berminyak (tanpa perbaikan setelah penanganan)

3.Amenorea menetap 3-6 bulan (tanpa perbaikan setelah penanganan)

4.Perdarahan tanpa perbaikan setelah penanganan

5.Depresi

6.Sakit abdomen yang hebat

7.Sakit dada hebat

8.Sakit kepala hebat

9.Sakit tungkai bawah hebat

 

Mekanisme dan Arus Pencatatan dan Pelaporan yang KB

a. Tahunan Pendaftaran Klinik KB

1.   Pembukaan Klinik : Peresmian klinik KB → Kartu Pendaftaran Klinik KB ( SKPD-KB, Arsip )

2.   Pemutakhiran data : Daftar Ulang klinik KB → Kartu Pendaftaran Klinik KB ( SKPD-KB, Arsip )

b.Laporan Bulanan Yang Klinik

1.   Peserta KB baru dan pindahan : Kartu Status peserta KB, Kartu peserta KB

2.   Register Pelyanan KB

3.   Alat-alat Kontrasepsi

4.   Pelayanan KB oleh dokter/BPS

  • Laporan melalui klinik KB Induk

Pelayanan KB → buku bantu pelayanan KB→ Laporan bulanan petugas penghubung→Laporan bulanan klinik→SKPD→KB→Kabupaten/Kota

  • Laporan melalui pengurus IDI / IBI

Pelayanan KB→Buku bantu pelayanan KB→Pengurus Ranting→Cabang→SKPD→KB

c. Rekapitulasi Kartu Pendaftaran Klinik KB tingkat Propinsi TK II

1.   BKKBH

2.   Arsip

d.   Petugas penghubung : 2 rangkap : KB Induk dan Arsip

e. Laporan Bulanan Klinik KB : Rangkp 4

  • SKPD
  • Mitra Kerja
  • Kantor Camat
  • Arsip

 

Dalam melaksanakan rujukan harus telah pula diberikan :

1.      Konseling tentang kondisi klien yang menyebabkan perlu dirujuk

2.      Konseling tentang kondisi yang diharapkan diperoleh di tempat rujukan

3.      Informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan tempat rujukan dituju

4.      Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang dituju mengenai kondisi klien saat ini dan riwayat sebelumnya serta upaya/tindakan yang telah diberikan

5.      Bila perlu upayakan mempertahankan kondisi umum klien

6.      Bila perlu, karena kondisi klien dalam perjalanan menuju tempat rujukan harus didampingi tenaga kesehatan

7.      Menghubungi fasilitas tujuan rujukan

Fasilitas pelayanan rujukan setelah melakukan upaya penanggulangan dan kondisi klien telahmemungkinkan, harus mengembalikan klien ke tempat fasilitas pelayanan asalnya dengan terlebih dahulu memberikan:

1.      Konseling tentang kondisi klien sebelum dan sesudah diberi upaya penanggulangan

2.      Nasihat yang perlu diperhatikan klien mengenai kelanjutan penggunaan kontrasepsi

3.      Pengantar tertulis kepadafasilitas pelayanan yang merujuk mengenai kondisi klien berikut upaya penanggulangan yang telah diberikan serta saran – saran upaya pelayanan lanjutan yang harus dilaksanakan, terutama tentang penggunaan kontrasepsi.

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Indonesia menghadapi masalah dengan jumlah dan kualitas sumber daya manusia dengan kelahiran 5.000.000 pertahun. Untuk dapat mengangkat derajat martabat bangsa telah dilaksanakan secara bersamaan pembangunan ekonomi dan keluarga berencana yang merupakan sisi masing-masing mata uang. Bila gerakan Keluarga Berencana tidak dilakukan bersamaan dengan pembangunan ekonomi dikhawatirkan hasil pembangunan tidak akan berarti.

Pendapat “Malthus” yang mengemukakan bahwa pertumbuhan dan kemampuan mengembangkan sumber daya alam laksana deret hitung , sedangkan pertumbuhan dan perkembangan manusia laksana deret hitung, sehingga pada suatu titik sumber daya alam tidak mampu menampung pertumbuhan manusia-telah menjadi kenyataan. Berdasarkan pendapat demikian diharapkan setiap keluarga, memperhatikan dan merencanakan jumlah keluarga yang diinginkan.

Dalam upaya mewujudkan pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi Gerakan Keluarga Berencana Nasional, hal-hal yang harus dilakukan oleh setiap petugas dan pelaksana KB adalah mengetahui dan memahami batasan-batasan pengertian dari istilah-istilah yang dipergunakan serta mengetahui dan memahami berbagai jenis dan fungsi instrumen-instrumen pencatatan dan pelaporan yang dipergunakan, cara-cara pengisiannya serta mekanisme dan arus pencatatan dan pelaporan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Batasan

Dalam melaksanakan pencatatan dan pelaporan yang tepat dan benar diperlukan keseragaman pengertian sebagai berikut :

1.      Pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi adalah suatu kegiatan merekam dan menyajikan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan oleh fasilitas pelayanan KB.

2.      Peserta KB adalah pasangan usia subur (PUS) yang menggunakan kontrasepsi.

3.      Peserta KB baru adalah PUS yang pertama kali menggunakan kontrasepsi atau PUS yang kembali menggunakan kontrasepsi setelah mengalami kehamilan yang berakhir dengan keguguran atau persalinan.

4.      Peserta KB lama adalah peserta KB yang masih menggunakan kontrasepsi tanpa diselingi kehamilan.

5.      Peserta KB ganti cara adalah peseta KB yang berganti pemakaian dari satu metode kontrasepsi ke metode kontrasepsi lainnya.

6.      Pelayanan fasilitas pelayanan KB adalah semua kegiatan pelyanan kontrasepsi oleh fasilitas pelayanan KB baik berupa pemberian atau pemasangan kontrasepsi maupun tindakan-tindakan lain yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang diberikan pada PUS baik calon maupun peserta KB.

7.      Pelayanan kontrasepsi oleh fasilitas pelayanan KB di dalam fasilitas pelayanan adalah pemberian atau pemasangan kontrasepsi maupun tindakan-tindakan lain yang berkaitan kontrasepsi kepada calon dan peserta KB yang dilakukan dalam fasilitas pelayanan KB.

8.      Pelayanan kontrasepsi oleh fasilitas pelayanan KB di luar fasilitas pelayanan adalah pemberian peayanan kontrasepsi kepada calon dan peserta KB maupun tindakan-tindakan lain yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang dilakukan di luar fasilitas pelayanan KB (TKBK,Safari,Posyandu).

9.      Definisi fasilitas pelayanan KB:

a.  Fasilitas pelayanan KB sederhana adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimal seorang paramedis atau dan yang sudah mendapat latihan KB dan memberikan pelayanan: cara sederhana (kondom,obat vaginal), pil KB,suntik KB,IUD bagi fasilitas pelayanan yang mempunyai bidang yang telah mendapat pelatihan serta upaya penanggulangan efek samping, komplikasi ringan dan upaya rujukannya.

b.  Fasilitas pelayanan KB lengkap adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimaldokter umum yang telah mendapat pelatihan dan memberikan pelayanan: cara sederhana, suntik KB,IUD bagi dokter atau bidan yang telah mendapat pelatihan, implant bagi dokter yang telah mendapat pelatihan, kontap pria bagi fasilitas yang memenuhi persyratan untuk pelayanan kontap pria.

c.   Fasilitas pelayanan KB sempurna adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimal dokter spesialis kebidanan, dokter spesialis bedah/dokter umum yang telah mengikuti pelatihan dan memberikan pelayanan: cara seerhana, pil KB, suntik KB, IUD, pemasangan dan pencabutan implant, kontap pria, kontap wanita bagi fasilitas yang memenuhi persyaratan untuk pelayanan kontap wanita.

d.  Fasilitas pelayanan KB paripurna adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimal dokter spesialis kebidanan yang telah mngikuti pelatihan penanggulangan infertilisasi dan rekanalisasi/dokter spesialis bedah yang telah mengikuti pelatihan pengaggulangan

infertilitas dan rekanalisasi serta memberikan pelayanan semua jenis kontrasepsi ditambah dengan pelayanan rekanalisasi dan penanggulangan infertilitas.

10.   Status fasilitas pelayanan KB adalah status kepemilikan pengelolaan fasilitas pelayanan KB yang dikelompokkan dalam 4 (empat) status kepemilikan yaitu: Depkes, ABRI, Swasta serta instansi pemerintah lain diluar Depkes dan ABRI.

11.   Konseling adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh petugas medis atau paramedic dalam bentuk percakapan individual dalam usaha untuk membantu PUS guna meningkatkan kemampuan dalam memilih pengunaan metode kontrasepsi serta memantapkan penggunaan kontrasepsi yang telah dipilih.

12.   Konseling baru adalah suatu kegiatan konseling yang dilakukan oleh petugas medis atau paramedic kepada calon peserta KB yang akhirnya menjadi peserta KB baru pada saat itu.

13.   Konseling lama adalah suatu kegiatan konseling yang dilakukan oleh petugas medis atau paramedic kepada peserta KB untuk memantapkan penggunaan kontrasepsi.

14.   Akibat sampingan atau komplikasi adalah kelainan dan atau gangguan kesehatan akibat penggunaan kontrasepsi.

15.   Akibat sampingan atau komplikasi ringan adalah kelainan dan atau gangguan kesehatan penggunaan kontrasepsi yang penanganannya tidak memerlukan rawat inap.

16.   Akibat sampingan atau komplikasi berat adalah kelainan dan atau gangguan kesehatan akibat penggunaan kontraspsi yang penanganannya memerlukan rawat inap.

17.   Kegagalan adalah terjadinya kehamilan pada peserta KB.

 

  1. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN

Dalam upaya mewujudkan pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi Gerakan Keluarga Berencana Nasional, hal-hal yang harus dilakukan oleh setiap petugas dan pelaksana KB adalah mengetahui dan memahami batasan-batasan pengertian dari istilah-istilah yang dipergunakan serta mengetahui dan memahami berbagai jenis dan fungsi instrument-instrumen pencatatan dan pelaporan yang dipergunakan, cara-cara pengisiannya serta mekanisme dan arus pencatatan dan pelaporan tersebut.

 

1.      Jenis-jenis Serta Kegunaan, Register, dan Formulir.

a.  Kartu Pendaftaran Klinik KB (K/O/KB/85)

Digunakan sebagai sarana untuk pendaftaran pertama bagi klinik KB baru dan pendaftaran ulang semua klinik KB.

Pendaftaran ulang dilakukan setiap akhir tahun anggaran (bulan maret setiap tahun). KArtu ini berisi infomasi tentang identitas klinik KB, jumlah tenaga, dan sarana klinik KB serta jumlah desa di wilayah kerja klinik KB yang bersangkutan.

b.  Kartu Tanda Akseptor KB Mandiri (K/I/B/89)

Dipergunakan sebagai tanda pengenal dan tanda bukti bagi setiap peserta KB. Kartu ini diberikan terutama kepada peserta KB baru baik dari pelayanan KB jalur pemerintah maupun swasta (dokter/bidan praktek swasta/apotek dan RS/Klinik KB swasta). Pada jalur pelayanan pemerintah, kartu ini merupakan sarana untuk memudahkan mencari kartu status peserta KB (K/IV/KB/85). Kartu ini merupakan sumber informasi bagi PPKBD/Sub PPKB tentang kesertaan anggota binaannya di dalam berKB.

c.   Kartu Status Peserta KB (K/IV/KB/85)

Dibuat bagi setiap pengunjung baru klinik KB yaitu peserta KB baru dan peserta KB lama pindahan dari klinik KB lain atau tempat pelayanan KB lain.

Kartu ini berfungsi untuk mencatat ciri-ciri akseptor hasil pemeriksaan klinik KB dan kunjungan ulangan peserta KB.

d.  Kartu Klinik KB (R/I/KB/90)

Dipergunakan untuk mencatat semua hasil pelayanan kontrasepsi kepada semua peserta KB setiap hari pelayanan.

Tujuan penggunaan register ini adalah untuk memudahkan petugas klinik KB dalam membuat laporan pada akhir bulan.

e.  Register Alat-alat Kontrasepsi di Klinik KB (R/II/KB/85)

Dipergunakan untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran (mutasi) alat-alat kontrasepsi di klinik KB.

Tujuan adalah untuk memudahkan membuat laporan tentang alat kontrasepsi setiap akhir bulan.

f.    Buku Bantu Hasil Pelayanan Kontrasepssi Pada Dokter/Bidan Praktek Swasta (B/I/DBS/10)

Buku Bantu hasil pelayanan kontrasepsi dokter/bps ini digunakan oleh dokter/bps untuk mencatat hasil pelayanan peserta KB baru/ ulangan pada setiap hari pelayanan KB di tempat pelayanan dokter/ bps.

g.  Laporan Bulanan Tugas Penghubung Tentang Hasil Pelayanan Kontrasepsi Oleh Dokter/Bps (F/I/PH/DBS/10)

Formulir ini digunakan oleh penghubunng DBS untuk mencatat dan melaporkan hasil pelayanan kontrasepsi. Laporan ini dibuat dengan cara mengambil atau mencatat data/ informasi dari buku Bantu hasil pelayanan kontrasepsi pada dokter/ bps setiap akhir bulan.

h.  Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90)

Dipergunakan sebagai sarana untuk melaporkan kegiatan dan hasil-hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi oleh klinik KB didalam dan diluar klinik KB yang meliputi frekuensi pelayanan dan hasil pelayanan KB dan peserta ganti cara konseling, akibat sampingan/komplikasi dan kegagalan dan persediaan kontrasepsi diklinik KB dan didesa.

i.    Rekapitulasi Laporan Bulanan Klinik KB (Rek/F/II/KB/90)

Digunakan sebagai sarana untuk melaporkan kegiatan dan hasil-hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi oleh klinik KB diwilayah kabupaten/kotamadya (Rekapitulasi Laporan F/II/KB/90)

  1. Cara Pengisian Kartu, Register dan Formulir

a.  Kartu Pendaftaran Klinik Keluarga Berencana (K/O/KB/85)

Penjelasan umum

a)     Kartu ini digunakan sebagai sarana untuk pendaftaran pertama dan pendaftaran ulang semua klinik KB. Pendaftaran ulang dilakukan setiap akhir tahun anggaran (bulan Maret setiap tahun). Kartu ini berisi informasi tentang identitas klinik, tenaga dan saran klinik KB yang bersangkutan.

b)     Kartu ini dibuat dalam rangkap 5 (lima) dengan tambahan lembar ”khusus” pada lembar pertama yang dipergunakan untuk laporan ke BKBN pusat.

c)     Ditandatangani oleh penanggung jawab klinik KB yang bersangkutan.

d)     Kartu pendaftaran ini setelah diisi dan masing – masing dikirim :

-       1 lembar K/O/KB/85 yang khusus (bagian sebelah kanan dari lembar pertama untuk BKBN pusat di Jakarta.

-       1 lembar untuk BKBN propinsi

-       1 lembar untuk Unit Pelaksana Propinsi

-       1 lembar untuk BKBN Kabupaten/kotamadya

-       1 lembar untuk Unit Pelaksana Kabupaten/Kotamadya.

-       1 lembar untuk arsip klinik KB yang bersangkutan.

b.  Kartu Tanda Akseptor KB Mandiri (K/I/KB/89)

Penjelasan Umum

a)     Kartu Tanda Akseptor KB Mandiri diisi oleh klinik KB/RS pemerintah maupun swasta dan Dokter/Bidan yang berpraktek swasta, untuk diberikan kepada setiap peserta KB baru.

b)     Kartu ini dimaksudkan sebagai kartu tanda pengenal (kartu identitas) dan agar selalu dibawa keklinik KB/RS atau ketempat pelayanan KB lainnya yang dikehendaki  oleh peserta KB.

c)     Bagi peserta KB aktif yang masih menggunakan kartu lama (K/I/KB/85) dan ingin mendapatkan pelayanan KB melalui jalur swasta dapat pula diberikan kartu akseptor yang baru ini.

d)     Apabila kartu ini hilang, rusak (tidak dapat dibaca lagi) atau peserta KB yang bersangkutan berganti cara  maka harus diganti dengan kartu yang baru.

c.   Kartu Tanda Status Peserta Keluarga Berencana ( KB/IV/KB/85)

Penjelasan umum.

a)     Kartu Status Peserta KB diisi dan diberikan lagi setiap pengunjung baru, yaitu pengunjung yang datang keklinik KB dengan status sebagai peserta KB baru atau peserta KB pindahan dari klinik KB/tempat pelayanan kontrasepsi lain.

b)     Kartu Status Peserta KB ini terdiri dari dua halaman :

(1)    Halaman  belakang, dipergunakan untuk catatan pemeriksaan lanjutan apabila peserta KB melakukan kunjungan ulangan keklinik.

(2)    Halaman depan terdiri dari dua bagian yaitu:

(a)  Bagian sebelah kiri, untuk mencatat ciri-ciri peserta KB. Bagian ini terutama dimaksudkan untuk mencatat cir-ciri setiap peserta KB baik peserta KB baru maupun peserta KB pindahan dari klinik KB/tempat pelayanan kontrasepsi lain.

Data dibagian ini sangat diperlukan apabila suatu saat untuk mengetahui ciri-ciri akseptor KB secara Nasional maupun tingkat wilayah lainya.

(b)  Bagian sebelah kanan, untuk mencatat hasi-hasil pemeriksaan klinik.

(c)  Petugas klinik KB yang melakukan pengisisan K/IV/KV/85 membutuhkan tanda tangan dan nama terang pada K/IV/KV/85 di tempat yang telah disediakan.

d.  Register Alat-alat Kontrasepsi KB (R/II/KB/85)

a)     Register ini dibuat dengan tujuan untuk mempermudah petugas klinik KB memuat/mengisi laporan bulanan klinik KB (F/II/KB/9), khususnya untuk bagian tabel V : “Persediaan Kontrasepsi di Klinik KB”.

b)     Pada setiap hari pelayanan, semua penerimaan dan pengeluaran kontrasepsi dicatat/dibukukan dalam register alat-alat kontrasepsi ini.

c)     Setiap baris menunjukan penerimaan/pengeluaran kontrasepsi pada satu tanggal tertentu. Pada hari/tanggal berikutnya,

d)     pengeluaran/pemasukan dicatat pada hari/tanggal berikutnya, emikian seterusnya untuk setiap hariplayanan, sampai habis periode satu bulan.

e)     Setelah sampai pada hari/tanggal terakhir dari satu bulan yang bersangkutan dilakukan penjumlahan untuk penerimaan dan pengeluaran alat kontrasepsi selama satu bulan.

f)      Disamping, kedalam register ini dituliskan pula siss(stock) alat-alat kontrasepsi yang ada diklinik KB pada akhir bulan.

g)     Untuk tiap hari dalam bulan berikutnya pencatatan dilakukan pada lembar (halaman) baru.

 

e.  Laporan Bulanan Klinik Keluarga Berencana (F/II/KB/90)

Penjelasan Umum

a)     Laporan bulanan klinik KB dibuat oleh petugas klinik KB sebulan sekali, yaitu pada setiap akhir bulan kegiatan pelayanan kontrasepsi di klinik KB.

b)     Laporan bulanan klinik KB sebagai sarana untuk melaporkan kegiatan pelayanan kontrasepsi dan hasilnya, yaitu pelayanan oleh klinik KB (di dalam dan diluar klinik KB) serta PPKBD/Sub PPKBD diwilayah binaan klinik KB yang bersangkutan.

c)     Laporan bulanan klinik KB ditandatangani oleh pimpinan klinik KB atau petugas yang ditunjuk.

d)     Laporan bulanan klinik KB dibuat rangkap 5(lima), yaitu:

-       1 (satu) lembar dikirim ke BKKBN Pusat

-       1(satu) lembar dikirim ke BKKBN Kabupaten Kota Madya

-       1 (satu) lembar dikirim ke Unit Pelaksana tingkat Kabupaten Kota Madya

-       1 (satu) lembar dikirim ke Camat

-       1 (satu) lembar sebagai arsip untuk klinik kB yang bersangkutan

e)     Laporan bulanan klinik KB yang dikirim ke BKKBN Pusat (Minat Biro Pencatatan dan Pelaporan) dengan menggunakan sampul atau amplop khusus tanpa dibubuhi perangko dan sudah harus dikirimkan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

f)      Pengisian laporan bulanan klinik kB ini didasarkan pada data yang terdapat dalam :

-       Register klinik KB (R/I/KB/89)

-       Register alat kontrasepsi KB (R/I/KB/85)

-       Laporan bulanan PLKB (F/I/PLKB/90)

-       Laporan-laporan serta catatan-catatan lainya.

 

f.    Rekapitulasi Laporan Bulanan Klinik KB (REK/F/II/89)

Penjelasan Umum.

a)   Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB (REK/F/II/KB/89) ini dibuat sebulan sekali, yaitu pada awal bulan berikutnya dari bulan laporan. Tujuannya untuk melaporkan seluruh kegiatan pelayanan KB dan hasilnya dari seluruh klinik KB yang berada di suatu wilayah kabupaten/kotamadya pada satu bulan laporan.

b)   Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB ini dibuat oleh BKKBN Kabupaten/Kotamadya dalam rangkap 3 (tiga) dan dikirim kepada:

-       1 (satu) lembar untuk BKKBN Propinsi.

-       1 (satu) lembar untuk Unit Pelayanan KB Departemen Kesehatan Tingkat Kabupaten/Kotamadya.

-       1 (satu) lembar untuk arsip.

c)    Rekapitulasi

Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB ini harus sudah dikirimkan ke BKKBN Propinsi yang bersankutan selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya dari bulan laporan.

Lembar rekapitulasi ini ditandatangani oleh Kepala BKKBN Kabupaten/Kotamadya yang bersangkutan.

 

  1. MEKANISME DAN ARUS PENCATATAN DAN PELAPORAN PELAYANAN KONTRASEPSI.

1.      Pada waktu mendaftar untuk pembukuan/peresmian klinik KB baru dibuat Kartu Pendaftaran Klinik KB(K/O/KB/85) dalam rangkap 5, masing-masing untuk BKKBN Pusat, BKKBN Propinsi, Unit pelaksana KB tingkat propinsi, BKKBN Kabupaten/Kotamadya, Unit Pelaksana KB tingkat kabupaten /kotamadya dan arsip.

2.      Setiap bulan maret dilakukan pendaftaran ulang klinik KB dengan mengisi K/O/KB/85 untuk setiap klinik KB. Hal ini dimaksudkan untuk melakukan ”updating” data dan informasi mengenai klinik KB yang bersangkutan.

3.      Bagi setiap pengunjung baru di Klinik KB, yaitu meliputi peserta KB baru dan peserta KB pindahan dari klinik KB atau tempat pelayanan kontrasepsi lainya, dibuatkan Kartu Tanda Akseptor KB Mandiri (K/I/KB/89) untuk peserta KB yang bersangkutan.

4.      Bagi setiap pengunjung baru tersebut dibuat pula kartu status peserta KB (K/IV/KB/85) yang antara lain memuat ciri-ciri peserta KB yang bersangkutan. Kartu ini disimpan di klinik KB yang bersangkutan untuk digunakan kembali sewaktu peserta KB melakukan kunjungan ulang di klinik tersebut. Untuk seorang peserta KB, menurut seri peserta KB dalam K/IB/KB/85 harus sama dengan nomor seri peserta KB pada K/I/KB/89.

5.      Semua hasil pelayanan kontrasepsi oleh klinik KB setiap hari, baik didalam maupun diluar klinik KB tersebut, dicatat didalam register klinik KB (R/I/KB/90).

 

6.      Semua penerimaan/pengeluaran alat kontrasepsi oleh klinik KB setiap hari dicatat di dalam Register alat-alat kontrasepsi Klinik KB (R/II/85).

7.      Setiap akhir bulan, data pada R/I/KB/90 dan R/II/KB/85 dijumlahkan untuk selanjutnya dimasukan kedalam Laporan Bulanan Klinik KB.

8.      Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90) dibuat oleh petugas klinik KB setiap awal bulan berikutnya dengan sumber-sumber data dari R/T/KB/90, R/II/KB/85 dan F/I/PLKB/90.

Laporan bulanan klinik KB (F/II/KB/90) dibuat dalam rangkap 5, masing-masing dikirim kepada: BKKBN Pusat, BKKBN Kabupaten/Kotamadya, Unit Pelaksan tingkat Kabupaten/Kotamadya, Camat, dan Arsip.

Selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya, laporan ini sudah harus dikirimkan dari klinik KB.

a.  Lembar pertama Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90), dikirim ke BKKBN Pusat minat Biro Pencataan dan Pelaporan, selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

b.  Lembar kedua Lembar Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90) dikirim ke BKKBN Kabupaten/Kotamadya yang bersangkutan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

c.   Lembar ketiga Laporan Bulanan Klinik Kb (F/II/KB/90) dikirim ke Unit Pelaksana Kabupaten/Kotamadya yang bersangkutan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

d.  Lembar keempat Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90)dikirim ke Camat yang bersangkutan, minat Pengawas PLKB selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

9.      BKKBN Kabupaten/Kotamadya setiap bulan merekapitulasi F/II/Kb/90 yang diterima dari klinik KB diwilayah Kabupaten/Kotamadya yang bersangkutan kedalam Rek/F/II/KB/90. Rekapitulasi ini dibuat dalam rangkap tiga masing-masing untuk dikirimkan ke BKKBN Propinsi,

Unit Pelaksana Depkes tingkat Kabupaten/Kotamadya, dan Arsip.

a.    Rekapitulasi laporan Bulanan Klinik KB (Rek/F/II/KB/90), dikirim ke BKKBN Propinsi selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

b.    Lembar kedua Rekapitulasi laporan Bulanan Klinik KB (Rek/F/II/KB/90), dikirim ke Unit Pelaksana KB Depkes di Kabupaten/Kotamadya diwilayah kerjanya selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

10.   BKKBN Pusat (Biro Pencatatan dan Pelaporan)

Menyampaikan umpan balik ke komponen-komponen di BKKBN Pusat, BKKB Propinsi dan Instasi lain di tingkat pusat selambt-lambatnya 2 bulan sesudah bulan laporan.

11.   BKKBN Propinsi di Bidang Bina Program.

Menyampaikan umpan balik kepada BKKBN Kabupaten/Kotamadya di wilayah kerjanya dengan tembusan kepada bidang-bidang lain di BKKBN Propinsi dan instansi terkait di Propinsi selambat-lambatnya 1 bulan sesudah bulan laporan.

  1. CARA-CARA ANALISA

Tujuan dari analisa ini adalah untuk melihat trend (perkembangan dengan cara membandingkan hasil kegiatan pelayanan, kontrasepsi dari bulan kebulan(tahun-ketahun).

Misalnya mengenai :

-       Pencapaian peserta KB dari bulan ke bulan.

-       Komposisi alat kontrasepasi yang dipakai.

-       Perkiraan pencapaian diakhir tahun anggaran

-       Dan lain-lain.

 

  1. MONITORING DAN EVALUASI SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN PELAYANAN KONTRASEPSI

Dalam pelaksanaan system pencatatan dan pelaporan kontrasepsi masih dirasakan adanya kelebihan dan kekurangan, sehingga perlu selalu dilakukan monitoring dan evaluasi. Melalui sitem Pencatatan dan pelaporan Pelayanan Kontrasepsi dari hasil monitoring dan evaluasi tersebut dapat diketahui hambatan dan permasalahan yang timbul, sehingga dapat dilakukan perbaikan.

a.    Cakupan Laporan.

Dalam melakukan monitoring dan evaluasi tehadap cakupan terhadap laporan meliputi jumlah, ketepatan waktu data yang dilaporkan, mulai dari tingkat lapangan sampai ketingkat pusat.

b.    Kualitas Data

Dalam melakukan evaluasi terhadap kualitas dan pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi perlu dilihat bagaimana masukan laporanya, baik laporan bulanan maupun laporan tahunan serta bagaimana informasi yang disajikan setiap bulanan atau tahunan. Dalam hal ini sering/dapat terjadi laporan mengalami keterlambatan dan cakupanya belum dapat optimal maupun kualitas dan kuantitas datanya serta informasi yang disampaikan belum optimal. Keterlambatan penyajian data dan informasi setiap bulannya dapat disebabkan oleh proses pengumpulan laporan yang terlambat serta banyaknya kesalahan pengolahan ke bawah dan kesamping sehingga memperlambat proses pengolahanya.

c.    Tenaga

Dalam melakukan evaluasi terhadap tenaga pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi, hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu ketersediaan/jumlah tenaga dan kualitas tenaga:

  • Ketersediaan/jumlah tenaga

Bagaimana kondisi jumlah petugas RR Klinik yang melakukan pencatatan pelaporan pelayanan kontrasepsi.

  • Kualitas Tenaga

d.    Sarana

Dalam melakukan evaluasi terhadap sarana, perlu dilihat bagaimana sarana pendukung kelancaran pelaksanaan pencatatan dan pelaporan diantaranya :

  • Ketersediaan formulir dan kartu
  • Ketersediaan Buku Petunjuk Teknis Pencatatan dan Pelaporan Pelayanan Kontrasepsi
  • Ketersediaan faksimili untuk seluruh Kabupaten/Kota untuk kecepatan pelaporan
  • Ketersedian computer sampai dengan tingkat Kabupaten/Kota

 

  1. PENDOKUMENTASIAN RUJUKAN KB

Tujuan sistem rujukan disini adalah untuk meningkatkan mutu, cakupan, dan efisiensi pelaksanaan pelayanan metode kontrasepsi secara terpadu. Perhatian khusus terutama ditujukan untuk menunjang upaya penurunan angka kejadian efek samping, komplikasi, dan kegagalan penggunaan kontrasepsi.

System rujukan upaya kesehatan adalah suatau system jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas masalah yang timbul, baik secara vertical maupun secara horizontal kepada fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau dan rasional, tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. Dengan pengertian tersebut, maka merujuk berarti meminta pertolongan secara timbal balik kepada fasilitas pelayanan yang lebih kompeten untuk penanggulangan masalah yang sedang dihadapi.

Tata Laksana

Rujukan Medik dapat belangsung:

1.        Internal antar petugas disatu puskesmas

2.        Antara puskesmas pembantu dengan puskesmas

3.        Antara masyarakat dan Puskesmas

4.        Antara satu Puskesmas dan Puskesmas lain

5.        Antar Puskesmas dan Rumah Sakit, Laboratorium atau fasilitas pelayanan lainya

6.        Internal antara bagian atau unit pelayanan dalam satu Rumah Sakit

7.        Antara Rumah Sakit, Laboratorium atau fasilitas pelayanan lain dan Rumah Sakit Laboratorium atau fasilitas pelayanan yang lain

 

Rangkaian jaringan fasilitas pelayanan kesehatan dalam system rujukan tersebut berjenjang dari yang paling sederhana ditingkat keluarga sampai satuan fasiltas pelayanan kesehatan nasional dengan dasar pemikiran rujukan ditujukan secara timbal balik kesatuan fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, dan rasional serta tanpa dibatasi oleh wilayah administrasi.

Tabel

Jaringan Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Jenjang Komponen atau unsur Yankes
Tingkat Rumah Tangga

 

Tingkat Masyarakat

 

 

 

Fasilitas pelayanan kesehatan professional Tingkat Pertama

 

Fasilitas Pelayanan Kesehatan Profesinal Tingkat kedua

 

Fasilitas Pelayanan Kesehatan Profesional Tingkat ketiga

Pelayanan kesehatan oleh individu atau oleh keluarganya sendiri.

Kegiatan swadaya masyarakat dalam menolong mereka sendiri oleh kelompok paguyuban, PKK, Saka Bhakti Husada, anggota RW,RT dan masyarakat (Posyandu).

Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, Praktek Dokter Swasta, Bidan, Poliklinik Swasta

 

Rumah Sakit Kabupaten, RS Swasta, Laboratorium Klinik Swasta, dll.

Rumah Sakit Kelas B dan A serta lembaga Spesialitik Swasta, Lab. Kesehatan Daerah dan Lab Klinik Swasta

 

Rujukan bukan berarti melepaskan tanggungjawab dengan menyerahkan klien-klien ke fasilitas pelayanan kesehatan lainya, akantetapi karena kondisi klien yang mengharuskan pemberian pelayanan yang lebih kompeten dan bermutu melalui upaya rujukan.

 

Untuk itu dalam melaksanakan rujukan harus telah pula diberikan :

1.    Konseling tentang kondisi klien-klien yang menyebabkan perlu dirujuk.

2.    Konseling tentang kondisi yang diharapkan diperoleh di tempat rujukan.

3.    Informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan tempat rujukan yang dituju.

4.    Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang dituju mengenai kondisi klien saat ini riwayat sebelunyaa serta upaya/tindakan yang telah diberikan.

5.    Bila perlu berikan upaya mempertahankan keadaan umum klien

6.    Bila perlu, karena kondisi klien, dalam perjalanan menuju tempat rujukan harus didampingi perawat/bidan.

7.    Menghubungi fasilitas pelayanan tempat rujukan dituju agar memungkinkan segera menerima rujukan klien.

 

Fasilitas pelayanan kesehatan yang menerima rujukan, setelah memberikan upaya penanggulangan dan kondisi klien telah memungkinkan, harus segera mengembalikan klien ke tempat fasilitas pelayanan asalnya dengan terlebuh dahulu memberikan:

1.    Konseling tentang kondisi klien sebelum dan sesudah diberi upaya penaggulangan

2.    Nasehat yang perlu diperhatikan klien mengenai kelanjutan penggunaan kontrasepsi

3.    Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang merujuk mengenai kondisi klien berikut upaya penanggulangan yang telah diberikan serta saran-saran upaya pelayanan lanjutan yang harus dilaksanakan, terutama tentang penggunaan kontrasepsi.

 

BAB III

PENUTUP

 

Pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi adalah suatu kegiatan merekam dan menyajikan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan oleh fasilitas pelayanan KB.  Terdapat bermacam – macam kartu dalam pencatatan dan pelaporan kontrasepsi. Jenis-jenis Serta Kegunaan, Register, dan Formulir antara lain :

  • Kartu Pendaftaran Klinik KB (K/O/KB/85)
  • Kartu Tanda Akseptor KB Mandiri (K/I/B/89)
  • Kartu Status Peserta KB (K/IV/KB/85)
  • Kartu Klinik KB (R/I/KB/90)
  • Register Alat-alat Kontrasepsi di Klinik KB (R/II/KB/85)
  • Buku Bantu Hasil Pelayanan Kontrasepssi Pada Dokter/Bidan Praktek Swasta (B/I/DBS/10)
  • Laporan Bulanan Tugas Penghubung Tentang Hasil Pelayanan Kontrasepsi Oleh Dokter/Bps (F/I/PH/DBS/10)
  • Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90)
  • Rekapitulasi Laporan Bulanan Klinik KB (Rek/F/II/KB/90)

Setelah pencatatan dilakukan maka catatan pelayanan kontrasepsi tersebut masing-masing dikirim kepada: BKKBN Pusat, BKKBN Kabupaten/Kotamadya, Unit Pelaksan atingkat Kabupaten/Kotamadya, Camat, dan Arsip. Pencatatan tersebut juga dianalisa untuk melihat trend (perkembangan dengan cara membandingkan hasil kegiatan pelayanan, kontrasepsi dari bulan kebulan(tahun-ketahun).

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Ida Bagus Gde.1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

BKKBN. 1994. Informasi Pelayanan Kontrasepsi . Jakarta.

Sujiyatini dkk.2009. Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini. Yogyakarta : Nuha Medika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBINAAN ASEPTOR KB MELALUI KONSELING

  1. KONDOM

Kondom adalah cara KB yang disarungkan ke alat kelamin laki- laki. Kondom dibuat dari karet tipis, kulit, lateks dan plastik. Kondom berguna untuk mencegah pertemuan sel telur wanita dan sel mani dari laki – laki sehingga tidak terjadi kehamilan.

  1. Cara Pemakaian

Sarungkan pada alat kelamin laki – laki saat dalam keadaan tegang, baru kemudian dilakukan hubungan kelamin.

  1. Keuntungan

1)    Mencegah kehamilan

2)    Dapat dipakai sendiri

3)    Mudah didapat

4)    Praktis

5)    Murah

6)    Memberi perlindungan terhadap penyakit – penyakit akibat hubungan seks.

7)    Dapat diandalkan karena cukup efektif

8)    Sederhana, ringan disposable

9)    Tidak mempunyai efek samping

10) Pria ikut secara aktif dalam program KB

  1. Kerugian

1)    Ada kemungkinan bocor, sobek dan tumpah yang menyebabkan kondom gagal dipakai sebagai alat kontrasepsi

2)    Perlu menghentikan sementara aktivitas dan spontanitas hubungan seks guna memakai kondom.

3)    Perlu dipakai secara konsisten, hati – hati dan terus menerus pada setiap senggama.

  1. Tempat memperoleh kondom

1)    Apotik

2)    Klinik KB

3)    Puskesmas

4)    BPS / RB

5)    Warung – warung atau kedai tertentu

  1. Cara pembuangan kondom yang benar

1)    Jangan dibuang kedalam toilet

2)    Jangan dibuang ke dalam selokan atau got/ parit

3)    Jangan dilempar ke halaman

4)    Dibakar bersama sampah

5)    Bersihkan dulu ( cuci ), bungkus, ikat lalu masukkan ke tempat sampah

6)    Ditanam

  1. PIL KB

Pil Kb berisi zat yang berguna untuk mencegah lepasnya sel telur dari indung telur wanita. Ada 2 macam kemasan pil, yaitu :

1)    Kemasan berisi 21 Pil

2)    Kemasan berisi 28 Pil

Sebelum meminum pil KB, Kesehatan ibu perlu diperiksa terlebih dahulu. Jika menurut hasil pemeriksaan ibu bisa memakai pil KB barulah ibu dapat mulai minum pil KB. Untuk kemasan berisi 21 pil, tablet pertama diminum setiap hari ke lima haid. Untuk kemasan berisi 28 pil, tablet pertama diminum pada setiap hari pertama haid, mulai dari tanda panah.

  1. Cara pemakaian

Pil KB diminum setiap hari satu tablet secara teratur, tidak boleh lupa. Hanya dengan meminum pil secara teratur dapat diperoleh manfaat pil KB sebagai cara mencegah kehamilan.

  1. Keuntungan

1)    Pil KB manjur untuk mencegah kahamilan bila dipakai sesuai petunjuk, diminum setiap hari secara teratur.

2)    Bila ingin mempunyai anak lagi, maka ibu bisa hamil kembali setelah pemakaian pil dihentikan.

3)    Siklus haid teratur, banyaknya darah haid berkurang (mencegah anemia), tidak terjadi nyeri haid.

4)    Mudah dihentikan setiap saat

  1. Kerugian

1)    Mahal dan membosankan karena harus menggunakannya setiap hari.

2)    Pusing

3)    Nyeri payudara

4)    Mual, terutama pada 3 bulan pertama

5)    Berat badan naik sedikit

6)    Tidak mencegah IMS, HIV, PMS, HBV

  1. Tempat memperoleh Pil KB

1)    Apotik

2)    Klinik KB

3)    Puskesmas

4)    BPS / RB

5)    Warung – warung atau kedai tertentu

  1. Penting untuk diingat

1)    Bila sudah hampir habis segeralah minta kepada tempat pelayanan, supaya tidak tertunda.

2)    Jangan lupa, pil KB harus diminum setiap hari secara teratur.

3)    Apabila lupa, minumlah saat itu juga 1 tablet dan malamnya minum 1 tablet lagi

4)    Apabila 2 hari lupa minum pil, pergilah ke klinik beritahukan kepada dokter atau bidan (jika sering lupa minum pil KB bisa terjadi kehamilan)

5)    Apabila merasa pusing atau mual pil KB tetap diminum

6)    Apabila tidak cocok memakai pil KB pergilah ke tempat pelayanan untuk minta dibantu dokter atau bidan. Mungkin perlu ganti cara KB lainnya

7)    Bagi aseptor yang cocok, pil KB bisa dipakai dalam jangka waktu cukup lama

  1. SUNTIKAN KB

Kontarasepsi suntikan di Indonesia merupakan salah satu kontrasepsi yang populer. Kontrasepi suntikan yang digunakan adalah long-acting progestin, yaitu Noretisteron enantat (NETEN) dengan nama dagang Noristrat dan Depomedroksi progesteron acetat (DMPA) dengan nama dagang Depoprovera.

Tekhnik penyuntikan ialah seca intramuskulus dalam, di daerah muskulus gluteus maksimus atau deltoideus.

  1. Keuntungan

1)    Praktis kaena tidak perlu mengingat-ingat setiap hari

2)    Pencegahan kehamilan jangka panjang

3)    Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri

4)    Klien tidak perlu menyimpan obat suntik

  1. Kerugian

1)    Sering ditemukan gangguan haid, seperti siklus haid sering memanjang atau memendek, perdarahan yang banyak atau sedikit, perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting), atau tidak terjadi haid sama sekali.

2)    Klien sangat tergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan (harus kembali untuk suntikan)

3)    Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu

4)    Perubahan berat badan

5)    Tidak menjamin pencegahan penularan penyakit menular seksual, HBV, atau HIV/ AIDS

6)    Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian

7)    Sakit kepala

8)    Timbulnya jerawat

  1. Yang dapat menggunakan kontrasepsi suntikan

1)    Perempuan usia reproduksi

2)    Perempuan nulipara atau yang sudah mempunyai anak

3)    Perempuan yang menghendakai kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki efektivitas tinggi

4)    Perempuan setelah keguguran dan setelah melahirkan

5)    Perempuan dengan tekanan darah kurang dari 180/ 110 mmHg

6)    Perempuan yang sering lupa menggunakan pil kontrasepsi

  1. Yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi suntikan

1)    Perempuan yang hamil atau dicurigai hamil

2)    Perempuan yang mengalami perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya.

3)    Perempuan penderita hipertensi

4)    Perempuan yang tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid atau amenorea

5)    Perempuan yang menderita kanker payudara atau mempunyai riwayat kanker payudara

6)    Perempuan penderita keganasan penyakit jantung, penyakit hati, penyakit paru- paru berat, dan penderita diabetes melitus disertai komplikasinya

  1. Tempat memperoleh pelayanan kontrasepsi suntikan

1)    Klinik KB

2)    Puskesmas

3)    BPS/RB

4)    Dokter Obsgyn

5)    Rumah sakit

  1. Penting untuk diingat

1)    Suntikan KB diberikan saat ibu sedang haid, terutama untuk memastikan bahwa saat suntikan itu diberikan ibu sedang tidak hamil

2)    Sebelum diberi suntikan KB, kesehatan ibu harus diperiksa dulu, yaitu vital signnya

3)    Suntikan KB dapat diberikan sambil duduk atau berbaring

4)    Setelah disuntik , ibu dapat melakukan kegiatannya seperti biasa, misalnya berkebun, mencuci, mengetik, berolahraga, dan lain sebagainya.

5)    Jika suami pergi selama satu bulan hingga tiga bulan atau lebih, ibu tetap harus mendapat suntikan KB secara teratur

6)    Terdapat kemungkinan ibu mengalami gangguan seperti nyeri pada perut , hal ini adalah efek samping dari pemakaian suntikan KB. Pergilah ketempat pelayanan kesehatan, untuk mendapatkan nasihat atau bantuan bidan atau dokter

7)    Kemungkinan siklus haid ibu menjadi  tidak teratur, hal ini juga merupakan efeksamping pemakaian suntikan KB, pergilah ke tempat pelayanan kesehatan untuk membicarakannya dengan bidan atau dokter

  1. IUD (INTRA  UTERIN DEVICE) / AKDR (ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM)

IUD (Intra  Uterin Device) atau AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) adalah alat kontrasepsi yang ditempatkan di dalam rahim. IUD dibuat dari plastik khusus yang diberi benang pada ujungnya. Benang ini gunanya untuk pemeriksaan(kontrol).

Ada beberapa macam IUD :

1)    Bentuk seperti spiral, namanya lippes loop

2)    Bentuk seperti huruf T dan dililiti tembaga, namanya cooper-T

3)    Berbentuk seperti pohon kelapa atau kipas terbuka dan dililiti tembaga, namanya multi load

  1. Cara kerja IUD

IUD mencegah pertemuan sel sperma dengan sel telur sehingga kehamilan tidak terjadi

  1. Cara pemakaian IUD

IUD dipasang pada rongga rahim wanita pada saat sedang haid. Pemasangan dilakukan oleh dokter atau bidan yang terlatih.

  1. Pemeriksaan IUD ulang

Satu minggu sesudah pemasangan. Sesudah itu setiap bulan, dilakukan sebanyak 3 kali

  1. Keuntungan

1)    Praktis tidak perlu mengingat ingat

2)    Ekonomis

3)    Aman

4)    Mudah diperiksa (dikontrol)

5)    Efektif untuk proteksi jangka panjang

6)    Tidak mengganggu hubungan suami istri

7)    Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI

8)    Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus

9)    Tidak ada interaksi dengan obat-obatan

  1. Kerugian

1)    Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan), haid lebih lama dan banyak, bercak-bercak perdarahan (spotting), dan saat haid akan lebih sakit.

2)    Rasa nyeri atau mulas beberapa saat setelah pemasangan

3)    Tidak mencegah IMS, HBV, dan HIV/AIDS

4)    Tidak baik digunakan pada perempuan IMS atau perempuan yang sering berganti pasangan, karena penyakit radang panggul sering terjadi setelah Perempuan IMS memakai AKDR

5)    Prosedur medis termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam pemasangan AKDR, seringkali perempuan takut setelah pemasangan.

6)    Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri, karena petugas kesehatan yang sudah terlatih yang dapat melepas AKDR

7)    Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu. Untuk melakukannya, perempuan harus memasukkas jarinya ke dalam vagina, sebagian besar perempuan tidak mau melakukan hal ini

  1. Yang dapat menggunakan IUD

1)    Perempuan usia reproduksi

2)    Perempuan nulipara atau yang sudah mempunyai anak atau yang belum mempunyai anak

3)    Perempuan yang menghendakai kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki efektivitas tinggi

4)    Perempuan setelah keguguran dan setelah melahirkan

5)    Perempuan dengan resiko rendah terkena IMS

6)    Perempuan yang tidak menyukai mengingat- ingat meminum pil KB setiap hari

7)    Perempuan yang gemuk maupun kurus

8)    Perempuan hipertensi

9)    Penderita penyakit jantung, diabetes melitus, dan penyakit hati dan empedu

  1. Yang tidak diperkenankan memakai IUD

1)    Perempuan yang hamil atau dicurigai hamil

2)    Perempuan yang mengalami perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya.

3)    Perempuan yang sedang menderita infeksi alat genital ( vaginitis, servisitis) dan perempuan dengan kanker organ genital

4)    Perempuan dengan kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat mempengaruhi kavum uteri

  1. Tempat memperoleh pelayanan IUD

1)    Puskesmas

2)    Klinik KB

3)    BPS/ RB

4)    Dokter kandungan

5)    Rumah sakit

  1. Penting untuk diingat

1)    Mengecek kesehatan umum ibu ( vital sign) sebelum pemakaian IUD

2)    Pemasangan IUD dilakukan oleh dokter atau bidan terlatih

  1. . IMPLANT atau AKBK (alat kontrasepsi bawah kulit)

Implant atau susuk KB adalah alat kontrasepsi yang terdiri dari enam kapsul kecil berisi hormon lovonorgestrel, implan dipasang di bawah kulit lengan atas bagian dalam, implant dipakai selama lima tahun.

  1. Cara kerja kontrasepsi implant

Keenam kapsul implan secara tetap melepaskan sejumlah hormon yang dapat mencegah lepasnya sel telur dari indung telur dan mengentalkan lendir pada mulut rahim, sehingga sel sperma tidak dapat masuk ke dalam rahim. Hormon ini juga dapat menipiskan selaput lendir rahim sehingga hasil pembuahan tidak dapat tertanam di dalam rahim.

  1. Keuntungan

1)    Daya guna tinggi

2)    Perlindungan jangka panjang (5 tahun)

3)    Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan

4)    Tidak memerlukan pemeriksaan dalam

5)    Tidak mengganggu kegiatan senggama

6)    Klien hanya perlu kembali ke pelayanan kesehatan hanya jika merasa ada keluhan

7)    Dapat dicabut setiap saat saat sesuai dengan kebutuhan

  1. Kerugian

1)    Sering ditemukan gangguan haid, seperti siklus haid sering memanjang atau memendek, perdarahan yang banyak atau sedikit, perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting), atau tidak terjadi haid sama sekali

2)    Nyeri kepala

3)    Penurunan atau peningkatan berat badan

4)    Nyeri payudara

5)    Perasaan mual

6)    Pening/ pusing kepala

7)    Perubahan perasaan( mood) atau kegelisahan

8)    Klien harus ke klinik pelayanan kesehatan jika menginginkan pencabutan

9)    Tidak menjamin pencegahan penularan penyakit menular seksual, HBV, atau HIV/ AIDS

  1. Yang dapat menggunakan kontrasepsi implant

1)    Perempuan usia reproduksi

2)    Perempuan nulipara atau yang sudah mempunyai anak atau yang belum mempunyai anak

3)    Perempuan yang menghendakai kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki efektivitas tinggi

4)    Perempuan setelah keguguran dan setelah melahirkan, yang menyusui atau yang tidak menyusui

5)    Perempuan yang tidak menginginkan anak lagi tapi menolak untuk sterilisasi

6)    Perempuan dengan tekanan darah kurang dari 180/ 110 mmHg

7)    Perempuan yang sering lupa menggunakan pil kontrasepsi

  1. Yang tidak diperkenankan menggunakan kontrasepsi implant

1)    Perempuan yang hamil atau dicurigai hamil

2)    Perempuan yang mengalami perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya.

3)    Perempuan yang tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid atau amenorea

4)    Perempuan yang menderita kanker payudara atau mempunyai riwayat kanker payudara

5)    Perempuan hipertensi

6)    Penderita penyakit jantung, diabetes melitus

  1. Tempat memperoleh pelayanan IUD

1)    Puskesmas

2)    Klinik KB

3)    BPS/ RB

4)    Dokter kandungan

5)    Rumah sakit

  1. Yang perli diingat

1)    Sebelum pemasangan implant, kesehatan umum (vital sign) klien harus diperiksa terlebih dahulu

2)    Sesudah pemasangan implan, kemungkinan ibu mengalami rasa nyeri pada tempat pemasangan. Biassanya hanya sebentar, tidak perlu khawatir, dan jangan diapa-apakan. Jika tidak tertahankan segera pergi ke tempat pelayanan kesehatan untuk meminta bantuan bidan atau dokter

3)    Selama 3 hari sesudah pemasangan. Ibu diperbolehkan mandi tetapi jaga supaya daerah tempat pemasangan tetap kering

4)    Setelah disuntik , ibu dapat melakukan kegiatannya seperti biasa, misalnya berkebun, mencuci, mengetik, berolahraga, dan lain sebagainya. Tetapi kalau bisa jangan mengangkat beban yang berat-berat dahulu untuk beberapa waktu (sekitar 1 minggu)

5)    Pada hari ke lima pembalut pada bekas tempat pemasangan boleh dibuka. Lihat dan peerhatikan, jika bekasnya sudah kering tidak perlu dibalut lagi.

6)    Kemungkinan siklus haid ibu menjadi  tidak teratur, hal ini merupakan efeksamping pemakaian kontrasepsi implant, pergilah ke tempat pelayanan kesehatan untuk membicarakannya dengan bidan atau dokter

7)    Jika ada keluhan, pergilah ke tempat pelayanan kesehatan agar dapat ditolong oleh dokter atau bidan

8)    Sesudah lima tahun, segeralah menuju tempat pelayanan kesehata karena keenam kapsul itu harus dicabut. Jika masih menginginkan kontrasepsi implant dokter atau bidan akan menggantinya dengan yang baru.

  1. KONTRASEPSI MANTAP WANITA ( KONTAP WANITA) / MOW     ( MEDIS OPERATIF WANITA)

Merupakan metode pengikatan dan pemotongan saluran telur agar sel telur tidak dapat dibuahi oleh sperma.

  1. Cara Kerja Tubektomi

Perjalanan sel telur terhambat karena saluran sel telur tertutup.

  1. Keuntungan Menggunakan Tubektomi :

1)    Permanen dan efektif.

2)     Tidak mempengaruhi proses menyusui

3)    Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal

4)     Dapat mencegah kehamilan lebih dari 99%.

5)    Tidak ada efek samping jangka panjang dan tidak mengganggu hubungan seksual.

  1. Kerugian Tubektomi :

1)    Ada kemungkinan mengalami resiko pembedahan.

2)    Rasa sakit/ketidak nyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan

  1. Yang dapat menjalani tubektomi :

1)    Perempuan yang berusia lebih dari 26 tahun

2)    Perempuan dengan paritas lebih dari 2

3)    Perempuan yang yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan kehendaknya

4)    Perempuan yang pada kehamilannya akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius

5)    Perempuan pasca persalinan dan pasca keguguran

  1. Yang tidak diperkenankan menjalani tubektomi :

1)    Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai

2)     Menderita tekanan darh tinggi

3)     Kencing manis (diabetes)

4)    Penderita  penyakit jantung

5)     Penderita penyakit paru-paru

6)    Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus dievaluasi)

7)     Infeksi sistemik atau pelvik yang akut (hingga masalah itu disembuhkan atau dikontrol)

8)     Ibu yang tidak boleh menjalani pembedahan

9)     Belum memberikan persetujuan tertulis

  1. Tempat mendapatkan  Pelayanan kontrasepsi Tubektomi :

Di rumah sakit, ika ada keluhan, pemakai harus kembali ke Rumah Sakit.

  1. Yang perlu  diingat :

1)    bagi  wanita usia subur berumur diatas 26 tahun , dan  sudah punya anak cukup ( 2 anak ), anak terkecil harus berusia minimal 5 tahun.

2)    Puasa mulai tengah malam sebelum operasi, atau sekurang-kurangnya 6 jam sebelum operasi. Bagi calon akseptor yang menderita Maag (kelaianan lambung agar makan obat maag sebelum dan sesudah puasa

3)     Mandi dan membersihkan daerah kemaluan dengan sabun mandi sampai bersih, dan juga daerah perut bagian bawah

4)    Tidak memakai perhiasan, kosmetik, cat kuku, dan lain sebagainya

5)     Membawa surat persetujuan dari suami yang sudah ditandatangani atau di cap jempol

6)    Menjelang operasi harus kencing terlebih dahulu

7)     Datang ke rumah sakit tepat pada waktunya, dengan ditemani anggota keluarga; sebaiknya suami.

  1. Syarat :

1)    Sukarela, bahagia, sehat jasmani dan rohani.

2)    Mengikuti konseling ( bimbingan tatap muka ).

3)    Menanda tangani formulir persetujuan tindakan medik ( informed consent ).

4)    KONTRASEPSI MANTAP PRIA ( KONTAP PRIA) / MOP ( MEDIS OPERATIF PRIA)

Adalah pengikatan dan pemotongan saluran benih agar sperma tidak keluar dari buah zakar. Cara ini dipakai untuk kontrasepsi mantap pria.

  1. Cara kerja vasektomi :

Saluran benih tertutup, sehingga tidak dapat menyalurkan spermatozoa.

  1. Keuntungan mengunakan vasektomi :

1)     Permanen dan efektif.

2)    Tidak ada efek samping jangka panjang dan tidak mengganggu hubungan seksual.

3)     Dapat mencegah kehamilan lebih dari 99 %.

4)    Tindakan bedah yang aman dan sederhana

5)    Tidak mengganggu hubungan seksual

  1. Kerugian vasektomi :

1)     Harus ada pembedahan minor.

2)    Tidak dapat dilakukan pada orang yang masih ingin memiliki anak.

  1. Yang dapat menjalani vasektomi

Untuk laki-laki subur sudah punya anak cukup (2 anak) dan istri beresiko tinggi

  1. Yang tidak diperkenankan menggunakan vasektomi jika :

1)     Peradangan kulit atau jamur di daerah kemaluan.

2)     Menderita kencing manis.

3)     Hidrokel atau varikokel yang besar

4)     Hernia inguinalis

5)    Anemia berat, ganguan pembekuan darah

  1. Tempat mendapatkan pelayanan vasektomi :

1)     Rumah Sakit

2)    Puskesmas

3)     Klinik KB.

  1. Yang harus diingat :

1)    Untuk laki-laki usia subur sudah punya anak cukup ( 2 anak ) dan istri beresiko tinggi.

2)    Tidur dan istirahat cukup

3)    Mandi dan memebersihkan daerah sekitar kemaluan

4)     Makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke klinik

5)    Datang ke klinik tempat operasi dengan pengantar

6)    Jangan lupa membawa surat persetujuan isteri yang ditandatangani atau cap jempol

7)    Boleh bersenggama setelah 2-3 hari setelah operasi dengan menggunakan kondom, penggunaan kondom dilanjutkan sampai 20 kali ejakulasi atau 3 bulan setelah operasi.

  1. Syarat-syarat menggunakan vasektomi :

1)     Sukarela, bahagia, sehat jasmani dan rohani.

2)     Mengikuti konseling atau bimbingan tatap muka.

3)     Menandatangani formulir persetujuan tindakan medik ( operasi ).

PENCATATAN DAN PELAPORAN

  1. Batasan

Dalam melaksanakan pencatatan dan pelaporan yang tepat dan benar diperlukan keseragaman pengertian sebagai berikut :

  1. Pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi adalah suatu kegiatan merekam dan menyajikan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan oleh fasilitas pelayanan KB.
  2. Peserta KB adalah pasangan usia subur (PUS) yang menggunakan kontrasepsi.
  3. Peserta KB baru adalah PUS yang pertama kali mengguakan kontrasepsi atau PUS yang kembali menggunakan kontrasepsi setelah mengalami kehamilan yang berakhir dengan keguguran atau persalinan.
  4. Peserta KB lama adalah peserta KB yang masih menggunakan kontrasepsi tanpa diselingi kehamilan.
  5. Peserta KB ganti cara adalah peseta KB yang berganti pemakaian dari satu metode kontrasepsi ke metode kontrasepsi lainnya.
  6. Pelayanan fasilitas pelayanan KB adalah semua kegiatan pelayanan kontrasepsi oleh fasilitas pelayanan KB baik berupa pemberian atau pemasangan kontrasepsi maupun tindakan-tindakan lain yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang diberikan pada PUS baik calon maupun peserta KB.
  7. Pelayanan kontrasepsi oleh fasilitas pelayanan KB di dalam fasilitas pelayanan adalah pemberian atau pemasangan kontrasepsi maupun tindakan-tindakan lain yang berkaitan kontrasepsi kepada calon dan peserta KB yang dilakukan dalam fasilitas pelayanan KB.
  8. Pelayanan kontrasepsi oleh fasilitas pelayanan KB di luar fasilitas pelayanan adalah pemberian peayanan kontrasepsi kepada calon dan peserta KB maupun tindakan-tindakan lain yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang dilakukan di luar fasilitas pelayanan KB (TKBK,Safari,Posyandu).
  9. Definisi fasilitas pelayanan KB:

Fasilitas pelayanan KB sederhana adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimal seorang paramedis atau dan yang sudah mendapat latihan KB dan memberikan pelayanan: cara sederhana (kondom,obat vaginal), pil KB,suntik KB, IUD bagi fasilitas pelayanan yang mempunyai bidang yang telah mendapat pelatihan serta upaya penanggulangan efek samping, komplikasi ringan dan upaya rujukannya.

Fasilitas pelayanan KB lengkap adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimal dokter umum yang telah mendapat pelatihan dan memberikan pelayanan: cara sederhana, suntik KB, IUD bagi dokter atau bidan yang telah mendapat pelatihan, implant bagi dokter yang telah mendapat pelatihan, kontap pria bagi fasilitas yang memenuhi persyaratan untuk pelayanan kontap pria.

Fasilitas pelayanan KB sempurna adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimal dokter spesialis kebidanan, dokter spesialis bedah/dokter umum yang telah mengikuti pelatihan dan memberikan pelayanan: cara seerhana, pil KB, suntik KB, IUD, pemasangan dan pencabutan implant, kontap pria, kontap wanita bagi fasilitas yang memenuhi persyaratan untuk pelayanan kontap wanita.

Fasilitas pelayanan KB paripurna adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimal dokter spesialis kebidanan yang telah mngikuti pelatihan penanggulangan infertilisasi dan rekanalisasi/dokter spesialis bedah yang telah mengikuti pelatihan pengaggulangan infertilitas dan rekanalisasi serta memberikan pelayanan semua jenis kontrasepsi ditambah dengan pelayanan rekanalisasi dan penanggulangan infertilitas.

  1. Status fasilitas pelayanan KB adalah status kepemilikan pengelolaan fasilitas pelayanan KB yang dikelompokkan dalam 4 (empat) status kepemilikan yaitu: Depkes, ABRI, Swasta serta instansi pemerintah lain diluar Depkes dan ABRI.
  2. Konseling adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh petugas medis atau paramedik dalam bentuk percakapan individual dalam usaha untuk membantu PUS guna meningkatkan kemampuan dalam memilih pengunaan metode kontrasepsi serta memantapkan penggunaan kontrasepsi yang telah dipilih.
  3. Konseling baru adalah suatu kegiatan konseling yang dilakukan oleh petugas medis atau paramedic kepada calon peserta KB yang akhirnya menjadi peserta KB baru pada saat itu.
  4. Konseling lama adalah suatu kegiatan konseling yang dilakukan oleh petugas medis atau paramedik kepada peserta KB untuk memantapkan penggunaan kontrasepsi.
  5. Akibat sampingan atau komplikasi adalah kelainan dan atau gangguan kesehatan akibat penggunaan kontrasepsi.
  6. Akibat sampingan atau komplikasi ringan adalah kelainan dan atau gangguan kesehatan penggunaan kontrasepsi yang penanganannya tidak memerlukan rawat inap.
  7. Akibat sampingan atau komplikasi berat adalah kelainan dan atau gangguan kesehatan akibat penggunaan kontrasepsi yang penanganannya memerlukan rawat inap.
  8. Kegagalan adalah terjadinya kehamilan pada peserta KB.
  1. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN

Dalam upaya mewujudkan pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi Gerakan Keluarga Berencana Nasional, hal-hal yang harus dilakukan oleh setiap petugas dan pelaksana KB adalah mengetahui dan memahami batasan-batasan pengertian dari istilah-istilah yang dipergunakan serta mengetahui dan memahami berbagai jenis dan fungsi instrument-instrumen pencatatan dan pelaporan yang dipergunakan, cara-cara pengisiannya serta mekanisme dan arus pencatatan dan pelaporan tersebut.

  1. Jenis-jenis Serta Kegunaan, Register, dan Formulir.
  2. Kartu Pendaftaran Klinik KB (K/O/KB/85)

Digunakan sebagai sarana untuk pendaftaran pertama bagi klinik KB baru dan pendaftaran ulang semua klinik KB.

Pendaftaran ulang dilakukan setiap akhir tahun anggaran (bulan maret setiap tahun). Kartu ini berisi infomasi tentang identitas klinik KB, jumlah tenaga, dan sarana klinik KB serta jumlah desa di wilayah kerja klinik KB yang bersangkutan.

  1. Kartu Tanda Akseptor KB Mandiri (K/I/B/89)

Dipergunakan sebagai tanda pengenal dan tanda bukti bagi setiap peserta KB. Kartu ini diberikan terutama kepada peserta KB baru baik dari pelayanan KB jalur pemerintah maupun swasta (dokter/bidan praktek swasta/apotek dan RS/Klinik KB swasta). Pada jalur pelayanan pemerintah, kartu ini merupakan sarana untuk memudahkan mencari kartu status peserta KB (K/IV/KB/85). Kartu ini merupakan sumber informasi bagi PPKBD/Sub PPKB tentang kesertaan anggota binaannya di dalam berKB.

  1. Kartu Status Peserta KB (K/IV/KB/85)

Dibuat bagi setiap pengunjung baru klinik KB yaitu peserta KB baru dan peserta KB lama pindahan dari klinik KB lain atau tempat pelayanan KB lain.

Kartu ini berfungsi untuk mencatat ciri-ciri akseptor hasil pemeriksaan klinik KB dan kunjungan ulangan peserta KB.

  1. Kartu Klinik KB (R/I/KB/90)

Dipergunakan untuk mencatat semua hasil pelayanan kontrasepsi kepada semua peserta KB setiap hari pelayanan.

Tujuan penggunaan register ini adalah untuk memudahkan petugas klinik KB dalam membuat laporan pada akhir bulan.

  1. Register Alat-alat Kontrasepsi di Klinik KB (R/II/KB/85)

Dipergunakan untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran (mutasi) alat-alat kontrasepsi di klinik KB.

Tujuan adalah untuk memudahkan membuat laporan tentang alat kontrasepsi setiap akhir bulan.

  1. Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90)

Dipergunakan sebagai sarana untuk melaporkan kegiatan

- 1 lembar untuk Unit Pelaksana Ka

  1. Cara Pengisian Kartu, Register dan Formulir
  2. Kartu Pendaftaran Klinik Keluarga Berencana (K/O/KB/85)

Penjelasan umum

  1. Kartu ini digunakan sebagai sarana untuk pendaftaran pertama dan pendaftaran ulang semua klinik KB. Pendaftaran ulang dilakukan setiap akhir tahun anggaran (bulan Maret setiap tahun). Kartu ini berisi informasi tentang identitas klinik, tenaga dan saran klinik KB yang bersangkutan.
  2. Kartu ini dibuat dalam rangkap 5 (lima) dengan tambahan lembar ”khusus” pada lembar pertama yang dipergunakan untuk laporan ke BKBN pusat.
  3. Ditandatangani oleh penanggung jawab klinik KB yang bersangkutan.
  4. Kartu pendaftaran ini setelah diisi dan masing – masing dikirim :

-    1 lembar K/O/KB/85 yang khusus (bagian sebelah kanan dari lembar pertama untuk BKBN pusat di Jakarta.

-    1 lembar untuk BKBN propinsi

-    1 lembar untuk Unit Pelaksana Propinsi

-    1 lembar untuk BKBN Kabupaten/kotamadya

(2) Halaman depan terdiri dari dua bagian yaitu:

(a) Bagian sebelah kiri, untuk mencatat cir-ciri peserta KB. Bagian ini terutama dimaksudkan untuk mencatat cir-ciri setiap peserta KB baik peserta KB baru maupun peserta KB pindahan dari klinik KB/tempat pelayanan kontrasepsi lain.

Data dibagian ini sangat diperlukan apabila suatu saat untuk mengetahui ciri-ciri akseptor KB secara Nasional maupun tingkat wilayah lainya.

(b)  Bagian sebelah kanan, untuk mencatat hasi-hasil pemeriksaan klinik.

(c)  Petugas klinik KB yang melakukan pengisisan K/IV/KV/85 membutuhkan tanda tangan dan nama terang pada K/IV/KV/85 di tempat yang telah disediakan.

d.   Register Alat-alat Kontrasepsi KB (R/II/KB/85)

a) Register ini dibuat dengan tujuan untuk mempermudah petugas klinik KB memuat/mengisi laporan bulanan klinik KB (F/II/KB/9), khususnya untuk bagian tabel V : “Persediaan Kontrasepsi di Klinik KB”

b)   Pada setiap hari pelayanan, semua penerimaan dan engeluaran kontrasepsi dicatat/dibukukan dalam register alat-alat kontrasepsi ini.

c) Setiap baris menunjukan penerimaan/pengeluaran kontrasepsi pada satu tanggal tertentu. Pada hari/tanggal berikutnya, pengeluaran/pemasukan dicatat pada hari/tanggal berikutnya, emikian seterusnya untuk setiap hariplayanan, sampai habis periode satu bulan.

d) Setelah sampai pada hari/tanggal terakhir dari satu bulan yang bersangkutan dilakukan penjumlahan untuk penerimaan dan pengeluaran alat kontrasepsi selama satu bulan.

e) Disamping, kedalam register ini dituliskan pula siss(stock) alat-alat kontrasepsi yang ada diklinik KB pada akhir bulan.

f) Untuk tiap hari dalam bulan berikutnya pencatatan dilakukan pada lembar (halaman) baru.

e. Laporan Bulanan Klinik Keluarga Berencan (F/II/KB/90)

Penjelasan Umum

  1. Laporan bulanan klinik KB dibuat oleh petugas klinik KB sebulan sekali, yaitu pada setiap akhir bulan kegiatan pelayanan kontrasepsi di klinik KB.
  2. Laporan bulanan klinik KB sebagai sarana untuk melaporkan kegiatan pelayanan kontrasepsi dan haasilnya, yaitu pelayanan ole klinik KB(di dalam dan diluar klinik KB) serta PPKBD/Sub PPKBD diwilayah binaan klinik KB yang bersangkutan.
  3. Laporan bulanan klinik KB ditandatangani oleh pimpinan klinik KB atau petugas yang ditunjuk.
  4. Laporan bulanan klinik KB dibuat rangkap 5(lima), yaitu:

-       1 (satu) lembar dikirim ke BKKBN Pusat

-       1(satu) lembar dikirim ke BKKBN Kabupaten Kota Madya

-       1 (satu) lembar dikirim ke Unit Pelaksanatingkat Kabupaten Kota Madya

-       1 (satu) lembar dikirim ke Camat

-       1 (satu) lembar sebagai arsip untuk klinik kB yang bersangkutan

  1. Laporan bulanan klinik KB yang dikirim ke BKKBN Pusat (Minat Biro Pencatatan dan Pelaporan) dengan menggunakan sampul atau amplop khusus tanpa dibubuhi perangko dan sudah harus dikirimkan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.
  2. Pengisian laporan bulanan klinik kB ini didasarkan pada data yang terdapat dalam :

-       Register klinik KB (R/I/KB/89)

-       Register alat kontrasepsi KB (R/I/KB/85)

-       Laporan bulanan PLKB (F/I/PLKB/90)

-       Laporan-laporan serta catatan-catatan lainya.

f.    Rekapitulasi Laporan Bulanan Klinik KB (REK/F/II/89)

Penjelasan Umum.

a)     Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB (REK/F/II/KB/89) ini dibuat sebuan sekali, yaiu pada awal bulan berikutna dari bulan laporan. Tujuannya untuk meaporkan seluruh kegiatan pelayanan KB dan hasilnya dari seluruh klinik KB yang berada di suatu wilayah kabupaten/kotamadya pada satu bulan laporan.

b)     Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB inidibuat oleh BKKBN Kabupaten/Kotamadya dalam rangkap 3 (tiga) dan dikirim kepada:

- 1 (satu) lembar untuk BKKBN Propinsi.

- 1 (satu) lembar untuk Unit Pelayanan KB Departemen Kesehatan Tingkat Kabupaten/Kotamadya.

- 1 (satu) lembar untuk arsip.

c)     Rekapitulasi

Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB ini harus sudah dikirimkan ke BKKBN Propinsi yang bersankutan selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya dari bulan laporan.

Lembar rekapitulasi ini ditandatangani oleh Kepala BKKBN Kabupaten/Kotamadya yang bersangkutan.

  1. MEKANISME DAN ARUS PENCATATAN AN PELAPORAN PELAYANAN KONTRASEPSI.
  1. Pada waktu mendaftar untuk pembukuan/peresmian klinik KB baru dibuat Kartu Pendaftaran Klinik KB(K/O/KB/85) dalam rangkap 5, masing-masing untuk BKKBN Pusat, BKKBN Propinsi, Unit pelaksana KB tingkat propinsi, BKKBN Kabupaten/Kotamadya, Unit Pelaksana KB tingkat kabupaten /kotamadya dan arsip.
  2. Setiap bulan maret dilakukan pendaftaran ulang klinik KB dengan mengisi K/O/KB/85 untuk setiap klinik KB. Hal ini dimaksudkan untuk melakukan ”updating” data dan informasi mengenai klinik KB yang bersangkutan.
  3. Bagi setiap pengunjung baru di Klinik KB, yaitu meliputi peserta KB baru dan peserta KB pindahan dari klinik KB atau tempat pelayanan kontrasepsi lainya, dibuatkan Kartu Tanda Akseptor KB Mandiri (K/I/KB/89) untuk peserta KB yang bersangkutan.
  4. Bagi setiap pengunjung baru tersebut dibuat pula kartu status peserta KB (K/IV/KB/85) yang antara lain memuat ciri-ciri peserta KB yang bersangkutan. Kartu ini disimpan di klinik KB yang bersangkutan untuk digunakan kembali sewaktu peserta KB melakukan kunjungan ulang di klinik tersebut. Untuk seorang peserta KB, menurut seri peserta KB dalam K/IB/KB/85 harus sama dengan nomor seri peserta KB pada K/I/KB/89.
  5. Semua hasil pelayanan kontrasepsi oleh klinik KB setiap hari, baik didalam maupun diluar klinik KB tersebut, dicatat didalam register klinik KB (R/I/KB/90).
  6. Semua penerimaan/pengeluaran alat kontrasepsi oleh klinik KB setiap hari dicatat di dalam Register alat-alat kontrasepsi Klinik KB (R/II/85).
  7. Setiap akhir bulan, data pada R/I/KB/90 dan R/II/KB/85 dijumlahkan untuk selanjutnya dimasukan kedalam Laporan Bulanan Klinik KB.
  8. Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90) dibuat oleh petugas klinik KB setiap awal bulan berikutnya dengan sumber-sumber data dari R/T/KB/90, R/II/KB/85 dan F/I/PLKB/90.

Laporan bulanan klinik KB (F/II/KB/90) dibuat dalam rangkap 5, masing-masing dikirim kepada: BKKBN Pusat, BKKBN Kabupaten/Kotamadya, Unit Pelaksan tingkat Kabupaten/Kotamadya, Camat, dan Arsip.

Selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya, laporan ini sudah harus dikirimkan dari klinik KB.

  1. Lembar pertama Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90), dikirim ke BKKBN Pusat minat Biro Pencataan dan Pelaporan, selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.
  2. Lembar kedua Lembar Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90) dikirim ke BKKBN Kabupaten/Kotamadya yang bersangkutan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.
  3. Lembar ketiga Laporan Bulanan Klinik Kb (F/II/KB/90) dikirim ke Unit Pelaksana Kabupaten/Kotamadya yang bersangkutan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.
  4. Lembar keempat Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90)dikirim ke Camat yang bersangkutan, minat Pengawas PLKB selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.
  5. BKKBN Kabupaten/Kotamadya setiap bulan merekapitulasi F/II/Kb/90 yang diterima dari klinik KB diwilayah Kabupaten/Kotamadya yang bersangkutan kedalam Rek/F/II/KB/90. Rekapitulasi ini dibuat dalam rangkap tiga masing-masing untuk dikirimkan ke BKKBN Propinsi, Unit Pelaksana Depkes tingkat Kabupaten/Kotamadya, dan Arsip.
    1. Rekapitulasi laporan Bulanan Klinik KB (Rek/F/II/KB/90), dikirim ke BKKBN Propinsi selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.
    2. Lembar kedua Rekapitulasi laporan Bulanan Klinik KB (Rek/F/II/KB/90), dikirim ke Unit Pelaksana KB Depkes di Kabupaten/Kotamadya diwilayah kerjanya selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

10.  BKKBN Pusat (Biro Pencatatan dan Pelaporan)

Menyampaikan umpan balik ke komponen-komponen di BKKBN Pusat, BKKB Propinsi dan Instasi lain di tingkat pusat selambt-lambatnya 2 bulan sesudah bulan laporan.

11.  BKKBN Propinsi di Bidang Bina Program.

Menyampaikan umpan balik kepada BKKBN Kabupaten/Kotamadya di wilayah kerjanya dengan tembusan kepada bidang-bidang lain di BKKBN Propinsi dan instansi terkait di Propinsi selambat-lambatnya 1 bulan sesudah bulan laporan.

  1. CARA-CARA ANALISA

Tujuan dari analisa ini adalah untuk melihat trend (perkembangan dengan cara membandingkan hasil kegiatan pelayanan, kontrasepsi dari bulan kebulan(tahun-ketahun).

Misalnya mengenai :

-          Pencapaian peserta KB dari bulan ke bulan.

-          Komposisi alat kontrasepasi yang dipakai.

-          Perkiraan pencapaian diakhir tahun anggaran

-          Dan lain-lain.