Posts Tagged ‘perdarahan’

Perdarahan pervaginam yang biasa terjadi pada saat menjelang persalinan (trimestre akhir) kehamilan dapat disebabkan  oleh 3 macam yaitu :

A. PLASENTA PREVIA

Pengertian Placenta Previa

Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Wiknjosastro, 2006).

Alasan Placenta Previa harus Dirujuk

Perdarahan pada plasenta previa terjadi tanpa sakit pada saat tidur atau sedang melakukan aktivitas. Mekanisme perdarahan karena pembentukan segmen bawah rahim menjelang kehamilan aterm sehingga plasenta lepas dari implantasi dan menimbulkan perdarahan. Bentuk perdarahan dapat sedikit atau banyak dan menimbulkan penyulit pada janin maupun ibu. Penyulit pada ibu dapat menimbulkan anemia sampai syok. Sedangkan untuk janin dapat menimbulkan asfiksia sampai kematian janin dalam rahim (Manuaba, 1998).

Pengaruh Plasenta Previa

  1. Pengaruh plasenta previa terhadap kehamilan

Karena dihalangi oleh plasenta maka bagian terbawah janin tidak terfiksir ke dalam pintu atas panggul, sehingga terjadilah kelainan letak janin seperti letak kepala mengapung, letak sungsang, letak lintang. Sering terjadi partus prematurus karena adanya rangsangan koagulum darah pada serviks. Selain itu juga banyak plasenta yang lepas, kadar progesteron turun dan dapat terjadi his, juga lepasnya plasenta sendiri dapat merangsang his. Dapat juga karena pemeriksaan dalam (Mochtar, 1998).

  1. Pengaruh plasenta previa terhadap partus.
    1. Letak janin yang tidak normal, menyebabkan partus akan menjadi patologik.
    2. Bila pada plasenta previa lateralis, ketuban pecah atau dipecahkan dapat terjadi prolaps funikuli.
    3. Sering dijumpai inersia primer.

d.  Perdarahan.

3.    Pengaruh plasenta previa terhadap janin.

  1. Lahir prematur.
  2. Infeksi.
  3. Asfiksia berat sampai IUFD.

Komplikasi

  1. Pada ibu
  • Perdarahan pascasalin
  • Syok hipovolemik
  • Infeksi-sepsis
  • Laserasi serviks
  • Plasenta akreta
  • Emboli udara (jarang)
  • Kelainan koagulapati sampai syok
  • Kematian
  1. Pada anak
  • Hipoksia
  • Anemia
  • Prolaps tali pusat
  • Prolaps plasenta
  • Prenaturiotas atau lahir mati
  • Kematian

Cara Merujuk

Penanganan Awal sebelum Dirujuk

Bidan yang menghadapi perdarahan plasenta previa dapat mengambil sikap melakukan rujukan ke tempat pertolongan yang mempunyai fasilitas yang cukup.

Dalam melakukan rujukan penderita plasenta previa sebaiknya dilengkapi dengan:

  1. Pemasangan infus untuk mengimbangi perdarahan.
  2. Sedapat mungkin diantar petugas.
  3. Dilengkapi keterangan secukupnya.
  4. Dipersiapkan donor darah untuk tranfusi darah.

Manajemen Umum

Menurut Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, Sp.OG. (2004), manajemen umum pada plasenta previa adalah sebagai berikut:

  1. Tergantung dari:
    1. Keadaan umum penderita.
    2. Jumlah perdarahan.
    3. Keadaan janin intrauterin.
    4. Upaya preventif:
      1. Memasang infus.
      2. Menyiapkan transfusi darah.
      3. Menyiapkan referal (rujukan) bila di Puskesmas.
      4. Diagnosis pasti:
        1. Pemeriksaan ultrasonografi.
        2. Pemeriksaan dalam di meja operasi.

d. Bila dijumpai di Puskesmas, sebaiknya direferal (dirujuk) ke rumah sakit umum tipe C.

e. Kejadian plasenta previa makin berkurang seiring dengan semakin diterimanya konsep Well Born Baby dan

Well Health Mother.

B. SOLUTIO PLASENTA

Pengertian

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada uterus sebelum janin dilahirkan. Definisi ini berlaku dengan masa gestasi diatas 22 minggu atau berat janin diatas 500 gram. Istilah solusio plasenta juga dikenal dengan istilah abruptio plasenta atau separasi prematur dari plasenta. Plasenta dapat lepas seluruhnya yang disebut solusio plasenta totalis atau terlepas sebagian yang disebut solusio plasenta parsialis atau terlepas hanya pada sebagian kecil pinggir plasenta yang sering disebut ruptur sinus marginalis

Alasan Merujuk

Pelepasan sebagian atau seluruh plasenta dapat menyebabkan perdarahan baik dari ibu maupun janin. Kejadian ini merupakan peristiwa yang serius dan merupakan penyebab sekitar 15% kematian prenatal. 50% kematian ini disebabkan oleh kelahiran prematur dan sebagian besar dari sisa jumlah tersebut meninggal karena hipoksia intrauterin. Terlepasnya plasenta sebelum waktunya menyebabkan timbunan darah antara plasenta dan dinding rahim yang dapat menimbulkan gangguan penyulit terhadap ibu maupun janin

Penyulit terhadap ibu dapat dalam bentuk :

  1. Berkurangnya darah dalam sirkulasi darah umum
  2. Terjadi penurunan tekanan darah, peningkatan nadi dan pernapasan
  3. Penderita tampak anemis
  4. Dapat menimbulkan gangguan pembekuan darah, karena terjadi pembekuan intravaskuler yang diikuti hemolisis darah sehingga fibrinogen makin berkurang dan memudahkan terjadinya perdarahan
  5. Setelah persalinan dapat menimbulkan perdarahan postpartum karena atonia uteri atau gangguan pembekuan darah
  6. Menimbulkan gangguan fungsi ginjal dan terjadi emboli yang menimbulkan komplikasi sekunder
  7. Peningkatan timbunan darah dibelakang plasenta dapat menyebabkan rahim yang keras, padat dan kaku
  8. Penyulit terhadap janin dalam rahim, tergantung luas plasenta yang lepas, dimana dapat menimbulkan asfiksia ringan sampai kematian janin dalam rahim.

Komplikasi

Komplikasi pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dan lamanya solusio plasenta berlangsung.  Komplikasi yang dapat terjadi adalah :

  1. Komplikasi pada ibu
    1. Perdarahan
    2. Variasi turunnya tekanan darah sampai keadaan syok
    3. Perdarahan tidak sesuai dengan keadaan penderita yang anemis sampai syok (waspada perdarahan tersembunyi)
    4. Kesadaran bervariasi dari baik sampai koma
    5. Gangguan pembekuan darah
    6. Masuknya tromboplastin kedalam sirkulasi darah menyebabkan pembekuan darah intravaskuler dan disertai hemolisis
    7. Terjadi penurunan fibrinogen, sehingga hipofibrinogen dapat mengganggu pembekuan darah
    8. Oliguria
    9. Terjadinya sumbatan glomerulus ginjal dan dapat menimbulkan produksi urin makin berkurang
    10. Perdarahan postpartum
    11. Pada solusio plasenta sedang sampai berat terjadi infiltrasi darah ke otot rahim, sehingga mengganggu kontraksi dan menimbulkan perdarahan karena atonia uteri
    12. Kegagalan pembekuan darah menambah beratnya perdarahan

m.  Perdarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah, kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. Bila persalinan telah selesai, penderita belum bebas dari bahaya perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala 3 dan kelainan pembekuan darah. Kontraksi uterus yang tidak kuat itu disebabkan ekstravasasi darah diantara otot-otot miometrium, seperti yang terjadi pada uterus couvelaire.

  1. Komplikasi pada janin
    1. Perdarahan yang tertimbun dibelakang plasenta mengganggu sirkulasi dan nutrisi ke arah janin sehingga dapat menimbulkan asfiksia ringan sampai berat dan kematian janin dalam rahim
    2. Rintangan kejadian asfiksia sampai kematian janin tergantung pada seberapa bagian plasenta telah lepas dari implantasinya si fundus uteri

 

 

Cara Merujuk

Sikap bidan dalam menghadapi solusio plasenta

Bidan merupakan tenaga andalan masyarakat untuk dapat memberikan pertolongan kebidanan, sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun perinatal. Dalam menghadapi perdarahan pada kehamilan, sikap bidan yang paling utama adalah melakukan rujukan ke rumah sakit. Dalam bentuk rujukan diberikan pertolongan darurat :

  1. Pemasangan infus
  2. Tanpa melakukan pemeriksaan dalam/vaginal toucher
  3. Diantar petugas yang dapat memberikan pertolongan
  4. Mempersiapkan donor dari keluarga atau masyarakat
  5. Menyertakan keterangan tentang apa yang telah dilakukan untuk memberikan pertolongan pertama

 

C. RUPTUR UTERI

Pengertian

Terjadinya rupture uteri pada seorang ibu hamil atau sedang bersalin masih merupakan suatu bahaya besar yang mengancam jiwanya dan janinnya. Kematian ibu dan anak karena rupture uteri masih tinggi. Insidens dan angka kematian yang tinggi kita jumpai dinegara-negara yang sedang berkembang, seperti afrika dan asia. Angka ini sebenarnya dapat diperkecil bila ada pengertian dari para ibu dan masyarakat. Prenatal care, pimpinan partus yang baik, disamping fasilitas pengangkutan dari daerah-daerah periver dan penyediaan darah yang cukup juga merupakan faktor yang penting.

Cara Merujuk

  1. Segera hubungi dokter, konsultan, ahli anestesi, dan staf kamar operasi
  2. Buat dua jalur infus intravena dengan intra kateter no 16 : satu oleh larutan elektrolit, misalnya oleh larutan rimger laktat dan yang lain oleh tranfusi darah. ( jaga agar jalur ini tetap tebuka dengan mengalirkan saline normal, sampai darah didapatkan ).
  3. Hubungi bank darah untuk kebutuhan tranfusi darah cito, perkiraan jumlah unit dan plasma beku segar yang diperlukan
  4. Berikan oksigen
  5. Buatlah persiapan untuk pembedahan abdomen segera ( laparatomi dan histerektomi )
  6. Pada situasi yang mengkhawatirkan berikan kompresi aorta dan tambahkan oksitosin dalam cairan intra vena.