Bulan tertusuk ilalang…

Posted: Desember 14, 2009 in cerita berhikmah
Tag:

 

Malam menyelimuti, berganti peran karena takdir hari berputar dengan membawa kebaikan dan kejelekan. Tiada yang menyatakn terjadinya hari itu selain Allah SWT. (AnNajm:58). Selamat tinggal dunia, bagi orang yang dangkal hatinya. Dia sebenarnya sudah mati walaupun masih dianggap hidup. Harapan palsu masih maninggalkan prasangka. Mesti tiada yang lebih indah daripada sekadar harapan dari mata air imajinasi. Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya? (Az-Zumar:36)

Ketika sinar mentari lama pergi menembus malam menjelang senja, akan banyak yang bernafas lega. Sebab, Dialah yang menjadikan malam pakaian, dan tidur untuk istirahat (Al Furqon:47). Tak perlu ada kedustaan, ketika pintu peraduan telah terbuka untuk jangka waktu yang lama. Ketika angin lembut menyapa, menghantarkan setiap insan pada mimpi yang lelap.

Mungkin sepenggal cerita bagi orang-orang yang terjaga, yang menekuri malam untuk mengagungkanNya. Seperti malam itu. Udara sejuk, lembut dan wangi. Sinar rembulan merembes ranting dedaunan, membiaskan cahaya kuning pucat pada kaki seorang lelaki paruh baya. Ia bersandar di bawah setanggul pohon tua. Di matanya denting keletihanhidup pecah bergelombang, lalu melebur membentuk pusara harapan bagi buah hatinya seorang.Ada beragam bacaan kehidupan  yang ditekuri. Ia tak bisa memahami hakikat kata yang aneh dan mustahil. Meski ia dapat menelan kebisuannya bersama daun-daun pohon yang melambai membentuk bayang-bayang aneh menari-nari. Serentak menyenandungkan simfoni ganjil malam hari.

Gadis kecilnya berdiri tak jauh dari situ. Berjalan pelan-pelan, menikmati desir angin yang membelai hamparan ilalang. Ia mengenakan gaun beludru biru pekat berenda putih yang menghiasi kulitnya yang pucat, terpantulkan cahaya bulan. Embun membuat rumput berkilau-kilau. Sepasang kaki mungilnya menjejak dan mendesak-desak, tenggelam di rerumputan yang basah. Sebelum membungkuk dan melepas sepatu hitam yang terbuat dari kulit. Sepatu dipegang erat dengan satu tangannya. Ia tahu kalau ia masuk rumah dengan kaki kotor, seperti biasa ibunya akan marah. Lalu mengeluh,”Betapa susahnya menasehati anak kecil.” Namun ia bangga menjadi anak kecil, karena ia dapat menelan kebisuan tanpa kedustaan.

Jadi malam itu lilin-lilin kedustaan sudah ia padamkan dalam hati. Di ujung sana Ayahnya hanya melihat langkah-langkahnya yang ringan seakan terbang melayang. Entah berkejar dengan apa. Mungkin sesuatu yang tidak terlihat indra, sesuatu yang membuatnya ceria, imajinasi kanak-kanaknya. Ketika ia bertanya:

“Apa Ayah benar-benar melihatnya?

Ayahnya hanya tersenyum, sekalipun ia sebenarnya terperanjat, lalu ia bertanya sambil meneruskan bacaannya.

“Kamu bicara apa, Nak?”

“Bulan itu. Apakah Ayah melihatnya?”

Ia menunjuk ke atas. Ayahnya tersenyum lagi. Karena tak begitu mengerti maksudnya, ayahnya hanya bisa menyahut:

“Ayah tak bisa melihatnya dari bawah pohon.”

“Tak apa,” katanya. “Akan kupindahkan bulan, sehingga Ayah dapat      

  melihatnya.”

Rona wajah Ayahnya berubah dalam sekejap.

”Kamu tidak bisa memindahkan bulan. Ia terlalu tinggi untukmu.”

“Tentu saja aku bisa,”ia bicara dengan keras, menyentak-nyentakkan kakinya ke tanah. Kedustaan macam apa yang dibuat oleh orang dewasa, ketika mereka merasa asing terhadap dirinya sendiri.  Mimpi-mimpi apakah yang dapat menembus wajah-wajah yang renta ini, yang mencari alasan untuk terus bersembunyi atas nama sepotong realita yang selalu menghantui. Realita yang telah membuat mereka kehilangan jati diri.

“Lihat ini,” ia berjalan menyusuri rerumputan sambil menengadah ke langit, yang menurutnya, itu menarik bulan menjauh dari pohon.

“Bulan itu mengikutiku,” ujarnya merasa yakin.

Seketika Ayahnya terhenyak dan berdiri dari duduknya, berjalan menjauhi pohon. Ia menyadari kekeliruannya. Inilah untuk kesekian kali anaknya menunjukkan warna-warni imajinasi dengan pensil keluguan. Ia menatap nanap wajah anaknya.

“Ya, Ayah dapat melihatnya sekarang.”

Senja hari itu indah. Bulan hampir penuh, menyisakan satu sisi yang masih tertutup bayangan.

“Mengapa bulan itu selalu mengikutiku, Yah?” ia bertanya dengan penih percaya diri. Ayahnya tidak menjawab, membisu tertegun gagu. Hanya sebuah tatapan beku yang tenggelam dalam alam bawah sadar yang absurb, seribu jawab membentur dinding-dinding hatinya. Lalu terpantul kembali dan tenggelam ke lubuk hatinya yang terdalam. Ia sadar tidak mungkin menjelaskan logika paradigma pada putri bungsunya yang baru berumur 5 tahun.

Kata Einstein, Jika kau ingin anakmu pintar ceritakan dongeng untuknya, dan jika kau ingin mereka pintar, ceritakan lagi dongeng untuknya.

“Bulan itu menunggu untuk kau tangkap,” jawab ayahnya pada akhirnya. Gadis kecil itu mengerutkan kening, lalu bertanya lagi,

”Apakah aku bisa menangkapnya?”

Ayahnya langsung menyahut,”Tentu saja bisa.” Hhh, bola mata anaknya membulat.

“Benarkah? Bagaimana caranya Yah?

“Coba lihat kemari,” Ayahnya menuntun tangan mungilnya perlahan-lahan. Lihat ilalang-ilalang itu, ia tidak lebih tinggi darimu kan?” ia mengangguk.

“Tapi ilalang itu sanggup menggapai bulan” ayahnya berkata dengan bangga.

“Sini… sini… coba lihat kemari,” lalu ayahnya merunduk dan mengajaknya tenggelam dalam rumpun ilalang yang menjulang. Ia mengikuti saja tanpa sepenuhnya mengerti apa maksud sang ayah.

Tapi, dia tahu sekarang, dia percaya ayahnya. Di sini , di balik rimbunan ilalang ini, ia hanya melihat sepotong bulan di atas langityang kelam, dan ilalang yang menjulur-julur menusuknya dari bawah.

Ayahnya tersenyum dan berkata,”Sekarang kau percaya kan?

Ia menatap wajah ayahnya, seolah membenarkan. Kemudian ayahnya mengajaknya berdiri lagi dan mengangkat tubuhnya yang mungil di bahunya, dan menggendongnya. Dia biarkan gadis kecilnya itu duduk di bahunya untuk beberapa lama, lalu ia berkata:

“Anakku… jika kau besar nanti, kau harus mempunyai sebuah impian. Impian yang tinggi dan tinggi sekali, seperti bulan itu. Seolah-olah engkau tak bisa mencapainya, tapi sebenarnya engkau bisa.”

Gadis kecil itu mengangguk-angguk, entah mengerti atau tidak. Ayahnya melanjutkan,” Nanti, engkau akan melihat banyak orang menyangsikanmu untuk menggapainya. Seperti engkau menyangsikan ilalang itu, tapi percayalah sebenarnyaengkau bisa,” ia berhenti sejenak.

 “Anakku, Ayah tidak tahu berapa lama lagi Ayah bisa  menemanimu dan terus membantumu menggapai impianmu, namun kalaupun nanti kau sendiri, kau harus kuat. Kau harus yakin bahwa kau bisa menggapainya, meski tanpa Ayah. Kau mengerti kan? Coba ulurkan tanganmu ke atas.”

Di atas mereka langit sangat luas, hanya sepotong bulan yang tersisa. Ketika menengadah dan menjulurkan tangan di atas bahu ayahnya, sekali lagi ia tahu ayahnya benar.

“Aku percaya Yah! Aku bisa menangkap bulannya…Aku bisa menangkap

bulannya!!!”

Ia berteriak-teriak kegirangan.

Jauh sebelum semua diungkap, Ayahku telah mengajarkan perspektif dan persepsi. Mengasah ketajaman bashirah hati, menangkap keabstrakan paradigma deklaratif. Dan aku masih tetap di sini melihat bulan, meski tanpa Ayahku. Sama seperti enam belas tahun yang lalu. Bulan yang sama yang kusaksikan di saat kecilku, yang sama yang disaksikan orang di seluruh dunia. Dan mungkin juga disaksikan seseorang yang jauh di belahan bumi sana atau yang dekat di sini.

Bulan terang penuh lingkaran. Cahaya indah menantang kita keluar malam, untuk menatap. Dia sangat memikat, dan aku sungguh tercekat. Hingga terbentur pada sebuah paradigma yang diajarkannya.

Yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana cara kita memandang hidup. Sesuatu yang terlihat tinggi, sebenarnya tidak terlampau tinggi untuk dicapai. Semua tergantung pada sudut mana kita memandangnya, itu pesan Ayah.

Seperti bulan itu, kucoba membaca cerita kehidupan yang dilukis olehnya, saat purnama kuning pucat terangi kami dengan pendar-pendar imajinasi enam belas tahun yang lalu. Biarkan kami bangkit dari tidur kami yang lelap. Melerai mimpi menuai kehidupan. Karena di sana kami menyaksikan : Bulan Tertusuk Ilalang.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s