Pohon Tua

Posted: Desember 14, 2009 in cer-ma 3
Tag:

Suatu ketika di sebuah padang tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya menembus tanah hingga dalam. Pohon itu tampak gagah dibanding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya.

Karena tinggi dan rendahnya pohon itu menjadi tempat hidup beberapa burung di sana. Mereka membuat sarang dan bergantung hidup pada batang-batang pohon itu. Burung-burung itu membuat lubang dan mengerami telur-telur dalam kebesaran pohon itu. Pohon merasa senang mendapatkan teman saat mengisi hari-harinya yang panjang.

Orang-orangpun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah dan berteduh di kerindangan pohon itu. Mereka duduk dan membuka bekal makanan di bawah naungan dahan-dahannya. “Pohon itu sangat berguna,” begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi sang pohon pun merasa bangga mendengar perkataan itu.

Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya berjatuhan. Tubuhnya kini kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu dimilikinya. Burung-burungpun mulai enggan bersarang di sana. Orang yang lewat tak lagi singgah untuk berteduh.

Sang pohon sedih. “Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?” begitu ratap sang pohon hingga didengar seluruh hutan. “Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku agar aku tak perlu merasakan siksaan ini?” sang pohon terus menangis membasahi tubuhnya yang kering.

Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga pada saat pagi menjelang.

“Cittt….. cericit…cit…”

Ah suara apa itu?

“Cittt….. cericit…cit…”

Ternyata ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.

Suara itu semakin keras melengking. Ada anak burung lagi yang baru menetas. Lama kemudian riuhlah pohon itu atas menetasnya burung-burung baru. Satu, dua, tiga…. empat anak burung lahir ke dunia!

“Ah, doaku dijawabnya,”seru sang pohon

Keesokan harinya berterbanglah burung-burung ke arah pohon. Mereka membuat sarang-sarang baru. Ternyata batang kayu yang kering mengundang burung dengan jenis tertentu untuk mau bersarang di sana. Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang kering ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. “Ah, kini hariku makin cerah bersama buung-burung ini,” gumam sang pohon dengan berbinar.

Sang pohon kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuincah. Ada sebatang tunas yang baru yang tumbuh di dekat akarnya.

Sang tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya air mata sang pohon tua itu menumbuhkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya kepada alam.

Begitulah, Allah memang selalu punya rencana-rencana rahasia untuk kita. Allah dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita. Walaupun penyelesaiannya tak selalu mudah di tebak. Yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

Saat dititipkanNya cobaan kepada kita, kita harus ingat akan ada saat lain. Saat Dia memberikan kita karunia yang melimpah. UjianNya bukanlah harga mati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang pohon, sesungguhnya Dia sedang menunda pemberian kemuliaan. Allah tidak menumbangkan pohon itu sebagaimana yang diminta, sebab Dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah sedang menguji kesabaran yang dimiliki sang pohon.

Dan yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkanNya untuk kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah selalu bersama orang-orang sabar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s