ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGI PERSALINAN DENGAN PARTUS PREMATURUS

Posted: Oktober 20, 2010 in askeb IV
Tag:, , , , ,

ASUHAN KEBIDANAN

PERSALINAN PREMATUR

Definisi Persalinan Preterm

Persalinan preterm adalah persalinan yang berlangsung pada umur kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (ACOG 1995).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa bayi premature adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37 minggu atau kurang.

Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI di Semarang tahun 2005 menetapkan bahwa persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu.

 

 

Diagnosis Persalinan Preterm

Sering terjadi kesulitan dalam menentukan diagnosis ancaman persalinan preterm. Tidak jarang kontraksi yang timbul pada kehamilan tidak benar-benar merupakan ancaman proses persalinan. Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman persalinan preterm, yaitu:

  1. Kontraksi yang berulang sdikitnya setiap 7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit
  2. Adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain)
  3. Perdarahan bercak
  4. Perasaan menekan daerah serviks
  5. Pemeriksaan serviks menunjukan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm, dan penipisan 50-80%
  6. Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika
  7. Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal terjadinya persalinan preterm
  8. Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu

ALASAN MERUJUK

Kelahiran preterm merupakan masalah rasional yang multikompleks dan perlu pemecahan yang konseptual. Secara mikro ada program yang komprehensif di tiap klinik untuk mencegah kelahiran preterm. Ibu sebaiknya dirujuk kepada klinik yang mampu menangani resusitasi, stabilisasi, dan perawatan bayi preterm. Kebijakan penanganan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi setempat yang memerlukan evaluasi teus-menerus guna mengurangi mortalitas dan morbiditas bayi preterm.

Bila dijumpai serviks pendek (<1cm) disertai dengan pembukaan yang merupakan tanda serviks matang/inkompetensi serviks, memunyai risiko terjadinya persalinan preterm 3-4 kali.

Efek persalinan preterm tidak bisa dianggap ringan. Pada ibu  dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia karena perdarahan. Plasentitis, dan endometritis pasca persalinan. Misal persalinan preterm  pada ibu yang  penyebabnya perdarahan antepartum, tentu ibu akan melahirkan melalui section sesarea.

Bayi premature dengan tengkorak yang lunak dan daya tahan yang rendah tidak akan mampu menghadapi trauma. Kalau mungkin, kontraksi kuat yang berlebihan dan partus presipitatus harus dihindari. Sayangnya baik bayi maupun uterus tidak siap untuk persalinan yang normal. Sering serviks yang belum matang menambah kesulitan-kesulitan tersebut. Monitoring denyut jantung anak secara terus-menerus merupakan hal yang penting.

Selain itu dampak pada bayi, salah satunya pembentukan organ yang belum sempurna setelah ia dilahirkan. Seperti paru-paru dan saluran cerna yang belum matang. Bayi pun akan mudah mengalami hipotermi (kedinginan), mudah mengalami infeksi dan hipoglikemi (gula darah yang rendah).  Karena itulah, bayi prematur kemungkinan besar akan masuk ICU. Persalinan preterm menyumbang angka kematian pada bayi hingga 65-75%.

Ibu hamil yang mempunyai risiko terjadi persalinan preterm dan/atau menunjukan tanda-tanda persalinan preterm perlu dilakukan intervensi untuk meningkatkan neonatal outcomes.

CARA MERUJUK

Penatalaksanaan

Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada persalinan preterm, terutama mencegah mordibitas dan mortalitas neonates preterm adalah:

  1. Menghambat proses persalinan preterm dengan pemberian tokolisis
  2. Pematangan surfaktan paru janin dengan kortikosteroid
  3. Bila perlu dilakukan pencegahan terhadap infeksi

Menurut FKUI. Kapita Selekta Kedokteran. 2001.

Setiap persalinan preterm harus dirujuk ke rumah sakit. Cari apakah faktor penyulit ada. Dinilai apakah termasuk risiko tinggi atau rendah.

  1. Sebelum dirujuk, berikan air minum 1.000 ml dalam waktu 30 menit dan nilai apakah kontraksi berhenti atau tidak.
  2. Bila kontraksi masih berlanjut, berikan obat takolitik seperti Fenoterol 5 mg peroral dosis tunggal sebagai pilihan pertama atau Ritodrin mg peroral dosis tinggi sebagai pilihan kedua, atau Ibuprofen 400 mg peroral dosis tungga sebagai pilihan ketiga.
  3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan beri dukungan.
  4. Persalinan tidak boleh ditunda bila ada kontraindikasi mutlak (gawat janin, karioamnionitis, perdarahan antepartum yang banyak) dan kontraindikasi relative (gestosis, DM, pertumbuhan janin terhambat dan pembukaan serviks 4 cm).
Komentar
  1. Kacey mengatakan:

    This design is incredible! You definitely know how to keep
    a reader entertained. Between your wit and your videos, I was almost moved to start my
    own blog (well, almost…HaHa!) Great job.
    I really enjoyed what you had to say, and more than that, how you presented it.
    Too cool!

  2. […] dkk.2007.Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGChttp://askebkpddanpersalinanpreterm.blogspot.com/https://khanzima.wordpress.com/2010/10/20/asuhan-kebidanan-patologi-persalinan-dengan-partus-prematur…Soepardan, Suryani.2008. Konsep Kebidanan. Jakarta : EGCPrawirohardjo, S arwono, 2005, Ilmu […]

  3. […] dkk.2007.Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGChttp://askebkpddanpersalinanpreterm.blogspot.com/https://khanzima.wordpress.com/2010/10/20/asuhan-kebidanan-patologi-persalinan-dengan-partus-prematur…Soepardan, Suryani.2008. Konsep Kebidanan. Jakarta : EGCPrawirohardjo, S arwono, 2005, Ilmu […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s