Arsip untuk Januari, 2011

ORGANISASI

a. Nama organisasinya adalah Kerohanian Islam (ROHIS) Al Uswah

Disebut sebagai organisasi karena ROHIS Al Uswah memiliki ciri – ciri dari sebuah organisasi, yaitu :

1.      Adanya suatu kelompok orang yang saling mengenal

ROHIS Al Uswah memiliki 58 pengurus harian yang diambil dari penyeleksian dengan criteria tertentu dan seluruh siswa muslim SMAN 1 Yogyakarta sebagai anggota yang masuk secara otomatis.

2.      Terdapat  program kegiatan yang berbeda-beda, namun masih memiliki keterkaitan antar kegiatannya (interdependent part) yang merupakan kesatuan kegiatan dari ROHIS Al Uswah itu sendiri.

3.      Setiap orang atau bagian dari ROHIS Al Uswah memberikan sumbangan atau kontribusinya berupa; pemikiran, tenaga, dan lain-lain sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang bersangkutan.

4.      Adanya tujuan yang ingin dicapai yaitu

a.       Meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan YME, membina rasa kekeluargaan, persatuan dan kesatuan, persaudaraan serta kerjasama antar siswa.

b.      Menyimpan, membuat dan mempublikasikan informasi Da’wah Islam.

c.       Menyelenggarakan pelayanan, pengkajian dan pelatihan Da’wah Islam yang berkualitas untuk siswa.

d.      Memasyarakatkan Da’wah Islam di Sekolah.

e.       Meningkatkan kreativitas dan ilmu pengetahuan siswa untuk mempersiapkan diri sebagai seorang muslim yang tangguh dan berkepribadian mulia.

f.       Menyalurkan aspirasi siswa.

5.      Adanya kewenangan, koordinasi dan pengawasan,

a.       ROHIS Al Uswah dipimpin dan diurus oleh suatu tim yang bekerjasama terdiri dari Pelindung, Penasehat, Pembimbing, Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris I, Sekretaris II, Bendahara I, Bendahara II, Koordinator Bidang dan anggotanya.

b.      Pengurus ROHIS Al Uswah diangkat untuk jangka waktu 1 (satu) tahun lamanya, tetapi dapat diangkat untuk jangka waktu yang sama, kecuali jabatan Ketua.

c.       Pelindung , Penasehat dan Pembimbing ROHIS Al Uswah diatur dalam ketentuan tersendiri.

d.      Pelaksanaan administrasi ROHIS Al Uswah diurus oleh Badan Pengurus Harian yang terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris I, Sekretaris II, Bendahara I,dan  Bendahara II.

 

b. Tujuan dari organisasi tersebut adalah untuk

1.      Meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan YME, membina rasa kekeluargaan, persatuan dan kesatuan, persaudaraan serta kerjasama antar siswa.

2.      Menyimpan, membuat dan mempublikasikan informasi Da’wah Islam.

3.      Menyelenggarakan pelayanan, pengkajian dan pelatihan Da’wah Islam yang berkualitas untuk siswa.

4.      Memasyarakatkan Da’wah Islam di Sekolah.

5.      Meningkatkan kreativitas dan ilmu pengetahuan siswa untuk mempersiapkan diri sebagai seorang muslim yang tangguh dan berkepribadian mulia.

6.      Menyalurkan aspirasi siswa.

 

c. Prinsip apa sajakah yang ada pada organisasi tersebut?

ROHIS Al Uswah memiliki prinsip-prinsip yang dilaksanakan dalam menjalankan suatu organisasi.

1.      Mempunyai Tujuan yang Jelas.
Organisasi dibentuk atas dasar adanya tujuan yang ingin dicapai, dengan demikian tidak mungkin suatu organisasi tanpa adanya tujuan. Begitu pula dengn ROHIS Al Uswah, memiliki tujuan yang nyata mengenai keberlangsungan dakwah secara kontinyu di lingkungan sekolah, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

2.      Prinsip Pendelegasian Wewenang.
Seorang pemimpin mempunyai kemampuan terbatas dalam menjalankan pekerjaannya, sehingga perlu dilakukan pendelegasian wewenang kepada bawahannya. Seseorang  yang diberi wewenang juga harus dapat menjamin tercapainya hasil yang diharapkan. Dalam pendelegasian, misalnya dari seorang ketua terhadap coordinator bidang dana dan usaha maka wewenang yang dilimpahkan meliputi kewenangan dalam pengambilan keputusan, melakukan hubungan dengan orang lain, dan mengadakan tindakan yang diperlukan guna melaksanakan program yang telah dibentuk sebelumnya.

3.      Prinsip Pertanggungjawaban.
Dalam menjalankan tugasnya setiap pengurus harus bertanggung jawab sepenuhnya atas yang tugas yang telah diemban selama periode kepengurusan yang nantinya akan dilaporkan pada OSIS, pembimbing dan penasehat ROHIS Al Uswah. ROHIS Al Uswah membuat suatu pelaporan lembar pertanggungjawaban setiap selesainya suatu program kerja dan pada akhir kepengurusan sebagai bukti dan dokumentasi atas pertanggungjawaban program kegiatan yang telah disusun dan dijalankan.

4.      Prinsip Pembagian Pekerjaan.
Suatu organisasi, untuk mencapai tujuannya, melakukan berbagai aktivitas atau kegiatan. Agar kegiatan tersebut dapat berjalan optimal maka dilakukan pembagian tugas/pekerjaan yang didasarkan kepada kemampuan dan keahlian dari masing-masing pengurus. Adanya kejelasan dalam pembagian tugas, akan memperjelas dalam pendelegasian wewenang, pertanggungjawaban, serta menunjang efektivitas jalannya organisasi. Pada ROHIS Al Uswah, terdapat pembagian kerja pada masing-masing pengurus yang diuraikan dalam job description.

5.      Prinsip Fleksibilitas
Organisasi harus senantiasa melakukan pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan dinamika organisasi sendiri (internal factor) dan juga karena adanya pengaruh di luar organisasi (external factor), sehingga organisasi mampu menjalankan fungsi dalam mencapai tujuannya. Begitu pula dengan ROHIS Al Uswah, dalam melaksanakan program kerjanya, selalu memperhatikan sumber daya yang tersedia dan kondisi keadaan lingkungan dakwah yang selalu berubah-ubah. ROHIS Al Uswah harus senantiasa memiliki sesuatu yang baru agar dakwah di sekolah masih tetap bisa berjalan.

6.      Prinsip Kepemimpinan.
Dalam organisasi apapun bentuknya diperlukan adanya kepemimpinan, atau dengan kata lain organisasi mampu menjalankan aktivitasnya karena adanya proses kepemimpinan yang digerakan oleh pemimpin organisasi tersebut. ROHIS Al Uswah dipimpin oleh seorang laki-laki yang memiliki kemampuan seorang pemimpin sehingga tujuan ROHIS Al Uswah mengenai dakwah islamiyah dapat tercapai.

 

d. Apakah bentuk organisasi tersebut

Berdasarkan  jumlah orang yang memegang pucuk pimpinan ROHIS Al Uswah termasuk jenis organisasi tunggal, pimpinan berada ditangan satu orang, semua kekuasaan dan tugas pekerjaan bersumber kepada satu orang yaitu ketua ROHIS Al Uswah.  Berdasarkan lalu lintas kekuasaan ROHIS Al Uswah termasuk organisasi lini atau bentuk lurus, kekuasaan mengalir dari pimpinan organisasi langsung lurus kepada para koordinator yang memimpin unit-unit dalam organisasi.  Ketua ROHIS Al Uswah langsung dapat memberikan mandate kepada coordinator bidang.

Berdasarkan pihak yang memakai manfaat ROHIS Al Uswah termasuk  mutual benefit organization, yaitu organisasi yang kemanfaatannya terutama dinikmati oleh anggotanya. Selain itu, ROHIS Al Uswah merupakan organisasi formal, yaitu organisasi yang diatur secara resmi, seperti : organisasi pemerintahan dan organisasi yang berbadan hukum. Dan yng terakhir ROHIS Al Uswah merupakan organisasi sosial atau ‘non profit oriented ‘.

 

 

Iklan

RESUME MANAJEMEN SEPSIS PUERPURALIS

 

Prinsip-prinsip pengelolaan sepsis nifas adalah: kecepatan, keterampilan dan prioritas. Penekanan terletak pada pentingnya bekerja dengan cepat dan menurut. Prioritas dalam mengelola sepsis nifas adalah:

a.       menilai kondisi pasien

b.      memulihkan pasien

c.       mengisolasi sesegera mungkin pasien yang diduga infeksi

d.      mengambil spesimen untuk menyelidiki organisme kausatif dan mengkonfirmasikan diagnosis

e.       memulai terapi antibiotik yang sesuai

Prioritas ini berarti harus dilakukan pertama atau sebelum hal lainnya.

 

Manajemen Umum Sepsis Puerpuralis

1.      Mengisolasi pasien yang diduga terkena sepsis puerpuralis dalam pemberian palayanan kebidanan.

Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran infeksi pada pasien lain dan bayinya. Prinsip-prinsip dasar perawatan sangat penting, seorang bidan harus:

a.       merawat pasien di ruang yang terpisah atau, jika tidak mungkin, di sudut bangsal yang terpisah dari pasien lain

b.      mengenakan alat perlindungan diri saat merawat pasien yang diduga mengalami sepsis puerpuralis, dan melepaskannya saat selesai perawatan; tidak boleh digunakan untuk merawat pasien lain

c.       mencuci tangan dengan cermat sebelum dan sesudah merawat pasien

d.      menyimpan satu set peralatan, piring dan peralatan lainnya secara eksklusif untuk penggunaan pasien yang diduga terkena infeksi sepsis puerpuralis dan memastikan mereka tidak digunakan oleh pasien lain

e.       memastikan bahwa pakaian kotor dibuang dengan hati-hati, misalnya ditempatkan dalam wadah terpisah yang dikosongkan secara teratur dan dibakar

f.       memastikan bahwa linen kotor ditempatkan dalam kantong yang khusus ditandai untuk transportasi ke binatu, di mana ia akan secara khusus ditangani

Bila memungkinkan, bidan / perawat harus dialokasikan untuk perawatan khusus untuk ibu yang terkena sepsis puerpuralis dan bayinya. Selain itu pengunjung harus dibatasi.

 

2.      Pemberian antibiotik

Antibiotik akan diresepkan oleh dokter, jika tidak ada dokter,  bidan harus tahu bagaimana resep dan memberikan obat yang sesuai. Jika undang-undang saat ini  tidak mengizinkan, maka harus segera ditinjau. Pasien akan meninggal karena sepsis puerpuralis jika perawatan tidak memadai atau tertunda. Kecepatan dan keefektifan pengobatan sangat penting untuk mencegah komplikasi yang timbul.

Kombinasi antibiotik diberikan sampai pasien bebas demam selama 48 jam, dan kombinasi antibiotik berikut ini dapat diberikan :

a.       ampisilin 2 g IV setiap 6 jam, dan

b.      gentamisin 5 mg / kg berat badan IV setiap 24 jam, dan

c.       metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam.

Jika demam masih ada 72 jam setelah pemberian antibiotic di atas, dokter akan mengevaluasi dan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat yang lebih tinggi mungkin diperlukan. Antibiotik oral tidak  diperlukan jika telah diberikan antibiotik IV.

Jika ada kemungkinan pasien terkena tetanus dan ada ketidakpastian tentang sejarah vaksinasi dirinya, perlu diberikan tetanus toksoid.

 

3.      Memberikan banyak cairan

Tujuannya adalah untuk memperbaiki atau mencegah dehidrasi, membantu menurunkan
demam dan mengobati shock. Pada kasus yang parah, maka perlu diberikan cairan infus. Jika pasien sadar bisa diberikan cairan oral.

 

4.      Mengesampingkan fragmen plasenta yang tertahan

Fragmen plasenta yang tersisa dapat menjadi penyebab sepsis nifas. Pada rahim, jika terdapat lokhia berlebihan,berbau busuk dan mengandung gumpalan darah, eksplorasi rahim untuk mengeluarkan gumpalan dan potongan besar jaringan plasenta akan diperlukan. Tang Ovum dapat digunakan, jika diperlukan.

 

5.      Keterampilan dalam perawatan kebidanan

Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan pasien dan untuk membantu penyembuhannya. Berikut aspek perawatan yang penting:

  1. Istirahat
  2. standar kebersihan yang tinggi, terutama perawatan perineum dan vulva
  3. antipiretik dan / atau spon hangat mungkin diperlukan jika demam sangat tinggi
  4. monitor tanda-tanda vital, lokhia, kontraksi rahim, involusi, urin output, dan mengukur asupan dan keluaran
  5. membuat catatan akurat
  6. mencegah penyebaran infeksi dan infeksi silang.

Ketika memberikan perawatan bagi pasien, bidan harus menunjukkan pemahaman dan empati pada pasien dan keluarganya. Setiap penurunan kondisi wanita harus segera dilaporkan ke dokter. Rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat yang lebih tinggi akan diperlukan.

 

6.      Perawatan bayi baru lahir

Kecuali ibu sangat sakit, bayi baru lahir bisa tinggal dengannya. Namun, tindakan pencegahan diperlukan untuk mencegah infeksi dari ibu ke bayi. Pengamatan sangat penting untuk mengenali tanda-tanda awal infeksi, karena infeksi pada neonatus dapat menjadi penyebab utama kematian neonatal. Hal yang perlu diperhatikan :

  1. Mencuci tangan : jika ibu cukup baik kondisinya, penting untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi baru lahir
  2. Menyusui: jika ibu cukup baik, menyusui bisa diteruskan. Jika ibu sangat sakit, dikonsultasikan dengan medis praktisi yang mengkhususkan diri dalam perawatan bayi baru lahir.
  3. Ibu sangat sakit: jika tidak mungkin bagi bayi baru lahir dirawat oleh ibu, saudara dekat mungkin tersedia bagi merawat bayi sampai ibu cukup baik. Namun, harus ditekankan bahwa karena bayi yang baru lahir juga berisiko dalam mengembangkan infeksi.

 

 

 

 

7.      Manajemen lebih lanjut

Jika tidak ada perbaikan dengan manajemen umum peritonitis di ata, laparotomi akan dilakukan untuk mengalirkan nanah. Jika uterus nekrotik dan sepsis, mungkin diperlukan histerektomi subtotal.

 

8.      Mengelola komplikasi

Pasien yang mengalami komplikasi peritonitis, septicemia dan abses, harus dirujuk segera ke fasilitas kesehatan tingkat yang lebih tinggi untuk pengelolaan lebih lanjut setelah perawatan darurat.

 

a.       Peritonitis

Adalah peradangan pada peritoneum.

Diagnosis:
Radang selaput perut dan / atau beberapa abses di perut dapat terjadi pada pasca sectio caesarea, rupture uteri atau merupakan komplikasi sepsis nifas.
Gejala :

1)      Demam / menggigil

2)      Nyeri abdomen

3)      perut buncit 3-4 hari

4)      Mual / muntah

5)      Anorexia

6)      Tidak ada suara usus

7)      Shock.

Manajemen peritonitis umum:

Berikan antibiotik dosis pertama IV.

Mengatur infus IV dan segera rujuk.

b.      Septicaemia (keracunan darah)

Septicaemia adalah adanya bakteri dalam aliran darah.

Diagnosis:

1)      Demam / menggigil

2)      Nadi cepat

3)      Wanita sangat sakit

4)      Terjadi delirium

5)      Penyakit kuning mungkin berkembang.

Manajemen septicaemia:

Berikan antibiotik dosis pertama IV.

Mengatur infus IV dan segera rujuk.

c.       Abses
Diagnosis:

1)      sakit perut pada perut bagian bawah dan distensi

2)      Demam dan menggigil

3)      Kontraksi rahim lemah

4)      Tidak ada respon terhadap antibiotik

5)      Pembengkakan pada adneksa atau Kantung Douglas pada pemeriksaan vagina

6)      Terdapat pus saat culdocentesis.

Manajemen abses:

Berikan antibiotik dosis pertama IV

Mengatur infus IV dan segera rujuk

 

9.      Mengelola Infeksi Perineum dan Luka Abdominal

Gejala dan tanda-tanda luka abses, seroma atau hematoma :

a.       Biasanya luka berdarah atau serius

b.      Sedikit eritema (kemerahan) meluas pada luar sayatan / tepi sayatan.

Manajemen :

Jika ada nanah atau cairan, luka harus dibuka dan dikeringkan, kemudian luka dibalut
dan harus diganti setiap 24 jam. Pada luka perineum, kebersihan harus selalu dijaga. Analgesik dapat diberikan, sesuai kebutuhan. Pantau tanda-tanda vital.

Jika ada luka pada selulitis dan fasciitis necrotising, tetapi infeksi superficial, maka perlakukan seperti di atas, dan juga memberikan antibiotik:

a.       ampisilin 500 mg melalui mulut 4 kali sehari selama 5 hari,

b.      metronidazol 400 mg melalui mulut 3 kali sehari selama 5 hari.

Amati untuk pengembangan abses. Jika infeksi dalam, melibatkan otot dan menyebabkan nekrosis (Necrotising fasciitis), maka berikan antibiotik kombinasi sampai jaringan nekrotik telah hilang dan pasien bebas demam selama 48 jam. Berikan antibiotic berikut :

a.       penisilin G2 juta IV setiap 6 jam, dan

b.      gentamisin 5 mg / kg berat badan IV setiap 24 jam, dan

c.       metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam

Ketika pasien bebas demam selama 48 jam, berikan:

a.       ampisilin 500 mg melalui mulut 4 kali per hari selama 5 hari,

b.      metronidazol 400 mg melalui mulut 3 kali per hari selama 5 hari.

Pengobatan di fasilitas kesehatan tingkat yang lebih tinggi akan diperlukan, karena necrotising fasciitis memerlukan operasi debridement (yaitu pengangkatan dari semua jaringan yang terkontaminasi hingga jaringan sehat tumbuh). Dressing luka perlu sering diganti, setidaknya dua kali sehari. Setelah 2-4 minggu, atau bila infeksi jelas, dokter akan melakukan penutupan luka sekunder.

 

10.  Chorioamnionitis

gejala dan tanda-tanda :

a.       demam / menggigil

b.      keluar cairan berbau busuk setelah 22 minggu

c.       sakit perut

d.      sejarah hilangnya cairan

e.       rahim lembek

f.       denyut jantung janin cepat

g.      perdarahan pervaginam

Manajemen :

Merujuk pasien harus dilakukan sesegera mungkin. Ibu dan bayi yang dikandungnya, keduanya dalam bahaya, dan bisa kehilangan nyawa mereka, harus segera dilakukan :

a.       memberikan cairan IV lewat infus

b.      memberikan antibiotik : ampisilin 2 g setiap 6 jam dan Gentamisin 5 mg/kgBB setiap 24 jam.

c.       memberikan antipiretik

d.      memantau tanda-tanda syok

e.       merujuk pasien sesegera mungkin ke tingkat fasilitas kesehatan yang lebih tinggi di mana terdapat pelayanan obstetric dan gynekologi. Mendampingi saat merujuk dan mempersiapkan resusitasi bayi selama merujuk.

Jika serviks baik, (yaitu lembut, tipis dan sebagian melebar), akan diinduksi.
Jika serviks kurang baik (yaitu tebal, tertutup),  mungkin matang dengan prostaglandin, dan tenaga kerja diinduksi dengan oksitosin atau wanita akan disampaikan melalui operasi caesar.

Pencegahan :

Menyarankan semua wanita hamil untuk mencari bantuan medis segera setelah keluar lendir darah atau cairan dari jalan lahir. Jika selaput ketuban pecah dan  tidak mengalami kontraksi, kurangi melakukan pemeriksaan vagina. Jika persalinan tidak dimulai dalam waktu 18 jam setelah selaput ketuban pecah, berikan antibiotik profilaksis, sebagai berikut:

a.       ampisilin 2 g IV setiap 6 jam, dan

b.      gentamisin 5 mg / kg berat badan IV setiap 24 jam

Hentikan antibiotik setelah persalinan pesrvaginam, jika persalinan dengan operasi caesar, berikan metronidazol IV 500 mg tiap 8 jam. Antibiotik diteruskan sampai pasien bebas demam selama 48 jam.

11.  Manajemen tetanus

Pengelolaan sepsis nifas karena tetanus. Segera rujuk ibu ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.
Sambil menunggu transportasi atau dalam perjalanan ke rumah sakit :

a)      usahakan pasien dalam posisi berbaring miring

b)      menjaga jalan napas terbuka

c)      memberikan diazepam 10 mg IV perlahan selama 2 menit, kontrol kejang dan mengurangi kemungkinan kejang

d)     mengatur infus IV, jangan berikan cairan dari mulut

e)      memberikan antibiotik, penisilin benzil 2 juta unit IV setiap 4 jam selama 48 jam, diikuti dengan ampisilin 500 mg melalui mulut 3 kali sehari selama 10 hari

f)       memberikan antitoksin tetanus, 3 000 unit IM.

 

 

2010 in review

Posted: Januari 26, 2011 in only for news

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

The average container ship can carry about 4,500 containers. This blog was viewed about 18,000 times in 2010. If each view were a shipping container, your blog would have filled about 4 fully loaded ships.

 

In 2010, there were 61 new posts, growing the total archive of this blog to 105 posts. There were 8 pictures uploaded, taking up a total of 603kb.

The busiest day of the year was December 16th with 292 views. The most popular post that day was ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL DENGAN DIABETES MELLITUS .

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were id.wordpress.com, google.co.id, liputan-terkini.co.cc, sekilasberita.com, and lowongankerjabaru.net.

Some visitors came searching, mostly for iugr, makalah tetanus neonatorum, pembinaan akseptor kb melalui konseling, isu moral dalam kebidanan, and pencatatan dan pelaporan pelayanan kb.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL DENGAN DIABETES MELLITUS October 2010

2

makalah etika profesi dan hukum kesehatan January 2010

3

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN pada BAYI dengan TETANUS NEONATORUM March 2010

4

makalah isu moral January 2010

5

IUGR March 2010
1 comment