Arsip untuk Februari 21, 2011

malam ini aku duduk di pinggir jendela menatap langit yang sedang menangis melihat congkaknya manusia bumi.yah, terkadang manusia bumi jarang sekali menatap ke langit, pelindung manusia itu sendiri dari segala ancaman benda angkasa yang otomatis pasti lebih digdaya jika dibandingkan dengan manusia bumi. menangis sekaligus  memberi sumber kehidupan bagi makhluk lain di bumi ini yang keberadaannya mungkin tidak diperhatikan lagi oleh manusia bumi. makhluk lain yang bisa hidup berdamai dengan bumi itu sendiri yang merupakan tempat terbaik bagi kelangsungan hidup apapun.

hujan sudah turun sejak tadi sore diawali dengan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. berbeda sekali dengan sekarang. tadi siang, matahari memanggang isi bumi dengan garangnya. meluluhlantakkan seluruh keringat di dalam tubuh sehingga harus mengucur dengan derasnya. bahkan berhenti barang 30 detik di lampu merah saja serasa sudah bermenit-menit lamanya. apalagi kalau ditambah berada di belakang bus tua tanpa pakai alat perlindungan diri seperti jaket dan slayer..beuh,,rasanya mantab kali tu.

tapi sekarang berbeda. ada angin kesejukan disini. ada suara-suara merdu keindahan alam mengiringi. ada aroma aroma surgawi yang menggelayuti. duduk di pinggir jendela ini pun serasa nyaman sekali. yah, walaupun bisa jadi besok harus bersin-bersin tanda2 flu dan masuk angin,hehee. tapi tetap saja, aku masih merasa betah untuk berlama-lama di tempat ini. aku bukan orang yang pandai bercerita, tapi aku cukup tahu cara menikmati malam ini. hanya dengan begini saja aku sudah turut merasakan ketenangan yang dianugrahkan langit pada isi bumi.

“nduk, masuk aj, dingin to disitu?!” kata emak.

“iya mak, sebentar lagi.” sahutku.

emak memang selalu khawatir dengan kondisiku. mungkin bagi orang lain itu agak ribet. tapi tidak bagiku. karena aku melihat, itu adalah wujud rasa cinta dan kasihnya padaku. lagipula aku ini anak emak satu-satunya. siapa yang akan mengurus beliau kalau aku sakit. emak sudah cukup tua dan kadang sakit-sakitan. bapak sudah pensiun 5 tahun yang lalu, sekarang nganggur di rumah dan tidak berpenghasilan. dengan kondisi ini, tinggal aku lah anak satu-satunya yang bisa dijadikan harapan sebagai tulang punggung keluarga. kebutuhan hidup yang hanya bisa kupenuhi memang tidak banyak. 3 anggota keluarga yang hidup sederhana. tapi dengan gaji kecilku sebagai guru di sebuah TK kecil di pinggiran kota ini, aku merasa sudah pas-pasan. belum lagi kalau ada salah satu dari kita sakit, benar-benar harus menekan biaya hidup yang lain agar bisa pergi berobat.

“nduk, besok kamu berngkat jam berapa ngajarnya? ” tanya emak sambil melipat baju cucian yang kemarin aku cuci. emak selalu begitu, mengerjakan sebagian pekerjaan rumah tangga yang seharusnya jadi tanggungjawabku.

“besok,, sperti biasanya mak. jam setengah6 berangkat.kan mampir dulu di tempatnya bulik buat nyetor jahitan. jadi g terburu mak. memangnya kenapa mak?” aku tahu emak pasti ingin membutuhkan sesuatu, entah itu bantuanku atau apapun. tanganku meraih cucian yang dilipati emak. memang baju di rumah ini jarang yang distrika. tagihan listrik jaman sekarang semakin menggila saja. jadi untuk setrika pun harus dibatasi. cuma untuk baju-baju tertentu saja. diniatkan agar tagihan listrik dapat seminimal mungkin.

“oh, gitu. besok tolong mampir juga ketempatnya cak min ya nduk. pesen daging sapi satu kilo. emak besok lusa mau masak agak gedhe dikit. itung-itung syukuran kamu udah kerja sekarang.” dengan raut muka letih, namun masih bercahaya mata teduh itu, emak berkata dengan semangat. emak memang begitu. dengan keikhlasannya walau hidup pas-pasan, emak selalu memikirka untuk berbagi. aku serasa malu tidak bisa seperti emak yang ikhlas meski kadang harus menahan keinginan pribad.

“iya mak. besok endah akan ke tempat cak min buat minta pesenan emak. ada lagi yang lain mak?”

“udah, itu aja, emak besok pagi-pagi ke pasar kog. cari kebutuhan yang lain.berhubung rumah cak min itu berlawanan arah ma pasar makanya emak minta tolong sama kamu.”

“iya mak. sekarang emak istirahat aja. besok biar g kecapean. kan besok ke pasarnya juga pagi-pagi to mak.” aku sudah tidak kuasa melihat mata emak yang sedari tadi sudah menahan rasa kantuk nya yang bekerja di rumah seharian.

“iya nduk, sebentar lagi. nanggung ini.” jawaban emak sama dengan jawabanku saat diminta melakukan sesuatu tapi nekat untuk meneruskannya meski agak beresiko. yah, namanya juga ibu anak. pasti ada lah sifat-sifat yang menurun dari ibu ke anaknya.

“mak, biar endah yang nyelesein. emak istirahat aja ya. nanti kecapean, emak kan harus jaga kesehatan. emak istirahat saja ya?” rengek ku pada emak. dan biasanya cara ini cukup ampuh untuk membuat emak melakukan apa yang aku mau.

“ya sudah, kamu selesekan ini trus langsung tidur ya. besok kamu berangkat pagi lo. ingt tu!” emak selalu mewanti-wanti aku juga untuk selalu istirahat. menenangkan memang mempunyai emak yang sebaik dan sesabar serta seperhatian dengan emak. terima kasih Tuhan telah memberikan emak untuk menjadi emakku saat ini. ia adalah wanita yang sangat tegar, kuat, tangguh, dan penyayang bagi anaknya.

“iya emak.” sahutku sambil terus melipat sisa baju yang sudah sedari tadi berpindah tempat hingga mampir di pangkuanku saat ini.

emak beranjak dari kursi tua panjang di ruangan itu dan bergegas ke kamarnya sendiri. bersiap untuk merebahkan diri. merecharge ulang kembali tenaga yang sudah terkuras hari ini.

 

 

#tobe continued…

 

Iklan