Mycobacteria

Posted: September 13, 2011 in mikrobiologi

MYCOBACTERIA

Mycobacteria adalah golongan bakteri berbentuk batang, tidak membentuk spora, bersifat aerob. Tak mudah dibedakan pewarnaan, akan tetapi jika telah diberi pewarnaan, akan sukar dilunturkan dengan asam dan alkohol. Oleh karenanya Mycobacteria disebut pula bakteri tahan asam atau disingkat BTA. Mycobacteria dapat dikelompokkan menjadi golongan saprofit dan golongan patogen.

 

Mycobacterium Tuberculosis

 

  1. A.      Morfologi dan Identifikasi
  1. Bentuk: Mycobacterium Tuberculosis atau basil tbc berbentuk batang lurus atau agak bengkok berukuran 0,2 – 0,4 X 1 – 4 mikron, berpasangan atau mem­bentuk kelompok kecil. Ukuran tersebut tergantung pada lingkungan pertum­buhan, sehingga kadang-kadang berbentuk filamen panjang dan bercabang.

Pewarnaan untuk basil tbc dapat dilakukan dengan pengecatan Ziehl-­Neelsen, atau pengecatan dengan zat warna fluoresensi (auramin-rhodamin). Cara-cara pengecatan tersebut berdasar atas sifat tahan asam Mycobacteria. Sifat tahan asam ini menggambarkan adanya asam mycolat atau adanya membran semipermeabel. Keadaan tersebut berkaitan dengan keutuhan sel dan merupakan sifat dinding sel. Wama pengecatan dapat merata dapat granuler. Pada M.tuberculosis pewamaan Bering tampak pecah-pecah sedang pada M.bovis pewamaan lebih merata. Much (1907) menemukan granula pada basil tbc yang bersifat tidak tahan asam tetapi bersifat gram positif.

  1. Penanaman: Basil ini tumbuh lambat, waktu generasi in vitro antara 14 -15 jam. Koloni tampak setelah lebih kurang 2 minggu bahkan kadang-kadang setelah 6-8 minggu. Suhu optimum 37°C dan tidak tumbuh pada suhu kurang dad 25°C atau lebih dad 40°C. pH optimum antara 6,4 – 7,0. M.tuberculosis obligat aerobe sedang M.bovis pada isolasi primer bersifat mikroaerofilik, tetapi pada subkultur bersifat aerobe. Medium padat yang biasa banyak dipergunakan adalah medium LowensteinAensen.
  2. Pertumbuhan khusus: pada suatu medium, M.tuberculosis tumbuh rapat, dan pertumbuhan semacam ini dinamakan pertumbuhan yang eugonik. Sedang pertumbuhan M.bovis adalah jarang-jarang dan dinamakan pertumbuhan yang digonik.

Pada medium padat, M.tuberculosis membentuk koloni kering, kasar, menon­jol, tidak teratur dengan permukaan berkeriput. Wama koloni mula-mula putih krem, kemudian menjadi kekuning-kuningan yang akhimya menjadi suram, Koloni-koloni sangat lekat dan sukar dibuat emulsi. Sebaliknya M.bovis, mem­bentuk koloni datar, licin, lembab, berwarna putih. Mudah hancur jika disentuh. Pada medium cair, strain virulen membentuk semacam tali yang menjalar, sedang strain avirulen tumbuh menyebar. Walaupun demikian “cord factor” sendiri bukanlah faktor yang menentukan virulensi. “Cord factor” terdiri dari dua molekul asam mycolat yang dirangkaikan pada satu molekul trehalose, dan terdapat pula pada beberapa spesies mycobacteria yang apathogen. Basil tbc dapat tumbuh pada embryo ayam dan pada biakan jaringan.

  1. Sifat-sifat.
  1. Ketahanan hidup. Mycobacteria tidak tahan terhadap panas, akan mati pada pemanasan 60°C selama 15 – 20 menit. Ketahanan hidupnya di­pengaruhi oleh keadaan sekitamya. Biakan dapat mati jika terkena sinar matahari langsung selama 2 jam, tetapi jika masih berada dalam sputum dapat bertahan 20 – 30 jam. Basil yang berada dalam percikan-percikan bahan masih dapat bertahan hidup selama 8 – 10 hari. Biakan basil ini dalam temperatur kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari suhu -20°C selama 2 tahun.

Mycobacteria tahan terhadap berbagai khemikalia dan desinfektan antara lain phenol 5%, asam sulfas 15%, asam nitrat 3% dan NaOH 4%. Basil ini dihancurkan oleh jodium tinctur dalam 5 menit, dengan alkohol 80% akan dihancurkan dalam waktu 2-10 menit.

  1. Reaksi biokimiawi

1)        Uji niasin. Dalam medium yang mengandung telor, basil tbc tipe human tumbuh dan membentuk niasin. Larutan cyanogen bromide 10%, anilin 4% dalam alkohol 96% jika ditambahkan pada suspensi biakan basil tbc di atas akan memberikan warns kuning gading. Keadaan demikian dinamakan reaksi uji niasin positif. Mycobacteria yang lain umumnya memberikan hasil uji niasin negatif. Kecuali M.simiae dan beberapa strain dari M.cheloneli.

2)        Uji aryl sulfatase. Enzim aryl sulfatase dihasilkan oleh Mycobacteria atipikal. Basil ini ditanam pada medium yang mengandung tripo­tassium phenolphthelin disulfat 0,001 M. NaOH 2 N diteteskan tetes demi tetes pada koloni pertumbuhan. Reaksi positif jika wama koloni menjadi pink.

3)        Uji merah netral. Strain basil tbc yang virulen mampu mengikat merah netral dalam larutan buffer alkali, sedang strain yang avirulen tidak mampu.

 

  1. B.      Struktur Antigen

Di dalam darah penderita tbc terdapat berbagai macam antibodi untuk mela­wan antigen-antigen polisakharid, protein dan fosfatid. Adanya antigen poli­sakharid dapat ditunjukkan dengan reaksi yang mempergunakan eritrosit yang telah tersensitized. Antigen protein dapat diperiksa dengan reaksi yang mem­pergunakan eritrosit yang dilapisi protein dan difiksasi. Sedang adanya antigen fosfatid dapat diperiksa dengan uji aglutinasi fosfatida kaolin.

 

  1. C.      Produk Intraseluller

Ada beberapa macam antigen pada Mycobacteria. Spesifisitas group diten­tukan oleh antigen polisakharid. Spesifisitas tipe ditentukan oleh antigen protein. Infeksi oleh basil tbc akan diikuti dengan timbulnya reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap suatu antigen protein yang dinamakan pula tuberkulin. Produk lain yang penting dari Mycobacteria adalah niacin dan berbagai enzim seperti aryl sulfatase, katalase, peroksidase.

 

  1. D.      Patogenesis

Proses patologik tuberkulosis yang penting adalah terbentuknya lesi khan disebut tuberkel pada jaringan terinfeksi. Tuberkel adalah suatu granuloma avaskuler; tersusun atas:

a)      Daerah central: mengandung sel raksasa dengan atau tanpa nekrosis yang mengalami kaseasi, dikelilingi oleh sel-sel epiteloid.

b)      Daerah perifer: terdiri dari limfosit dan fibroblast. Dasar virulensi basil tbc belum diketahui dengan pasti, oleh karena basil tbc tidak mengandung atau memproduksi toksin. Berbagai komponen basil tbc mempunyai aktivitas biologic berbeda yang berpengaruh pada proses penyakit dalam hal patogenesis, alergi dan imunitas.

 

  1. E.      Patologi

M.tuberculosis dan M.bovis keduanya patogen bagi manusia. M.tuberculosis sangat infeksius pada marmut juga patogen pada beberapa binatang lain, tetapi tidak patogen pada kelinci. M.bovis sangat infeksius pada kelinci juga patogen bagi beberapa jenis binatang lain terutama temak. Beberapa species Mycobac­teria atipikal ada yang menyebabkan sakit pada manusia.

Lesi jaringan oleh basil tbc pada dasamya ada dua tipe, tipe eksudatif dan tipe produktif. Tipe eksudatif adalah suatu rekasi radang akut; terjadi udema sel leukosit polimorfonuklear, kemudian monosit terkumpul di sekeliling basil tbc yang bersarang di tempat itu. Lesi ini kemungkinan sembuh sempuma, nekrosis jaringan, atau berkembang menjadi tipe produktif.

Tipe produktif ditandai timbunan sel radang di sekitar basil. Lesi ini tersusun alas banyak tuberkel yang kemudian membesar, atau mengelompok, atau mencair dan mengalami proses kaseasi.

Pada tipe anak-anak, infeksi primer mengarah pada bentuk lesi yang disebut kompleks primer, berupa fokus subpleural pneumonia tuberkulosis parenchym paru (fokus Ghon) yang biasanya terdapat pada lobus inferior atau bagian bawah lobus posterior paru, bersama-sama dengan pembesaran kelenjar limfe di daerah tersebut. Tuberkulosis tipe dewasa umumnya akibat aktifasi kembali infeksi primer (infeksi endogeny, atau infeksi ulang (infeksi eksogen). Lesi tipe ini mung­kin mengalami penyembuhan dengan resorbsi, atau fibrosis, atau kadang-kadang kalsifikasi. Dapat jugs berkembang menjadi tuberkulosis kronik dengan pemben­tukan tuberkel, kaseasi, kavitasi dan mengeluarkan sputum yang mengandung basil tbc (tuberculosis terbuka). Pada orang dewasa jarang terjadi infeksi yang akut dan fatal..LM 14.

 

  1. F.       Gejala Klinik

Gejala umum tuberkulosis antara lain badan lemah, mudah capai, berat ba­dan menurun, demam, jika tbc paru maka ditambah dengan gejala batuk kronis, dapat pula terjadi hempotoe. Adanya basil tbc dalam sirkulasi darah menun­jukkan terjadinya tuberkulosis milier yang berarti banyak lesi pada berbagai organ. Dan keadaan ini menunjukkan mortalitas yang tinggi.

 

  1. G.      Diagnosa Laboratorik

Bakteriologik. Bahan pemeriksaan untuk tbc paru terutama adalah sputum. jika sukar mendapatkan sputum, dapat dilakukan dengan usapan larynx atau cairan kurasan lambung. Pelepasan basil tbc dalam sputum kadang-kadang ber­henti, kemudian dilepaskan lagi. Oleh karenanya pengambilan bahan dan peme­riksaan sebaiknya dilakukan sedikitnya 3 hari berturut-turut. Bahan (sputum) ditampung dalam botol bermulut lebar.

 

Cara pemeriksaan

  1. 1.        Mikroskopik:

1)      Pemeriksaan langsung. Bahan pemeriksaan dibuat sediaan apus pada gelas bends yang barn dan bersih. Sediaan yang telah kering, dilakukan pengecatan menurut cara Ziehl-Neelsen. Mula-mula digenangi dengan Ziehl-Neelsen A (carbon-fuchsin) dan dipanaskan tidak sampai mendidih tetapi tampak ads asap, selama 5 – 7 menit. Dicuci dengan air dan dila­kukan dekolorisasi dengan Ziehl-Neelsen B (larutan 3% HCI pekat dalam alkohol 95%) sampai wama hilang. Setelah dicuci, dicat dengan wama kontras Ziehl-Neelsen C (biro methylen 0,2%). Setelah dicuci dan kering diperiksa di bawah mikroskop perbesaran 100 kali. Basil tbc atau basil tahan asam (BTA) tampak bentuk batang tak rats berwama merah di atas dasar biru. jika di bawah mikroskop tampak adanya basil tahan asam, maka cliperkirakan sedikitnya ada 10.000 basil tahan asam dalam tiap 1 ml sputum.

Hasil positif dapat diberi graasi:

3 +, jika pada setiap lapangan penglihatan tampak 10 basil tahan asam atau lebih.

2 +, jika dalam satu sediaan tampak 10 basil tahan asam atau lebih.

1 +, jika dalam satu sediaan tampak 3-9 basil tahan asam. Jika dalam satu sediaan hanya tampak basil tahan asam 1 – 2, hasil ditulis positif dengan menyebutkan jumlah basil tahan asam yang tampak.

2)      Cara homogenisasi dan konsentrasi. Di samping untuk maksud penge­catan, cara ini jugs untuk pembiakan dan percobaan binatang. Ada bebe­rapa cara homogenisasi dan konsentrasi, di antaranya adalah cara Petroff: sputum ditambah 4% NaOH dengan volume sama, kemudian dieram 37°C selama lebih kurang 20 menit, dan tiap kali dikocok, sampai jernih (proses homogenisasi). Diputar 3000 putaran per menit selama 30 menit (konsentrasi). Endapannya dinetralkan dengan HCI 0,1 N, dan siap dila­kukan untuk pembiakan atau untuk percobaan binatang.

  1. 2.        Biakan (kultur):

Biakan cukup sensitif untuk deteksi basil tahan asam yang hanya 10 -100 basil per ml sputum. Bahan yang sudah dilakukan homogenisasi dan kon­sentrasi diinokulasikan pada perbenihan (medium) Lowenstein-Jensen. Dieram pada suhu 37°C. Jika pemeriksaan mikroskopik positif, dilakukan uji kepekaan terhadap berbagai obat tuberkulostatika. Pertumbuhan pada perbenihan diamati setelah 4 hari, mungkin ada golongan “rapid grower”, atau golongan jamur, atau ada kontaminasi. Setelah itu diamati sedikitnya seminggu sekali. Hasil negatif clitetapkan setelah pengamatan selama 8-12 minggu tidak ada pertumbuhan.

 

  1. H.      Imunitas dan Hipersensitivitas

Infeksi basil tbc memungkinkan timbulnya reaksi imunitas dan reaksi hipersensitivitas tipe lambat (alergi). Kedua reaksi tersebut merupakan imunitas seluler. Imunitas humoral tidak mempunyai relevansi terhadap perjalanan penyakit. Pada orang yang tidak mempunyai imunitas seluler, basil tbc dapat berbiak dalam fagosit dan menghancurkannya. jika mempunyai imunitas seluler, sel-sel T yang telah diaktifkan mengeluarkan limfokin yang dapat mengubah fagosit menjadi bersifat bakterisidal. Adanya reaksi imunitas dan hipersensitivitas

tampak pada fenomen Koch. Fenomen Koch dapat ditunjukkan dengan 2 macam marmut:

  1. Marmut sehat disuntik subkutan dengan basil tbc yang virulen. Benjolan di tempat suntikan akan timbul setelah 10 – 14 had yang kemudian pecah membentuk ulcus. Ulcus ini akan tetap ada sampai marmut tersebut akhimya mati.
  2. Marmut yang telah terinfeksi tbc 4 – 6 minggu sebelumnya, disuntik subkutan dengan basil tbc. Benjolan di tempat suntikan timbul dalam 1 atau 2 hari. Hari berikutnya benjolan tersebut ulcus yang dengan cepat akan sembuh.

Dengan demikian tampak bahwa fenomen Koch mempunyai tiga unsur pokok, reaksi lokal, respons fokal dan respons sistemik.

Proses alergi timbul tidak hanya oleh infeksi basil virulen, tetapi dapat timbul jugs oleh suntikan basil yang telah dilemahkan atau yang sudah mati. Untuk me­ngetahui adanya proses alergi dapat dilakukan dengan suntikan tuberkuloprotein (tuberkulin), yang dikenal dengan test (uji) tuberkulin. Alergi oleh tuberkulin adalah reaksi hipersensitivitas tipe lambat.

 

Uji tuberkulin

1)      Bahan:

  1. Old tuberculin (OT), adalah filtrat pertumbuhan basil tbc 6 minggu dalam medium cair, yang kemudian dipekatkan. Selain tuberkuloprotein, bahan ini. mengandung pula berbagai bahan lain dari basil tbc dan dari medium.
  2. PPD (purified protein derivative), diperoleh dengan proses fraksionasi OT secara kimiawi. PPD kini banyak digunakan, telah clibakukan secara inter­nasional dengan saloon “tuberculin units” (TU).

Kekuatan tuberkulin dibedakan menjadi

  1. Kekuatan pertama adalah 1 TU
  2. Kekuatan kedua adalah 250 TU
  3. Kekuatan antara adalah 5 TU

 

2)      Dosis tuberkulin:

Yang biasa diberikan adalah 5 TU, terhadap orang yang sensitif, maka diberikan 1 TU. Jika pada pemberian 5 TU menunjukkan reaksi negatif, dapat diberikan dengan 250 TU. Pemberian dilakukan intrakutan dalam volume 0,1 ml.

 

3)      Reaksi terhadap tuberkulin:

Orang yang belum pemah kontak dengan mycobacteria, tak ada reaksi terhadap tuberkulin. Orang sudah pemah mendapat infeksi primer dengan basil tbc, dalam 24-48 jam akan timbul reaksi yang sangat kuat dengan adanya indu­rasi, edema, eritema, bahkan dapat terjadi nekrosis di tengah-tengah tempat sun­tikan. Reaksi tersebut hares dibaca dalam waktu 48-72 jam. Hasilnya dinyatakan positif jika pada penyuntikan dengan 5 TU memberikan indurasi dengan dia­meter 10 mm atau lebih. Pada reaksi yang kuat, indurasi tidak hilang sampai beberapa hari. Sedang pada reaksi yang lemah akan menghilang lebih cepat.

 

4)      Interpretasi uji tuberkulin:

Uji tuberkulin positif menunjukkan bahwa seseorang pemah terinfeksi oleh mycobacteria dan hasil itu masih ada dalam suatu jaringan tubuh. Hal ini tidak berarti bahwa orang tersebut menderita penyakit tbc aktif, atau telah mempunyai imunitas terhadap tbc. Uji tuberkulin positif dapat diartikan bahwa infeksi primer yang telah diperolehnya suatu waktu menjadi aktif. Uji tuberkulin negatif berarti belum pemah terkena infeksi mycobacteria, basil yang ada dalam jaringan, tetapi orang ini masih mungkin terkena infeksi mycobacteria dari luar misalnya ketu­laran penderita lain.

PPD dari berbagai jenis mycobacteria telah dibuat pula. PPD ini pada kadar yang rendah dapat menunjukkan reaksi khan terhadap suatu infeksi myco­bacteria, tetapi pada kadar yang tinggi terjadi reaksi silang.

 

  1. I.         Pengobatan

Obat-obat yang banyak dipakai untuk penyakit tbc saat ini adalah INH (isoniazid), ethambutol, rifampicin, dan streptomisin. Namun, cepat sekali mun­cul strain-strain basil tbc yang resisten terhadap obat-oabt di atas. Umumnya INH masih merupakan obat pilihan untuk tbc. Pengobatan lebih berhasil dengan kombinasi 2-3 macam obat, misalnya INH dengan ethambutol, atau INH dengan rifampicin, atau kombinasi yang lain. Kesembuhan klinik umumnya dapat dica­pai dalam 6-12 bulan. Penderita dengan sputum positif menjadi tidak infektif setelah 2-3 minggu mendapat pengobatan efektif.

Pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama mengingat:

  1. Umumnya basil tbc adalah intraseluler.
  2. Bahan pengkejuan dalam lesi, walaupun dapat menghambat perbiakan basil tbc, tetapi jugs menghambat efektivitas obat.
  3. Dalam lesi kronis, basil tbc yang bertahan dalam keadaan tidak aktif dalam berbiak dan metabolisme, bersifat resisten terhadap aktivitas obat.
  1. J.        Epidemiologi, Pencegahan dan Pengawasan

Sumber infeksi basil tbc paling Bering adalah manusia yang mengeluarkan ekskret mengandung banyak sekali basil tersebut terutama dari saluran perna­fasan. Kontak yang erat dengan penderita misalnya keluarga atau perawat, sangat besar kemungkinan mendapat penularan melalui percikan-percikan dari ekskret tersebut. Susu sapi yang menderita tbc dapat menjadi sumber infeksi lebih-lebih jika tidak dilakukan pasteurisasi terhadap susu sapi tersebut.

Kepekaan seseorang terhadap infeksi basil tbc mempunyai dua tingkatan masalah:

  1. Tingkatan pertama, masalah kemungkinan besar terinfeksi.
  2. Tingkatan kedua, masalah kemungkinan besar menderita penyakit aktif.

Orang dengan tuberkulin negatif, kemungkinan terinfeksi tergantung pada kontak dengan sumber penularan terutama penderita dengan sputum positif. Kemungkinan terinfeksi ini akan sejalan dengan tingkatan keaktifan penyakit, kepadatan penduduk, keadaan sosial ekonomi yang kurang balk, dan kurang memadainya pelayanan medik. Faktor genetik mungkin hanya sedikit berperan­nya.

Tingkatan kedua, tentang kemungkinan besar menderita penyakit tbc aktif, bukti-bukti menunjukkan bahwa jelas ada faktor genetik yang ikut mempenga­ruhi. Faktor-faktor penting lainnya yang mempengaruhi pula adalah gizi kurang, usia (usia 16-21 tahun lebih peka), status imunologik, penyakit lain yang ada ber­samaan (misalnya silikosis, diabetes) dan faktor-faktor resistensi seseorang. Di daerah perkotaan, infeksi terjadi pada usia-usia lebih muda.

Pencegahan dan pengawasan dilakukan terhadap:

  1. Pelayanan kesehatan masyarakat untuk deteksi sedini mungkin adanya kasus dan sumber-sumber infeksi. Tindakan yang perlu dilakukan misal­nya uji tuberkulin, foto Rd, dan pengobatan efektif sampai penderita tidak menularkan penyakit.
  2. Pemberantasan tbc pada temak dan pasteurisasi susu.
  3. Imunisasi, dengan pemberian vaksin BCG (bacille Calmette Guerin). BCG adalah basil tbc tipe bovin yang telah dilemahkan. Di London vaksinasi BCG diberikan pada anak umur 12 tahun dengan uji tuberkulin negatif. Di Swjeclia umumnya diberikan pada anak umur 1 tahun. Di USA vaksi­nasi BCG diberikan pada orang-orang dengan uji tuberkulin negatif dan banyak berhubungan dengan penderita tbc misalnya keluarga penderita, perawat. Bukti-bukti statistik menunjukkan bahwa setelah vaksinasi BCG akan menaikkan resistensi dalam jangka waktu tertentu.
  4. Resistensi seseorang. Beberapa faktor nonspesifik dapat mengurangi keta­hanan tubuh sehingga memudahkan konversi dari infeksi asimtomatik menjadi penyakit aktif. Faktor-faktor tersebut antara lain kekurangan ma­kan, gastrektomi, pemberian dosis tinggi obat-obat kortikosteroid atau obat-obat yang bersifat imunosupressif.

Yang termasuk basil tbc adalah M.tuberculosis dan M.bovis. Mycobacteria tersebut termasuk dalam golongan Mycobacterium tipikal.

Mycobacterium atipikal, terdiri dari 4 golongan (menurut Runyon, 1957):

Group I      Golongan fotokromogen, wama koloni menjadi lebih tug jika terkena cahaya. Contoh: M.kansasi.

Group II     Golongan skotokromogen, koloni selalu berwama dan tidak terpengaruh oleh cahaya. Contoh : M.serofulaceum.

Group III   Golongan non-fotokromogen, koloni selalu tidak berwama dan tidak terpengaruh oleh cahaya. Contoh: M.intracellulare.

Group IV   Golongan “rapid growers”, koloni ada yang tidak berwama dan tumbuh dalam waktu 3-7 hari. Contoh: M.fortuitum.

 

Mycobacterium Leprae

 

  1. A.      Morfologi dan Identifikasi
  1. Bentuk. M.leprae berbentuk batang lurus atau sedikit bengkok, berukuran 1-8 X 0,2-0,5 mikron. Tahan asam, tetapi dibandingkan dengan M.tuberculosis lebih lemah. Dengan pengecatan Ziehl-Neelsen basil lepra tampak satu-satu atau umum­nya bergerombol karena diikat oleh suatu glia (zat semacam lipid) dan ini mem­bentuk bangunan yang khan. Bentuk itu ada yang disebut globus. Dalam bentuk ini basil lepra tersusun sejajar, keseluruhannya membentuk semacam bola. Ben­tuk lain disebut bentuk cerutu. Basil-basil lepra tersusun sejajar, tetapi bentuk keseluruhannya menyerupai cerutu.
  2. Penanaman. Sampai saat ini belum ada suatu jenis medium, balk medium buatan maupun biakan jaringan, yang dapat dipergunakan untuk pembiakan basil lepra. Penanaman pada binatang percobaan yang telah berhasil dan dija­dikan standar adalah inokulasi pada telapak kaki mencit dan dipertahankan pada suhu 20°C. Binatang lain yang jugs peka terhadap basil lepra adalah suatu jenis dari armadillo.
  3. Pertumbuhan khusus. Penanaman pada binatang percobaan menunjukkan bahwa basil lepra mempunyai waktu generasi cukup panjang, yaitu antara 12 hari sampai 42 hari, dibanding dengan 14 jam pada basil tbc atau 20 menit pada coliform.

 

  1. Sifat-sifat. Basil lepra dalam suasana panas dan lembab dapat tetap hidup selama 9-16 hari. Jika terkena sinar matahari secara langsung dapat bertahan hidup selama 2 jam, terhadap sinar u.v. hanya dapat bertahan 30 menit.

 

 

  1. B.       Struktur Antigen

Jenis-jenis antigen pada basil lepra belum dapat dijelaskan secara pasti, tetapi ada sedikit hubungan antigenik antara basil tbc dan basil lepra. Proses timbulnya penyakit lepra diduga akibat reaksi antara antigen pada lepra yang berikatan de­ngan antibodinya. lkatan antibodi dan antigen dari basil lepra tersebut kemudian dideposit ke jaringan tertentu.

 

  1. C.      Produk Ekstraseluler

Produk ekstraseluler tidak banyak dikenal, tetapi dapat dibuat bahan serupa tuberkulin yang disebut Lepromin. Bahan yang masih kasar dibuat dari basil lepra oleh Mitsuda, disebut antigen Mitsuda, yang dapat lebih dimurnikan sehingga tidak mengandung komponen-komponen dari sel basil lepra. Sekarang banyak dipakai lepromin yang dibuat dari lesi lepra pada armadillo.

 

  1. D.      Patogenesis

Lepra adalah suatu granulomatosa kronik, disebabkan oleh basil lepra, yang terutama menyerang kulit, saraf perifer dan mukosa hidung. Akan tetapi pada dasamya dapat menyerang pula setiap jaringan tubuh yang lain.

 

  1. E.       Patologi

Penyakit lepra digolongkan menjadi 2 tipe pokok, tipe lepromatosa dan tipe tuberkuloid. Di antara kedua tipe itu terdapat tipe-tipe antara misalnya tipe di­morphosa atau “borderline” dan tipe intermediate.

Ridley dan jopling membagi tipe lepra menurut tinSkatannya, menjadi 5 group:

  1. Tuberculoid (TT)
  2. Borderline tuberculoid (BT)
  3. Borderline (BB)
  4. Borderline leprornatosa, (BL)
  5. Lepromatosa (LL).

Tipe-tipe tersebut menggambarkan status imunitas seseorang. Oleh karenanya tipe lepra pada seseorang dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan imunitas atau keberhasilan peRgobatan pada orang tersebut. Akan tetapi sifat-sifat dan virulensi basil lepra tidak berbeda, walaupun diisolasi dari penderita dengan tipe yang berbeda-beda.

 

  1. F.       Gejala Klinik

Tipe lepromatosa muncul pada orang yang days tahannya menurun. Tampak beberapa lesi nodular pada kulit (lepromata), yang terdid dari jaringan granulasi, monosit dan basil lepra. Lesi ini dapat menjadi ulcus, sehingga dapat terjadi infeksi sekunder dan kemudian terjadi proses mutilasi. Selanjutnya basil lepra menyerang mukosa hidung, mulut, saluran nafas bagian atas, basil lepra tersebut keluarkan bersama-sama sekret, sehingga lepra tipe lepromatosa sangat menular.

Di samping itu basil lepra juga menyerang organ-organ lain seperti sistema reti­kulo-endotelial, mats, testis, ginjal dan tulang, sehingga biasa terjadi basilaemia. Prognose lepra tipe lepromatosa adalah jelek.

Tipe tuberkuloid terjadi pada penderita yang mempunyai days tallan tinggi. Lesi pada kulit hanya beberapa dan berbatas jelas, berupa bercak-bercak makula anestetik. Saraf-saraf dapat terserang lebih awal dan efek nyata dengan timbulnya deformitas terutama pada tangan dan kaki. Basil sangat sedikit pada lesi dan kecil pula kemungkinan menular.

 

  1. G.      Diagnosa Laboratorium

Bahan pemeriksaan diambil dari goresan dengan skalpel pada lesi di kulit atau mukosa hidung atau daun telinga. Dibuat sediaan apus pada gelas benda dan dilakukan pengecatan menurut cara Ziehl-Neelsen. Adanya basil lepra tam­pak berwama merah dengan susunan bentuk globus, cerutu atau satu-satu.

 

  1. H.      Imunitas

Ada hubungan antara imunitas terhadap basil tbc dan basil lepra. Dari hasil suatu penelitian, orang-orang yang mendapat vaksinasi BCG, sekitar 85% juga terlindung dari infeksi basil lepra.

 

  1. I.         Pengobatan

Obat-obat yang dapat dipergunakan untuk penyakit lepra antara lain:

  1. Golongan sulphon, merupakan obat pilihan utama. Obat yang diper­gunakan umumnya diami nodi phenyl sui I phone (DDS, dapson).
  2. Clofazimine, diberikan pada lepra yang telah resisters terhadap DDS.
  3. Rifampicin, diberikan sebagai kombinasi dengan obat pilihan utama.

 

  1. J.        Epidemiologi, Pencegahan dan Pengawasan

Penyakit lepra sangat menular, dan sumber penularan adalah penderita lepra. Cara penularan belum diketahui secara pasti, sangat mungkin terjadi pada mass kanak-kanak, dalam waktu yang sangat panjang selalu kontak dengan penderita yang dalam sekretnya banyak mengandung basil lepra. Sekret hidung merupakan sumber penularan utama, kemudian bare discharg dari lesi di kulit.

Sering terjadi orang tampak normal, tidak merasa menderita lepra tetapi mengeluarkan sekret yang menularkan lepra. Keadaan seperti ini berlangsung 2-3 tahun sampai kemudian jelas orang tersebut menunjukkan tanda-tanda menderita lepra. Masa inkubasi lepra rats-rats 2-5 tahun.

Kunci pengawasan adalah tedetak pada penetapan diagnosa dan pengobatan penderita lepra. Anak-anak dari keluarga pendedta lepra yang dianggap dapat menularkan, peHu diberi pengobatan sampai pengobatan terhadap yang sakit dinyatakan tidak menular lagi.

Usaha vaksinasi sudah banyak dilakukan dengan vaksin BCG dan dicoba pula dengan vaksin lepra. Percobaan di Uganda ffmnunjukkan bahwa sekitar 85% dari orang-orang yang diberi vaksinasi BCG terhindar dari penyakit lepra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s