Posts Tagged ‘askeb IV’

S

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN IUFD

NY. ”S” G1P0Ab0Ah 0 UK 32 MINGGU

DI RSUD SLEMAN

 

Pengkajian ( Tanggal 27 Oktober 2008, jam 20:30 WIB)

1. IDENTITAS

  Ibu Suami
Nama Ny. S Tn. AD
Umur 22 tahun 22 tahun
Agama Islam Islam
Suku bangsa Jawa/Indonesia Jawa/Indonesia
Pendidikan D1 SMA
Pekerjaan Ibu rumah tangga Swasta
Alamat Temulawak, Triharjo, Sleman

 

2. ANAMNESA (Data Subyektif)

a.      Keluhan Utama

Ibu mengatakan hamil 8 bulan, ibu merasa gerakan janinnya berkurang sejak 3 hari yang lalu.

b.      Riwayat Perkawinan

Ibu kawin 1 kali, kawin pertama kali umur 21 tahun, dengan suami sekarang sudah 1 tahun.

 

 

c.      Riwayat Haid

Menarche umur 12 tahun, siklus 30 hari, lama 7 hari, teratur, encer, tidak sakit, bau khas darah. Mengganti softek 4-5 kali/hari pada hari pertama dan kedua, hari berikutnya 3-4 kali/hari. Keluhan : tidak ada

HPMT 18 Maret 2008, HPL 25 Januari 2009. Umur kehamilan saat pengkajian 32 minggu.

d.      Riwayat Obstetri : G1P0Ab0Ah 0

e.      Riwayat KB

Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi.

f.       Riwayat Kesehatan

1)  Menurun : Ibu mengatakan tidak ada riwayat penyakit seperti DM, hipertensi, asma, epilepsi, jiwa dari pihak keluarga ibu maupun suami.

2)  Menular : Ibu mengatakan tidak ada riwayat penyakit seperti TBC, Hepatitis, Herpes, cacar maupun penyakit kelamin baik dari  keluarga ibu maupun dari  keluarga suami.

3)  Melahirkan kembar/cacat : Ibu mengatakan dari keluarga ibu maupun suami tidak ada yang pernah melahirkan kembar maupun cacat.

g.      Riwayat Kehamilan Sekarang

1)  Selama hamil ibu periksa di bidan di Puskesmas

2)  Mulai periksa sejak UK 13 minggu

3)  Frekuensi periksa; Trimester I: 2 kali, Trimester II: 3 kali.

4)  TT I : 27 Agustus 2008, TT II : 29 September 2008

5)  Obat yang diminum: B6, Vit C, Kalk, Tablet Fe.

6)  Selama hamil ibu tidak pernah minum jamu

7)        Keluhan/masalah yang dirasakan ibu: Selama hamil ibu mengatakan sering mual. Saat periksa ibu diberi obat dan KIE. Masalah dapat teratasi.

h.     Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari

1)    Nutrisi

Porsi makan per hari           : 3 kali, porsi sedang

Jenis makanan                    : nasi, sayur, lauk

Makanan pantang               : tidak ada

Keluhan                                : tidak ada

2)    Eliminasi

BAK                           BAB

Frekuensi                  4-5 kali                       1 kali

Konsistensi               cair                              lunak

Warna dan Bau        khas urin                   khas feses

Keluhan                    tidak ada                    tidak ada

3)     Istirahat

Tidur siang                     : jarang, kadang-kadang 1 jam

Tidur Malam                   : 8 jam per hari

Keluhan             : tidak ada, ibu mengatakan tidak biasa tidur siang

4)     Aktifitas

Di luar rumah               : tidak ada aktivitas rutin.

Di dalam rumah                        : mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti biasa

Aktivitas terakhir 3 hari yang lalu : ibu mengatakan semenjak 3 hari yang lalu tidak ada aktivitas khusus yang ibu lakukan. Tidak ada perbedaan aktivitas sebelum ibu merasakan gerakan janinnya berkurang sampai datang ke rumah sakit.

 

 

 

 

 

5)    Personal Hygiene

ü Membersihkan alat kelamin : setiap mandi, setelah BAB dan BAK.

ü Mengganti pakaian dalam    : saat mandi, tiap kali kotor dan lembab

ü Jenis pakaian yang dipakai   : katun

6)    Seksualitas : 1-2 x/ minggu

i.       Data Psikososial-spiritual

a)  Tanggapan ibu terhadap keadaan dirinya: Ibu merasa takut atas kedaan yang terjadi pada dirinya

b)  Tanggapan ibu terhadap kehamilannya: Ibu dan keluarga sangat mengharapkan kehamilannya

c)  Ibu semakin taat beribadah sejak tahu ibu hamil, mengerjakan sholat 5 waktu.

d)  Pemecahan masalah dari ibu selalu dibicarakan dengan suami

j.    Pengetahuan ibu tentang kehamilannya: Ibu cukup tahu tentang kehamilannya. Ibu mengerti saat ini kehamilannya sudah 32 minggu. Ibu belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kehamilannya.

k.   Lingkungan yang berpengaruh : Ibu tinggal bersama suami.Di dalam rumah tidak mempunyai hewan peliharaan. Tetangga ada yang memelihara kucing dan ibu mengatakan kucing tersebut sering buang kotoran di samping rumahnya.

 

O

Pemeriksaan Umum

K/U                 : sedang                     BB Sebelum hamil  : 47 kg

Kesadaran    : composmentis        BB setelah hamil     : 54,5 kg

TD                   : 150/90 mmHg         Kenaikan BB                        : 7,5 kg

Nadi                : 82 x/menit               Status Gizi                 : baik

Suhu              : 36,80C                      TB                               : 156 cm

Respirasi       : 24 x/menit               Lila                              : 24 cm

IMT                              :

: 22,43

Pemeriksaan Khusus

–  Inspeksi

Kepala         :  mesochepal, kulit dan rambut bersih, tidak ada kerontokan

Muka           :  tak oedema, tidak ada cloasma, bibir sedikit pucat

Mata            :  konjungtiva merah muda, sklera putih, bersih

Leher           :  tidak ada peninggian vena jugularis

Dada           :  mamae membesar, tegang, hiperpigmentasi areola,  puting susu menonjol, bersih

Perut           :  pembesarn memanjang, tidak ada bekas luka

Genetalis    :  tidak odem, tidak varises

Ekstremitas   : gerakan aktif, tidak oedema, tidak ada varises

–  Palpasi

Leopold I     : TFU 3 jari diatas pusat. Terba bulat, lunak (bokong)

Leopold II    : lateral kanan teraba bagian-bagian kecil (ekstremitas)

lateral kiri terba keras dan datar (punggung)

Leopold III   : teraba keras dan bulat (kepala)

Leopold IV  : kepala belum masuk panggul

Mc. Donald : TFU 23 cm

TBJ              : (23-12) x 155=1705 gram

–  Auskultasi  : DJJ tidak ditemukan

–  PD               : v/u tenang, dinding vagina licin, serviks tebal, pembukaan belum ada, selaput ketuban belum dapat dinilai, STLD (-)

Pemeriksaan Penunjang

a)      USG (tanggal 27 Oktober 2008 oleh dr. Ryo)

Hasil : Janin tunggal, intrauterin, gerak negatif, DJJ negatif

b)      Laboratorium (tanggal 28 Oktober 2008)

hemoglobin           : 11,9 gr%

protein urin                        : negatif

 

 

A

Primigravida umur 22 tahun, hamil 32 minggu, dengan IUFD

Masalah  : ibu dan keluarga belum mengetahui janinnya meninggal

Kebutuhan : memberitahu ibu dan keluarga secara hati-hatibahwa janinnya sudah meninggal

P

 

tanggal 27 Oktober 2008, jam 20:40 WIB)

1.                          Memberitahu ibu dan keluarga dengan hati-hati bahwa dari

hasil pemeriksaan, didapatkan bahwa janin yang dikandungnya sudah meninggal. Ibu menangis, suami tampak sedih dan keluarga terilahat menenangkan

  1. Memberitahu keluarga bahwa janin harus segera dilahirkan. Menjelaskan mengenai pilihan untuk mengeluarkan janin, yaitu dengan menunggu janin lahir sendiri, dengan kemungkinan akan menunggu dalam waktu lama dan tidak dapat ditentukan serta dapat menjadikan adanya risiko gangguan pada proses pembekuan darah atau pilihan kedua dengan dipacu (diinduksi) menggunakan obat.

Keluarga sepakat memilih proses kelahiran dengan induksi.

  1. Membuat kesepakatan terhadap pihak keluarga atas tindakan yang akan dilakukan. Keluarga menyetujui tindakan dengan induksi misoprostol misoprostol 200 mg per oral/12 jam yang akan dimulai tanggal 28 Oktober 2008 jam 15:00 WIB sambil menunggu kesiapan mental dan ketenangan hati ibu untuk menerima kenyataan..
  2. Memberi dukungan mental agar ibu dan keluarga bersabar dan menerima apa yang terjadi. Ibu dapat menerima dan lebih tenang.
  3. Mengobservasi KU dan VS ibu.

KU lebih baik dari sewaktu datang, TD : 140/80 mmHg, Suhu : 37,10C, Nadi 80 x/menit, respirasi 20x/menit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RIWAYAT PERKEMBANGAN

s

(tanggal 28 Oktober 2008, jam 19.55 WIB)

Ibu mengatakan kenceng-kenceng belum dirasakan

O

KU ibu : baik, his belum ada

N : 80 x/mnt, R : 20x/mnt, TD : 140/90 mmHg

A

misoprostol 200 mg per oral pertama jam 15:00 WIB telah diminum

Primigravida berumur 22 tahun, hamil 32 minggu dengan IUFD telah diberikan induksi misoprostol 200 mg oral per 12 jam

 

P

(28 Oktober 2008, jam 20:00 WIB)

1.    Menjelaskan pada ibu rencana induksi misoprostol 200 mg oral yang kedua pada nanti malam tanggal 29 Oktober 2008 jam 03:00 WIB.

2.    Memotivasi ibu untuk beristirahat sambil menunggu kemajuan induksi. Ibu mengatakan akan mencoba istirahat. Ibu terlihat dapat tidur sampai dengan pukul 02:00 WIB.

3.    Mengobservasi kemajuan induksi. Kemajuan induksi tidak dapat dikaji karena ibu tertidur.

s

(tanggal 29 Oktober 2008, jam 02.55 WIB)

Ibu mengatakan kenceng-kenceng sudah dirasakan

O

KU ibu : baik, his : 2x/10 menit lamanya 25 detik

N : 88 x/mnt, R : 20x/mnt, TD : 130/80 mmHg

A

 

Primigravida berumur 22 tahun, hamil 32 minggu dengan IUFD telah diberikan induksi misoprostol 200 mg oral per 12 jam

 

P

(29 Oktober 2008, jam 03.00 WIB)

1.    Memberi ibu misoprostol 200 mg oral. Misoprostol 200 mg oral yang kedua telah diterima dan ibu meminumnya langsung dengan air putih.

2.    Mengobservasi kemajuan induksi dan keadaan ibu. Menjelaskan pada ibu jika ibu merasa sakit karena kenceng-kenceng, membimbing ibu untuk menarik nafas dalam melalui hidung dan membuangnya melalui mulut. Ibu terlihat kesakitan dan dapat mengatasi rasa sakitnya.

3.    (29 Oktober 2008, jam 03:00 WIB)

Ibu mengatakan ingin mengejan. Membantu ibu melahirkan bayi dengan memimpin persalinan.Bayi lahir secara spontan, jenis kelamin laki-laki, berat 950 gram, keadaan bayi sudah meninggal. Delapan menit setelahnya, plasenta lahir lengkap. Membersihkan dan merapikan ibu. Ibu sudah dalam keadaan bersih dan rapi.

4.         Memberitahu ibu dan keluarga mengenai bayi yang ibu lahirkan dan menyerahkannya pada pihak keluarga untuk dilakukan perawatan selanjutnya.

 

 

s

(tanggal 29 Oktober 2008, jam 07.30 WIB)

Ibu mengatakan sudah lega atas lahirnya bayi. Ibu dapat menerima kematian bayi dan terlihat tabah

O

Ku ibu baik

N : 80 x/mnt, R : 20x/mnt, TD : 130/80 mmHg

Ibu sudah makan setengah porsi makanan dari RS

A

 

Primipara umur 22 tahun, postpartum normal dengan riwayat IUFD membutuhkan dukungan dan pendampingan

 

 

P

(29 Oktober 2008, jam 07:30 WIB)

1.    Menjelaskan pada ibu bahwa secara umum dari hasil pemeriksaan ibu dalam keadaan baik. Ibu mengatakan lebih baik keadaannya.

2.    Memberi dukungan dan pendampingan pada ibu untuk tetap tabah dan menyerahkan segalanya pada yang lebih berkuasa, yaitu Tuhan. Ibu mengatakan sudah dapat menerima kematian bayinya dan mengatakan ikhlas atas hal tersebut.

3.    Menganjurkan pada ibu dan suami untuk memikirkan tentang pemeriksaan kesehatan secara keseluruhan guna mempersiapkan kehamilan yang berikutnya agar penyebab kematian bayinya dapat diketahui dan kejadian yang sama tidak akan terulang kembali. Menjelaskan pada ibu bahwa di RSUD Sleman tidak ada fasilitas pemeriksaan kesehatan yang dimaksud sehingga menganjurkan ibu untuk memeriksakan di RSUP Sardjito.  Ibu bersedia namun akan membicarakannya terlebih dahulu dengan suami.

4.     Memberikan alternatif alat kontrasepsi sebelum ibu merencanakan hamil lagi. Ibu mengatakan akan membicarakan hal tersebut dengan suami.

5.    Tanggal 29 Oktober 2008 jam 08:05 WIB ibu telah dipindahkan ke ruang nifas di Bangsal Melati RSUD Sleman.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

BAB I

PENDAHULUAN

Rubella dan Kehamilan Di Indonesia, akhir-akhir ini mulai merebak kembali penyakit yang namanya Rubella. Dulu, dikatakan bahwa penyakit ini sudah semakin menurun angka kejadiannya di Indonesia. Namun, di Bogor bulan Juni 2008 ditemukan 108 anak positif terkena Rubella dan telah dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Rubella atau yang sering disebut Campak Jerman ini adalah penyakit virus akut yang menyerang baik anak-anak maupun dewasa dengan gejala umum yang meliputi bercak kemerahan pada kulit, demam serta pembesaran kelenjar getah bening (lymphadenopathy). Gejala Bercak merah yang ditimbulkan biasanya mulai dari wajah lalu menyebar ke batang tubuh. Sedangkan kelenjar getah bening yang terlibat dan membesar biasanya kelenjar getah bening yang terletak di belakang telinga (postauricular), tengkuk (suboccipital) serta leher (cervical). Dibanding anak-anak, jika virus ini menyerang orang dewasa biasanya mengalami gejala yang lebih berat. Mungkin disertai radang selaput mata (conjunctivitis), pilek yang berat (coryza) dan juga radang sendi (arthritis). Radang sendi ini lebih sering terjadi pada wanita. Namun umumnya infeksi penyakit ini biasanya tidak menunjukan gejala klinis yang berarti. Gejala yang muncul hanya seperti lemas, tidak nafsu makan, demam sedikit. Virus ini menyebar lewat hubungan yang dekat (close contact) antar individu misalnya dengan orang yang tinggal serumah. Batuk dan bersin juga dapat membantu penyebaran virus ini jika orang tersebut sudah terjangkit.

Cegah sebelum hamil. Bagi ibu-ibu yang merencanakan kehamilan ada baiknya memeriksakan diri ke ahli kesehatan berkaitan dengan penyakit ini. Tes darah yang dapat menjadi petunjuk apakah Anda sudah kebal (imun) terhadap Rubella atau tidak. Jika dahulu pernah terjangkit virus ini atau pernah divaksin yang mengandung komponen virus ini, maka tubuh akan memberi respon dengan membentuk zat antibody untuk menghabisi virus tersebut. Zat antibody ini lah yang dapat menjadi patokan apakah tubuh Anda cukup poten untuk kebal terhadap virus Rubella. Biasanya, antibody dalam tubuh Anda akan dites beberapa kali. Jika jumlah antibody Anda tetap dalam beberapa kali tes tersebut, menunjukan infeksi terjadi sudah lama terjadi dan Anda boleh bernafas lega untuk  melanjutkan ke tahap kehamilan. Namun jika terjadi perubahan, mungkin Anda masih dalam keadaan terinfeksi. Anda dianjurkan melaksanakan pengobatan dahulu sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Untuk itu kali ini akan dibahas mengenain kehamilan yang disertai dengan penyakit malaria.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Definisi

Rubella yang sering disebut orang dengan Campak Jerman merupakan jenis penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Rubella dapat menyerang siapa saja tidak pandang bulu. Bisa menyerang orang tua, remaja, anak – anak, bahkan bayi sekalipun. Sebenarnya Rubella ditemukan oleh Sir Norman Greg dari Eropa sejak tahun 1941, namun baru dapat disosialisasikan pada tahun 1962. Walaupun penderita Rubella tidak menampakkan gejala klinis 14-21 hari, namun virus ini sebetulnya telah berada di beberapa tempat misalnya tenggorokan, bulu hidung, air seni, dan kotoran manusia. Anak-anak biasanya sembuh lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Virus ini menular lewat udara. Rubela juga biasanya ditularkan oleh ibu kepada bayinya, makanya disarankan untuk melakukan tes Rubela sebelum hamil. Bayi yang terkena virus Rubela selama di dalam kandungan beresiko cacat. Sering dijumpai apabila infeksi dijumpai pada kehamilan trimester I (30-50%). Anggota tubuh anak yang bisa menderita karena rubella:

  1. Mata (katarak, glaucoma, mikroftalmia)
  2. Jantung (Duktus arteriosus persisten, stenosis pulmonalis, septum terbuka)
  3. Alat pendengaran (tuli)
  4. Susunan syaraf pusat (meningoensefalitis, kebodohan)

Dapat pula terjadi hambatan pertumbuhan intra uterin, kelainan hematologik (termasuk trombositopenia dan anemia), hepatosplenomegalia dan ikterus, pneumonitis interstisialis kronika difusa, dan kelainan kromosom. Selain itu bayi dengan rubella bawaan selama beberapa bulan merupakan sumber infeksi bagi anak-anak dan orang dewasa lain.

  1. Waktu inkubasi

Virus Rubela memiliki waktu inkubasi 2 sampai dengan 3 minggu.

  1. Diagnosis

Diagnosis rubella tidak selalu mudah karena gejala-gejala kliniknya hampir sama dengan penyakit lain, kadang tidak jelas atau tidak ada sama sekali. Virus pada rubella sering mencapai dan merusak embrio dan fetus. Diagnosis pasti dapat dibuat dengan isolasi virus atau dengan ditemukannya kenaikan titer anti rubella dalam serum.

Nilai titer antibody

  • Imunitas 1:10 atau lebih
  • Imunitas rendah < 1:10
  • Indikasi adanya infeksi saat ini > 1:64

Apabila wanita hamil dalam trimester I menderita viremia, maka abortus buatan perlu dipertimbangkan. Setelah trimester I, kemungkinan cacat bawaan menjadi kurang yaitu 6,8% dalam trimester II dan 5,3% dalam trimester III.

  1. Gejala
  • Pembengkakan pada kelenjar getah bening.
  • Demam diatas 38 derajat Celsius.
  • Mata terasa nyeri.
  • Muncul bintik-bintik merah di seluruh tubuh.
  • Kulit kering.
  • Sakit pada persendian.
  • Sakit kepala.
  • Hilang nafsu makan.

 

  1. Isolasi

Dianjurkan selama diisolasi sekurang-kurangnya 4 hari setelah gejala bintik-bintik merah muncul.

  1. Pencegahan

Imunisasi MMR pada usia 12 bulan dan 4 tahun. Vaksin rubella merupakan bagian dari imunisasi rutin pada masa kanak-kanak. Vaksin MMR diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun.

Wanita usia subur bisa menjalani pemeriksaan serologi untuk rubella. Jika tidak memiliki antibodi, diberikan imunisasi dan baru boleh hamil 3 bulan setelah penyuntikan. Vaksinasi sebaiknya tidak diberikan ketika ibu sedang hamil atau kepada orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan akibat kanker, terapi kortikosteroid maupun terapi penyinaran.

 

 

 

 

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL DENGAN RUBELLA

NO.REGISTER                                  : A-75250

MASUK BPS TANGGAL, JAM      : 11 Februari 2008 jam 09.00

 

S

 

  1. Biodata                   Ibu                                                       Suami

Nama               : Ny. Ariska                                                     Tn. Beni

Umur               : 24 tahun                                                        28 tahun

Alamat                        : Mekarsari, Bogor

Keluhan Utama

Ibu mengeluh demam menggigil, berkeringat, sakit kepala, hilang nafsu makan, sakit pad persendian

O

 

1. Pemeriksaan Fisik

a.  Keadaan umum : Pucat                  kesadaran: compos mentis

b.         Tanda vital

Tekanan darah : 90/70 mmHg

Nadi                : 76 kali per menit

Pernafasan       : 20 kali per menit

Suhu                : 38,5 ºC

c.  TB             : 160 cm

BB              : 60 kg

d. Kepala dan leher

Edema wajah : tidak ada

Cloasma gravidarum + / – (tidak ada)

Mata    : simetris, konjuctiva pucat/putih, nyeri tekan

Mulut  : Bibir kering dan pucat

Leher   : terdapat pembesaran kelenjar getah bening

e. Kulit                        : Kering dan muncul bintik-bintik merah diseluruh tubuh

2. Pemeriksaan Penunjang

Tanggal 11 Februari 2008  jam 09.05 dilakukan pemeriksaan HB : 11gr%

A

 

  1. Diagnosis Kebidanan

Primigravida 24 th  umur kehamilan 25 minggu dengan Rubella

 

2. Masalah

Ibu  tidak mengetahui penyebab keluhan yang dirasakannya dan cara     mengatasinya.

3. Kebutuhan

KIE tentang penyebab keluhan dan cara mengatasinya.

4. Diagnosa potensial

Rubella yang tidak teratasi bisa membuat janin cacat ataupun keguguran

  1. Masalah Potensial

Tidak ada

6. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien

a. Mandiri

Mengurangi rasa cemas pada ibu dan keluarga, dan memrikan obat turun panas

b. Kolaborasi

Test darah serologi antigen Rubella di laboratorium

c. Merujuk

Merujuk ke RS

P

 

Tanggal 11 Februari 2008 jam 09.20 WIB

  1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa keluhan yang dirasakan seperti demam menggigil, berkeringat, sakit kepala, nyeri tekan pada mata dan bintik-bintik merah pada seluruh tubuh merupakan gejala penyakit campak/Rubella.

Ibu dan keluarga sedikit cemas mendengar penjelasan bidan.

  1. Memberi KIE singkat tentang penyakit rubella pada ibu dan keluarga. Menjelaskan bahwa Rubella merupakan virus yang menyebar melalui udara namun virus ini sebetulnya telah berada di beberapa tempat misalnya tenggorokan, bulu hidung, air seni, dan kotoran manusia sebelum akhirnya menginfeksi tubuh. Namun penyakit ini apabali menginfeksi pada keadaan hamil trimester II atau III kemungkinan cacat yang terjadi pada janin semakin berkurang sehingga ibu dan keluarga tidak perlu khawatir asal penanganan sakit ibu diatasi dengan baik.

Ibu dan keluarga mengerti penjelasan bidan

  1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa untuk memastikan ibu menderita penyakit malaria atau tidak ibu harus menjalani tes laboratorium di rumah sakit.

Ibu dan keluarga bersedia melakukan tes laboratorium di rumah sakit.

  1. Memberitahu keluarga untuk merujuk ibu ke RS untuk mendapatkan penangan penyakit Rubella dengan segera.

Keluarga bersedia untuk merujuk ibu ke RS.

5. Mendampingi ibu pada saat dirujuk.

6. Menganjurkan ibu untuk tetap makan dan minum untuk masukan nutrisi dalam tubuh.

DAFTAR PUSTAKA

rubella/380bb3edb81f28dae4ae8582f7166fa6.htm

rubella/rubella_torch.html

RUBELLA Dalam Kehamilan atau Kandungan « Asuhan Keperawatan dan Asuhan Kebidanan.htm

PARTUS LAMA
Partus lama adalah fase laten lebih dari 8 jam. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih, bayi belum lahir. Dilatasi serviks di kanan garis waspada persalinan aktif (Syaifuddin, AB., 2002).
Pada prinsipnya persalinan lama dapat disebabkan oleh :

  1. His tidak efisien (adekuat)
  2. Faktor janin (malpresenstasi, malposisi, janin besar)
  3. Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor)

Tanda dan gejala partus lama, yaitu:

  1. Pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada partograf.
  2. Pembukaan serviks kurang dari 1 cm per jam.
  3. Frekuensi kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan lamanya kurang dari 40 detik.
  1. Alasan Merujuk

Penanganan partus lama adalah dengan merujuk pasien yang mengalami partus lama ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan gawat darurat obstetric dan bayi baru lahir. Alasan mengapa partus lama perlu dirujuk, yaitu karena partus lama memiliki dampak yang dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi ibu, janin, atau keduanya sekaligus. Bahkan, apabila tidak dapat terdeteksi maupun tertangani dengan baik, partus lama bisa berdampak fatal, yaitu dapat menyebabkan kematian pada ibu maupun janinnya.

Dampak yang ditimbukan oleh partus lama antara lain:

  1. Infeksi Intrapartum

Infeksi adalah bahaya yang serius yang mengancam ibu dan janinnya pada partus lama, terutama bila disertai pecahnya ketuban. Bakteri di dalam cairan amnion menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakteremia dan sepsis pada ibu dan janin. Pneumonia pada janin, akibat aspirasi cairan amnion yang terinfeksi, adalah konsekuensi serius lainnya. Pemeriksaan serviks dengan jari tangan akan memasukkan bakteri vagina ke dalam uterus. Pemeriksaan ini harus dibatasi selama persalinan, terutama apabila dicurigai terjadi persalinan lama.

  1. Ruptura Uteri

Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya serius selama partus lama, terutama pada ibu dengan parietas tinggi dan pada mereka dengan riwayat SC. Apabila disproporsi antara kepala janin dan panggul sedemikian besar sehingga kepala tidak cakap (engaged) dan tidak terjadi penurunan, segmen bawah uterus menjadi sangat teregang kemudian dapat menyebabkan ruptura. Pada kasus ini, mungkin terbentuk cincin retraksi patologis yang dapat diraba sebagai sebuah Krista transversal atau oblik yang berjalan melintang di uterus antara simpisis dan umbilicus. Apabila dijumpai keadaan ini, diindikasikan persalinan perabdominan segera.

  1. Cincin Retraksi Patologis

Walaupun sangat jarang, dapat timbul konstriksi atau cincin local uterus pada persalianan yang berkepanjangan. Tipe yang paling sering adalah cincin retraksi patologis Bandl, yaitu pembentukan cincin retraksi normal yang berlebihan. Cincin ini sering timbul akibat persalinan yang terhambat, disertai peregangan dan penipisan berlebihan segmen bawah uterus. Pada situasi semacam ini identasi abdomen dan menandakan ancaman akan rupturnya SBR. Konstriksi uterus local jarang dijumpai saat ini karena terlambatnya persalinan secara berkepanjangan tidak lagi dibiarkan. Konstriksi local ini kadang-kadang masih terjadi sebagai konstriksi jam pasir (hourglass constriction) uterus setelah lahirnya kembar pertama. Pada keadaan ini, konstriksi tersebut kadang-kadang dapat dilemaskan dengan anesthesia umum yang sesuai dan janin dilahirkan secara normal, tetapi kadang-kadang SC yang dilakukan dengan segera menghasilkan prognosis yang lebih baik bagi kembar kedua.

  1. Pembentukan Fistula

Apabila bagian terbawah janin menekan kuat ke PAP, tetapi tidak maju untuk jangka waktu yang cukup lama, bagian jalan lahir yang terletak di antaranya dan dinding panggul dapat mengalami tekanan yang berlebihan. Karena gangguan sirkulasi, dapat terjadi nekrosis yang akan jelas dalam beberapa hari setelah melahirkan dengan munculnya fistula vesikovaginal, vesikoservikal, atau retrovaginal. Umumnya nekrosis akibat penekanan ini pada persalinan kala II yang berkepanjangan.

  1. Cidera Otot-otot Dasar Panggul

Saat kelahiran bayi, dasar panggul mendapat tekanan langsung dari kepala janin serta tekanan ke bawah akibat upaya mengejan ibu. Gaya-gaya ini meregangkan dan melebarkan dasar panggul sehingga terjadi perubahan fungsional dan anatomik otot, saraf, dan jaringan ikat. Efek-efek ini bisa menyebabkan inkontinensia urin dan alvi serta prolaps organ panggul.

  1. Kaput Suksedaneum

Apabila panggul sempit, sewaktu persalinan sering terjadi kaput suksedaneum yng besar di bagian terbawah kepala janin. Kaput ini dapat berukuran cukup besar dan menyebabkan kesalahan diagnostic yang serius. Kaput hampir dapat mencapai dasar panggul sementara kepala sendiri belum cakap.

  1. Molase kepala Janin

Akibat tekanan his yang kuat, lempeng-lempeng tulang tengkorak saling bertumpang tindih satu sama lain di sutura-sutura besar, suatu proses yang disebut molase. Biasanya batas median tulang parietal yang berkontak dengan promontorium bertumpang tindih dengan tulang di sebelahnya; hal yang sama terjadi pada tulang-tulang frontal. Namun, tulang oksipital terdorong ke bawah tulang parietal. Perubahan-perubahan ini sering terjadi tanpa menimbulkan kerugian yang nyata. Di lain pihak, apabila distorsi yang terjadi mencolok, molase dapat menyebabkan robekan tentorium, laserasi pembuluh darah janin, dan perdarahan intracranial pada janin.

  1. B. Cara merujuk partus lama, yaitu:
    1. Tetap memantau/ mengobservasi tanda-tanda vital ibu
    2. Tetap memantau his dan mengontrol DJJ setiap setelah his.
    3. Beri infus ibu bila kondisi ibu semakin melemah. Infus cairan:

-Larutan garam fisiologis

-Larutan glucose 5-10% pada janin pertama: 1 liter/jam

  1. Tetap memperhatikan asupan gizi ibu terutama asupan cairan.
  2. Beri Oksigen (sesuai kebutuhan) bila terjadi tanda – tanda gawat janin.
  3. Posisikan ibu untuk miring ke kiri selama merujuk.

 

 

 

Sumber :

Wiknjosastro, H. (Ed.). 2007. Ilmu Kebidanan (kesembilan ed.). Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saifudin, Abdul Bari. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002). Seorang ibu hamil dapat dikategorikan enemia berat jika Hb < 7 gr%.

Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Wiknjosastro, 2002). Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan.

Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduannya saling berinteraksi (Safuddin, 2002). Menurut Mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut:

1. Kurang gizi (malnutrisi)

2. Kurang zat besi dalam diit

3. Malabsorpsi

4. Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain

5. Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain

 

GEJALA ANEMIA PADA IBU HAMIL

Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.

 

KLASIFIKASI ANEMIA DALAM KEHAMILAN.

Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar (1998), adalah sebagai berikut:

  1. Anemia Defisiensi Besi

Adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya yaitu, keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah pemberian tablet besi.

a.   Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/ hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia (Saifuddin, 2002).

b.   Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral, dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa kehamilannya tua (Wiknjosastro, 2002). Pemberian preparat parenteral dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 mg) intravena atau 2 x 10 ml/ IM pada gluteus, dapat meningkatkan Hb lebih cepat yaitu 2 gr% (Manuaba, 2001).

 

Untuk menegakan diagnosa Anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnesa. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sachli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sachli dapat digolongkan sebagai berikut:

1.   Hb 11 gr% : Tidak anemia

2.   Hb 9-10 gr% : Anemia ringan

3.   Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang

4.   Hb < 7 gr% : Anemia berat

 

Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekatai 800 mg. Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa haemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin dan kulit. Makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 8–10 mg zat besi. Perhitungan makan 3 kali dengan 2500 kalori akan menghasilkan sekitar 20–25 mg zat besi perhari. Selama kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kekurangan untuk wanita hamil (Manuaba, 2001).

 

  1. Anemia Megaloblastik

Adalah anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena kekurangan vitamin B12.

Pengobatannya:

a.   Asam folik 15 – 30 mg per hari

b.   Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari

c.   Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari

d.   Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah.

 

  1. Anemia Hipoplastik

Adalah anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah merah baru. Untuk diagnostik diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan diantaranya adalah darah tepi lengkap, pemeriksaan pungsi ekternal dan pemeriksaan retikulosi.

 

  1. Anemia Hemolitik

Adalah anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.

Pengobatannya tergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi hasil. Sehingga transfusi darah berulang dapat membantu penderita ini.

 

EFEK ANEMIA PADA PERSALINAN

Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan: Persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia aintrauterin sampai kematian, BBLR, gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa mengakibatkan kematian. Saat inpartu, anemia dapat menimbulkan gangguan his baik primer maupun sekunder, janin akan lahir dengan anemia, dan persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah. Untuk itu tindakan bidan dalam menghadapi persalinan dengan pasien anemia berat  adalah merujuk dan meminta anggota keluarga membawa donor minimal  2 orang untuk persiapan jika diberikan tranfusi darah.

 

Alasan merujuk lainya:

1.   Gangguan his kekuatan mengejan

2.   Pada kala I dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar

3.   Pada kala II berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan dan operasi kebidanan.

4.   Pada kala III (Uri) dapat diikuti Retencio Placenta, PPH karena Atonnia Uteri

5.   Pada kala IV dapat terjadi pendarahan Post Partum Sekunder dan Atonia Uteri (Ilmu Kebidanan; Kandungan dan Keluarga Berencana; 1998)

 

 

Pengaruh – pengaruhnya terhadap janin diantaranya :

a.   Abortus

b.   Kematian Interauterin

c.   Persalinan Prematuritas tinggi

d.   BBLR

e.   Kelahiran dengan anemia

f.    Terjadi cacat kongenital

g.   Bayi mudah terjadi Infeksi sampai pada kematian

h.   Intelegensi yang rendah ( Ilmu Kebidanan 1994 )

 

Pengaruh terhadap ibu pasca persalinan :

1.   Terjadi Subinvolusi Uteri yang dapat menimbulkan perdarahan ( atonia uteri )

2.   Memudahkan infeksi Puerpurium

3.   Berkurangnya pengeluaran ASI

4.   Dapat terjadi DC mendadak setelah bersalin

5.   Memudahkan terjadi Infeksi mamae

6.   Terjadinya Anemia kala nifas

7.   Retensio placenta

8.   Perlikaan sukar sembuh

9.   Mudah terjadi febris puerpuralis

 

 

 

Penatalaksanaan Ibu bersalin dengan anemia berat

  1. Pasang infuse RL 20 tetes/menit
  2. Pemberian Oksigen 3 liter/jam
  3. Hal-hal yang dipersiapkan :

Bidan

Pastikan bahwa ibu dan/atau bayi baru lahir didampingi oleh penolong persalinan yang kompoten dan memiliki kemampuan untuk menatalaksana kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir untuk dibawa ke fasilitas rujukan.

 

Alat

Bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan, masa nifas dan bayi baru lahir (tabung suntik, selang IV, dll) bersama ibu ke tempat rujukan. Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin diperlukan jika ibu melahirkan sedang dalam perjalanan.

 

Keluarga

Beritahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu dan/atau bayi dan mengapa ibu dan/atau bayi perlu dirujuk. Jelaskan pada mereka alasan dan keperluan upaya rujukan tersebut. Suami atau anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan/atau bayi baru lahir ke tempat rujukan.

 

Surat

Berikan surat ke tempat rujukan. Surat ini harus memberikan identifikasi mengenai ibu dan/atau bayi baru lahir, cantumkan alasan rujukan dan uraikan hasil pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang diterima ibu dan/atau bayi baru lahir. Lampirkan partograf kemajuan persalinan ibu pada saat rujukan.

 

Obat

Bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu ke tempat rujukan. Obat-obatan mungkin akan diperlukan selama perjalanan.

 

Kendaraan

Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu dalam kondisi yang cukup nyaman. Selain itu pastikan bahwa kondisi kendaraan itu cukup baik untuk mencapai tempat rujukan dalam waktu yang tepat.

 

Uang

Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan/atau bayi baru lahir tinggal di fasilitas rujukan

 

Donor darah

Siapkan donor minimal 2 orang sesuai dengan golongan darah ibu untuk persiapan jika diperlukan tranfusi darah.

A. Pengertian

Fase laten memanjang adalah suatu keadaan pada kala I dimana pembukaan serviks sampai 4 cm dan berlangsung lebih dari 8 jam dengan HIS yang teratur (lebih dari 2 kali dalam 10 menit)

 

B. Penyebab

Menurut Rustam Mochtar (Sinopsis Obstetri) pada dasarnya fase laten memanjang dapat disebabkan oleh :

1.His tidak efisien (adekuat)

2.Tali pusat pendek

3.Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor)

4.Kesalahan petugas kesehatan memastikan bahwa pasien sudah masuk dalam persalinan (inpartu) atau belum.

 

C. Alasan merujuk

Alasan merujuk persalinan dengan fase laten memanjang:

  • Dilihat dari penyebabnya yakni his his tidak efisien (adekuat), tali pusat pendek, faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor), apabila persalinan tidak dirujuk maka ditakutkan akan ditakutkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya jika penyebabnya adalah panggul sempit, dan sudah dilakukan amniotomi tetap saja janin tidak bisa keluar, dan akhirnya harus dirujuk juga.
  • Apabila telah terjadi sesuatu pada janin seperti air ketuban bercampur dengan mekonium dan bayi telah meminumnya, maka bidan akan mengalami kesulitan dalam menanganinya, karena bidan tidak mempunyai kewenangan.
  • Apabila terjadi fase laten memanjang, janin dikhawatirkan dapat mengalami asfiksia, fetal distress, IUFD, dan jika penanganannya tidak cepat dan memadai janin bisa mengalami lahir mati.
  • Ibu juga dikhawatirkan dapat mengalami kelahan, stress, kesadaran menurun, dan syok.

 

D. Tatacara merujuk

Tatacara merujuk persalinan dengan fase laten memanjang

  1. memberitahu ibu dan keluarga dan menjelaskan bahwa keadaan ibu dalam keadaan yang patologis dan harus dirujuk di rumah sakit, karena penaganan dan peralatannya lebih memadai.
  2. memberi tahu rumah sakit yang akan menjadi tempat rujukan, dan menyiapkan data-data dokumentasi yang telah dilakukan pada ibu, serta menyertakan surat rujukan.
  3. menyiapka partus set, untuk mengantisipasi jika ibu melahirkan di jalan.
  4. memasang oksigen pada ibu, agar kebetuhan oksigen janin tetap dalam kualitas baik.
  5. mendampingi dan motivasi ibu agar tetap bersemangat menghadapi persalinan, meminta suami/keluarga ibu untuk mendampingi dan memberi motivasi
  6. memberikan asupan nutrisi untuk ibu agar keadaan ibu tidak semakin buruk dan tidak lemas.
  7. memasang infus RL
  8. mendampingi dan memastikan ibu dalam kondisi stabil selama perjalan merujuk.

 

 

  1. A. PENDAHULUAN

Syok adalah suatu keadaan klinis yang akut pada seorang penderita, yang bersumber pada berkurangnya perfusi dengan darah, akibat gangguan pada sirkulasi mikro oleh karena hipotensi yang terjadi akibat adanya disparitas antara volume darah yang beredar dan kapasitas darah vascular

1) Syok dapat menyebabkan:

a. 02 turun

b. Nutrisi bagi sel turun

c. CO2 dan zat-zat metabolit yang harus dikeluarkan meningkat

2) Akibat dari syok

a. Metabolisme anaerob

b. Timbunan asidum laktivum dan asidum piruvikum

c. Asidosis metabolic

d. Merusak sel

e. kematian

3) Penyebab syok:

Penyebab syok bermacam-macam, sehingga syok dapat dibagi menurut penyebabnya

B. KLASIFIKASI SYOK

a. Syok hipovolumik: syok karena perdarahan, dehidrasi .

b. Syok septik: karena infeksi

c. Syok kardiogenik: karena kegagalan fungsi jantung

d. Syok anafilaktik: karena alergi

e. Syok neurogenik: karena rangsang luar biasa pada urat syaraf

C. PATOFISIOLOGI DARI SINDROMA SYOK

1)         Prinsip syok

  • Berkurangnya perfusi jaringan akibat gangguan sirkulasi mikro (arteriola, pembuluh darah prakapilar, kapilar, anstomosis kapilar A-V venula)
  • Jumlah darah yang mengalir ke jaringan ditentukan oleh resitance, sedangkan distribusi dan kecepatan aliran darah dalam kapilar diatur oleh precapillary sphincter
  • Besar kecilnya tahanan pasca kapiler ditentukan venula dan vena-vena kecil.
  • Aliran dararah kapilar sangat ditentukan pembuluh darah prakapilar
  • Normal, pembuluh darah prakapilar menunjukkan vasomotion (kontriksi dan dilatasi)
  • Vasomotion dikendalikan:

a. Unsur local kimiawi

b. Unsur saraf

  • Vasomotion arteriole terutama tergantung unsur saraf (saraf simpatikus), sedangkan pembuluh darah prakapilar tergantung unsur local kimiawi
  • Syokàmetabolisme jaringan meningkatàpeningkatan tumpukan sampah metabolit àmenyebabkan tonus otot pembuluh darah prakapilar berkurangàvasodilatsiàaliran darah kapilar meningkat
  • Pembuluh darah pasca kapilar (mis. Venula dan vena-vena kecil) terutama di bawah pengaruh susunan saraf.
  • Rangsangan simpatikusàkontraksi otot polos venula dan vena-vena kecilàkapasitas berkurangàaliran darah ke jantung meningkat
  • Sebaliknya, penurunan tonus pembuluh darah pasca kapilar àmengurangi pengisian jantungàhipotensi yang berat
  1. D. TINGKAT GAMBARAN KLINIK DARI SINDROMA SYOK
  • Secara klinis:

1.Syok reversible/ primer ;

  1. syok reversibel dini/ early reversible shock, yang masih dapat dikompensasikan kompensasikan

ciri-ciri:

– TD sistolik masih relatif normal

– Vasokontriksi pemb. Darah tepi

– Nadi lebih cepat

– Penderita gelisah, ketakutan dan merasa kedinginan

– Pemberian cairan elektrolit malalui infuse intravena

  1. syok reversible lanjut/ late reversible shock, yang dalam keadaan dekompensasi

ciri-ciri:

– TD turun/ hipotensi

– Nadi cepat, kecil

– Banyak keringat dingin/ kulitnya teraba dingin (suhu mulai menurun)

– Kulit pucat/ kebiruan, mata cekung

– Fungsi alat vital tergangguàdiuresis berkurangan infuse dalam jumlah banyak dan

pengukuran tekanan vena pusat

2. Syok irreversibel/ sekunder

Ciri-ciri:

– TD tidak terukur

– Nadi sangat cepat, kecil/ hampir tdk teraba

– Pernafasan cepat dan pendek

– Kesadaran terganggu

  • Syok septik:

a. Syok septik reversibel

1. warm hypotensive phase

Ciri-ciri:

– penderita gelisah

– hipotensi

– suhu badan meningkat tinggi (40 C)

– menggigil, berkeringat, kulit hangat

– nadi cepat

2. cold hypotensive phase

Ciri-ciri:

– hipotensi

– suhu badan dibawah norma, kulit teraba dingin dan lembab

– oliguria

– trias: hipotensi, takikardi dan oliguria

b.  Syok septik irreversibel:

Ciri-ciri:

– Asidosis metabolik berat (hipoksia selular dan metabolisme anaerob)

– Gangguan fungsi alat vital

 

 

 

 

 

 

 

D. SYOK DALAM KEBIDANAN

1. Perdarahan

  • Sebab utama syok dalam kebidanan
  • Misal : abortus, KET, molahidatidosa, gangguan pelepasan plasenta, atonia uteri, plasenta previa, ruptur uteri dan lain-lain

2. Infeksi :

  • Masih banyak dijumpai dalam praktek kebidanan
  • Syok karena infeksi berat dinamakanàSyok septik (septicaemic shock)/ syok endotoksin (endotoxic shock)
  • Terutama dijumpai pada infeksi berat dengan bakteri gram negatif (E. Coli, pseudomonas, proteus, klebsiella)
  • Endotoksin menyebabkan syok adalah suatu kompleks lipopolisakarida àyaitu disintegrasi dinding bakteri gram negative dalam peredaran darah dalam jumlah besar
  • Misal: abortus infeksius, sepsis puerpuralis, pielonefritis

3. Solusio plasentae

  • Penyebab syok : perdarahan retroplasenter, DIC
  • Perdarahan karena pelepasan urin dan pembebasan trombopastin dari korion dan desiduaàterjadi DIC disertai fibrinolisisàhipobifrinogemiaàterjadi koagulopati

4. Perlukaan : ruptura uteri, laserasi jalan lahir dan sebagainya

5. inversio uteri : kesalahan managemen kala III

  • syok: selain perdarahan yang terjadi, juga akibat tarikan kuat pada peritoneum, kedua ligamentum infundibulo pelvikum, ligamentum rotundum (syok neurogenik)

6. emboli air ketuban

  • mendadak, sesak nafas, gelisah, kejang sampai meninggal
  • terjadi saat his kuatàketuban pecahàair ketuban, mekonium, lanugo dan verniks kaseosa masuk ke dalam sinus-sinus dalam dinding uterusàdibawa ke paru

7. supine hipotensive syndrome

  • hamil tua waktu tidur terlentangàtekanan vena kava inferioràaliran darah balik ke jantung berkurang
  • misal: kehamilan kembar, hidramnion

  1. E. PENANGANAN SYOK

Dalam praktek kebidanan pemberian cairan intravena melalui infus pada waktu persalinan sebagain tindakan pencegahan untuk menghindari hipovolumia besar manfaatnya, terutama pada penderita yang predisposisi terhadap syok. Pemberian pertolongan pada penderita syok. Pertama-tama kelancaran ventilasi harus dijamin.kemudian karena pada syok selalu ada pengurangan volume darah  dalam sirkulasi umum, diberi cairan pada intravena.setelah itu usahakan untuk menanggulangi  peristiwa yang menyebabkan syok. Pada syok yang belum jelas penyebabnya, sebaiknya dilakukan pemeriksaan pervaginal. Selama perawatan perlu terus menerus dilakukan pengawasan. Secara berkala diadakan  pengukuran nadi, tekanan darah, suhu, pernapasan, diuresis dan bila perlu tekanan vena pusat (CVP).

Prinsip Manajemen Syok:

1. A= airway àkelancaran ventilasi harus terjamin

2. B= breathingà respirasi pernafasan

3. C= circulationàpemberian cairan intravena

  1. Penanganan Syok hemoragik
  • Tindakan yang esensial adalah menghentikan perdarahan dan mengganti kehilangan darah.
  • Setelah diketahui adanya syok hemoragik, penderita dibaringkan dalam posisi Trendelenburg
  • Dijaga jangan sampai penderita kedinginan badannya.
  • Setelah kebebasan jalan napas terjamin, untuk meningkatkan oksigenasi dapat diberi oksigen 100% kira-kira 5 liter/menit
  • beri cairan intravena dalam bentuk NaCl 0,9%, RL, Dekstran, plasma dan sebagainya sampai dengan CVP lebih dari normal ( 15-16cm air )
  • pemerikasaan hematokrit berguna sebagai pedoman pemberian darah. Kadar hematokrit normal adalah 40%, dan pada perdarahan perlu diberi darah sekian banyak , sehingga hematokrit tidak kurang dari 30%.
  • Jika perlu, diberi cairan bikarbonat natrikus untuk mencegah asidosis.

 

 

  1. Penanganan Syok Septik
  • perhatikan kelancaran ventilasi. Beri oksigen 100%.
  • Beri cukup cairan, seperti larutan garam 0,9%, RL, dekstran melalui intravena dengan menggunakan CVP, dan keadaan diuresis sebagai pedoman.
  • Beri bikarbonat natrikus untuk mencegah asidosis.
  • Beri antibiotik spektrum luas jika kuman penyebab infeksi belum diketahui. Setelah jenis kuman diketahui, dipilihkan jnis antibioti yang tepat  dan yang tidak bersifat nefrotoksik.
  • Beri glukokortikoid intravena. Glukokortikoid mengandung anti endotoksik, inotropik terhadap jantung dan memperbaiki perfusi ginjal.
  • Dapat diberikan seperti dexametason 3mg/Kg BB atau metilprednison 30mg/KgBB. Suntikan jika perlu diulangi 4jam  kemudian.
  • Pemberian obat vasoaktif untuk memperbaiki perfusi jaringan, bukan nuntuk mengembalikan tekanan darah. Bila penderita berada dalam keadaan stadium hipotensi yang hangat, dapat diberi obat vasopressor seperti aramin.jika dalam stadium hipotensi dingin, dapat diberi vasodilatator dalam dosis kecil, seperti klorpromazin secara intravena 5-10mg.
  • Pengawasan diuresisà untuk menilai keadaan dan hasil pengobatan
  • Jika diuresis kurang dari 30 ml/ jam dan pemberian cairan tidak memperbaiki keadaanàManitol  ada perbaikanà10 gr sebagai cairan 20% dalam 500 ml cairan garam fisiologik melalui infus
  • Jika belum ada perbaikanà25 mg Furosemid intravena dan dosis dapat diulang tiap jam
  • Jika belum ada perbaikanàpertimbangkan kegagalan fungsi ginjal
  • Kegagalan fungsi ginjalàperhatikan balans air, nutrisi, balans asam basa, dan balans elektrolit. Pemberian air dan natrium dibatasi. Cairan infus dibatasi 0,2 ml/ kg BB untuk tiap jam apakah dikeluarkan lewat kencing atau jalan lain. Pemasukan nutrisi sebanyak mungkin dikurangi, dibatasi pada asam amino yang perlu. Pemasukan karbohidrat dalam jumlah cukupàuntuk mengurangi metabolisme protein endogen. Pemasukan kalium dihentikanàuntuk mencegah hiperkalemi. Tindakan dialisis dipertimbangkanàmengatasi gangguan dalam elektrolit dan asam basa bila pengobatan tak cukup berhasil.
  • Perhatikan keadaan jantung selama perawtan
  • Bahaya kelemahan jantung dapat dikenaliàCVP meningkat, nadi cepatàdianjurkan pemakaian the flexible SwanGanz ballonntipped flotation cateterà untuk mengukur tekanan vena di paru agar jangan sampai overloading di paru.
  • Pemerikasaan CVPà dapat membahayakan jantungàdigitalisasi perlu dipertimbangkan, misal dengan Cedilanid
  • Dalam penanganan syok septikàpenting penyngkiran sarang septikàtidakan operatif perlu dilakukanàkuret dan histerektomi.
  1. A. Alasan Merujuk Tali Pusat Menumbung

Tali pusat menumbung tidak membahayakan si ibu dan tidak menyulitkan dalam persalinan, namun mengancam bagi janin. Harapan untuk bayi tergantung pada derajat dan lamanya kompresi tali pusat dan interval antara diagnosis dan kelahiran bayi. Oleh karena itu pada kasus tali pusat menumbung harus secepatnya ditangani sebelum membahayakan nyawa janin. Sebaiknya bidan harus dapat memberikan pertolongan pertama pada kasus tali pusat menumbung sebelum merujuk ke rumah sakit, untuk menghindari kematian janin. Pada kasus tali pusat menumbung ini bidan harus segera merujuk ke tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi, karena membutuhkan penanganan emergency dan kasus ini tidak termasuk dalam wewenang bidan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi nasib janin :

  1. Semakin baik keadaan janin pada waktu diagnosis dibuat, semakin besar harapan hidupnya. Tali pusat yang berdenyut keras menurunkan gejala yang baik, sebaliknya tali pusat yang berdenyut lemah berarti tidak baik.
  2. Semakin cepat bayi dilahirkan setelah tali pusat turun ke bawah, semakin baik hasilnya. Penurunan > 30 menit memperbesar kematian janin 4 x.
  3. Janin yang lebih tua umur kehamilannya lebih besar pula kemampuannya bertahan terhadap proses-proses traumatic.
  4. Semakin kurang trauma pada kelahiran bayi, semakin baik prognosis untuk ibu dan anak.
  5. Pembukaan serviks mungkin merupakan faktor yang terpenting. Jika pembukaan sudah lengkap pada waktu diagnosis dibuat maka akan banyak bayi yang dapat diselamatkan. Semakin kecil pembukaan prognosisnya semakin jelek. Perkecualian untuk ini adalah jika dapat dilakukan section caesarea dengan segera, dalam hal mana prognosisnya sama baik atau lebih baik pada pembukaan serviks yang masih kecil.
  6. Kematian janin bertambah dengan semakin panjangnya interval antara pecahnya ketuban dan kelahiran bayi.

  1. B. Cara Merujuk pada Persalinan Kala I dengan Tali Pusat Menumbung

a)      Tali Pusat Masih Berdenyut

  1. Memberitahukan kepada ibu dan keluarga hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.
  2. Segera menyiapkan rujukan serta mengantar ibu ke tempat rujukan dengan membawa tabung oksigen, set partus, alat resusitasi, pakaian ibu dan bayi jika tiba-tiba bayi lahir di jalan.
  3. Ketika dalam perjalanan merujuk, bidan memberi ibu oksigen 4-6 liter/menit melalui masker atau kanula nasal.
  4. Mengatur posisi ibu tredelenburg.
  5. Dengan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi masukkan tangan ke dalam vagina dan bagian terendah janin segera didorong ke atas sehingga tahanan pada tali pusat dapat dikurangi.
  6. Tangan bidan yang lain menahan bagian terendah suprapubis dan evaluasi keberhasilan reposisi.
  7. Jika bagian terbawah janin telah terpegang dengan kuat di atas rongga panggul, keluarkan tangan dari vagina. Letakkan tangan tetap di atas abdomen sampai tiba di rumahsakit/tempat rujukan dan mendapatkan penanganan di tempat rujukan.
  8. Jika tempat rujukan saangat jauh dan tersedia Salbutamol, berikan Salbutamol 0,5 mg I.V secara perlahan untuk mengurangi kontraksi rahim.

b)      Tali Pusat Tidak Berdenyut

Jika tali pusat tak berdenyut berarti janin telah meninggal. Keadaan ini sudah tidak merupakan keadaan darurat lagi dan lahirkan bayi sealamiah mungkin tanpa mencederai ibu. Pergunakan waktu untuk memberikan konseling kepada ibu dan keluargannya tentang apa yang terjadi dan tindakan apa yang akan dilakukan. Diharapkan persalinan dapat berlangsung spontan pervaginam.

  1. Prinsip Dasar
  1. Bila proses fertilisasi menghasilkan janin lebih dari satu maka kehamilan tersebut disebut dengan kehamilan ganda. Kejadian kehamilan ganda dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor genetik atau keturunan, umur dan paritas, ras atau suku bangsa dan obat pemicu ovulasi. Kehamilan ganda termasuk dalam kategori risiko tinggi dalam kehamilan dan persalinan.
  2. Terdapat dua jenis kehamilan ganda :
  • hamil ganda monozigotik (satu telur, identik)
  • hamil ganda dizigotik (dua telur, fraternal)
  1. Penilaian klinik

Penilaian klinik selama kehamilan bertujuan untuk membuat diagnosis, mengenali hamil ganda secara dini dan melakukan upaya preventif terhadap penyulit.

  1. Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis, perlu dilakukan pemeriksaan yang berhubungan dengan dugaan kehamilan ganda, yaitu :

  • Anamnesis

– perut lebih  buncit dari semestinya sesuai dengan umur tuanya kehamilan

– gerakan janin lebih banyak dirasakan ibu hamil

– uterus terasa lebih cepat membesar

– pernah hamil kembar atau ada riwayat keturunan kembar

  • Inspeksi dan palpasi

– pada pemeriksaan pertama dan ulangan ada kesan uterus lebih besar dan lebih cepat tumbuh dari biasanya

– gerakan-gerakan janin terasa lebih sering

– bagian-bagian kecil teraba lebih banyak

– teraba ada 3 bagian besar janin

– teraba ada 2 ballotement

  • Auskultasi

Terdengar 2 denyut jantung janin pada 2 tempat yang agak berjauhan dengan perbedaan kecepatan sedikitnya 10 denyut per menit atau bila dihitung bersamaan, terdapat selisih 10

  • Pemeriksaan penunjang

pemeriksaan USG

 

Pengaruh terhadap Ibu dan Janin

  1. Terhadap Ibu
  • Kebutuhan akan zat-zat bertambah, sehingga dapat menyebabkan anemia dan defisiensi zat-zat lainnya
  • Kemungkinan terjadinya hidramnion bertambah 10 kali lebih besar
  • Frekuensi pre-eklamsi dan eklamsi lebih sering
  • Karena uterus yang besar, ibu mengeluh sesak napas, sering miksi, serta terdapat  edema dan varises pada tungkai dan vulva
  • Dapat terjadi inersia uteri, perdarahan postpartum, dan solusio plasenta sesudah anak pertama lahir
  1. Terhadap Janin
  • Usia kehamilan tambah singkat dengan bertambahnya jumlah janin pada kehamilan kembar: 25% pada gemeli; 50% pada triplet; dan 75% pada quadruplet, yang akan lahir 4 minggu sebelum cukup bulan. Jadi kemungkinan terjadinya bayi premature akan tinggi.
  • Bila sesudah bayi pertama lahir terjadi solusio plasenta, maka angka kematian bayi kedua tinggi.
  • Sering terjadi kesalahan letak janin, yang juga akan mempertinggi angka kematian janin.

 

Penanganan dalam Kehamilan

  • Perawatan prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan mencegah komplikasi yang timbul, dan bila diagnosis telah ditegakkan, pemeriksaan ulangan harus lebih sering (1 x seminggu pada kehamilan lebih dari 32 minggu)
  • Setelah kehamilan 30 minggu, koitus dan perjalanan jauh sebaiknya dihindari karena akan merangsang partus prematurus
  • Pemakaian korset gurita yang tidak terlalu ketat diperbolehkan, supaya terasa lebih ringan
  • Periksa darah lengkap, Hb, dan golongan darah

 

 

PENDAHULUAN

Gangguan terhadap jalannya proses persalinan dapat disebabkan oleh kelainan presentasi, posisi dan perkembangan janin intrauterin.

Diagnosa distosia akibat janin bukan hanya disebabkan oleh janin dengan ukuran yang besar, janin dengan ukuran normal namun dengan kelainan pada presentasi intra uterin tidak jarang menyebabkan gangguan proses persalinan.

 

UKURAN JANIN PADA DISPROPORSI FETOPELVIK

Pada edisi awal dari Williams Obstetrics, yang dimaksud dengan berat badan berlebihan pada janin adalah bila berat badan mencapai 5000 gram. Pada edisi ke 7 sampai ke 13 kriteria berat badan janin berlebih adalah 4500 gram.

Parkland Hospital : 2/3 neonatus yang dilahirkan perabdominal (SC) pasca persalinan ekstraksi forsep yang gagal memiliki berat badan 3700 gram.

Disproporsi fetopelvik bukan hanya disebabkan oleh berat badan janin yang besar, kelainan letak seperti posisio oksipitalis posterior, presentasi muka , presentasi dahi juga dapat menyebabkan hambatan persalinan.

Penilaian Ukuran Kepala Janin

Upaya untuk meramalkan adanya Disproporsi Fetopelvik – FPD secara klinis dan radiologis atas dasar ukuran kepala janin tidak memberi hasil memuaskan. Thorp dkk (1993) melakukan evaluasi terhadap maneuver Mueller- Hillis dan menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara distosia dengan kegagalan desensus kepala janin. Ferguson dkk ( 1998) menyatakan bahwa sensitivitas dalam meramalkan adanya CPD dengan menggunakan index fetopelvic ( yang dikemukakan oleh Thurnau dkk 1991) sangat kurang.

Sampai saat ini tidak ada metode terbaik untuk meramalkan secara akurat adanya FPD berdasarkan ukuran kepala janin.

 

PRESENTASI MUKA

 

Merupakan kelainan deflkeksi kepala. Pada presentasi muka terjadi hiperekstensi maksimum kepala sehingga oksiput menempel dengan punggung janin dengan demikian maka yang merupakan bagian terendah janin adalah mentum.

Dalam kaitannya dengan simfisis pubis, maka presentasi muka dapat terjadi dengan mento anterior atau mento posterior. Pada janin aterm dengan presentasi muka mento-posterior, proses persalinan pervaginam terganggu akibat bregma (dahi) tertahan oleh bagian belakang simfisis pubis. Dalam keadaan ini, gerakan fleksi kepala agar persalinan pervaginam dapat berlangsung terhalang, maka persalinan muka spontan per vaginam tidak mungkin terjadi.

 

Presentasi Muka

Mentoposterior, dagu berada dibagian posterior. Persalinan pervaginam hanya mungkin berlangsung bila dagu berputar ke anterior. Bila dagu berada di anterior, persalinan kepala per vaginam masih dapat berlangsung pervaginam melalui gerakan fleksi kepala. Pada sejumlah kasus presentasi muka dagu posterior, dagu akan berputar spontan ke anterior pada persalinan lanjut.

Pemeriksaan Radiologis pada presentasi muka

Diagnosis:

Diagnosa presentasi muka ditegakkan melalui pemeriksaan VT dengan meraba adanya mulut – hidung – tulang rahang atas dan “orbital ridges”. Kadang perlu dibedakan dengan presentasi bokong dimana dapat teraba adanya anus dan tuber-ischiadica yang sering keliru dengan mulut dan tulang rahang atas. Pemeriksaan radiologis dapat menampakkan gambaran hiperekstensi kepala yang jelas dan tulang muka diatas pintu atas panggul.

Etiologi

Dapat dibagi dalam 2 golongan :

  1. Letak muka primer yang disebabkan oleh kelainan anak dan tak dapat diperbaiki seperti :
  1. Strauma congenitalis.
  2. Kelainan tulang leher.
  3. Lilitan tali pusat yang banyak.
  4. Meningocele.
  5. Anenchepal.
  1. Letak muka sekunder yang dapat diperbaiki, anak normal :
  1. Panggul picak.
  2. Anak besar.
  3. Dinding perut kendor, hingga rahim jatuh ke depan.
  4. Bagian-bagian yang menumbung.
  5. Hydramnion.

 

Mekanisme persalinan pada presentasi muka:

Presentasi muka jarang terjadi bila kepala masih diatas Pintu Atas Panggul. Umumnya keadaan diawali dengan presentasi dahi yang kemudian pada proses desensus berubah menjadi presentasi muka .

Mekanisme persalinan terdiri dari densensus – putar paksi dalam – fleksi – ekstensi dan putar paksi luar. Mekanisme persalinan pada presentasi muka mentoposterior. Terjadi putar paksi dalam sehingga dagu berputar keanterior dan lahir pervaginam

Tujuan Putar Paksi Dalam adalah agar dagu berada dibelakang simfisis pubis oleh karena hanya pada posisi ini kepala janin dapat melewati perineum melalui gerakan fleksi. Setelah Putar Paksi Dalam dagu kedepan selesai dan tahapan desensus berikutnya berlangsung, maka dagu dan mulut nampak di vulva dan persalinan kepala berlangsung melalui gerakan fleksi. Setelah kepala lahir, oksiput akan mendekati anus dan dagu berputar seperti saat memasuki Pintu Atas Panggul. Persalinan bahu berlangsung seperti pada presentasi belakang kepala.

Pada presentasi muka, edema akan merubah bentuk wajah anak. Molase juga terjadi dan menyebabkan bertambah panjangnya diameter occipitomentalis.

Prognosa :

Letak muka dapat lahir spontan. Pada umumnya partus lebih lama, yang meningkatkan angka kematian janin. Kemungkinan rupture perineum lebih besar.

Penatalaksanaan:

Bila ukuran panggul normal dan kemajuan proses persalinan berlangsung secara normal, persalinan pervaginam pada presentasi muka dapat berlangsung dengan wajar. Observasi Detik Jantung Janin dilakukan dengan monitor eksternal.

Presentasi muka sering terjadi pada panggul sempit, maka terminasi kehamilan dengan SC sering terpaksa harus dilakukan. Usaha untuk merubah presentasi muka menjadi presentasi belakang kepala , pemutaran posisi dagu posterior menjadi dagu anterior secara manual atau dengan cunam, serta dengan versi ekstraksi tidak boleh dikerjakan pada masa obstetri modern.

 

PRESENTASI DAHI

Merupakan kelainan letak defleksi dan presentasi yang sangat jarang. Diagnosa ditegakkan bila VT pada PAP teraba orbital ridge dan ubun-ubun besar.

Presentasi dahi

Kepala berada diantara posisi fleksi sempurna dengan ekstensi sempurna. Kecuali pada kepala yang kecil atau panggul yang sangat luas, engagemen kepala yang diikuti dengan persalinam pervaginam tak mungkin terjadi.

 

Diagnosis

Presentasi dapat dikenali melalui pemeriksaan palpasi abdomen dimana dagu atau oksiput dapat diraba dengan mudah. Diagnosa dipastikan dengan VT dan teraba sutura frontalis – ubun-ubun besar – orbital ridges – mata atau pangkal hidung.

Etiologi

Etiologi sama dengan penyebab presentasi muka. Dalam kehamilan letak dahi jarang dapat diketahui karena dengan palpasi saja mungkin hanya bias kita curigai letak defleksi apabila :

  1. Tonjolan kepala teraba pada letak punggung anak (bertentangan dengan bagoan-bagian kecil).
  2. Kalau bunyi jantung anak dan bagian-bagian kecil janin sepihak.

Kalau atas penemuan tersebut dibuat foto rontgen maka dapat ditentukan letak dahi atau muka. Biasanya letak dahi baru dapat di diagnose waktu persalinan kalau pembukaan sudah cukup besar ; maka teraba sutura frontalis, ubun-ubun besar, pinggir orbita dan pangkal hidung.

Presentasi dahi sering merupakan keadaan “temporer” dan dalam perjalanan persalinan selanjutnya dapat berubah secara spontan menjadi presentasi muka atau presentasi belakang kepala.

 

Mekanisme persalinan

Pada janin yang sangat kecil kecil atau panggul yang luas persalinan pervaginam biasanya berlangsung dengan mudah. Pada janin aterm dengan ukuran normal, persalinan pervaginam sulit berlangsung oleh karena engagemen tidak dapat terjadi sampai terjadinya molase hebat yang memperpendek diamater occipitomentalis atau sampai terjadinya fleksi sempurna atau ekstensi maksimum menjadi presentasi muka.

Persalinan pervaginam pada presentasi dahi yang persisten dapat berlangsung bila terdapat molase berlebihan sehingga bentuk kepala berubah. Molase berlebihan akan menyebabkan caput didaerah dahi sehingga palpasi dahi menjadi sulit.

Pada presentasi dahi yang transien, progonosis tergantung pada presentasi akhir. Bila tetap pada presentasi dahi, prognosis persalinan pervaginam sangat buruk kecuali bila janin kecil atau jalan lahir sangat luas.

Prinsip penatalaksanaan sama dengan pada presentasi muka

 

LETAK LINTANG

 

Sumbu panjang janin tegak lurus dengan sumbu panjang tubuh ibu.

Kadang-kadang sudut yang ada tidak tegak lurus sehingga terjadi letak oblique yang sering bersifat sementara oleh karena akan berubah menjadi presentasi kepala atau presentasi bokong (“unstable lie”)

Pada letak lintang, bahu biasanya berada diatas Pintu Atas Panggul dengan bokong dan kepala berada pada fossa iliaca. Deskripsi letak lintang : akromial kiri atau kanan dan dorso-anterior atau dorso-posterior . Angka kejadian 1 : 300 persalinan tunggal (0.3%)

Diagnosis

Diagnosa biasanya mudah dan kadang-kadang hanya melalui inspeksi dimana abdomen terlihat melebar dengan fundus uteri sedikit diatas umbilikus. Tidak ada kutub janin yang teraba dibagian fundus dan kepala teraba di fossa iliaca.

Pada dorso-posterior, teraba bagian kecil pada palpasi dinding abdomen. VT pada persalinan dini dapat meraba tulang rusuk, bila pembukaan servik sudah bertambah maka dapat teraba skapula dan klavikula. Arah penutupan aksila menunjukkan arah bahu dan lokasi kepala.

Pada persalinan lanjut, bahu terperangkap dalam jalan lahir dan seringkali disertai prolapsus lengan dan keadaan ini disebut letak lintang kasep – neglected transverse lie.

  1. Etiologi
  2. Grandemultipara akibat dinding abdomen yang kendor
  3. Janin Preterm
  4. Plasenta previa
  5. Kelainan anatomis uterus
  6. Hidramnion
  7. Panggul sempit

Wanita yang sudah mengalami persalinan > 4 kali dengan bayi aterm memiliki kemungkinan mengalami kehamilan dengan presentasi lintang 10 kali lipat nulipara. Kekendoran otot abdomen yang mengakibatkan perut gantung (“pendulous abdomen”) dapat menyebabkan uterus jatuh kedepan sehingga sumbu panjang janin menjauh dari sumbu jalan lahir.

Letak plasenta pada Segmen Bawah Rahim dan kesempitan panggul dapat menyebabkan gangguan akomodasi bagian terendah janin sehinga terjadi letak lintang.

Mekanisme persalinan

Persalinan spontan pervaginam pada janin aterm normal dengan presentasi lintang tidak mungkin berlangsung. Setelah selaput ketuban pecah, lengan janin memasuki panggul dan menyebabkan prolapsus lengan.

Kontraksi uterus selanjutnya akan menyebabkan bahu masuk kedalam SBR dan menyebabkan regangan SBR berlebihan yang dapat berakhir dengan ruptura uterus (“neglected transverse lie”)

Bila janin kecil (kurang dari 800 gram) dan panggul cukup luas, persalinan pervaginam dapat berlangsung bila his yang cukup kuat untuk melipat tubuh janin agar melewati PAP dan persalinan berlangsung dengan mekanisme conduplicatio corporae.

Penatalaksanaan

Presentasi lintang pada awal persalinan adalah indikasi untuk melakukan SC. Pada minggu ke 39 sebelum persalinan atau pada awal persalinan, bila selaput ketuban masih utuh dapat dilakukan tindakan versi luar pada presentasi lintang tanpa disertai komplikasi lain.

Pada saat melakukan SC, akibat terperangkapnya tubuh janin dalam SBR maka insisi uterus lebih baik dilakukan secara vertikal.

Terdapat lingkaran muskular (pathological retraction ring-Bandl” ) diatas SBR yang sudah sangat menipis. Tekanan His disebarkan secara sentripetal pada dan diatas lingkaran retraksi patologis sehingga regangan terus bertambah dan menyebabkan robekan pada SBR.

 

 

PRESENTASI RANGKAP

Prolapsus lengan disamping bagian terendah janin.

Angka kejadian dan Etiologi:

Angka kejadian 1 : 700 persalinan

Keadaan ini disebabkan oleh hambatan penutupan PAP oleh kepala janin secara sempurna antara lain seperti yang terjadi pada persalinan preterm.

Prognosis dan Penatalaksanaan

Angka kematian perinatal meningkat sebagai konsekuensi dari persalinan preterm, prolapsus talipusat dan prosedur obstetrik yang traumatik. Pada sebagian besar kasus, penatalaksanaan kasus adalah ekspektatif oleh karena jarang mengganggu jalannya persalinan dan umumnya tangan janin secara reflektoar akan ditarik sehingga tidak lagi mengganggu jalannya persalinan.

Tindakan yang bisa dikerjakan adalah dengan mereposisi tangan dan menurunkan kepala kedalam jalan lahir secara bersamaan. Tebes dkk (1999) melaporkan adanya janin yang mengalami nekrosis iskemik pada tangan yang selanjutnya sampai memerlukan amputasi.

LETAK SUNGSANG

Letak memanjang dengan bokong sebagai bagian terendah ( presentasi bokong ).Kejadian 3 %.

Letak sungsang dibagi sebagai berikut :

  1. Letak bokong murni : presentasi bokong murni ( Frank breech ). Bokong saja yang menjadi bagian depan sedangkan tungkai lurus ke atas.
  2. Letak bokong kaki : di samping bokong teraba kaki ( Complete breech ). Disebut letak bokong kaki sempurna atau tidak sempurna kalau di samping bokong teraba kedua kaki atau satu kaki saja
  3. Letak lutut ( presentasi lutut ) disebut Incomplete breech
  4. Letak kaki ( preentasi kaki ) disebut Incomplete breech

Tergantung pada terabanya kedua kaki atau lutut atau hanya teraba satu kaki atau lutut dsebut letak kaki atau utut sempurna dan letak kaki atau lutut tidak sempurna.

Diagnosa : Pergerakan anak teraba oleh si ibu di bagian perut bawah, di bawah pusat, dan ibu sering merasa benda keras ( kepala ) mendesak tulang iga. Pada palpasi teraba bagian keras, bundar dan melenting pada fundus uteri. Punggung anak dapat diraba pada salah satu sisi perut dan bagian–bagian kecil pada pihak yang berlawanan. Di atas sympyshe teraba bagian yang kurang bundar dan lunak.

Bunyi jantung terdengar pada punggung anak setinggi pusat. Kalau pembukaan sudah besar maka pada pemeriksaan dalam dapat teraba 3 tonjolan tulang ialah tubera ossis ischii dan ujung os sacrum sedangkan os sacrum dapat dikenal sebagai tulang meruncing dengan deretan processii spinosi ditengah-tengah tulang tersebut.

Antara 3 tonjolan tulang iga tadi dapat diraba anus dan genetalia anak, tapi jenis kelamin anak hanya dapat ditentukan kalau oedema tidak terlalu besar.Terutama kalau caput succedaneum besar, bokong harus dibedakan dari muka karena kedua tulang pipi dapat menyerupai tubera osiss ischi, dagu menyerupai ujung os sacrum sedangkan mulut disangka anus.Yang menentukan ialah bentuk os sacrum yang mempunyai deretan processi spinosi yang disebut crista sacralia media .

Mekanisme persalinan: Garis pangkal paha masuk serong ke dalam pintu atas panggul. Pantat depan memutar ke depan setelah mengalami rintangan dari otot-otot dasar panggul. Dengan demikian dapat terjadi laterofleksi badan untuk menyesuaikan diri dengan lengkungan panggul.Pantat depan nampak terdahulu dalam vulva dan dengan trochanter depan sebagai hypomochilian dan laterofleksi dari badan lahirlah pantat belakang pada pinggir depan perineum disusul dengan kelahiran pantat depan.

Setelah bokong lahir terjadi rotasi luar sehingga punggung berputar sedikit ke depan dan supaya bahu dapat masuk dalam ukuran serong dari pintu atas panggul. Sesudah bahu turun terjadilah putaran paksi dari bahu sampai ukurang bisacromial dalam ukuran muka belakang dari pintu bawah panggul. Karena itu punggung berputar lagi ke samping.

Pada saat bahu akan lahir maka kepala dalam keadaan fleksi masuk dalam ukuran melintang pintu atas panggul. Kepala ini mengadakan putaran paksi sedemikian rupa hingga kuduk terdapat di bawah symphyse dan dagu sebelah belakang. Berturut-turut lahir pada perineum : dagu, mulut, hidung, dahi dan belakang kepala.

Prognosa : prognosa bagi ibu letak sungsang tak banyak berbeda dengan prognosa pada letak kepala,mungkin rupture perinei lebih sering terjadi. Sebaliknya prognosa bagi anak dengan letak sungsang lebih buruk terutama kalau anaknya besar dan ibunya seorang primigravida.

Kematian anak 14 %. Kalau kematian karena prematuritas dikurangi maka kematian anak dengan letak sungsang tetap 3 kali lebih besar daripada kematian letak kepala.

Terapi : yang paling penting ialah usaha untuk memperbaiki letak sebelum persalinan terjadi dengan versi luar. Bertentangan dengan pendapat yang dulu hendaknya versi luar sudah dicoba pada bulan ke 7.

Versi luar masih dapat diusahakan pada penderita in partu dengan syarat :

  1. Pembukaan kurang dari 3-4 cm
  2. Ketuban masih utuh
  3. Bokong anak masih bisa dibebaskan

Pimpinan persalinan : Letak sunsang biasanya lahir spontan, karena itu jangan terlalu lekas bertindak. Sikap konservatif dipertahankan sampai pusat lahir. Indikasi waktu setelah pembukaan lengkap, biasanya ebih pendek dibandingkan dengan letak kepala misalnya 2 jam setelh pembukaan lengkap anak sudah harus lahir.

Pertolongan persalinan dengan letak sungsang dapat dibagi sebagai berikut :

  1. Pertolongan pada kelahiran spontan
  2. Ekstraksii parsial atau manual aid
  3. Ekstraksii
  4. Sectio Caesarea

 

PENANGANAN KEHAMILAN DENGAN PRESENTASI BUKAN BELAKANG KEPALA MENURUT LOKASI ATAU TINGKAT PELAYANAN

 

Polindes

  1. Melakukan asuhan antenatal
  2. Menegakkan diagnosis secara klinis, jika ada keraguan dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan USG atau radioologi
  3. Merujuk pasien bila ada kelainan pada kehamilan
  4. Mencegah anemia dan komplikasi-komplikasi yang mungkin timbul selama kehamilan
  5. Merujuk pasien ke puskesmas bila pasien in partu

Puskesmas

1)      Melakukan asuhan antenatal

2)      Memastikan diagnosis kehamilan ganda

3)      Menolong persalinan pervaginam bila anak pertama dan kedua dengan presentasi kepala

4)      Merujuk ke rumah sakit bila presentasi anak kedua bukan presentasi kepala

Rumah Sakit

1)      Melakukan perawatan antenatal

2)      Melakukan pertolongan lengkap untuk persalinan pervaginan

3)      Melakukan tindakan bedah jika ada indikasi.

PRIMIPARA DALAM KALA I FASE AKTIF

PENURUNAN KEPALA 5/5

  1. Alasan Merujuk

Pada primipara dalam kala I fase aktif jika penurunan kepala janin dengan palpasi masih 5/5 maka ini merupakan suatu tanda bahaya dalam persalinan. Ada alasan yang mendasari mengapa jika ditemui keadaan ini, maka ibu hamil harus segera dirujuk.

Pada ibu multipara bisa terjadi penurunan kepala janin masuk ke panggul baru terjadi pada saat persalinan sedangkan seorang ibu primipara seharusnya pada usia kehamilan akhir (kurang lebih mulai 36 minggu) kepala janin sudah masuk panggul, hal ini ditandai dengan sudah sulitnya kepala janin (jika presentasi kepala) untuk digerakkan. Sedangkan penurunan kepala 5/5 berarti kepala janin masih di atas PAP, menunjukkan bahwa kepala belum masuk panggul. Keadaan tersebut dapat menjadikan partus lama atau bahkan partus macet;

Hal tersebut juga dapat lebih berbahaya karena dapat menyebabkan bandle ring, karena pembukaan serviks pada fase aktif juga sudah lebih dari 3 cm sedangkan tidak ada penurunan kepala. Jika hal ini terus berlanjut portio bisa robek bahkan rupture uteri atau uterusnya membelah.

Ada beberapa hal yang menyebabkan pada kala I fase aktif tersebut penurunan kepala janin masih pada 5/5, antara lain: jika bayi besar atau makrosomia, panggul ibu sempit atau DKP (Disproporsi Kepala Panggul), air ketuban belum pecah pada akhir fase aktif.

 

 

  1. Cara Merujuk

1. Perawatan Pendahuluan

  • Suntikan cortone acetate : 100-200 mg IM
  • Penicilin prokain : 1 juta UI IM
  • Streptomisin : 1 gr IM
  • Infus cairan: larutan garam fisiologis
  • Larutan glukose 5-10 % pada janin pertama : 1 L/jam
  • Istirahat 1 jam untuk observasi

2. Tindakan

  • Bila diagnosis CPD ditegakkkan, lakukan rujukan untuk pertolongan persalinan ibu dengan seksio sesaria.
  • Bila bayi mati lakukan kriniotomi dan embriotomi (bila tidak mungkin lakukan seksio sesaria).