Posts Tagged ‘askeb’

BAB I
PENDAHULUAN

 

Kehamilan dengan hipertensi ialah keadaan hipertensi yang diimbas oleh kehamilan. Istilah ini diadopsi oleh “The American College of Obstetrician and Gynecologist” untuk mengganti istilah preeklampsia dan eklampsia. Sindrom ini terdiri atas trias: yaitu hipertensi, proteinuria, dan edema. Hipertensi jenis ini lazim menjangkiti primigravida (kehamilan minggu XX) berusia antara 20-35 tahun yang berasal dari lapisan social ekonomi tingkat bawah, dan menderita malnutrisi. Badan Kesehatan dunia memperkirakan ada 8% (eklamsia) dan 4% (hipertensi) dari 21 kasus penyebab kematian (selain abortus) yang ada.

Seorang wanita hamil boleh dicurigai menderita hipertensi kehamilan, jika yang bersangkutan sering mengeluh pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri perut bagian atas (ulu hati), nafsu makan lenyap, rasa mual, dan muntah. Tanda yang mudah diperiksa alah pertambahan berat badan secara progresif (. 3kg tiap minggu). Sehingga perlu adanya penyusunan menu dan trik  khusus untuk menanggulangi masalah tersebut seperti Diet Rendah Garam karena nutrisi mempunyai peranan penting dalam upaya pencegahan dan penyembuhan hipertensi maupun komplikasi lain saat kehamilan.

Dengan disusunnya makalah ini diharapkan dapat memberikan sedikit informasi tentang hipertensi dan diet untuk menanggulangi masalah hipertensi. Selain itu makalah ini dapat digunakan sebagai acuan dan refrensi untuk menyusun menu bagi penderita hipertensi khususnya ibu hamil. Sehingga dapat membantu dalam mengatasi masalah nutrisi bagi penderita hipertensi khususnya bagi ibu hamil.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

 

  1. I.                   INFORMASI TENTANG HIPERTENSI

Sampai sekarang penyakit hipertensi dalam kehamilan (HDK) masih merupakan masalah kebidanan yang belum dapat dipecahkan dengan tuntas. HDK adalah salah satu dari trias

penyebab utama kematian ibu di camping perdarahan dan infeksi. Penanganan kasus HDK atau Gestosis atau EPH Gestosis masih tetap merupakan kontroversi karena sampai saat ini etiologi dan patofisiologi penyakit HDK masih belum jelas diketahui, sehingga penanganan yang definitif belum mungkin dijalankan dengan sempurna. Hanya tenninasi kehamilan yang dapat di-

anggap sebagai terapi yang definitif.

HDK adalah komplikasi kehamilan setelah kehamilan 20 minggu yang ditandai dengan timbulnya hipertensi, disertai salah satu dari : edema, proteinuria, atai – edua-duanya. Klasifikasinya sebagai berikut :

  1. HDK sebagai penyulit yang berhubungan langsung dengan kehamilan :
    1. 1)Pre-eklamsia
    2. 2)Eklamsia
    3. HDK sebagai penyulit yang tidak berhubungan langsung dengan kehamilan :
      1. Hipertensi kronik.
      2. Pre-eklamsia/eklamsiapadahipertensikronik/superimposed.
      3. 4.      Transient hypertension.
      4. 5.      HDK yang tidak dapat dikiasifikasikan.

 

  1. a.      Definisi dan Kriteria
  2. Hipertensi ialah :

a)  Bila tekanan darah sistolik 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik >_ 90 mmHg.

b)  Kenaikan tekanan darah sistolik 30 mmHg.

c)  Kenaikan tekanan darah diastolik  15 mmHg. Untuk mengukur tekanan darah yang pertama dilakukan dua kali setelah istirahat duduk 10 menit. Pengukuran tekanan darah ini harus dilakukan sekurang-kurangnya 2 kali dengan selang waktu 6 jam dan ibu dalam keadaan istirahat.

  1. Pre-eklamsia

Ialah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan/atau edema akibat kehamilan, setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblas.

  1. Eklamsia

ialah timbulnya kejang pada penderita pre-eklamsia yang disusul dengan koma. Kejang ini bukan akibat dari kelainan neurologik.

  1. Hipertensi kronik

Hipertensi yang menetap oleh sebab apapun, yang ditemukanpada umur kehamilan kurang dari 20 minggu, atau hipertensi yang menetap setelah 6 minggu pasca persalinan.

  1. Superimposed pre-eklamsia/eklamsia

Ialah timbulnya pre-eklamsia atau eklamsia pada hipertensi kronik.

  1. Transient hypertension

lalah hipertensi dalam kehamilan pada wanita yang tekanan darahnya normal sebelum hamil dan tidak mempunyai gejala-gejala hipertensi kronik atau pre-eklamsia atau eklamsia.  Gejala ini akan hilang setelah 10 hari pasca persalinan.

  1. b.      Etiologi

Faktor predisposisi :

1)      Primigravida atau nullipara, terutama pada umur reproduksi ekstrem, yaitu remaja dan umur 35 tahun ke atas.

2)      Multigravida dengan kondisi klinis :

a) Kehamilan ganda dan hidrops fetalis.

b) Penyakit vaskuler termasuk hipertensi esensial kronik dan diabetes mellitus.

c) Penyakit-penyakit ginjal.

3)      Hiperplasentosis : Molahidatidosa,kehamilan ganda, hi drops fetalis, bay i besar, diabetes mellitus.

4)      Riwayat keluarga pernah pre-eklamsia atau eklamsia.

5)      Obesitas dan hidramnion.

6)      Gizi yang kurang dan anemi.

7)      Kasus-kasus dengan kadar asam urat yang tinggi, defisiensi kalsium, defisiensi asam lemak tidak jenuh, kurang antioksidans.

 

  1. c.       Patogenesis

Belum diketahui dengan pasti. Proses iskemik uteroplasenter menyebabkan vasospasmus arteriole/kapiler secara umum sehingga menimbulkan kelainan patologis pada organ-organ vital.

  1. 1.      Pre-Eklamsia Ringan

Kriteria :

1)      Tekanan darah > 140/90 mmHg atau tekanan darah sistolik naik > 30 mmHg atau kenaikan tekanan darah diastolik > 15 mmHg tetapi < 160/110 mmHg.

2)      Edema

3)      Proteinuria, setelah kehamilan 20 minggu.

  1. 2.      Pre-Eklamsia Berat

Kriteria :

1)    Tekanan darah 160/110 mmHg.

2)    Proteinuria lebih 5 gram/24 jam atau kualitatif 3+/4+.

3)    Oliguria 500 ml/24 jam.

4)    Nyeri kepala frontal atau gangguan penglihatan.

5)    Nyeri epigastrium.

6)    Edema paru atau sianosis.

7)    Pertumbuhan janin intrauterin yang terlambat (IUFGR).

8)    HELLP syndrome (H = Hemolysis; EL = Elevated Liver enzymes; LP = Low Platelet counts).

 

  1. 3.      Eklamsia

Eklamsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang dan atau koma. Sebelumnya wanita tadi menunjukkan gejala-gejala pre-eklamsia (kejang-kejang timbul bukan akibat kelainan neu- rologik).

 

  1. 4.      Hipertensi Kronik Dalam Kehamilan

Adanya hipertensi yang persisten oleh sebab apapun juga yang ditemukan pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu atau hipertensi persisten setelah 6 minggu pasca persalinan. Diagnosis klinik Diagnosis hipertensi kronik pada kehamilan ditegakkan berdasarkan gejala-gejala sebagai berikut :

a)   Adanya riwayat hipertensi sebelum kehamilan atau didapatkan hipertensi pada kehamilan kurang dari 20 minggu.

b)   Ditemukan kelainan organik, misalnya : pembesaran jantung, kelainan ginjal, dan sebagainya.

c)   Umur ibu di atas 30 tahun dan umumnya multigravida.

d)   Bila terjadi superimposed preeclampsia, maka didapatkan : tekanan darah sistolik lebih dari 200 mmHg adanya perubahan-perubahan pada pembuluh darah retin berupa eksudasi, perdarahan, dan penyempitan.

e)   Retensi air dan natrium tidak menonjol. Jarang didapatkan edema dan proteinuria.

f)   Hipertensi masih temp didapatkan sampai 6 bulan pasca persalinan.

 

  1. Komplikasi

Gagal ginjal, gagal jantung, edema paru-paru, kelainan pembekuan darah, perdarahan otak, kematian janin.

 

  1. II.                UPAYA PENANGGULANGAN

 

  1. A.    DIET RENDAH GARAM
    1. a.      Pengertian

Yang dimaksud dengan garam dalam Diet Rendah Garam adalah garam natrium seperti yang terdapat ddi dalm garam dapur (NaCl), soda kue (NaHCO3), baking powder, natrium benzoat, dan vetsin (mono sodium glutamate). Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraselular tubuh yang mempunyai fungsi menjaga keseimbangan cairan dan asam tubuh, serta berperan dalam transmisi saraf dan kontraksi otot. Asupan makanan sehari-hari umumnya mengandung lebih banyak natrium daripada yang dibutuhkan tubuh. Dalam keadaan normal, jumlah natrium yang dikeluarkan tubuh melalui urin sama dengan jumlah yang dikonsumsi, sehingga terdapat keseimbangan.

Makanan sehari-hari biasanya cukup mengandung natrium yang dibutuhkan sehingga tidak ada penetapan kebutuhan natrium sehari. WHO menganjurkan pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari (ekuivalen dengan 2400 mg)

Asupan natrium yang berlebihan, terutama dalam bentuk natrium klorida, dapat menyebabkan gangguan keseimbangan cairan tubuh, sehingga menyebabkan edema atau asites, dan hipertensi. Penyakit-penyakit tertentu seperti sirosis hati, penyakit ginjal tertentu, dekomsio kordis, toksemia pada kehamilan dan hipertensi esensial dapat menyebabkan gejala edema atau asites, dan hipertensi. Dalam keadaan demikian asupan garam natrium perlu dibatasi.

 

  1. b.      Tujuan Diet

Tujuan Diet  Garam Rendah adalah membantu menghilangkan retensi  garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi

 

  1. c.       Syarat Diet Rendah Garam:
  2. Cukup energi, protein, mineral dan vitamin.
  3. Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit.
  4. Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau air dan hipertensi.

 

  1. d.      Macam Diet dan Indikasi Pemberian

Diet Garam rendah diberikan kepada pasien denan edema, asites atau hipertensi seperti yang terjadi pada penyakit dekompensasio kordis, serosis hati, penyakit ginjal tertentu, toxemia pada kehamilan, dan hipertensi esensial. Diet ini mengandung cukup zat-zat gizi. Sesuai dengan keadaan penyakit dapat diberikan berbagai Diet Rendah Garam.

a)      Diet Rendah Garam I (200-400 mg Na)

Diet Rendah Garam I diberikan kepada pasien dengan edema, asites, dan Hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak ditambahkan garam dapur . Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya misalnya   daun seledri (96 mg/100 gr bahan makanan), pisang (18 gr bahan makanan).

b)     Diet Rendah Garam II (600-800 mg Na)

Diet rendah garam II diberikan kepada pasien dengan edema, acites, dan hipertensi tidak terlalu berat. Pemberian makanan sehari sama dengan diet rendah garam I. Pada pengolahan makananya boleh menggunakan setengah sendok teh garam dapur (2gr).  Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya, misalnya roti bakar (700 mg/100gr  bahan makanan), susu asam bubuk (600 mg/ 100 gr bahan makanan), biskuit  (500mg/100gr bahan makanan), kue-kue (250mg/100gr bahan makanan), roti cokelat (500mg/100gr bahan makanan), ayam (100mg/100gr bahan makannan), daging bebek (200mg/100gr bahan makana), putih telur bebek( 228mg/100gr), susu skim bubuk (470mg/100gr bahan makanan).

c)      Diet Rendah Garam III (1000-1200 mg Na)

Diet rendah garam III diberikan kepada pasien dengan edema dan hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari samadengan diet rendah garam I. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan I sdt (4gr) garam dapur. Contoh pengaturan makanannya; keju  (1200 mg/100gr makanan), sosis (1000 mg/ 100gr bahan makanan), lemak babi (1500 mg/100 gr bahan makanan), garam (38758 mg/100 gr bahan makanan).

 

  1. e.       Bahan Makanan Sehari

Bahan Makanan

Berat(gr)

Takaran

Beras

Daging

Telur Ayam

Tempe

Kacang Hijau

Sayuran

Buah

Minyak

Gula Pasir

300

100

50

100

25

200

200

25

25

5 gls nasi

2 ptg sdg

1 butir

4 ptg sdg

2 ½ sdm

2 gelas

2 ptg sdg papaya

2 ½ sdm

2 ½ sdm

 

  1. f.       Nilai Gizi

Energi                    2230 kkal

Protein                   75 gr

Lemak                   53 gr

Karbohidrat           365 gr

Kalsium                 500 mg

Besi                       24 mg

Tiamin                   1,2 mg

Vitamin                 87mg

Natrium                 305 mg

 

  1. g.      Pembagian Bahan Makanan Sehari
  2. 1.      Pagi

Beras 70 gr                  1 gelas nasi

Telur 50 gr                   1 btr

Sayuran 50 gr              ½ gelas

Minyak 5 gr                 ½ sdm

Gula Pasir 10 gr          1 sdm

  1. 2.      Pukul 10.00

Kacang hijau 25 gr      2 ½ sdm

Gula Pasir 15 gr          1 ½ sdm

  1. 3.      Siang dan Sore

Beras 140 gr                2 gelas nasi

Daging 50 gr               1 potong sedang

Tempe50 gr                2 potong sedang

Sayuran 75 gr              ¾ gelas

Buah 100gr                 1 potong sedang papaya

Minyak 10 gr               1 sdm

 

  1. h.      Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan

Bahan Makanan

Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Sunber karbohidrat

 

Beras, kentang, singkong, terigu, tapioca, hongkue, gula, makanan yang diolah dari bahan makanan tersebut diatas tanpa garam dapur dan soda seperti : macaroni, mie, bihun, roti, biskuit, kue kering.

 

Roti, biskuit, dan kue-kue yang dimasak dengan garam dapur, baking powder dan soda.

 

 

Sumber protein hewani,

 

Daging dan ikan maksimal 100 gr sehari, telur maksimal 1 butir sehari.

 

Otak, dinjal, lidah, sardine, daging, ikan, susu, dan telur yang diawetkan dengan garam dapur seperti daging asap, ham, bacon, dendeng, abon, keju, ikan asin, ikan kaleng, kornet, ebi, udang kering, telur asin dan telur pindang.

 

Sumber protein nabati.

 

Semua kacang-kacangan dan hasilnya yang diolah dan dimasak tanpa garam dapur.

 

Keju, kacang tanah dan semua kacang-kacangan dan hasilnya yang dimasak dengan garam dapur dan lain ikatan matrium.

 

Sayuran.

 

Semua sayuran segar, sayuran yang diawet tanpa garam dapur dan natrium benzoate.

 

Sayuran yang dimasak dan diawetkan dengan garam dapur dan lain ikatan natrium, seperti sayuran dalam kaleng, sawi asin, asinan dan acar.

 

Buah-buahan.

 

Semua buah-buahan segar, buah yang diawet tanpa garam dapur dan natrium benzoate.

 

Buah-buahan yang diawet dengan garam dapur dan lain ikatan natrium, seperti buah dalam kaleng.

 

Lemak.

 

Minyak goring, margarine dan mentega tanpa garam.

 

Margarine dan mentega biasa.

 

Minuman.

 

The dan kopi.

 

Minuman ringan.

 

Bumbu. Semua bumbu-bumbu kering yang tidak mengandung garam dapur dan lain ikatan natrium. Garam dapur sesuai ketentuan untuk diet rendah garam II dan III

 

Garam dapur untuk diet rendah garam I, baking powder, soda kue, vetsin, dan bumbu yang mengandung garam dapur seperti kecap, terasi, magi, tomato kecap,petis, tauco.

 

  1. i.        Contoh Menu Sehari

Pagi                       Nasi

Telur dadar

Tumis kacang panjang

 

Pukul 10.00          Bubur kacang hijau

 

Siang                     Nasi

Ikan acar kuning

Tahu bacem

Sayur lodeh

Papaya

 

Malam                  Nasi

Daging pesmol

Keripiktempe

Cah sayuran

Pisang

 

  1. B.     DIET PREEKLAMSI
    1. a.      Gambaran umum

Preeklamsia murupakan sindrom yang terjadi pada saat kehamilan masuk pada minggu ke-20 dengan tanda dan gejala seperti hipertensi, proteinuria, kenaikan berat badan yang cepat karena edema, mudah timbul kemerah-merahan, mual, muntah, pusing, nyeri lambung, oligouria, gelisan dan kesadaran menurun. Cirri khas diet ini adalah memperhatikan asupan garam dan protein.

 

  1. b.      Tujuan Diet :
    1. Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal
    2. Muncapai dan mempertahankan tekanan darah normal
    3. Mencegah atau mengurangi retensi garam atau air
    4. Mencapai keseimbangan nitrogen
    5. Menjaga agar penambahan berat badab tidak melebihi normal
    6. Mengurangi atau mencegah timbulnya factor risiko lain  atau penyakit baru pada saat kehamilan atau setelah melahirkan

 

  1. c.       Syarat Diet :
    1. Energi dan semua zat gizi cukup. Dalam keadaan berat, makanan diberikan secara berangsur, sesuai dengan kemampuan pasien menerima makanan. Penambahan energy tidak lebih dari 300 kkal dari makanan atau diet sebelum hamil.
    2. Garam diberikan rendah sesuai dengan berat ringannya retensi garam atau air. Penambahan berat badan diusahakan dibawah 3 kg/bulan atau dibawah 1 kg/minggu.
    3. Protein tinggi (1 ½ – 2 gr/kg berat badan).
    4. Lemak sedang, sebagian lemak berupa lemak tidak jenuh tunggal dan lemak tidak jenuh ganda.
    5. Vitamin cukup, vitamin C dan B6 diberikan sedikit lebingg tinggi.
    6. Mineral cukup terutama kalium dan kalsium.
    7. Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan makan pasien.
    8. Cairan diberikan 2500 ml sehari. Pada keadaan oligouria, cairan dibatasi dan disesuaikan dengan cairan yang keluar melalui urine, muntah, keringat, dan pernapasan.

 

  1. d.      Macam Diet dan Indikasi Pemberian
    1. 1.      Diet Preeklamsi I

Diet preeklamsi I diberikan pada pasien dengan preeklamsi berat. Makanan diberikkan dalam bentuk cair, yang terdiri dari susu dan sari buah. Jumlah cairan diberikan paling sedikit 1500 ml sehari per oral, dan kekurangan diberikan secara parenteral. Makanan ini kurang energy dan zat gizi, karena itu hanya diberikan selama 1-2 hari.

  1. 2.      Diet Preeklamsi II

Diet preeklamsi II diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet preeklamsi I atau kepada pasien preeklamsia yang penyakitnya tidak begitu berat. Makanan berbentuk saring atau lunak dan diberikan sebagai diet rendahgaramI.makanan ini cukup energy dan gizi lainnya.

  1. 3.      Diet Preeklamsi III

Diet preeklamsi III diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet preeklamsi II atau kepada pasien dengan preeklamsi ringan. Makanan ini mengandung protein tinggi dan garam rendah, diberikan dalam bentuk lunak atau biasa. Makanan iini cukup semua zat gizi. Jumlah energy harus disesuaikan dengan kenaikan berat badan yang boleh lebih dari 1 kg setiap bulan.

 

  1. e.       Bahan Makanan Sehari

 

Bahan Makanan

Diet Preeklamsia I

Diet Preeklamsia II

Diet Preeklamsia III

Berat (gr)

urt

Berat (gr)

urt

Berat (gr)

Urt

Beras

Telur

Daging

Tempe

Sayuran

Sari buah/

buah

 

Gula pasir

Minyak

nabati

Susu Bubuk

1000

 

 

80

 

75

15

 

 

8 sdm

 

15 sdm

150

50

100

50

200

400

 

 

30

15

 

25

3 gls tim

1 butir

2 ptg sdg

2 ptg sdg

2 gls

4 ptg sdg

pepaya

 

3 sdm

1 ½ sdm

 

5 sdm

200

50

100

100

200

400

 

 

30

25

 

50

4 gls tim

1 butir

2ptg sdg

4 ptg sdg

2 gls

4 ptg sdg

Papaya

 

3 sdm

2 ½ sdm

 

10 sdm

Susu khusus ibu hamil bila diberikan susu biasa energi hanya sebagian yang terpenuhi.

 

 

  1. f.       Nilai gizi
 

Diet   Preeklamsia I

Diet Preeklamsia II

Diet Preeklamsia III

Energi (kkal)

Protein (gram)

Lemak (gram)

Karbohidrat

(gram)

Kalsium

(gram)

Besi (gram)

Vitamin A (RE)

Tiamin (mg)

Vitamin C (mg)

Natrium (mg)

1032

20

19

211

 

600

 

6,9

750

0,5

2,46

228

1604

56

44

261

 

500

 

17,3

2796

0,8

212

248

 

2128

80

63

305

 

800

 

24,2

3035

1

213

403

 

 

  1. g.      Pembagian Bahan Makanan Sehari
  2. 1.      Diet Preeklamsia I

Pukul 06.00                       teh                   1 gelas

 

Pukul 08.00                       sari tomat        1 gelas

susu                 1 gelas

 

Pukul 10.00                       sari jeruk          1 gelas

 

Pukul 13.00                       sari alpukat      1 gelas

susu                 1 gelas

 

Pukul 16.00                       sari tomat        1 gelas

Susu                1 gelas

 

Pukul 18.00                       sari papaya      1 gelas

sari jeruk          1 gelas

 

Pukul 20.00                       teh                   1 gelas

Susu                1 gelas

 

  1. 2.      Diet preeklamsia II & III

Waktu

Bahan Makanan

Diet Preeklamsi II

Diet Preeklamsi III

Berat (g)

urt

Berat (g)

urt

Pagi

Beras

Telur ayam

Sayuran

Minyak

Susu bubuk

Gula pasir

50

50

50

5

25

10

1 gls tim

1 btr

½ gelas

½ sdm

5 sdm

1 sdm

50

50

50

5

25

10

1 gls tim

1 btr

½ gelas

½ sdm

5 sdm

1 sdm

10.00

Buah

Gula pasir

100

10

1ptg

papaya

1 sdm

100

10

1ptg

papaya

1 sdm

Siang

Beras

Daging

Tahu

Sayur

Buah

Minyak

50

50

50

75

100

5

1 gls tim

1 ptg sdg

½ bh bsr

¾ gelas

1ptg

papaya

½ sdm

75

50

100

75

100

10

1 ½ gls tim

1 ptg sdg

1 bh bsr

¾ gelas

1 ptg sdg

papaya

1 sdm

16.00

 

Buah

Gula Pasir

Susu bubuk

 

100

10

1 ptg

pepaya

1 sdm

100

10

25

Ptg

pepaya

1 sdm

5 sdm

Malam

Beras

Ikan

Tempe

Sayuran

Buah

Minyak

50

50

25

75

100

5

1 gls tim

1ptg sdg

1 ptg sdg

¾ gls

1ptg

pepaya

½ sdm

75

50

50

75

100

10

1 ½ gls tim

1 ptg sdg

2 ptg sdg

¾ gls

1 ptg sdg

papaya

1 sdm

 

 

  1. h.      Contoh Menu Sehari

Diet Preeklamsi II

Pagi                    Nasi Tim

Telur Ceplok

Tumis kacang panjang taoge

Susu

 

Pukul 10.00        Selada buah

 

Siang                  Nasi Tim

Daging bumbu terik

Tempebacem

Pisang

 

Pukul 16.00        Jeruk

 

Malam                Nasi tim

Ikan bumbu kuning

Gadon tahu

Jeruk

Teh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III
PENUTUP

  1. Hipertensi, preeklamsi dan eklamsi termasuk salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu hamil diIndonesia.
  2. Nutrisi (gizi) memegang peranan penting dalam upaya pencegahan dan penyembuhan penyakit. Sehingga untuk masalah Hipertensi dan komplikasi kehamilan yang lain perlu adanya pengaturan dan penyusunan menu yang baik (baik kualitas maupun kuantitasnya).
  3. Diet Rendah Garam (garam Na) sangat penting bagi penderita Hipertensi khususnya bagi ibu hamil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Almastar, Sunita. Penuntun Diet. 2006.Jakarta : Gramedia.

Arisman. Gizi dalam Daur Kehidupan. 2007.Jakarta : EGC

Francin Paath, Erna, dkk. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. 2005.Jakarta: EGC

www. cermindunia.com/edisi khusus 80/1992. Selasa, 31 Maret 2008. 19.00 WIB

http://www.balita-anda.com. Selasa, 31 Maret 2008. 19.00 WIB

Iklan

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN GONDOK

Ny “S” umur 23 tahun G1 P0 Ab0 Ah0 dengan UK 10 minggu

Di RB Karya Rini, Ponalan Baru Gang 3 Taman Agung Muntilan

NO. REGISTER                                 :

MASUK RS TANGGAL, JAM         :           21 Januari 2010, 16.00 WIB

DIRAWAT DI RUANG                    :

Biodata                             Ibu                                           Suami

Nama                  :              Ny Siti Khasidah                    Tn Edi Kuswantoro

Umur                  :              23 tahun                                  25  tahun

Agama                :              Islam                                       Islam

Suku/bangsa       :              Jawa                                        Jawa

Pendidikan         :              SMA                                       SMA

Pekerjaan            :              IRT                                          Wiraswata

Alamat               :              Kemiri Ombo                          Kemiri Ombo

DATA SUBJEKTIF

  1. Kunjungan saat ini            :           Kunjungan ulang

Keluhan utama                  :           Ibu ingin memeriksakan kehamilannya

  1. Riwayat Perkawinan

Kawin 1 kali. Kawin pertama umur 22 tahun. Dengan suami sekarang 1 tahun.

  1. Riwayat Menstruasi

Menarche umur 14 tahun. Siklus 30 hari. Teratur. Lama 7 hari. Sifat darah encer. Bau amis. Tidak ada fluor albus. Tidak dismenorroe.

HPM 22 November 2009. HPL 29 Agustus 2010

  1. Riwayat kehamilan ini.
    1. Riwayat ANC

ANC sejak umur kehamilan 10 minggu. ANC di bidan.

Frekuensi :       Trimester I       2          kali

Trimester II     –           kali

Trimester III    –           kali

  1. Pergerakan janin yang pertama pada umur kehamilan – minggu, pergerakan janin dalam 24 jam terakhir – kali.
  2. Keluhan yang dirasakan : Ibu mengeluh pusing dan lemas, cepat lelah,  dan leher terasa mengganjal ketika digerakkan
  3. Pola Nutrisi                          Makan                                     Minum

Frekuensi                              2 kali sehari                             6 gelas/hari

Macam                                 nasi, lauk                                 air putih, teh

Jumlah                                  cukup                                      cukup

Keluhan                                tidak ada                                 tidak ada

Pola Eliminasi                      BAB                                        BAK

Frekuensi                              1 kali perhari                           8-9  kali perhari

Warna                                   khas feses                                khas urin

Bau                                       khas feses                                khas urin

Konsistensi                           lunak                                       cair

Jumlah                                  tidak terkaji                             tidak terkaji

Pola Aktivitas

Kegiatan sehari-hari       :     Ibu mengerjakan pekerjaan sehari-hari.

Istirahat/tidur                 :     Siang 1-2 jam, malam 6-7 jam.

Seksualitas                     :     Frekuensi 1 kali sehari.

Tidak ada keluhan.

  1. Personal Hygiene

Kebiasaan mandi 2 kali/hari

Kebiasaan membersihkan alat kelamin saat mandi dan sehabis BAB/BAK.

Kebiasaan mengganti pakaian dalam sehabis mandi dan jika lembab.

Jenis pakaian dalam yang digunakan katun.

  1. Imunisasi

TT 1 pada 5 Januari 2009.

TT 2 pada 7 Februari 2009

  1. Riwayat kehamilan, persalinan,dan nifas yang lalu.

G1 P0 Ab0 Ah0

Hamil

Ke

Persalinan Nifas
Tgl lahir UK Jenis persalinan Penolong Komplikasi JK BB Lakta si Kompli kasi
Ibu Bayi
1 Hamil saat ini
2
3
  1. Riwayat kontrasepsi yang digunakan.
No Jenis kontrasepsi Mulai memakai Berhenti/ganti cara
Tanggal Oleh Tempat Keluhan Tanggal Oleh Tempat Alasan
1 Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi
  1. Riwayat kesehatan.
    1. Penyakit sistemik yang sedang/pernah diderita

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit sistemik seperti hipertensi, hepatits, DM, TBC.

  1. Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga.

Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita hipertensi, hepatitis, DM, TBC.

  1. Riwayat keturunan kembar.

Tidak ada keturunan kembar dan cacat.

  1. Kebiasaan-kebiasaan.

Ibu tidak merokok.

Ibu tdak minum jamu-jamuan.

Ibu tidak minum-minuman keras.

Ibu tidak mempunyai makanan/minuman pantangan.

Ibu tidak mengalami perubahan pola makan (termasuk nyidam, nafsu makan turun, dan lain-lain).

  1. Keadaan Psiko Sosio Spiritual.
    1. Kelahiran ini : diinginkan.
    2. Pengetahuan ibu tentang kehamilan dan keadaan sekarang.

Ibu kurang mengetahui tentang hal-hal yang harus dilakukan ibu hamil.

  1. Penerimaan ibu terhadap kehamilan saat ini.

Ibu menerima kehamilannya saat ini.

  1. Tangapan keluarga terhadap kehamilan.

Keluarga mendukung kehamilan ibu.

DATA OBJEKTIF

  1. Pemeriksaan Fisik
    1. Keadaan umum kulit mengering, kesadaran CM.
    2. Tanda vital

Tekanan darah                :        100/60    mmHg

Nadi                               :        86           kali per menit

Pernafasan                      :        20           kali per menit

Suhu                               :        –              C

  1. TB                                  :        158         cm

BB                                  :        sebelum hamil 48 kg, BB sekarang 46 kg

IMT                                :        48/(1,582) = 19,22

LLA                               :        22           cm

  1. Kepala dan Leher

Edema wajah                 :        tidak ada

Cloasma gravidarum      :        +

Mata                               :        konjungtiva merah, sklera putih

Mulut                             :        caries tidak ada, bibir dan gusi merah muda

Leher                              :        tidak ada pembesaran vena jugularis, teraba pembesaran kelenjar tiroid,

Payudara

Bentuk                           :        simetris

Areola mammae             :        hiperpigmentasi

Puting susu                     :        menonjol

Colostrum                      :        belum keluar

  1. Abdomen

Bentuk                           :        memanjang

Bekas luka                      :        tidak ada

Strie gravidarum            :        ada

Palpasi Leopold

Leopold I                       :        ballotemen +

Leopold II                      :        tidak dilakukan

Leopold III                    :        tidak dilakukan

Leopold IV                    :        tidak dilakukan

Osborn test                     :        tidak dilakukan

Mc Donald                     :        –

TBJ                                 :        –

Auskultasi DJJ               :        –

Ekstremitas

Edema                            :        tidak ada

Varices                           :        tidak ada

Reflek patela                  :        tidak dilakukan

Kuku                              :        pendek, bersih, tidak pucat

  1. Genetalia luar

Tanda chadwich             :        tidak dilakukan

Varices                           :        tidak dilakukan

Bekas luka                      :        tidak dilakukan

Kelenjar bartholini         :        tidak dilakukan

Pengeluaran                    :        tidak dilakukan

  1. Anus

Hemoroid                       :        tidak dilakukan

  1. Pemeriksaan Panggul Luar

Distansia spinarum               :        tidak dilakukan

Distansia kristarum              :        tidak dilakukan

Boudelogue                          :        tidak dilakukan

Lingkar panggul                   :        tidak dilakukan

  1. Pemeriksan Penunjang

Tidak dilakukan

ASSESMENT

  1. Diagnosis Kebidanan

Ny ”S” umur 23 tahun G1 P0 Ab0 Ah0 UK 10 minggu hamil dengan gondok  grade 1

  1. Masalah

Ibu tidak nyaman dengan benjolan di lehernya.

  1. Kebutuhan

KIE hal-hal yang harus dilakukan ibu hamil, pengaruh gondok terhadap kehamilan, dan cara mengatasinya.

  1. Diagnosis Potensial

Tidak ada.

  1. Masalah Potensial

Ibu berpotensi mengalami gangguan kehamilan antara lain, abortus, bayi lahir mati, hipothryroid pada neonatal, cacat kongenital pada bayi

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Tidak ada

  1. Kolaborasi

Tidak ada

  1. Merujuk

Tidak ada

PLANNING (Termasuk pendokumentasian, implementasi, dan evaluasi)

Tanggal 21 Januari 2010, pukul 16.10 WIB.

  1. Memberitahukan kepada ibu bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan, ibu menderita gondok grade 1

KU                        :           kulit mengering

TD             :           100/60 mmHg

Nadi          :           86 x/menit

Leher         :           teraba pembesaran kelenjar tiroid dan terlihat hanya dengan kepala yang ditengedahkan

Ibu mengetahui hasil pemeriksaan.

  1. Menjelaskan kepada ibu bahwa kehamilan ini dapat membuat gondok bertambah besar serta pada janin akan berpengaruh Abortus, Steel Birth, Kelainan Kematian Perinatal, Kretin Neurologi, Kretin Myxedematosa, Defek Psikomotor

Ibu mengerti penjelasan bidan dan ibu merasa khawatir

  1. Memberikan terapi parasetamol 3×1, amoxixilin 3×1, recovit1x1, sirup vitamin Zn

Ibu mengerti penjelasan yang diberikan

  1. Menyarankan kepada ibu untuk makan makanan yang mengandung yodium, dimulai dari menggunakan garam beryodium dan sesekali makan ikan laut atau cumi untuk mencukupi kebutuhan yodium pada tubuh ibu.

Ibu mengerti penjelasan yang diberikan dan bersedia makan makanan yang mengandung yodium.

  1. Menjelaskan kepada ibu tentang hal-hal yang harus dilakukan ibu hamil.
  • Memeriksakan kehamilan sesering mungkin.
  • Makan-makanan yang bergizi.
  • Minum tablet besi setiap hari untuk penambah darah.
  • Imunisasi TT untuk mencegah penyakit tetanus pada bayi.
  • Istirahat cukup pada siang dan malam hari.

Ibu mengerti dan dapat menjelaskan kembali.

  1. Meminta ibu melakukan kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan.

Ibu bersedia melakukan kunjungan ulang.

  1. Mendokumentasikan pada buku KIA ibu.

Sudah didokumentasikan.

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Treponema pallidum,  yang menyerang manusia, bersifat kronis, sistemik dan dapat mengenai semua bagian tubuh, dapat bersifat laten selama bertahun-tahun, menular serta dapat diobati. Sifilis kongenital adalah sifilis yang ditularkan oleh ibu kepada janinnya secara intra uterin. Nama lainnya adalah lues connate, syphilis connata, venereal, penyakit raja singa.

Pada abad ke-15, sifilis merupakan wabah di Eropa, tapi sesudah tahun 1860, morbiditas penyakit ini menurun dengan cepat. Selama perang dunia ke II, insiden sifilis meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 1946, dan setelah ditemukan penisilin menurun dengan cepat. Di Eropa dan Amerika Serikat insiden sifilis kongenital pada umumnya menurun sekitar tahun 1970 sampai awal 1980, namun dalam beberapa tahun terakhir tampak adanya peningkatan insiden sifilis kongenital. Peningkatan ini diduga berkaitan dengan peningkatan insiden primer dan sekunder pada wanita usia subur yang berumur 15-29 tahun. Di samping itu, sifilis congenital merupakan penyebab 20-30% kematian bayi perinatal.2

Gambaran klinis sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis kongenital dini (timbul sebelum usia 2 tahun), serta sifilis kongenital lanjut (timbul setelah usia 2 tahun). Hampir semua kasus sifilis didapat melalui kontak seksual langsung dengan lesi dari individu yang terjangkit sifilis aktif primer ataupun sekunder. Sifilis dapat ditransmisikan secara kongenital dari ibu yang terinfeksi melalui plasenta ke janin. Transmisi lain yang mungkin namun jarang terjadi termasuk transfusi darah, kontak personal non seksual, inokulasi langsung yang tidak disengaja. Prinsip pengobatan sifilis kongenital adalah penggunaan penisilin sebagai obat pilihan, baik pada ibu hamil maupun pada bayi. Pengamatan pasca pengobatan pada bayi dilakukan secara bertahap, biasanya pada usia 2, 4, 6, 12 dan 15 bulan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Definisi

Sifilis kongenital adalah penyakit yang didapatkan janin dalam uterus dari ibunya yang menderita sifilis.3 Infeksi sifilis terhadap janin dapat terjadi pada setiap stadium sifilis dan setiap masa kehamilan. Dahulu dianggap infeksi tidak dapat terjadi sebelum janin berusia 18 minggu, karena lapisan Langhans yang merupakan pertahanan janin terhadap infeksi masih belum atrofi. Tetapi ternyata dengan mikroskop elektron dapat ditemukan Treponema pallidum pada janin berusia 9-10 minggu.

Sifilis kongenital dini merupakan gejala sifilis yang muncul pada dua tahun pertama kehidupan anak, dan jika muncul setelah dua tahun pertama kehidupan anak disebut dengan sifilis kongenital lanjut.

  1. B. Epidemiologi

Sifilis terdistribusi di seluruh dunia, dan merupakan masalah yang utama pada Negara berkembang. Dilihat dari usia, kasus sifilis banyak ditemukan pada orang dengan rentang usia 20-30 tahun. Empat puluh persen wanita hamil dengan sifilis dini yang tidak diobati, akan mengakibatkan penularan pada janin.

  1. C. Etiologi

Pada tahun 1905 penyebab sifilis ditemukan oleh Sshaudinn dan Hoffman ialah Treponema pallidum, yang termasuk ordo Spirochaetales, familia Spirochaetaceae dan genus Treponema. Bentuk seperti spiral teratur, panjangnya antara 6-15 um, lebar 0,15 um, terdiri empat dari delapan sampai dua puluh empat lekukan. Gerakannya berupa rotasi sepanjang aksis dan maju seperti gerakan pembuka botol. Membiak secara pembelahan melintang, pada stadium aktif terjadi setiap tiga puluh jam. Pembiakan pada umumnya tidak dapat dilakukan di luar badan. Di luar badan kuman tersebut cepat mati, sedangkan dalam darah untuk transfuse dapat hidup tujuh puluh dua jam.

Penularan sifilis dapat melalui cara sebagai berikut :

  1. Kontak langsung :
    1. sexually tranmited diseases (STD)
    2. non-sexually
    3. Transplasental, dari ibu yang menderita sifilis ke janin yang dikandungnya.
  2. Transfusi : Syphilis d’ emblee, tanpa primer lesi
  3. D. Klasifikasi

Menurut World Health Organization (WHO) secara garis besar sifilis dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Sifilis kongenital (bawaan)

2. Sifilis akuisita (didapat)

Sifilis kongenital dapat berbentuk :

1. Sifilis kongenital dini (timbul pada umur kurang dari 2 tahun)

2. Sifilis kongenital lanjut/tarda (timbul setelah umur lebih dari 2 tahun)

E.  Patogenesis

Sifilis dapat ditularkan oleh ibu pada waktu persalinan, namun sebagian besar kasus sifilis kongenital merupakan akibat penularan in utero. Resiko sifilis kongenital berhubungan langsung dengan stadium sifilis yang diderita ibu semasa kehamilan. Lesi sifilis congenital biasanya timbul setelah 4 bulan in utero pada saat janin sudah dalam keadaan imunokompeten. Penularan inutero terjadi transplasental, sehingga dapat dijumpai Treponema pallidum pada plasenta, tali pusat, serta cairan amnion.

Treponema pallidum melalui plasenta masuk ke dalam peredaran darah janin dan menyebar ke seluruh jaringan. Kemudian berkembang biak dan menyebabkan respons peradangan selular yang akan merusak janin. Kelainan yang timbul dapat bersifat fatal sehingga terjadi abortus atau lahir mati atau terjadi gangguan pertumbuhan pada berbagai tingkat kehidupan intrauterine maupun ekstrauterin.

  1. F. Gambaran Klinis

Berdasarkan gambaran klinisnya, sifilis kongenital dapat dibagi menjadi sifilis kongenital dini, sifilis kongenital lanjut dan stigmata. Dianggap sifilis kongenital dini jika timbul pada anak di bawah usia 2 tahun dan sifilis kongenital lanjut bila timbul di atas 2 tahun. Sigmata adalah jaringan parut atau deformitas yang terjadi akibat penyembuhan dua stadium tersebut.

  1. Sifilis kongenital dini

Gambaran klinis sifilis kongenital dini sangat bervariasi, mengenai berbagai organ dan menyerupai sifilis stadium II. Karena infeksi pada janin melalui aliran darah maka tidak dijumpai kelainan sifilis primer. Pada saat lahir bayi dapat tampak sehat dan kelainan timbul setelah beberapa minggu, tetapi dapat pula kelainan ada sejak lahir.

Pada bayi dapat dijumpai kelainan berupa kondisi berikut :

a. Pertumbuhan intrauterine yang terlambat

b.Kelainan membrane mukosa :

Mucous patch dapat ditemukan di bibir, mulut, farings, laring dan mukosa genital. Rinitis sifilitika (snuffles) dengan gambaran yang khas berupa cairan hidung yang mula-mula encer tetapi kemudian menjadi pekat, purulen dan hemoragik. Hidung menjadi tersumbat sehingga menyulitkan pemberian makanan.

c.  Kelainan kulit, rambut dan kuku

Dapat berupa makula eritem, papula, papuloskuamosa dan bula. Bula dapat sudah ada sejak lahir, tersebar secara simetris, terutama pada telapak tangan dan telapak kaki. Makula, papula atau papulomatous tersebar secara generalisata dan simetris. Di daerah yang lembab papula menjadi erosif dan membasah atau menjadi hipertrofik (kondiloma lata). Pada kasus yang berat tampak kulit menjadi keriput terutama pada daerah muka sehingga bayi tampak seperti orang tua. Rambut jarang dan kaku, alopesia areata terutama pada sisi dan belakang kepala. Alopesia dapat juga mengenai alis dan bulu mata. Onikosifilitika disebabkan oleh papula yang timbul pada dasar kuku dan menyebabkan kuku menjadi terlepas. Kuku baru yang tumbuh berwarna suram, tidak teratur dan menyempit pada bagian dasarnya.

  1. Kelainan tulang

Pada 6 bulan pertama, osteokondritis, periostitis, dan osteitis pada tulang-tulang panjang merupakan gambaran yang khas. Perubahan yang paling mencolok tampak pada daerah pertumbuhan tulang di dekat epifisis. Epifisis membesar, garis epifisis melebar dan tidak teratur. Pada batas metafisis dengan garis kartilago epifisis, tampak daerah kalsifikasi yang densitasnya meningkat dan tidak teratur sehingga pemeriksaan sinar X memberikan gambaran seperti gigi gergaji. Pseudoparalisis pada anggota gerak disebabkan oleh pembengkakan periartikular dan nyeri pada ujung-ujung tulang sehingga gerakan menjadi terbatas. Osteokondritis dapat dilihat pada pemeriksaan dengan sinar X setelah 5 minggu sedangkan periostitis setelah 16 minggu. Tanda-tanda osteokondritis menghilang setelah 6 bulan tetapi periostitis menetap dan menjadi lebih jelas.

  1. Kelainan kelenjar getah bening : terdapat limfadenopati generalisata
    1. Kelainan alat-alat dalam : hepatomegali, splenomegali, nefritis, nefrosis, pneumonia
    2. Kelainan mata : Korioretinitis, glaukoma dan uveitis
      1. Kelainan hematologi : anemia, eritroblastemia, retikulositosis, trombositopenia, diffuse intravascular coagulation (DIC)
      2. Kelainan susunan saraf pusat : meningitis sifilitika akut yang bila tidak diobati secara adekuat akan menimbulkan hidrosefalus, kejang dan mengganggu perkembangan intelektual1
      3. Sifilis kongenital lanjut

Sifilis ini biasanya timbul setelah umur 2 tahun, lebih dari setengah jumlah penderita tanpa manifestasi klinik, kecuali tes serologis yang reaktif. Titer serologis sering berfluktuasi, sehingga jika dijumpai keadaan demikian, dapat diduga suatu sifilis kongenital. Gambaran klinis dari sifilis kongenital dapat di bedakan dalam 2 tipe :4

a. Inflamasi sifilis kongenital lanjut

Pada keadaan ini yang paling pentig adalah adanya lesi kornea, tulang, dan sistem saraf

pusat. Dapat dijumpai kelainan sebagai berikut :

1. Kornea : Keratitis Intersisial

Biasanya terjadi pada umur pubertas, dan terjadi bilateral. Pada kornea timbul pengaburan menyerupai gelas disertai vaskularisasi sklera. Keadaan ini dimulai dengan peradangan perikorneal berat dan kemudian berlanjut dengan perselubungan difus kornea oleh bayangan putih tanpa adanya ulserasi pada permukaan kornea, terjadi pada 20-50 % kasus sifilis kongenital lanjut.

2. Tulang : Perisynovitis (Clutton’s joint)

Mengenai kedua lutut, yang akan mengakibatkan terjadinya bengkak tanpa nyeri yang simetris.

3. Sistem saraf pusat

Lesi pada sistem saraf pusat dapat terjadi pada sifilis kongengital lanjut. Biasanya yang menjadi tanda lesi SSP pada sifilis kongenital adalah dengan adanya kelemahan umum (generalized paresis) dan renjatan.

b. Stigmata sifilis kongenital

Lesi sifilis kongenital dini dan lanjut dapat sembuh serta meninggalkan parut dan kelainan yang khas. Parut dan kelainan demikian disebut dengan stigmata sifilis kongenital,akan tetapi  hanya sebagian penderita yang menunjukkan gambaran tersebut.Ditemukannyastigmata ini dapat menjadi salah satu pegangan unuk menegakkan diagnosis sifilis kongenital.Pada stigmata sifilis  kongenital, hal penting yang perlu diperhatikan adalah adanya trias Hutchinson, yaitu :4

1. Perubahan pada gigi insisivus menjadi datar dan seperti gergaji

2. Opasitas kornea (kornea ditutupi kabut berwarna putih) tanpa ilserasi permukaan kornea.

3. Ketulian karena ganguan nervus akustikus (N.VIII). Ketulian biasanya terjadi mendekati masa pubertas, tetapi kadang-kadang terjadi pada umur pertengahan.

Selain itu ditemukan pula kelainan sebagai berikut :

1. Neurosifilis

Dapat juga menunjukkan kelainan seperti manifestasi sifilis yang didapat. Tabes dorsalis agak jarang dibandingkan dengan sifilis yang didapat, paresis lebih sering terjadi dibandingkan dengan sifilis yang didapat, paresis lebih sering terjadi dibandingkan pada orang dewasa. Kejang juga sering terjadi pada kasus sifilis kongenital ini.

2. Tulang dan palatum

Terjadi sklerosis, sehingga tulang kering menyerupai pedang (sabre), tulang frontal yang menonjol, atau dapat juga terjadi kerusakan akibat gumma yang menyebabkan destruksi terutama pada septum nasi atau pada palatum durum. Perforasi palatum dianggap terjadi pada sifilis kongenital.

3. Gigi molar Mulberry (Mulberry’s molar)

Biasanya pada molar I dan muncul pada usia 6 tahun, merupakan gambaran gigi yang hiperplastik dengan permukaan oklusal yang mendatar (flattening) serta diliputi oleh serbukan yang menandakan kerapuhan gigi.

4. Sifilis rinitis infantil dan nasal chondritis

Fisura di sekitar rongga mulut dan hidung disertai ragade yang disebut sifilis rinitis infantil. Nasal chondritis merupakan kelainan yang disebabkan oleh pendataran tulang pembentuk hidung, gambaran ini biasa disebut dengan saddle nose.3,4,8

  1. G. Diagnosis

Diagnosis pasti pada sifilis kongenital ditegakan dengan identifikasi T.pallidum. Selain itu, sifilis kongenital dapat didiagnosis berdasarkan pemeriksaan antepartum dan pada bayi lahir mati. Untuk pemeriksaan pada janin dapat digunakan ultrasonografi (USG). Pada pemeriksaan USG dapat dijumpai penebalan kulit, penebalan plasenta, hepatosplenomegali dan hidramnion. Pemeriksaan ini dilengkapi dengan pemeriksaan cairan amnion untuk mencari adanya treponema. Identifikasi T. pallidum dengan pemeriksaan mikroskop lapagan gelap atau imunofluoresensi dapat dilakukan apabila dijumpai secret hidung, mucous patches, lesi vesiko bulosa atau kondiloma lata. Namun, cara konvensional untuk pengambilan specimen tidak sensitive dan merupakan prosedur invasive, sehingga sulit dilakukan dan hanya dilakukan pada bayi dengan lesi luas. Selain itu, terdapat beberapa kendala yang menyebabkan identifikasi T.pallidum sulit dilakukan untuk menegakkan diagnosis sifilis kongenital, yaitu :

a) T.pallidum bersifat tidak dapat dibiakkan dan sulit ditemukan pada spesmen klinis

b) Analisis serologic pada bayi rumit oleh adanya antibody maternal yang didapat transplasental

c) Sebagian besar bayi sakit yang hidup tidak menunjukkan adanya tanda infeksi

Untuk menegakkan diagnosis klinis sifilis kongenital, saat ini di AS digunakan dua criteria, yaitu kriteria dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang direvisi dan kriteria Kaufman yang dimodifikasi.

1)      Kriteria Kaufman yang dimodifikasi.

  • Pasti (definite)

Dijumpai T.pallidum pada pemeriksaan mikroskop lapangan gelap atau pemeriksaan histologik

  • Sangat Mungkin (probable)

1. Peningkatan titer VDRL dalam waktu 3 bulan atau tes serologic untuk sifilis (TSS) reaktif yang tidak berubah menjadi non reaktif dalam waktu 4 bulan

2. Satu kriteria mayor atau dua minor dan disertai TSS reaktif atau tes FTA reaktif

3. Satu kriteria mayor dan satu kriteria minor

  • Kriteria mayor berupa kondiloma lata, osteokondritis, periostitis, rhinitis, rhinitis hemoragik
  • Kriteria minor berupa fisura pada bibir, lesi kulit, mucous patch, hepatomegali,splenomegali, limfadenopati generalisata, kelainan SSP, anemia hemolitik, sel cairan serebrospinal (CSS) >20, protein >100.2

2)      Kriteria CDC yang di revisi

  • Pasti (confirmed)

Diijumpai T. Pallidum pada pemeriksaan mikroskop lapangan gelap

  • Tersangka (presumtive)

1. Semua bayi yang ibunya menderita sifilis tanpa pengobatan atau mendapat pengobatan tidak adekuat selama kehamilan

2.  Semua bayi dengan TSS reaktif dan satu dari keadaan di bawah ini :

– Gambaran sifilis kongenital pada pemeriksaan fisik

– VDRL CSS reaktif/ hitung sel CSS ≥ 5/protein CSS ≥ 50 diluar sebab lain.

– Tes FTA-abs-19S-antibodi IgM reaktif

3.  Bayi lahir mati (syphilitic stillbirth)

Kematian janin setelah umur kehamilan 20 minggu atau berat janin ≥500 gram pada wanita yang menderita sifilis tanpa pengobatan atau memperoleh pengobatan tidak adekuat saat melahirkan.

  1. H. Penatalaksanaan

Pengobatan sifilis kongenital terbagi menjadi pengobatan pada ibu hamil dan pengobatan pada bayi. Penisilin masih tetap merupakan obat pilihan untuk pengobatan sifilis, baik sifilis didapat maupun sifilis kongenital. Pada wanita hamil, tetrasiklin dan doksisiklin merupakan kontraindikasi. Penggunaan sefriakson pada wanita hamil belum ada data yang lengkap. Pengobatan sifilis pada kehamilan di bagi menjadi tiga, yaitu :

1) Sifilis dini (primer, sekunder, dan laten dini tidak lebih dri 2 tahun).

Benzatin penisilin G 2,4 juta unit satu kali suntikan IM, atau penisilin G prokain dalamaquadest 600.000 unit IM selama 10 hari.

2) Sifilis lanjut (lebih dari 2 tahun, sifilis laten yang tidak diketahui lama

infgeksi, sifilis kardiovaskular, sifilis lanjut benigna, kecuali neurosifilis)

Benzatin penisilin G 2,4 juta unit, IM setiap minggu, selama 3 x berturut-turut, atau dengan penisilin G prokain 600.000 unit IM setiap hari selama 21 hari.

3) Neurosifilis

Bezidin penisilin 6-9 MU selama 3-4 minggu. Selanjutnya dianjurkan pemberian benzil penisilin 2-4 MU secara IV setiap 4 jam selama 10 hari yang diikuti pemberian penisilin long acting, yaitu pemberian benzatin penisilin G 2,4 juta unit IM sekali seminggu selama 3 minggu, atau penisilin G prokain 2,4 juta unit IM + prebenesid 4 x 500 mg/hari selama 10 hari yang diikuti pemberian benzatin penisilin G 2,4 juta unit IM sekali seminggu selama 3 minggu.

Terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi pada pengobatan sifilis kongenital menurut CDC tahun 1998. pengobatan harus diberikan pada bayi :

a) Menderita sifillis kongenital yang sesuai dengan gambaran klinik, laboratorium dan/radiologik,

b) Mempunyai titer test nontreponema ≥ 4 kali dibanding ibunya

c) Dilahirkan oleh ibu yang pengobatannya sebelum melahirkan tidak tercatat, tidak

diketahui, tidak adekuat atau terjadi ≤ 30 hari sebelum persalinan.

d) Dilahirkan oleh ibu seronegatif yang diduga menderita sifilis

e) Titer pemeriksaan nontreponema meningkat ≥ 4 kali selama pengamatan.

f) Hasil tes treponema tetap reaktif sampai anak berusia 15 bulan, atau

g) Mempunyai antibodi spesifik IgM antitreponema.

Selain itu, juga dipertimbangkan pengobatan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita sifilis dan diobati selama kehamilannya namun bayi tersebut selanjutnya tidak bisa diamati.  Pengobatan sifilis kongenital tidak boleh ditunda dengan alasan menunggu diagnosis pasti secara klinis atau serologik. Dengan pengobatan dengan Aqueous penisilin bergantung usia bayi. Pada usia ≤ 1 minggu, diberikan tipa 12 jam, usia 1 minggu – ≤ 4 minggu diberikan tiap 8 jam, dan setelah usia 4 minggu diberikan tipa 6 jam.2

  1. 1. Pengobatan sifilis kongenital menurut CDC tahun 1998
  • Bayi dengan sifilis kongenital, ibu dengan/ tanpa sifilis

Penisilin G prokain 50.000 unit/kgBB IM/IV selama 10-14 hari.

  • Bayi normal

a)      Ibu sifilis dini dan/atau tanpa terapi atau terapi tidak tercatat diberikan :

Aqueous penisilin G 50.000 unit/kgBB IV selama 10-14 hari, atau penisilin

prokain G 50.000 unit/kgBB IM, 10-14 hari usia (usia ≤ 4 minggu), atau

benzatin penisilin G 50.000 unit/kgBB IM, dosis tunggal

b)      Ibu sifilis laten lanjut, atau

c)      Ibu mendapat terapi eritromosin atau obat selain penilin, atau

d)     Ibu mendapat terapi adekuat ≤ 4 minggu sebelum persalinan, atau

e)      Ibu mendapat terapi adekuat > 1 bulan sebelum persalinan, titer non treponema tidak

turun 4 kali lipat, diberikan : Benzatin penisilin 50.000 unit/kgBB IM, dosis tunggal

f)       Ibu mendapat terapi adekuat > 1 bulan sebelum persalinan, titer nontreponema turun 4 kali lipat, dilakukan : Pengamatan klinis dan serologik, atau benzatin penisilin G 50.000 unit/kgBB IM, dosis tunggal bila pengamatan tidak memungkinkan

g) Ibu mendapat terapi adekuat sebelum kehamilan dan titer stabil (VDRL≤ 1:2) selama kehamilan, dilakukan : Pengamatan klinis dan serologic. Menurut CDC 1998, diluar masa neonatus, anak yang didiagnosis sifilis congenital harus diperiksa CSS untuk menyingkirkan neurosifilis dan menentukan sifilis congenital atau sifilis didapat. Semua anak yang diduga menderita sifilis kongenital atau dengan kelainan neurologik diberikan aqueous penisiline G 50.000 unit/kgBB IV/IM tiap 4-6 jam selama 10-14 hari. Pemberian penisilin prokain tidak dianjurkan.

  1. 2. Pengobatan alternatif untuk pasien alergi penisilin

Bila alergi terhadap penisilin, sebagai obat alternatif diberikan obat tetrasiklin dan eritromisin. Tetapi efektifitasnya lebih rendah bila dibandingkan dengan penisilin. Penggunaan sefriakson pada wanita hamil belum ada data yang lengkap.

  1. 3. Pemeriksaan Setelah Pengobatan

Pemeriksaan penderita sifilis dini harus dilakukan, bila terjadi infeksi ulang setelah pengobatan. Setelah pemberian penisilin G, maka setiap pasien harus diperiksa 3 bulan kemudian untuk penentuan hasil pengobatan. Pengalaman menunjukkan bahwa infeksi ulang sering terjadi pada tahun pertama setelah pengobatan. Evaluasi kedua dilakukan 6-12 bulan setelah pengobatan. Penderita yang diberi pengobatan selain penisilin harus lebih sering diperiksa.

a. Semua penderita sifilis kardiovaskuler dan neurosifilis harus diamati bertahun-tahun,termasuk klinis, serologis dan pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang dan bila perlu radiologis.

b.  Pada semua tingkat sifilis, pengobatan ulang diberikan bila :

a)  tanda-tanda dan gejala klinis menunjukkan sifilis aktif yang persisten atauberulang.

b) Terjadi kenaikan titer tes nontreponemal lebih dari dua kali pengenceran ganda.

c) Pada mulanya tes nontreponemal dengan titer tinggi (> 1/8) persisten bertahuntahun.

d) Harus dilakukan pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang setelah diberi pengobatan, kecuali ada infeksi ulang atau diagnosis sifilis dini dapat ditegakkan.

e) penderita harus diberi pengobatan ulang terhadap sifilis yang lebih dari 2 tahun. Pada umumnya hanya sekali pengobatan ulang dilakukan sebab pengobatan yang cukup pada penderita akan stabil dengan titer rendah.9

  1. I. Diagnosis Banding

Diagnosis banding pada sifilis kongenital antara lain sebagai berikut :

1. Iktiosis lamellar

Kelainan ini berisfat autosomal resesif, timbul pada waktu lahir. Lokalisasinya lipatan tubuh, batang tubuh dan monomorf. Efloresensinya sisik-sisik besar datar dan bewarna gelap.

2. Staphylococcal scalded skin syndrome (SSSS)

Lesi kulit menyeluruh, bula eritematosa, ukuran cukup besar, superficial, dan mudah pecah. Seringkali dijumpai pada bayi. Pada penyembuhan tampak jaringan parut, hal ini disebabkan oleh peran epidermolytic toxin, cleavage plane dalam stratum granulosum sehingga terjadi pengumpulan cairan dalam bula secara pasif.

3. Staphylococcal scarlatiniform eruption

Lesi kulit menyeluruh, berupa macula eritematosa di sekitar bibir, hidung, leher, dan aksila. Kemudian menyebar ke seluruh badan namun

4. Toxic shock syndrome

Kelainan kulit berupa eritroderma yang menyeluruh dapat berbentuk komponen petekie maupun skarlatiform.

5. Malnutrisi (Marasmik-kwashiorkor)

Pada keadaan malnutrisi ini, pada kulit dapat ditemukan hiperpigmentasi, likenifikas, deskuamasi, eskoriasi, dan edema. Pada mukosa mulut timbul erosi, rambut halus, lurus, mudah di lepas, dan muka seperti orang tua.

6. Morbili kongenital

Adanya bercak koplik, yakni bercak kecil sebesar jarum pentul berwarna kemerahan terletak di daerah mukosa di depan gigi molar, ruam berwarna kecoklatan. Di daerah muka, leher, dan bagian tubuh sebelah atas ruam tampak bersatu, sedangkan di tubuhbagian bawah ruam  menyebar

7. Dermatitis seboroik

Karakteristik lesi adanya sisik, kemerahan dengan daerah predileksi muka, kulit kepala dan lipatan kulit, skuamanya berminyak, berwarna kekuningan dengan batas tidak tegas

8. Infantile acne (acne neonatorum)

Secara klinis, akne neonatorum merupakan erupsi polimorf dengan eritema, pustule,

komedo pada pipi13,14,15

  1. J. Pencegahan

Sifilis kongenital adalah penyakit yang dapat dicegah, yaitu melalui deteksi sifilis selama kehamilan. Tindakan utama pada pencegahan sifilis kongenital adalah identifikasi dan pengobatan wanita hamil yang teriinfeksi sifilis, karena pengobatan sifilis pada kehamilan dengan menggunakan penisilin dapat mencegah infeksi kongenital sampai 98%. Tes serologi (VDRL dan TPHA) harus dilakukan pada perawatan kehamilan (prenatal care), yaitu saat kunjungan pertama, sedangkan pada kelompok risiko tinggi, dilakukan pada pemeriksaan ulang pada usia kehamilan 28 minggu dan saat persalinan. Apabila dijumpai hasil tes seropositif, harus diberikan pengobatan. Namun, kehamilan kadang menimbulkan tes nontreponema positif palsu, dan pada keadaan seperti ini dilakukan anamnesis yang rinci, pemeriksaan fisik cermat dan pengamatan serologik. Bila tidak memungkinkan, diberikan terapi, terutama bila titer pada pemeriksaan VDRL > 1:2 pada pemeriksaan pertama.

Bayi dengan test serologik reaktif perlu dilakukan pemeriksaan nontreponema beberapa kali setelah pengobatan sampai diperoleh hasil nonreaktif. Biasanya dilakukan pada usia 2, 4, 6, 12 dan 15 bulan. Pada bayi dengan sifilis kongenital, tes serologik nontreponema biasanya menjadi nonreaktif dalam waktu 12 bulan setelah terapi adekuat. Adanya tes treponema reaktif setelah anak berusia lebih dari 15 bulan, saat anak sudah tidak memiliki antibody maternal, membantu menegakkan diagnosis sifilis kongenital. Hasil serologik CSS yang reaktif 6 bulan setelah terapi sifilis kongenital, merupakan indikasi pengobatan ulang, demikian pula bila titer menetap.

  1. k. Prognosis

Prognosis sifilis kongenital bergantung periode munculnya gejala, kerusakan yang terjadi, dan penatalaksanaan. Semakin dini gejala muncul, semakin banyak jaringan yang rusak dan penatalaksanaan yang kurang tepat maka akan semakin buruk prognosisnya. Kelainan yang ditimbulkan stigmata sifilis kongenital akan menetap, misalnya gigi huchinton, keratitis interstitial, ketulian nervus VIII, dan Clutton’s joint. Meskipun telah diobati, tetapi pada 70% kasus ternyata tes reagin tetap positif.

BAB III

Asuhan Kebidanan Pada ibu Hamil dengan Sífilis Kongenital

DATA SUBJEKTIF

Seorang ibu hamil dengan umur kehamilan 28 minggu hamil anak pertama , mengeluh flu, seperti demam dan pegal-pegal, serta kemerahan pada kaki dan tangan .Ibu mengatakan suaminya menderita sífilis serta belum teratasi .Ibu merasa cemas jika ibu dan bayi yang dikandungnya tertular sífilis. Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga dan tidak mengetahui aktivitas suaminya diluar rumah. Ibu khawatir suaminya sering ‘jajan‘ mungkin tidak menyadari kalau dirinya sudah mengidap penyakit sifilis.

DATA OBJEKTIF

1. pemeriksaan fisik

  1. Keadaan umum           : baik               kesadaran        : CM
  2. Status emosional         : stabil
  3. Tanda vital                  :

Tekanan Darah            : 120/90 mmhg

Suhu                            : 37,5 ˚C

Nadi                            : 88 x/menit

Pernafasan                   : 22x/menit

d.  BB/TB                         : 55kg/ 150cm

e. Status Gizi                     :

IMT                             : 55/(1,5)2 = 24,4

LILA                           : 24 cm

e.  Genetalia                      : luka kemerahan dan basah didaerah vagina

f.  Ekstrimitas                    : ruam ditelapak kaki dan tangan

ASSESMENT

  1. Diagnosa Kebidanan

Ny ‘S’ umur 25 tahun G1P0Ab0Ah0 UK : 28 minggu dengan sífilis kongenital

  1. Masalah

Ibu mengatakan cemas bila ibu dan bayi yang dikandungnya tertular sífilis kongenital.

  1. Kebutuhan

– KIE tentang penyakit sifilis  kongenital dalam kehamilan.

– KIE cara penularan sifilis dari ibu ke bayi yang dikandungnya.

  1. Diagnosa potensial

Ibu hamil dengan asma berpotensi terjadi kerusakan kulit,hati,limpa, dan keterbelakangan mental pada bayi.

  1. Masalah potensial

Tidak ada

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Tidak dilakukan

  1. Kolaborasi

Pemeriksaan laboratorium di Laboratorium ‘CITO’ untuk pemeriksaan kimia darah, ureum,kreatinin,GDS

c. Merujuk

Merujuk ke dr. Ahsanudin SpOg bagian kebidanan Rumah sakit dr. Sarjito untuk pengobatan dan penanganan lebih lanjut.

PLANNING

  1. Menjelaskan kepada ibu bahwa keluhan yang dirasakannya yaitu :flu, demam, pegal-pegal, serta kemerahan pada kaki dan tangan merupakan tanda- tanda sifilis

Ibu memahami bahwa keluhan yang dialaminya adalah gejala- gejala sifilis.

  1. Menganjurkan dan menjelaskan pada ibu tentang teknik relaksasi, pengurangan rasa nyeri dan menciptakan lingkungan yang nyaman dengan mengganti alat tenun yang kotor.

Ibu memahami tentang teknik relaksasi, pengurangan rasa nyeri dan menciptakan lingkungan yang nyaman.

3. Menganjurkan ibu untuk banyak minum, memakai pakaian yang tipis dan longgar ,dan melakukan kompres apabila demam dengan menggunakan air hangat di dahi dan lengan.

Ibu mengerti dan bersedia untuk melaksanakan anjuran bidan.

4. Menganjurkan ibu untuk melibatkan keluarga dalam perawatan agar ibu mendapatkan support dan dukungan dari keluarga sehingga mempercepat proses penyembuhan.

Ibu mengerti dan keluarga bersedia untuk terlibat dalam proses pengobatan dan perawatan ibu.

5.  Menganjurkan ibu dan suami untuk tidak berganti- ganti pasangan karena hal ini dapat menyebabkan penyakit menular seksual dan dapat menyebabkan penyebaran dari penyakit menular seksual menjadi lebih luas.

Ibu mengerti penjelasan bidan dan bersedia untuk tidak berganti- ganti pasangan begitu juga dengan suami.

6.  Menjelaskan pada ibu tentang teknik pengurangan rasa nyeri yaitu dengan pengompresan dengan air hangst pada daerah yang nyeri, dan meminimalisir terjadinya sentuhan atu gesekan pada daerah yang yang nyeri.

Ibu mengerti penjelasan bidan dan bersedia melaksanakan

  1. Menjelaskan pada ibu bahwa sifilis bisa menimbulkan komplikasi pada ibu dan bayi sehingga ibu harus menjaga kondisinya agar tidak terjadi komplikasi.

Ibu memahami penjelasan bidan dan akan selalu menjaga kondisinya.

  1. Menganjurkan ibu untuk pemeriksaan laboratorium di laboratorium ‘CITO’ untuk pemeriksaan kimia darah, ureum,kreatinin,GDS.

Ibu bersedia melakukan pemeriksaan laboratorium di Laboratorium ‘CITO’

  1. Merujuk ibu ke dr. Ahsanudin SpOg bagian kebidanan Rumah Sakit dr. Sarjito untuk pengobatan dan penanganan lebih lanjut.

Ibu bersedia dirujuk ked dr. Ahsanudin SpOg bagian kebidanan Rumah Sakit dr. Sarjito untuk pengobatan dan penanganan lebih lanjut.

10.  Menjelaskan kepada ibu untuk kunjungan ulang satu bulan lagi atau jika ada keluhan.

Ibu bersedia datang satu bulan lagi atau jika ada keluhan.

DAFTAR PUSTAKA

–                Murtiastuti D. Sifilis. Dalam : Barakbah J, Lumintang H,Martodhiharjo S, editor. BukuAjar Infeksi Menular Seksual. Edisi 2. Surabaya : Airlangga University Press. 2008.145-148.

–                Webmaster. Trepronema Pallidum. Disitasi dari :http://www.medgadget.com/_archives/img/treponema.htm pada tanggal : 18 Februari 2009. Last Update : Januari 2009.

–                Webmaster. Shypilis. Disitasi dari : http://www.uveitis.org/images/syphil1.htm pada tanggal : 18 Februari 2009. Last Update : Januari 2009.

–                Department of Health and Human Services of USA. Congenital Shypilis – United State 2002. Disitasi dari :http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/mm5331a4.htm pada tanggal :18 Februari 2009. Last Update : July 2008.

–                Djuanda, Adhi. 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI.

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon.

Penularan tuberculosis terjadi karena penderita TBC membuang ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar. Dalam dahak dan ludah penderita terdapat basil TBC-nya, sehingga basil ini mengering dalam bentuk spora lalu diterbangkan angin. Kuman yang terbawa angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-paru.

Penyakit ini perlu diperhatikan dalam kehamilan, karena penyakit ini masih merupakan penyakit rakyat; sehingga sering kita jumpai dalam kehamilan. TBC paru ini dapat menimbulkan masalah pada wanita itu sendiri, bayinya dan masyarakat sekitarnya.

Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya perjalanan penyakit ini, banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. Keluhan yang sering ditemukan adalah batuk-batuk yang lama, badan terasa lemah, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, kadang-kadang ada batuk darah, dan sakit sekitar dada.

Tingginya angka penderita TBC di Indonesia dikarenakan banyak faktor, salah satunya adalah iklim dan lingkungan yang lembab serta tidak semua penderita mengerti benar tentang perjalanan penyakitnya yang akan mengakibatkan kesalahan dalam perawatan dirinya serta kurangnya informasi tentang proses penyakitnya dan pelaksanaan perawatan dirumah kuman ini menyerang pada tubuh manusia yang lemah dan para pekerja di lingkungan yang udaranya sudah tercemar asap, debu, atau gas buangan.

Pada penderita yang dicurigai menderita TBC paru sebaiknya dilakukan pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (purified protein derivate) 5u dan bila hasilnya positif diteruskan dengan pemeriksaan foto dada. Perlu diperhatikan dan dilindungi janin dari pengaruh sinar X. Pada penderita dengan TBC paru aktif perlu dilakukan pemeriksaan sputum, untuk membuat dianosis secara pasti sekaligus untuk tes kepekaan. Pengaruh TBC paru pada ibu yang sedang hamil bila diobati dengan baik tidak berbeda dengan wanita tidak hamil. Pada janin jarang dijumpai TBC kongenital, janin baru tertular penyakit setelah lahir, karena dirawat atau disusui oleh ibunya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. DEFINISI

Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah karena sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon, sedangkan batuk darah (hemoptisis) adalah salah satu manifestasi yang diakibatkannya. Darah atau dahak berdarah yang dibatukkan berasal dari saluran pernafasan bagian bawah yaitu mulai dari glottis kearah distal, batuk darah akan berhenti sendiri jika asal robekan pembuluh darah tidak luas, sehingga penutupan luka dengan cepat terjadi.

  1. B. PENULARAN TUBERKULOSIS

Sumber penularana penyakit tuberculosis adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi bila droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran linfe,saluran napas, atau penyebaran langsung kebagian-nagian tubuh lainnya.

Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

Resiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan berfariasi antara 1 – 2 %. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %, berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk, 10 (sepuluh) orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TB, hanya 10 % dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TB. Dari keterangan tersebut diatas, dapat diperkirakan bahwa daerah dengan ARTI 1 %, maka diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 100 (seratus) penderita tuberkulosis setiap tahun, dimana 50 % penderita adalah BTA positif. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita TB adalah daya tahan tubuh yang rendah; diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS.

Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran linfe akan membawa kuman TB ke kelenjar linfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer selama 4 – 6 minggu.            Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.

Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.

Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.

Komplikasi Pada Penderita Tuberkulosis antara lain hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas, kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial, bronkiectasis dan fibrosis pada paru, pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru, penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya, insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit.Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simptomatis. Bila perdarahan berat, penderita harus dirujuk ke unit spesialistik.

Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50 % dari penderita TB akan meninggal, 25 % akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 25 % sebagai menjadi kronik yang tetap menular (WHO 1996).
Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular Immunity), sehingga jika terjadi infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah penderita TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

Gejala umum tuberculosis antara lain batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih.Gejala lain yang sering dijumpai antara lain dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas dan rasa nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, dan demam meriang lebih dari sebulan.

  1. C. TUBERKULOSIS PADA KEHAMILAN
    1. 1. Efek tuberculosis terhadap kehamilan

Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. Stressor tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. Lebih dari 50 persen kasus TB paru adalah perempuan dan data RSCM pada tahun 1989 sampai 1990 diketahui 4.300 wanita hamil,150 diantaranya adalah pengidap TB paru .

Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa factor antara lain tipe, letak dan keparahan penyakit, usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis, status nutrisi ibu hamil, ada tidaknya penyakit penyerta, status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB.

Status nutrisi yang jelek, hipoproteinemia, anemia dan keadaan medis maternal merupakan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal.

Usia kehamilan saat wanita hamil mendapatkan pengobatan antituberkulosa merupakan factor yang penting dalam menentukan kesehatan maternal dalam kehamilan dengan TB.

Kehamilan dapat berefek terhadap tuberculosis dimana peningkatan diafragma akibat kehamilan akan menyebabkan kavitas paru bagian bawah mengalami kolaps yang disebut pneumo-peritoneum. Pada awal abad 20, induksi aborsi direkomondasikan pada wanita hamil dengan TB.

Selain paru-paru, kuman TB juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti usus, selaput otak, tulang, dan sendi, serta kulit. Jika kuman menyebar hingga organ reproduksi, kemungkinan akan memengaruhi tingkat kesuburan (fertilitas) seseorang. Bahkan, TB pada samping kiri dan kanan rahim bisa menimbulkan kemandulan. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran pada pengidap TB atau yang pernah mengidap TB, khususnya wanita usia reproduksi. Jika kuman sudah menyerang organ reproduksi wanita biasanya wanita tersebut mengalami kesulitan untuk hamil karena uterus tidak siap menerima hasil konsepsi.

Harold Oster MD,2007 mengatakan bahwa TB paru (baik laten maupun aktif) tidak akan memengaruhi fertilitas seorang wanita di kemudian hari. Namun, jika kuman menginfeksi endometrium dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Tapi tidak berarti kesempatan untuk memiliki anak menjadi tertutup sama sekali, kemungkinan untuk hamil masih tetap ada. Idealnya, sebelum memutuskan untuk hamil, wanita pengidap TB mengobati TB-nya terlebih dulu sampai tuntas. Namun, jika sudah telanjur hamil maka tetap lanjutkan kehamilan dan tidak perlu melakukan aborsi.

  1. 2. Efek tuberculosis terhadap janin

Menurut Oster,2007 jika kuman TB hanya menyerang paru, maka akan ada sedikit risiko terhadap janin.Untuk meminimalisasi risiko,biasanya diberikan obat-obatan TB yang aman bagi kehamilan seperti Rifampisin, INH dan Etambutol. Kasusnya akan berbeda jika TB juga menginvasi organ lain di luar paru dan jaringan limfa, dimana wanita tersebut memerlukan perawatan di rumah sakit sebelum melahirkan. Sebab kemungkinan bayinya akan mengalami masalah setelah lahir. Penelitian yang dilakukan oleh Narayan Jana, KalaVasistha, Subhas C Saha, Kushagradhi Ghosh, 1999  tentang efek TB ekstrapulmoner tuberkuosis, didapatkan hasil bahwa tuberkulosis pada limpha tidak berefek terhadap kahamilan, persalinan dan hasil konsepsi. Namun juka dibandingkan dengan kelompok wanita sehat yang tidak mengalami tuberculosis selama hamil mempunyai resiko hospitalisasi lebih tinggi (21% : 2%), bayi dengan APGAR skore rendah segera setelah lahir (19% : 3%), berat badan lahir rendah (<2500 )

Selain itu, risiko juga meningkat pada janin, seperti abortus, terhambatnya pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB congenital). Gejala TB congenital biasanya sudah bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi,seperti prematur, gangguan napas, demam, berat badan rendah, hati dan limpa membesar. Penularan kongenital sampai saat ini masih belum jelas,apakah bayi tertular saat masih di perut atau setelah lahir.

  1. 3. Tes Diagnosis TB pada Kehamilan

Bakteri TB berbentuk batang dan mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. Karena itu disebut basil tahan asam (BTA). Kuman TB cepat mati terpapar sinar matahari langsung,tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembap.

Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat melakukan dormant (tertidur lama selama beberapa tahun). Penyakit TB biasanya menular pada anggota keluarga penderita maupun orang di lingkungan sekitarnya melalui batuk atau dahak yang dikeluarkan si penderita. Hal yang penting adalah bagaimana menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat.

Seseorang yang terpapar kuman TB belum tentu akan menjadi sakit jika memiliki daya tahan tubuh kuat karena sistem imunitas tubuh akan mampu melawan kuman yang masuk. Diagnosis TB bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti pemeriksaan BTA dan rontgen (foto torak). Diagnosis dengan BTA mudah dilakukan,murah dan cukup reliable.

Kelemahan pemeriksaan BTA adalah hasil pemeriksaan baru positif bila terdapat kuman 5000/cc dahak. Jadi, pasien TB yang punya kuman 4000/cc dahak misalnya, tidak akan terdeteksi dengan pemeriksaan BTA (hasil negatif). Adapun rontgen memang dapat mendeteksi pasien dengan BTA negatif, tapi kelemahannya sangat tergantung dari keahlian dan pengalaman petugas yang membaca foto rontgen. Di beberapa negara digunakan tes untuk mengetahui ada tidaknya infeksi TB, melalui interferon gamma yang konon lebih baik dari tuberkulin tes.

Diagnosis dengan interferon gamma bisa mengukur secara lebih jelas bagaimana beratnya infeksi dan berapa besar kemungkinan jatuh sakit. Diagnosis TB pada wanita hamil dilakukan melalui pemeriksaan fisik (sesuai luas lesi), pemeriksaan laboratorium (apakah ditemukan BTA?), serta uji tuberkulin.

Uji tuberkulin hanya berguna untuk menentukan adanya infeksi TB, sedangkan penentuan sakit TB perlu ditinjau dari klinisnya dan ditunjang foto torak. Pasien dengan hasil uji tuberkulin positif belum tentu menderita TB. Adapun jika hasil uji tuberkulin negatif, maka ada tiga kemungkinan, yaitu tidak ada infeksi TB, pasien sedang mengalami masa inkubasi infeksi TB, atau terjadi anergi.

Kehamilan tidak akan menurunkan respons uji tuberkulin. Untuk mengetahui gambaran TB pada trimester pertama, foto toraks dengan pelindung di perut bisa dilakukan, terutama jika hasil BTA-nya negatif.

  1. 4. Penatalaksanaan medis pada Kehamilan dengan TB

Regimen yang sama direkomondasikan pada wanita hamil dengan TB maupun wanita non hamil dengan TB kecuali streptomycin. penggunaanPyrazinamide dalam kehamilan masih menjadi perdebatan.

  1. 5. Peran Perawat dalam Kehamilan dengan TB

Dalam perawatan pasien hamil dengan TB perawat harus mampu memberikan pendidikan pada pasien dan keluarga tentang penyebaran penyakit dan pencegahannya, tentang pengobatan yang diberikan dan efek sampingnya, serta hal yang mungkin terjadi jika penyakit TB tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat. Pasien dan keluarga harus tahu system pelayanan pengobatan TB sehingga pasien tidak mengalami drop out selama pengobatan dimana keluarga berperan sebagai pengawas minum obat bagi pasien. Pemantuan kesehatan ibu dan janin harus selalu dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang mungkin terjadi akibat TB.

Perbaikan status nutrisi ibu dan pencegahan anemia sangat penting dilakukan untuk mencegah keparahan TB dan meminimalkan efek yang timbul terhadap janin.

Pendidikan tentang sanitasi lingkungan pada keluarga dan pasien penting diberikan untuk menghindari penyebaran penyakit lebih luas.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN

Ny “D” umur 30 tahun G2P1Ab0Ah1 UK 30 minggu

hamil dengan penyakit TBCdi RSUD Wirosaban

DATA SUBJEKTIF

Ny. Deswari (30 tahun) mengatakan hamil ke-2, umur kehamilan 30 minggu,

HPMT  13 September 2009

Keluhan utama ;

  • Ibu mengeluh batuk terus hingga sesak napas, nyeri dada, keringat malam, nafsu makan menurun,susah tidur dan panas
  • Ibu mengatakan pernah menderita TBC ketika masih SMA dan dalam keluarga satu rumah sedang ada yang menderita TBC.

DATA OBJEKTIF

Pemeriksaan fisik

Keadaan umum agak lemah, batuk,

BB     : 50 kg

LILA : 22,5 cm

Tanda Vital:

TD                   : 110/70 mmHg

S                      : 36ºC

N                     : 84 x/menit

RR                   : 22 x/ menit

Pada kulit terjadi sianosis, dingin dan lembab, tugor kulit menurun

·Inspeksi : Adanya tanda-tanda penarikan paru, diafragma, pergerakan napas yang tertinggal, suara napas melemah

·Palpasi : Fremitus suara meningkat .

·Perkusi: Suara ketok redup.

·Auskultasi : Suara napas brokial dengan atau tanpa ronki basah, kasar dan yang nyaring

Adanya takipnea, takikardia, sianosis, bunyi P2 yang mengeras

Adanya nafsu makan menurun, anoreksia, berat badan turun

Adanya keterbatasan aktivitas akibat kelemahan, kurang tidur dan keadaan sehari-hari yang kurang meyenangkan

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium

· Darah

sel-sel darah putih yang meningkatkan serta laju endap darah meningkat terjadi pada proses aktif.

· Sputum

Ditemukan adanya Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum yang terdapat pada penderita tuberkulosis paru

· Test Tuberkulosis

Mantoux test positif

ASSESMENT

  1. Diagnosis kebidanan

Ny “D” umur 30 tahun G2P1Ab0Ah1 UK 30 minggu hamil dengan penyakit TBC

  1. Masalah

Ibu merasa cemas dengan kehamilannya

  1. Kebutuhan

KIE tentang TBC dalam kehamilan

  1. Diagnosis potensial

Berpotensi terjadinya hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah), kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru, penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya, insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

  1. Masalah potensial

Tidak ada

  1. Tindakan
  2. Mandiri

Tidak ada

  1. Kolaborasi

Kolaborasi dengan dokter spesialis paru-paru

  1. Rujukan

Tidak ada

PENATALAKSANAAN

  1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu mengalami TBC dalam kehamilan.

Ibu sudah mengetahui tentang keadaannya

  1. Menjelaskan kepada ibu tentang TBC dalam kehamilan

Ibu mengerti dan paham dengan penjelasan yang diberikan

  1. Melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis paru-paru
  2. Memberikan obat INH, PAS, rifadin dan streptomisin

Ibu telah diberi obat

  1. Memberitahu ibu untuk selalu rutin dan taat minum obat

Ibu bersedia untuk rutin minum obat

  1. Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat, makan yang teratur dan minum obat sesuai anjuran

Ibu bersedia mengikuti saran yang diberikan

  1. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan

Ibu bersedia untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan

BAB IV

PENUTUP

Tingginya angka penderita TBC di Indonesia dikarenakan banyak faktor, salah satunya adalah iklim dan lingkungan yang lembab serta tidak semua penderita mengerti benar tentang perjalanan penyakitnya yang akan mengakibatkan kesalahan dalam perawatan dirinya serta kurangnya informasi tentang proses penyakitnya dan pelaksanaan perawatan dirumah kuman ini menyerang pada tubuh manusia yang lemah dan para pekerja di lingkungan yang udaranya sudah tercemar asap, debu, atau gas buangan. Karena prevalensi TBC paru di Indonesia masih tinggi, dapat diambil asumsi bahwa frekuensinya pada wanita akan tinggi. Diperkirakan 1% wanita hamil menderita TB paru. Menurut Prawirohardjo dan Soemarno (1954), frekuensi bertambahnya jumlah penduduk tiap tahunnya, dapat diperkirakan penyakit ini juga mengalami peningkatan berbanding lurus dengan tingkat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Pada umumnya, penyakit paru-paru tidak mempengaruhi kehamilan dan persalinan nifas, kecuali penyakitnya tidak terkonrol, berat, dan luas yang wanita hamil yang menderita TB paru di Indonesia yaitu 1,6%. Dengan disertai sesak napas dan hipoksia. Walaupun kehamilan menyebabkan sedikit perubahan pada sistem pernapasan, karena uterus yang membesar dapat mendorong diafragma dan paru-paru ke atas serta sisa udara dalam paru-paru kurang, namun penyakit tersebut tidak selalu menjadi lebih parah. TBC paru merupakan salah satu penyakit yang memerlukan perhatian yang lebih terutama pada seorang wanita yang sedang hamil, karena penyakit ini dapat dijumpai dalam keadaan aktif dan keadaan tenang. Karena penyakit paru-paru yang dalam keadaan aktif akan menimbulkan masalah bagi ibu, bayi, dan orang-orang disekelilingnya

DAFTAR PUSTAKA

http://keperawatan-gun.com/2008/06/askep-ibu-hamil-dengan-tbc.html

http://lorenatazo.com/2009/12/ibu-hamil-dengan-penyakit-tbc.html

http://lely-nursinginfo.com/2007/06/pregnancy-and-tuberculosis.html

BAB I

PENDAHULUAN

Setiap anak mempunyai potensi kemampuan kecerdasan otak masing-masing. Kita tidak boleh menyamakan perlakuan terhadap masing-masing anak. Biarkan mereka mempunyai kecenderungan potensi kecerdasan masing-masing, potensi kecerdasan khusus inilah yang bisa kita asah dan kita berdayakan, yaitu dengan cara stimulasi anak dari Program brain booster ini bisa dimulai sejak usia kehamilan. Dengan melakukan stimulasi janin akan mengarahkan sel neuron yang akan membentuk sistem sensorik, motorik. Stimulasi ini bisa dilakukan dengan sentuhan mulai usia janin 8 minggu, pada saat itu sensitivitas janin terhadap sentuhan sudah mulai terbentuk. Stimulasi bunyi dengan cara berbicara dengan janin dengan suasana yang tenang dan mengucapkan secara perlahan. Kemudian juga bisa dengan rangsangan alunan music Oleh para pakar, organ pengontrol pikiran, ucapan, dan emosi ini memang dibedakan atas dua belahan, kiri dan kanan, dengan fungsi berbeda. Otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistik dan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, serta pengembangan kepribadian. Sementara otak kiri merupakan tempat untuk melakukan fungsi akademik seperti baca-tulis-hitung, daya ingat (nama, waktu, dan peristiwa), logika, dan analisis. Oleh karena itu, bila stimulasi dilakukan secara seimbang, diharapkan anak yang dilahirkan kelak tidak cuma memiliki kemampuan akademik yang baik tetapi juga kreatif. Kalau dia pintar matematika, dia juga mampu berbahasa, menulis, dan mengarang dengan baik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. STIMULASI JANIN

Pada tahun 1925, Peiper untuk pertama kalinya meneliti perilaku janin. Ia mengamati reaksi gerakan janin pada akhir masa kehamilan akibat bunyi keras dan melengking dari sepeda motor yang berada dekat dengan perut ibunya. Janin ini ternyata membuat suatu gerakan yang nyata. Jika percobaan ini diulang-ulang ternyata janin tidak lagi bereaksi. Peiper menarik kesimpulan bahwa janin mampu mendengar.

Penelitian-penelitian mutakhir dengan peralatan canggih dan metodologi yang lebih baik terfokus pada dua bidang: perilaku janin dalam kandungan, dan bayi yang baru lahir. Feijee (1981, melaporkan janin usia kehamilan 30-37 minggu yang pada awalnya selalu bergerak, akan menghentikan gerakan setelah diperdengarkan musik yang sama untuk ke-24 kalinya. Efek ini mampu dipertahankan setelah bayi tersebut lahir 6 menit: bayi berhenti menangis, membuka matanya, dan lebih tenang saat ia diperdengarkan musik yang pernah didengarnya saat dijanin.
Jadi, janin menjadi terbiasa dengan rangsangan yang sama.

Efek kebiasaan yang sebenarnya bukan sekadar adaptasi dilaporkan mampu diperlihatkan oleh janin usia kehamilan 28-37 minggu (Madisen, 1986). Kebiasaan ini dapat berefek menurunkan reaksi gerakan tubuh juga detak jantung. Penelitian pada bayi baru lahir dilakukan oleh Salk(1962), menunjukkan bahwa bayi baru lahir dapat bereaksi terhadap nada dengan frekuensi normal detak jantung ibu, dan menjadi gelisah saat diperdengarkan nada 72 kali/menit, berat badannya lebih besar, jarang menangis, juga lebih cepat tertidur. Pada umur 3hari, bayi mampu mengubah pola mengisap puting susu ibu jika mendengar suara ibunya, tetapi tidaklah demikian dengan suara ayahnya (Casper, Spencer 1980). Demikian juga halnya saat diperdengarkan cerita novel yang telah dibaca ibunya saat mengandung, sekalipun cerita tersebut dibacakan oleh wanita lain (Casper, Spencer1986).

Bagaimanakah mekanisme belajar janin tersebut? Menurut Rappert (1988), peneliti laboratorium Chronobiology Harvard Medical School, janin dapat mengenal suara dan cahaya dari luar melalui mekanisme konduksi pasif melintasi jaringan tubuh ibunya. Sedangkan menurut Salk (1960),janin belajar mengenal detak jantung ibunya melalui mekanisme “imprinting”.

Kemampuan belajar janin, secara tidak langsung menunjukkan janin mampu menerima rangsang sensoris, berasosiasi, dan mengingat. Adanya kekurangan dari kemampuan tersebut mungkin merupakan indikator gangguan-gangguan di masa mendatang, misalnya ketidakmampuan belajar atau adanya retardasi mental. Secara teoritis, jika janin dapat mengalami hal-hal yang positif selama dalam rahim, maka hal yang sebaliknya mungkin juga terjadi. Salah satu teori terjadinya depresi pada seseorang adalah belajar tidak berdaya. Ini dapat terjadi jika ia mendapatkan suatu rangsangan yang tidak dikenali, tak terhindarkan, dan ia tidak mampu menanggulanginya. Janin hanya memiliki sedikit kemampuan untuk menanggulangi rangsangan yang diterimanya. Beberapa rangsangan yang mungkin merugikan adalah suara keras, nikotin, dan yang paling menarik adalah stres. Reaksi janin terhadap emosi ibu termasuk stres mungkin melalui hormon yang melindungi plasenta, peningkatan tekanan arterial ibu, atau peningkatan tonus otot rahim yang dapat membatasi ruang geraknya.

Kelahiran janin dari ibu yang mengalami stres akan menyebabkan bayi lahir dengan predisposisi menderita gangguan jiwa di kemudian hari. Pada kondisi ketidakberdayaan tubuh akan banyak mengeluarkan hormon kortisol yang dapat menyebabkan turunnya daya kekebalan tubuh dan pada gilirannya nanti akan menyebabkan penyakit-penyakit psikosomatis. Akan tetapi pengetahun kita saat ini mengenai perilaku janin khususnya kemampuan belajarnya belum lengkap. Populasi normal kemampuan belajarnya yang sangat diperlukan untuk pedoman diagnosis belum diketahui. Namun dengan bukti-bukti bahwa stimulasi janin mampu meningkatkan perkembangan fisik, kematangan, dan kemampuan bayi, maka stimulasi umum pada janin tampaknya merupakan alternative yang dapat dipilih. Dengan adanya kemajuan teknologi dan peningkatan minat meneliti perilaku janin, maka di masa mendatang pengetahuan ini akan sangat bermanfaat, untuk membentuk manusia-manusia berkualitas sejak di dalam kandungan.

  1. BRAIN BOOSTER

Brain booster adalah pendorong / penguat otak. Brain booster merupakan suatu program yang diberikan pada ibu hamil. Hal ini bertujuan untuk membantu proses pertumbuhan dan perkembangan janin, terutama otak. Program brain booster ini bisa dimulai sejak usia kehamilan. Dengan melakukan stimulasi janin akan mengarahkan sel neuron yang akan membentuk sistem sensorik, motorik. Stimulasi ini bisa dilakukan dengan sentuhan mulai usia janin 8 minggu, pada saat itu sensitivitas janin terhadap sentuhan sudah mulai terbentuk. Stimulasi bunyi dengan cara berbicara dengan janin dengan suasana yang tenang dan mengucapkan secara perlahan. Kemudian juga bisa dengan rangsangan alunan musik atau bacaan tilawah qur’an.

Nutrisi yang sangat dibutuhkan untuk mengungkit kecerdasan otak antara lain suplemen Vit A 1400 iu, Vit C 225 mg, Vit E 15 mg, Vit B6 2mg, Folic acid 400 mcg, Vit B123 mcg, Ca 500 mg, Fe 10 mg, DHA 95 mg, Fish Oil 400 mg. Tablet ini diberikan pada saat ibu melakukan pemeriksaan kehamilan pada awal usia kehamilan.

Biasanya dalam program brain booster ini, ibu hamil diberi asam folat yang mengandung DHA dan omega. Asam folat ini lebih baik diberikan pada trisemester pertama kehamilan.

Fungsi asam folat antara lain:

a)      Membantu untuk proses pembentukan jaringan, terutama otak. Diberikan dengan jumlah yang cukup, tidak boleh kurang atau lebih. Asam folat dapat diperoleh pada bayam, kacang-kacangan dan sayuran hijau. Sedangkan omega banyak ditemukan pada ikan laut

b)      Nutrisi secara keseluruhan pada proses pembentukan jaringan / organ tubuh. Zat seng (Zinc) juga berperan pada proses tersebut.

Asam folat sebaiknya diberikan sejak dini (sejak diketahui hamil). Jika mengkonsumsi asam folat berlebihan akan bisa berpengaruh tidak baik bagi bayi, yaitu terjadi penumpukan asam folat pada tubuh bayi dan akibatnya bayi bisa menjadi tempramental, menangis terlalu keras, gerakan kaku, kegemukan, tidak bisa diam, selalu menangis kalau merasa tidak nyaman, menangis hingga tremor, dsb.

Pada trimester I, yang terbentuk pertama adalah otak dan bagian eksoderm. Brain booster-nya antara lain makanan / nutrisi, sentuhan untuk stimulasi. Janin bisa merasakan sentuhan, bisa melihat, mengecap, dan membau.

Jalan-jalan pagi bagi ibu hamil sebaiknya dilakukan setelah waktu subuh, hal inilah yang paling bagus untuk perkembangan calon bayi.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL NORMAL

G1P0Ab0Ah0 UK 12 minggu

di RSUD Wirosaban

DATA SUBJEKTIF

Ny. Sumarni (23 tahun) mengatakan hamil ke-1, umur kehamilan 2,5 bln,

HPMT  1 Januari 2010

Keluhan utama : Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya dan ingin mengetahui perkembangan janinnya.

DATA OBJEKTIF

Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis

BB     : 52 kg

LILA : 24 cm

Tanda Vital:

TD                    : 110/70 mmHg

S                       : 36ºC

N                     : 84 x/menit

RR                   : 22 x/ menit

Pemeriksaan Penunjang  à HB : 11,5 gr%

ASSESMENT

  1. Diagnosa Kebidanan   :

Seorang ibu, umur 27 tahun G1P0Ab0Ah0 UK 12 minggu dengan kehamilan normal.

  1. Masalah

Untuk saat ini tidak ada.

  1. Kebutuhan segera : untuk saat ini tidak ada
  2. Diagnosa Potensial : untuk saat ini tidak ada
  3. Masalah Potensial : untuk saat ini tidak ada
  4. Kebutuhan tindakan segera : untuk saat ini tidak ada

PENATALAKSANAAN

  1. Memberitahu ibu bahwa keadaan ibu dan janin saat ini baik.
  2. Menjelaskan kepada ibu tentang nutrisi pada ibu hamil yang menunjang perkembangan otak janin.
  3. Menjelaskan kepada ibu tentang cara melakukan stimulasi  pada janin, yaitu dengan melakukan sentuhan mulai usia janin 8 minggu, pada saat itu sensitivitas janin terhadap sentuhan sudah mulai terbentuk. Stimulasi bunyi dengan cara berbicara dengan janin dengan suasana yang tenang dan mengucapkan secara perlahan. Kemudian juga bisa dengan rangsangan alunan musik.
  4. Memberikan suplemen kepada ibu, yaitu : Vit A 1400 iu, Vit C 225 mg, Vit E 15 mg, Vit B6 2mg, Folic acid 400 mcg, Vit B123 mcg, Ca 500 mg, Fe 10 mg, DHA 95 mg, Fish Oil 400 mg.

Tablet besi dan folic acid diminum sebelum tidur (karena mempunyai efek samping mual muntah),  satu kali sehari, sebaiknya diminum dengan air jeruk atau air putih. Hindari dengan teh, susu dan kopi karena akan mengganggu penyerapan.

  1. Menyarankan ibu untuk istirahat cukup dan tidak melakukan pekerjaan berat.
  2. Memberitahu ibu untuk datang I bulan lagi tanggal 30 April 2010

BAB III

PENUTUP

Setiap anak memiliki tingkat intelegensi yang berbeda – beda, namun tingkat inteegensi anak tersebut data dirangsang dan diasah mulai dini bahkan sejak dalam kandungan.. Ada beberapa cara mengasah intelegensi anak sehingga sehingga akan menghasilkan generasi yang berkualitas.

  • Stimulasi janin

Jika janin distimulasi rangsangan yang sama secara terus menerus maka janin akan terbiasa dan mulai menyesuaikan diri dengan rangsangan yang diterima untuk menanggapinya. Contohnya janin usia kehamilan 30-37 minggu yang pada awalnya selalu bergerak, akan menghentikan gerakan setelah diperdengarkan musik yang sama untuk ke-24 kalinya. Efek ini mampu dipertahankan setelah bayi tersebut lahir 6 menit: bayi berhenti menangis, membuka matanya, dan lebih tenang saat ia diperdengarkan musik yang pernah didengarnya saat dijanin.

  • Brain boster

Brain booster adalah pendorong / penguat otak

membantu proses pertumbuhan dan perkembangan janin, terutama otak. Program brain booster ini bisa dimulai sejak usia kehamilan. Stimulasi ini bisa dilakukan dengan sentuhan mulai usia janin 8 minggu, pada saat itu sensitivitas janin terhadap sentuhan sudah mulai terbentuk. Rangsangan ini dapat dilakukan dengan cara berbicara dengan janin, mendengarkan alunan musik lembut. Dalam program brain booster ini, ibu hamil diberi asam folat yang mengandung DHA dan omega. Selain itu nutrisi untuk menunjang perkembangan otak janin yang penting adalah vitamin A,C,A,Ca,Fe,dll.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah06309-01.htm

http://www.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=830

http://keluargacemara.com/featured/agar-anak-pintar-sejak-dalam-kandungan.html

http://keluargacemara.com/pendidikan/pendidikan-anak/anak-cerdas-dan-kreatif-berkat alunan-musik.html

BAB I

PENDAHULUAN

Empat masalah gizi utama di Indonesia yaitu Kekurangan Energi Kronik (KEK), Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Kekurangan Vitamin A (KVA), dan Anemia Gizi Besi (AGB). Salah satu golongan rawan gizi yang menjadi sasaran program adalah remaja, karena biasanya pada remaja sering terjadi masalah anemia, defisiensi besi dan kelebihan atau kekurangan berat badan. Tahun 2004, 37% balita (bawah lima tahun/bayi) kekurangan berat badan (28% kekurangan berat badan sedang dan 9% kekurangan berat badan akut) (sumber Susenas 2004). Pemerintah mempunyai program makanan tambahan sehingga perempuan dan anak-anak yang terdeteksi memiliki berat badan kurang akan diberi makanan tambahan dan saran ketika mereka datang ke puskesmas untuk memantau pertumbuhan.

Di Indonesia banyak terjadi kasus KEK (Kekurangan Energi Kronis) terutama yang kemungkinan disebabkan karena adanya ketidakseimbangan asupan gizi, sehingga zat gizi yang dibutuhkan tubuh tidak tercukupi. Hal tersebut mengakibatkan perumbuhan tubuh baik fisik ataupun mental tidak sempurna seperti yang seharusnya. Banyak anak yang bertubuh sangat kurus akibat kekurangan gizi atau sering disebut gizi buruk. Jika sudah terlalu lama maka akan terjadi Kekurangan Energi Kronik (KEK). Hal tersebut sangat memprihatinkan, mengingat Indonesia adalah egara yang kaya akan SDA (Sumber Daya Alam).

Ibu hamil diketahui menderita KEK dilihat dari pengukuran LILA, adapun ambang batas LILA WUS (ibu hamil) dengan resiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran LILA kurang dari 23,5 cm atau di bagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai resiko KEK dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lebih rendah (BBLR). BBLR mempunyai resiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak.

Data SDKI tahun 1997 angka kematian bayi adalah 52.2 per 1000 kelahiran hidup dan dari data SDKI tahun 1994 angka kematian ibu adalah 390 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan dari data Susenas pada tahun 1999, ibu hamil yang mengalami risiko KEK adalah 27.6 %.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Definisi

Menurut Depkes RI (2002) dalam Program Perbaikan Gizi Makro menyatakan bahwa Kurang Energi Kronis merupakan keadaan dimana ibu penderita kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu. KEK dapat terjadi pada wanita usia subur (WUS) dan pada ibu hamil (bumil). Kurang gizi akut disebabkan oleh tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang baik (dari segi kandungan gizi) untuk satu periode tertentu untuk mendapatkan tambahan kalori dan protein (untuk melawan) muntah dan mencret (muntaber) dan infeksi lainnya. Gizi kurang kronik disebabkan karena tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang baik dalam periode/kurun waktu yang lama untuk mendapatkan kalori dan protein dalam jumlah yang cukup, atau juga disebabkan menderita muntaber atau penyakit kronis lainnya.

B. KEK Pada Ibu Hamil

Kondisi kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil mempunyai dampak kesehatan terhadap ibu dan anak dalam kandungan, antara lain meningkatkan risiko bayi dengan berat lahir rendah, keguguran, kelahiran premature, kematian pada ibu dan bayi baru lahir, gangguan pertumbuhan anak, dan gangguan perkembangan otak. Hasil survey menunjukkan bahwa prevalensi wanita usia subur (WUS) menderita KEK pada tahun 2002 adalah 17,6 persen. Tidak jarang kondisi KEK pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya perdarahan, partus lama, aborsi dan infeksi yang merupakan faktor kematian utama ibu.

Malnutrisi bukan hanya melemahkan fisik dan membahayakan jiwa ibu, tetapi juga mengancam keselamatan janin. Ibu yang bersikeras hamil dengan status gizi buruk, berisiko melahirkan bayi berat badan lahir rendah 2-3 kali lebih besar dibandingkan ibu dengan status gizi baik, disamping kemungkinan bayi mati sebesar 1.5 kali.

C. Pengukuran Status Gizi

Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Penilaian secara tidak langsung ada dua yaitu:

  1. Survey konsumsi makanan
  2. Statistic vital.

Penilaian status gizi secara langsung ada empat yaitu:

  1. Antropometri
  2. Klinis
  3. Biokimia
  4. Biofisik

Untuk mengetahui status gizi ibu hamil digunakan pengukuran secara langsung dengan menggunakan penilaian antropometri yaitu: Lingkar Lengan Atas. Pengukuran lingkar lengan atas adalah suatu cara untuk mengetahui risiko KEK wanita usia subur (Supariasa, 2002 : 48). Wanita usia subur adalah wanita dengan usia 15 sampai dengan 45 tahun yang meliputi remaja, ibu hamil, ibu menyusui dan pasangan usia subur (PUS). Ambang batas lingkar Lengan Atas (LILA) pada WUS dengan risiko KEK adalah 23,5 cm, yang diukur dengan menggunakan pita ukur. Apabila LILA kurang dari 23,5 cm artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK dan sebaliknya apabila LILA lebih dari 23,5 cm berarti wanita itu tidak berisiko dan dianjurkan untuk tetap mempertahankan keadaan tersebut.

Hal-hal yang harus diperhatikan:

a)    Pengukuran dilakukan di bagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri.

b)    Lengan harus dalam posisi bebas, lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang.

c)    Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat, sehingga permukaannya sudah tidak rata.

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi KEK

1)      Faktor Sosial Ekonomi

Faktor sosial ekonomi ini terdiri dari:

a. Pendapatan Keluarga

b. Pendidikan Ibu

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, pembuatan cara mendidik. Kemahiran menyerap pengetahuan akan meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan seseorang dan kemampuan ini berhubungan erat dengan sikap seseorang terhadap pengetahuan yang diserapnya.

Pendidikan ibu adalah pendidikan formal ibu yang terakhir yang ditamatkan dan mempunyai ijazah dengan klasifikasi tamat SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi dengan diukur dengan cara dikelompokkan dan dipresentasikan dalam masing-masing klasifikasi (Depdikbud, 1997).

c. Status Perkawinan

Status Perkawinan ibu dibedakan menjadi: Kawin adalah status dari mereka yang terikat dalam perkawinan pada saat pencacahan, baik tinggal bersama maupun terpisah. Dalam hal ini tidak saja mereka yang kawin sah, secara hukum (adat, agama, negara dan sebagainya) tetapi juga mereka yang hidup bersama dan oleh masyarakat sekelilingnya dianggap sebagai suami istri. Cerai hidup adalah status dari mereka yang hidup berpisah sebagai suami istri karena bercerai dan belum kawin lagi. Cerai mati adalah status dari mereka yang suami/istrinya telah meninggal dunia dan belum kawin lagi.

2)      Faktor Biologis

Faktor biologis ini diantaranya terdiri dari :

a. Usia Ibu Hamil

Melahirkan anak pada usia ibu yang muda atau terlalu tua mengakibatkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu (Baliwati, 2004: 3). Karena pada ibu yang terlalu muda (kurang dari 20 tahun) dapat terjadi kompetisi makanan antara janin dan ibunya sendiri yang masih dalam masa pertumbuhan dan adanya perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan (Soetjiningsih, 1995: 96). Sehingga usia yang paling baik adalah lebih dari 20 tahun dan kurang dari 35 tahun, sehingga diharapkan status gizi ibu hamil akan lebih baik.

b. Jarak Kehamilan

Ibu dikatakan terlalu sering melahirkan bila jaraknya kurang dari 2 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa apabila keluarga dapat mengatur jarak antara kelahiran anaknya lebih dari 2 tahun maka anak akan memiliki probabilitas hidup lebih tinggi dan kondisi anaknya lebih sehat dibanding anak dengan jarak kelahiran dibawah 2 tahun. (Aguswilopo, 2004 : 5). Jarak melahirkan yang terlalu dekat akan menyebabkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Ibu tidak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki tubuhnya sendiri (ibu memerlukan energi yang cukup untuk memulihkan keadaan setelah melahirkan anaknya). Dengan mengandung kembali maka akan menimbulkan masalah gizi ibu dan janin/bayi berikut yang dikandung. (Baliwati, 2004 : 3).

c. Paritas

Paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable). (Mochtar, 1998). Paritas diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Primipara adalah seorang wanita yang telah pernah melahirkan satu kali dengan janin yang telah mencapai batas viabilitas, tanpa mengingat janinnya hidup atau mati pada waktu lahir.

2. Multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami dua atau lebih kehamilan yang berakhir pada saat janin telah mencapai batas viabilitas.

3. Grande multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami lima atau lebih kehamilan yang berakhir pada saat janin telah mencapai batas viabilitas.

3)      Faktor Pola Konsumsi

Upaya mencapai status gizi masyarakat yang baik atau optimal dimulai dengan penyediaan pangan yang cukup. Penyediaan pangan yang cukup diperoleh melalui produksi pangan dalam negeri yaitu upaya pertanian dalam menghasilkan bahan makanan pokok, lauk-pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan (Almatsier, 2003: 13). Pola konsumsi ini juga dapat mempengaruhi status kesehatan ibu, dimana pola konsumsi yang kurang baik dapat menimbulkan suatu gangguan kesehatan atau penyakit pada ibu. Penyakit infeksi dapat bertindak sebagai pemula terjadinya kurang gizi sebagai akibat menurunnya nafsu makan, adanya gangguan penyerapan dalam saluran pencernaan atau peningkatan kebutuhan zat gizi oleh adanya penyakit. Kaitan penyakit infeksi dengan keadaan gizi kurang merupakan hubungan timbal balik, yaitu hubungan sebab akibat. Penyakit infeksi dapat memperburuk keadaan gizi dan keadaan gizi yang jelek dapat mempermudah infeksi. (Supariasa, 2002: 187)

4)      Faktor Perilaku

Faktor perilaku ini terdiri dari kebiasaan yang sering dilakukan ibu diantaranya yaitu kebiasaan merokok dan mengkonsumsi cafein. Kafein adalah zat kimia yang berasal dari tanaman yang dapat menstimulasi otak dan system syaraf. Kafein bukan merupakan salah satu zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, karena efek yang ditimbulkan kafein lebih banyak yang negative daripada positifnya, salah satunya adalah gangguan pencernaan. Dengan adanya gangguan pencernaan makanan maka akan menghambat penyerapan zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dan janin.

E. Upaya Penanggulangan Yang Dilakukan

  1. KIE mengenai KEK dan faktor yang mempengaruhinya serta bagaimana menanggulanginya.
  2. PMT Bumil diharapkan agar diberikan kepada semua ibu hamil yang ada.

Kondisi KEK pada ibu hamil harus segera di tindaklanjuti sebelum usia kehamilan mencapai 16 minggu. Pemberian makanan tambahan yang Tinggi Kalori dan Tinggi Protein dan dipadukan dengan penerapan Porsi Kecil tapi Sering, pada faktanya memang berhasil menekan angka kejadian BBLR di Indonesia. Penambahan 200 – 450 Kalori dan 12 – 20 gram protein dari kebutuhan ibu adalah angka yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan gizi janin. Meskipun penambahan tersebut secara nyata (95 %) tidak akan membebaskan ibu dari kondisi KEK, bayi dilahirkan dengan berat badan normal. Pada tahun 2007 dilaksanakan PMT bagi bumil gakin di kabupaten/kota melalui dana APBN Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Kegiatan tersebut tidak dilanjutkan pada tahun 2008 karena tidak tersedianya dana dan diharapkan untuk pelaksanaan selanjutnya dibebankan melalui dana APBD kabupaten/kota.

  1. Konsumsi tablet Fe selama hamil.

Kebutuhan bumil terhadap energi, vitamin maupun mineral meningkat sesuai dengan perubahan fisiologis ibu terutama pada akhir trimester kedua dimana terjadi proses hemodelusi yang menyebabkan terjadinya peningkatan volume darah dan mempengaruhi konsentrasi hemoglobin darah. Pada keadaan normal hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian tablet besi, akan tetapi pada keadaan gizi kurang bukan saja membutuhkan suplemen energi juga membutuhkan suplemen vitamin dan zat besi. Keperluan yang meningkat pada masa kehamilan, rendahnya asupan protein hewani serta tingginya konsumsi serat / kandungan fitat dari tumbuh-tumbuhan serta protein nabati merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya anemia besi.

F. Pencegahan KEK

Makan makanan yang bervariasi dan cukup mengandung kalori dan protein termasuk makanan pokok seperti nasi, ubi dan kentang setiap hari dan makanan yang mengandung protein seperti daging, ikan, telur, kacang-kacangan atau susu sekurang-kurangnya sehari sekali. Minyak dari kelapa atau mentega dapat ditambahkan pada makanan untuk meningkatkan pasokan kalori, terutama pada anak-anak atau remaja yang tidak terlalu suka makan. Hanya memberikan ASI kepada bayi sampai usia 6 bulan mengurangi resiko mereka terkena muntah dan mencret (muntaber) dan menyediakan cukup gizi berimbang. Jika ibu tidak bisa atau tidak mau memberikan ASI, sangat penting bagi bayi untuk mendapatkan susu formula untuk bayi yang dibuat dengan air bersih yang aman – susu sapi normal tidaklah cukup. Sejak 6 bulan, sebaiknya tetap diberikan Asi tapi juga berikan 3-6 sendok makan variasi makanan termasuk yang mengandung protein. Remaja dan anak2 yang sedang sakit sebaiknya tetap diberikan makanan dan minuman yang cukup. Kurang gizi juga dapat dicegah secara bertahap dengan mencegah cacingan, infeksi, muntaber melalui sanitasi yang baik dan perawatan kesehatan, terutama mencegah cacingan.

Pemberian makanan tambahan dan zat besi pada ibu hamil yang menderita KEK dan berasal dari Gakin dapat meningkatkan konsentrasi Hb walaupun besar peningkatannya tidak sebanyak ibu hamil dengan status gizi baik. Terlihat juga penurunan prevalensi anemia pada kelompok kontrol jauh lebih tinggi dibanding pada kelompok perlakuan. Konsumsi makanan yang tinggi pada ibu hamil pada kelompok perlakuan termasuk zat besi disertai juga dengan peningkatan konsumsi fiber yang diduga merupakan salah satu faktor pengganggu dalam penyerapan zat besi.. Pada ibu hamil yang menderita KEK dan dari Gakin kemungkinan masih membutuhkan intervensi tambahan agar dapat menurunkan prevalensi anemia sampai ke tingkat yang paling rendah.

BABIII

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

DENGAN KEK

DATA SUBJEKTIF

Ibu datang untuk memeriksakan kandungannya, ibu hamil aterm, mengeluh Lesu, Cepat lelah, Denyut jantung cepat, Pusing, Telinga mendenging  Mata berkunang-kunang, Kelemahan otot,Perasaan dingin pada anggota gerak(tangan,kaki).

DATA OBJEKTIF

a.         Keadaan umum           : baik               kesadaran        : CM

b.         Status emosional         : stabil

c.         Tanda vital

Tekanan darah : TD : 110/70 nnHg

Nadi : 93 x / menit

RR : 18 x / menit

Temperatur : 37C

Tinggi badan : 155 cm

Berat badan : Sebelum hamil : 40 kg

Sesudah hamil : 47 kg

Ukuran lila : 22 cm

ASSESMENT

1.         Diagnosa Kebidanan

G1P0A0, ibu hamil aterm, janin tunggal, hidup intra uteri, DJJ154 x/menit presentasi kepala

Dasar

2.         Masalah

Ibu mengeluh  , lesu

3.         Kebutuhan

Penyuluhan tentang pola istirahat yang cukup dan rileks

Penyuluhan tentang gizi ibu hamil

4.         Diagnosa potensial

5.         Masalah Potensial

a. Potensial terjadi BBLR

b. Potensial terjadi gawat janin

c. Potensial terjadi kematian janin dalam kandungan

d. Potensial terjadi perdarahan

6.         Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien

Tindakan segera: pemberian tablet besi dan tablet kalsium

Kolaborasi : Dilakukan bila terjadi gawat janin dan kematian janin dalam kandungan, serta perdarahan.

PLANNING

1.         Beri tahu ibu tentang hasil pemeriksaan

a. Jelaskan kondisi ibu saat ini

b. Anjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin

c. Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan ibu

. Ibu mengetahui kondisinya saat ini

2.         Berikan informasi mengenai gizi ibu hamil

a. Jelasakan pada ibu tentang makanan yang bergizi seimbang

b. Ibu diberi vitamin, suplemen besi dan suplemen kalsium

C Anjurkan ibu untuk istirahat dan banyak makan makanan yang seimbang

Ibu bersedia dan mengatakan selama ini sudah minum vitamin B12, suplemen tambah darah, suplemen kalsium1 kali sehari

Ibu mengerti tentang makanan yang bergizi seperti sayur-sayuran hijau, misalnya: daun katuk, buah-buahan segar, makanan berprotein seperti tahu, tempe, ikan.

Ibu bersedia untuk makan makanan bergizi

3. Beritahu ibu tentang pola istirahat yang baik

a. Jelaskan pada ibu pentingnya istirahat yang cukup

b. Anjurkan pada ibu untuk mengurangi aktivitas sehari-hari

c. Anjurkan pada ibu untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat

d. Evaluasiapakah ibu menjalankan yang dianjurkan

DAFTAR PUSTAKA

http://sulteng.surveilans-respon.org/wanita-usia-subur-kurang-energi-kronis/.

http://www.eurekaindonesia.org/dampak-anemia-dan-kekurangan-energi-kronik-pada-ibu-hamil/

http://askep-askeb.cz.cc/2010/02/kurang-energi-kronis-kek-pada-ibu-hamil.htm

http://www.gizi.net/kebijakan-gizi/download/GIZI%20MAKRO.doc.

BAB I
PENDAHULUAN

Angka kematian ibu masih cukup tinggi sampai saat ini. Penyebab kematian tertinggi adalah perdarahan, keracunan kehamilan dan infeksi. Salah satu dari beberapa faktor tidak langsung penyebab kematian ibu adalah anemia.

Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Di samping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah (Soejoenoes, 1983). Soeprono (1988) menyebutkan bahwa dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan atonis), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infeksi dan stres kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian peri natal, dan lain-lain) (Soeprono, 1988).

Prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia berkisar 20-80%, tetapi pada umumnya banyak penelitian yang menunjukkan prevalensi anemia pada wanita hamil yang lebih besar dari 50%. Pemerintah telah berusaha melakukan tindakan pencegahan dengan memberikan tablet tambah darah (tablet Fe) pada ibu hamil yang dibagikan pada waktu mereka memeriksakan kehamilan, akan tetapi prevalensi anemia pada kehamilan masih juga tinggi (BPS, 1994). Pemeriksaan kadar hemoglobin yang dianjurkan dilakukan pada trimester pertama dan ketiga kehamilan sering kali hanya dapat dilaksanakan pada trimester ketiga saja karena kebanyakan ibu hamil baru memeriksakan kehamilannya pada trimester kedua kehamilan. Dengan demikian upaya penanganan anemia pada kehamilan menjadi terlambat dengan akibat berbagai komplikasi yang mungkin terjadi karena anemia.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya anemia pada kehamilan dan hubungannya dengan kemungkinan terjadinya komplikasi pada kehamilan, persalinan dan nifas. Penelitian dilaksanakan secara cross sectional dan longitudinal dengan sampel ibu hamil trimester I. Secara random didapatkan 255 responden ibu hamil trimester pertama yang kemudian diikuti sampai dengan masa nifas. Karena adanya responden yang mengalami abortus atau pindah sehingga tidak dapat ditemui saat pengumpulan data, maka pada trimester II jumlah responden menjadi 224 orang, pada trimester III dan nifas 219 orang. Variabel yang diteliti adalah variabel sosial ekonomi, meliputi : umur, pendidikan, pekerjaan, tingkat pendapatan keluarga, status gizi, nutrisi, meliputi : intake kalori, protein dan Fe, konsumsi tablet Fe, pengeluaran energi ibu hamil, perilaku reproduksi, meliputi : paritas, interval kehamilan, keikutsertaan KB dan perawatan antenatal, kadar hemoglobin dan komplikasi pada kehamilan, persalinan dan masa nifas. Kriteria anemia yang digunakan sesuai dengan kriteria WHO yaitu 11 g%. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, alat ukur berupa timbang badan, stature meter, alat untuk mengukur lingkar lengan atas, dan hemometer Sahli. Intake kalori, protein, Fe dan beban kerja dikumpulkan dengan cara two days recall. Analisis menggunakan regresi logistik dan uji Chi Square.

Hasil analisis menunjukkan bahwa insidensi anemia tertinggi pada trimester kedua (86,3%). Hal ini sesuai dengan kadar hemoglobin terendah pada masa kehamilan pada trimester kedua (9,94 g%) dan mengakibatkan prevalensi anemia yang tertinggi adalah pada trimester kedua (92,4%).

Faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya anemia kehamilan trimester pertama adalah interval kehamilan, usia kehamilan dan lama pendidikan. Hal ini tampaknya berhubungan dengan kondisi ibu sebelum kehamilan yang dengan demikian memperkuat dugaan bahwa cukup banyak ibu hamil yang memasuki masa kehamilannya dalam keadaan anemia. Pada trimester kedua dan ketiga, faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya anemia kehamilan adalah konsumsi tablet Fe dan kadar hemoglobin pada trimester sebelumnya, sedangkan pada masa nifas faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya anemia adalah volume perdarahan pada persalinan, konsumsi tablet Fe dan kadar hemoglobin sebelum persalinan atau trimester ketiga.

Konsumsi tablet Fe sangat berpengaruh terhadap terhadap terjadinya anemia, khususnya pada trimester kedua, ketiga dan masa nifas. Hal ini disebabkan kebutuhan zat besi pada masa ini lebih besar dibanding pada trimester pertama dan menunjukkan pentingnya pemberian tablet Fe untuk mencegah terjadinya anemia pada kehamilan dan nifas.

Komplikasi yang dominan disebabkan oleh anemia adalah terjadinya penyakit infeksi pada masa nifas, diikuti dengan partus lama dan perdarahan pada persalinan.

Dengan memperhatikan hasil penelitian tersebut di atas disarankan untuk meningkatkan cakupan K1 ibu hamil agar dapat diberikan tablet Fe sebagai upaya pencegahan anemia atau sebagai terapi apabila sudah terjadi anemia. Mengingat pengaruh anemia terhadap terjadinya komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas yang mulai tampak pada trimester pertama dan besarnya pengaruh tablet tambah darah (Tablet Fe) dalam pencegahan anemia, perlu diberikan tablet tambah darah bukan hanya pada ibu hamil, melainkan juga pada ibu nifas.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

ANEMIA DALAM KEHAMILAN

  1. a. Definisi

Seseorang, baik pria maupun wanita, dinyatakan menderita anemia apabila kadar hemoglobin dalam darahnya kurang dari 12 g/ 100 ml. Anemia lebih sering dijumpai dalam kehamilan. Hal itu disebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zat-zat makanan bertambah dan terjadi pula perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang.

Darah bertambah banyak dalam kehamilan, yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel – sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding sebagai berikut : plasma 30 %, sel darah 18 %, dan hemoglobin 19 %.

Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama – tama pengenceran itu meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula sehingga tekanan darah tidak naik. Kedua pada perdarahan waktu persalinan, banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu tetap kental.

Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mukai sejak kehamilan umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu. Sehingga dapat disimpulkan batas terendah untuk kadar HB dalam kehamilan yaitu 10 g/ 100 ml. Jika seorang wanita hamil memiliki HB kurang dari 10 g/ 100 ml tidak dianggap menderita anemia dalam kehamilan. Karena itu, para wanita hamil dengan HbB antara 10 dan 12 g/ 100 ml tidak dianggap menderita anemia patologik, akan tetapi anemia fisiologik atau pseudoanemia.

  1. b. Pengaruh anemia dalam kehamilan

Anemia dalam kehamilan member pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun dalam nifas dan masa selanjutnya. Berbagai penyulit dapat timbul anemia, seperti :

a)      Abortus

b)      Partus Prematurus

c)      Partus lama karena inertia uteri

d)     Perdarahan postpartum karena atonia uteria

e)      Syok

f)       Infeksi, baik intrapartum maupun postpartum

g)      Anemia yang sangat berat dengan HB kurang dari 4 g/ 100 ml dapat menyebabkan dekompensasi kordis.

h)      Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan sulit, walaupun tidak terjadi perdarahan.

Anemia juga berpengaruh bagi hasil konsepsi diantaranya adalah :

a)      Kematian mudigah

b)      Kematian Parinatal

c)      Prematuritas

d)     Dapat  terjadi cacat-bawaan

e)      Cadangan besi kurang

Jadi dapat disimpulkan anemia dalam kehamilan merupakan sebab potensial morbiditas serta mortalitas ibu dan anak.

  1. c. Macam – macam Anemia

Pembagian anemia dalam kehamilan (berdasarkan prosentase penyelidikan di Jakarta)

  1. Anemia Defisiensi Besi                                   62, 3 %
  2. Anemia Megaloblastik                                    29, 0 %
  3. Anemia Hipoplastik                                          8, 0 %
  4. Anrmia Hemolitik                                             0, 7 %
  1. a. Anemia Defisiensi Besi
    1. 1. Definisi

Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai adalh anemia akibat defisiensi besi. Kekurangan ini akan disebabkan karena kurang masuknya unsure besi dengan makanan, karena gangguan penyerapan, gangguan penggunaan, atau karena melampaui banyaknya besi ke luar dari badan, misalnya pada perdarahan.

Keperluan akan besi bertambah dalam kehamilan, terutama dalam trimester akhir. Apabila masuknya besi tidak ditambah dan kehamilan, maka mudah terjadi anemia defisiensi besi, lebih-lebih pada kehamilan kembar. Selain itu jika hidup di daerah katulistiwa, besi lebih banyak ke luar melalui air peluh dan melalui kulit. Masuknya besi setiap hari yang dianjurkan tidak sama di berbagai negeri. Untuk wanita tidak hamil, wanita hamil, dan wanita yang menyusui dianjurkan di Amerika Serikat masing – masing 12 mg, 15 mg, dan 15 mg, sedangkan dI Indonesia masing – masing 12 mg, 17 mg, dan 17 mg.

  1. 2. Diagnosis

Diagnosis anemia defisiensi besi yang berat tidak sulit karena ditandai ciri – ciri yang khas pada defisiensi besi, yaitu mikrositosis dan hipokromasia. Anemia yang ringan tidak selalu menunjukkan ciri – ciri khas itu, bahkan banyak yang normositer dan normokrom. Hal itu disebabkan karena defisiensi besi dapat berdampingan dengan defisiensi asam folik. Yang terakhir menyebabkan anemia megaloblastik yang sifatnya makrositer dan hiperkrom. Anemia ganda demikian lazim disebut anemia diformis, yang dapat dibuktikan dengan kurva Price Jones

Sifat lain yang khas bagi defisiensi besi ialah :

a)      Kadar besi serum rendah

b)      Daya ikat besi tinggi

c)      Protoporfirin eritrosit tinggi

d)     Tidak ditemukan hemosiderin (stainable iron) dalam sumsum tulang.

Pengobatan percobaan (therapia ex juvantibus) dengan besi dapat pula dipakai untuk membuktikan defisiensi besi : Jika dengan pengobatan jumlah retikulosit, kadar HB dan anemia itu pasti disebabkan kekurangan besi.

Pemeriksaan sumsum tulang menunjukkan eritropoesis yang normoblastik tanpa tanda – tanda hipoplasia eritropoesis.

  1. 3. Terapi

Apabila pada pemeriksaan kehamilan hanya HB yang diperiksa dan HB itu kurang dari 10 g/ 100 ml, maka wanita dapat dianggap sebagai menderita anemia defisiensi besi, baik yang murni maupun yang diformis, karena tersering anemia dalam kehamilan ialah anemia defisiensi besi.

Pengobatan dapat dimulai dengan preparat besi per os. Biasanya diberikan garam besi sebanyak 600 – 1000 mg sehari, seperti sulfas ferosus atau glukonas ferosus. Hb dapat dinaikkan sampai 10 g/100 ml atau lebih asal masih ada cukup waktu sampai jalan lahir. Peranan vitamin C adalah mempermudah penyerapan ion ferro dalam selaput usus.

Terapi parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan obat besi per os, ada gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan, atau apabila kehamilannya sudah tua. Besi parenteral diberikan dalam bentuk ferri. Secara intramuskulus dapat disuntikkan dekstran besi (imferon) atau sorbitol besi (Jactofer). Hasilnya lebih cepat dicapai, hanya penderita merasa nyeri ditempat suntikkan.

Secara intravena perlahan-lahan juga diberikan seperti ferrum oksidum sakkratum (ferrigen, Ferrivenin, Proferrin, Vistis), sodium diferrat (Ferronascin), dan dekstran besi (imferon). Akhir akhir ini Imferon banyak pula  diberikan dengan infus dalam dosis total antara 1000 – 2000 mg unsur besi sekaligus, dengan hasil yang memuaskan. Walaupun besi intravenadan dengan infuse kadang – kadang menimbulkan efek sampingan, namun apabila ada indikasi yang tepat, cara ini dapat dipertanggungjawabkan. Komplikasi kurang berbahaya dibandingkan dengan transfuse daerah.

Tranfusi darah sebagai pengobatan anemia dalam kehamilan sangat jarang walaupun Hbnya kurang dari 6 g/ 100 ml. apabila tidak terjadi perdarahan. Darah secukupnya harus tersedia selama persalinan, yang segera harus diberikan apabila terjadi perdarahan yang yang lebih dari biasa, walaupun tidak lebih dari 1000 ml.

  1. 4. Pencegahan

Didaerah-daerah dengan frekuensi kehamilan yang lebih tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfas ferosus atau glukonas ferossus, cukup 1 tablet sehari. Selain itu wanita dinasehatkan pula untuk makan lebih banyak ptotein dan sayur-saturan yang mengandung banyak mineral serta vitamin.

  1. 5. Prognosis

Prognosis anemia defisiensi besi dalam kehamilan umumnya baik bagi ibu dan anak. Persalinan dapat berlangsung seperti biasa tanpa perdarahan banyak atau komplikasi lain. Anemia berat yang tidak terobati dalam kehamilan muda dapat menyebabkan abortus, dan dalam kehamilan tua dapat menyebabkan partus lama, perdarahan postpartum, dan infeksi .

Walaupun bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita anemia defisiensi besi tidak menunjukkan Hb yang rendah, namun cadangan besinya kurang, yang baru beberapa bulan kemudian tampak sebagai anemia infantum.

  1. b. Anemia Megaloblastik
    1. 1. Definisi

Anemia Megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik (pteroyglutamic acid), jarang sekali karena defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin). Berbeda dari di Eropa dan di Amerika serikat frekuensi anemia megaloblastik dalam kehamilan culup tinggi di Asia, seperti India, Malaysia, dan Indonesia. Hal itu erat kaitannya dengan defisiensi makanan.

  1. 2. Diagnosis

Diagnosis anemia megaloblastik dibuat apabila ditemukan megaloblas atau premegaloblas dalam arah atau sumsum tulang. Sifat khas sebagai anemia makrositer dan hiperkrom tidak selalu dijumpai, kecuali bila anemianya sudah berat. Seringkali anemia sifatnya normositer dan normokrom. Hal itu disebabkan karena defisiensi asam folik sering berdampingan dengan defisiensi besi dalam kehamilan.

Perubahan-perubahan dalam leukopoesis, seperti metamielosit datia dan sel batang datia yang kadang-kadang disertai vakuolisasi, dan hipersegmentasi granulosit, terjadi lebih dini pada defisiensi asam folik dan vitamin B12, bahkan belum terdapat megaloblastosis. Ciri-ciri merupakan petunjuk yang kuat bagi defisiensi asam folik dan vitamin B12. juga pemeriksaan asam formimino-glutamik dalam air kencing (Figlu-test) dapat membantu dalam diagnosis. Kadar asam folik tidak dapat dipakai sebagai diagnostikum.

Diagnosis pasti baru dapat dibuat dengan percobaan penyerapan (absorption test)dan percobaan pengeluaran (clearance test) asam folik. Pengobatan percobaan dengan asam folik dapat pula menyokong diagnosis; naiknya jumlah retikulosit dan kasar Hb menunjukkan defisiensi asam folik.

Pada anemia dimorfis gamabaran darah yang mula-mula normositer dan normokrom, setelah pemberian asam folik, jelas berubah menjadi mikrositer dan hipokom karena defisiensi asam folik sudah dikoreksi, akan tetapi defisiensi besi belum.

  1. 3. Terapi

Dalam pengobatan anemia megaloblastik dalam kehamilan sebaiknya bersama-sama dengan asam folik diberikan pula besi. Jikalau perlu, asam folik diberikan dengan suntikan dalam dosis yang sama.

Apabila anemia megaloblastik disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 (anemia pernisiosa Addison-Biermer), maka penderita harus diobati dengan vitamin B12 dengan dosis 100-1000 mikrogram sehari, baik per os maupun parenteral.

Karena anemia megaloblastik dalam kehamilan pada umumnya berat dan kadang-kadang degil sifatnya, maka transfusi darah kadang-kadang diperlukan apabila tidak cukup waktu karena kehamilan dekat aterm, atau apabila pengobatan dengan pelbagai obat penambah darah bisa tidak berhasil.

  1. 4. Pencegahan

Pada umumnya asam folik tidak diberikan secara rutin, kecuali di daerah-daerah dengan frekuensi anemia megaloblastik yang tinggi. Apabila pengobatan anemia dengan besi saja tidak berhasil, maka besi harus ditambah dengan asam folik.

  1. 5. Prognosis

Anemia megaloblastik dalam kehamilan umumnya mempunyai prognosis cukup baik. Pengobatan dengan asam folik hampir selalu berhasil.

Apabila penderita mencapai masa nifas dengan selamat dengan atau tanpa pengobatan, maka anemianya akan sembuh dan tidak akan timbul lagi. Hal ini disebabkan karena dengan lahirnya anak keperluan akan asam folik jauh berkurang. Sebaiknya, anemia pernisiosa memerlukan pengobatan terus-menerus, juga di luar kehamilan.

Anemia megaloblastik dalam kehamilan yang berat yang tidak diobati mempunyai prognosis kurang abik. Angka kematian bagi ibu mendekati 50% dan bagi anak 90%.

  1. c. Anemia Hipoplastik

Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoblastik dalam kehamilan.

Darah tepi menunjukkan gambaran normositer dan normo-krom, tidak ditemukan ciri-ciri defisiensi besi,asam folik, atau viyamin B12. Sumsum tulang bersifat normoblastik dengan hipoplasia erithropoesis yang nyata. Perbandingan mieloit:eritroit, yang diluar kehamilan 5 : 1 dan dalam kehamilan 3 : 1 atau 2 : 1, berubah menjadi 10 : 1 atau 20 : 1. Ciri lain ialah bahwa pengobatan dengan segala macam obat penambah darah tidak memberi hasil.

Etiologi anemia hipoplastik karena kehamilan hingga kini belum diketahui dengan pasti, kecuali yang disebabkan oleh sepsis, sinar Rontgen, racun, atau obat-obat. Dalam hal yang terakhir anemianya dianggap hanya sebagai komplikasi kehamilan.

Karena obat-obat penembah darah tidak memberi hasil, maka satu-satunya cara untuk memperbaiki keadaan penderita ialah transfusi darah, yang sering perlu diulang sampai beberapa kali.

Biasanya anemia hipoplastik karena kehamilan, apabila wanita dengan selamat mencapai masa nifas, akan sembuh dengan sendirinya. Dalam kehamilan-kehamilan berikutnya biasanya wanita menderita anemia hipoblastik lagi.

Anemia aplastik (panmieloftisis) dan anemia hipoblastik berat yang tidak diobati mempunyai prognosis buruk, baik bagi ibu maupun bagi anak.

Tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya anemia hemoplastik karena kehamilan. Akan tetapi, dalam pemberian obat-obat pada wanita hamil selalu harus dipikirkan pengaruh samping obat-obat itu. Khususnya obat-obat yang mempunyai pengaruh hemotoksik, seperti streptomisin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin, sulfonamid, klorpromazin, atebrin, dan obat pengecat rambut sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil, jikalau tidak perlu betul.

  1. d. Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemianya biasanya menjadi lebih berat. Sebaliknya mungkin pula bahwa kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia.

Secara umum, anemia hemolitik dapat dibagi dalam 2 golongan besar, yakni :

1.   Golongan yang disebabkan oleh faktor intra korpuskuler, seperti pada sferositosis, eliptositosis, anemia hemolitik herediter, thalasemia, anemia sel sabit, hemoglobinopatia C, D, G, H, I, dan paraxsymal nocturnal haemoglubinuria.

2.   Golongan yang disebabkan oleh faktor ekstrakorpuskuler, seperti pada infeksi (malaria, sepsis, dsb), keracunan arsenikum, neoarsphenamin, timah, sulfonamid, kinin, paraquin, pimaquin, nitrofurantoin, (Furadantin), racun ular, pada defisiensi G-6-PD (glucose-6-phospate-dehidrogenase), antagonismus rhesus (ABO), leukemia, penyakit Hodgkin, limfosarkoma,, penyakit hati, dan lain-lain.

Gejala yang lazim dijumpai ialah gejala-gejala proses hemolitik, seperti anemia, hemoglobinemia, hemoglobinuria, hiperbilirubinenia, hiperurobilinuria, dan sterkobilin lebih banyak dalam feses. Di samping itu terdapat pula sebagai tanda regenerasi darah seperti retikuloositosis dan normoblastemia, serta hiperplasiaerithropoesis dalam sumsum tulang. Pada hemolitik yang herediter kadang-kadang disertai kelainan roentgenologis pada tengkorak dan tulang-tulang lain.

Sumsum tulang menunju8kkan gambaran normoblastik dengan hiperplasia yang nyata, terutama sistem eritropoetik. Perbandingan meiloit : eritoit yang biasanya 3 : 1 atau 2 : 1 dalam kehmilan berubah mejadi 1 : 1 atau 1 : 2.

Frekuensi anemia hemolitik dalam kehamilan tidak tinggi. Terbanyak anemia ini ditemukan pada wanita negro yang menderita anemia sel sabit, anemia sel sabit-hemoglobin C, sel sabit-thalassemia, atau penyakit hemoglobin C. Di Indonesia terdapat juga penyakit thalassemia. Bulan Juli 1975 seorang ibu bangsa Indonesia dengan thalassemia major, Hb 7,7 gr%, dan telah mengalami splenektomi beberapa tahun yang lampau, melahirkan anak pertama hidup dan cukup bulan di RS St. Carolus, Jakarta. Kasus dengan penyakit hemoglobin E-thalassemia yang dipersulit oleh kehamilan dilaporkan untuk pertama kali di Indonesia oleh Lie-Injo Luan Eng dkk. Waktu partus penderita mempunyai Hb 2,8 g% dan menderita dekompensasi kordis karena anemianya. Bayinya prematur dan meninggal 2 hari post partum.

Pengobatan anemia hemolitik dalam kehamilan tergantung pada jenis dan beratnya. Obat-obat penambah darah tidak memberi hasil. Transfusi darah, yang kadang-kadang diulang beberapa kali, diperlukan pada anemia berat untuk meringankan penderitaan ibu dan untuk mengurangi bahaya hipoksia janin. Splenektomi dianjurkan pada anemia hemolitik-bawaan dalam trimester II dan III. Pada anemia hemolitik yang diperoleh harus dicari penyebabnya. Sebab-sebab itu harus disingkirkan, misalnya pemberian obat-obat yang dapat menyebabkan kelumpuhan sumsum tulang harus segera dihentikan.

  1. e. Anemia-anemia lain

Seorang yang menderita anemia, misalnya berbagai anemia hemolitik herediter atau yanhg diperoleh seperti anemia karena malaria, cacing tambang, penyakit ginjal menahun, penyakit hati, tuberkulosis, sifilis, tumor gnas, dan sebagainya, dapat menjadi hamil.dalam hal ini anemianya menjadi lebih berat dan mempunyai pengaruh tidak baik terhadap ibu dalam masa kehamilan, persalinan, nifas, serta bagi anak dalam kandungan.

Pengobaan ditujukan kepada sebab pokok anemianya, misalnya antibiotika untuk infeksi, obat-obat anti malaria, anti sifilis, obat cacing, dan lain-lain.

Prognosis bagi ibu dan anak tergantung pad berat dan sebab anemianya, serta berhasil tidaknya pengobatan.

Anemia adalah suatu keadaan di mana jumlah eritrosit yang beredar atau konsentrasi hemoglobin menurun.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGIS

Ny “S” umur 22 tahun G1 P0 Ab0 Ah0 dengan UK 12 minggu

Di RB Karya Rini, Ponalan Baru Gang 3 Taman Agung Muntilan

NO. REGISTER                                 :  020980

MASUK RS TANGGAL, JAM         : 24 Maret 2010, 16.00 WIB

DIRAWAT DI RUANG                    :  Periksa

Biodata                             Ibu                                           Suami

Nama                  :              Ny Siti Aminatun                    Tn Eko Kuswantoro

Umur                  :              22 tahun                                  25 tahun

Agama                :              Islam                                       Islam

Suku/bangsa       :              Jawa                                        Jawa

Pendidikan         :              SMA                                       SMA

Pekerjaan            :              IRT                                          Wiraswata

Alamat               :              Kemiri Ombo                          Kemiri Ombo

DATA SUBJEKTIF

  1. Kunjungan saat ini      :     Kunjungan ulang.

Keluhan utama            :     Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya.

  1. Riwayat Perkawinan

Kawin 1 kali. Kawin pertama umur 20 tahun. Dengan suami sekarang 2 tahun.

  1. Riwayat Menstruasi

Menarche umur 14 tahun. Siklus 30 hari. Teratur. Lama 7 hari. Sifat darah encer. Bau amis. Tidak ada fluor albus. Tidak dismenorroe.

HPM 24 Desember 2009. HPL 1 Oktober 2010.

  1. Riwayat kehamilan ini.
    1. Riwayat ANC

ANC sejak umur kehamilan 9 minggu. ANC di bidan.

Frekuensi :       Trimester I       1          kali

Trimester II     –           kali

Trimester III    –           kali

  1. Pergerakan janin belum terasa.
  2. Keluhan yang dirasakan : Ibu mengeluh pusing dan lemas.
  3. Pola Nutrisi                          Makan                                     Minum

Frekuensi                              3 kali sehari                             6 gelas/hari

Macam                                 nasi, sayur, lauk                       teh, air putih

Jumlah                                  ½ piring habis                          1 gelas habis

Keluhan                                tidak ada                                 tidak ada

Pola Eliminasi                      BAB                                        BAK

Frekuensi                              1 kali perhari                           5-6 kali perhari

Warna                                   khas feses                                khas urine

Bau                                       khas feses                                khas urine

Konsistensi                           lunak                                       cair

Jumlah                                  tidak terkaji                             tidak terkaji

Pola Aktivitas

Kegiatan sehari-hari       :     Menyapu, memasak, mencuci baju, bersih-bersih rumah.

Istirahat/tidur                 :     Siang 1-2 jam, malam 6-7 jam.

Seksualitas                     :     Frekuensi 3 kali seminggu.

Tidak ada keluhan.

  1. Personal Hygiene

Kebiasaan mandi 2 kali/hari

Kebiasaan membersihkan alat kelamin saat mandi dan sehabis BAB/BAK.

Kebiasaan mengganti pakaian dalam sehabis mandi dan jika lembab.

Jenis pakaian dalam yang digunakan katun.

  1. Imunisasi

TT 1 caten.

TT 2 satu bulan setelah TT pertama.

TT 3 belum.

  1. Riwayat kehamilan, persalinan,dan nifas yang lalu.

G1 P0 Ab0 Ah0

Hamil

Ke

Persalinan Nifas
Tgl lahir UK Jenis persalinan Penolong Komplikasi JK BB Lakta si Kompli kasi
Ibu Bayi
1 HAMIL INI
2
3
  1. Riwayat kontrasepsi yang digunakan.
No Jenis kontrasepsi Mulai memakai Berhenti/ganti cara
Tanggal Oleh Tempat Keluhan Tanggal Oleh Tempat Alasan
1 Ibu mengatakan belum pernah memakai kontrasepsi.
  1. Riwayat kesehatan.
    1. Penyakit sistemik yang sedang/pernah diderita

Ibu mengatakan tidak pernah menderita tekanan darah tinggi, nyeri perut bagian bawah, dada sesak, luka tidak sembuh-sembuh.

  1. Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga.

Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita tekanan darah tinggi, nyeri perut bagian bawah, dada sesak, luka tidak sembuh-sembuh.

  1. Riwayat keturunan kembar.

Ibu mengatakan tidak ada keturunan kembar.

  1. Kebiasaan-kebiasaan.

Ibu mengatakan tidak merokok.

Ibu mengatakan tidak minum jamu-jamuan.

Ibu mengatakan tidak minum-minuman keras.

Ibu mengatakan tidak mempunyai makanan/minuman pantangan.

Ibu mengatakan tidak mengalami perubahan pola makan (termasuk nyidam, nafsu makan turun, dan lain-lain).

  1. Keadaan Psiko Sosio Spiritual.
    1. Kehamilan ini diinginkan.
    2. Pengetahuan ibu tentang kehamilan dan keadaan sekarang.

Ibu kurang mengetahui tentang hal-hal yang harus dilakukan ibu hamil.

  1. Penerimaan ibu terhadap kehamilan saat ini.

Ibu menerima kehamilannya saat ini.

  1. Tangapan keluarga terhadap kehamilan.

Keluarga mendukung kehamilan ibu.

DATA OBJEKTIF

  1. Pemeriksaan Fisik
    1. Keadaan umum baik, kesadaran CM.
    2. Tanda vital

Tekanan darah                :        100/60    mmHg

Nadi                               :        84           kali per menit

Pernafasan                      :        20           kali per menit

Suhu                               :        36,2        C

  1. TB                                  :        158         cm

BB                                  :        sebelum hamil 48 kg, BB sekarang 51 kg

IMT                                :        48/(1,582) = 19,22

LLA                               :        22           cm

  1. Kepala dan Leher

Edema wajah                 :        tidak ada

Cloasma gravidarum      :        +

Mata                               :        konjungtiva pucat, sklera putih

Mulut                             :        caries tidak ada, bibir  pucat, gusi merah muda

Leher                              :        tidak ada pembesaran vena jugularis, kelenjar tiroid, dan limfe

  1. Payudara

Bentuk                           :        simetris

Areola mammae             :        hiperpigmentasi

Puting susu                     :        menonjol

Colostrum                      :        belum keluar

  1. Abdomen

Bentuk                           :        memanjang

Bekas luka                      :        tidak ada

Strie gravidarum            :        ada

Palpasi Leopold

Leopold I                       :        TFU 3 jari di atas simpisis

Leopold II                      :        tidak dilakukan

Leopold III                    :        tidak dilakukan

Leopold IV                    :        tidak dilakukan

Osborn test                     :        tidak dilakukan

Mc Donald                     :        tidak dilakukan

TBJ                                 :        belum bisa dihitung

Auskultasi DJJ               :        tidak dilakukan

  1. Ekstremitas

Edema                            :        tidak ada

Varices                           :        tidak ada

Reflek patela                  :        + / +

Kuku                              :        pendek, bersih

  1. Genetalia luar

Tanda chadwich             :        tidak dilakukan

Varices                           :        tidak dilakukan

Bekas luka                      :        tidak dilakukan

Kelenjar bartholini         :        tidak dilakukan

Pengeluaran                    :        tidak dilakukan

  1. Anus

Hemoroid                       :        tidak dilakukan

  1. Pemeriksaan Panggul Luar

Distansia spinarum               :        24 cm

Distansia kristarum              :        27 cm

Boudelogue                          :        20 cm

Lingkar panggul                   :        90 cm

  1. Pemeriksan Penunjang

Pemeriksaan kadar Hb (24 Maret 2010, pukul 16.08 WIB)

Hasilnya kadar Hb = 9 gr/dL

ASSESMENT

  1. Diagnosis Kebidanan

Seorang ibu umur 22 tahun G1 P0 Ab0 Ah0 UK 12 minggu dengan anemia ringan.

  1. Masalah

Ibu mengatakan lemas dan pusing.

  1. Kebutuhan

KIE tentang bahaya anemia dalam kehamilan.

  1. Diagnosis Potensial

Tidak ada.

  1. Masalah Potensial

Tidak ada.

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Tidak ada

  1. Kolaborasi

Tidak ada

  1. Merujuk

Tidak ada

PLANNING (Termasuk pendokumentasian, implementasi, dan evaluasi)

Tanggal 24 Maret 2010, pukul 16.15 WIB.

  1. Memberitahukan kepada ibu bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan ibu mengalami anemia ringan dengan kadar Hb 9 gr/dL (kadar Hb normal untuk ibu hamil TM 1 adalah >11 gr/dL).

Ibu mengetahui bahwa dirinya mengalami anemia ringan.

  1. Memberi ibu tablet Fe (@500 gr) untuk penambah darah dan tablet Kalk untuk menambah kalsium. Tablet Fe diminum malam hari, tablet Kalk diminum pagi hari, dengan dosis 1×1.

Ibu mengatakan bersedia minum obat sesuai anjuran.

3.        Menjelaskan kepada ibu tentang hal-hal yang harus dilakukan ibu hamil dengan anemia ringan.

ü Makan-makanan yang mengandung zat besi seperti hati, sayuran hijau, kacang-kacangan, daging, dan telur.

ü Menghindari minum teh atau kopi sebelum dan sesudah makan, dan juga saat minum obat, karena akan menghambat penyerapan. Sebaiknya ibu meminum obat dengan air putih atau air jeruk.

Ibu mengetahui penjelasan bidan, dapat mengulang kembali, dan bersedia melakukan anjuran tersebut.

4.        Menganjurkan ibu melakukan kunjungan ulang  1 bulan lagi atau jika ada keluhan.

Ibu mengatakan bersedia melakukan kunjungan ulang 1 bulan lagi atau jika ada keluhan.

DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro, Hanifa.Ilmu Kebidanan.2007.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka

FK Universitas Pajajaran.Obstetri Patologi.1984.Bandung:Elstar Offset

BAB I

PENDAHULUAN

Pembangunan Nasional mencakup upaya peningkatan semua segi kehidupan bangsa. Agar penduduk dapat berfungsi sebagai modal pembangunan dan merupakan sumberdaya manusia yang efektif dan produktif maka perlu ditingkatkan kualitas fisik dan nonfisik  Salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan dalam mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia adalah gizi. Pentingnya gizi dalam pembangunan kualitas hidup didasarkan pada beberapa hal yaitu: pertama keadaan gizi erat hubungannya dengan tingginya angka kesakitan dan angka kematian; kedua meningkatnya keadaan gizi penduduk merupakan sumbangan yang besar dalam mencerdaskan bangsa; ketiga lebih baiknya status gizi dan kesehatan akan memperbaiki tingkat produktifitas kerja penduduk. Masalah gizi di Indonesia tidak lepas dari masalah pangan karena tubuh manusia memerlukan sejumlah pangan dan gizi secara tetap sesuai dengan standart kecukupan gizi namun kebutuhan tersebut tidak selalu dapat terpenuhi.

Penduduk yang miskin tidak mendapatkan pangan dan gizi dalam jumlah yang cukup. Mereka menderita lapar pangan dan gizi mereka menderita lapar gizi. Sebaliknya sekelompok masyarakat mengkonsumsi pangan secara berlebihan. Oleh karena itu timbullah penyakit-penyakit degeneratif akibat gizi lebih. Akibat dari keadaan tidak seimbangnya antara zat gizi yang masuk kedalam tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi.

Di Indonesia penyakit gangguan gizi yang masih sering ditemukan dan merupakan masalah gizi utama adalah :

a). gangguan gizi akibat kekurangan kalori dan protein (KKP),

b). gangguan gizi akibat kekurangan vitamin A (KVA),

c). gangguan gizi akibat kekurangan Iodium (GAKI),

d). gangguan gizi akibat kekurangan zat besi (Anemia gizi)

Anemia gizi pada umumnya dijumpai di Indonesia terutama disebabkan karena kekurangan zat besi, sehingga anemia gizi sering disebut sebagai anemia kurang besi  Disamping itu kekurangan asam folat dapat merupakan faktor kontribusi terhadap terjadinya anemia, terutama terjadi pada segmen populasi tertentu yaitu ibu hamil. Kekurangan vitamin B 12 tidak umum terjadi, dan tidak mempunyai peranan penting dalam penyebab terjadinya anemia gizi.

Anemia kurang besi adalah salah satu bentuk gangguan gizi yang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di seluruh dunia, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyebab utama anemia kurang besi tampaknya adalah karena konsumsi zat besi yang tidak cukup dan absorbsi zat besi yang rendah dari pola makanan yang sebagian besar terdiri dari nasi, dan menu yang kurang beraneka ragam. Konsumsi zat besi dari makanan tersebut sering lebih rendah dari dua pertiga kecukupan konsumsi zat besi yang dianjurkan, dan susunan menu makanan yang dikonsumsi tergolong pada tipe makanan yang rendah absorbsi zat besinya. Selain itu infeksi cacing tambang memperberat keadaan anemia yang diderita pada daerah-daerah tertentu, terutama di daerah pedesaan.

Kelompok masyarakat yang paling rawan adalah ibu hamil, anak prasekolah dan bayi. Terjadinya anemia pada bayi erat hubungannya dengan taraf gizi ibunya. Berkurangnya zat besi dalam makanan, meningkatnya kebutuhan akan zat besi, atau kehilangan darah yang khronis dan adanya infeksi kecacingan akan menambah kemungkinan timbulnya anemia.

Anemia kurang besi merupakan penyebab penting yang melatar belakangi kejadian morbiditas dan mortalitas, yaitu kematian ibu pada waktu hamil dan pada waktu melahirkan atau nifas sebagai akibat komplikasi kehamilan. Sekitar 20 % kematian maternal negara berkembang penyebabnya adalah berkaitan langsung dengan anemia kurang besi. Disamping pengaruhnya kepada kematian, anemia pada saat hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin, berat bayi lahir rendah dan peningkatan kematian perinatal.

Berdasarkan hasil penelitian terpisah yang dilakukan di beberapa tempat di Indonesia pada tahun 1980, prevalensi pada ibu hamil berkisar antara 50-70 %, wanita dewasa tidak hamil 30-40 %, laki-laki dewasa 20-30 %, pekerja berpenghasilan rendah 30-40 % dan anak sekolah 25-35 % serta Balita 30-40 % .

Dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992 menemukan bahwa angka prevalensi anemia gizi ibu hamil cukup tinggi yaitu 55,1 %. Keadaan ini menunjukkan bahwa masalah anemia pada ibu hamil belum banyak berubah dibandingkan pada akhir Pelita IV yang juga masih sekitar 55 % (12).

Prevalensi anemia kurang besi pada ibu hamil masih sangat memprihatinkan terutama pada usia kehamilan trimester III dibandingkan trimester I. Infeksi kecacingan di Indonesia, prevalensinya juga cukup tinggi terutama di daerah pedesaan yang kondisi lingkungannya sangat mendukung untuk perkembangan cacing yang daur hidupnya adalah di dalam tanah. Hasil survei yang telah diadakan hingga saat ini memberikan prevalensi yang cukup tinggi yaitu 70-90 % untuk cacing gelang, 80-95 % untuk cacing cambuk dan untuk cacing tambang prevalensinya lebih rendah dari kedua di atas yaitu 30-59%, karena untuk cacing tambang lebih banyak ditemukan di daerah perkebunan dan pertambangan .

Anemia kurang besi dipengaruhi juga oleh konsekuensi dari infeksi kecacingan dengan hilangnya darah secara khronis . Penyakit kecacingan dan anemia gizi merupakan masalah yang saling terkait dan dijumpai bersamaan dalam suatu masyarakat, yaitu karena rendahnya sosial ekonomi masyarakat dan sanitasi lingkungan yang sangat tidak memadai sehingga memudahkan terjadinya penularan penyakit infeksi terutama infeksi kecacingan.

Interaksi antara infeksi kecacingan dan anemia gizi sudah banyak terungkap dari berbagai penelitian yang telah dilakukan. Masing-masing saling memberikan kontribusi terhadap terjadinya kesakitan. Besarnya kontribusi dari infeksi kecacingan terhadap anemia kurang besi masih belum banyak dibuktikan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kecacingan merupakan masalah kesehatan yang perlu penanganan serius terutama di derah tropis karena cukup banyak penduduk menderita kecacingan.  Penyakit kecacingan merupakan salah satu penyakit infeksi yang paling sering ditemukan di negara-negara berkembang. Di Indonesia penyakit kecacingan masih merupakan masalah yang besar untuk kasus anemia defisiensi besi, karena diperkirakan cacing menghisap darah 2-100 cc setiap harinya (Nasution, 2004).

Cacingan dan anemia merupakan dua hal saling terkait. Isu kesehatan seperti cacingan dan anemia tidak mendapat banyak perhatian karena dipandang tidak “seseksi” isu-isu kesehatan yang lain. Menurut Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), anemia merupakan isu yang kritis, khususnya kalau dihubungkan dengan angka kematian ibu melahirkan (AKI) akibat anemia berkisar 70 persen dari seluruh penyebab AKI sejak 20 tahun lalu yang ahttp://www.pppl.depkes.go.id/ngkanya tidak pernah turun tiap tahunnya.

Secara umum, kecacingan pada ibu hamil dapat menyebabkan :

  1. Menyebabkan anemia defisiensi zat besi

Infeksi kecacingan pada manusia baik oleh cacing gelang, cacing cambuk maupun cacing tambang dapat menyebabkan pendarahan yang menahun yang berakibat menurunnya cadangan besi tubuh dan akhirnya menyebabkan timbulnya anemia kurang besi. Pada daerah-daerah tertentu anemia gizi diperberat keadaannya oleh investasi cacing terutama oleh cacing tambang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan memakan darah. Akibat gigitan sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari dalam badan bersama tinja. Jumlah cacing yang sedikit belum menunjukkan gejala klinis tetapi bila dalam jumlah yang banyak yaitu lebih dari 1000 ekor maka orang yang bersangkutan dapat menjadi anemia.

  1. Menurunkan efektivitas vaksin TT dan DPT pada ibu hamil

Infeksi cacing merupakan masalah kesehatan di negara-negara tropis, termasuk Indonesia, yang terabaikan. Padahal, infeksi cacing kronis menurunkan respons imun pada ibu hamil dan bayi yang dilahirkan terhadap antigen tetanus toksoid atau TT meski telah divaksinasi. Respon imun terhadap TT pada ibu hamil yang rendah dan ditambah infeksi cacing yang menyertai, dimungkinkan akan berakibat pada bayi yang dilahirkan.

Infeksi tetanus merupakan penyakit yang dapat dicegah. Di sejumlah negara maju di mana kontrol terhadap sanitasi, higienis, dan penyakit infeksi seperti cacing sudah berhasil, pemberian vaksinasi tetanus sangat efektif untuk menurunkan angka kasus infeksi tetanus. Di lain pihak, vaksinasi TT di negara-negara tropis dan berkembang kurang optimal hasilnya.

Sejumlah studi membuktikan, antigen dari ibu hamil terinfeksi cacing dapat menembus plasenta dan menstimulasi sistem imun janin yang dikandung. Keadaan ini akan memengaruhi respons imun bayi pada antigen lain seperti vaksin.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan banyaknya kasus kegagalan program vaksinasi tetanus di daerah Asia dan Afrika terkait dengan beberapa faktor, seperti ketidaktepatan jadwal imunisasi, potensi vaksin rendah, serta rendahnya respons imun ibu. Padahal, angka kasus infeksi cacing di banyak negara di Asia dan Afrika masih tinggi.

  1. Menurunkan berat badan ibu hamil

Kekurangan micronutrient dalam darah menyebabkan pasokan gizi ibu hamil dan janin berkurang. Keadaan yang demikian jika dibiarkan berlanjut selama kehamilan akan meyebabkan berat badan ibu hamil tidak bertambah bahkan bisa berkurang karena cadangan gizi ibu hamil ditujukan untuk pertumbuhan janin.

  1. Menyebabkan perdarahan pada usus

Perdarahan terjadi akibat proses penghisapan aktif oleh cacing dan juga akibat perembesan darah disekitar tempat hisapan. Cacing berpindah tempat menghisap setiap 6 jam perdarahan ditempat yang ditinggalkan segera berhenti dan luka menutup kembali denqan cepat karena turn over sel epithel usus sangat cepat.

Kehilangan darah yang terjadi pada infeksi kecacingan dapat disebabkan oleh adanya lesi yang terjadi pada dinding usus juga oleh karena dikonsumsi oleh cacing itu sendiri walaupun ini masih belum terjawab dengan jelas termasuk berapa besar jumlah darah yang hilang dengan infeksi cacing ini.

5.  Menyebabkan kekurangan mikronutrien ibu hamil

Cacing pada usus ibu hamil selain menyebabkan perdarahan, juga menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi makanan yang masuk. Jika selama kehamilan tersebut cacing masih terdapat pada usus, maka penyerapan micronutrient akan terganggu. Micronutrient dalam darah cenderung menurun.

Pada ibu hamil, kekurangan micronutrient menyebabkan menurunnya kemampuan untuk melahirkan anak-anak yang sehat dan berotak cerdas. Sementara cacing trikhuris dapat menimbulkan perdarahan kecil yang dapat menimbulkan anemia, meski tak separah cacing tambang.

Komplikasi

  1. Bila cacing dalam jumlah besar menggumpal dalam usus dapat terjadi obstruksi usus (ileus)
  2. Anemia berat
  3. Perdarahan
  4. BBLR
  5. Kecacingan berat dapat menyebabkan radang paru, gangguan hati, kebutaan, penyumbatan usus, bahkan kerusakan tubuh secara signifikan yang meninggalkan kecacatan

Diagnosis

Dilakukan skrining uji feces pada ibu hamil. Untuk mengetahui banyaknya cacing di dalam usus dapat dilakukan dengan menghitung banyaknya telur dalam tinja. Bila didalam tinja terdapat sekitar 2000 telur/ gram tinja, berarti ada kira-kira 80 ekor cacing tambang di dalam perut dan dapat menyebabkan darah yang hilang kira-kira sebanyak 2 ml per hari. Dengan jumlah 5000 telur/gram tinja adalah berbahaya untuk kesehatan orang dewasa. Bila terdapat 20.000 telur/gram tinja berarti ada kurang lebih 1000 ekor cacing tambang dalam perut yang dapat menyebabkan anemia berat.

Tanda dan Gejala Klinis

Tanda Kecacingan adalah ditemukan minimal 2000 telur/gram tinja.

Gejala-gejala cacingan antara lain:

  1. Perut buncit
  2. Gatal-gatal sekitar anus
  3. Muntah ada cacing
  4. Cacing dalam kotoran
  5. Anemia atau kurang darah
  6. Penyumbatan usus
  7. Fesesnya encer, kadang bercampur lendir dan darah, cacing tampak keluar dalam feses

Penanganan

Pada kondisi hamil, selama sepertiga pertama kehamilan (trimester pertama) sebaiknya tidak minum obat yang membunuh cacing. Namun, langkah-langkah kebersihan saja dapat bekerja. Cacing mati setelah sekitar enam minggu. Dengan syarat ibu hamil tidak menelan telur baru, maka tidak ada cacing baru akan tumbuh. Selama 6 minggu tersebut ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan untuk mematahkan siklus cacing sehingga tidak terjadi re-infeksi. Setelah trimester pertama, pengobatan mungkin perlu dilakukan namun harus dibawah pengawasan dokter. Obat yang biasa digunakan yaitu :

  1. Pirantel pamoat 10 mg/kg BB per hari selama 3 hari.
  2. Mebendazol 500 mg dosis tunggal (sekali saja) atau 100 mg 2 x sehari selama tiga hari berturut-turut
  3. Albendazol 400 mg dosis tunggal (sekali saja)
  4. Ditambah sulfas ferrous 500 mg 2 x sehari

Langkah pencegahan :

Pertama, bertujuan untuk membersihkan telur:

  1. Mencuci pakaian tidur, sprei, handuk.  Membuang kain setelah digunakan. Perhatian khusus pada kamar tidur termasuk debu kasur.
  2. Benar-benar membersihkan kamar mandi.

Kemudian, setiap anggota rumah tangga harus melakukan berikut ini selama dua minggu:

  1. Tidak menyentuh kulit di dekat anus dan menggaruk daerah anus
  2. Setiap pagi mandi mencuci di sekitar dubur langsung setelah bangun dari tempat tidur.
  3. Idealnya, perubahan dan mencuci pakaian tidur setiap hari.

Dan kebersihan umum langkah-langkah yang harus selalu bertujuan untuk lakukan untuk mencegah mendapatkan infeksi cacing lagi:

  1. Cuci tangan dan gosok di bawah kuku di pagi hari, setelah menggunakan toilet atau, dan sebelum makan atau menyiapkan makanan.
  2. Cobalah untuk tidak menggigit kuku atau menghisap jari
  3. Jika mungkin, hindari berbagi handuk atau flanel. Bilas dengan baik sebelum digunakan.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN KECACINGAN

KASUS:

Seorang ibu primigravida umur 22 tahun, HPMT: 15 Desember 2009, HPL : 22 September 2010. Umur Kehamilan 9 minggu 1hari. Mengeluh merasa dan gatal-gatal pada telapak kaki  sejak 3 minggu yang lalu, tinja encer ketika BAB dan mual muntah ±3 kali dalam 1 hari. Ibu bekerja sebagai  ibu rumah tangga.

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

G1P0Ab0Ah0 umur 22 tahun uk 9 minggu, normal

Di BPRB Amanah Husada.

Tanggal Pengkajian     : 17 Februari 2010, jam 14.00

Data Subjektif

  1. Ibu mengatakan bahwa ia merasa gatal-gatal pada telapak kaki sejak 3 minggu yang lalu.
  2. Ibu mengeluh mual, muntah dengan frekuensi ± 3kali sehari dan tinja encer ketika BAB.

Data Objektif

  1. Pemeriksaan fisik
    1. Keadaan umum     : Baik. Kesadaran : compos mentis
    2. Tanda vital

Tekanan darah       : 120/80 mmHg

Nadi                      : 86 kali permenit

Pernafasan : 12 kali permenit

Suhu                      : 36.6 0C

  1. BB: 47 kg
  2. Kepala dan leher

Mata :konjungtiva merah muda, sklera putih, tidak ada odem palpebrae.

Mulut : bibir lembab, gusi merah muda, tidak ada caries gigi, tidak ada pembesaran tonsil.

  1. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium (feces)

Tanggal 16 Februari 2010 jam : 10.00

Hasil pemeriksaan : Terdapat sekitar 2000 telur/ gram tinja dengan jenis cacing ankilostomiasis.

ASSESMENT

  1. Diagnosis Kebidanan

G1P0Ab0Ah0 umur 22 tahun, uk 9 minggu dengan kecacingan.

  1. Masalah

Gatal-gatal pada sekitar telapak kaki dan mual muntah.

  1. Kebutuhan

KIE tentang cara menjaga kebersihan dan cara mengatasi mual dan muntah yang dialami ibu.

  1. Diagnosis Potensial

Kecacingan potensial menjadi anemia.

  1. Masalah Potensial

Untuk saat ini tidak ada

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Tidak ada

  1. Kolaborasi

Laboratorium Avicena untuk pemeriksaan feces

  1. Merujuk

Tidak ada

PLANNING ( Termasuk Pendokumentasian implementasi dan Evaluasi )

Tanggal 17 Februari 2010 jam 14.20 WIB

  1. Memberitahu ibu bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium ibu menderita kecacingan.

E: Ibu mengerti dengan kondisinya sekarang.

  1. Memberi KIE kepada ibu tentang cara meringankan mual dan muntah yang dialami ibu yaitu:
    1. Makan dengan porsi sedikit tetapi sering
    2. Mengkonsumsi biskuit atau roti kering untuk mengurangi muntah
    3. Menghindari makanan yang berbumbu tajam.
    4. Berhati-hati setiap kali bangun dari tempat tidur, tunggu 5-10 menit dahulu baru kemudian diperkenankan untuk bangun.

E: Ibu mampu untuk menyebutkan kembali bagaimana cara untuk meringankan mual dan muntah yang dialaminya.

  1. Memberi KIE kepada ibu tentang bagaimana mengatasi kecacingan yang dialaminya, yaitu :

Pada kondisi hamil tiga bulan pertama, sebaiknya ibu tidak minum obat yang membunuh cacing karena cacing mati setelah sekitar enam minggu. Tetapi ibu perlu untuk meningkakan kebersihan dirinya. Selama 6 minggu tersebut ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan sehingga cacing tidak berkembangbiak kembali.

Cara meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan misalnya dengan cara:

  1. Menjaga kebersihan dengan mencuci pakaian tidur, sprei, handuk
  2. Benar-benar membersihkan kamar mandi, sering mencuci kain dengan air panas.
  3. Menjaga kebersihan makanan dan mencuci tangan sebelum makan.

E: Ibu mampu menyebutkan kembali bagaimana cara meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan..

  1. Memberikan suplement kepada ibu yaitu tablet besi 1×1 250 mg yang diminum malam hari dan yang diminum tiap pagi.

Menyarankan ibu untuk mengkonsumsi tablet besi menggunakan air jeruk dan tidak menggunakan air teh, susu atau kopi.

E: Ibu bersedia untuk minum suplement secara teratur dan ibu mampu menyebutkan kembali bagaimana cara minum suplement dengan benar.

  1. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1 bulan kemudian yaitu tanggal 17 Maret 2010.

E: Ibu akan melakukan kunjungan ulang pada tanggal 17 Maret 2010.

DAFTAR PUSTAKA

Cacingan, Anemia, AKI, Gaya Hidup diunduh tanggal 23 Maret 2010 jam 19.00 WIB dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0411/01/swara/1356956.htm.

http://indobic.biotrop.org diunduh tanggal 13 Maret 2010 jam 21.00 WIB

Threadworms diunduh tanggal 29 Maret 2010 jam 12.30 WIB dari http://www.patient.co.uk/health/Threadworms.htm.

Mencegah dan Mengatasi Cacingan diunduh tanggal 29 Maret 2010 jam 10.05 WIB dari http://www.dechacare.com/Mencegah-dan-Mengatasi-Cacingan-I757.html

Anemia Defisiensi Besi diunduh tanggal 29 Maret 2010 jam 12.15 WIB dari http://www.pppl.depkes.go.id/

Rubrik Sehat diunduh tanggal 27 Maret 2010 jam 16.00 WIB dari http://www.tabloid-nakita.com/artikel

BAB I

PENDAHULUAN

Banyak istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa bayi KMK ini menderita gangguan pertumbuhan di dalam uterus (IUGR) seperti Pseudopremature, Small for Dates, dysmature, Fetal Malnutrition Syndrome, Chronic Fetal Distress, IUGR dan Small for Gestational Age (SGA). Batasan yang diajukan oleh Lubchenco (1963) adalah bahwa setiap bayi yang berat lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari 10th percentile oleh masa kehamilan pada Denver Intra uterine Growth Curves adalah bayi SGA. Gambaran kliniknya tergantung daripada lamanya, intensitas dan timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut.

Kejadian PJT bervariasi, berkisar 4-8% pada negara maju dan 6-30% pada negara berkembang. Hal ini perlu menjadi perhatian karena besarnya kecacatan dan kematian yang terjadi akibat PJT. Pada umumnya 75% janin dengan PJT memiliki proporsi tubuh yang kecil, 15-25% terjadi karena insufisiensi uteroplasenta, 5-10% terjadi karena infeksi selama kehamilan atau kecacatan bawaan.

Meskipun sekitar 50% dari pertumbuhan janin terhambat belum diketahui penyebabnya namun ada beberapa faktor yang diketahui dapat menyebabkannya, yaitu pertumbuhan maternal yang kurang, infeksi janin, malformasi kongenital, kelainan kromosom, penyakit vaskuler, penyakit ginjal kronis, anemia, abnormalitas plasenta dan tali pusat, janin multipel(kembar).

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. A. Definisi

Pertumbuhan janin terhambat (PJT) ditegakkan apabila pada pemeriksaan ultrasonografi (USG) perkiraan berat badan janin berada di bawah persentil 10 dibawah usia kehamilan atau lebih kecil dari yang seharusnya (sesuai grafik). Terminologi “kecil untuk masa kehamilan” adalah berat badan bayi yang tidak sesuai dengan masa kehamilan dan dapat muncul pada bayi cukup bulan atau prematur. Pada umumnya janin tersebut memiliki tubuh yang kecil dan risiko kecacatan atau kematian bayi kecil akan lebih besar baik pada saat dilahirkan ataupun setelah melahirkan.

PJT terbagi atas dua, yaitu:

  1. Pertumbuhan janin terhambat tipe I : simetris atau proporsional (kronis)

Memiliki kejadian lebih awal dari gangguan pertumbuhan janin yang tidak simetris, semua organ mengecil secara proporsional. Faktor yang berkaitan dengan hal ini adalah kelainan kromosom, kelainan organ (terutama jantung), infeksi TORCH (Toxoplasmosis, Other Agents <Coxsackie virus, Listeria), Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex/Hepatitis B/HIV, Syphilis), kekurangan nutrisi berat pada ibu hamil, dan wanita hamil yang merokok

  1. Pertumbuhan janin terhambat tipe II : Asimetris atau disproportional (akut)

Gangguan pertumbuhan janin asimetris memiliki waktu kejadian lebih lama dibandingkan gangguan pertumbuhan janin simetris.  Beberapa organ lebih terpengaruh dibandingkan yang lain, lingkar perut adalah bagian tubuh yang terganggu untuk pertama kali, kelainan panjang tulang paha umumnya terpengaruhi belakangan, lingkar kepala dan diameter biparietal juga berkurang. Faktor yang mempengaruhi adalah insufisiensi (tidak efisiennya) plasenta yang terjadi karena gangguan kondisi ibu termasuk diantaranya tekanan darah tinggi dan diabetes dalam kehamilan dalam kehamilan

Ada dua betuk IUGR menurut Renfield (1975), yaitu :

  1. Proportionate IUGR

Janin yang menderita distres yang lama dimana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-mingu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir sehingga berat, panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih dibawah masa gestasi yang sebenarnya. Bayi ini tidak menunjukkan adanya wasted oleh karena retardasi pada janin ini terjadi sebelum terbentuknya adipose tissue.

  1. Dispropotionate IUGR

Terjadi akibat distress. Gangguan yang terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. Bayi tampak wasted dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit, kulit kering keriput dan mudah diangkat, bayi kelihatan kurus dan lebih panjang.

  1. B. Penyebab
    1. Fisik ibu yang kecil dan kenaikan berat badan yang tidak adekuat
  1. Penyebab ibu

Faktor keturunan dari ibu dapat mempengaruhi berat badan janin. Kenaikan berat  tidak adekuat selama kehamilan dapat menyebabkan PJT. Kenaikan berat badan ibu selama kehamilan sebaiknya 9-16 kg. apabila wanita dengan berat badan kurang harus ditingkatkan sampai berat badan ideal ditambah dengan 10-12 kg

  1. Penyakit ibu kronik

Kondisi ibu yang memiliki hipertensi kronik, penyakit jantung sianotik, diabetes, serta penyakit vaskular kolagen dapat menyebabkan PJT. Semua penyakit ini dapat menyebabkan pre-eklampsia yang dapat membawa ke PJT. Hipertensi dan penyakit ginjal yang kronik, perokok, penderita DM yang berat, toksemia, hipoksia ibu, gizi buruk, drug abuse, peminum alkohol.

  1. Kebiasaan seperti merokok, minum alkohol, dan narkotik
  1. Penyebab janin

a.       Infeksi selama kehamilan

Infeksi bakteri, virus, protozoa dapat menyebabkan PJT. Rubela dan cytomegalovirus (CMV) adalah infeksi yang sering menyebabkan PJT

b.      Kelainan bawaan dan kelainan kromosom

Kelaianan kromosom seperti trisomi atau triploidi dan kelainan jantung bawaan yang berat sering berkaitan dengan PJT. Trisomi 18 berkaitan dengan PJT simetris serta polihidramnion (cairan ketuban berlebih). Trisomi 13 dan sindroma Turner juga berkaitan dengan PJT

c.       Pajanan teratogen (zat yang berbahaya bagi pertumbuhan janin)

Berbagai macam zat yang bersifat teratogen seperti obat anti kejang, rokok, narkotik, dan alkohol dapat menyebabkan PJT

  1. Penyebab plasenta (ari-ari)

a.      Kelainan plasenta sehingga menyebabkan plasenta tidak dapat menyediakan nutrisi yang baik bagi janin seperti, abruptio plasenta, infark plasenta (kematian sel pada plasenta), korioangioma, dan plasenta previa

b.      Kehamilan kembar

c. Twin-to-twin transfusion syndrome

  1. C. Problematik Bayi IUGR
    Bayi IUGR harus diwaspadai akan terjadinya beberapa komplikasi yang harus ditanggulangi dengan baik.
  2. Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotoraks
  3. Usher (1970) melaporkan bahwa 50% bayi IUGR mempunyai HB yang tinggi mungkin karena hipoksia kronik di dalam uterus.
  4. Hipoglikemi terutama bila pemberian minum terlambat.
  5. Keadaan ini yang mungkin terjadi : asfiksia, perdarahan paru yang masif, hipotermi, cacat bawaan akibat kelainan kromosom dan infeksi intrauterin.
  1. D. Perkembangan PJT Intrauterin :

Peningkatan rasio berat plasenta terhadap berat lahir ditimbulkan oleh kondisi diet rendah nutrisi terutama protein

  1. Kondisi kekurangan nutrisi pada awal kehamilan

Pada kondisi awal kehamilan pertumbuhan embrio dan trofoblas dipengaruhi oleh makanan. Studi pada binatang menunjukkan bahwa kondisi kekurangan nutrisi sebelum implantasi bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan nutrisi pada awal kehamilan dapat mengakibatkan janin berat lahir rendah yang simetris. Hal sebaiknya terjadi kondisi percepatan pertumbuhan pada kondisi hiperglikemia pada kehamilan lanjut

  1. Kondisi kekurangan nutrisi pada pertengahan kehamilan

Defisiensi makanan mempengaruhi pertumbuhan janin dan plasenta, tapi bisa juga terjadi peningkatan pertumbuhan plasenta sebagai kompensasi. Didapati ukuran plasenta yang luas.

  1. Kondisi kekurangan nutrisi pada akhir kehamilan

Terjadi pertumbuhan janin yang lambat yang mempengaruhi interaksi antara janin dengan plasenta. Efek kekurangan makan tergantung pada lamanya kekurangan. Pada kondisi akut terjadi perlambatan pertumbuhan dan kembali meningkat jika nutrisi yang diberikan membaik. Pada kondisi kronis mungkin telah terjadi proses perlambatan pertumbuhan yang irreversible

  1. E. Tanda dan Gejala

PJT dicurigai apabila terdapat riwayat PJT sebelumnya dan ibu dengan penyakit kronik. Selain itu peningkatan berat badan yang tidak adekuat juga dapat mengarah ke PJT. Dokter dapat menemukan ukuran rahim yang lebih kecil dari yang seharusnya.

  1. F. Prognosis
    Tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa gestasi, asfiksia/iskemia otak, sindroma gangguan pencernaan dll. Juga tergantung pada sosial ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada saat hamil, persalinan dan postnatal.
  1. G. Pengamatan Langsung

Bila bayi ini dapat mengatasi problem yang dideritanya, maka perlu diamati selanjutnya oleh karena kemungkinan bayi ini akan mengalami gangguan pendengaran, penglihatan, kognitif, fungsi motor SSP dan penyakit-penyakit seperti hidrosefalus, cerebral palsy dan sebagainya.

  1. H. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) diperlukan untuk mengukur pertumbuhan janin. Selain itu USG juga dapat digunakan untuk melihat kelainan organ yang terjadi. Pengukuran lingkar kepala, panjang tulang paha, dan lingkar perut dapat dilakukan untuk menilai pertumbuhan janin melalui USG.  Penggunaan ultrasound doppler dapat digunakan untuk melihat aliran dari pembuluh darah arteri umbilikalis.

  1. I. Penatalaksanaan
    Pada umumnya sama dengan perawatan neonatus umumnya, tetapi karena bayi ini mempunyai problem yang agak berbeda maka perlu diperhatikan hal-hal berikut :
    1. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterin.
    2. Memeriksa kadar gula darah dengan dextrostix jika hipoglikemi harus segera diatasi.
    3. Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.
    4. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibanding dengan bayi SMK
    5. Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi mekonium.
  1. J. Terapi

Kecacatan dan kematian janin meningkat sampai 2-6 kali pada janin dengan PJT. Tatalaksana untuk kehamilan dengan PJT bertujuan, karena tidak ada terapi yang paling efektif sejauh ini, adalah untuk melahirkan bayi yang sudah cukup usia dalam kondisi terbaiknya dan meminimalisasi risiko pada ibu. Tatalaksana yang harus dilakukan adalah :

  1. PJT pada saat dekat waktu melahirkan. Yang harus dilakukan adalah segera dilahirkan
  2. PJT jauh sebelum waktu melahirkan. Kelainan organ harus dicari pada janin ini, dan bila kelainan kromosom dicurigai maka amniosintesis (pemeriksaan cairan ketuban) atau pengambilan sampel plasenta, dan pemeriksaan darah janin dianjurkan

a.       Tatalaksana umum : setelah mencari adanya cacat bawaan dan kelainan kromosom serta infeksi dalam kehamilan maka aktivitas fisik harus dibatasi disertai dengan nutrisi yang baik. Apabila istirahat di rumah tidak dapat dilakukan maka harus segera dirawat di rumah sakit. Pengawasan pada janin termasuk diantaranya adalah melihat pergerakan janin serta pertumbuhan janin menggunakan USG setiap 3-4minggu

b.     Tatalaksana khusus : pada PJT yang terjadi jauh sebelum waktunya dilahirkan, hanya terapi suportif yang dapat dilakukan. Apabila penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil tidak adekuat  maka nutrisi harus diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat, penggunaan narkotik dan alkohol, maka semuanya harus dihentikan

c.   Proses melahirkan : pematangan paru harus dilakukan pada janin prematur. Pengawasan ketat selama melahirkan harus dilakukan untuk mencegah komplikasi setelah melahirkan. Operasi caesar dilakukan apabila terjadi distress janin serta perawatan intensif neonatal care segera setelah dilahirkan sebaiknya dilakukan. Kemungkinan kejadian distress janin selama melahirkan meningkat pada PJT karena umumnya PJT banyak disebabkan oleh insufisiensi plasenta yang diperparah dengan proses melahirkan

  1. Kondisi bayi. Janin dengan PJT memiliki risiko untuk hipoksia perinatal (kekurangan oksigen setelah melahirkan) dan aspirasi mekonium (terhisap cairan mekonium). PJT yang parah dapat mengakibatkan hipotermia (suhu tubuh turun) dan hipoglikemia (gula darah berkurang). Pada umumnya PJT simetris dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan pertumbuhan bayi yang terlambat setelah dilahirkan, dimana janin dengan PJT asimetris lebih dapat “catch-up” pertumbuhan setelah dilahirkan.
  1. K. Pencegahan

Beberapa penyebab dari PJT tidak dapat dicegah. Bagaimanapun juga, faktor seperti diet, istirahat, dan olahraga rutin dapat dikontrol. Untuk mencegah komplikasi yang serius selama kehamilan, sebaiknya seorang ibu hamil mengikuti nasihat dari dokternya; makan makanan yang bergizi tinggi; tidak merokok, minum alkohol dan menggunakan narkotik; mengurangi stress; berolahraga teratur; serta istirahat dan tidur yang cukup. Suplementasi dari protein, vitamin, mineral, serta minyak ikan juga baik dikonsumsi. Selain itu pencegahan dari anemia serta pencegahan dan tatalaksana dari penyakit kronik pada ibu maupun infeksi yang terjadi harus baik.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

Ny. A 27 Tahun G2 P1 Ab0 Ah1 dengan umur kehamilan 30 minggu dengan riwayat IUGR

NO REGISTER                                  : 09058

MASUK RS TANGGAL, JAM         : 13 Mei 2009 JAM 08.00 WIB

DI RAWAT DI RUANG                   : RB Mangkuyudan

Biodata                               IBU                                    SUAMI

Nama               :  Ny. Agnes                                        Tn. Andreas

Umur               : 27 tahun                                             30 tahun

Agama             : Katholik                                             Katholik

Suku/ bangsa   : Jawa / Indonesia                                Jawa / Indonesia

Pendidikan      : SMA                                                  S1

Pekerjaan         : Pemilik salon                                     Direktur

Alamat                        : Jl. Raya III/35 Yk                             Jl. Raya III/305 Yk

No Tel./ HP     : (0274) 550170                                   (0274) 550170

DATA SUBYEKTIF

  1. Keluhan Utama

Ibu mengatakan bahwa gerakan bayi kurang begitu aktif.

  1. Riwayat kehamilan ini
    1. Riwayat ANC

ANC sejak umur kehamilan 5 minggu. ANC di RSUD Wirosaban

Frekuensi                    : Trimester I  1 kali.

Trimester II  1 kali.

Trimester III  belum.

  1. Pergerakan janin yang pertama pada umur kehamilan 16 minggu

Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir ± 10 kali.

  1. Pola nutrisi                  Makan                                                  Minum

Frekuensi                     3 kali sehari                                         5-7 kali sehari

Macam                                    nasi, sayur, lauk, buah          air putih, susu, jus buah

Jumlah                         1 piring/makan                                  5-7 gelas sehari

Keluhan                       tidak ada                                              tidak ada

Pola Aktivitas

Kegiatan sehari-hari    : Ibu mengatakan ia mengerjakan pekerjaan

di salon dibantu 10 asisten

  1. Imunisasi

TT1 tanggal sebelum menikah                            TT4 tanggal tahun 2004

TT2 ± 1 bulan setelah TT1                                  TT5 tanggal belum

TT3 tanggal tahun 2003

  1. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

G2 P1 Ab0 Ah1

Hamil ke Persalinan Nifas
Tgl lahir UK Jenis persalinan Penolong Komplikasi JK BB lahir Laktasi Komplikasi
Ibu bayi
1 Tahun 2006 37 Vakum ekstraksi Dr Obsgyn IUGR Laki-laki 2450gr 2 th
2 Hamil ini
  1. Riwayat kesehatan
    1. Penyakit yang / sedang diderita

Ibu mengatakan dirinya tidak menderita penyakit menurun seperti jantung, DM, asma, atau hipertensi.

  1. Penyakit yang pernah / sedang diderita keluarga

Ibu mengatakan bahwa dari keluarga ada riwayat penyakit DM dari ayah mertua dan jantung dari ibu.

  1. Riwayat keturunan kembar

Ada riwayat keturunan kembar dari ibu mertua.

  1. Kebiasaan-kebiasaan

Merokok :  suami merokok, lingkungan kerja ada yg merokok

Minum jamu-jamuan :  ibu tidak minum jamu

Minum-minuman keras : ibu dan suami tidak  minum minuman keras

Makanan / minuman pantang / alergi : ibu tidak mempunyai makanan/minuman /alergi

Perubahan pola nafsu makan (termasuk nyidam, nafsu makan turun dll) : nafsu makan ibu tidak bermasalah.

Hewan peliharaan : Ibu dan keluarga memelihara hewan peliharaan berupa kucing.

DATA OBYEKTIF

  1. Pemeriksaan fisik
  1. Keadaan umum           : baik     Kesadaran : compos mentis
  2. Tanda vital

Tekanan darah             : 130/80 mmHg

Nadi                            : 90 kali/ menit

Pernafasan                   : 22 kali/ menit

Suhu                            : 37,3 0 C

  1. TB                                     : 159 cm
  2. BB                                     : sebelum hamil  48 kg ; BB sekarang: 52 kg
  3. IMT                                   : 19,04
  4. LLA                                  : 23 cm
  5. Abdomen (Palpasi Leopold)

Leopold I                          : TFU 2 jari di atas pusat, teraba bagian lunak, kurang bulat, kurang  melenting (bokong)

Leopold II                                     : bagian kiri teraba bagian luas rata tahanan kuat (punggung), kanan teraba bagian sempit, berbenjol-benjol, tahanan kurang kuat (ekstremitas)

Leopold III                       : teraba bagian bulat, keras, melenting, bias digoyang-goyang (kepala belum masuk panggul)

Leopold IV                       : posisi tangan konvergen

ASSESMENT

  1. Diagnosis kebidanan

Seorang  sekundigravida , 27 th, UK30 minggu, intra uterin, janin tunggal, hidup, letak memanjang, presentasi kepala belum masuk panggul, punggung sebelah kiri dengan riwayat IUGR.

  1. Masalah

Ibu mengalami kekhawatiran janinnya kurang sehat karena gerakan janin kurang aktif.

  1. Kebutuhan

Konseling tentang menghindari kebiasaan buruk.

  1. Diagnosis potensial

Riwayat IUGR pada kehamilan sebelumnya dapat menimbulkan IUGR pada kehamilan berikutnya.

  1. Masalah potensial

IUGR pada janin dapat menyebabkan hipoksia perinatal , aspirasi mekonium, hipotermia dan hipoglikemia, bahkan kematian.

  1. Kebutuhan tindakan segera berdasarkan kondisi klien
  1. Mandiri

KIE terhadap pasien untuk menghindari zat teratogen seperti rokok.

  1. Kolaborasi

Kolaborasi dengan dr. Erlina SpPOG untuk melakukan USG pada ibu hamil.

  1. Merujuk

Untuk saat ini tidak dilakukan.

PLANNING ( termasuk pendokumentasian implementasi dan evaluasi)

Tanggal  13 Mei 2009 jam 08.00 WIB

  1. Memberi tahu Ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu dan janinnya dalam kondisi normal.
  2. Memberikan konseling kepada ibu agar menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk, seperti menghindari asap rokok dari suami dan meminta ibu agar mendiskusikan pada suami untuk mencoba mengurangi kebiasaan merokok.
  3. Memberikan konseling kepada ibu bahwa ibu memiliki potensi untuk mengalami kehamilan dengan IUGR karena ibu memiliki factor predisposisi antara lain : riwayat IUGR, kenaikan BB kurang adekuat, dan memiliki riwayat keluarga menderita penyakit sistemik dan merokok.
  4. Meminta kepada ibu bahwa untuk mengetahui secara pasti kondisi kehamilannya saat ini, yaitu dengan melakukan pemeriksaan USG di tempat dr. Erlina SpPOG atau pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas USG.
  5. Mengingatkan ibu untuk dating control ulang 1 minggu lagi tanggal 20 Mei 2009 atau jika ada keluhan.

Evaluasi

Tanggal 13 Mei 2009 jam 08.00

  1. Ibu senang mendengar kondisi dirinya dan bayinya sehat
  2. Ibu setuju menghindari asap rokok dan bersedia untuk berbicara dengan suami
  3. Ibu dan suami mengerti penjelasan bidan
  4. Ibu dan suami mengerti penjelasan bidan dan bersedia melaksanakan nasehat bidan
  5. Ibu bersedia untuk control ulang 1 minggu lagi atau jika ada keluhan

(Paraf)

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

Ny. A 27 Tahun G2 P1 Ab0 Ah1 dengan umur kehamilan 30 minggu dengan penyakit asma

NO REGISTER                                     : 09058

MASUK RS TANGGAL, JAM          : 13 Mei 2009 JAM 08.00 WIB

DI RAWAT DI RUANG                     : RB Mangkuyudan

Biodata                                                                 IBU                                                         SUAMI

Nama                                    :  Ny. Agnes                                                        Tn. Andreas

Umur                                    : 27 tahun                                                            30 tahun

Agama                                  : Katholik                                                             Katholik

Suku/ bangsa                     : Jawa / Indonesia                                            Jawa / Indonesia

Pendidikan                         : SMA                                                                    S1

Pekerjaan                           : Ibu Rumah Tangga                                        PNS

Alamat                                  : Jl. Mangkuyudan MJ III/305 Yk                 Jl. Mangkuyudan MJ III/305 Yk

No Telephon/ HP             : (0274) 550170                                                  (0274) 550170

V

DATA SUBYEKTIF

  1. Kunjungan saat ini                           Kunjungan pertama                        Kunjungan ulang

Keluhan Utama Ibu takut penyakit asmanya kambuh di kehamilan kedua ini.

  1. Riwayat perkawinan

Kawin 1 kali. Kawin pertama umur 21 tahun. Dengan suami sekaran 6 tahun.

  1. Riwayat menstruasi

Menarche umur 13 tahun. Siklus 28 hari. Teratur. Lama 6-7 hari. Sifat darah encer. Bau amis. Fluor albus ya. Dismenorroe ya. Banyaknya tidak terkaji.

HPM 14 Oktober 2008    HPL 21 Juli 2009

  1. Riwayat kehamilan ini
    1. Riwayat ANC

ANC sejak umur kehamilan 5 minggu. ANC di RSUD Wirosaban

Frekuensi                    : Trimester I  1 kali.

Trimester II  1 kali.

Trimester III  belum.

  1. Pergerakan janin yang pertama pada umur kehamilan 16 minggu

Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir ±10 kali.

  1. Keluhan yang dirasakan

Ibu mengeluh susah BAB dan sering merasa sesak nafas dan ibu tidak sedang meminum obat-obatan.

  1. Pola nutrisi                                  Makan                                                  Minum

Frekuensi                                    3 kali sehari                                         5-7 kali sehari

Macam                                         nasi, sayur, lauk, buah                   air putih, susu, jus buah

Jumlah                                          1 piring/makan                                  5-7 gelas sehari

Keluhan                                       tidak ada                                              tidak ada

Pola Eliminasi                             BAB                                                        BAK

Frekuensi                                    1 kali sehari                                         6-8 kali sehari

Warna                                           Khas feses                                          Khas urine

Bau                                                Khas feses                                          Khas urine

Konsistensi                                                 padat                                                    cair

Jumlah                                          Tidak terkaji                                       Tidak terkaji

Pola Aktivitas

Kegiatan sehari-hari                                : Ibu mengatakan ia mengerjakan pekerjaan rumah tangga

Istirahat/tidur                            : malam ±6-7 jam, siang ± 1 jam

Seksualitas                                  : frekuensi 1 kali seminggu

Keluhan tidak ada

  1. Personal Hygiene
  2. Kebiasaan mandi 2 kali/hari

Kebiasaan membersihkan alat kelamin dari depan sampai belakang setiap mandi, BAB dan BAK

Kebiasaan mengganti pakaian dalam setiap setelah mandi

Jenis pakaian dalam yang digunakan kain katun

  1. Imunisasi

TT1 tanggal sebelum menikah                            TT4 tanggal tahun 2004

TT2 ± 1 bulan setelah TT1                                      TT5 tanggal belum

TT3 tanggal tahun 2003

  1. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

G2 P1 Ab0 Ah1

Hamil ke Persalinan Nifas
Tgl lahir UK Jenis persalinan Penolong Komplikasi Jenis Kelamin BB lahir Laktasi Komplikasi
ibu bayi
1 Th 2006 37 Vakum ekstraksi Dr Obsgyn asma Caput suksedenium Laki-laki 2600gr 2 th
2 Hamil ini
  1. Riwayat kontrasepsi yang digunakan
no Jenis kontrasepsi Mulai memakai Berhenti / ganti cara
tanggal oleh tempat keluhan Tanggal oleh tempat alasan
Belum KB
  1. Riwayat kesehatan
    1. Penyakit yang / sedang diderita

Ibu mengatakan dirinya menderita penyakit asma sejak kecil,terakhir kali kambuh umur 24 tahun.

  1. Penyakit yang pernah / sedang diderita keluarga

Ibu mengatakan bahwa dari keluarga tidak ada riwayat penyakit menurun/menular serta alergi.

  1. Riwayat keturunan kembar

Tidak ada keturunan kembar.

  1. Kebiasaan-kebiasaan

Merokok :  ibu dan suami tidak merokok, lingkungan sekitar  juga tidak ada

Minum jamu-jamuan :  ibu tidak minum jamu

Minum-minuman keras : ibu dan suami tidak minum-minuman keras

Makanan / minuman pantang / alergi : ibu tidak mempunyai makanan/minuman /alergi

Perubahan pola nafsu makan (termasuk nyidam, nafsu makan turun dll) : ibu tidak nafsu makan saat awal kehamilan namun sekarang sudah tidak bermasalah.

Hewan peliharaan : Ibu dan keluarga tidak memelihara hewan peliharaan.

  1. Keadaan psikososiospiritual / kesiapan menghadapi proses persalinan
    1. V

      Kehamilan ini                             Diinginkan                           Tidak diinginkan

  1. Pengetahuan ibu  tentang kehamilan dan keadaan sekarang

Ibu mengerti nutrisi yang baik untuk ibu hamil yaitu 4 sehat 5 semourna dan ibu lebih berhati-hati menjaga kehamilan yang sekarang.

  1. Penerimaan Ibu terhadap kehamilan saat ini

Ibu sangat senang bisa hamil lagi dan berharap persalinannya normal.

  1. Tanggapan keluarga terhadap kehamilan

Keluarga sangat senang terhadap kehamilan ibu namun anak pertama masih sering manja / mencari perhatian ibu.

DATA OBYEKTIF

  1. Pemeriksaan fisik
    1. Keadaan umum                       : baik     Kesadaran : compos mentis
    2. Tanda vital

Tekanan darah                         : 130/80 mmHg

Nadi                                               : 90 kali/ menit

Pernafasan                                                 : 22 kali/ menit

Suhu                                              : 37,3 0 C

  1. TB                                                  : 156 cm

BB                                                   : sebelum hamil  48 kg ; BB sekarang                        : 62 kg

IMT                                                : 19,70

LLA                                                 : 24 cm

  1. Kepala dan leher

Edema wajah                             :  tidak ada

Cloasma gravidarum               : tidak ada

Mata                                             : sclera putih, konjungtiva merah muda, palpebra tidak edema

Mulut                                            : bersih, tidak ada caries, tidak ada gusi berdarah, bibir lembab

Leher                                            : tidak ada pembesaran tyroid, limfe, dan vena jugularis

  1. Payudara

Bentuk                                         : simetris, membesar

Areola mamae                          : hiperpigmentasi, bersih

Putting susu                               : bersih, menonjol

Kolostrum                                   : sudah keluar

  1. Abdomen

Pembesaran                              : simetris, membesar

Benjolan                                      : tidak ada benjolan abnormal

Bekas luka                                   : tidak ada

Striae gravidarum                    : ada di samping kanan dan kiri, warna coklat

Palpasi Leopold

Leopold I                                     : TFU 4 jari di atas pusat, teraba bagian lunak, kurang bulat,

kurang  melenting (bokong)

Leopold II                                    : bagian kiri teraba bagian luas rata tahanan kuat (punggung),

kanan teraba bagian sempit, berbenjol-benjol, tahanan kurang

kuat (ekstremitas)

Leopold III                                   : teraba bagian bulat, keras, melenting, bias digoyang-goyang

(kepala belum masuk panggul)

Leopold IV                                  : posisi tangan konvergen

Osborn test                                : tidak dilakukan

TBJ                                                                 : ( 28 – 12) x 155 = 2480 gram

Auskultasi DJJ                            : punctum maximum bawah pusat sebelah kiri

Frekuensi : 136 kali/menit (11/11/12)

  1. Ekstremitas

Edema                                          : tidak ada/ tidak ada

Varises                                         : tidak ada/ tidak ada

Reflek patella                            : + / +

Kuku                                              : bersih, merah muda, pendek

  1. Genitalia luar

Tanda chadwich                        : ada

Varises                                         : tidak ada

Bekas luka                                   : episiotomy mediolateral 4 cm, keloid tidak ada

Kelenjar bhartolini                   : tidak ada kista,  edema dan  peradangan

Pengeluaran                              : fluor albus, tidak bau, tidak terkaji banyaknya

  1. Anus

Hemoroid                                    : tidak ada

  1. Pemeriksaan panggul luar

Distansia spinarum                          : 23 cm

Distansia kristarum                          : 27,5 cm

Boudelogue                                       : 18,5 cm

Lingkar panggul                                 : 89 cm

  1. Pemeriksaan penunjang

Hasil golongan darah B; HB = 11,5 gr% ; urine :glukosa negative, protein negatif

ASSESMENT

  1. Diagnosis kebidanan

Ny ‘A’ 27 th, sekundigravida, UK30 minggu, intra uterin, janin tunggal, hidup, letak memanjang, presentasi kepala belum masuk panggul, punggung sebelah kiri dengan riwayat asma.

  1. Masalah

Ibu mengalami ketakutan akan kambuhnya asma pada kehamilan kedua ini karena sering merasa sesak nafas dan susah BAB.

  1. Kebutuhan

Konseling tentang pencegahan dan penanganan asma yang dapat dilakukan oleh ibu dan keluarga, penyebab susah BAB dan cara mengatasi.

  1. Diagnosis potensial

Asma dalam kehamilan potensial terjadi pertumbuhan janin terlambat dan lahir preterm.

  1. Masalah potensial

Tidak ada

  1. Kebutuhan tindakan segera berdasarkan kondisi klien
    1. Mandiri

Edukasi terhadap pasien untuk menghindari pencetus asma dan pengawasan terhadap penggunaan obat-obatan.

  1. Kolaborasi

Kolaborasi dengan dr. Erlina SpPD untuk pemberian terapi penyakit asma pada ibu hamil.

  1. Merujuk

Tidak dilakukan saat ini karena belum ada indikasi.

PLANNING ( termasuk pendokumentasian implementasi dan evaluasi)

Tanggal  13 Mei 2009 jam 08.00 WIB

  1. Memberi tahu Ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu dan janinnya dalam kondisi baik dan sehat.
  2. Memberikan konseling kepada ibu agar ibu lebih hati-hati dalam menjaga kehamilannya supaya asmanya tidak kambuh.
  3. Memberikan konseling mengenai penanganan asma yang dapat dilakukan oleh ibu dan keluarganya.
  4. Memberikan konseling kepada ibu bahwa pada usia kehamilan trimester III ibu akan mengalami susah BAB dan sering BAK karena terjadi perubahan hormone yang mengakibatkan Kerja peristaltic usus menjadi lambat dan pembesaran rahim yang mendesak kandung kemih. Menganjurkan ibu agar makan makanan berserat serta olahraga ringan dan menganjurkan ibu agar tidak banyak minum menjelang tidur.
  5. Mengingatkan ibu untuk dating control ulang 1 minggu lagi tanggal 20 Mei 2009 atau jika ada keluhan.

Evaluasi

Tanggal 13 Mei 2009 jam 08.00

  1. Ibu senang mendengar kondisi dirinya dan bayinya sehat
  2. Ibu setuju menghindari pencetus asma
  3. Ibu dan suami mengerti penjelasan bidan dan bersedia melaksanakan nasehat bidan
  4. Ibu dan suami mengerti penjelasan bidan dan bersedia melaksanakan nasehat bidan
  5. Ibu bersedia untuk control ulang 1 minggu lagi atau jika ada keluhan

(Paraf)