Posts Tagged ‘contoh askeb pada ibu bersalin’

BAB I

PENDAHULUAN

Sampai saat ini malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara-negara seluruh dunia, baik di daerah tropis maupun sub tropis, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit malaria disebabkan oleh parasit protozoa dari Genus plasmodium. Empat spesies yang ditemukan pada manusia adalah Plasmodium Vivax, P. ovale, P. malariae dan P. Falciparum.  Badan kesehatan sedunia (WHO) melaporkan tiga juta anak manusia meninggal setiap tahun karena menderita malaria. Dan tiap tahun terdapat 110 juta penderita malaria, 280 juta orang sebagai “Carrier” dan 2/5 penduduk dunia selalu kompak dengan malaria.

Malaria menyerang individu tanpa membedakan umur dan jenis kelamin, tidak terkecuali wanita hamil merupakan golongan yang rentan. Malaria pada kehamilan dapat disebabkan oleh keempat spesies plasmodium, tetapi plasmodium Falciparum merupakan parasit yang dominan dan mempunyai dampak paling berat terhadap morbiditas dam mortalitas ibu dan janinnya. Pada ibu menyebabkan anemi, malaria serebral, edema paru, gagal ginjal bahkan dapat menyebabkan kematian. Pada janin menyebabkan abortus, persalinan prematur, berat badan lahir rendah, dan kematian janin. Infeksi malaria pada wanita hamil sangat mudah terjadi karena adanya perubahan sistim imunitas ibu selama kehamilan, baik imunitas seluler maupun imunitas humoral, serta diduga juga akibat peningkatan horman kortisol pada wanita selama kehamilan. Di daerah endemi malaria wanita hamil lebih mudah terinfeksi parasit malaria dibandingkan wanita tidak hamil. Kemudahan infeksi itu terjadi karena kekebalan yang menurun selama kehamilan, akibatnya dapat terjadi peningkatan Prevalensi densitas parasit malaria berat.

Berdasarkan hal-hal diatas terlihat bahwa malaria selama kehamilan perlu mendapat perhatian khusus. Untuk itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang asuhan kebidanan ibu hamil dengan penyakit malaria.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Immunopatologi
  1. 1. Respon Imun Terhadap Infeksi Malaria Selama Kehamilan

Respon imun spesifik terdiri dari imunitas seluler oleh  limfosit T dan imunitas humoral oleh limfosit B. Limfosit T dibedakan menjadi limfosit T helper (CD4+) dan sitotoksik  (CD8+) sedangkan berdasarkan sitokin yang dihasilkannya dibedakan menjadi subset Th-1 (menghasilkan IFN-dan TNF-) dan subset Th-2 (menghasilkan IL-4, IL-5, IL-6, IL10). Sitokin tersebut berperan mengaktifkan imunitas humoral. CD4+ berfungsi sebagai regulator dengan membantu produksi  antibodi dan aktivasi fagosit lain sedangkan CD8+ berperan sebagai efektor langsung untuk fagositosis parasit dan menghambat perkembangan parasit dengan menghasilkan IFN-

Epitop-epitop antigen parasit akan berikatan dengan reseptor limfosit B yang berperan sebagai sel penyaji antigen  kepada sel limfosit T dalam hal ini CD4+. Selanjutnya sel T  akan berdiferensiasi menjadi sel Th-1 dan Th-2. Sel Th-2 akan  menghasilkan IL-4 dan IL-5 yang memacu pembentukan Ig oleh limfosit B. Ig tersebut juga meningkatkan kemampuan fagositosis makrofag. Sel Th-1 menghasilkan IFN- dan TNF- yang mengaktifkan komponen imunitas seluler seperti makrofag dan monosit serta sel NK.

Wanita hamil memiliki risiko terserang malaria falciparum  lebih sering dan lebih berat dibandingkan wanita tidak hamil. Konsentrasi eritrosit yang terinfeksi parasit banyak ditemukan di plasenta sehingga diduga respon imun terhadap parasit di bagian tersebut mengalami supresi. Hal tersebut berhubungan dengan supresi sistim imun baik humoral maupun seluler selama kehamilan sehubungan dengan keberadaan fetus sebagai “benda asing” di dalam tubuh ibu.

Supresi sistim imun selama kehamilan berhubungan dengan keadaan hormonal. Konsentrasi hormon progesteron yang meningkat selama kehamilan berefek menghambat aktifasi limfosit T terhadap stimulasi antigen. Selain itu efek imunosupresi kortisol juga berperan dalam menghambat respon imun.

  1. 2. Peranan Sitokin Pada Infeksi Malaria

Antigen-antigen parasit merupakan pemicu pelepasan zat-zat tertentu dari sel-sel pertahanan tubuh yang disebut sitokin. Sitokin dihasilkan olehmakrofag/monosit dan limfosit T. Sitokin yang dihasilkan oleh makrofag adalah TNF, IL-1 dan IL-6 sedangkan limfosit T menghasilkan TNF-, IFN-, IL-4, IL-8, IL-10 dan IL-12.

Gambar 2. Mekanisme aksi TNF

(Warren KS. Immunology and Molecular Biology of Parasitic Infections. 3th ed. Boston, Blackwell Scientific Publ. 1993:307)

Sitokin yang diduga banyak berperan pada mekanisme patologi dari malaria adalah TNF (tumor necrosis factor). TNF- menginduksi terjadinya perubahan pada netrofil yaitu  pelepasan enzim lisosomal, ekspresi reseptor permukaan  seperti reseptor Fc dan integrin, adhesi dan migrasi kemotaktik. Selanjutnya terjadi peningkatan daya adheren sel netrofil terhadap berbagai substrat dan sel sehingga daya bunuh netrofil terhadap parasit meningkat. Selain itu TNF- juga memacu pembentukan sitokin lain seperti Il-1, IL-6, IL-12, IFN-dan meningkatkan sintesis prostaglandin. TNF- juga meningkat-kan ekspresi molekul adhesi seperti ICAM1 dan CD36 pada sel-sel endotel kapiler sehingga meningkatkan sitoadheren eritrosit yang terinfeksi parasit. Peningkatan sitoadheren tersebut meningkatkan risiko malaria serebral. IFN-berfungsi memacu pembentukan TNF- dan juga meningkatkan daya bunuh netrofil. IL-1 bekerja sinergis dengan TNF-sedangkan IL-6 memacu produksi Ig oleh sel limfosit B dan memacu proliferasi dan deferensiasi sel limfosit T. Selain berperan pada mekanisme patologi malaria, sitokin diduga juga berperan menyebabkan gangguan dalam kehamilan. Pada wanita hamil yang menderita malaria terdapat kenaikan TNF-, IL-1 dan IL-8 yang sangat nyata pada jaringan plasenta dibandingkan wanita hamil yang tidak menderita malaria. Sitokin-sitokin tersebut terutama dihasilkan oleh makrofag hemozoin yang terdapat di plasenta.

Telah dijelaskan bahwa kadar TNF-yang tinggi dapat meningkatkan sitoadheren eritrosit yang terinfeksi parasit terhadap sel-sel endotel kapiler. Kadar TNF-plasenta yang tinggi akan memacu proses penempelan eritrosit berparasit pada kapiler plasenta dan selanjutnya akan menimbulkan gangguan aliran darah plasenta dan akhirnya gangguan nutrisi fetus. Bila proses berlanjut dapat menyebabkan retardasi pertumbuhan fetus sehingga bayi yang dilahirkan memiliki berat badan rendah. Selain itu peningkatan sintesis prostag-landin seiring dengan peningkatan konsentrasi TNF-plasenta diduga dapat menyebabkan kelahiran prematur.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa selain kenaikan TNF-, IL-1 dan IL-8, selama kehamilan juga didapatkan peningkatan IL-6, Il-2 dan IL-4.

  1. Histopatologi

Pada wanita hamil yang terinfeksi malaria, eritrosit  berparasit dijumpai di plasenta sisi maternal dari sirkulasi tetapi tidak di sisi fetal, kecuali pada penyakit plasenta. Pada infeksi aktif, plasenta terlihat hitam atau abu-abu dan sinusoid padat dengan eritrosit terinfeksi. Secara histologis ditandai oleh sel eritrosit berparasit danpigmen malaria dalam ruang intervilli plasenta, monosit mengandung pigmen, infiltrasi mononuklear, simpul sinsitial (syncitial knotting), nekrosis fibrinoid, kerusakan trofoblas dan penebalan membrana basalis trofoblas. Terjadi nekrosis sinsitiotrofoblas, kehilangan mikrovilli dan penebalan membrana basalis trofoblas akan menyebabkan aliran darah ke janin berkurang dan akan terjadi gangguan nutrisi pada janin. Lesi bermakna yang ditemukan adalah penebalan membrana basalis trofoblas, pengurusan mikrovilli fokal menahun. Bila villi plasenta dan sinus venosum mengalami kongesti dan terisi eritrosit berparasit dan makrofag, maka aliran darah plasenta akan berkurang dan ini dapat menyebabkan abortus, lahir prematur, lahir mati ataupun berat badan lahir rendah.

  1. Gejala Klinis

Gejala utama infeksi malaria adalah demam yang diduga berhubungan dengan proses skizogoni (pecahnya merozoit/ skizon) dan terbentuknya sitokin dan atau toksin lainnya. Pada daerah hiperendemik sering ditemukan penderita dengan parasitemia tanpa gejala demam.

Gambaran karakteristik dari malaria ialah demam periodik, anemi dan splenomegali. Sering terdapat gejala prodromal seperti malaise, sakit kepala, nyeri pada tulang/otot, anoreksi dan diare ringan.

Namun sebenarnya efek klinik malaria pada ibu hamil lebih tergantung pada tingkat kekebalan ibu hamil terhadap penyakit itu, sedangkan kekebalan terhadap malaria lebih banyak ditentukan dari tingkat transmisi malaria tempat wanita hamil tinggal/ berasal, yang dibagi menjadi 2 golongan besar :

  1. Stable transmission / transmisi stabil, atau endemik (contoh : Afrika SubSahara)
    1. Orang-orang di daerah ini terus-menerus terpapar malaria karena sering menerima gigitan nyamuk infektif setiap bulannya
    2. Kekebalan terhadap malaria terbentuk secara signifikan
    3. Unstable transmission / transmisi tidak stabil, epidemik atau non-endemik (contoh: Asia Tenggara dan Amerika Selatan)

Orang-orang di daerah ini jarang terpapar malaria dan hanya menerima rata-rata < 1 gigitan nyamuk infektif/tahun. Wanita hamil (semi-imun) di daerah transmisi stabil/ endemik tinggi akan mengalami:

  1. Peningkatan parasite rate (pada primigravida di Afrika parasite rate pada wanita hamil meningkat 30-40% dibandingkan wanita tidak hamil)
  2. Peningkatan kepadatan (densitas) parasitemi perifer
  3. Menyebabkan efek klinis lebih sedikit, kecuali efek anemi maternal sebagai komplikasi utama yang sering terjadi pada primigravida. Anemi tersebut dapat memburuk sehingga menyebabkan akibat serius bagi ibu dan janin. Sebaliknya di daerah tidak stabil/non-endemik/endemik rendah yang sebagian besar populasinya merupakan orang-orang non-imun terhadap malaria, kehamilan akan meningkatkan risiko penyakit maternal berat, kematian janin, kelahiran prematur dan kematian perinatal. Ibu hamil yang menderita malaria berat di daerah ini memiliki risiko fatal lebih dari 10 kali dibandingkan ibu tidak hamilyang menderita malaria berat di daerah yang sama.
  1. Etiologi

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang masuk ke dalam tubuh manusia, ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina (WHO 1981).

Empat spesies Plasmodium penyebab malaria pada manusia adalah :

1. Plasmodium falciparum (P. falciparum)

2. Plasmodium vivax (P. vivax)

3. Plasmodium ovale (P. ovale)

4. Plasmodium malariae (P. malariae)

Jenis Plasmodium yang banyak ditemukan di Indonesia adalah P. falciparum dan P.vivax atau campuran keduanya, sedangkan P. malariae hanya ditemukan di Nusa Tenggara Timur dan P. ovale ditemukan di Papua.

  1. Diagnosis Malaria pada Kehamilan

Malaria pada kehamilan dipastikan dengan ditemukannya parasit malaria di dalam:

  1. Darah maternal
  2. Darah plasenta / melalui biopsi.

Gambaran klinik malaria pada wanita non-imun (di daerah non-endemik) bervariasi dari :

  1. Malaria ringan tanpa komplikasi (uncomplicated malaria) dengan demam tinggi, sampai
  2. Malaria berat (complicated malaria) dengan risiko tinggi pada ibu dan janin (maternal mortality rate 20-50 % dan sering fatal bagi janin).

Sedangkan gambaran klinik malaria pada wanita di daerah endemik sering tidak jelas, mereka biasanya memiliki kekebalan yang semi-imun, sehingga :

  1. Tidak menimbulkan gejala, misal : demam
  2. Tidak dapat didiagnosis klinik
  1. Diagnosis Malaria

1. Diagnosis Klinis (Tanpa Pemeriksaan Laboratorium)

  1. Malaria ringan/tanpa komplikasi

Pada anamnesis :

1)         Harus dicurigai malaria pada seseorang yang berasal dari daerah endemis malaria dengan demam akut dalam segala bentuk, dengan/tanpa gejala-gejala lain

2)         Adanya riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria dalam 2 minggu terakhir

3)          Riwayat tinggal di daerah malaria

4)         Riwayat pernah mendapat pengobatan malaria

5)         Pada pemeriksaan fisik :

a)         Suhu > 37,5 0C

b)         Dapat ditemukan pembesaran limpa

c)         Dapat ditemukan anemia

d)        Gejala klasik malaria khas terdiri dari 3 stadia yang berurutan, yaitu menggigil (15 ­ 60 menit), demam (2-6 jam), berkeringat (2-4 jam)

Di daerah endemis malaria, pada penderita yang telah mempunyai imunitas terhadap malaria, gejala klasik di atas tidak timbul berurutan, bahkan tidak semua gejala tersebut dapat ditemukan. Selain gejala klasik di atas, dapat juga disertai gejala lain/gejala khas setempat, seperti lemas, sakit kepala, mialgia, sakit perut, mual/muntah,dan diare.

  1. Malaria berat

Malaria berat/severe malaria/complicated malaria adalah bentuk malaria falsiparum serius dan berbahaya, yang memerlukan penanganan segera dan intensif. Oleh karena itu pengenalan tanda-tanda dan gejala-gejala malaria berat sangat penting bagi unit pelayanan kesehatan untuk menurunkan mortalitas malaria. Beberapa penyakit penting yang mirip dengan malaria berat adalah meningitis, ensefalitis, septikemi, demam tifoid, infeksi viral, dll. Hal ini menyebabkan pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan untuk menambah kekuatan diagnosis.

WHO mendefinisikan Malaria berat sebagai ditemukannya P. falciparum bentuk aseksual dengan satu atau beberapa komplikasi/manifestasi klinik berat, yaitu :

1)         Gangguan kesadaran sampai koma (malaria serebral)

2)         Anemi berat (Hb < 5 g%, Ht < 15 %)

3)         Hipoglikemi (kadar gula darah < 40 mg%)

4)         Udem paru / ARDS

5)         Kolaps sirkulasi, syok, hipotensi (sistolik < 70 mmHg pada dewasa dan < 50 mmHg pada anak-anak), algid malaria dan septicemia.

6)         Gagal ginjal akut (ARF)

7)         Jaundice (bilirubin > 3 mg%)

8)         Kejang umum berulang ( > 3 kali/24 jam)

9)         Asidosis metaboli

10)     Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam-basa.

11)     Perdarahan abnormal dan gangguan pembekuan darah.

12)     Hemoglobinuri

13)     Kelemahan yang sangat (severe prostration)

14)     Hiperparasitemi

15)     Hiperpireksi (suhu > 40 0C)

Malaria falsiparum tanpa komplikasi (uncomplicated) dapat menjadi berat (complicated) jika tidak diobati secara dini dan semestinya.

  1. 2. Diagnosis Laboraturium (dengan Pemeriksaan Sediaan Darah)

Pemeriksaan mikroskopik masih merupakan yang terpenting pada penyakit malaria karena selain dapat mengidentifikasi jenis plasmodium secara tepat sekaligus juga dapat menghitung jumlah parasit sehingga derajat parasitemi dapat diketahui.

Pemeriksaan dengan mikroskop:

  1. Pewarnaan Giemsa pada sediaan apusan darah untuk melihat parasit

b.Pewarnaan Acridin Orange untuk melihat eritrosit yang terinfeksi

c. Pemeriksaan Fluoresensi Quantitative Buffy Coat (QBC)

Sedangkan pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis di puskesmas/lapangan/rumah sakit digunakan untuk menentukan nilai ambang parasit dan mengetahui kepadatan parasit (terutama penderita rawat inap) pada sediaan darah.

Metode diagnostik yang lain adalah deteksi antigen HRP II dari parasit dengan metode Dipstick test, selain itu dapat pula dilakukan uji immunoserologis yang lain, seperti:

1)   Tera radio immunologik (RIA)

2)   Tera immuno enzimatik (ELISA)

Adapun pemeriksaan genetika dan biomolekuler yang dapat dilakukan adalah dengan mendeteksi DNA parasit, dalam hal ini urutan nukleotida parasit yang spesifik, melalui pemeriksaan Reaksi Rantai Polimerase (PCR).

Di daerah yang tidak mempunyai sarana laboratorium dan tenaga mikroskopis, diagnosis malaria ditegakkan hanya berdasarkan pemeriksaan klinis (anamnesis dan pemeriksaan fisik) tanpa pemeriksaan laboratorium.

  1. Pengaruh Malaria Terhadap Ibu
  1. 1. Anemia

Infeksi malaria akan menyebabkan lisis sel darah merah yang mengandung parasit sehingga akan menyebabkan anemi. Jenis anemi yang ditemukan adalah hemolitik normokrom.

Pada infeksi P. falciparum dapat terjadi anemi berat karena semua umur eritrosit dapat diserang. Eritrosit berparasit mau-pun tidak berparasit mengalami hemolisis karena fragilitas osmotik meningkat. Selain itu juga dapat disebabkan peningkatan autohemolisis baik pada eritrosit berparasit maupun tidak berparasit sehingga masa hidup eritrosit menjadi lebih singkat dan anemi lebih cepat terjadi. Pada infeksi P. vivax tidak terjadi destruksi darah yang berat karena hanya retikulosit yang diserang. Anemi berat pada infeksi P. vivax kronik menunjuk-kan adanya penyebab immunopatologik.

Malaria pada kehamilan dapat menyebabkan anemi berat terutama di daerah endemis dan merupakan penyebab morta-litas penting. Anemi hemolitik dan megaloblastik pada ke-hamilan mungkin akibat sebab nutrisional atau parasit terutama sekali pada wanita primipara.

  1. 2. Sistim sirkulasi

Bila terjadi blokade kapiler oleh eritrosit berparasit maka akan terjadi anoksi jaringan terutama di otak. Kerusakan endotel kapiler sering terjadi pada malaria falciparum yang berat karena terjadi peningkatan permeabilitas cairan, protein dan diapedesis eritrosit. Kegagalan lebih lanjut aliran darah ke jaringan dan organdisebabkan vasokonstriksi arteri kecil dan dilatasi kapiler, hal ini akan memperberat keadaan anoksi. Pada infeksi P. falciparum sering dijumpai hipotensi ortostatik.

  1. 3. Edema pulmonum

Pada infeksi P. falciparum, pneumonia merupakan komplikasi yang sering dan umumnya akibat aspirasi atau bakteremia yang menyebar dari tempat infeksi lain. Gangguan perfusi organ akan meningkatan permeabilitas kapiler sehingga terjadi edema interstitial. Hal ini akan menyebabkan disfungsi mikrosirkulasi paru.

Gambaran makroskopik paru berupa reaksi edematik, berwarna merah tua dan konsistensi keras dengan bercak perdarahan. Gambaran mikroskopik tergantung derajat parasitemi pada saat meninggal. Terdapat gambaran hemozoin dalam makrofag pada septa alveoli. Alveoli menunjukkan gambaran hemoragik disertai penebalan septa alveoli dan penekanan dinding alveoli serta infiltrasi sel radang.

Edema paru dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu peningkatan permeabilitas vaskuler sekunder terhadap emboli dan DIC, disfungsi berat mikrosirkulasi, fenomena alergi, terapi cairan yang berlebihan bersamaan dengan gangguan fungsi kapiler alveoli, kehamilan, malaria serebral, tingkat parasitemi yang tinggi, hipotensi, asidosis dan uremia.

  1. 4. Hipoglikemi

Pada wanita hamil umumnya terjadi perubahan metabolisme karbohidrat yang menyebabkan kecenderungan hipoglikemi terutama saat trimester terakhir. Selain itu, sel darah merah yang terinfeksi memerlukan glukosa 75 kali lebih banyak daripada sel darah normal. Di samping faktor tersebut, hipoglikemi dapat juga terjadi pada penderita malaria yang diberi kina secara intravena. Hipoglikemi karena kebutuhan metabolik parasit yang meningkat menyebabkan habisnya cadangan glikogen hati. Pada orang dewasa hipoglikemi sering berhubungan dengan pengobatan kina, sedangkan pada anak-anak sering disebabkan penyakit itu sendiri. Hipoglikemi sering terjadi pada wanita hamil khususnya pada primipara. Gejala hipoglikemi juga dapat terjadi karena sekresi adrenalin yang berlebihan dan disfungsi susunan saraf pusat. Mortalitas hipoglikemi pada malaria berat di Minahasa adalah 45%, lebih baik daripada Irian Jaya sebesar 75%.

  1. 5. Infeksi plasenta

Pada penelitian terhadap plasenta wanita hamil yang terinfeksi berat oleh falciparum ditemukan banyak timbunan eritrosit yang terinfeksi parasit dan monosit yang berisi pigmen di daerah intervilli. Juga ditemukan nekrosis sinsisial dan proliferasi sel-sel sitotrofoblas. Adanya kelainan plasenta dengan penimbunan pigmen tetapi tidak ditemukan parasit menunjukkan adanya infeksi yang sudah sembuh atau inaktif.

  1. 6. Gangguan elektrolit

Rasio natrium/kalium di eritrosit dan otot meningkat dan pada beberapa kasus terjadi peningkatan kalium plasma pada saat lisis berat. Rasio natrium/kalium urin sering terbalik. Hiponatremi sering ditemukan pada penderita sakit berat dan karena ginjal terlibat dapat terjadi peningkatan serum kreatinin dan BUN.

  1. 7. Malaria serebral

Malaria serebral merupakan ensefalopati simetrik pada infeksi P. falciparum dan memiliki mortalitas 20-50%. Serangan sangat mendadak walaupun biasanya didahului oleh episode demam malaria. Kematian dapat terjadi dalam be-berapa jam. Akan tetapi banyak dari mereka yang selamat mengalami penyembuhan sempurna dalam beberapa hari. Malaria serebral sering dijumpaipada daerah endemik seperti Jawa Tengah (Jepara), Sulawesi Utara, Maluku dan Irian Jaya. Di Sulawesi Utara mortalitasnya 30,5% sedangkan di RSUP Manado 50%

  1. Pengaruh Malaria pada Janin
  1. 1. Kematian janin dalam kandungan

Kematian janin intrauterin dapat terjadi akibat hiperpireksi, anemi berat, penimbunan parasit di dalam plasenta yang menyebabkan gangguan sirkulasi ataupun akibat infeksi trans-plasental.

  1. 2. Abortus

Abortus pada usia kehamilan trimester I lebih sering terjadi karena demam tinggi sedangkan abortus pada usia trimester II disebabkan oleh anemia berat.

  1. 3. Persalinan prematur

Umumnya terjadi sewaktu atau tidak lama setelah serangan malaria. Beberapa hal yang menyebabkan persalinan prematur adalah febris, dehidrasi, asidosis atau infeksi plasenta.

  1. 4. Berat badan lahir rendah

Penderita malaria biasanya menderita anemi sehingga akan menyebabkan gangguan sirkulasi nutrisi pada janin dan berakibat terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan.

  1. 5. Malaria plasenta

Plasenta mempunyai fungsi sebagai barier protektif dari berbagai kelainan yang terdapat dalam darah ibu sehingga parasit malaria akan ditemukan di plasenta bagian maternal dan hanya dapat masuk ke sirkulasi janin bila terdapat kerusakan plasenta misalnya pada persalinan sehingga terjadi malaria kongenital.

Prevalensi malaria plasenta biasanya ditemukan lebih tinggi daripada malaria pada sediaan darah tepi wanita hamil, hal ini mungkin karena plasenta merupakan tempat parasit bermultiplikasi. Diagnosis malaria plasenta ditegakkan dengan menemukan parasit malaria dalam sel darah merah atau pigmen malaria dalam monosit pada sediaan darah yang diambil dari plasenta bagian maternal atau darah tali pusat. Infeksi P. falciparum sering mengakibatkan anemi maternal, abortus, lahir mati, partus prematur, BBLR serta kematian maternal.

Gambaran histologik infeksi aktif berupa plasenta yang bewarna hitam/abu-abu, sinusoid padat dengan eritrosit terinfeksi, eritrosit terinfeksi pada sisi maternal dan tidak pada sisi fetal kecuali pada beberapa penyakit plasenta. Tampak pigmen hemozoin dalam ruang intervilli dan makrofag disertai infiltrasi sel radang. Dapat terjadi simpul sinsitial disertai nekrosis fibrinoid dan kerusakan serta penebalan membrana basalis trofoblas.

  1. 6. Malaria kongenital

Gejala klinik malaria kongenital antara lain iritabilitas, tidak mau menyusu, demam, pembesaran hati dan limpa (hepatosplenomegali) dan anemia tanpa retikulositosis dan tanpa ikterus.

Malaria kongenital dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:

    1. True Congenital Malaria (acquired during pregnancy)

Pada malaria kongenital ini sudah terjadi kerusakan plasenta sebelum bayi dilahirkan. Parasit malaria ditemukan pada darah perifer bayi dalam 48 jam setelah lahir dan gejalanya ditemukan pada saat lahir atau 1-2 hari setelah lahir.

    1. False Congenital Malaria (acquired during labor)

Malaria kongenital ini paling banyak dilaporkan dan terjadi karena pelepasan plasenta diikuti transmisi parasit malaria ke janin. Gejala-gejalanya muncul 3-5 minggu setelah bayi lahir.

  1. Penanganan Malaria pada Kehamilan
  1. 1. Pengontrolan Malaria

Pengontrolan malaria dalam kehamilan tergantung derajat transmisi, berdasarkan gabungan hal-hal di bawah ini :

    1. Diagnosis dan pengobatan malaria ringan dan anemia ringan sampai moderat
    2. Kemoprofilaksis
    3. Penatalaksanaan komplikasi malaria berat, termasuk anemia berat
    4. Pendidikan kesehatan dan kunjungan yang teratur untuk ante natal care (ANC).

ANC teratur adalah dasar keberhasilan penatalaksanaan malaria dalam kehamilan, yang bertujuan untuk memberikan pendidikan kesehatan termasuk penyuluhan tentang malaria dan dampaknya (malaria serebral, anemi, hipoglikemi, edema paru, abortus, pertumbuhan janin terhambat, prematuritas, kematian janin dalam rahim, dll) pada kehamilan di semua lini kesehatan (Posyandu, Pustu, Puskesmas dan Rumah Sakit) ; Memantau kesehatan ibu dan janin, serta kemajuan kehamilan ; Diagnosis dan pengobatan yang tepat (tepat waktu) ; dan Memberikan ibu suplai obat untuk kemoprofilaksis.

  1. Perlindungan pribadi untuk mencegah kontak dengan vektor, misal : pemakaian kelambu.
  2. Pemeriksaan hemoglobin dan parasitologi malaria setiap bulan.
  3. Pemberian tablet besi dan asam folat serta imunisasi TT lengkap.
  4. Pada daerah non resisten klorokuin :

1)      Ibu hamil non-imun diberi Klorokuin 2 tablet/minggu dari pertama datang/setelah sakit sampai masa nifas

2)      Ibu hamil semi imun diberi sulfadoksin-pirimetamin (SP) pada trimester II dan III awal

    1. Pada daerah resisten klorokuin semua ibu hamil baik non imun maupun semi imun diberi SP pada trimester II dan III awal
  1. 2. Penanganan Malaria di Puskesmas dan Rumah Sakit
  2. Kriteria rawat jalan

1)      Gejala klinis malaria tanpa komplikas

2)      Bukan malaria berat

3)      Parasitemia < 5%

  1. Kriteria rawat tinggal

1)      Gejala klinis malaria dengan komplikasi

2)      Malaria berat

3)      Parasitemia > 5%

  1. Kriteria rujukan

Semua penderita yang memenuhi kriteria rawat tinggal (malaria berat) tetapi fasilitas/kemampuan perawatan setempat tidak mencukupi, perlu dirujuk ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan tenaga dokter spesialis.

  1. 3. Pencegahan dan Pengobatan Malaria dalam Kehamilan
    1. Pada semua ibu hamil dengan malaria, pada kunjungan ANC pertama diberi pengobatan dosis terapeutik anti malaria
    2. Pencegahan anemi dimulai pada saat ini :

1)      Suplemen besi : 300 mg sulfas ferrosus (60 mg elemen besi)/hari, dan 1 mg folic acid/hari.

2)      Untuk pengobatan anemia moderat (Hb 7-10 g/dl) diberikan dosis besi 2x lipat.

3)      Periksa Hb setiap kali kontrol.

Kebijakan pengobatan malaria (P.falciparum dan P.vivax) di Indonesia hanya menganjurkan pemakaian klorokuin dosis terapeutik untuk pengobatan dalam kehamilan, sedangkan kinin untuk pengobatan malaria berat.

Di daerah P.falciparum resisten klorokuin, dapat diberikan pengobatan alternatif yaitu :

1)      Sulfadoksin- pirimetamin (SP) 3 tablet dosis tunggal

2)      Garam Kina 10 mg/kg.bb per oral 3 kali selama 7 hari (minimun 3 hari + SP 3 tablet dosis tunggal hari pertama)

3)      Meflokuin dapat dipakai jika sudah resisten dengan Kina atau SP, namun penggunaannya pada kehamilan muda harus benar-benar dipertimbangkan, karena data penggunaannya pada trimester I masih terbatas.

Jika terjadi resistensi ganda pilihan terapi adalah sbb:

1)      Garam Kina 10 mg/kg.bb per oral 3 kali selama 7 hari  DITAMBAH Klindamisin 300 mg 4 kali sehari selama 5 hari. (dapat dipakai di daerah resisten kina).

2)      ATAU Artesunat 4 mg/kg.bb oral dibagi beberapa dosis hari I, disambung 2 mg/kg.bb oral dosis tunggal selama 6 hari. (dapat dipakai pada trimester II dan III, dan jika tidak ada alternatif lain).

Untuk daerah Minahasa/Sulawesi Utara klorokuin masih sangat efektif, demikian juga P.vivax umumnya masih sensitif terhadap klorokuin.

  1. Kemoprofilaksis Malaria dalam Kehamilan

WHO merekomendasikan agar memberikan suatu dosis pengobatan (dosis terapeutik) anti malaria untuk semua wanita hamil di daerah endemik malaria pada kunjungan ANC yang pertama, kemudian diikuti kemoprofilaksis teratur. Saat ini kebijakan pengobatan malaria di Indonesia menghendaki hanya memakai klorokuin untuk kemoprofilaksis pada kehamilan. Ibu hamil dengan status non-imun sebaiknya menghindari daerah endemis malaria.

Profilaksis mulai diberikan 1 sampai 2 minggu sebelum mengunjungi daerah endemis, dengan klorokuin (300 mg basa) diberikan seminggu sekali dan dilanjutkan sampai 4 minggu setelah kembali ke daerah non endemis (Bradley dan Warhurst, 1995).

Beberapa studi memperlihatkan bahwa kemoprofilaksis menurunkan anemia maternal dan meningkatkan berat badan bayi yang dilahirkan.

Perlindungan dari gigitan nyamuk: Kontak antara ibu dengan vektor dapat dicegah dengan :

  1. Memakai kelambu yang telah dicelup insektisida (misal : permethrin)
  2. Pemakaian celana panjang dan kemeja lengan panjang
  3. Pemakaian penolak nyamuk (repellent)
  4. Pemakaian obat nyamuk (baik semprot, bakar dan obat nyamuk listrik)
  5. Pemakaian kawat nyamuk pada pintu-pintu dan jendela-jendela
  1. Pengobatan Malaria Berat dalam Kehamilan

Pengobatan malaria berat memerlukan kecepatan dan ketepatan diagnosis sedini mungkin.

Pada setiap penderita malaria berat, tindakan/pengobatan yang perlu dilakukan adalah:

  1. Tindakan umum / simptomatik
  2. Pemberian obat anti malaria
  3. Pengobatan komplikasi
  1. Penatalaksanaan umum

Perbaiki keadaan umum penderita (pemberian cairan dan perawatan umum). Pemberian cairan adalah faktor yang sangat penting dalam penanganan malaria berat. Bila berlebihan akan menyebabkan edema paru, sebaliknya bila kurang akan menyebabkan nekrosis tubular akut yang berakibat gagal ginjal akut.

Monitoring vital sign antara lain : keadaan umum, kesadaran, pernafasan, tekanan darah, suhu, dan nadi setiap 30 menit (selalu dicatat untuk mengetahui perkembangannya), kontraksi uterus dan bunyi jantung janin juga harus dipantau.

Jaga jalan nafas untuk menghindari terjadinya asfiksi, bila perlu beri oksigen.

Pemberian antipiretik untuk mencegah hipertermi: parasetamol 10 mg/kg.bb/kali, dan dapat dilakukan kompres.

Jika kejang, beri antikonvulsan : diazepam 5-10 mg iv. (secara perlahan selama 2 menit) ulang 15 menit kemudian jika masih kejang; maksimum 100 mg/24 jam. Bila tidak tersedia diazepam, dapat dipakai fenobarbital 100 mg im/kali (dewasa) diberikan 2 kali sehari.

Untuk konfirmasi diagnosis, lakukan pemeriksaan SD tebal. Penilaian sesuai kriteria diagnostik mikroskopik.

Apabila tidak tersedia fasilitas yang memadai, persiapkan penderita untuk dirujuk ke tingkat pelayanan kesehatan lebih tinggi yang menyediakan perawatan intensif.

  1. Penanganan Malaria pada Persalinan

Persalinan penderita malaria yang positif pada pemeriksaan apusan darah tebal/DDR (+), memerlukan pengawasan yang lebih cermat, sebagai berikut:

Pada kala I :

  1. Wanita hamil dengan infeksi malaria berat harus dirawat di unit perawatan intensif (bila mungkin).
  2. Pemantauan ketat kontraksi uterus dan denyut jantung janin  (monitoring CTG) sehinggadapat diketahui adanya gawat janin lebih awal.
  3. Bila ditemukan tanda gawat janin pada persalinan, merupakan indikasi seksio sesarea.

Perawatan umum pada kala I:

  1. Demam, bila suhu rektal >39oC dikompres dan diberi antipiretik (parasetamol 3-4 x 500 mg/hari)
  2. Anemia, dapat diberi transfusi PRC (packed red cell)
  3. Hipoglikemi, diberi 50 ml glukosa 50% bolus intravena dan dilanjutkan dengan infus glukosa 5% atau 10%
  4. Edema paru

Penderita diletakkan pada posisi setengah duduk, oksigenasi konsentrasi tinggi serta diberi furosemid 40 mg intravena. Bila perlu dilakukan ventilasi mekanik dengan tekanan positif akhir respirasi (PEEP)

  1. Malaria serebral

Penderita harus dirawat dengan cermat, keseimbangan cairan dan tingkat kesadaran diperhatikan. Dapat diberi natrium fenobarbital 10-15 mg/kgbb. im. dosis tunggal dan bila kejang dapat diberi diazepam 0,15 mg/kgbb. iv. (maksimum 10 mg)

Pada kala II :

Jika tidak ada kontraindikasi, persalinan dapat pervaginam, indikasi persalinan denganekstraksi vakum/ forseps tergantung keadaan obstetrik saat itu.

  1. Kemoterapi/Pemberian Obat Anti Malaria

Penderita malaria berat memerlukan obat anti malaria yang mempunyai daya bunuh terhadap parasit secara cepat dan kuat, serta bertahan dalam aliran darah dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu sebaiknya diberikan parenteral, sehingga mempunyai efek langsung dalam darah. Obat anti malaria yang direkomendasi :

Kina (Kina HCl 25%, 1 ampul 500 mg/2 ml).

  1. a. Aman digunakan pada semua trimester kehamilan
  2. b. Tidak menyebabkan abortus dalam dosis terapi
  3. c. Pemberian IV untuk usia kehamilan > 30 minggu tidak menyebabkan kontraksi uterus (menginduksi partus) atau menyebabkan fetal distress.
    1. d. Efek samping yang utama : hipoglikemi

Cara pemberian :

Cara I :

Karena kematian dapat terjadi dalam 6 jam pertama, maka diperlukan kadar ideal dalam darah secara cepat, yaitu :

1)      Loading dose/ dosis awal: Kina HCl 25 % (perdrip) dosis 20 mg/kg.bb dilarutkan dalam 500 ml dektrosa 5 % atau dextrose in saline diberikan dalam 4 jam pertama dengan kecepatan konstan 2 ml/menit, 4 jam berikutnya istirahat (infus saja); kemudian 8 mg/kg.bb tiap 8 jam (maintenance dose).

2)      Loading dose digunakan bila penderita belum pernah mendapatkan pengobatan kina atau meflokuin dalam 12 jam sebelumnya atau penderita yang riwayat pengobatan sebelumnya diketahui dengan jelas.

3)      Berikan kemoterapi oral segera bila penderita sudah bisa minum, Kina intravena diganti dengan Kina tablet / per oral dengan dosis 10 mg/kg.bb/kali, 3 kali sehari (dengan total dosis 7 hari dihitung sejak pemberian loading dose).

Cara II :

1)      Kina HCL 25 % (perdrip), dosis 10mg/kg.bb atau 1 ampul (isi 2 ml = 500 mg) dilarutkan dalam 500 ml dekstrosa 5 % atau dextrose in saline diberikan selama 8 jam dengan kecepatan konstan 2 ml/menit, diulang dengan cairan yang sama setiap 8 jam sampai penderita dapat minum obat.

2)      Bila penderita sudah bisa minum, Kina intravena diganti dengan Kina tablet/per oral dengan dosis 10 mg/kg.bb/kali, 3 kali sehari (total dosis 7 hari dihitung sejak pemberian infus perdrip yang pertama).

Catatan :

a)      Kina tidak boleh diberikan secara bolus intravena, karena dapat menyebabkan kadar dalam plasma sangat tinggi dengan akibat toksisitas pada jantung dan kematian.

b)      Bila karena berbagai alasan Kina tidak dapat diberikan melalui infus, maka dapat diberikan im. dengan dosis yang sama di paha bagian depan masing-masing 1/2 dosis di setiap paha; untuk pemakaian im., kina diencerkan dengan normal saline untuk mendapatkan konsentrasi 60-100 mg/ml.

c)      Bila tidak ada perbaikan klinis setelah pemberian 48 jam kina parenteral, maka dosis maintenance kina diturunkan 1/3 – 1/2 nya (menjadi 5-7 mg Kina HCl) dan lakukan pemeriksaan parasitologi serta evaluasi klinik.

d)     Total dosis kina yang diperlukan :

Hari 0 : 30 mg/kgbb

Hari I : 30 mg/kgbb

Hari II dan berikutnya : 15-20 mg/kgbb.

e)      Pemberian kina dapat diikuti dengan hipoglikemi, karenanya perlu diperiksa gula darah /12 jam.

f)       Artesunate dan artemether sudah pernah dipakai dengan aman dan berhasil pada beberapa kasus ibu hamil.

Mengingat keterbatasan sarana maupun tenaga ahli di puskesmas/RS, maka kasus malaria berat yang memerlukan perawatan/pengobatan dengan fasilitas tertentu (misal: hemo/peritoneal dialisis, transfusi tukar, dll) yang tidak tersedia sebaiknya dirujuk ke RS tingkat yang lebih tinggi (fasilitas lengkap).

  1. Pengobatan Komplikasi
  1. a. Malaria serebral

Malaria serebral didefinisikan sebagai unarousable coma (penilaian dengan Glasgow Coma Scale) pada malaria falsiparum, dengan manifestasi perubahan sensorium yaitu perilaku abnormal dari mulai yang paling ringan sampai koma yang dalam. Gangguan kesadaran pada malaria serebral diduga karena adanya gangguan metabolisme di otak.

Prinsip penatalaksanaan : Umumnya sama seperti pada malaria berat; di samping pemberian OAM beberapa hal yang penting yang perlu diperhatikan adalah :

Terapi suportif :

1)         Perawatan pasien tidak sadar , meliputi :

a)            Pasang IVFD, kateter urethra dengan memperhatikan kaidah/antisepsis.

b)         Jaga keseimbangan cairan dengan mencatat intake dan output cairan secara akurat. Bila fungsi ginjal baik, adanya dehidrasi atau overhidrasi dapat juga diketahui dari volume urin. Normal volume urin : 1 ml/menit.

c)         Bila volume urin < 30 ml/jam, mungkin terjadi dehidrasi (periksa juga tanda-tanda lain), tambahkan intake cairan melalui iv-line. Bila volume urin > 90 ml/jam, kurangi intake cairan untuk mencegah overload yang mengakibatkan udem paru.

d)        Mata ditutup dengan pelindung mata untuk menghindari ulkus kornea yang dapat terjadi akibat tidak adanya refleks mengedip pada pasien tidak sadar.

e)         Menjaga kebersihan mulut untuk mencegah infeksi akibat kebersihan rongga mulut yang rendah pada pasien tidak sadar. Ubah/balik posisi lateral secara teratur untuk mencegah luka dekubitus dan pneumonia hipostatik.

f)          Hal-hal yang perlu dipantau:

  1. i.      Tensi, nadi, suhu dan pernafasan setiap 30 menit.
    1. ii.            Derajat kesadaran dengan modifikasi Glasgow Coma Scale (GCS) setiap 6 jam.
    2. iii.            Hitung parasit setiap 12-24 jam.
    3. iv.            Hb dan Ht setiap hari.
    4. v.            Gula darah setiap 4 jam.
    5. vi.            Parameter lain sesuai indikasi (misal: ureum dan kreatinin darah pada komplikasi gagal ginjal).

2)                                       Pengobatan simptomatik

    1. Anemia berat

Tabel Beberapa definisi anemia dalam kehamilan

Jenis Anemia Hemoglobin (g/dl) Volume Packed cell/Ht (%)
Anemia ringan/mild anaemia 10-11 33-37
Anemiasedang/moderate anaemia 7-10 24-33
Anemia berat/severe anaemia < 7 <24
Anemia sangat berat <4 <13

Tabel  Indikasi pemberian transfusi darah

Hb (g/dl) Ht (%) Implikasi untuk transfusi
<7 20 Transfusi sebaiknya dipertimbangkan berdasarkan

kondisi klinis dan umur kehamilan.

<5 15 Indikasi kuat untuk transfusi : berisiko tinggi

gagal jantung

Bila ada indikasi transfusi darah, berikan pengobatan anti malaria yang direkomendasikan dan lakukan:

Transfusi PRC secara perlahan-lahan (slow transfusion) akan mencegah overhidrasi; untuk itu:

– Berikan furosemid 1-2 ampul IV selama transfusi

– Volume transfusi dimasukkan kedalam catatan balans cairan sebagai intake.

  1. c. Hipoglikemi

Hipoglikemi (kadar gula darah < 40 mg%) sering terjadi pada ibu hamil baik sebelum maupun sesudah terapi Kina akibat meningkatnya kebutuhan metabolik saat demam, hipoksi jaringan. Penyebab lain diduga karena terjadi peningkatan uptake glukosa oleh parasit malaria.

Tindakan :

1)         50­100 ml glukosa 40 % IV secara bolus

2)         Infus glukosa 10 % perlahan-lahan untuk maintenance/ mencegah hipoglikemi berulang.

3)         Monitoring teratur kadar gula darah setiap 4-6 jam.

  1. d. Edema Paru

Edema paru merupakan komplikasi fatal yang sering menyebabkan kematian oleh karenanya pada malaria berat sebaiknya dilakukan penanganan untuk mencegah terjadinya edema paru. Penderita mendadak batuk, sesak, napas cepat dan dangkal, pada auskultasi terdengan ronki penuh di semua bagian paru. Foto torak nampak infiltrasi yang luas diseluruh lapangan paru.

Bila ada tanda udema paru akut penderita segera dirujuk, dan sebelumnya dilakukan tindakan sebagai berikut :

1)      Pemberian oksigen konsentrasi tinggi untuk perbaiki hipoksia

2)      Pembatasan pemberian cairan

3)      Bila disertai anemi, berikan transfusi PRC.

4)      Untuk mengurangi beban jantung kanan dapat dilakukan:

a)      Posisi pasien ½ duduk.

b)      Pemberian furosemid 40 mg i.v bila perlu diulang 1 jam kemudian atau dosis ditingkatkan sampai 200 mg (maksimum) sambil memantau volume urin dan tanda-tanda vital.

c)      Venaseksi, keluarkan darah pasien ke dalam kantong transfusi/donor sebanyak 250-500 ml; akan sangat membantu mengurangi sesak. Apabila kondisi pasien sudah normal, darah tersebut dapat dikembalikan ke tubuh pasien.

Klorokuin merupakan obat pilihan yang paling aman diberikan pada ibu hamil (aman dalam 3 trimester kehamilan) dengan dosis 25 mg/kgbb. selama 3 hari berturut-turut atau pada hari I-II sebanyak 600 mg dan pada hari III sebanyak 300 mg. Bila ditemukan resistensi klorokuin, dapat diberikan kina dengan dosis 3 x 400 mg selama 7 hari.

Wanita hamil dengan malaria berat diberi infus klorokuin dengan dosis 10 mg/kgbb. dalam cairan isotonik dengan kecepatan konstan selama 8 jam dan dilanjutkan dengan 15 mg/kgbb. selama 24 jam berikutnya atau dengan klorokuin dosis 5 mg/kgbb. diberikan dengan kecepatan konstan selama 6 jam dan diulangi setiap 6 jam dengan total 5 dosis. Alternatif lain dapat diberi kina dihidroklorida 20 mg/kgbb. melalui infus selama 4 jam dalam dekstrosa 5% dan dilanjutkan dengan dosis rumatan 10 mg/kgbb. setiap 8-12 jam sampai penderita menerima obat secara oral.

  1. Pencegahan

Setiap wanita yang tinggal di daerah endemis atau akan bepergian ke daerah endemis sebaiknya diberi kemoprofilaksis meskipun tidak memberikan perlindungan absolut terhadap infeksi malaria; namun dapat menurunkan parasitemia dan mencegah komplikasi malaria berat dan meningkatkan berat badan bayi.

Klorokuin merupakan obat yang paling aman bagi wanita hamil dengan dosis 300 mg basa (2 tablet) diberikan setiap minggu. Bagi wanita hamil yang akan bepergian ke daerah endemis malaria pemberian dimulai 1 minggu sebelum ber-ngkat, selama berada di daerah endemis, sampai 4 minggu setelah keluar dari daerah tersebut.

Upaya lain untuk pencegahan infeksi malaria adalah dengan memutuskan rantai penularan pada host, agen ataupun lingkungan dengan cara :

  1. Mengurangi kontak/gigitan nyamuk Anopheles dengan menggunakan kelambu, obat nyamuk
  2. Membunuh nyamuk dewasa
  3. Membunuh jentik nyamuk

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN MALARIA

NO.REGISTER : 509-12

MASUK BPS TANGGAL, JAM : 11 Mei 2009 jam 09.00

S

Biodata           Ibu                                                       Suami

Nama               : Ny. Martini                                        Tn. Ahmad Jaelani

Umur               : 24 tahun                                            28 tahun

Alamat             : Hargorejo Kokap, Kulon Progo

  1. Keluhan Utama

Ibu mengeluh demam menggigil, berkeringat, sakit kepala, mual muntah dan nyeri pada tulang

  1. Riwayat Daerah Tempat Tinggal

Ibu mengatakan di daerah tempat tinggalnya sering terjadi wabah penyakit malaria

  1. Riwayat Kesehatan

Riwayat penyakit malaria

Ibu mengatakan tidak pernah mengalami penyakit malaria sedangkan keluarganya pernah ada yang terkena penyakit malaria sekitar 1 tahun yang lalu.

O
  1. Pemeriksaan Fisik

a.   Keadaan umum : Pucat                        kesadaran: compos mentis

b. Tanda vital

Tekanan darah       : 90/70 mmHg

Nadi                       : 76 kali per menit

Pernafasan             : 20 kali per menit

Suhu                      : 38,5 ºC

TB                        : 160 cm

BB                         : 60 kg

  1. Kepala dan leher

Edema wajah         : tidak ada

Cloasma gravidarum + / – (tidak ada)

Mata                      : simetris, konjuctiva pucat/putih

Mulut                     : Bibir kering dan pucat

  1. Abdomen

Terdapat pembesaran limpa

  1. Pemeriksaan Penunjang

Tanggal 11 Mei 2009 jam 09.05 dilakukan pemeriksaan HB : 7gr%

A
  1. Diagnosis Kebidanan

Primigravida 24 th  umur kehamilan 25 minggu dengan malaria ringan

2. Masalah

Ibu  tidak mengetahui penyebab keluhan yang dirasakannya dan cara     mengatasinya.

3. Kebutuhan

KIE tentang penyebab keluhan dan cara mengatasinya.

4. Diagnosa potensial

Malaria ringan berpotensi menjadi malaria berat.

  1. Masalah Potensial

Tidak ada

6. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien

a. Mandiri

Mengawasi tanda vital.

b. Kolaborasi

Test parasitemia di laboratorium

c. Merujuk

Merujuk ke RSUD Wates

P

Tanggal 11 Mei 2009 jam 09.20 WIB

  1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa keluhan yang dirasakan seperti demam menggigil, berkeringat, sakit kepala, mual muntah dan nyeri pada tulang merupakan tanda dan gejala penyakit malaria.

Ibu dan keluarga sedikit cemas mendengar penjelasan bidan.

  1. Memberi KIE singkat tentang malaria pada ibu dan keluarga. Menjelaskan bahwa malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman parasit Plasmodium yang masuk ke dalam tubuh manusia, ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina. Penyakit malaria akan berbahaya bila tidak ditangani dengan baik dan tepat dan akan berpengaruh buruk bagi ibu dan janin.

Ibu dan keluarga mengerti penjelasan bidan bahwa penyakit malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman parasit Plasmodium yang masuk ke dalam tubuh manusia, ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina. Penyakit malaria akan berbahaya bila tidak ditangani dengan baik dan tepat dan akan berpengaruh buruk bagi ibu dan janin.

  1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa untuk memastikan ibu menederita penyakit malaria atau tidak ibu harus menjalani tes laboratorium di rumah sakit.

Ibu dan keluarga bersedia melakukan tes laboratorium di rumah sakit.

  1. Memberitahu keluarga untuk merujuk ibu ke RS untuk mendapatkan penangan penyakit malarian dengan segera.

Keluarga bersedia untuk merujuk ibu ke RS.

  1. Mendampingi ibu pada saat dirujuk, sambil memantau kondisi vital ibu.
  2. Menganjurkan ibu untuk tetap makan dan minum untuk masukan nutrisi dalam tubuh.

BAB IV

KESIMPULAN

Malaria pada kehamilan merupakan masalah yang serius mengingat pengaruhnya terhadap ibu dan janin, yang bila tidak ditanggulangi secara cepat dan tepat dapat meningkatkan angka kematian ibu dan neonatus. Masalah diagnosis malaria menjadi hambatan karena fasilitas laboratorium yang kurang memadai terutama di puskesmas sebagaiujung tombak pelayanan kesehatan, maka penting untuk meningkatkan kemampuan diagnosis klinis dan mengenali komplikasi diikuti dengan peng-obatan yang baik dan akurat.

Penanggulangan malaria dalam kehamilan dapat dimulai secara dini melalui kunjungan ANC dengan memberikan penyuluhan/pendidikan kesehatan tentang pencegahan malaria dan pengobatan profilaksis bagi yang tinggal di daerah endemis.

Klorokuin masih merupakan obat terpilih untuk pengobatan malaria dalam kehamilan dan Kina untuk pengobatan malaria berat.

Diperlukan sistem pelayanan kesehatan berjenjang (rujukan) dari puskesmas ke rumah sakit dengan fasilitas yang memadai untuk menanganikasus-kasus malaria berat dengan komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA

malaria/Penyakit_pada_Kehamilan_Persalinan.info.htm

malaria/146_07MalariapadaKehamilan.html

Iklan

BAB I
PENDAHULUAN

Angka kematian ibu masih cukup tinggi sampai saat ini. Penyebab kematian tertinggi adalah perdarahan, keracunan kehamilan dan infeksi. Salah satu dari beberapa faktor tidak langsung penyebab kematian ibu adalah anemia.

Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Di samping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah (Soejoenoes, 1983). Soeprono (1988) menyebutkan bahwa dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan atonis), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infeksi dan stres kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian peri natal, dan lain-lain) (Soeprono, 1988).

Prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia berkisar 20-80%, tetapi pada umumnya banyak penelitian yang menunjukkan prevalensi anemia pada wanita hamil yang lebih besar dari 50%. Pemerintah telah berusaha melakukan tindakan pencegahan dengan memberikan tablet tambah darah (tablet Fe) pada ibu hamil yang dibagikan pada waktu mereka memeriksakan kehamilan, akan tetapi prevalensi anemia pada kehamilan masih juga tinggi (BPS, 1994). Pemeriksaan kadar hemoglobin yang dianjurkan dilakukan pada trimester pertama dan ketiga kehamilan sering kali hanya dapat dilaksanakan pada trimester ketiga saja karena kebanyakan ibu hamil baru memeriksakan kehamilannya pada trimester kedua kehamilan. Dengan demikian upaya penanganan anemia pada kehamilan menjadi terlambat dengan akibat berbagai komplikasi yang mungkin terjadi karena anemia.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya anemia pada kehamilan dan hubungannya dengan kemungkinan terjadinya komplikasi pada kehamilan, persalinan dan nifas. Penelitian dilaksanakan secara cross sectional dan longitudinal dengan sampel ibu hamil trimester I. Secara random didapatkan 255 responden ibu hamil trimester pertama yang kemudian diikuti sampai dengan masa nifas. Karena adanya responden yang mengalami abortus atau pindah sehingga tidak dapat ditemui saat pengumpulan data, maka pada trimester II jumlah responden menjadi 224 orang, pada trimester III dan nifas 219 orang. Variabel yang diteliti adalah variabel sosial ekonomi, meliputi : umur, pendidikan, pekerjaan, tingkat pendapatan keluarga, status gizi, nutrisi, meliputi : intake kalori, protein dan Fe, konsumsi tablet Fe, pengeluaran energi ibu hamil, perilaku reproduksi, meliputi : paritas, interval kehamilan, keikutsertaan KB dan perawatan antenatal, kadar hemoglobin dan komplikasi pada kehamilan, persalinan dan masa nifas. Kriteria anemia yang digunakan sesuai dengan kriteria WHO yaitu 11 g%. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, alat ukur berupa timbang badan, stature meter, alat untuk mengukur lingkar lengan atas, dan hemometer Sahli. Intake kalori, protein, Fe dan beban kerja dikumpulkan dengan cara two days recall. Analisis menggunakan regresi logistik dan uji Chi Square.

Hasil analisis menunjukkan bahwa insidensi anemia tertinggi pada trimester kedua (86,3%). Hal ini sesuai dengan kadar hemoglobin terendah pada masa kehamilan pada trimester kedua (9,94 g%) dan mengakibatkan prevalensi anemia yang tertinggi adalah pada trimester kedua (92,4%).

Faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya anemia kehamilan trimester pertama adalah interval kehamilan, usia kehamilan dan lama pendidikan. Hal ini tampaknya berhubungan dengan kondisi ibu sebelum kehamilan yang dengan demikian memperkuat dugaan bahwa cukup banyak ibu hamil yang memasuki masa kehamilannya dalam keadaan anemia. Pada trimester kedua dan ketiga, faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya anemia kehamilan adalah konsumsi tablet Fe dan kadar hemoglobin pada trimester sebelumnya, sedangkan pada masa nifas faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya anemia adalah volume perdarahan pada persalinan, konsumsi tablet Fe dan kadar hemoglobin sebelum persalinan atau trimester ketiga.

Konsumsi tablet Fe sangat berpengaruh terhadap terhadap terjadinya anemia, khususnya pada trimester kedua, ketiga dan masa nifas. Hal ini disebabkan kebutuhan zat besi pada masa ini lebih besar dibanding pada trimester pertama dan menunjukkan pentingnya pemberian tablet Fe untuk mencegah terjadinya anemia pada kehamilan dan nifas.

Komplikasi yang dominan disebabkan oleh anemia adalah terjadinya penyakit infeksi pada masa nifas, diikuti dengan partus lama dan perdarahan pada persalinan.

Dengan memperhatikan hasil penelitian tersebut di atas disarankan untuk meningkatkan cakupan K1 ibu hamil agar dapat diberikan tablet Fe sebagai upaya pencegahan anemia atau sebagai terapi apabila sudah terjadi anemia. Mengingat pengaruh anemia terhadap terjadinya komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas yang mulai tampak pada trimester pertama dan besarnya pengaruh tablet tambah darah (Tablet Fe) dalam pencegahan anemia, perlu diberikan tablet tambah darah bukan hanya pada ibu hamil, melainkan juga pada ibu nifas.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

ANEMIA DALAM KEHAMILAN

  1. a. Definisi

Seseorang, baik pria maupun wanita, dinyatakan menderita anemia apabila kadar hemoglobin dalam darahnya kurang dari 12 g/ 100 ml. Anemia lebih sering dijumpai dalam kehamilan. Hal itu disebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zat-zat makanan bertambah dan terjadi pula perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang.

Darah bertambah banyak dalam kehamilan, yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel – sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding sebagai berikut : plasma 30 %, sel darah 18 %, dan hemoglobin 19 %.

Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama – tama pengenceran itu meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula sehingga tekanan darah tidak naik. Kedua pada perdarahan waktu persalinan, banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu tetap kental.

Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mukai sejak kehamilan umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu. Sehingga dapat disimpulkan batas terendah untuk kadar HB dalam kehamilan yaitu 10 g/ 100 ml. Jika seorang wanita hamil memiliki HB kurang dari 10 g/ 100 ml tidak dianggap menderita anemia dalam kehamilan. Karena itu, para wanita hamil dengan HbB antara 10 dan 12 g/ 100 ml tidak dianggap menderita anemia patologik, akan tetapi anemia fisiologik atau pseudoanemia.

  1. b. Pengaruh anemia dalam kehamilan

Anemia dalam kehamilan member pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun dalam nifas dan masa selanjutnya. Berbagai penyulit dapat timbul anemia, seperti :

a)      Abortus

b)      Partus Prematurus

c)      Partus lama karena inertia uteri

d)     Perdarahan postpartum karena atonia uteria

e)      Syok

f)       Infeksi, baik intrapartum maupun postpartum

g)      Anemia yang sangat berat dengan HB kurang dari 4 g/ 100 ml dapat menyebabkan dekompensasi kordis.

h)      Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan sulit, walaupun tidak terjadi perdarahan.

Anemia juga berpengaruh bagi hasil konsepsi diantaranya adalah :

a)      Kematian mudigah

b)      Kematian Parinatal

c)      Prematuritas

d)     Dapat  terjadi cacat-bawaan

e)      Cadangan besi kurang

Jadi dapat disimpulkan anemia dalam kehamilan merupakan sebab potensial morbiditas serta mortalitas ibu dan anak.

  1. c. Macam – macam Anemia

Pembagian anemia dalam kehamilan (berdasarkan prosentase penyelidikan di Jakarta)

  1. Anemia Defisiensi Besi                                   62, 3 %
  2. Anemia Megaloblastik                                    29, 0 %
  3. Anemia Hipoplastik                                          8, 0 %
  4. Anrmia Hemolitik                                             0, 7 %
  1. a. Anemia Defisiensi Besi
    1. 1. Definisi

Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai adalh anemia akibat defisiensi besi. Kekurangan ini akan disebabkan karena kurang masuknya unsure besi dengan makanan, karena gangguan penyerapan, gangguan penggunaan, atau karena melampaui banyaknya besi ke luar dari badan, misalnya pada perdarahan.

Keperluan akan besi bertambah dalam kehamilan, terutama dalam trimester akhir. Apabila masuknya besi tidak ditambah dan kehamilan, maka mudah terjadi anemia defisiensi besi, lebih-lebih pada kehamilan kembar. Selain itu jika hidup di daerah katulistiwa, besi lebih banyak ke luar melalui air peluh dan melalui kulit. Masuknya besi setiap hari yang dianjurkan tidak sama di berbagai negeri. Untuk wanita tidak hamil, wanita hamil, dan wanita yang menyusui dianjurkan di Amerika Serikat masing – masing 12 mg, 15 mg, dan 15 mg, sedangkan dI Indonesia masing – masing 12 mg, 17 mg, dan 17 mg.

  1. 2. Diagnosis

Diagnosis anemia defisiensi besi yang berat tidak sulit karena ditandai ciri – ciri yang khas pada defisiensi besi, yaitu mikrositosis dan hipokromasia. Anemia yang ringan tidak selalu menunjukkan ciri – ciri khas itu, bahkan banyak yang normositer dan normokrom. Hal itu disebabkan karena defisiensi besi dapat berdampingan dengan defisiensi asam folik. Yang terakhir menyebabkan anemia megaloblastik yang sifatnya makrositer dan hiperkrom. Anemia ganda demikian lazim disebut anemia diformis, yang dapat dibuktikan dengan kurva Price Jones

Sifat lain yang khas bagi defisiensi besi ialah :

a)      Kadar besi serum rendah

b)      Daya ikat besi tinggi

c)      Protoporfirin eritrosit tinggi

d)     Tidak ditemukan hemosiderin (stainable iron) dalam sumsum tulang.

Pengobatan percobaan (therapia ex juvantibus) dengan besi dapat pula dipakai untuk membuktikan defisiensi besi : Jika dengan pengobatan jumlah retikulosit, kadar HB dan anemia itu pasti disebabkan kekurangan besi.

Pemeriksaan sumsum tulang menunjukkan eritropoesis yang normoblastik tanpa tanda – tanda hipoplasia eritropoesis.

  1. 3. Terapi

Apabila pada pemeriksaan kehamilan hanya HB yang diperiksa dan HB itu kurang dari 10 g/ 100 ml, maka wanita dapat dianggap sebagai menderita anemia defisiensi besi, baik yang murni maupun yang diformis, karena tersering anemia dalam kehamilan ialah anemia defisiensi besi.

Pengobatan dapat dimulai dengan preparat besi per os. Biasanya diberikan garam besi sebanyak 600 – 1000 mg sehari, seperti sulfas ferosus atau glukonas ferosus. Hb dapat dinaikkan sampai 10 g/100 ml atau lebih asal masih ada cukup waktu sampai jalan lahir. Peranan vitamin C adalah mempermudah penyerapan ion ferro dalam selaput usus.

Terapi parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan obat besi per os, ada gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan, atau apabila kehamilannya sudah tua. Besi parenteral diberikan dalam bentuk ferri. Secara intramuskulus dapat disuntikkan dekstran besi (imferon) atau sorbitol besi (Jactofer). Hasilnya lebih cepat dicapai, hanya penderita merasa nyeri ditempat suntikkan.

Secara intravena perlahan-lahan juga diberikan seperti ferrum oksidum sakkratum (ferrigen, Ferrivenin, Proferrin, Vistis), sodium diferrat (Ferronascin), dan dekstran besi (imferon). Akhir akhir ini Imferon banyak pula  diberikan dengan infus dalam dosis total antara 1000 – 2000 mg unsur besi sekaligus, dengan hasil yang memuaskan. Walaupun besi intravenadan dengan infuse kadang – kadang menimbulkan efek sampingan, namun apabila ada indikasi yang tepat, cara ini dapat dipertanggungjawabkan. Komplikasi kurang berbahaya dibandingkan dengan transfuse daerah.

Tranfusi darah sebagai pengobatan anemia dalam kehamilan sangat jarang walaupun Hbnya kurang dari 6 g/ 100 ml. apabila tidak terjadi perdarahan. Darah secukupnya harus tersedia selama persalinan, yang segera harus diberikan apabila terjadi perdarahan yang yang lebih dari biasa, walaupun tidak lebih dari 1000 ml.

  1. 4. Pencegahan

Didaerah-daerah dengan frekuensi kehamilan yang lebih tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfas ferosus atau glukonas ferossus, cukup 1 tablet sehari. Selain itu wanita dinasehatkan pula untuk makan lebih banyak ptotein dan sayur-saturan yang mengandung banyak mineral serta vitamin.

  1. 5. Prognosis

Prognosis anemia defisiensi besi dalam kehamilan umumnya baik bagi ibu dan anak. Persalinan dapat berlangsung seperti biasa tanpa perdarahan banyak atau komplikasi lain. Anemia berat yang tidak terobati dalam kehamilan muda dapat menyebabkan abortus, dan dalam kehamilan tua dapat menyebabkan partus lama, perdarahan postpartum, dan infeksi .

Walaupun bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita anemia defisiensi besi tidak menunjukkan Hb yang rendah, namun cadangan besinya kurang, yang baru beberapa bulan kemudian tampak sebagai anemia infantum.

  1. b. Anemia Megaloblastik
    1. 1. Definisi

Anemia Megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik (pteroyglutamic acid), jarang sekali karena defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin). Berbeda dari di Eropa dan di Amerika serikat frekuensi anemia megaloblastik dalam kehamilan culup tinggi di Asia, seperti India, Malaysia, dan Indonesia. Hal itu erat kaitannya dengan defisiensi makanan.

  1. 2. Diagnosis

Diagnosis anemia megaloblastik dibuat apabila ditemukan megaloblas atau premegaloblas dalam arah atau sumsum tulang. Sifat khas sebagai anemia makrositer dan hiperkrom tidak selalu dijumpai, kecuali bila anemianya sudah berat. Seringkali anemia sifatnya normositer dan normokrom. Hal itu disebabkan karena defisiensi asam folik sering berdampingan dengan defisiensi besi dalam kehamilan.

Perubahan-perubahan dalam leukopoesis, seperti metamielosit datia dan sel batang datia yang kadang-kadang disertai vakuolisasi, dan hipersegmentasi granulosit, terjadi lebih dini pada defisiensi asam folik dan vitamin B12, bahkan belum terdapat megaloblastosis. Ciri-ciri merupakan petunjuk yang kuat bagi defisiensi asam folik dan vitamin B12. juga pemeriksaan asam formimino-glutamik dalam air kencing (Figlu-test) dapat membantu dalam diagnosis. Kadar asam folik tidak dapat dipakai sebagai diagnostikum.

Diagnosis pasti baru dapat dibuat dengan percobaan penyerapan (absorption test)dan percobaan pengeluaran (clearance test) asam folik. Pengobatan percobaan dengan asam folik dapat pula menyokong diagnosis; naiknya jumlah retikulosit dan kasar Hb menunjukkan defisiensi asam folik.

Pada anemia dimorfis gamabaran darah yang mula-mula normositer dan normokrom, setelah pemberian asam folik, jelas berubah menjadi mikrositer dan hipokom karena defisiensi asam folik sudah dikoreksi, akan tetapi defisiensi besi belum.

  1. 3. Terapi

Dalam pengobatan anemia megaloblastik dalam kehamilan sebaiknya bersama-sama dengan asam folik diberikan pula besi. Jikalau perlu, asam folik diberikan dengan suntikan dalam dosis yang sama.

Apabila anemia megaloblastik disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 (anemia pernisiosa Addison-Biermer), maka penderita harus diobati dengan vitamin B12 dengan dosis 100-1000 mikrogram sehari, baik per os maupun parenteral.

Karena anemia megaloblastik dalam kehamilan pada umumnya berat dan kadang-kadang degil sifatnya, maka transfusi darah kadang-kadang diperlukan apabila tidak cukup waktu karena kehamilan dekat aterm, atau apabila pengobatan dengan pelbagai obat penambah darah bisa tidak berhasil.

  1. 4. Pencegahan

Pada umumnya asam folik tidak diberikan secara rutin, kecuali di daerah-daerah dengan frekuensi anemia megaloblastik yang tinggi. Apabila pengobatan anemia dengan besi saja tidak berhasil, maka besi harus ditambah dengan asam folik.

  1. 5. Prognosis

Anemia megaloblastik dalam kehamilan umumnya mempunyai prognosis cukup baik. Pengobatan dengan asam folik hampir selalu berhasil.

Apabila penderita mencapai masa nifas dengan selamat dengan atau tanpa pengobatan, maka anemianya akan sembuh dan tidak akan timbul lagi. Hal ini disebabkan karena dengan lahirnya anak keperluan akan asam folik jauh berkurang. Sebaiknya, anemia pernisiosa memerlukan pengobatan terus-menerus, juga di luar kehamilan.

Anemia megaloblastik dalam kehamilan yang berat yang tidak diobati mempunyai prognosis kurang abik. Angka kematian bagi ibu mendekati 50% dan bagi anak 90%.

  1. c. Anemia Hipoplastik

Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoblastik dalam kehamilan.

Darah tepi menunjukkan gambaran normositer dan normo-krom, tidak ditemukan ciri-ciri defisiensi besi,asam folik, atau viyamin B12. Sumsum tulang bersifat normoblastik dengan hipoplasia erithropoesis yang nyata. Perbandingan mieloit:eritroit, yang diluar kehamilan 5 : 1 dan dalam kehamilan 3 : 1 atau 2 : 1, berubah menjadi 10 : 1 atau 20 : 1. Ciri lain ialah bahwa pengobatan dengan segala macam obat penambah darah tidak memberi hasil.

Etiologi anemia hipoplastik karena kehamilan hingga kini belum diketahui dengan pasti, kecuali yang disebabkan oleh sepsis, sinar Rontgen, racun, atau obat-obat. Dalam hal yang terakhir anemianya dianggap hanya sebagai komplikasi kehamilan.

Karena obat-obat penembah darah tidak memberi hasil, maka satu-satunya cara untuk memperbaiki keadaan penderita ialah transfusi darah, yang sering perlu diulang sampai beberapa kali.

Biasanya anemia hipoplastik karena kehamilan, apabila wanita dengan selamat mencapai masa nifas, akan sembuh dengan sendirinya. Dalam kehamilan-kehamilan berikutnya biasanya wanita menderita anemia hipoblastik lagi.

Anemia aplastik (panmieloftisis) dan anemia hipoblastik berat yang tidak diobati mempunyai prognosis buruk, baik bagi ibu maupun bagi anak.

Tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya anemia hemoplastik karena kehamilan. Akan tetapi, dalam pemberian obat-obat pada wanita hamil selalu harus dipikirkan pengaruh samping obat-obat itu. Khususnya obat-obat yang mempunyai pengaruh hemotoksik, seperti streptomisin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin, sulfonamid, klorpromazin, atebrin, dan obat pengecat rambut sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil, jikalau tidak perlu betul.

  1. d. Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemianya biasanya menjadi lebih berat. Sebaliknya mungkin pula bahwa kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia.

Secara umum, anemia hemolitik dapat dibagi dalam 2 golongan besar, yakni :

1.   Golongan yang disebabkan oleh faktor intra korpuskuler, seperti pada sferositosis, eliptositosis, anemia hemolitik herediter, thalasemia, anemia sel sabit, hemoglobinopatia C, D, G, H, I, dan paraxsymal nocturnal haemoglubinuria.

2.   Golongan yang disebabkan oleh faktor ekstrakorpuskuler, seperti pada infeksi (malaria, sepsis, dsb), keracunan arsenikum, neoarsphenamin, timah, sulfonamid, kinin, paraquin, pimaquin, nitrofurantoin, (Furadantin), racun ular, pada defisiensi G-6-PD (glucose-6-phospate-dehidrogenase), antagonismus rhesus (ABO), leukemia, penyakit Hodgkin, limfosarkoma,, penyakit hati, dan lain-lain.

Gejala yang lazim dijumpai ialah gejala-gejala proses hemolitik, seperti anemia, hemoglobinemia, hemoglobinuria, hiperbilirubinenia, hiperurobilinuria, dan sterkobilin lebih banyak dalam feses. Di samping itu terdapat pula sebagai tanda regenerasi darah seperti retikuloositosis dan normoblastemia, serta hiperplasiaerithropoesis dalam sumsum tulang. Pada hemolitik yang herediter kadang-kadang disertai kelainan roentgenologis pada tengkorak dan tulang-tulang lain.

Sumsum tulang menunju8kkan gambaran normoblastik dengan hiperplasia yang nyata, terutama sistem eritropoetik. Perbandingan meiloit : eritoit yang biasanya 3 : 1 atau 2 : 1 dalam kehmilan berubah mejadi 1 : 1 atau 1 : 2.

Frekuensi anemia hemolitik dalam kehamilan tidak tinggi. Terbanyak anemia ini ditemukan pada wanita negro yang menderita anemia sel sabit, anemia sel sabit-hemoglobin C, sel sabit-thalassemia, atau penyakit hemoglobin C. Di Indonesia terdapat juga penyakit thalassemia. Bulan Juli 1975 seorang ibu bangsa Indonesia dengan thalassemia major, Hb 7,7 gr%, dan telah mengalami splenektomi beberapa tahun yang lampau, melahirkan anak pertama hidup dan cukup bulan di RS St. Carolus, Jakarta. Kasus dengan penyakit hemoglobin E-thalassemia yang dipersulit oleh kehamilan dilaporkan untuk pertama kali di Indonesia oleh Lie-Injo Luan Eng dkk. Waktu partus penderita mempunyai Hb 2,8 g% dan menderita dekompensasi kordis karena anemianya. Bayinya prematur dan meninggal 2 hari post partum.

Pengobatan anemia hemolitik dalam kehamilan tergantung pada jenis dan beratnya. Obat-obat penambah darah tidak memberi hasil. Transfusi darah, yang kadang-kadang diulang beberapa kali, diperlukan pada anemia berat untuk meringankan penderitaan ibu dan untuk mengurangi bahaya hipoksia janin. Splenektomi dianjurkan pada anemia hemolitik-bawaan dalam trimester II dan III. Pada anemia hemolitik yang diperoleh harus dicari penyebabnya. Sebab-sebab itu harus disingkirkan, misalnya pemberian obat-obat yang dapat menyebabkan kelumpuhan sumsum tulang harus segera dihentikan.

  1. e. Anemia-anemia lain

Seorang yang menderita anemia, misalnya berbagai anemia hemolitik herediter atau yanhg diperoleh seperti anemia karena malaria, cacing tambang, penyakit ginjal menahun, penyakit hati, tuberkulosis, sifilis, tumor gnas, dan sebagainya, dapat menjadi hamil.dalam hal ini anemianya menjadi lebih berat dan mempunyai pengaruh tidak baik terhadap ibu dalam masa kehamilan, persalinan, nifas, serta bagi anak dalam kandungan.

Pengobaan ditujukan kepada sebab pokok anemianya, misalnya antibiotika untuk infeksi, obat-obat anti malaria, anti sifilis, obat cacing, dan lain-lain.

Prognosis bagi ibu dan anak tergantung pad berat dan sebab anemianya, serta berhasil tidaknya pengobatan.

Anemia adalah suatu keadaan di mana jumlah eritrosit yang beredar atau konsentrasi hemoglobin menurun.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGIS

Ny “S” umur 22 tahun G1 P0 Ab0 Ah0 dengan UK 12 minggu

Di RB Karya Rini, Ponalan Baru Gang 3 Taman Agung Muntilan

NO. REGISTER                                 :  020980

MASUK RS TANGGAL, JAM         : 24 Maret 2010, 16.00 WIB

DIRAWAT DI RUANG                    :  Periksa

Biodata                             Ibu                                           Suami

Nama                  :              Ny Siti Aminatun                    Tn Eko Kuswantoro

Umur                  :              22 tahun                                  25 tahun

Agama                :              Islam                                       Islam

Suku/bangsa       :              Jawa                                        Jawa

Pendidikan         :              SMA                                       SMA

Pekerjaan            :              IRT                                          Wiraswata

Alamat               :              Kemiri Ombo                          Kemiri Ombo

DATA SUBJEKTIF

  1. Kunjungan saat ini      :     Kunjungan ulang.

Keluhan utama            :     Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya.

  1. Riwayat Perkawinan

Kawin 1 kali. Kawin pertama umur 20 tahun. Dengan suami sekarang 2 tahun.

  1. Riwayat Menstruasi

Menarche umur 14 tahun. Siklus 30 hari. Teratur. Lama 7 hari. Sifat darah encer. Bau amis. Tidak ada fluor albus. Tidak dismenorroe.

HPM 24 Desember 2009. HPL 1 Oktober 2010.

  1. Riwayat kehamilan ini.
    1. Riwayat ANC

ANC sejak umur kehamilan 9 minggu. ANC di bidan.

Frekuensi :       Trimester I       1          kali

Trimester II     –           kali

Trimester III    –           kali

  1. Pergerakan janin belum terasa.
  2. Keluhan yang dirasakan : Ibu mengeluh pusing dan lemas.
  3. Pola Nutrisi                          Makan                                     Minum

Frekuensi                              3 kali sehari                             6 gelas/hari

Macam                                 nasi, sayur, lauk                       teh, air putih

Jumlah                                  ½ piring habis                          1 gelas habis

Keluhan                                tidak ada                                 tidak ada

Pola Eliminasi                      BAB                                        BAK

Frekuensi                              1 kali perhari                           5-6 kali perhari

Warna                                   khas feses                                khas urine

Bau                                       khas feses                                khas urine

Konsistensi                           lunak                                       cair

Jumlah                                  tidak terkaji                             tidak terkaji

Pola Aktivitas

Kegiatan sehari-hari       :     Menyapu, memasak, mencuci baju, bersih-bersih rumah.

Istirahat/tidur                 :     Siang 1-2 jam, malam 6-7 jam.

Seksualitas                     :     Frekuensi 3 kali seminggu.

Tidak ada keluhan.

  1. Personal Hygiene

Kebiasaan mandi 2 kali/hari

Kebiasaan membersihkan alat kelamin saat mandi dan sehabis BAB/BAK.

Kebiasaan mengganti pakaian dalam sehabis mandi dan jika lembab.

Jenis pakaian dalam yang digunakan katun.

  1. Imunisasi

TT 1 caten.

TT 2 satu bulan setelah TT pertama.

TT 3 belum.

  1. Riwayat kehamilan, persalinan,dan nifas yang lalu.

G1 P0 Ab0 Ah0

Hamil

Ke

Persalinan Nifas
Tgl lahir UK Jenis persalinan Penolong Komplikasi JK BB Lakta si Kompli kasi
Ibu Bayi
1 HAMIL INI
2
3
  1. Riwayat kontrasepsi yang digunakan.
No Jenis kontrasepsi Mulai memakai Berhenti/ganti cara
Tanggal Oleh Tempat Keluhan Tanggal Oleh Tempat Alasan
1 Ibu mengatakan belum pernah memakai kontrasepsi.
  1. Riwayat kesehatan.
    1. Penyakit sistemik yang sedang/pernah diderita

Ibu mengatakan tidak pernah menderita tekanan darah tinggi, nyeri perut bagian bawah, dada sesak, luka tidak sembuh-sembuh.

  1. Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga.

Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita tekanan darah tinggi, nyeri perut bagian bawah, dada sesak, luka tidak sembuh-sembuh.

  1. Riwayat keturunan kembar.

Ibu mengatakan tidak ada keturunan kembar.

  1. Kebiasaan-kebiasaan.

Ibu mengatakan tidak merokok.

Ibu mengatakan tidak minum jamu-jamuan.

Ibu mengatakan tidak minum-minuman keras.

Ibu mengatakan tidak mempunyai makanan/minuman pantangan.

Ibu mengatakan tidak mengalami perubahan pola makan (termasuk nyidam, nafsu makan turun, dan lain-lain).

  1. Keadaan Psiko Sosio Spiritual.
    1. Kehamilan ini diinginkan.
    2. Pengetahuan ibu tentang kehamilan dan keadaan sekarang.

Ibu kurang mengetahui tentang hal-hal yang harus dilakukan ibu hamil.

  1. Penerimaan ibu terhadap kehamilan saat ini.

Ibu menerima kehamilannya saat ini.

  1. Tangapan keluarga terhadap kehamilan.

Keluarga mendukung kehamilan ibu.

DATA OBJEKTIF

  1. Pemeriksaan Fisik
    1. Keadaan umum baik, kesadaran CM.
    2. Tanda vital

Tekanan darah                :        100/60    mmHg

Nadi                               :        84           kali per menit

Pernafasan                      :        20           kali per menit

Suhu                               :        36,2        C

  1. TB                                  :        158         cm

BB                                  :        sebelum hamil 48 kg, BB sekarang 51 kg

IMT                                :        48/(1,582) = 19,22

LLA                               :        22           cm

  1. Kepala dan Leher

Edema wajah                 :        tidak ada

Cloasma gravidarum      :        +

Mata                               :        konjungtiva pucat, sklera putih

Mulut                             :        caries tidak ada, bibir  pucat, gusi merah muda

Leher                              :        tidak ada pembesaran vena jugularis, kelenjar tiroid, dan limfe

  1. Payudara

Bentuk                           :        simetris

Areola mammae             :        hiperpigmentasi

Puting susu                     :        menonjol

Colostrum                      :        belum keluar

  1. Abdomen

Bentuk                           :        memanjang

Bekas luka                      :        tidak ada

Strie gravidarum            :        ada

Palpasi Leopold

Leopold I                       :        TFU 3 jari di atas simpisis

Leopold II                      :        tidak dilakukan

Leopold III                    :        tidak dilakukan

Leopold IV                    :        tidak dilakukan

Osborn test                     :        tidak dilakukan

Mc Donald                     :        tidak dilakukan

TBJ                                 :        belum bisa dihitung

Auskultasi DJJ               :        tidak dilakukan

  1. Ekstremitas

Edema                            :        tidak ada

Varices                           :        tidak ada

Reflek patela                  :        + / +

Kuku                              :        pendek, bersih

  1. Genetalia luar

Tanda chadwich             :        tidak dilakukan

Varices                           :        tidak dilakukan

Bekas luka                      :        tidak dilakukan

Kelenjar bartholini         :        tidak dilakukan

Pengeluaran                    :        tidak dilakukan

  1. Anus

Hemoroid                       :        tidak dilakukan

  1. Pemeriksaan Panggul Luar

Distansia spinarum               :        24 cm

Distansia kristarum              :        27 cm

Boudelogue                          :        20 cm

Lingkar panggul                   :        90 cm

  1. Pemeriksan Penunjang

Pemeriksaan kadar Hb (24 Maret 2010, pukul 16.08 WIB)

Hasilnya kadar Hb = 9 gr/dL

ASSESMENT

  1. Diagnosis Kebidanan

Seorang ibu umur 22 tahun G1 P0 Ab0 Ah0 UK 12 minggu dengan anemia ringan.

  1. Masalah

Ibu mengatakan lemas dan pusing.

  1. Kebutuhan

KIE tentang bahaya anemia dalam kehamilan.

  1. Diagnosis Potensial

Tidak ada.

  1. Masalah Potensial

Tidak ada.

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Tidak ada

  1. Kolaborasi

Tidak ada

  1. Merujuk

Tidak ada

PLANNING (Termasuk pendokumentasian, implementasi, dan evaluasi)

Tanggal 24 Maret 2010, pukul 16.15 WIB.

  1. Memberitahukan kepada ibu bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan ibu mengalami anemia ringan dengan kadar Hb 9 gr/dL (kadar Hb normal untuk ibu hamil TM 1 adalah >11 gr/dL).

Ibu mengetahui bahwa dirinya mengalami anemia ringan.

  1. Memberi ibu tablet Fe (@500 gr) untuk penambah darah dan tablet Kalk untuk menambah kalsium. Tablet Fe diminum malam hari, tablet Kalk diminum pagi hari, dengan dosis 1×1.

Ibu mengatakan bersedia minum obat sesuai anjuran.

3.        Menjelaskan kepada ibu tentang hal-hal yang harus dilakukan ibu hamil dengan anemia ringan.

ü Makan-makanan yang mengandung zat besi seperti hati, sayuran hijau, kacang-kacangan, daging, dan telur.

ü Menghindari minum teh atau kopi sebelum dan sesudah makan, dan juga saat minum obat, karena akan menghambat penyerapan. Sebaiknya ibu meminum obat dengan air putih atau air jeruk.

Ibu mengetahui penjelasan bidan, dapat mengulang kembali, dan bersedia melakukan anjuran tersebut.

4.        Menganjurkan ibu melakukan kunjungan ulang  1 bulan lagi atau jika ada keluhan.

Ibu mengatakan bersedia melakukan kunjungan ulang 1 bulan lagi atau jika ada keluhan.

DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro, Hanifa.Ilmu Kebidanan.2007.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka

FK Universitas Pajajaran.Obstetri Patologi.1984.Bandung:Elstar Offset

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN

Ny. N 22 Tahun G1 P0 Ab0 Ah0 dengan umur kehamilan 41 minggu di RSUD Yogyakarta

NO REGISTER                                     : 09058

MASUK RS TANGGAL, JAM          : 8 JULI 2009 JAM 09.30 WIB

DI RAWAT DI RUANG                     : Kamar Bersalin RSUD Yogyakarta

Biodata                                                                 IBU                                                         SUAMI

Nama                                    :  Ny. Nur Widayanti                                        Tn. Tri Waluyo

Umur                                    : 22 tahun                                                            21 tahun

Agama                                  : Islam                                                                   Islam

Suku/ bangsa                     : Jawa / Indonesia                                            Jawa / Indonesia

Pendidikan                         : SMA                                                                    SMA

Pekerjaan                           : Ibu Rumah Tangga                                        Swasta

Alamat                                  : Tayuban RT 9 RW 10 Panjatan                  Tayuban RT 9 RW 10 Panjatan

No Telephon/ HP             : –                                                                            –

DATA SUBYEKTIF

  1. Alasan masuk kamar bersalin

Ibu mengatakan perutnya terasa  kenceng- kenceng sejak tadi pagi dan sudah ada lendir darah keluar dari jalan lahir.

  1. Keluhan utama

Ibu merasakan kenceng-kenceng semakin sering, lendir darah sudah keluar

  1. Tanda- tanda persalinan
    1. Kontraksi uterus sejak tanggal 8 Juli 2009 jam 05.00 WIB.

Frekuensi                    : 2-3 kali dalam 10 menit.

Durasi                           : 10-15 detik.

Kekuatan                     : lemah

Lokasi ketidaknyamanan di perut bagian bawah

  1. Pengeluaran per vaginam

Lendir darah               : ya

Air ketuban                                : tidak

Darah                            : tidak

  1. Riwayat sebelum masuk kamar bersalin

Ibu mengatakan kenceng- kenceng sejak pukul 05.00 WIB

  1. Riwayat kehamilan sekarang

HPM 20 September 2008, HPL 27 Juni 2009

Menarche umur 13 tahun, siklus 28 hari, lama 5- 6 hari, banyaknya tidak terkaji

ANC teratur, frekuensi 12 kali, di RSUD Yogyakarta

Keluhan/ komplikasi selama kehamilan: Ibu mengeluh mual muntah di awal hamil dan dalam trimester 3 punggungnya sering pegal-pegal

Riwayat merokok/ minum- minuman keras/ minum jamu tidak ada

Imunisasi TT 1    : caten

Imunisasi TT 2    : caten

  1. Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir > 10 kali
  2. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu G1 P0 Ab0 Ah0

Hamil ini

  1. Riwayat kontrasepsi yang digunakan

Belum pernah KB

  1. Riwayat kesehatan
    1. Penyakit yang / sedang diderita

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit hipertensi, jantung, asma, TBC, DM, dan hepatitis.

  1. Penyakit yang pernah / sedang diderita keluarga

Ibu mengatakan bahwa dari keluarga tidak ada riwayat penyakit hipertensi, jantung, asma, TBC, DM, dan hepatitis.

  1. Riwayat keturunan kembar

Tidak ada keturunan kembar.

  1. Makan terakhir tangga 8 Juli 2009 Jam 08.00 Jenis nasi, sayur, lauk

Minum terakhir tanggal 8 Juli 2009 jam 09.15 jenis air putih dan teh manis

  1. BAB terakhir tanggal 7 Juli 2009 jam 18.00
  2. BAK terakhir tanggal 8 Juli 2009 jam 09.20
  3. Istirahat atau tidur dalam 1 hari terakhir 7 jam
  4. Keadaan psikososiospiritual / kesiapan menghadapi proses persalinan
    1. Pengetahuan tentang tanda- tanda persalinan dan proses persalinan

Ibu sudah tahu tentang tanda-tanda persalinan seperti lender darah, pecahnya ketuban dan kontraksi teratur dan sering.

  1. Persiapan persalinan yang telah dilakukan ( pendamping ibu, biaya, dll)

Ibu ingin didampingi suami, biaya sudah disiapkan

  1. Tanggapan ibu dan keluarga terhadap proses persalinan yang dihadapi

Ibu ingin bayinya segera lahir, sehat dan normal. Keluarga siap membantu Ibu.

DATA OBYEKTIF

  1. Pemeriksaan fisik
    1. Keadaan umum                       : baik Kesadaran : compos mentis
    2. Status emosional                     : baik, stabil
    3. Tanda vital

Tekanan darah                         : 120/80 mmHg

Nadi                                               : 84 kali/ menit

Pernafasan                                                 : 23 kali/ menit

Suhu                                              : 370 C

  1. TB                                                  : 154 cm

BB sebelum hamil                    : 53 kg

BB sekarang                               : 62 kg

LLA                                                 : 24 cm

  1. Kepala dan leher

Edema wajah                             :  tidak ada

Cloasma gravidarum               : tidak ada

Mata                                             : sclera putih, konjungtiva merah muda, palpebra tidak edema

Mulut                                            : bersih, tidak ada caries, tidak ada gusi berdarah

Leher                                            : tidak ada pembesaran tyroid, limfe, dan vena jugularis

  1. Payudara

Bentuk                                         : simetris

Putting susu                               : bersih, menonjol

Kolostrum                                   : sudah keluar

  1. Abdomen

Pembesaran                              : pembesaran kea rah memanjang

Benjolan                                      : tidak ada benjolan abnormal

Bekas luka                                   : tidak ada

Striae gravidarum                    : tidak ada

Palpasi Leopold

Leopold I                                     : TFU 3 jari di bawah PX, teraba bagian lunak, kurang bulat, tidak melenting

Leopold II                                    : bagian kanan teraba tahanan luas memanjang, bagian kiri teraba bagian kecil

Leopold III                                   : teraba bagian bulat, keras, melenting

Leopold IV                                  : divergen ( sudah masuk panggul )

Osborn test                                : tidak dilakukan

TBJ                                                                 : ( 32 – 11) x 155 = 3255 gram

Auskultasi DJJ                            : punctum maximum bawah pusat agak ke kanan

Frekuensi : 144 kali/menit

HIS                                                                : Frekuensi : 2-3 kali dalam 10 menit

Durasi : 15-20 detik

Kekuatan :  lemah

Palpasi suprapubik                                 : kandung kemih kosong

  1. Punggung                                    : tidak dilakukan
  2. Pinggang                                      : tidak nyeri
  3. Ekstremitas

Kekakuan otot dan sendi      : tidak kaku

Edema                                          : tidak ada

Varises                                         : tidak ada

Reflek patella                            : + / +

Kuku                                              : bersih, merah muda

  1. Genitalia luar

Tanda chadwich                        : ada

Varises                                         : tidak ada

Bekas luka                                   : tidak ada

Kelenjar bhartolini                   : tidak ada kista, tidak ada edema

Pengeluaran                              : belum keluar lendir darah

  1. Anus

Hemoroid                                    : tidak ada

  1. Pemeriksaan dalam, tanggal 8 Juli 2009 jam 10.00 WIB  oleh Bidan

Vulva uretra tenang , portio lunak, pembukaan 1 cm, selaput ketuban positif, presentasi kepala di Hodge 3, STLD ( sarung tangan lendir darah) +

  1. Pemeriksaan penunjang

Tidak dilakukan`

ASSESMENT

  1. Diagnosis kebidanan

Ny. N, 22 tahun, G1P0Ab0Ah0, UK 41+3 minggu masuk inpartu kala 1 fase laten.

  1. Masalah

Perut ibu sering kenceng-kenceng.

  1. Kebutuhan

Konseling tentang mengurangi nyeri saat kenceng-kenceng.

  1. Diagnosis potensial

Tidak ada

  1. Masalah potensial

Tidak ada

  1. Kebutuhan tindakan segera berdasarkan kondisi klien
    1. Mandiri

Tidak ada

  1. Kolaborasi

Tidak ada

  1. Merujuk

Tidak ada

PLANNING ( termasuk pendokumentasian implementasi dan evaluasi)

Tanggal  8 Juli 2009 jam 10.15 WIB

  1. Memberi tahu Ibu hasil pemeriksaan bahwa saat ini pembukaan jalan lahir 1 cm, kondisi Ibu dan janin baik serta member dukungan agar ibu tetap semangat, sabar, dan kuat menghadapi persalinan.

Evaluasi : Ibu merasa senang setelah tahu keadaan diri dan janinnya baik.

  1. Memberi tahu ibu cara mengurangi nyeri di perut saat kenceng-kenceng yaitu dengan menarik nafas panjang melalui hidung dan mengeluarkan lewat mulut, serta member tahu ibu bahwa semakin sering kenceng-kenceng timbul dan semakin lama maka kemajuan persalinan baik.

Evaluasi : Ibu mengerti penjelasan bidan dan bersedia melakukan teknik pernapasan yang diajarkan bidan.

  1. Menganjurkan ibu tidur miring kiri agar penurunan kepala janin lebih cepat dan aliran darah ke janin tetap lancar atau jalan-jalan jika ibu masih mampu.

Evaluasi : Ibu bersedia tidur miring kiri namun tidak kuat jalan-jalan lagi.

  1. Memberikan minum berupa the manis pada ibu agar ibu mempunyai tenaga untuk proses persalinan.

Evaluasi : Ibu bersedia minum the manis.

  1. Memantau kemajuan persalinan dengan memeriksa his, DJJ, TTV, dan pembukaan (VT 4 jam lagi jam 14.00 ).

OBSERVASI KALA I (8 Juli 2009 )

Jam 11.00            : His 2-3 kali/10 menit durasi 20-25 detik.

DJJ + 136 kali/menit

Jam 12.00            : TD = 120/70 mmHg

Suhu : 370C

Nadi : 85 kali/menit

Respiratori : 25 kali/menit

His : 3 kali/10 menit durasi 25-30 detik

Jam 13.00            : His 4 kali/10 menit durasi 40-45 detik

DJJ : + 146 kali/menit

Jam 14.00            : VT : dinding vagina licin, portio tipis, pembukaan 9 cm, presentasi kepala, UUK jam 11,       penurunan kepala di hodge ke 2, ketuban sudah pecah, STLD +.

Planning               : 1. Menyiapkan pakaian bayi.

2. Menyiapkan partus set, oksitosin dan APD penolong persalinan.

3. Melatih ibu posisi mengejan yang benar (litotomi).

CATATAN PERKEMBANGAN

Tanggal…jam

DATA SUBJEKTIF

DATA OBJEKTIF

ASSESMENT

PLANNING

Tanggal…jam