Posts Tagged ‘Kapal’

Kapal…

Posted: Desember 14, 2009 in cer-ma 1
Tag:

Suatu ketika ada kapal tenggelam akibat diterjang badai. Tak ada penumpangnya yang tersisa. Kecuali, satu orang yang berhasil mendapatkan penumpang. Namun, nasib baik belum seutuhnya berpihak kepada pria itu, dia terdampar di sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni. Sendiri. Tanpa bekal makanan.

Orang itu berdoa kepada Tuhan minta diselamatkan. Usai berdoa. Ia pandangi penjuru cakrawala. Berharap ada kapal datang. Tapi, tak ada tanda-tanda kapal yang diharapkan tiba. Ia berdoa lagi lebih khusyu’. Kemudian, menatap jauh ke laut lepas. Tidak ada kapal datang. Sekali lagi pria itu berdoa, tetapi tak ada juga kapal yang diharapkan. Ya, pulau tempatnya terdampar terlalu terpencil. Hampir tak ada kapal lewat di dekatnya.

Akhirnya, pria itu tidak berdoa lagi. Ia telah lelah berharap. Lalu, ia menghangatkan badan. Dikumpulkannya pelepah nyiur untuk membuat perapian. Setelah tubuhnya merasa nyaman, pria itu membuat rumah-rumahan sekadar tempat melepas lelah. Disusunnya semua nyiur dengan cermat agar bangunan itu kokoh dan dapat bertahan lama.

Keesokan harinya, pria malang itu mencari makanan. Dicarinya buah-buahan untuk pengganjal perutnya yang lapar. Semua pelosok dijelajahi hingga kemudian ia kembali ke gubuknya. Namun, ia terkejut. Semuanya telah hangus terbakar, rata dengan tanah. Hampir tak bersisa. Gubuk itu terbakar karena pria itu lupa memadamkan perapian. Asap membumbung tinggi ke angkasa. Hilanglah semua kerja kerasnya semalaman.

Pria itu berteriak marah,”Tuhan, mengapa Kau lakukan ini

padaku. Mengapa? Mengapa….?” teriaknya melengking

menyesali nasib.

Tiba-tiba terdengar suara peluit. Tuiittt…. tuuiitt… ternyata itu suara sebuah kapal yang sedang mendekat. Kapal itu merapat ke pantai. Beberapa orang turun menghampiri pria yang sedang menangisi gubuknya itu.

Tentu saja ia terkejut,

”Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku berada di sini?” tanyanya

penuh keheranan.

“Kami melihat symbol asapmu!” kata seorang awak kapal.

Saudariku, itulah kita. Kita adalah orang yang manja dan pemarah saat ditimpa musibah. Bahkan, selalu, menilai bahwa nestapa yang kita terima adalah penderitaan yang begitu berat dan tak pernah dirasakan oleh siapapun. Itulah sebabnya kenapa kita begitu mudah marah, mengeluh bahkan mengumpat.

Saudariku,tentu sikap itu tidak tepat. Seharusnya musibah tidak boleh membuat kita kehilangan hati kita. Tuhan harus selalu di hati kita, walau dalam keadaan berat sekalipun. Sebab, Tuhan itu tidak tidur. Ia tahu betul kegelisahan dan jeritan hati kita.

 Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan kasih-Nya selalu datang kepada kita. Pada saat dan cara yang tidak disangka-sangka. Hanya saja kita terlalu kecil untuk memahaminya.

Iklan