Posts Tagged ‘landasan teori’

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Treponema pallidum,  yang menyerang manusia, bersifat kronis, sistemik dan dapat mengenai semua bagian tubuh, dapat bersifat laten selama bertahun-tahun, menular serta dapat diobati. Sifilis kongenital adalah sifilis yang ditularkan oleh ibu kepada janinnya secara intra uterin. Nama lainnya adalah lues connate, syphilis connata, venereal, penyakit raja singa.

Pada abad ke-15, sifilis merupakan wabah di Eropa, tapi sesudah tahun 1860, morbiditas penyakit ini menurun dengan cepat. Selama perang dunia ke II, insiden sifilis meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 1946, dan setelah ditemukan penisilin menurun dengan cepat. Di Eropa dan Amerika Serikat insiden sifilis kongenital pada umumnya menurun sekitar tahun 1970 sampai awal 1980, namun dalam beberapa tahun terakhir tampak adanya peningkatan insiden sifilis kongenital. Peningkatan ini diduga berkaitan dengan peningkatan insiden primer dan sekunder pada wanita usia subur yang berumur 15-29 tahun. Di samping itu, sifilis congenital merupakan penyebab 20-30% kematian bayi perinatal.2

Gambaran klinis sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis kongenital dini (timbul sebelum usia 2 tahun), serta sifilis kongenital lanjut (timbul setelah usia 2 tahun). Hampir semua kasus sifilis didapat melalui kontak seksual langsung dengan lesi dari individu yang terjangkit sifilis aktif primer ataupun sekunder. Sifilis dapat ditransmisikan secara kongenital dari ibu yang terinfeksi melalui plasenta ke janin. Transmisi lain yang mungkin namun jarang terjadi termasuk transfusi darah, kontak personal non seksual, inokulasi langsung yang tidak disengaja. Prinsip pengobatan sifilis kongenital adalah penggunaan penisilin sebagai obat pilihan, baik pada ibu hamil maupun pada bayi. Pengamatan pasca pengobatan pada bayi dilakukan secara bertahap, biasanya pada usia 2, 4, 6, 12 dan 15 bulan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Definisi

Sifilis kongenital adalah penyakit yang didapatkan janin dalam uterus dari ibunya yang menderita sifilis.3 Infeksi sifilis terhadap janin dapat terjadi pada setiap stadium sifilis dan setiap masa kehamilan. Dahulu dianggap infeksi tidak dapat terjadi sebelum janin berusia 18 minggu, karena lapisan Langhans yang merupakan pertahanan janin terhadap infeksi masih belum atrofi. Tetapi ternyata dengan mikroskop elektron dapat ditemukan Treponema pallidum pada janin berusia 9-10 minggu.

Sifilis kongenital dini merupakan gejala sifilis yang muncul pada dua tahun pertama kehidupan anak, dan jika muncul setelah dua tahun pertama kehidupan anak disebut dengan sifilis kongenital lanjut.

  1. B. Epidemiologi

Sifilis terdistribusi di seluruh dunia, dan merupakan masalah yang utama pada Negara berkembang. Dilihat dari usia, kasus sifilis banyak ditemukan pada orang dengan rentang usia 20-30 tahun. Empat puluh persen wanita hamil dengan sifilis dini yang tidak diobati, akan mengakibatkan penularan pada janin.

  1. C. Etiologi

Pada tahun 1905 penyebab sifilis ditemukan oleh Sshaudinn dan Hoffman ialah Treponema pallidum, yang termasuk ordo Spirochaetales, familia Spirochaetaceae dan genus Treponema. Bentuk seperti spiral teratur, panjangnya antara 6-15 um, lebar 0,15 um, terdiri empat dari delapan sampai dua puluh empat lekukan. Gerakannya berupa rotasi sepanjang aksis dan maju seperti gerakan pembuka botol. Membiak secara pembelahan melintang, pada stadium aktif terjadi setiap tiga puluh jam. Pembiakan pada umumnya tidak dapat dilakukan di luar badan. Di luar badan kuman tersebut cepat mati, sedangkan dalam darah untuk transfuse dapat hidup tujuh puluh dua jam.

Penularan sifilis dapat melalui cara sebagai berikut :

  1. Kontak langsung :
    1. sexually tranmited diseases (STD)
    2. non-sexually
    3. Transplasental, dari ibu yang menderita sifilis ke janin yang dikandungnya.
  2. Transfusi : Syphilis d’ emblee, tanpa primer lesi
  3. D. Klasifikasi

Menurut World Health Organization (WHO) secara garis besar sifilis dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Sifilis kongenital (bawaan)

2. Sifilis akuisita (didapat)

Sifilis kongenital dapat berbentuk :

1. Sifilis kongenital dini (timbul pada umur kurang dari 2 tahun)

2. Sifilis kongenital lanjut/tarda (timbul setelah umur lebih dari 2 tahun)

E.  Patogenesis

Sifilis dapat ditularkan oleh ibu pada waktu persalinan, namun sebagian besar kasus sifilis kongenital merupakan akibat penularan in utero. Resiko sifilis kongenital berhubungan langsung dengan stadium sifilis yang diderita ibu semasa kehamilan. Lesi sifilis congenital biasanya timbul setelah 4 bulan in utero pada saat janin sudah dalam keadaan imunokompeten. Penularan inutero terjadi transplasental, sehingga dapat dijumpai Treponema pallidum pada plasenta, tali pusat, serta cairan amnion.

Treponema pallidum melalui plasenta masuk ke dalam peredaran darah janin dan menyebar ke seluruh jaringan. Kemudian berkembang biak dan menyebabkan respons peradangan selular yang akan merusak janin. Kelainan yang timbul dapat bersifat fatal sehingga terjadi abortus atau lahir mati atau terjadi gangguan pertumbuhan pada berbagai tingkat kehidupan intrauterine maupun ekstrauterin.

  1. F. Gambaran Klinis

Berdasarkan gambaran klinisnya, sifilis kongenital dapat dibagi menjadi sifilis kongenital dini, sifilis kongenital lanjut dan stigmata. Dianggap sifilis kongenital dini jika timbul pada anak di bawah usia 2 tahun dan sifilis kongenital lanjut bila timbul di atas 2 tahun. Sigmata adalah jaringan parut atau deformitas yang terjadi akibat penyembuhan dua stadium tersebut.

  1. Sifilis kongenital dini

Gambaran klinis sifilis kongenital dini sangat bervariasi, mengenai berbagai organ dan menyerupai sifilis stadium II. Karena infeksi pada janin melalui aliran darah maka tidak dijumpai kelainan sifilis primer. Pada saat lahir bayi dapat tampak sehat dan kelainan timbul setelah beberapa minggu, tetapi dapat pula kelainan ada sejak lahir.

Pada bayi dapat dijumpai kelainan berupa kondisi berikut :

a. Pertumbuhan intrauterine yang terlambat

b.Kelainan membrane mukosa :

Mucous patch dapat ditemukan di bibir, mulut, farings, laring dan mukosa genital. Rinitis sifilitika (snuffles) dengan gambaran yang khas berupa cairan hidung yang mula-mula encer tetapi kemudian menjadi pekat, purulen dan hemoragik. Hidung menjadi tersumbat sehingga menyulitkan pemberian makanan.

c.  Kelainan kulit, rambut dan kuku

Dapat berupa makula eritem, papula, papuloskuamosa dan bula. Bula dapat sudah ada sejak lahir, tersebar secara simetris, terutama pada telapak tangan dan telapak kaki. Makula, papula atau papulomatous tersebar secara generalisata dan simetris. Di daerah yang lembab papula menjadi erosif dan membasah atau menjadi hipertrofik (kondiloma lata). Pada kasus yang berat tampak kulit menjadi keriput terutama pada daerah muka sehingga bayi tampak seperti orang tua. Rambut jarang dan kaku, alopesia areata terutama pada sisi dan belakang kepala. Alopesia dapat juga mengenai alis dan bulu mata. Onikosifilitika disebabkan oleh papula yang timbul pada dasar kuku dan menyebabkan kuku menjadi terlepas. Kuku baru yang tumbuh berwarna suram, tidak teratur dan menyempit pada bagian dasarnya.

  1. Kelainan tulang

Pada 6 bulan pertama, osteokondritis, periostitis, dan osteitis pada tulang-tulang panjang merupakan gambaran yang khas. Perubahan yang paling mencolok tampak pada daerah pertumbuhan tulang di dekat epifisis. Epifisis membesar, garis epifisis melebar dan tidak teratur. Pada batas metafisis dengan garis kartilago epifisis, tampak daerah kalsifikasi yang densitasnya meningkat dan tidak teratur sehingga pemeriksaan sinar X memberikan gambaran seperti gigi gergaji. Pseudoparalisis pada anggota gerak disebabkan oleh pembengkakan periartikular dan nyeri pada ujung-ujung tulang sehingga gerakan menjadi terbatas. Osteokondritis dapat dilihat pada pemeriksaan dengan sinar X setelah 5 minggu sedangkan periostitis setelah 16 minggu. Tanda-tanda osteokondritis menghilang setelah 6 bulan tetapi periostitis menetap dan menjadi lebih jelas.

  1. Kelainan kelenjar getah bening : terdapat limfadenopati generalisata
    1. Kelainan alat-alat dalam : hepatomegali, splenomegali, nefritis, nefrosis, pneumonia
    2. Kelainan mata : Korioretinitis, glaukoma dan uveitis
      1. Kelainan hematologi : anemia, eritroblastemia, retikulositosis, trombositopenia, diffuse intravascular coagulation (DIC)
      2. Kelainan susunan saraf pusat : meningitis sifilitika akut yang bila tidak diobati secara adekuat akan menimbulkan hidrosefalus, kejang dan mengganggu perkembangan intelektual1
      3. Sifilis kongenital lanjut

Sifilis ini biasanya timbul setelah umur 2 tahun, lebih dari setengah jumlah penderita tanpa manifestasi klinik, kecuali tes serologis yang reaktif. Titer serologis sering berfluktuasi, sehingga jika dijumpai keadaan demikian, dapat diduga suatu sifilis kongenital. Gambaran klinis dari sifilis kongenital dapat di bedakan dalam 2 tipe :4

a. Inflamasi sifilis kongenital lanjut

Pada keadaan ini yang paling pentig adalah adanya lesi kornea, tulang, dan sistem saraf

pusat. Dapat dijumpai kelainan sebagai berikut :

1. Kornea : Keratitis Intersisial

Biasanya terjadi pada umur pubertas, dan terjadi bilateral. Pada kornea timbul pengaburan menyerupai gelas disertai vaskularisasi sklera. Keadaan ini dimulai dengan peradangan perikorneal berat dan kemudian berlanjut dengan perselubungan difus kornea oleh bayangan putih tanpa adanya ulserasi pada permukaan kornea, terjadi pada 20-50 % kasus sifilis kongenital lanjut.

2. Tulang : Perisynovitis (Clutton’s joint)

Mengenai kedua lutut, yang akan mengakibatkan terjadinya bengkak tanpa nyeri yang simetris.

3. Sistem saraf pusat

Lesi pada sistem saraf pusat dapat terjadi pada sifilis kongengital lanjut. Biasanya yang menjadi tanda lesi SSP pada sifilis kongenital adalah dengan adanya kelemahan umum (generalized paresis) dan renjatan.

b. Stigmata sifilis kongenital

Lesi sifilis kongenital dini dan lanjut dapat sembuh serta meninggalkan parut dan kelainan yang khas. Parut dan kelainan demikian disebut dengan stigmata sifilis kongenital,akan tetapi  hanya sebagian penderita yang menunjukkan gambaran tersebut.Ditemukannyastigmata ini dapat menjadi salah satu pegangan unuk menegakkan diagnosis sifilis kongenital.Pada stigmata sifilis  kongenital, hal penting yang perlu diperhatikan adalah adanya trias Hutchinson, yaitu :4

1. Perubahan pada gigi insisivus menjadi datar dan seperti gergaji

2. Opasitas kornea (kornea ditutupi kabut berwarna putih) tanpa ilserasi permukaan kornea.

3. Ketulian karena ganguan nervus akustikus (N.VIII). Ketulian biasanya terjadi mendekati masa pubertas, tetapi kadang-kadang terjadi pada umur pertengahan.

Selain itu ditemukan pula kelainan sebagai berikut :

1. Neurosifilis

Dapat juga menunjukkan kelainan seperti manifestasi sifilis yang didapat. Tabes dorsalis agak jarang dibandingkan dengan sifilis yang didapat, paresis lebih sering terjadi dibandingkan dengan sifilis yang didapat, paresis lebih sering terjadi dibandingkan pada orang dewasa. Kejang juga sering terjadi pada kasus sifilis kongenital ini.

2. Tulang dan palatum

Terjadi sklerosis, sehingga tulang kering menyerupai pedang (sabre), tulang frontal yang menonjol, atau dapat juga terjadi kerusakan akibat gumma yang menyebabkan destruksi terutama pada septum nasi atau pada palatum durum. Perforasi palatum dianggap terjadi pada sifilis kongenital.

3. Gigi molar Mulberry (Mulberry’s molar)

Biasanya pada molar I dan muncul pada usia 6 tahun, merupakan gambaran gigi yang hiperplastik dengan permukaan oklusal yang mendatar (flattening) serta diliputi oleh serbukan yang menandakan kerapuhan gigi.

4. Sifilis rinitis infantil dan nasal chondritis

Fisura di sekitar rongga mulut dan hidung disertai ragade yang disebut sifilis rinitis infantil. Nasal chondritis merupakan kelainan yang disebabkan oleh pendataran tulang pembentuk hidung, gambaran ini biasa disebut dengan saddle nose.3,4,8

  1. G. Diagnosis

Diagnosis pasti pada sifilis kongenital ditegakan dengan identifikasi T.pallidum. Selain itu, sifilis kongenital dapat didiagnosis berdasarkan pemeriksaan antepartum dan pada bayi lahir mati. Untuk pemeriksaan pada janin dapat digunakan ultrasonografi (USG). Pada pemeriksaan USG dapat dijumpai penebalan kulit, penebalan plasenta, hepatosplenomegali dan hidramnion. Pemeriksaan ini dilengkapi dengan pemeriksaan cairan amnion untuk mencari adanya treponema. Identifikasi T. pallidum dengan pemeriksaan mikroskop lapagan gelap atau imunofluoresensi dapat dilakukan apabila dijumpai secret hidung, mucous patches, lesi vesiko bulosa atau kondiloma lata. Namun, cara konvensional untuk pengambilan specimen tidak sensitive dan merupakan prosedur invasive, sehingga sulit dilakukan dan hanya dilakukan pada bayi dengan lesi luas. Selain itu, terdapat beberapa kendala yang menyebabkan identifikasi T.pallidum sulit dilakukan untuk menegakkan diagnosis sifilis kongenital, yaitu :

a) T.pallidum bersifat tidak dapat dibiakkan dan sulit ditemukan pada spesmen klinis

b) Analisis serologic pada bayi rumit oleh adanya antibody maternal yang didapat transplasental

c) Sebagian besar bayi sakit yang hidup tidak menunjukkan adanya tanda infeksi

Untuk menegakkan diagnosis klinis sifilis kongenital, saat ini di AS digunakan dua criteria, yaitu kriteria dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang direvisi dan kriteria Kaufman yang dimodifikasi.

1)      Kriteria Kaufman yang dimodifikasi.

  • Pasti (definite)

Dijumpai T.pallidum pada pemeriksaan mikroskop lapangan gelap atau pemeriksaan histologik

  • Sangat Mungkin (probable)

1. Peningkatan titer VDRL dalam waktu 3 bulan atau tes serologic untuk sifilis (TSS) reaktif yang tidak berubah menjadi non reaktif dalam waktu 4 bulan

2. Satu kriteria mayor atau dua minor dan disertai TSS reaktif atau tes FTA reaktif

3. Satu kriteria mayor dan satu kriteria minor

  • Kriteria mayor berupa kondiloma lata, osteokondritis, periostitis, rhinitis, rhinitis hemoragik
  • Kriteria minor berupa fisura pada bibir, lesi kulit, mucous patch, hepatomegali,splenomegali, limfadenopati generalisata, kelainan SSP, anemia hemolitik, sel cairan serebrospinal (CSS) >20, protein >100.2

2)      Kriteria CDC yang di revisi

  • Pasti (confirmed)

Diijumpai T. Pallidum pada pemeriksaan mikroskop lapangan gelap

  • Tersangka (presumtive)

1. Semua bayi yang ibunya menderita sifilis tanpa pengobatan atau mendapat pengobatan tidak adekuat selama kehamilan

2.  Semua bayi dengan TSS reaktif dan satu dari keadaan di bawah ini :

– Gambaran sifilis kongenital pada pemeriksaan fisik

– VDRL CSS reaktif/ hitung sel CSS ≥ 5/protein CSS ≥ 50 diluar sebab lain.

– Tes FTA-abs-19S-antibodi IgM reaktif

3.  Bayi lahir mati (syphilitic stillbirth)

Kematian janin setelah umur kehamilan 20 minggu atau berat janin ≥500 gram pada wanita yang menderita sifilis tanpa pengobatan atau memperoleh pengobatan tidak adekuat saat melahirkan.

  1. H. Penatalaksanaan

Pengobatan sifilis kongenital terbagi menjadi pengobatan pada ibu hamil dan pengobatan pada bayi. Penisilin masih tetap merupakan obat pilihan untuk pengobatan sifilis, baik sifilis didapat maupun sifilis kongenital. Pada wanita hamil, tetrasiklin dan doksisiklin merupakan kontraindikasi. Penggunaan sefriakson pada wanita hamil belum ada data yang lengkap. Pengobatan sifilis pada kehamilan di bagi menjadi tiga, yaitu :

1) Sifilis dini (primer, sekunder, dan laten dini tidak lebih dri 2 tahun).

Benzatin penisilin G 2,4 juta unit satu kali suntikan IM, atau penisilin G prokain dalamaquadest 600.000 unit IM selama 10 hari.

2) Sifilis lanjut (lebih dari 2 tahun, sifilis laten yang tidak diketahui lama

infgeksi, sifilis kardiovaskular, sifilis lanjut benigna, kecuali neurosifilis)

Benzatin penisilin G 2,4 juta unit, IM setiap minggu, selama 3 x berturut-turut, atau dengan penisilin G prokain 600.000 unit IM setiap hari selama 21 hari.

3) Neurosifilis

Bezidin penisilin 6-9 MU selama 3-4 minggu. Selanjutnya dianjurkan pemberian benzil penisilin 2-4 MU secara IV setiap 4 jam selama 10 hari yang diikuti pemberian penisilin long acting, yaitu pemberian benzatin penisilin G 2,4 juta unit IM sekali seminggu selama 3 minggu, atau penisilin G prokain 2,4 juta unit IM + prebenesid 4 x 500 mg/hari selama 10 hari yang diikuti pemberian benzatin penisilin G 2,4 juta unit IM sekali seminggu selama 3 minggu.

Terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi pada pengobatan sifilis kongenital menurut CDC tahun 1998. pengobatan harus diberikan pada bayi :

a) Menderita sifillis kongenital yang sesuai dengan gambaran klinik, laboratorium dan/radiologik,

b) Mempunyai titer test nontreponema ≥ 4 kali dibanding ibunya

c) Dilahirkan oleh ibu yang pengobatannya sebelum melahirkan tidak tercatat, tidak

diketahui, tidak adekuat atau terjadi ≤ 30 hari sebelum persalinan.

d) Dilahirkan oleh ibu seronegatif yang diduga menderita sifilis

e) Titer pemeriksaan nontreponema meningkat ≥ 4 kali selama pengamatan.

f) Hasil tes treponema tetap reaktif sampai anak berusia 15 bulan, atau

g) Mempunyai antibodi spesifik IgM antitreponema.

Selain itu, juga dipertimbangkan pengobatan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita sifilis dan diobati selama kehamilannya namun bayi tersebut selanjutnya tidak bisa diamati.  Pengobatan sifilis kongenital tidak boleh ditunda dengan alasan menunggu diagnosis pasti secara klinis atau serologik. Dengan pengobatan dengan Aqueous penisilin bergantung usia bayi. Pada usia ≤ 1 minggu, diberikan tipa 12 jam, usia 1 minggu – ≤ 4 minggu diberikan tiap 8 jam, dan setelah usia 4 minggu diberikan tipa 6 jam.2

  1. 1. Pengobatan sifilis kongenital menurut CDC tahun 1998
  • Bayi dengan sifilis kongenital, ibu dengan/ tanpa sifilis

Penisilin G prokain 50.000 unit/kgBB IM/IV selama 10-14 hari.

  • Bayi normal

a)      Ibu sifilis dini dan/atau tanpa terapi atau terapi tidak tercatat diberikan :

Aqueous penisilin G 50.000 unit/kgBB IV selama 10-14 hari, atau penisilin

prokain G 50.000 unit/kgBB IM, 10-14 hari usia (usia ≤ 4 minggu), atau

benzatin penisilin G 50.000 unit/kgBB IM, dosis tunggal

b)      Ibu sifilis laten lanjut, atau

c)      Ibu mendapat terapi eritromosin atau obat selain penilin, atau

d)     Ibu mendapat terapi adekuat ≤ 4 minggu sebelum persalinan, atau

e)      Ibu mendapat terapi adekuat > 1 bulan sebelum persalinan, titer non treponema tidak

turun 4 kali lipat, diberikan : Benzatin penisilin 50.000 unit/kgBB IM, dosis tunggal

f)       Ibu mendapat terapi adekuat > 1 bulan sebelum persalinan, titer nontreponema turun 4 kali lipat, dilakukan : Pengamatan klinis dan serologik, atau benzatin penisilin G 50.000 unit/kgBB IM, dosis tunggal bila pengamatan tidak memungkinkan

g) Ibu mendapat terapi adekuat sebelum kehamilan dan titer stabil (VDRL≤ 1:2) selama kehamilan, dilakukan : Pengamatan klinis dan serologic. Menurut CDC 1998, diluar masa neonatus, anak yang didiagnosis sifilis congenital harus diperiksa CSS untuk menyingkirkan neurosifilis dan menentukan sifilis congenital atau sifilis didapat. Semua anak yang diduga menderita sifilis kongenital atau dengan kelainan neurologik diberikan aqueous penisiline G 50.000 unit/kgBB IV/IM tiap 4-6 jam selama 10-14 hari. Pemberian penisilin prokain tidak dianjurkan.

  1. 2. Pengobatan alternatif untuk pasien alergi penisilin

Bila alergi terhadap penisilin, sebagai obat alternatif diberikan obat tetrasiklin dan eritromisin. Tetapi efektifitasnya lebih rendah bila dibandingkan dengan penisilin. Penggunaan sefriakson pada wanita hamil belum ada data yang lengkap.

  1. 3. Pemeriksaan Setelah Pengobatan

Pemeriksaan penderita sifilis dini harus dilakukan, bila terjadi infeksi ulang setelah pengobatan. Setelah pemberian penisilin G, maka setiap pasien harus diperiksa 3 bulan kemudian untuk penentuan hasil pengobatan. Pengalaman menunjukkan bahwa infeksi ulang sering terjadi pada tahun pertama setelah pengobatan. Evaluasi kedua dilakukan 6-12 bulan setelah pengobatan. Penderita yang diberi pengobatan selain penisilin harus lebih sering diperiksa.

a. Semua penderita sifilis kardiovaskuler dan neurosifilis harus diamati bertahun-tahun,termasuk klinis, serologis dan pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang dan bila perlu radiologis.

b.  Pada semua tingkat sifilis, pengobatan ulang diberikan bila :

a)  tanda-tanda dan gejala klinis menunjukkan sifilis aktif yang persisten atauberulang.

b) Terjadi kenaikan titer tes nontreponemal lebih dari dua kali pengenceran ganda.

c) Pada mulanya tes nontreponemal dengan titer tinggi (> 1/8) persisten bertahuntahun.

d) Harus dilakukan pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang setelah diberi pengobatan, kecuali ada infeksi ulang atau diagnosis sifilis dini dapat ditegakkan.

e) penderita harus diberi pengobatan ulang terhadap sifilis yang lebih dari 2 tahun. Pada umumnya hanya sekali pengobatan ulang dilakukan sebab pengobatan yang cukup pada penderita akan stabil dengan titer rendah.9

  1. I. Diagnosis Banding

Diagnosis banding pada sifilis kongenital antara lain sebagai berikut :

1. Iktiosis lamellar

Kelainan ini berisfat autosomal resesif, timbul pada waktu lahir. Lokalisasinya lipatan tubuh, batang tubuh dan monomorf. Efloresensinya sisik-sisik besar datar dan bewarna gelap.

2. Staphylococcal scalded skin syndrome (SSSS)

Lesi kulit menyeluruh, bula eritematosa, ukuran cukup besar, superficial, dan mudah pecah. Seringkali dijumpai pada bayi. Pada penyembuhan tampak jaringan parut, hal ini disebabkan oleh peran epidermolytic toxin, cleavage plane dalam stratum granulosum sehingga terjadi pengumpulan cairan dalam bula secara pasif.

3. Staphylococcal scarlatiniform eruption

Lesi kulit menyeluruh, berupa macula eritematosa di sekitar bibir, hidung, leher, dan aksila. Kemudian menyebar ke seluruh badan namun

4. Toxic shock syndrome

Kelainan kulit berupa eritroderma yang menyeluruh dapat berbentuk komponen petekie maupun skarlatiform.

5. Malnutrisi (Marasmik-kwashiorkor)

Pada keadaan malnutrisi ini, pada kulit dapat ditemukan hiperpigmentasi, likenifikas, deskuamasi, eskoriasi, dan edema. Pada mukosa mulut timbul erosi, rambut halus, lurus, mudah di lepas, dan muka seperti orang tua.

6. Morbili kongenital

Adanya bercak koplik, yakni bercak kecil sebesar jarum pentul berwarna kemerahan terletak di daerah mukosa di depan gigi molar, ruam berwarna kecoklatan. Di daerah muka, leher, dan bagian tubuh sebelah atas ruam tampak bersatu, sedangkan di tubuhbagian bawah ruam  menyebar

7. Dermatitis seboroik

Karakteristik lesi adanya sisik, kemerahan dengan daerah predileksi muka, kulit kepala dan lipatan kulit, skuamanya berminyak, berwarna kekuningan dengan batas tidak tegas

8. Infantile acne (acne neonatorum)

Secara klinis, akne neonatorum merupakan erupsi polimorf dengan eritema, pustule,

komedo pada pipi13,14,15

  1. J. Pencegahan

Sifilis kongenital adalah penyakit yang dapat dicegah, yaitu melalui deteksi sifilis selama kehamilan. Tindakan utama pada pencegahan sifilis kongenital adalah identifikasi dan pengobatan wanita hamil yang teriinfeksi sifilis, karena pengobatan sifilis pada kehamilan dengan menggunakan penisilin dapat mencegah infeksi kongenital sampai 98%. Tes serologi (VDRL dan TPHA) harus dilakukan pada perawatan kehamilan (prenatal care), yaitu saat kunjungan pertama, sedangkan pada kelompok risiko tinggi, dilakukan pada pemeriksaan ulang pada usia kehamilan 28 minggu dan saat persalinan. Apabila dijumpai hasil tes seropositif, harus diberikan pengobatan. Namun, kehamilan kadang menimbulkan tes nontreponema positif palsu, dan pada keadaan seperti ini dilakukan anamnesis yang rinci, pemeriksaan fisik cermat dan pengamatan serologik. Bila tidak memungkinkan, diberikan terapi, terutama bila titer pada pemeriksaan VDRL > 1:2 pada pemeriksaan pertama.

Bayi dengan test serologik reaktif perlu dilakukan pemeriksaan nontreponema beberapa kali setelah pengobatan sampai diperoleh hasil nonreaktif. Biasanya dilakukan pada usia 2, 4, 6, 12 dan 15 bulan. Pada bayi dengan sifilis kongenital, tes serologik nontreponema biasanya menjadi nonreaktif dalam waktu 12 bulan setelah terapi adekuat. Adanya tes treponema reaktif setelah anak berusia lebih dari 15 bulan, saat anak sudah tidak memiliki antibody maternal, membantu menegakkan diagnosis sifilis kongenital. Hasil serologik CSS yang reaktif 6 bulan setelah terapi sifilis kongenital, merupakan indikasi pengobatan ulang, demikian pula bila titer menetap.

  1. k. Prognosis

Prognosis sifilis kongenital bergantung periode munculnya gejala, kerusakan yang terjadi, dan penatalaksanaan. Semakin dini gejala muncul, semakin banyak jaringan yang rusak dan penatalaksanaan yang kurang tepat maka akan semakin buruk prognosisnya. Kelainan yang ditimbulkan stigmata sifilis kongenital akan menetap, misalnya gigi huchinton, keratitis interstitial, ketulian nervus VIII, dan Clutton’s joint. Meskipun telah diobati, tetapi pada 70% kasus ternyata tes reagin tetap positif.

BAB III

Asuhan Kebidanan Pada ibu Hamil dengan Sífilis Kongenital

DATA SUBJEKTIF

Seorang ibu hamil dengan umur kehamilan 28 minggu hamil anak pertama , mengeluh flu, seperti demam dan pegal-pegal, serta kemerahan pada kaki dan tangan .Ibu mengatakan suaminya menderita sífilis serta belum teratasi .Ibu merasa cemas jika ibu dan bayi yang dikandungnya tertular sífilis. Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga dan tidak mengetahui aktivitas suaminya diluar rumah. Ibu khawatir suaminya sering ‘jajan‘ mungkin tidak menyadari kalau dirinya sudah mengidap penyakit sifilis.

DATA OBJEKTIF

1. pemeriksaan fisik

  1. Keadaan umum           : baik               kesadaran        : CM
  2. Status emosional         : stabil
  3. Tanda vital                  :

Tekanan Darah            : 120/90 mmhg

Suhu                            : 37,5 ˚C

Nadi                            : 88 x/menit

Pernafasan                   : 22x/menit

d.  BB/TB                         : 55kg/ 150cm

e. Status Gizi                     :

IMT                             : 55/(1,5)2 = 24,4

LILA                           : 24 cm

e.  Genetalia                      : luka kemerahan dan basah didaerah vagina

f.  Ekstrimitas                    : ruam ditelapak kaki dan tangan

ASSESMENT

  1. Diagnosa Kebidanan

Ny ‘S’ umur 25 tahun G1P0Ab0Ah0 UK : 28 minggu dengan sífilis kongenital

  1. Masalah

Ibu mengatakan cemas bila ibu dan bayi yang dikandungnya tertular sífilis kongenital.

  1. Kebutuhan

– KIE tentang penyakit sifilis  kongenital dalam kehamilan.

– KIE cara penularan sifilis dari ibu ke bayi yang dikandungnya.

  1. Diagnosa potensial

Ibu hamil dengan asma berpotensi terjadi kerusakan kulit,hati,limpa, dan keterbelakangan mental pada bayi.

  1. Masalah potensial

Tidak ada

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Tidak dilakukan

  1. Kolaborasi

Pemeriksaan laboratorium di Laboratorium ‘CITO’ untuk pemeriksaan kimia darah, ureum,kreatinin,GDS

c. Merujuk

Merujuk ke dr. Ahsanudin SpOg bagian kebidanan Rumah sakit dr. Sarjito untuk pengobatan dan penanganan lebih lanjut.

PLANNING

  1. Menjelaskan kepada ibu bahwa keluhan yang dirasakannya yaitu :flu, demam, pegal-pegal, serta kemerahan pada kaki dan tangan merupakan tanda- tanda sifilis

Ibu memahami bahwa keluhan yang dialaminya adalah gejala- gejala sifilis.

  1. Menganjurkan dan menjelaskan pada ibu tentang teknik relaksasi, pengurangan rasa nyeri dan menciptakan lingkungan yang nyaman dengan mengganti alat tenun yang kotor.

Ibu memahami tentang teknik relaksasi, pengurangan rasa nyeri dan menciptakan lingkungan yang nyaman.

3. Menganjurkan ibu untuk banyak minum, memakai pakaian yang tipis dan longgar ,dan melakukan kompres apabila demam dengan menggunakan air hangat di dahi dan lengan.

Ibu mengerti dan bersedia untuk melaksanakan anjuran bidan.

4. Menganjurkan ibu untuk melibatkan keluarga dalam perawatan agar ibu mendapatkan support dan dukungan dari keluarga sehingga mempercepat proses penyembuhan.

Ibu mengerti dan keluarga bersedia untuk terlibat dalam proses pengobatan dan perawatan ibu.

5.  Menganjurkan ibu dan suami untuk tidak berganti- ganti pasangan karena hal ini dapat menyebabkan penyakit menular seksual dan dapat menyebabkan penyebaran dari penyakit menular seksual menjadi lebih luas.

Ibu mengerti penjelasan bidan dan bersedia untuk tidak berganti- ganti pasangan begitu juga dengan suami.

6.  Menjelaskan pada ibu tentang teknik pengurangan rasa nyeri yaitu dengan pengompresan dengan air hangst pada daerah yang nyeri, dan meminimalisir terjadinya sentuhan atu gesekan pada daerah yang yang nyeri.

Ibu mengerti penjelasan bidan dan bersedia melaksanakan

  1. Menjelaskan pada ibu bahwa sifilis bisa menimbulkan komplikasi pada ibu dan bayi sehingga ibu harus menjaga kondisinya agar tidak terjadi komplikasi.

Ibu memahami penjelasan bidan dan akan selalu menjaga kondisinya.

  1. Menganjurkan ibu untuk pemeriksaan laboratorium di laboratorium ‘CITO’ untuk pemeriksaan kimia darah, ureum,kreatinin,GDS.

Ibu bersedia melakukan pemeriksaan laboratorium di Laboratorium ‘CITO’

  1. Merujuk ibu ke dr. Ahsanudin SpOg bagian kebidanan Rumah Sakit dr. Sarjito untuk pengobatan dan penanganan lebih lanjut.

Ibu bersedia dirujuk ked dr. Ahsanudin SpOg bagian kebidanan Rumah Sakit dr. Sarjito untuk pengobatan dan penanganan lebih lanjut.

10.  Menjelaskan kepada ibu untuk kunjungan ulang satu bulan lagi atau jika ada keluhan.

Ibu bersedia datang satu bulan lagi atau jika ada keluhan.

DAFTAR PUSTAKA

–                Murtiastuti D. Sifilis. Dalam : Barakbah J, Lumintang H,Martodhiharjo S, editor. BukuAjar Infeksi Menular Seksual. Edisi 2. Surabaya : Airlangga University Press. 2008.145-148.

–                Webmaster. Trepronema Pallidum. Disitasi dari :http://www.medgadget.com/_archives/img/treponema.htm pada tanggal : 18 Februari 2009. Last Update : Januari 2009.

–                Webmaster. Shypilis. Disitasi dari : http://www.uveitis.org/images/syphil1.htm pada tanggal : 18 Februari 2009. Last Update : Januari 2009.

–                Department of Health and Human Services of USA. Congenital Shypilis – United State 2002. Disitasi dari :http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/mm5331a4.htm pada tanggal :18 Februari 2009. Last Update : July 2008.

–                Djuanda, Adhi. 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI.

Iklan

BAB I

PENDAHULUAN

Empat masalah gizi utama di Indonesia yaitu Kekurangan Energi Kronik (KEK), Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Kekurangan Vitamin A (KVA), dan Anemia Gizi Besi (AGB). Salah satu golongan rawan gizi yang menjadi sasaran program adalah remaja, karena biasanya pada remaja sering terjadi masalah anemia, defisiensi besi dan kelebihan atau kekurangan berat badan. Tahun 2004, 37% balita (bawah lima tahun/bayi) kekurangan berat badan (28% kekurangan berat badan sedang dan 9% kekurangan berat badan akut) (sumber Susenas 2004). Pemerintah mempunyai program makanan tambahan sehingga perempuan dan anak-anak yang terdeteksi memiliki berat badan kurang akan diberi makanan tambahan dan saran ketika mereka datang ke puskesmas untuk memantau pertumbuhan.

Di Indonesia banyak terjadi kasus KEK (Kekurangan Energi Kronis) terutama yang kemungkinan disebabkan karena adanya ketidakseimbangan asupan gizi, sehingga zat gizi yang dibutuhkan tubuh tidak tercukupi. Hal tersebut mengakibatkan perumbuhan tubuh baik fisik ataupun mental tidak sempurna seperti yang seharusnya. Banyak anak yang bertubuh sangat kurus akibat kekurangan gizi atau sering disebut gizi buruk. Jika sudah terlalu lama maka akan terjadi Kekurangan Energi Kronik (KEK). Hal tersebut sangat memprihatinkan, mengingat Indonesia adalah egara yang kaya akan SDA (Sumber Daya Alam).

Ibu hamil diketahui menderita KEK dilihat dari pengukuran LILA, adapun ambang batas LILA WUS (ibu hamil) dengan resiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran LILA kurang dari 23,5 cm atau di bagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai resiko KEK dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lebih rendah (BBLR). BBLR mempunyai resiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak.

Data SDKI tahun 1997 angka kematian bayi adalah 52.2 per 1000 kelahiran hidup dan dari data SDKI tahun 1994 angka kematian ibu adalah 390 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan dari data Susenas pada tahun 1999, ibu hamil yang mengalami risiko KEK adalah 27.6 %.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Definisi

Menurut Depkes RI (2002) dalam Program Perbaikan Gizi Makro menyatakan bahwa Kurang Energi Kronis merupakan keadaan dimana ibu penderita kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu. KEK dapat terjadi pada wanita usia subur (WUS) dan pada ibu hamil (bumil). Kurang gizi akut disebabkan oleh tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang baik (dari segi kandungan gizi) untuk satu periode tertentu untuk mendapatkan tambahan kalori dan protein (untuk melawan) muntah dan mencret (muntaber) dan infeksi lainnya. Gizi kurang kronik disebabkan karena tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang baik dalam periode/kurun waktu yang lama untuk mendapatkan kalori dan protein dalam jumlah yang cukup, atau juga disebabkan menderita muntaber atau penyakit kronis lainnya.

B. KEK Pada Ibu Hamil

Kondisi kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil mempunyai dampak kesehatan terhadap ibu dan anak dalam kandungan, antara lain meningkatkan risiko bayi dengan berat lahir rendah, keguguran, kelahiran premature, kematian pada ibu dan bayi baru lahir, gangguan pertumbuhan anak, dan gangguan perkembangan otak. Hasil survey menunjukkan bahwa prevalensi wanita usia subur (WUS) menderita KEK pada tahun 2002 adalah 17,6 persen. Tidak jarang kondisi KEK pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya perdarahan, partus lama, aborsi dan infeksi yang merupakan faktor kematian utama ibu.

Malnutrisi bukan hanya melemahkan fisik dan membahayakan jiwa ibu, tetapi juga mengancam keselamatan janin. Ibu yang bersikeras hamil dengan status gizi buruk, berisiko melahirkan bayi berat badan lahir rendah 2-3 kali lebih besar dibandingkan ibu dengan status gizi baik, disamping kemungkinan bayi mati sebesar 1.5 kali.

C. Pengukuran Status Gizi

Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Penilaian secara tidak langsung ada dua yaitu:

  1. Survey konsumsi makanan
  2. Statistic vital.

Penilaian status gizi secara langsung ada empat yaitu:

  1. Antropometri
  2. Klinis
  3. Biokimia
  4. Biofisik

Untuk mengetahui status gizi ibu hamil digunakan pengukuran secara langsung dengan menggunakan penilaian antropometri yaitu: Lingkar Lengan Atas. Pengukuran lingkar lengan atas adalah suatu cara untuk mengetahui risiko KEK wanita usia subur (Supariasa, 2002 : 48). Wanita usia subur adalah wanita dengan usia 15 sampai dengan 45 tahun yang meliputi remaja, ibu hamil, ibu menyusui dan pasangan usia subur (PUS). Ambang batas lingkar Lengan Atas (LILA) pada WUS dengan risiko KEK adalah 23,5 cm, yang diukur dengan menggunakan pita ukur. Apabila LILA kurang dari 23,5 cm artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK dan sebaliknya apabila LILA lebih dari 23,5 cm berarti wanita itu tidak berisiko dan dianjurkan untuk tetap mempertahankan keadaan tersebut.

Hal-hal yang harus diperhatikan:

a)    Pengukuran dilakukan di bagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri.

b)    Lengan harus dalam posisi bebas, lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang.

c)    Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat, sehingga permukaannya sudah tidak rata.

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi KEK

1)      Faktor Sosial Ekonomi

Faktor sosial ekonomi ini terdiri dari:

a. Pendapatan Keluarga

b. Pendidikan Ibu

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, pembuatan cara mendidik. Kemahiran menyerap pengetahuan akan meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan seseorang dan kemampuan ini berhubungan erat dengan sikap seseorang terhadap pengetahuan yang diserapnya.

Pendidikan ibu adalah pendidikan formal ibu yang terakhir yang ditamatkan dan mempunyai ijazah dengan klasifikasi tamat SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi dengan diukur dengan cara dikelompokkan dan dipresentasikan dalam masing-masing klasifikasi (Depdikbud, 1997).

c. Status Perkawinan

Status Perkawinan ibu dibedakan menjadi: Kawin adalah status dari mereka yang terikat dalam perkawinan pada saat pencacahan, baik tinggal bersama maupun terpisah. Dalam hal ini tidak saja mereka yang kawin sah, secara hukum (adat, agama, negara dan sebagainya) tetapi juga mereka yang hidup bersama dan oleh masyarakat sekelilingnya dianggap sebagai suami istri. Cerai hidup adalah status dari mereka yang hidup berpisah sebagai suami istri karena bercerai dan belum kawin lagi. Cerai mati adalah status dari mereka yang suami/istrinya telah meninggal dunia dan belum kawin lagi.

2)      Faktor Biologis

Faktor biologis ini diantaranya terdiri dari :

a. Usia Ibu Hamil

Melahirkan anak pada usia ibu yang muda atau terlalu tua mengakibatkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu (Baliwati, 2004: 3). Karena pada ibu yang terlalu muda (kurang dari 20 tahun) dapat terjadi kompetisi makanan antara janin dan ibunya sendiri yang masih dalam masa pertumbuhan dan adanya perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan (Soetjiningsih, 1995: 96). Sehingga usia yang paling baik adalah lebih dari 20 tahun dan kurang dari 35 tahun, sehingga diharapkan status gizi ibu hamil akan lebih baik.

b. Jarak Kehamilan

Ibu dikatakan terlalu sering melahirkan bila jaraknya kurang dari 2 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa apabila keluarga dapat mengatur jarak antara kelahiran anaknya lebih dari 2 tahun maka anak akan memiliki probabilitas hidup lebih tinggi dan kondisi anaknya lebih sehat dibanding anak dengan jarak kelahiran dibawah 2 tahun. (Aguswilopo, 2004 : 5). Jarak melahirkan yang terlalu dekat akan menyebabkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Ibu tidak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki tubuhnya sendiri (ibu memerlukan energi yang cukup untuk memulihkan keadaan setelah melahirkan anaknya). Dengan mengandung kembali maka akan menimbulkan masalah gizi ibu dan janin/bayi berikut yang dikandung. (Baliwati, 2004 : 3).

c. Paritas

Paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable). (Mochtar, 1998). Paritas diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Primipara adalah seorang wanita yang telah pernah melahirkan satu kali dengan janin yang telah mencapai batas viabilitas, tanpa mengingat janinnya hidup atau mati pada waktu lahir.

2. Multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami dua atau lebih kehamilan yang berakhir pada saat janin telah mencapai batas viabilitas.

3. Grande multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami lima atau lebih kehamilan yang berakhir pada saat janin telah mencapai batas viabilitas.

3)      Faktor Pola Konsumsi

Upaya mencapai status gizi masyarakat yang baik atau optimal dimulai dengan penyediaan pangan yang cukup. Penyediaan pangan yang cukup diperoleh melalui produksi pangan dalam negeri yaitu upaya pertanian dalam menghasilkan bahan makanan pokok, lauk-pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan (Almatsier, 2003: 13). Pola konsumsi ini juga dapat mempengaruhi status kesehatan ibu, dimana pola konsumsi yang kurang baik dapat menimbulkan suatu gangguan kesehatan atau penyakit pada ibu. Penyakit infeksi dapat bertindak sebagai pemula terjadinya kurang gizi sebagai akibat menurunnya nafsu makan, adanya gangguan penyerapan dalam saluran pencernaan atau peningkatan kebutuhan zat gizi oleh adanya penyakit. Kaitan penyakit infeksi dengan keadaan gizi kurang merupakan hubungan timbal balik, yaitu hubungan sebab akibat. Penyakit infeksi dapat memperburuk keadaan gizi dan keadaan gizi yang jelek dapat mempermudah infeksi. (Supariasa, 2002: 187)

4)      Faktor Perilaku

Faktor perilaku ini terdiri dari kebiasaan yang sering dilakukan ibu diantaranya yaitu kebiasaan merokok dan mengkonsumsi cafein. Kafein adalah zat kimia yang berasal dari tanaman yang dapat menstimulasi otak dan system syaraf. Kafein bukan merupakan salah satu zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, karena efek yang ditimbulkan kafein lebih banyak yang negative daripada positifnya, salah satunya adalah gangguan pencernaan. Dengan adanya gangguan pencernaan makanan maka akan menghambat penyerapan zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dan janin.

E. Upaya Penanggulangan Yang Dilakukan

  1. KIE mengenai KEK dan faktor yang mempengaruhinya serta bagaimana menanggulanginya.
  2. PMT Bumil diharapkan agar diberikan kepada semua ibu hamil yang ada.

Kondisi KEK pada ibu hamil harus segera di tindaklanjuti sebelum usia kehamilan mencapai 16 minggu. Pemberian makanan tambahan yang Tinggi Kalori dan Tinggi Protein dan dipadukan dengan penerapan Porsi Kecil tapi Sering, pada faktanya memang berhasil menekan angka kejadian BBLR di Indonesia. Penambahan 200 – 450 Kalori dan 12 – 20 gram protein dari kebutuhan ibu adalah angka yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan gizi janin. Meskipun penambahan tersebut secara nyata (95 %) tidak akan membebaskan ibu dari kondisi KEK, bayi dilahirkan dengan berat badan normal. Pada tahun 2007 dilaksanakan PMT bagi bumil gakin di kabupaten/kota melalui dana APBN Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Kegiatan tersebut tidak dilanjutkan pada tahun 2008 karena tidak tersedianya dana dan diharapkan untuk pelaksanaan selanjutnya dibebankan melalui dana APBD kabupaten/kota.

  1. Konsumsi tablet Fe selama hamil.

Kebutuhan bumil terhadap energi, vitamin maupun mineral meningkat sesuai dengan perubahan fisiologis ibu terutama pada akhir trimester kedua dimana terjadi proses hemodelusi yang menyebabkan terjadinya peningkatan volume darah dan mempengaruhi konsentrasi hemoglobin darah. Pada keadaan normal hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian tablet besi, akan tetapi pada keadaan gizi kurang bukan saja membutuhkan suplemen energi juga membutuhkan suplemen vitamin dan zat besi. Keperluan yang meningkat pada masa kehamilan, rendahnya asupan protein hewani serta tingginya konsumsi serat / kandungan fitat dari tumbuh-tumbuhan serta protein nabati merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya anemia besi.

F. Pencegahan KEK

Makan makanan yang bervariasi dan cukup mengandung kalori dan protein termasuk makanan pokok seperti nasi, ubi dan kentang setiap hari dan makanan yang mengandung protein seperti daging, ikan, telur, kacang-kacangan atau susu sekurang-kurangnya sehari sekali. Minyak dari kelapa atau mentega dapat ditambahkan pada makanan untuk meningkatkan pasokan kalori, terutama pada anak-anak atau remaja yang tidak terlalu suka makan. Hanya memberikan ASI kepada bayi sampai usia 6 bulan mengurangi resiko mereka terkena muntah dan mencret (muntaber) dan menyediakan cukup gizi berimbang. Jika ibu tidak bisa atau tidak mau memberikan ASI, sangat penting bagi bayi untuk mendapatkan susu formula untuk bayi yang dibuat dengan air bersih yang aman – susu sapi normal tidaklah cukup. Sejak 6 bulan, sebaiknya tetap diberikan Asi tapi juga berikan 3-6 sendok makan variasi makanan termasuk yang mengandung protein. Remaja dan anak2 yang sedang sakit sebaiknya tetap diberikan makanan dan minuman yang cukup. Kurang gizi juga dapat dicegah secara bertahap dengan mencegah cacingan, infeksi, muntaber melalui sanitasi yang baik dan perawatan kesehatan, terutama mencegah cacingan.

Pemberian makanan tambahan dan zat besi pada ibu hamil yang menderita KEK dan berasal dari Gakin dapat meningkatkan konsentrasi Hb walaupun besar peningkatannya tidak sebanyak ibu hamil dengan status gizi baik. Terlihat juga penurunan prevalensi anemia pada kelompok kontrol jauh lebih tinggi dibanding pada kelompok perlakuan. Konsumsi makanan yang tinggi pada ibu hamil pada kelompok perlakuan termasuk zat besi disertai juga dengan peningkatan konsumsi fiber yang diduga merupakan salah satu faktor pengganggu dalam penyerapan zat besi.. Pada ibu hamil yang menderita KEK dan dari Gakin kemungkinan masih membutuhkan intervensi tambahan agar dapat menurunkan prevalensi anemia sampai ke tingkat yang paling rendah.

BABIII

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

DENGAN KEK

DATA SUBJEKTIF

Ibu datang untuk memeriksakan kandungannya, ibu hamil aterm, mengeluh Lesu, Cepat lelah, Denyut jantung cepat, Pusing, Telinga mendenging  Mata berkunang-kunang, Kelemahan otot,Perasaan dingin pada anggota gerak(tangan,kaki).

DATA OBJEKTIF

a.         Keadaan umum           : baik               kesadaran        : CM

b.         Status emosional         : stabil

c.         Tanda vital

Tekanan darah : TD : 110/70 nnHg

Nadi : 93 x / menit

RR : 18 x / menit

Temperatur : 37C

Tinggi badan : 155 cm

Berat badan : Sebelum hamil : 40 kg

Sesudah hamil : 47 kg

Ukuran lila : 22 cm

ASSESMENT

1.         Diagnosa Kebidanan

G1P0A0, ibu hamil aterm, janin tunggal, hidup intra uteri, DJJ154 x/menit presentasi kepala

Dasar

2.         Masalah

Ibu mengeluh  , lesu

3.         Kebutuhan

Penyuluhan tentang pola istirahat yang cukup dan rileks

Penyuluhan tentang gizi ibu hamil

4.         Diagnosa potensial

5.         Masalah Potensial

a. Potensial terjadi BBLR

b. Potensial terjadi gawat janin

c. Potensial terjadi kematian janin dalam kandungan

d. Potensial terjadi perdarahan

6.         Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien

Tindakan segera: pemberian tablet besi dan tablet kalsium

Kolaborasi : Dilakukan bila terjadi gawat janin dan kematian janin dalam kandungan, serta perdarahan.

PLANNING

1.         Beri tahu ibu tentang hasil pemeriksaan

a. Jelaskan kondisi ibu saat ini

b. Anjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin

c. Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan ibu

. Ibu mengetahui kondisinya saat ini

2.         Berikan informasi mengenai gizi ibu hamil

a. Jelasakan pada ibu tentang makanan yang bergizi seimbang

b. Ibu diberi vitamin, suplemen besi dan suplemen kalsium

C Anjurkan ibu untuk istirahat dan banyak makan makanan yang seimbang

Ibu bersedia dan mengatakan selama ini sudah minum vitamin B12, suplemen tambah darah, suplemen kalsium1 kali sehari

Ibu mengerti tentang makanan yang bergizi seperti sayur-sayuran hijau, misalnya: daun katuk, buah-buahan segar, makanan berprotein seperti tahu, tempe, ikan.

Ibu bersedia untuk makan makanan bergizi

3. Beritahu ibu tentang pola istirahat yang baik

a. Jelaskan pada ibu pentingnya istirahat yang cukup

b. Anjurkan pada ibu untuk mengurangi aktivitas sehari-hari

c. Anjurkan pada ibu untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat

d. Evaluasiapakah ibu menjalankan yang dianjurkan

DAFTAR PUSTAKA

http://sulteng.surveilans-respon.org/wanita-usia-subur-kurang-energi-kronis/.

http://www.eurekaindonesia.org/dampak-anemia-dan-kekurangan-energi-kronik-pada-ibu-hamil/

http://askep-askeb.cz.cc/2010/02/kurang-energi-kronis-kek-pada-ibu-hamil.htm

http://www.gizi.net/kebijakan-gizi/download/GIZI%20MAKRO.doc.

BAB I
PENDAHULUAN

Angka kematian ibu masih cukup tinggi sampai saat ini. Penyebab kematian tertinggi adalah perdarahan, keracunan kehamilan dan infeksi. Salah satu dari beberapa faktor tidak langsung penyebab kematian ibu adalah anemia.

Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Di samping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah (Soejoenoes, 1983). Soeprono (1988) menyebutkan bahwa dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan atonis), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infeksi dan stres kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian peri natal, dan lain-lain) (Soeprono, 1988).

Prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia berkisar 20-80%, tetapi pada umumnya banyak penelitian yang menunjukkan prevalensi anemia pada wanita hamil yang lebih besar dari 50%. Pemerintah telah berusaha melakukan tindakan pencegahan dengan memberikan tablet tambah darah (tablet Fe) pada ibu hamil yang dibagikan pada waktu mereka memeriksakan kehamilan, akan tetapi prevalensi anemia pada kehamilan masih juga tinggi (BPS, 1994). Pemeriksaan kadar hemoglobin yang dianjurkan dilakukan pada trimester pertama dan ketiga kehamilan sering kali hanya dapat dilaksanakan pada trimester ketiga saja karena kebanyakan ibu hamil baru memeriksakan kehamilannya pada trimester kedua kehamilan. Dengan demikian upaya penanganan anemia pada kehamilan menjadi terlambat dengan akibat berbagai komplikasi yang mungkin terjadi karena anemia.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya anemia pada kehamilan dan hubungannya dengan kemungkinan terjadinya komplikasi pada kehamilan, persalinan dan nifas. Penelitian dilaksanakan secara cross sectional dan longitudinal dengan sampel ibu hamil trimester I. Secara random didapatkan 255 responden ibu hamil trimester pertama yang kemudian diikuti sampai dengan masa nifas. Karena adanya responden yang mengalami abortus atau pindah sehingga tidak dapat ditemui saat pengumpulan data, maka pada trimester II jumlah responden menjadi 224 orang, pada trimester III dan nifas 219 orang. Variabel yang diteliti adalah variabel sosial ekonomi, meliputi : umur, pendidikan, pekerjaan, tingkat pendapatan keluarga, status gizi, nutrisi, meliputi : intake kalori, protein dan Fe, konsumsi tablet Fe, pengeluaran energi ibu hamil, perilaku reproduksi, meliputi : paritas, interval kehamilan, keikutsertaan KB dan perawatan antenatal, kadar hemoglobin dan komplikasi pada kehamilan, persalinan dan masa nifas. Kriteria anemia yang digunakan sesuai dengan kriteria WHO yaitu 11 g%. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, alat ukur berupa timbang badan, stature meter, alat untuk mengukur lingkar lengan atas, dan hemometer Sahli. Intake kalori, protein, Fe dan beban kerja dikumpulkan dengan cara two days recall. Analisis menggunakan regresi logistik dan uji Chi Square.

Hasil analisis menunjukkan bahwa insidensi anemia tertinggi pada trimester kedua (86,3%). Hal ini sesuai dengan kadar hemoglobin terendah pada masa kehamilan pada trimester kedua (9,94 g%) dan mengakibatkan prevalensi anemia yang tertinggi adalah pada trimester kedua (92,4%).

Faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya anemia kehamilan trimester pertama adalah interval kehamilan, usia kehamilan dan lama pendidikan. Hal ini tampaknya berhubungan dengan kondisi ibu sebelum kehamilan yang dengan demikian memperkuat dugaan bahwa cukup banyak ibu hamil yang memasuki masa kehamilannya dalam keadaan anemia. Pada trimester kedua dan ketiga, faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya anemia kehamilan adalah konsumsi tablet Fe dan kadar hemoglobin pada trimester sebelumnya, sedangkan pada masa nifas faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya anemia adalah volume perdarahan pada persalinan, konsumsi tablet Fe dan kadar hemoglobin sebelum persalinan atau trimester ketiga.

Konsumsi tablet Fe sangat berpengaruh terhadap terhadap terjadinya anemia, khususnya pada trimester kedua, ketiga dan masa nifas. Hal ini disebabkan kebutuhan zat besi pada masa ini lebih besar dibanding pada trimester pertama dan menunjukkan pentingnya pemberian tablet Fe untuk mencegah terjadinya anemia pada kehamilan dan nifas.

Komplikasi yang dominan disebabkan oleh anemia adalah terjadinya penyakit infeksi pada masa nifas, diikuti dengan partus lama dan perdarahan pada persalinan.

Dengan memperhatikan hasil penelitian tersebut di atas disarankan untuk meningkatkan cakupan K1 ibu hamil agar dapat diberikan tablet Fe sebagai upaya pencegahan anemia atau sebagai terapi apabila sudah terjadi anemia. Mengingat pengaruh anemia terhadap terjadinya komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas yang mulai tampak pada trimester pertama dan besarnya pengaruh tablet tambah darah (Tablet Fe) dalam pencegahan anemia, perlu diberikan tablet tambah darah bukan hanya pada ibu hamil, melainkan juga pada ibu nifas.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

ANEMIA DALAM KEHAMILAN

  1. a. Definisi

Seseorang, baik pria maupun wanita, dinyatakan menderita anemia apabila kadar hemoglobin dalam darahnya kurang dari 12 g/ 100 ml. Anemia lebih sering dijumpai dalam kehamilan. Hal itu disebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zat-zat makanan bertambah dan terjadi pula perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang.

Darah bertambah banyak dalam kehamilan, yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel – sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding sebagai berikut : plasma 30 %, sel darah 18 %, dan hemoglobin 19 %.

Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama – tama pengenceran itu meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula sehingga tekanan darah tidak naik. Kedua pada perdarahan waktu persalinan, banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu tetap kental.

Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mukai sejak kehamilan umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu. Sehingga dapat disimpulkan batas terendah untuk kadar HB dalam kehamilan yaitu 10 g/ 100 ml. Jika seorang wanita hamil memiliki HB kurang dari 10 g/ 100 ml tidak dianggap menderita anemia dalam kehamilan. Karena itu, para wanita hamil dengan HbB antara 10 dan 12 g/ 100 ml tidak dianggap menderita anemia patologik, akan tetapi anemia fisiologik atau pseudoanemia.

  1. b. Pengaruh anemia dalam kehamilan

Anemia dalam kehamilan member pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun dalam nifas dan masa selanjutnya. Berbagai penyulit dapat timbul anemia, seperti :

a)      Abortus

b)      Partus Prematurus

c)      Partus lama karena inertia uteri

d)     Perdarahan postpartum karena atonia uteria

e)      Syok

f)       Infeksi, baik intrapartum maupun postpartum

g)      Anemia yang sangat berat dengan HB kurang dari 4 g/ 100 ml dapat menyebabkan dekompensasi kordis.

h)      Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan sulit, walaupun tidak terjadi perdarahan.

Anemia juga berpengaruh bagi hasil konsepsi diantaranya adalah :

a)      Kematian mudigah

b)      Kematian Parinatal

c)      Prematuritas

d)     Dapat  terjadi cacat-bawaan

e)      Cadangan besi kurang

Jadi dapat disimpulkan anemia dalam kehamilan merupakan sebab potensial morbiditas serta mortalitas ibu dan anak.

  1. c. Macam – macam Anemia

Pembagian anemia dalam kehamilan (berdasarkan prosentase penyelidikan di Jakarta)

  1. Anemia Defisiensi Besi                                   62, 3 %
  2. Anemia Megaloblastik                                    29, 0 %
  3. Anemia Hipoplastik                                          8, 0 %
  4. Anrmia Hemolitik                                             0, 7 %
  1. a. Anemia Defisiensi Besi
    1. 1. Definisi

Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai adalh anemia akibat defisiensi besi. Kekurangan ini akan disebabkan karena kurang masuknya unsure besi dengan makanan, karena gangguan penyerapan, gangguan penggunaan, atau karena melampaui banyaknya besi ke luar dari badan, misalnya pada perdarahan.

Keperluan akan besi bertambah dalam kehamilan, terutama dalam trimester akhir. Apabila masuknya besi tidak ditambah dan kehamilan, maka mudah terjadi anemia defisiensi besi, lebih-lebih pada kehamilan kembar. Selain itu jika hidup di daerah katulistiwa, besi lebih banyak ke luar melalui air peluh dan melalui kulit. Masuknya besi setiap hari yang dianjurkan tidak sama di berbagai negeri. Untuk wanita tidak hamil, wanita hamil, dan wanita yang menyusui dianjurkan di Amerika Serikat masing – masing 12 mg, 15 mg, dan 15 mg, sedangkan dI Indonesia masing – masing 12 mg, 17 mg, dan 17 mg.

  1. 2. Diagnosis

Diagnosis anemia defisiensi besi yang berat tidak sulit karena ditandai ciri – ciri yang khas pada defisiensi besi, yaitu mikrositosis dan hipokromasia. Anemia yang ringan tidak selalu menunjukkan ciri – ciri khas itu, bahkan banyak yang normositer dan normokrom. Hal itu disebabkan karena defisiensi besi dapat berdampingan dengan defisiensi asam folik. Yang terakhir menyebabkan anemia megaloblastik yang sifatnya makrositer dan hiperkrom. Anemia ganda demikian lazim disebut anemia diformis, yang dapat dibuktikan dengan kurva Price Jones

Sifat lain yang khas bagi defisiensi besi ialah :

a)      Kadar besi serum rendah

b)      Daya ikat besi tinggi

c)      Protoporfirin eritrosit tinggi

d)     Tidak ditemukan hemosiderin (stainable iron) dalam sumsum tulang.

Pengobatan percobaan (therapia ex juvantibus) dengan besi dapat pula dipakai untuk membuktikan defisiensi besi : Jika dengan pengobatan jumlah retikulosit, kadar HB dan anemia itu pasti disebabkan kekurangan besi.

Pemeriksaan sumsum tulang menunjukkan eritropoesis yang normoblastik tanpa tanda – tanda hipoplasia eritropoesis.

  1. 3. Terapi

Apabila pada pemeriksaan kehamilan hanya HB yang diperiksa dan HB itu kurang dari 10 g/ 100 ml, maka wanita dapat dianggap sebagai menderita anemia defisiensi besi, baik yang murni maupun yang diformis, karena tersering anemia dalam kehamilan ialah anemia defisiensi besi.

Pengobatan dapat dimulai dengan preparat besi per os. Biasanya diberikan garam besi sebanyak 600 – 1000 mg sehari, seperti sulfas ferosus atau glukonas ferosus. Hb dapat dinaikkan sampai 10 g/100 ml atau lebih asal masih ada cukup waktu sampai jalan lahir. Peranan vitamin C adalah mempermudah penyerapan ion ferro dalam selaput usus.

Terapi parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan obat besi per os, ada gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan, atau apabila kehamilannya sudah tua. Besi parenteral diberikan dalam bentuk ferri. Secara intramuskulus dapat disuntikkan dekstran besi (imferon) atau sorbitol besi (Jactofer). Hasilnya lebih cepat dicapai, hanya penderita merasa nyeri ditempat suntikkan.

Secara intravena perlahan-lahan juga diberikan seperti ferrum oksidum sakkratum (ferrigen, Ferrivenin, Proferrin, Vistis), sodium diferrat (Ferronascin), dan dekstran besi (imferon). Akhir akhir ini Imferon banyak pula  diberikan dengan infus dalam dosis total antara 1000 – 2000 mg unsur besi sekaligus, dengan hasil yang memuaskan. Walaupun besi intravenadan dengan infuse kadang – kadang menimbulkan efek sampingan, namun apabila ada indikasi yang tepat, cara ini dapat dipertanggungjawabkan. Komplikasi kurang berbahaya dibandingkan dengan transfuse daerah.

Tranfusi darah sebagai pengobatan anemia dalam kehamilan sangat jarang walaupun Hbnya kurang dari 6 g/ 100 ml. apabila tidak terjadi perdarahan. Darah secukupnya harus tersedia selama persalinan, yang segera harus diberikan apabila terjadi perdarahan yang yang lebih dari biasa, walaupun tidak lebih dari 1000 ml.

  1. 4. Pencegahan

Didaerah-daerah dengan frekuensi kehamilan yang lebih tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfas ferosus atau glukonas ferossus, cukup 1 tablet sehari. Selain itu wanita dinasehatkan pula untuk makan lebih banyak ptotein dan sayur-saturan yang mengandung banyak mineral serta vitamin.

  1. 5. Prognosis

Prognosis anemia defisiensi besi dalam kehamilan umumnya baik bagi ibu dan anak. Persalinan dapat berlangsung seperti biasa tanpa perdarahan banyak atau komplikasi lain. Anemia berat yang tidak terobati dalam kehamilan muda dapat menyebabkan abortus, dan dalam kehamilan tua dapat menyebabkan partus lama, perdarahan postpartum, dan infeksi .

Walaupun bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita anemia defisiensi besi tidak menunjukkan Hb yang rendah, namun cadangan besinya kurang, yang baru beberapa bulan kemudian tampak sebagai anemia infantum.

  1. b. Anemia Megaloblastik
    1. 1. Definisi

Anemia Megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik (pteroyglutamic acid), jarang sekali karena defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin). Berbeda dari di Eropa dan di Amerika serikat frekuensi anemia megaloblastik dalam kehamilan culup tinggi di Asia, seperti India, Malaysia, dan Indonesia. Hal itu erat kaitannya dengan defisiensi makanan.

  1. 2. Diagnosis

Diagnosis anemia megaloblastik dibuat apabila ditemukan megaloblas atau premegaloblas dalam arah atau sumsum tulang. Sifat khas sebagai anemia makrositer dan hiperkrom tidak selalu dijumpai, kecuali bila anemianya sudah berat. Seringkali anemia sifatnya normositer dan normokrom. Hal itu disebabkan karena defisiensi asam folik sering berdampingan dengan defisiensi besi dalam kehamilan.

Perubahan-perubahan dalam leukopoesis, seperti metamielosit datia dan sel batang datia yang kadang-kadang disertai vakuolisasi, dan hipersegmentasi granulosit, terjadi lebih dini pada defisiensi asam folik dan vitamin B12, bahkan belum terdapat megaloblastosis. Ciri-ciri merupakan petunjuk yang kuat bagi defisiensi asam folik dan vitamin B12. juga pemeriksaan asam formimino-glutamik dalam air kencing (Figlu-test) dapat membantu dalam diagnosis. Kadar asam folik tidak dapat dipakai sebagai diagnostikum.

Diagnosis pasti baru dapat dibuat dengan percobaan penyerapan (absorption test)dan percobaan pengeluaran (clearance test) asam folik. Pengobatan percobaan dengan asam folik dapat pula menyokong diagnosis; naiknya jumlah retikulosit dan kasar Hb menunjukkan defisiensi asam folik.

Pada anemia dimorfis gamabaran darah yang mula-mula normositer dan normokrom, setelah pemberian asam folik, jelas berubah menjadi mikrositer dan hipokom karena defisiensi asam folik sudah dikoreksi, akan tetapi defisiensi besi belum.

  1. 3. Terapi

Dalam pengobatan anemia megaloblastik dalam kehamilan sebaiknya bersama-sama dengan asam folik diberikan pula besi. Jikalau perlu, asam folik diberikan dengan suntikan dalam dosis yang sama.

Apabila anemia megaloblastik disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 (anemia pernisiosa Addison-Biermer), maka penderita harus diobati dengan vitamin B12 dengan dosis 100-1000 mikrogram sehari, baik per os maupun parenteral.

Karena anemia megaloblastik dalam kehamilan pada umumnya berat dan kadang-kadang degil sifatnya, maka transfusi darah kadang-kadang diperlukan apabila tidak cukup waktu karena kehamilan dekat aterm, atau apabila pengobatan dengan pelbagai obat penambah darah bisa tidak berhasil.

  1. 4. Pencegahan

Pada umumnya asam folik tidak diberikan secara rutin, kecuali di daerah-daerah dengan frekuensi anemia megaloblastik yang tinggi. Apabila pengobatan anemia dengan besi saja tidak berhasil, maka besi harus ditambah dengan asam folik.

  1. 5. Prognosis

Anemia megaloblastik dalam kehamilan umumnya mempunyai prognosis cukup baik. Pengobatan dengan asam folik hampir selalu berhasil.

Apabila penderita mencapai masa nifas dengan selamat dengan atau tanpa pengobatan, maka anemianya akan sembuh dan tidak akan timbul lagi. Hal ini disebabkan karena dengan lahirnya anak keperluan akan asam folik jauh berkurang. Sebaiknya, anemia pernisiosa memerlukan pengobatan terus-menerus, juga di luar kehamilan.

Anemia megaloblastik dalam kehamilan yang berat yang tidak diobati mempunyai prognosis kurang abik. Angka kematian bagi ibu mendekati 50% dan bagi anak 90%.

  1. c. Anemia Hipoplastik

Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoblastik dalam kehamilan.

Darah tepi menunjukkan gambaran normositer dan normo-krom, tidak ditemukan ciri-ciri defisiensi besi,asam folik, atau viyamin B12. Sumsum tulang bersifat normoblastik dengan hipoplasia erithropoesis yang nyata. Perbandingan mieloit:eritroit, yang diluar kehamilan 5 : 1 dan dalam kehamilan 3 : 1 atau 2 : 1, berubah menjadi 10 : 1 atau 20 : 1. Ciri lain ialah bahwa pengobatan dengan segala macam obat penambah darah tidak memberi hasil.

Etiologi anemia hipoplastik karena kehamilan hingga kini belum diketahui dengan pasti, kecuali yang disebabkan oleh sepsis, sinar Rontgen, racun, atau obat-obat. Dalam hal yang terakhir anemianya dianggap hanya sebagai komplikasi kehamilan.

Karena obat-obat penembah darah tidak memberi hasil, maka satu-satunya cara untuk memperbaiki keadaan penderita ialah transfusi darah, yang sering perlu diulang sampai beberapa kali.

Biasanya anemia hipoplastik karena kehamilan, apabila wanita dengan selamat mencapai masa nifas, akan sembuh dengan sendirinya. Dalam kehamilan-kehamilan berikutnya biasanya wanita menderita anemia hipoblastik lagi.

Anemia aplastik (panmieloftisis) dan anemia hipoblastik berat yang tidak diobati mempunyai prognosis buruk, baik bagi ibu maupun bagi anak.

Tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya anemia hemoplastik karena kehamilan. Akan tetapi, dalam pemberian obat-obat pada wanita hamil selalu harus dipikirkan pengaruh samping obat-obat itu. Khususnya obat-obat yang mempunyai pengaruh hemotoksik, seperti streptomisin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin, sulfonamid, klorpromazin, atebrin, dan obat pengecat rambut sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil, jikalau tidak perlu betul.

  1. d. Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemianya biasanya menjadi lebih berat. Sebaliknya mungkin pula bahwa kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia.

Secara umum, anemia hemolitik dapat dibagi dalam 2 golongan besar, yakni :

1.   Golongan yang disebabkan oleh faktor intra korpuskuler, seperti pada sferositosis, eliptositosis, anemia hemolitik herediter, thalasemia, anemia sel sabit, hemoglobinopatia C, D, G, H, I, dan paraxsymal nocturnal haemoglubinuria.

2.   Golongan yang disebabkan oleh faktor ekstrakorpuskuler, seperti pada infeksi (malaria, sepsis, dsb), keracunan arsenikum, neoarsphenamin, timah, sulfonamid, kinin, paraquin, pimaquin, nitrofurantoin, (Furadantin), racun ular, pada defisiensi G-6-PD (glucose-6-phospate-dehidrogenase), antagonismus rhesus (ABO), leukemia, penyakit Hodgkin, limfosarkoma,, penyakit hati, dan lain-lain.

Gejala yang lazim dijumpai ialah gejala-gejala proses hemolitik, seperti anemia, hemoglobinemia, hemoglobinuria, hiperbilirubinenia, hiperurobilinuria, dan sterkobilin lebih banyak dalam feses. Di samping itu terdapat pula sebagai tanda regenerasi darah seperti retikuloositosis dan normoblastemia, serta hiperplasiaerithropoesis dalam sumsum tulang. Pada hemolitik yang herediter kadang-kadang disertai kelainan roentgenologis pada tengkorak dan tulang-tulang lain.

Sumsum tulang menunju8kkan gambaran normoblastik dengan hiperplasia yang nyata, terutama sistem eritropoetik. Perbandingan meiloit : eritoit yang biasanya 3 : 1 atau 2 : 1 dalam kehmilan berubah mejadi 1 : 1 atau 1 : 2.

Frekuensi anemia hemolitik dalam kehamilan tidak tinggi. Terbanyak anemia ini ditemukan pada wanita negro yang menderita anemia sel sabit, anemia sel sabit-hemoglobin C, sel sabit-thalassemia, atau penyakit hemoglobin C. Di Indonesia terdapat juga penyakit thalassemia. Bulan Juli 1975 seorang ibu bangsa Indonesia dengan thalassemia major, Hb 7,7 gr%, dan telah mengalami splenektomi beberapa tahun yang lampau, melahirkan anak pertama hidup dan cukup bulan di RS St. Carolus, Jakarta. Kasus dengan penyakit hemoglobin E-thalassemia yang dipersulit oleh kehamilan dilaporkan untuk pertama kali di Indonesia oleh Lie-Injo Luan Eng dkk. Waktu partus penderita mempunyai Hb 2,8 g% dan menderita dekompensasi kordis karena anemianya. Bayinya prematur dan meninggal 2 hari post partum.

Pengobatan anemia hemolitik dalam kehamilan tergantung pada jenis dan beratnya. Obat-obat penambah darah tidak memberi hasil. Transfusi darah, yang kadang-kadang diulang beberapa kali, diperlukan pada anemia berat untuk meringankan penderitaan ibu dan untuk mengurangi bahaya hipoksia janin. Splenektomi dianjurkan pada anemia hemolitik-bawaan dalam trimester II dan III. Pada anemia hemolitik yang diperoleh harus dicari penyebabnya. Sebab-sebab itu harus disingkirkan, misalnya pemberian obat-obat yang dapat menyebabkan kelumpuhan sumsum tulang harus segera dihentikan.

  1. e. Anemia-anemia lain

Seorang yang menderita anemia, misalnya berbagai anemia hemolitik herediter atau yanhg diperoleh seperti anemia karena malaria, cacing tambang, penyakit ginjal menahun, penyakit hati, tuberkulosis, sifilis, tumor gnas, dan sebagainya, dapat menjadi hamil.dalam hal ini anemianya menjadi lebih berat dan mempunyai pengaruh tidak baik terhadap ibu dalam masa kehamilan, persalinan, nifas, serta bagi anak dalam kandungan.

Pengobaan ditujukan kepada sebab pokok anemianya, misalnya antibiotika untuk infeksi, obat-obat anti malaria, anti sifilis, obat cacing, dan lain-lain.

Prognosis bagi ibu dan anak tergantung pad berat dan sebab anemianya, serta berhasil tidaknya pengobatan.

Anemia adalah suatu keadaan di mana jumlah eritrosit yang beredar atau konsentrasi hemoglobin menurun.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGIS

Ny “S” umur 22 tahun G1 P0 Ab0 Ah0 dengan UK 12 minggu

Di RB Karya Rini, Ponalan Baru Gang 3 Taman Agung Muntilan

NO. REGISTER                                 :  020980

MASUK RS TANGGAL, JAM         : 24 Maret 2010, 16.00 WIB

DIRAWAT DI RUANG                    :  Periksa

Biodata                             Ibu                                           Suami

Nama                  :              Ny Siti Aminatun                    Tn Eko Kuswantoro

Umur                  :              22 tahun                                  25 tahun

Agama                :              Islam                                       Islam

Suku/bangsa       :              Jawa                                        Jawa

Pendidikan         :              SMA                                       SMA

Pekerjaan            :              IRT                                          Wiraswata

Alamat               :              Kemiri Ombo                          Kemiri Ombo

DATA SUBJEKTIF

  1. Kunjungan saat ini      :     Kunjungan ulang.

Keluhan utama            :     Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya.

  1. Riwayat Perkawinan

Kawin 1 kali. Kawin pertama umur 20 tahun. Dengan suami sekarang 2 tahun.

  1. Riwayat Menstruasi

Menarche umur 14 tahun. Siklus 30 hari. Teratur. Lama 7 hari. Sifat darah encer. Bau amis. Tidak ada fluor albus. Tidak dismenorroe.

HPM 24 Desember 2009. HPL 1 Oktober 2010.

  1. Riwayat kehamilan ini.
    1. Riwayat ANC

ANC sejak umur kehamilan 9 minggu. ANC di bidan.

Frekuensi :       Trimester I       1          kali

Trimester II     –           kali

Trimester III    –           kali

  1. Pergerakan janin belum terasa.
  2. Keluhan yang dirasakan : Ibu mengeluh pusing dan lemas.
  3. Pola Nutrisi                          Makan                                     Minum

Frekuensi                              3 kali sehari                             6 gelas/hari

Macam                                 nasi, sayur, lauk                       teh, air putih

Jumlah                                  ½ piring habis                          1 gelas habis

Keluhan                                tidak ada                                 tidak ada

Pola Eliminasi                      BAB                                        BAK

Frekuensi                              1 kali perhari                           5-6 kali perhari

Warna                                   khas feses                                khas urine

Bau                                       khas feses                                khas urine

Konsistensi                           lunak                                       cair

Jumlah                                  tidak terkaji                             tidak terkaji

Pola Aktivitas

Kegiatan sehari-hari       :     Menyapu, memasak, mencuci baju, bersih-bersih rumah.

Istirahat/tidur                 :     Siang 1-2 jam, malam 6-7 jam.

Seksualitas                     :     Frekuensi 3 kali seminggu.

Tidak ada keluhan.

  1. Personal Hygiene

Kebiasaan mandi 2 kali/hari

Kebiasaan membersihkan alat kelamin saat mandi dan sehabis BAB/BAK.

Kebiasaan mengganti pakaian dalam sehabis mandi dan jika lembab.

Jenis pakaian dalam yang digunakan katun.

  1. Imunisasi

TT 1 caten.

TT 2 satu bulan setelah TT pertama.

TT 3 belum.

  1. Riwayat kehamilan, persalinan,dan nifas yang lalu.

G1 P0 Ab0 Ah0

Hamil

Ke

Persalinan Nifas
Tgl lahir UK Jenis persalinan Penolong Komplikasi JK BB Lakta si Kompli kasi
Ibu Bayi
1 HAMIL INI
2
3
  1. Riwayat kontrasepsi yang digunakan.
No Jenis kontrasepsi Mulai memakai Berhenti/ganti cara
Tanggal Oleh Tempat Keluhan Tanggal Oleh Tempat Alasan
1 Ibu mengatakan belum pernah memakai kontrasepsi.
  1. Riwayat kesehatan.
    1. Penyakit sistemik yang sedang/pernah diderita

Ibu mengatakan tidak pernah menderita tekanan darah tinggi, nyeri perut bagian bawah, dada sesak, luka tidak sembuh-sembuh.

  1. Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga.

Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita tekanan darah tinggi, nyeri perut bagian bawah, dada sesak, luka tidak sembuh-sembuh.

  1. Riwayat keturunan kembar.

Ibu mengatakan tidak ada keturunan kembar.

  1. Kebiasaan-kebiasaan.

Ibu mengatakan tidak merokok.

Ibu mengatakan tidak minum jamu-jamuan.

Ibu mengatakan tidak minum-minuman keras.

Ibu mengatakan tidak mempunyai makanan/minuman pantangan.

Ibu mengatakan tidak mengalami perubahan pola makan (termasuk nyidam, nafsu makan turun, dan lain-lain).

  1. Keadaan Psiko Sosio Spiritual.
    1. Kehamilan ini diinginkan.
    2. Pengetahuan ibu tentang kehamilan dan keadaan sekarang.

Ibu kurang mengetahui tentang hal-hal yang harus dilakukan ibu hamil.

  1. Penerimaan ibu terhadap kehamilan saat ini.

Ibu menerima kehamilannya saat ini.

  1. Tangapan keluarga terhadap kehamilan.

Keluarga mendukung kehamilan ibu.

DATA OBJEKTIF

  1. Pemeriksaan Fisik
    1. Keadaan umum baik, kesadaran CM.
    2. Tanda vital

Tekanan darah                :        100/60    mmHg

Nadi                               :        84           kali per menit

Pernafasan                      :        20           kali per menit

Suhu                               :        36,2        C

  1. TB                                  :        158         cm

BB                                  :        sebelum hamil 48 kg, BB sekarang 51 kg

IMT                                :        48/(1,582) = 19,22

LLA                               :        22           cm

  1. Kepala dan Leher

Edema wajah                 :        tidak ada

Cloasma gravidarum      :        +

Mata                               :        konjungtiva pucat, sklera putih

Mulut                             :        caries tidak ada, bibir  pucat, gusi merah muda

Leher                              :        tidak ada pembesaran vena jugularis, kelenjar tiroid, dan limfe

  1. Payudara

Bentuk                           :        simetris

Areola mammae             :        hiperpigmentasi

Puting susu                     :        menonjol

Colostrum                      :        belum keluar

  1. Abdomen

Bentuk                           :        memanjang

Bekas luka                      :        tidak ada

Strie gravidarum            :        ada

Palpasi Leopold

Leopold I                       :        TFU 3 jari di atas simpisis

Leopold II                      :        tidak dilakukan

Leopold III                    :        tidak dilakukan

Leopold IV                    :        tidak dilakukan

Osborn test                     :        tidak dilakukan

Mc Donald                     :        tidak dilakukan

TBJ                                 :        belum bisa dihitung

Auskultasi DJJ               :        tidak dilakukan

  1. Ekstremitas

Edema                            :        tidak ada

Varices                           :        tidak ada

Reflek patela                  :        + / +

Kuku                              :        pendek, bersih

  1. Genetalia luar

Tanda chadwich             :        tidak dilakukan

Varices                           :        tidak dilakukan

Bekas luka                      :        tidak dilakukan

Kelenjar bartholini         :        tidak dilakukan

Pengeluaran                    :        tidak dilakukan

  1. Anus

Hemoroid                       :        tidak dilakukan

  1. Pemeriksaan Panggul Luar

Distansia spinarum               :        24 cm

Distansia kristarum              :        27 cm

Boudelogue                          :        20 cm

Lingkar panggul                   :        90 cm

  1. Pemeriksan Penunjang

Pemeriksaan kadar Hb (24 Maret 2010, pukul 16.08 WIB)

Hasilnya kadar Hb = 9 gr/dL

ASSESMENT

  1. Diagnosis Kebidanan

Seorang ibu umur 22 tahun G1 P0 Ab0 Ah0 UK 12 minggu dengan anemia ringan.

  1. Masalah

Ibu mengatakan lemas dan pusing.

  1. Kebutuhan

KIE tentang bahaya anemia dalam kehamilan.

  1. Diagnosis Potensial

Tidak ada.

  1. Masalah Potensial

Tidak ada.

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Tidak ada

  1. Kolaborasi

Tidak ada

  1. Merujuk

Tidak ada

PLANNING (Termasuk pendokumentasian, implementasi, dan evaluasi)

Tanggal 24 Maret 2010, pukul 16.15 WIB.

  1. Memberitahukan kepada ibu bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan ibu mengalami anemia ringan dengan kadar Hb 9 gr/dL (kadar Hb normal untuk ibu hamil TM 1 adalah >11 gr/dL).

Ibu mengetahui bahwa dirinya mengalami anemia ringan.

  1. Memberi ibu tablet Fe (@500 gr) untuk penambah darah dan tablet Kalk untuk menambah kalsium. Tablet Fe diminum malam hari, tablet Kalk diminum pagi hari, dengan dosis 1×1.

Ibu mengatakan bersedia minum obat sesuai anjuran.

3.        Menjelaskan kepada ibu tentang hal-hal yang harus dilakukan ibu hamil dengan anemia ringan.

ü Makan-makanan yang mengandung zat besi seperti hati, sayuran hijau, kacang-kacangan, daging, dan telur.

ü Menghindari minum teh atau kopi sebelum dan sesudah makan, dan juga saat minum obat, karena akan menghambat penyerapan. Sebaiknya ibu meminum obat dengan air putih atau air jeruk.

Ibu mengetahui penjelasan bidan, dapat mengulang kembali, dan bersedia melakukan anjuran tersebut.

4.        Menganjurkan ibu melakukan kunjungan ulang  1 bulan lagi atau jika ada keluhan.

Ibu mengatakan bersedia melakukan kunjungan ulang 1 bulan lagi atau jika ada keluhan.

DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro, Hanifa.Ilmu Kebidanan.2007.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka

FK Universitas Pajajaran.Obstetri Patologi.1984.Bandung:Elstar Offset

BAB I

PENDAHULUAN

Pembangunan Nasional mencakup upaya peningkatan semua segi kehidupan bangsa. Agar penduduk dapat berfungsi sebagai modal pembangunan dan merupakan sumberdaya manusia yang efektif dan produktif maka perlu ditingkatkan kualitas fisik dan nonfisik  Salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan dalam mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia adalah gizi. Pentingnya gizi dalam pembangunan kualitas hidup didasarkan pada beberapa hal yaitu: pertama keadaan gizi erat hubungannya dengan tingginya angka kesakitan dan angka kematian; kedua meningkatnya keadaan gizi penduduk merupakan sumbangan yang besar dalam mencerdaskan bangsa; ketiga lebih baiknya status gizi dan kesehatan akan memperbaiki tingkat produktifitas kerja penduduk. Masalah gizi di Indonesia tidak lepas dari masalah pangan karena tubuh manusia memerlukan sejumlah pangan dan gizi secara tetap sesuai dengan standart kecukupan gizi namun kebutuhan tersebut tidak selalu dapat terpenuhi.

Penduduk yang miskin tidak mendapatkan pangan dan gizi dalam jumlah yang cukup. Mereka menderita lapar pangan dan gizi mereka menderita lapar gizi. Sebaliknya sekelompok masyarakat mengkonsumsi pangan secara berlebihan. Oleh karena itu timbullah penyakit-penyakit degeneratif akibat gizi lebih. Akibat dari keadaan tidak seimbangnya antara zat gizi yang masuk kedalam tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi.

Di Indonesia penyakit gangguan gizi yang masih sering ditemukan dan merupakan masalah gizi utama adalah :

a). gangguan gizi akibat kekurangan kalori dan protein (KKP),

b). gangguan gizi akibat kekurangan vitamin A (KVA),

c). gangguan gizi akibat kekurangan Iodium (GAKI),

d). gangguan gizi akibat kekurangan zat besi (Anemia gizi)

Anemia gizi pada umumnya dijumpai di Indonesia terutama disebabkan karena kekurangan zat besi, sehingga anemia gizi sering disebut sebagai anemia kurang besi  Disamping itu kekurangan asam folat dapat merupakan faktor kontribusi terhadap terjadinya anemia, terutama terjadi pada segmen populasi tertentu yaitu ibu hamil. Kekurangan vitamin B 12 tidak umum terjadi, dan tidak mempunyai peranan penting dalam penyebab terjadinya anemia gizi.

Anemia kurang besi adalah salah satu bentuk gangguan gizi yang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di seluruh dunia, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyebab utama anemia kurang besi tampaknya adalah karena konsumsi zat besi yang tidak cukup dan absorbsi zat besi yang rendah dari pola makanan yang sebagian besar terdiri dari nasi, dan menu yang kurang beraneka ragam. Konsumsi zat besi dari makanan tersebut sering lebih rendah dari dua pertiga kecukupan konsumsi zat besi yang dianjurkan, dan susunan menu makanan yang dikonsumsi tergolong pada tipe makanan yang rendah absorbsi zat besinya. Selain itu infeksi cacing tambang memperberat keadaan anemia yang diderita pada daerah-daerah tertentu, terutama di daerah pedesaan.

Kelompok masyarakat yang paling rawan adalah ibu hamil, anak prasekolah dan bayi. Terjadinya anemia pada bayi erat hubungannya dengan taraf gizi ibunya. Berkurangnya zat besi dalam makanan, meningkatnya kebutuhan akan zat besi, atau kehilangan darah yang khronis dan adanya infeksi kecacingan akan menambah kemungkinan timbulnya anemia.

Anemia kurang besi merupakan penyebab penting yang melatar belakangi kejadian morbiditas dan mortalitas, yaitu kematian ibu pada waktu hamil dan pada waktu melahirkan atau nifas sebagai akibat komplikasi kehamilan. Sekitar 20 % kematian maternal negara berkembang penyebabnya adalah berkaitan langsung dengan anemia kurang besi. Disamping pengaruhnya kepada kematian, anemia pada saat hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin, berat bayi lahir rendah dan peningkatan kematian perinatal.

Berdasarkan hasil penelitian terpisah yang dilakukan di beberapa tempat di Indonesia pada tahun 1980, prevalensi pada ibu hamil berkisar antara 50-70 %, wanita dewasa tidak hamil 30-40 %, laki-laki dewasa 20-30 %, pekerja berpenghasilan rendah 30-40 % dan anak sekolah 25-35 % serta Balita 30-40 % .

Dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992 menemukan bahwa angka prevalensi anemia gizi ibu hamil cukup tinggi yaitu 55,1 %. Keadaan ini menunjukkan bahwa masalah anemia pada ibu hamil belum banyak berubah dibandingkan pada akhir Pelita IV yang juga masih sekitar 55 % (12).

Prevalensi anemia kurang besi pada ibu hamil masih sangat memprihatinkan terutama pada usia kehamilan trimester III dibandingkan trimester I. Infeksi kecacingan di Indonesia, prevalensinya juga cukup tinggi terutama di daerah pedesaan yang kondisi lingkungannya sangat mendukung untuk perkembangan cacing yang daur hidupnya adalah di dalam tanah. Hasil survei yang telah diadakan hingga saat ini memberikan prevalensi yang cukup tinggi yaitu 70-90 % untuk cacing gelang, 80-95 % untuk cacing cambuk dan untuk cacing tambang prevalensinya lebih rendah dari kedua di atas yaitu 30-59%, karena untuk cacing tambang lebih banyak ditemukan di daerah perkebunan dan pertambangan .

Anemia kurang besi dipengaruhi juga oleh konsekuensi dari infeksi kecacingan dengan hilangnya darah secara khronis . Penyakit kecacingan dan anemia gizi merupakan masalah yang saling terkait dan dijumpai bersamaan dalam suatu masyarakat, yaitu karena rendahnya sosial ekonomi masyarakat dan sanitasi lingkungan yang sangat tidak memadai sehingga memudahkan terjadinya penularan penyakit infeksi terutama infeksi kecacingan.

Interaksi antara infeksi kecacingan dan anemia gizi sudah banyak terungkap dari berbagai penelitian yang telah dilakukan. Masing-masing saling memberikan kontribusi terhadap terjadinya kesakitan. Besarnya kontribusi dari infeksi kecacingan terhadap anemia kurang besi masih belum banyak dibuktikan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kecacingan merupakan masalah kesehatan yang perlu penanganan serius terutama di derah tropis karena cukup banyak penduduk menderita kecacingan.  Penyakit kecacingan merupakan salah satu penyakit infeksi yang paling sering ditemukan di negara-negara berkembang. Di Indonesia penyakit kecacingan masih merupakan masalah yang besar untuk kasus anemia defisiensi besi, karena diperkirakan cacing menghisap darah 2-100 cc setiap harinya (Nasution, 2004).

Cacingan dan anemia merupakan dua hal saling terkait. Isu kesehatan seperti cacingan dan anemia tidak mendapat banyak perhatian karena dipandang tidak “seseksi” isu-isu kesehatan yang lain. Menurut Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), anemia merupakan isu yang kritis, khususnya kalau dihubungkan dengan angka kematian ibu melahirkan (AKI) akibat anemia berkisar 70 persen dari seluruh penyebab AKI sejak 20 tahun lalu yang ahttp://www.pppl.depkes.go.id/ngkanya tidak pernah turun tiap tahunnya.

Secara umum, kecacingan pada ibu hamil dapat menyebabkan :

  1. Menyebabkan anemia defisiensi zat besi

Infeksi kecacingan pada manusia baik oleh cacing gelang, cacing cambuk maupun cacing tambang dapat menyebabkan pendarahan yang menahun yang berakibat menurunnya cadangan besi tubuh dan akhirnya menyebabkan timbulnya anemia kurang besi. Pada daerah-daerah tertentu anemia gizi diperberat keadaannya oleh investasi cacing terutama oleh cacing tambang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan memakan darah. Akibat gigitan sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari dalam badan bersama tinja. Jumlah cacing yang sedikit belum menunjukkan gejala klinis tetapi bila dalam jumlah yang banyak yaitu lebih dari 1000 ekor maka orang yang bersangkutan dapat menjadi anemia.

  1. Menurunkan efektivitas vaksin TT dan DPT pada ibu hamil

Infeksi cacing merupakan masalah kesehatan di negara-negara tropis, termasuk Indonesia, yang terabaikan. Padahal, infeksi cacing kronis menurunkan respons imun pada ibu hamil dan bayi yang dilahirkan terhadap antigen tetanus toksoid atau TT meski telah divaksinasi. Respon imun terhadap TT pada ibu hamil yang rendah dan ditambah infeksi cacing yang menyertai, dimungkinkan akan berakibat pada bayi yang dilahirkan.

Infeksi tetanus merupakan penyakit yang dapat dicegah. Di sejumlah negara maju di mana kontrol terhadap sanitasi, higienis, dan penyakit infeksi seperti cacing sudah berhasil, pemberian vaksinasi tetanus sangat efektif untuk menurunkan angka kasus infeksi tetanus. Di lain pihak, vaksinasi TT di negara-negara tropis dan berkembang kurang optimal hasilnya.

Sejumlah studi membuktikan, antigen dari ibu hamil terinfeksi cacing dapat menembus plasenta dan menstimulasi sistem imun janin yang dikandung. Keadaan ini akan memengaruhi respons imun bayi pada antigen lain seperti vaksin.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan banyaknya kasus kegagalan program vaksinasi tetanus di daerah Asia dan Afrika terkait dengan beberapa faktor, seperti ketidaktepatan jadwal imunisasi, potensi vaksin rendah, serta rendahnya respons imun ibu. Padahal, angka kasus infeksi cacing di banyak negara di Asia dan Afrika masih tinggi.

  1. Menurunkan berat badan ibu hamil

Kekurangan micronutrient dalam darah menyebabkan pasokan gizi ibu hamil dan janin berkurang. Keadaan yang demikian jika dibiarkan berlanjut selama kehamilan akan meyebabkan berat badan ibu hamil tidak bertambah bahkan bisa berkurang karena cadangan gizi ibu hamil ditujukan untuk pertumbuhan janin.

  1. Menyebabkan perdarahan pada usus

Perdarahan terjadi akibat proses penghisapan aktif oleh cacing dan juga akibat perembesan darah disekitar tempat hisapan. Cacing berpindah tempat menghisap setiap 6 jam perdarahan ditempat yang ditinggalkan segera berhenti dan luka menutup kembali denqan cepat karena turn over sel epithel usus sangat cepat.

Kehilangan darah yang terjadi pada infeksi kecacingan dapat disebabkan oleh adanya lesi yang terjadi pada dinding usus juga oleh karena dikonsumsi oleh cacing itu sendiri walaupun ini masih belum terjawab dengan jelas termasuk berapa besar jumlah darah yang hilang dengan infeksi cacing ini.

5.  Menyebabkan kekurangan mikronutrien ibu hamil

Cacing pada usus ibu hamil selain menyebabkan perdarahan, juga menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi makanan yang masuk. Jika selama kehamilan tersebut cacing masih terdapat pada usus, maka penyerapan micronutrient akan terganggu. Micronutrient dalam darah cenderung menurun.

Pada ibu hamil, kekurangan micronutrient menyebabkan menurunnya kemampuan untuk melahirkan anak-anak yang sehat dan berotak cerdas. Sementara cacing trikhuris dapat menimbulkan perdarahan kecil yang dapat menimbulkan anemia, meski tak separah cacing tambang.

Komplikasi

  1. Bila cacing dalam jumlah besar menggumpal dalam usus dapat terjadi obstruksi usus (ileus)
  2. Anemia berat
  3. Perdarahan
  4. BBLR
  5. Kecacingan berat dapat menyebabkan radang paru, gangguan hati, kebutaan, penyumbatan usus, bahkan kerusakan tubuh secara signifikan yang meninggalkan kecacatan

Diagnosis

Dilakukan skrining uji feces pada ibu hamil. Untuk mengetahui banyaknya cacing di dalam usus dapat dilakukan dengan menghitung banyaknya telur dalam tinja. Bila didalam tinja terdapat sekitar 2000 telur/ gram tinja, berarti ada kira-kira 80 ekor cacing tambang di dalam perut dan dapat menyebabkan darah yang hilang kira-kira sebanyak 2 ml per hari. Dengan jumlah 5000 telur/gram tinja adalah berbahaya untuk kesehatan orang dewasa. Bila terdapat 20.000 telur/gram tinja berarti ada kurang lebih 1000 ekor cacing tambang dalam perut yang dapat menyebabkan anemia berat.

Tanda dan Gejala Klinis

Tanda Kecacingan adalah ditemukan minimal 2000 telur/gram tinja.

Gejala-gejala cacingan antara lain:

  1. Perut buncit
  2. Gatal-gatal sekitar anus
  3. Muntah ada cacing
  4. Cacing dalam kotoran
  5. Anemia atau kurang darah
  6. Penyumbatan usus
  7. Fesesnya encer, kadang bercampur lendir dan darah, cacing tampak keluar dalam feses

Penanganan

Pada kondisi hamil, selama sepertiga pertama kehamilan (trimester pertama) sebaiknya tidak minum obat yang membunuh cacing. Namun, langkah-langkah kebersihan saja dapat bekerja. Cacing mati setelah sekitar enam minggu. Dengan syarat ibu hamil tidak menelan telur baru, maka tidak ada cacing baru akan tumbuh. Selama 6 minggu tersebut ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan untuk mematahkan siklus cacing sehingga tidak terjadi re-infeksi. Setelah trimester pertama, pengobatan mungkin perlu dilakukan namun harus dibawah pengawasan dokter. Obat yang biasa digunakan yaitu :

  1. Pirantel pamoat 10 mg/kg BB per hari selama 3 hari.
  2. Mebendazol 500 mg dosis tunggal (sekali saja) atau 100 mg 2 x sehari selama tiga hari berturut-turut
  3. Albendazol 400 mg dosis tunggal (sekali saja)
  4. Ditambah sulfas ferrous 500 mg 2 x sehari

Langkah pencegahan :

Pertama, bertujuan untuk membersihkan telur:

  1. Mencuci pakaian tidur, sprei, handuk.  Membuang kain setelah digunakan. Perhatian khusus pada kamar tidur termasuk debu kasur.
  2. Benar-benar membersihkan kamar mandi.

Kemudian, setiap anggota rumah tangga harus melakukan berikut ini selama dua minggu:

  1. Tidak menyentuh kulit di dekat anus dan menggaruk daerah anus
  2. Setiap pagi mandi mencuci di sekitar dubur langsung setelah bangun dari tempat tidur.
  3. Idealnya, perubahan dan mencuci pakaian tidur setiap hari.

Dan kebersihan umum langkah-langkah yang harus selalu bertujuan untuk lakukan untuk mencegah mendapatkan infeksi cacing lagi:

  1. Cuci tangan dan gosok di bawah kuku di pagi hari, setelah menggunakan toilet atau, dan sebelum makan atau menyiapkan makanan.
  2. Cobalah untuk tidak menggigit kuku atau menghisap jari
  3. Jika mungkin, hindari berbagi handuk atau flanel. Bilas dengan baik sebelum digunakan.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN KECACINGAN

KASUS:

Seorang ibu primigravida umur 22 tahun, HPMT: 15 Desember 2009, HPL : 22 September 2010. Umur Kehamilan 9 minggu 1hari. Mengeluh merasa dan gatal-gatal pada telapak kaki  sejak 3 minggu yang lalu, tinja encer ketika BAB dan mual muntah ±3 kali dalam 1 hari. Ibu bekerja sebagai  ibu rumah tangga.

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

G1P0Ab0Ah0 umur 22 tahun uk 9 minggu, normal

Di BPRB Amanah Husada.

Tanggal Pengkajian     : 17 Februari 2010, jam 14.00

Data Subjektif

  1. Ibu mengatakan bahwa ia merasa gatal-gatal pada telapak kaki sejak 3 minggu yang lalu.
  2. Ibu mengeluh mual, muntah dengan frekuensi ± 3kali sehari dan tinja encer ketika BAB.

Data Objektif

  1. Pemeriksaan fisik
    1. Keadaan umum     : Baik. Kesadaran : compos mentis
    2. Tanda vital

Tekanan darah       : 120/80 mmHg

Nadi                      : 86 kali permenit

Pernafasan : 12 kali permenit

Suhu                      : 36.6 0C

  1. BB: 47 kg
  2. Kepala dan leher

Mata :konjungtiva merah muda, sklera putih, tidak ada odem palpebrae.

Mulut : bibir lembab, gusi merah muda, tidak ada caries gigi, tidak ada pembesaran tonsil.

  1. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium (feces)

Tanggal 16 Februari 2010 jam : 10.00

Hasil pemeriksaan : Terdapat sekitar 2000 telur/ gram tinja dengan jenis cacing ankilostomiasis.

ASSESMENT

  1. Diagnosis Kebidanan

G1P0Ab0Ah0 umur 22 tahun, uk 9 minggu dengan kecacingan.

  1. Masalah

Gatal-gatal pada sekitar telapak kaki dan mual muntah.

  1. Kebutuhan

KIE tentang cara menjaga kebersihan dan cara mengatasi mual dan muntah yang dialami ibu.

  1. Diagnosis Potensial

Kecacingan potensial menjadi anemia.

  1. Masalah Potensial

Untuk saat ini tidak ada

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Tidak ada

  1. Kolaborasi

Laboratorium Avicena untuk pemeriksaan feces

  1. Merujuk

Tidak ada

PLANNING ( Termasuk Pendokumentasian implementasi dan Evaluasi )

Tanggal 17 Februari 2010 jam 14.20 WIB

  1. Memberitahu ibu bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium ibu menderita kecacingan.

E: Ibu mengerti dengan kondisinya sekarang.

  1. Memberi KIE kepada ibu tentang cara meringankan mual dan muntah yang dialami ibu yaitu:
    1. Makan dengan porsi sedikit tetapi sering
    2. Mengkonsumsi biskuit atau roti kering untuk mengurangi muntah
    3. Menghindari makanan yang berbumbu tajam.
    4. Berhati-hati setiap kali bangun dari tempat tidur, tunggu 5-10 menit dahulu baru kemudian diperkenankan untuk bangun.

E: Ibu mampu untuk menyebutkan kembali bagaimana cara untuk meringankan mual dan muntah yang dialaminya.

  1. Memberi KIE kepada ibu tentang bagaimana mengatasi kecacingan yang dialaminya, yaitu :

Pada kondisi hamil tiga bulan pertama, sebaiknya ibu tidak minum obat yang membunuh cacing karena cacing mati setelah sekitar enam minggu. Tetapi ibu perlu untuk meningkakan kebersihan dirinya. Selama 6 minggu tersebut ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan sehingga cacing tidak berkembangbiak kembali.

Cara meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan misalnya dengan cara:

  1. Menjaga kebersihan dengan mencuci pakaian tidur, sprei, handuk
  2. Benar-benar membersihkan kamar mandi, sering mencuci kain dengan air panas.
  3. Menjaga kebersihan makanan dan mencuci tangan sebelum makan.

E: Ibu mampu menyebutkan kembali bagaimana cara meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan..

  1. Memberikan suplement kepada ibu yaitu tablet besi 1×1 250 mg yang diminum malam hari dan yang diminum tiap pagi.

Menyarankan ibu untuk mengkonsumsi tablet besi menggunakan air jeruk dan tidak menggunakan air teh, susu atau kopi.

E: Ibu bersedia untuk minum suplement secara teratur dan ibu mampu menyebutkan kembali bagaimana cara minum suplement dengan benar.

  1. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1 bulan kemudian yaitu tanggal 17 Maret 2010.

E: Ibu akan melakukan kunjungan ulang pada tanggal 17 Maret 2010.

DAFTAR PUSTAKA

Cacingan, Anemia, AKI, Gaya Hidup diunduh tanggal 23 Maret 2010 jam 19.00 WIB dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0411/01/swara/1356956.htm.

http://indobic.biotrop.org diunduh tanggal 13 Maret 2010 jam 21.00 WIB

Threadworms diunduh tanggal 29 Maret 2010 jam 12.30 WIB dari http://www.patient.co.uk/health/Threadworms.htm.

Mencegah dan Mengatasi Cacingan diunduh tanggal 29 Maret 2010 jam 10.05 WIB dari http://www.dechacare.com/Mencegah-dan-Mengatasi-Cacingan-I757.html

Anemia Defisiensi Besi diunduh tanggal 29 Maret 2010 jam 12.15 WIB dari http://www.pppl.depkes.go.id/

Rubrik Sehat diunduh tanggal 27 Maret 2010 jam 16.00 WIB dari http://www.tabloid-nakita.com/artikel