Posts Tagged ‘makalah’

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

  1. DEFINISI

Tolok Ukur Bayi Gizi Baik :

  1. Terjadi pertumbuhan berat badan, dengan patokan:
    1. 0-3 bulan pertama, rata-rata 30 gram per hari, minimal 20 g.
    2. 3-6 bulan pertama itu, sekitar 20 gr per hari
    3. 6-12 bulan, sekitar 15-20 gr  per hari.
    4. Tinggi dan berat badan bayi proporsional. Rangenya, 90%-110%  dari  proporsi tinggi dan berat badan ideal.

 

Ada satu kurva atau grafik untuk melihat apakah bayi menjadi lebih kurus atau tidak. Pencatatan biasanya dilakukan setiap bulan, sehingga akan tampak bagaimana grafik pertumbuhan badan si bayi.

 

Normalnya, berat badan (BB) bayi baru lahir harus mencapai 2.500 gram. Tidak terlalu besar, juga tak kelewat kecil. Sebab kalau terlalu kecil, dikhawatirkan organ tubuhnya tak dapat tumbuh sempurna sehingga dapat membahayakan sang bayi sendiri. Sebaliknya, terlalu besar juga ditakutkan sulit lahir dengan jalan normal dan mesti lewat operasi sesar.

 

Pertambahan BB bayi bisa dilihat per triwulan. Pada triwulan I, kenaikan BB berkisar 150-250 gram/minggu, triwulan II kenaikannya 500-600 gram/bulan, triwulan III naik 350 – 450 gram/bulan, dan triwulan IV sekitar 250-350 gram/bulan.

 

Jelas terlihat,triwulan I pertambahan BB berlangsung lebih cepat dibanding dengan triwulan II, III, dan IV. Ini wajar karena pertumbuhan BB di bulan berikutnya lebih rendah dari bulan sebelumnya. Namun bila pertumbuhan BB berkurang secara drastis, bisa dijadikan ancang-ancang untuk melakukan tindakan lanjutan.

 

Umumnya, acuan untuk melihat normal-tidaknya BB adalah saat usianya mencapai 6 bulan dan 1 tahun. Di usia 6 bulan, BB bayi harus mencapai 2 kali lipat berat lahir dan menjadi 3 kali lipatnya pada usia 1 tahun. Kurang dari ini, maka BB nya bisa disebut rendah atau termasuk bayi kurus.

 

Meski saat lahir BB-nya normal, belum tentu juga selanjutnya perkembangan BB-nya akan normal sesuai dengan pertumbuhannya. Pada fase tertentu, ada kecenderungan pertambahan berat badan bayi akan melambat. Antara 1 sampai 6 bulan, pertambahan BB bayi terbilang cepat,tapi di atas 6 bulan, pertambahannya melambat. Ini terjadi hampir pada seluruh bayi. Salah satu penyebabnya, karena pada tahap ini biasanya bayi sudah lebih banyak bergerak dan pertumbuhannya mengarah ke pertinggian badan.

 

Bila pertambahan BB bayi di usia 6 bulan, misalnya, menjadi tidak normal alias tidak bertambah atau malah berkurang, perlu dilihat penyebabnya. Mungkin ada penyakit yang bersarang di tubuhnya semisal penyakit infeksi terutama TBC dan diare. Penyakit membuat nafsu makan anak berkurang dan akhirnya BB-nya tak mau naik.

 

 

  1. PENYEBAB GIZI BURUK

Gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Secara garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang atau anak sering sakit / terkena infeksi.

 

  1. Asupan makanan yang kurang disebabkan oleh banyak faktor antara lain :
  1. Tidak tersedianya makanan secara adekuat

Tidak tersedinya makanan yang adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial ekonomi. Kadang kadang bencana alam, perang, maupun kebijaksanaan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi.

 

  1. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang

Makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu Air Susu Ibu, dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan.

 

  1. Pola makan yang salah.

Suatu studi “positive deviance” mempelajari mengapa dari sekian banyak bayi dan balita di suatu desa miskin hanya sebagian kecil yang gizi buruk, padahal orang tua mereka semuanya petani miskin. Dari studi ini diketahui pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk.

 

  1. Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak .

Misalnya kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu ( misalnya tidak memberikan anak anak daging, telur, santan dll) , hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup.

  1. Dipengaruhi saat masih berada dalam kandungan.

Inilah yang sangat menentukan karena di situlah pembentukan dan pertumbuhan organ tubuh dimulai. Kandungan yang sehat ditentukan oleh ibu yang sehat. Bila ibu menderita penyakit, semisal infeksi paru, kondisi janin pun ikut terpengaruh. Darah yang tersuplai ke tubuh janin bisa saja menjadi jalan untuk mewarisi penyakit yang diderita ibunya.

  1. Asupan nutrisi yang dikonsumsi ibu ketika hamil.

Biasanya, berkurangnya nutrisi yang dikonsumsi si ibu, otomatis berkurang pula asupan nutrisi pada janin yang ditransportasikan lewat plasenta. Kekurangan ini bisa disebabkan karena ibu sulit sekali untuk mengkonsumsinya kala sakit selama hamil atau memang malas memperhatikan nutrisi yang diperlukan semasa hamil. Gara-gara kurang nutrisi inilah, bayi bisa mengalami BB rendah dan tampak kurus.

 

  1. Sering sakit (frequent infection)

 

Menjadi penyebab terpenting kedua kekurangan gizi, apalagi di negara negara terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan kebersihan / personal hygine yang masih kurang, serta ancaman endemisitas penyakit tertentu, khususnya infeksi kronik seperti misalnya tuberculosis (TBC) masih sangat tinggi. Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan meyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi.

 

 

  1. TANDA DAN GEJALA

Penggunaan kartu menuju sehat dan pemberian makanan tambahan di posyandu perlu digalakkan lagi. Tindakan cepat pada balita yang 2x berturut-turut tidak naik timbangan berat badan untuk segera mendapat akses pelayanan dan edukasi lebih lanjut, dapat menjadi sarana deteksi dan intervensi yang efektif.

Balita Gizi Buruk adalah anak yang berusia 0-5 tahun yang BB/Unya – 3 SD dan mempunyai tanda-tanda klinis (marasmus, kwashiorkor, dan marasmik-kwashiorkor)

 

Tanda-tanda Kwashiorkor :

  1. Edema umumnya di seluruh tubuh terutama pada kaki ( dorsum pedis )
  2. Wajah membulat dan sembab
  3. Otot-otot mengecil, lebih nyata apabila diperiksa pada posisi berdiri dan duduk,

anak berbaring terus menerus.

  1. Perubahan status mental : cengeng, rewel kadang apatis.
  2. Anak sering menolak segala jenis makanan ( anoreksia ).
  3. Pembesaran hati
  4. Sering disertai infeksi, anemia dan diare / mencret.
  5. Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut.
  6. Gangguan kulit berupa bercak merah yang meluas dan berubah menjadi hitam

terkelupas ( crazy pavement dermatosis ).

  1. Pandangan mata anak nampak sayu.

 

Tanda-tanda Marasmus :

  1. Anak tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit.
  2. Wajah seperti orangtua
  3. Cengeng, rewel
  4. Perut cekung.
  5. Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada.
  6. Sering disertai diare kronik atau konstipasi / susah buang air, serta penyakit kronik.
  7. Tekanan darah, detak jantung dan pernafasan berkurang.

 

Tanda-tanda Marasmus-Kwashiorkor :

Tanda-tanda marasmus – kwashiorkor  merupakan gabungan tanda-tanda dari marasmus dan kwashiorkor.

 

  1. JENIS-JENIS KEKURANGAN GIZI

Kurang gizi biasanya ditandai dengan adanya kekurangan zat gizi mikro, seperti vitamin dan mineral. Sementara karbohidrat, protein dan lemak adalah 3 unsur pokok yang makro. ”Itu semua sudah terkandung di ASI. Pada 6 bulan pertama, kalau ibunya sehat, anaknya sehat dan bisa mengkonsumsi ASI, suplemen tidak perlu lagi,” tegas Tinuk lagi.

 

zat gizi yang dibutuhkan oleh pertumbuhan anak, harus mengacu pada pola gizi lengkap dan seimbang, dan tidak mengacu pada keunggulan satu jenis makanan saja. Jika diduga terjadi malnutrisi, untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pemeriksaan darah atau air kemih guna mengukur kadar zat gizi.

 

  1. Kekurangan vitamin E

Kekurangan vitamin E relatif sering dijumpai pada bayi prematur karena penghantaran vitamin-vitamin yang larut dalam lemak oleh plasenta tidak berlangsung terlalu baik dan keadaan ini semakin diperburuk oleh prematuritas bayi. Susu formula yang kaya akan asam lemak tak jenuh ganda menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan vitamin E, terutama pada bayi prematur yang tidak mampu menyerap vitamin E.

 

Kekurangan vitamin E juga bisa terjadi pada anak-anak yang menderita penyakit yang menyebabkan gangguan penyerapan lemak, seperti fibrosis kistik dan kelainan genetik tertentu. Pemberian zat besi yang berlebihan juga dapat menyebabkan kekurangan vitamin E.

 

Bayi prematur yang menderita kekurangan vitamin E, pada usia 6-10 minggu bisa mengalami kelemahan otot disertai anemia hemolitik, akibat berkurangnya kadar vitamin E dalam darah. Hal ini bisa diatasi dengan pemberian vitamin E. Kekurangan vitamin E memegang peran penting dalam terjadinya retinopati pada prematuritas, yaitu suatu kelainan mata yang akan semakin memburuk jika bayi terkena oksigen kadar tinggi di dalam inkubator.

 

Anak-nak yang menderita malabsorbsi usus bisa mengalami kekurangan vitamin E yang berat, yang menyebabkan sejumlah gejala neurologis (saraf), seperti berkurangnya refleks, kesulitan dalam berjalan, penglihatan ganda, hilangnya sensasi posisi dan kelemahan otot. Gejala-gejala tersebut akan memburuk secara progresif, tetapi dapat diatasi dengan pengobatan.

 

  1. Kekurangan vitamin K

Pada bayi baru lahir, bentuk kekurangan vitamin K yang sering ditemukan adalah penyakit hemoragik pada bayi baru lahir. Penyakit ini terjadi karena:

  1. Plasenta tidak terlalu baik dalam menghantarkan lemak (termasuk vitamin yang larut dalam lemak)
  2. Hati bayi yang baru lahir masih kurang matang untuk menghasilkan sejumlah protrombin (salah satu faktor pembekuan darah)
  3. Air susu ibu mengandung sedikit vitamin K, yaitu hanya 1-3 mikrogram/L, sedangkan susu sapi mengandung 5-10 mikrogram/L
  4. Pada beberapa hari pertama kehidupan bayi, di dalam ususnya belum ditemukan bakteri penghasil vitamin K.

 

Penyakit hemoragik pada bayi baru lahir biasanya terjadi pada hari ke 1-7. Gejalanya berupa perdarahan di dalam kulit, di dalam lambung atau di dalam dada. Pada kasus yang sangat berat, perdarahan bisa terjadi di dalam otak. Penyakit hemoragik lanjut timbul pada usia 1-3 bulan dan menyebabkan gejala yang sama dengan penyakit hemoragik pada bayi baru lahir. Penyakit ini biasanya berhubungan dengan malabsorbsi atau penyakit hati.

 

Angka kejadian kedua penyakit hemoragik tersebut meningkat pada bayi-bayi yang ketika masih berada dalam kandungan, ibunya mengkonsumsi:

  1. obat anti-kejang hidantoin (misalnya phenitoin)
  2. antibiotik cephalosporin
  3. antikoagulan kumarin (misalnya warfarin).

 

Untuk mencegah terjadinya penyakit hemoragik pada bayi baru lahir, dianjurkan untuk memberikan suntikan vitamin K melalui otot dalam waktu 1 jam setelah bayi lahir. Pemberian melalui mulut tidak dianjurkan karena penyerapannya bervariasi dan keberadaanya di dalam tubuh tidak dapat diramalkan.

 

 

  1. Skurvi infantil

Skurvi Infantil adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh tidak adekuatnya asupan vitamin C (asam askorbat), karena pemakaian susu formula yang hanya mengandung sedikit vitamin C. Penyakit ini biasanya timbul pada usia 6-12 bulan. Gejala awal berupa rewel, nafsu makan yang buruk dan berat badan tidak bertambah. Jika digerakkan, bayi akan menjerit dan tidak mau menggerakkan tungkainya karena nyeri akibat perdarahan di bawah lapisan tipis pada jaringan pembungkus tulang.

 

Pada anak-anak yang lebih besar, perdarahan bisa terjadi di bawah kulit; gusi di sekeliling gigi yang sedang tumbuh juga mudah berdarah. Vitamin C penting untuk pembentukan jaringan ikat (jaringan yang mengikat struktur tubuh), skurvi bisa menyebabkan kelainan pada tulang rusuk dan pada tulang panjang tungkai. Pada tulang rusuk, persambungan diantara tulang dan tulang rawan melebar, membentuk sederetan benjolan yang disebut tasbih skorbutik. Skurvi juga menyebabkan terganggunya proses penyembuhan luka.

 

Skurvi bisa dicegah dengan memberikan vitamin C yang adekuat, sumber yang sangat baik adalah buah-buahan dan jus asam (lemon, jeruk). Kepada bayi yang diberi susu formula, sebaiknya diberikan vitamin C sebanyak 35 mgr/hari (sama dengan 85 gram jus jeruk/lemon). Ibu yang menyusui sebaiknya mengkonsumsi vitamin C sebanyak 100 mg/hari. Untuk mengobati skurvi, diberikan vitamin C sebanyak 100-200 mgr/hari selama 1 minggu, selanjutnya diberikan 50 mg/hari.

 

  1. Kekurangan asam lemak esensial

Asam lemak esensial terdiri dari:

  1. asam linoleat
  2. asam linolenat
  3. asam arakidonat
  4. asam eikopentaenoat
  5. asam dokosaheksaenoat.

 

Asam lemak esensial harus terkandung di dalam makanan sehari-hari. Di dalam tubuh, asam arakidonat bisa dibuat dari asam linoleat; asam eikosapentanoat dan asam dokosaheksaenoat dapat dibuat dari asam linolenat.

 

Asam linoleat dan asam linolenat bisa ditemukan dalam minyak sayur (misalnya minyak jagung, minyak biji kapas dan minyak kadang kedele); sedangkan asam eikosapentanoat dan asam dokosaheksaenoat ditemukan dalam minyak ikan.

Asam lemak esensial penting untuk berbagai proses fisiologis, termasuk mempertahankan keutuhan kulit dan struktur selaput sel serta mensintesa senyawa biologis aktif yang penting (misalnya prostaglandin dan leukotrien).

 

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa asam lemak esensial penting untuk perkembangan penglihatan yang normal pada bayi. Kekurangan asam linoleat bisa terjadi pada bayi yang susu formulanya mengandung sedikit asam lemak tak jenuh ganda.

 

Gejalanya berupa kulit kering dan bersisik yang kemudian akan mengelupas. Dari lipatan kulit (terutama di sekitar anus) keluar cairan yang menyerupai nanah. Kekurangan asam lemak esensial juga dapat menyebabkan perubahan yang berarti pada proses metabolisme, yang mempengaruhi kandungan lemak dalam darah, fungsi trombosit, respon peradangan dan respon kekebalan tertentu.

 

Gejala yang sama dapat ditemukan pada pasen yang menerima makanan melalui infus dalam jangka panjang tetapi tidak mendapatkan asam lemak esensial. Jika asam linolenat tidak terkandung dalam makanan yang diberikan melalui infus jangka panjang, maka akan terjadi komplikasi neurologis berupa mati rasa, kelemahan, tidak dapat berjalan, nyeri tungkai dan pandangan kabur, disertai kadar asam linolenat yang sangat rendah dalam darah. Gejala-gejala tersebut akan menghilang setelah diberikan asam linolenat

 

 

  1. PENANGANAN

 

Bayi dengan BB rendah berisiko terserang penyakit lebih besar dibanding dengan yang punya BB normal. Meski belum tentu begitu jika memang kesehatannya baik-baik saja, namun bila terlalu kurus, segera konsultasi ke dokter.

 

Untuk kembali ke kondisi normal, waktu yang diperlukan sangat relatif. Bila penanganannya dilakukan dengan kontinyu dan serius, mungkin lebih cepat. Begitu pula sebaliknya. Tetapi, bila bayi kurus tak segera diobati, dikhawatirkan akan menimbulkan komplikasi.

 

Untuk mengembalikannya menjadi normal harus dilihat apa yang menjadi sebabnya. Jika penyebabnya karena penyakit, si penyakit harus disembuhkan secara total. Pada saat yang sama pula, bayi diberi nutrisi yang cukup agar ia tidak jadi kurus. Sebab, jika bayi kena infeksi dan dibiarkan tanpa ada tindakan tepat hingga akhirnya menimbulkan masalah kekurangan gizi, misalnya, bakal sulit meningkatkan BB-nya. Penanganannya pun akan menjadi lebih kompleks.

 

Jika berbagai upaya sudah dilakukan tapi bayi tetap kurus, berarti ada masalah utama yang tidak teratasi. Karena itu mencari penyebabnya menjadi sangat penting agar dapat dilakukan tindakan yang tepat. Mungkin tidak hanya faktor penyakit infeksi atau nutrisi, pengetahuan ibu dalam hal pemberian makanan, lingkungan yang tidak mendukung, juga penting untuk diketahui.

 

Pada kasus lain,bayi sulit makan sehingga gizi yang dibutuhkannya pun sulit sekali masuk. Mungkin karena anak alergi, kurang cocok dengan makanannya, atau ada hal lain yang menyebabkan makanan sulit masuk ke dalam tubuhnya.

 

Seperti dipaparkan di atas, penatalaksanaan terhadap gizi buruk memerlukan penanganan yang komprehensif, meliputi terapi untuk kegawatan yang mungkin ada, seperti adanya syok atau infeksi, lalu terapi nutrisi yang adekuat atau memadai, dan biasanya dilakukan secara bertahap sesuai toleransi si penderita.

 

Selain itu juga perlu diberi asupan vitamin dan mineral yang cukup, serta pengawasan yang ketat. Penanganan terhadap masalah gizi buruk ini akan memakan waktu yang cukup lama, dan memerlukan penanganan yang berkesinambungan, juga harus turut melibatkan peran serta orangtua secara aktif.

 

Sebenarnya, agar masalah gizi buruk ini tidak menimpa anak-anak Indonesia, sejak bayi lahir, harus diberi perhatian lebih, terutama dalam hal nutrisi. Untuk bayi usia 0-6 bulan, jelasnya, makanan yang paling ideal adalah ASI. Sebab, ASI telah mengandung semua zat-zat yang dibutuhkan bayi, untuk mendukung tumbuh kembangnya yang optimal.

 

ASI, mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan zat protektif dalam jumlah yang memadai. Bayi yang mendapat ASI, akan tumbuh secara optimal, akan mengalami pertambahan berat badan yang ideal, dan jarang menderita sakit. Tapi jika karena satu dan lain hal bayi tidak bisa mendapatkan ASI secara eksklusif, maka pada usia 0-6 bulan bayi dapat diberi tambahan susu formula yang sesuai.

 

  1. MENU DAN POLA MAKAN
  1. Asi ekslusif nutrisi untuk bayi 0-6 bulan

Satu bentuk rangsang untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan otak bayi adalah dengan menerapkan pola asah, asih dan asuh dalam perawatannya sehari-hari, dalam pemberian ASI juga perlu ditunjang dengan pemenuhan zat-zat gizi yang tepat.

 

ASI merupakan sumber makanan utama dan paling sempurna bagi bayi usia 0-6 bulan. Untuk itu harus diterapkan pola makan yang sehat agar zat gizi yang dibutuhkan dapat dipenuhi melalui ASI.

 

ASI eklusif menurut WHO (World Health Organization) adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain baik susu formula, air putih, air jeruk, ataupun makanan tambahan lain. Sebelum mencapai usia 6 bulan sistem pencernaan bayi belum mampu berfungsi dengan sempurna, sehingga ia belum mampu mencerna makanan selain ASI.

 

  1. Makanan bayi umur 6-12 bulan

Dalam usia ini bayi mampu berkomunikasi meski dalam bentuk sangat sederhana. Berkat pemenuhan zat gizi yang diperolehnya dari ASI sejalan dengan peningkatan proses tumbuh kembang yang sedang dijalani, kini ASI saja tidak cukup untuk memenuhi zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuhnya, maka mulai usia ini perlu diperkenalkan beberapa jenis makanan padat yang disebut Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).

 

  1. Kebutuhan vitamin bayi usia 6-12 bulan
  1. Asam Folat 45 mg
  2. B3 (Niasin) 8 mg
  3. B6 (Pindoksin) 0,6 mg
  4. B2 (Riboflasin) 0,6 mg
  5. B1 (Tianin) 0,5 mg
  6. A 400 μg
  7. B12 1,5 μg
  8. C 35 mg
  9. D 10 μg
  10. E 3 mg

 

  1. Kebutuhan mineral bayi usia 6-12 bulan
  1. Kalsium (Ca) 540 mg
  2. Yodium (I) 50 μg
  3. Zat Besi (Fe) 15 mg
  4. Magnesium (Mg) 70 mg
  5. Fosfor (P) 360 mg
  6. Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software
  7. http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.
  8. Seng (Zn) 50 mg

 

  1. Contoh pola jadwal pemberian makanan menjelang anak usia 1 tahun

Perlu diketahui, jadwal pemberian makanan ini fleksibel (dapat bergeser,

tapi jangan terlalu jauh)

  1. Pukul 06.00 : Susu
  2. Pukul 08.00 : Bubur saring/Nasi tim
  3. Pukul 10.00 : Susu/Makanan selingan
  4. Pukul 12.00 : Bubur saring/Nasi tim
  5. Pukul 14.00 : Susu
  6. Pukul 16.00 : Makanan selingan
  7. Pukul 18.00 : Bubur saring /nasi tim
  8. Pukul 20.00 : Susu.

 

  1. Bentuk dan Jenis Makanan Anak berumur 1 tahun atau kurang dengan berat badan kurang dari 8kg

Pada anak yang berumur 1 tahun atau kurang dengan berat badan kurang dari 8 kg, bentuk dan jenis makanan yang diberikan sebagai berikut :

  1. ASI
  2. PASI khusus, sesuai dengan keadaan intoleransi atau malabsorpsi zat gizi yang diderita (jenis PASI dapat dilihat pada lampiran 1)
  3. Pemberian buah dimulai dengan pisang
  4. Bentuk makanan lumat atau lembek

 

Golongan bahan

makanan

 

Makana yang boleh

diberikan

 

Makanan yang tidak boleh

diberikan

 

Sumber energi

 

Bubur nasi disaring atau

tidak disaring, bubur/

poding dibuat dari

tepung beras,maizena,

hevermut, hunkwe,

biskuit, kraker; kentang

purte,gula, MCT

 

Nasi, ketan, jagung, mi, ubi,

singkong, talas; minyak goreng

biasa

 

Sumber zat pembangun

 

 

ASI,PASI sesuai keadaan

pasien; telur direbus atau

diceplok air; daging, hati,

tahu atau tempe cincang,

dikukus atau ditim

 

PASI yang menyebabkan

intoleransi atau malabsorpsi; lauk

yang digoreng

 

Sumber zat pengatur

 

Wortel, tomat masak,

labu siam, labu kuning

cincang ditim, dibuat

sup, kalau perlu disaring;

pisang dihaluskan, apel

disetup dan dihaluskan

 

Sayuran dan buah mengandung

gas dan buncis, kacang panjang,

kol, lobak, kankung; durian,

mangga dan nangka.

 

Bumbu Kecap, garam, bawang

merah dan bawang putih

dalam jumlah terbatas

Lada, lombok, cuka dan lain

bumbu yang merangsang

 

Minuman Teh, sirop, sari buah

yang manis

 

Minuman mengandung soda,

coklat, sari buah yang asam

 

 

 

  1. Jadwal Pemberian Makanan Pada Bayi

Pola makan bayi sebenarnya tidak ada acuan pastinya, karena waktu makan bayi dan istirahat bayi belum teratur seperti orang dewasa, karenanya gunakan pola makan sehari sebagai berikut.

  1. Berikan ASI sekehendak atau semaunya bayi.
  2. Jika menggunakan susu formula pengganti ASI, berikan 5 kali sehari dengan takaran 180-210 ml untuk bayi usia 4-5 bulan. Untuk, bayi usia 5-6 bulan, berikan 5 kali sehari dengan takaran susu 210 ml-240 ml setiap kali minum. Tambahkan satu kali bubur susu dan satu kali bubur buah atau pure sayuran.

 

  1. Kebutuhan gizi bayi

Usia bayi 0-6 bulan dengan berat 6,0 kg dan tinggi 60 cm, angka kecukupan gizi yang dianjurkan perharinya adalah:

  1. Energi 550 kkal
  2. Protein 10 g
  3. Vitamin A 375 RE
  4. Vitamin D 5 mcg
  5. Vitamin E 4 mg
  6. Vitamin C 40 mg
  7. Vitamin B12 0/4 mcg
  8. Kalsium 200 mg
  9. Besi 0.5 mg
  10. Seng 1.3 mg

 

  1. Aneka Makanan Pengganti ASI
  1. Sup untuk bayi umur 8-12 bulan

Sop jagung & tofu jepang

Bahan :

Jagung manis, Parut kasar

Daging giling

Tofu jepang potong kotak2 kecil

Wortel, iris kotak kecil atau parut kasar

Bayam, iris kecil

Daun seledri dan daun bawang

margarine/ butter utk menggoreng

Bawangbombaycincang halus

Minyak untuk menumis

Air Kaldu(buatan sendiri)

 

Cara membuat :

Masukkan Daging giling ke dalam kaldu, rebus sampai lunak

Tambahkan wortel rebus sampai empuk, kemudian masukkan Jagung dan Tofu

tambahkan daun seledri dan daun bawang.

Panaskan margarin/unsalted butter, tumis bawang bombay sampai layu dan harum, masukkan ke dalam sop.

Pisahkan sop yang mau dimakan,panaskan dan tambahkan bayam.Rebus sampai mendidih dan angkat

 

NOTE : Ingat bayam jangan dipanaskan berulang..satu kali masak langsung dimakan,sisanya langsung dibuang.

 

 

  1. Menu buat bayi umur 6-12 bulan

1)      cream labu kuning dan ayam (puree )

bahan :

100 gr labu kuning( kukus hingga matang)

100 gr daging ayam,matang

120ml ASI(susu formula)

Cara membuat :

Masukan semua bahan ke dalam blender dan blend hingga halus,kl terlalu kental bisa tambah air kaldu

 

2)      Kentang & sayuran (utk 6-12 bln)

utk 2-3 porsi

bahan :

1 buah kentang

1 buah wortel9ukuran sedang)

15 gr margarin(unsalted butter)

 

1 sdm susu formula (larutkan dgn 60ml air)

beberapa potong brokoli(bagian atasnya saja)

 

cara membuat :

rebus kentang,wortel dan brokoli hingga matang

angkat dan haluskan dgn sendok garpu,tambahkan margarin dan larutan susu formula,

siap di hidangkan selagi hangat

 

3)      Bubur Susu Maizena

Bahan:

1 sdm tepung maizena

40 g bayam, cuci, rebus, haluskan

150 ml ASi atau 3 sdm susu formula lanjutan yang dilarutkan dengan dengan 100 ml air hangat

200 ml air matang/kaldu sayuran

 

Cara Membuat:

Larutkan tepung maizena dengan 200 ml air matang/kaldu sayuran. Didihkan hinga matang dan mengental. Angkat.

Sesaat sebelum diangkat, masukan bayam. Aduk rata, angkat dari perapian.

Selagi hangat masukan ASI atau larutan susu formula lanjutan, aduk rata.

Tuang ke dalam mangkuk saji. Hidangkan hangat.

 

Untuk 2 porsi

Kandungan ± Nutrisi per porsi:

Protein: 3.8 g

Lemak: 1.1 g

Karbohidrat: 19.8 g

Energi: 61.3 kkal

 

  1. Bubur tim untuk bayi umur 8-12 bulan

Bubur nasi,labu kuning dan ikan

Bahan :

2 sdm beras

1 gelas kaldu(bikin sendiri)

Ikan ( jenis apa saja)

labu kuning iris kecil kecil

 

Cara membuat :

masukkan semua bahan kedalam slow cooker dan masak hingga halus,biasa mau tidur malam aku taruh di cooker,pagi udah masak and lembek(ngak perlu di blender kl anak udah mulai mau mengunyah)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

ISI

 

           

  1. A.    Wanita di daerah konflik di Aceh

Film itu menceritakan tentang kehidupan rakyat Aceh saat terjadi bentrok antara TNI dengan GAM yang berlangsung selama kurang lebih 26 tahun. Bentrokan tersebut merugikan banyak pihak terutama kaum wanita dan anak-anak. Nasib wanita dan anak-anak pada saat itu ditindas dan kurang dihargai. Sebagai contoh, seorang ayah yang harus mengalami tragedy yang menyedihkan, ia memiliki dua orang putri, keduanya diperkosa oleh orang bersenjata tak dikenal. Karena  ketidakstabilan keadaan akibat konflik, mereka tidak berani melaporkan kasus itu, walaupun pada dasarnya mereka merasa benar-benar terhina dan dilecehkan.

Selain itu, dengan adanya bentrokan TNI dengan GAM, masyarakat dibuat resah. Banyak terjadi kekerasan, pembunuhan dan pemerkosaan. Banyak rumah warga yang dibakar. Banyak kaum lelaki yang dibunuh sehingga nasib kaum wanita menjadi tidak jelas. Banyak warga yang harus mengungsi ke kampus, pasar dan pondok karena telah kehilangan tempat tinggal mereka dan untuk menghindari kekerasan. Namun demikian, kehidupan para pengungsi belum terjamin sepenuhnya, bahkan malah menimbulkan masalah baru. Antara lain, banyak anak yang putus sekolah, kebersihan kurang terjaga, kesehatan balita dan anak-anak buruk, banyak yang kehilangan pekerjaan dan hanya menggantungkan hidup dari bantuan relawan. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup, sebagian dari mereka ada yang bekerja serabutan sebagai pembantu dan buruh tukang cuci bagi masyarakat di sekitar pengungsian. Tidak hanya segi fisik mereka yang terganggu, namun dari segi mental pun para pengungsi tergoncang. Meskipun begitu, masih ada pihak-pihak yang bersedia membantu para korban, antara lain Rehabilitation Action for Torture Victims in Aceh atau yang disingkat dengan RATA.

Di daerah Aceh pada saat itu, bagi mereka kata normal bearti ancaman rutin harian akan penahanan, penyiksaan, pemerkosaan dan pembunuhan. oleh karena itu kekerasan bukan merupakan hal yang aneh lagi bagi masyarakat Aceh. Selain itu di Aceh juga seolah sudah tidak ada lagi hukum yang berlaku lagi, karena pemerintah sudah tidak mampu menunjukkan kemampuannya dalam mengelola dan menegakkan hukum. Namun, pemerintah pusat juga berupaya untuk memperbaiki kondisi di Aceh yaitu dengan membuat kebijakan baru dengan adanya system otonomi daerah.

Dari cerita tersebut dapat ditemukan berbagai permasalahan yang dihadapi para wanita. Permasalahan tersebut adalah sebagai berikut,

  1. Perkosaan
  2. Penganiayaan
  3. Pembunuhan terhadap kaum laki-laki sehingga para istri dirugikan, dilecehkan dan menjadi janda.
  4. Banyak anak yang lahir tanpa bapak
  5. Minimnya akses pendidikan dan kesehatan, padahal untuk memperbaiki kondisi Aceh dimulai dari generasi yang brilian.

 

Permasalahan yang ada semua berawal dari adanya konflik akibat genjatan senjata yang terjadi antara TNI dan GAM, maka untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan :

  1. Pemerintah diharapkan dapat segera menyelesaikan pemberontakan GAM dan mempertegas peraturan perlindungan bagi wanita dan anak-anak
  2. Mengupayakan penambahan tenaga kesehatan terutama ke daerah konflik agar masyarakat tetap terjamin kondisi kesehatannya
  3. Mengupayakan pendekatan secara psikologis terhadap korban konflik agar tidak terjadi depresi dan tetap bersemangat untuk maju agar dapat mengubah kehidupannya menjadi lebih baik
  4. Mengupayakan pelatihan keterampilan agar para pengungsi tidak menjadi pengangguran dan tetap mendapatkan penghasilan
  5. Menghentikan konflik sehingga tercipta kedamaian dan secara perlahan semua aspek dalam kehidupan masyarakat Aceh dapat pulih kembali
  6. Mengupayakan kemudahan akses pendidikan bagi masyarakat Aceh

 

 

  1. B.     Wanita di daerah konflik di Papua

Di dalam film ini, diceritakan begitu banyak permasalahan yang terjadi di pulau Irian. Antara lain, konflik yang timbul akibat terbunuhnya pemimpin Papua, Theys Eluay, kuatnya adat istiadat yang dianut oleh masyarakat Papua, serta maraknya praktek-praktek prostitusi.

Theys Eluay adalah seorang pemimpin Papua yang memperjuangkan hak-hak rakyat Papua. Namun, ada pihak-pihak tertentu yang tidak setuju dengan aksi Theys Eluay dan hal ini berujung pada terbunuhnya pemimpin Papua tersebut. Theys Eluay adalah seorang pemimpin yang diangggap mampu mengembangkan tanah Papua, sehingga dengan kematian Theys Eluay dapat berimbas pada kemajuan Papua. Sebagian masyarakat Papua menyalahkan pemerintah karena telah mengirimkan banyak tentara yang sama sekali tidak memperhatikan pembangunan di Papua.

Selain itu, keberadaan wanita tidak dihargai, tidak berkembang dan tidak mendapatkan keadilan. Salah satu penyebab utama dari hal ini adalah adat istiadat atau tradisi Papua yang masih dipegang kuat oleh rakyat Papua, khususnya rakyat Wamena. Adat istiadat Papua ini menempatkan laki-laki di tempat tertinggi, sehingga terjadi dominasi laki-laki. Kaum laki-laki berkuasa dan berhak memutuskan sesuatu daripada perempuan. Kaum perempuan dinggap tidak berharga. Dan hal ini dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari rakyat Papua. Di Wamena, para kaum perempuan tidak memakai pakaian. Seorang laki-laki diperbolehkan berpoligami bahkan sampai beristri 10. Wanita dinilai seperti barang kekayaan, karena semakin banyak jumlah istri maka seorang laki-laki akan semakin banyak memiliki babi. Seorang laki-laki dapat menikahi wanita manapun dengan menukarnya dengan babi. Tapi apabila seorang wanita berselingkuh, maka selingkuhannya akan dikenakan denda dengan memberi babi dan mengembalikan sang wanita kepada suaminya. Di Wamena juga terdapat tradisi memotong jari tangan. Tradisi ini dilakukan oleh seorang wanita bila ada seseorang yang dicintainya meninggal. Tentu saja hal ini sangat merugikan kaum wanita.

 

Permasalahan di Papua yang berkaitan dengan wanita diantaranya adalah :

  1. Wanita di Papua  kurang mendapatkan penghargaan karena posisinya selalu dianggap di bawah laki-laki
  2. Wanita tidak berhak mengambil keputusan yang berkaitan dengan dirinya sendiri
  3. Wanita menjadi korban poligami dan kekerasan dalam rumah tangga pihak laki-laki
  4. Maraknya PSK di Papua menyebabkan tingginya penyebaran HIV/AIDS
  5. Kurangnya pengetahuan dalam bidang kesehatan serta minimnya akses pendidikan menyebakan masyarakat kurang memperhatikan segi kesehatan serta terhambatnya  perkembangan para wanita

 

Dengan begitu banyaknya permasalahan yang timbul, harus diupayakan suatu usaha yang dapat mencegah atau menghambat sehingga tidak timbul akibat yang dapat merugikan wanita lebih jauh lagi.

  1. Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan pembangunan di daerah Papua
  2. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang informasi serta segala seuatu yang berkaitan dengan kesehatan dan pendidikan. Termasuk pengetahuan tentang bahayanya IMS kepada masyarakat terutama para PSK serta pengggunanya, setidaknya hal ini dapat menyadarkan mereka agar bersedia menggunakan alat pengaman saat berhubungan
  3. Membuka wawasan kepada masyarakat terutama di daerah pedalaman agar dapat memberi penghargaan kepada wanita dengan mendekati tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat, harus disadarkan, walaupun adapt istiadat harus dijalankan namun tidak boleh melanngar hak-hak kaum wanita, apalagi merugikannya.
  4. Menambah jumlah tenaga kesehatan untuk meningkatkan kualitas kesehatan sehingga dapat menekan terjadinya penyebaran penyakit menular seperti tuberculosis, malaria dan HIV/AIDS

 

  1. C.    Wanita di daerah konflik di Poso

Pada tahun 1998, terjadi konflik etnis agama di Poso. Hal ini menyebabkan trauma yang mendalam akibat penyiksaan, pembunuhan, pembakaran rumah-rumah serta fasilitas warga. Goncangan ini menyebabkan masyarakat harus pergi meninggalkan daerah asalnya yang menjadi daerah konflik. Akibatnya, kehidupan para pengungsi harus hidup bergantung dengan bantuan orang lain. Dan bantuan tidak selamanya ada. Untuk itu, para pengungsi harus berusaha keras untuk bertahan hidup.

Pihak pemerintah menganggap penyebab konflik ini adalah adanya minuman keras yang beredar di masyarakat. Oleh karena itu, semua minuman keras yang ada dimusnahkan. Namun ternyata, masalah tidak selesai begitu saja. Masih banyak permasalahan yang harus ditangani lebih lanjut akibat terjadinya konflik di tanah Poso,antara lain nasib kaum wanita yang mengalami gangguan psikologis akibat trauma yang dialaminya.Adabeberapa wanita yang harus mengalami gangguan jiwa berupa depresi akibat ingatan mengerikan yang dialami sewaktu bersembunyi dari genjatan senjata selama berhari-hari.

Untuk menyelesaikan konflik ini diperlukan koordinasi atau kerjasama dari berbagai pihak yang terkait. Baik itu pemerintah, tokoh masyarakat,  masyarakat maupun lembaga swadaya masyarakat. Masa depan Poso tergantung pada bagaimana generasi baru dilahirkan.


PENUTUP

  1. ACEH
    1. Dampak terhadap wanita
  1. Wanita yang tidak menjadi korban peperangan di Aceh justru menjadi korban pemerkosaan. Ironisnya kasus pemerkosaan tersebut sudah dianggap biasa dan tidak ada hukuman untuk para pelaku. Menurut anggota TNI , kaswusini terjadi karena kurangnya aparat hokum di Aceh.
  2. Kebanyakan wanita malu karena hamil tidak bersuamidan merekapun tidak diakui oleh keluarganya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk tidak kembali kerumahnya dan mencari pekerjaan seadanya.
  3. Penyiksaan, pembunuhan terhadap anak-anak dianggap hal biasa.
  4. Banyak anak putus sekolah karena fasilitas pendidikan kurang memadai
  5. Warga sipil banyak yang kehilangan tempat tinggal karena tempat tinggal mereka dirusak oleh aparat.
  6. Tentang aparat dan pemerintah
    1. Aparat tidak bias membedakan antara wargasipil dengan GAM sehingga tindakan aparat tidak tepat sasaran.
    2. Pemerintah menyatakan bahwa Aceh sudah aman. Padahal faktanya masih banyak warga Aceh yang mengalami tindak kekerasan. Selain itu, warga masih merasa tidak aman karena belum selasainya konflik.
    3. Mengenai kondisi Kesehatan
      1. Personal Hygiene
    1. Dampak tehadap anak dan warga sipil

Personal hygiene masih sangat kurang dan scara langsung berdampak bagi kondisi kesehatan warga.

  1. Anak kurang gizi

II. PAPUA

1.Mengenai harkat dan martabat perempuan

  1. Karena pengaruh adat dan istiadat, wanita terlalu tunduk terhadap laki-laki.
  2. Wanita terikat dengan tradisiyang mengekang mereka sehingga mereka kurang bisa untuk mengeksplorasikan potensi yang mereka miliki .
  3. Penganiyaan terhadap perempuan dianggap biasa.
  4. Poligami yang tidak diimbangi dengan kemampuan ekonomi adalah hal biasa dan wanita hanya pasrah terhadap keadaan.
  5. Harkat dan martabat wanita direndahkan.
  6. Jika wanita melakukan perselingkuhan, mereka diberi hikuman. Tetapi tidak ada sangsi terhadap laki-laki yang juga melakukan perselingkuhan
  7. Tradisi memotong jari sebagai symbol berduka.
    1. Dampak kesehatan
    2.   banyak ditemukan kasus bayi premature, BBLR, HIV yang menandakan bahwa kesadaran warga untuk menjaga kesehatan dan status gizi masih sangat kurang.
    3.   Warga yang rentan terkena IMS karena kebanyakan PSK tidak mau memakai kondom dalam berhubungan seksual.
      1. Politik.
      2. meniggalnya pimpinan rakyat Papua menjaadikan kondisi politik di Papua semakin tidak stabil.

 

 

 

 

 

 

III. POSO

  1. Karena adanya konflik, di Poso terjadi larang pangan
  2. Kebanyakan warga tidak berani untuk pulang kerumahnya karena mereka merasa tidak aman berada dirumah sendiri.
  3. Penyebab utama adanya konflik di Poso adalah maraknya minuman keras.
  4. Kebanyakan wanita mengalami depresi dipengungsian

Prematuritas

DEFINISI

 

Prematuritas adalah suatu keadaan yang belum matang, yang ditemukan pada

bayi yang lahir pada saat usia kehamilan belum mencapai 37 minggu.

 

Prematuritas (terutama prematuritas yang ekstrim) merupakan penyebab utama

dari kelainan dan kematian pada bayi baru lahir. Beberapa organ dalam bayi

mungkin belum berkembang sepenuhnya sehingga bayi memiliki resiko tinggi

menderita penyakit tertentu.

 

PENYEBAB

 

Penyebab terjadinya kelahiran prematur biasanya tidak diketahui.

15% dari kelahiran prematur ditemukan pada kehamilan ganda (di dalam rahim

terdapat lebih dari 1 janin).

 

Faktor resiko yang mungkin berperan dalam terjadinya persalinan prematur

adalah:

– Kehamilan usia muda (usia ibu kurang dari 18 tahun)

– Pemeriksaan kehamilan yang tidak teratur

– Golongan sosial-ekonomi rendah

– Keadaan gizi yang kurang

– Penyalahgunaan obat.

Masalah pada ibu biasanya berupa:

– Riwayat persalinan prematur pada kehamilan sebelumnya

– Kadar alfa-fetoprotein tinggi pada trimester kedua yang penyebabnya tidak

diketahui

– Penyakit atau infeksi yang tidak diobati (misalnya infeksi saluran kemih

atau infeksi selaput ketuban)

– Kelainan pada rahim atau leher rahim

– Ketuban pecah sebelum waktunya

– Plasenta previa.

– Pre-eklamsi (suatu keadaan yang bisa terjadi pada trimester kedua

kehamilan, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, adanya protein dalam

air kemih dan pembengkakan tungkai)

– Diabetes melitus

– Penyakit jantung.

 

GEJALA

 

Gambaran fisik bayi prematur:

# Ukuran kecil

# Berat badan lahir rendah (kurang dari 2,5 kg)

# Kulitnya tipis, terang dan berwarna pink (tembus cahaya)

# Vena di bawah kulit terlihat (kulitnya transparan)

# Lemak bawah kulitnya sedikit sehingga kulitnya tampak keriput

# Rambut yang jarang

# Telinga tipis dan lembek

# Tangisannya lemah

# Kepala relatif besar

# Jaringan payudara belum berkembang

# Otot lemah dan aktivitas fisiknya sedikit (seorang bayi prematur cenderung

belum memiliki garis tangan atau kaki seperti pada bayi cukup bulan)

# Refleks menghisap dan refleks menelan yang buruk

# Pernafasan yang tidak teratur

# Kantung zakar kecil dan lipatannya sedikit ( anak laki – laki )

# Labia mayora belum menutupi labia minora ( pada anak perempuan).

 

 

KOMPLIKASI

 

1. Sindroma gawat pernafasan (penyakit membran hialin).

Paru-paru yang matang sangat penting bagi bayi baru lahir. Agar bisa

bernafas dengan bebas, ketika lahir kantung udara (alveoli) harus dapat

terisi oleh udara dan tetap terbuka. Alveoli bisa membuka lebar karena

adanya suatu bahan yang disebut surfaktan, yang dihasilkan oleh paru-paru

dan berfungsi menurunkan tegangan permukaan.

Bayi prematur seringkali tidak menghasilkan surfaktan dalam jumlah

yang memadai, sehingga alveolinya tidak tetap terbuka. Diantara saat-saat

bernafas, paru-paru benar-benar mengempis, akibatnya terjadi Sindroma

Distres Pernafasan.

Sindroma ini bisa menyebabkan kelainan lainnya dan pada beberapa kasus

bisa berakibat fatal. Kepada bayi diberikan oksigen; jika penyakitnya berat,

mungkin mereka perlu ditempatkan dalam sebuah ventilator dan diberikan obat

surfaktan (bisa diteteskan secara langsung melalui sebuah selang yang

dihubungkan dengan trakea bayi).

 

2. Ketidakmatangan pada sistem saraf pusat bisa menyebabkan gangguan

refleks menghisap atau menelan, rentan terhadap terjadinya perdarahan otak

atau serangan apneu.

Selain paru-paru yang belum berkembang, seorang bayi prematur juga

memiliki otak yang belum berkembang. Hal ini bisa menyebabkan apneu (henti

nafas), karena pusat pernafasan di otak mungkin belum matang. Untuk

mengurangi mengurangi frekuensi serangan apneu bisa digunakan obat-obatan.

Jika oksigen maupun aliran darahnya terganggu. otak yang sangat tidak

matang sangat rentan terhadap perdarahan (perdarahan intraventrikuler).atau

cedera .

 

3. Ketidakmatangan sistem pencernaan menyebabkan intoleransi pemberian

makanan.

Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin akan membatasi

jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian susu yang terlalu

banyak dapat menyebabkan bayi muntah.

 

Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin akan membatasi

jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian susu yang terlalu

banyak dapat menyebabkan bayi muntah.

 

4. Retinopati dan gangguan penglihatan atau kebutaan (fibroplasia

retrolental)

5. Displasia bronkopulmoner.

 

6. Penyakit jantung.

 

7. Jaundice.

Setelah lahir, bayi memerlukan fungsi hati dan fungsi usus yang normal

untuk membuang bilirubin (suatu pigmen kuning hasil pemecahan sel darah

merah) dalam tinjanya. Kebanyakan bayi baru lahir, terutama yang lahir

prematur, memiliki kadar bilirubin darah yang meningkat (yang bersifat

sementara), yang dapat menyebabkan sakit kuning (jaundice).

Peningkatan ini terjadi karena fungsi hatinya masih belum matang dan

karena kemampuan makan dan kemampuan mencernanya masih belum sempurna.

Jaundice kebanyakan bersifat ringan dan akan menghilang sejalan dengan

perbaikan fungsi pencernaan bayi.

 

8. Infeksi atau septikemia.

Sistem kekebalan pada bayi prematur belum berkembang sempurna. Mereka

belum menerima komplemen lengkap antibodi dari ibunya melewati plasenta

(ari-ari).

Resiko terjadinya infeksi yang serius (sepsis) pada bayi prematur

lebih tinggi. Bayi prematur juga lebih rentan terhadap enterokolitis

nekrotisasi (peradangan pada usus).

 

9. Anemia .

 

10. Bayi prematur cenderung memiliki kadar gula darah yang berubah-ubah,

bisa tinggi (hiperglikemia maupun rendah (hipoglikemia).

11. Perkembangan dan pertumbuhan yang lambat.

 

12. Keterbelakangan mental dan motorik.

 

DIAGNOSA

 

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran fisik dan usia kehamilan.

 

Pemeriksaan yang biasa dilakukan pada bayi prematur:

– rontgen dada untuk melihat kematangan paru-paru

– analisa gas darah

– kadar gula darah

– kadar kalsium darah

– kadar bilirubin.

 

PENGOBATAN

 

Jika kemungkinan akan terjadi kelahiran prematur, biasanya diberikan obat

tokolitik untuk menghentikan kontraksi dan kortikosteroid untuk mempercepat

pematangan paru-paru bayi.

 

Makanan diberikan melalui sebuah selang yang dimasukkan ke dalam lambung

bayi karena fungsi menghisap dan menelan pada bayi prematur masih belum

matang. Pada prematur yang ekstrim, makanan diberikan melakui infus.

Pada usia sekitar 34 minggu, bayi mulai disusui ASI atau susu botol.

 

Bayi prematur sangat cepat kehilangan panas dan mengalami kesulitan dalam

mempertahankan suhu tubuh, sehingga mereka biasanya ditempatkan di dalam

suatu inkubator.

 

Mungkin bayi memerlukan bantuan respirator dan tambahan oksigen.

 

PENCEGAHAN

 

Salah satu langkah terpenting dalam mencegah prematuritas adalah mulai

melakukan pemeriksaan kehamilan sedini mungkin dan terus melakukan

pemeriksaan selama kehamilan.

Statistik menunjukkan bahwa perawatan kehamilan yang dini dan baik bisa

mengurangi angka kejadian prematuritas, kecil untuk kehamilan dan angka

kesakitan akibat persalinan dan pada masa baru lahir.

 

BAB I
PENDAHULUAN

 

Kehamilan dengan hipertensi ialah keadaan hipertensi yang diimbas oleh kehamilan. Istilah ini diadopsi oleh “The American College of Obstetrician and Gynecologist” untuk mengganti istilah preeklampsia dan eklampsia. Sindrom ini terdiri atas trias: yaitu hipertensi, proteinuria, dan edema. Hipertensi jenis ini lazim menjangkiti primigravida (kehamilan minggu XX) berusia antara 20-35 tahun yang berasal dari lapisan social ekonomi tingkat bawah, dan menderita malnutrisi. Badan Kesehatan dunia memperkirakan ada 8% (eklamsia) dan 4% (hipertensi) dari 21 kasus penyebab kematian (selain abortus) yang ada.

Seorang wanita hamil boleh dicurigai menderita hipertensi kehamilan, jika yang bersangkutan sering mengeluh pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri perut bagian atas (ulu hati), nafsu makan lenyap, rasa mual, dan muntah. Tanda yang mudah diperiksa alah pertambahan berat badan secara progresif (. 3kg tiap minggu). Sehingga perlu adanya penyusunan menu dan trik  khusus untuk menanggulangi masalah tersebut seperti Diet Rendah Garam karena nutrisi mempunyai peranan penting dalam upaya pencegahan dan penyembuhan hipertensi maupun komplikasi lain saat kehamilan.

Dengan disusunnya makalah ini diharapkan dapat memberikan sedikit informasi tentang hipertensi dan diet untuk menanggulangi masalah hipertensi. Selain itu makalah ini dapat digunakan sebagai acuan dan refrensi untuk menyusun menu bagi penderita hipertensi khususnya ibu hamil. Sehingga dapat membantu dalam mengatasi masalah nutrisi bagi penderita hipertensi khususnya bagi ibu hamil.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

 

  1. I.                   INFORMASI TENTANG HIPERTENSI

Sampai sekarang penyakit hipertensi dalam kehamilan (HDK) masih merupakan masalah kebidanan yang belum dapat dipecahkan dengan tuntas. HDK adalah salah satu dari trias

penyebab utama kematian ibu di camping perdarahan dan infeksi. Penanganan kasus HDK atau Gestosis atau EPH Gestosis masih tetap merupakan kontroversi karena sampai saat ini etiologi dan patofisiologi penyakit HDK masih belum jelas diketahui, sehingga penanganan yang definitif belum mungkin dijalankan dengan sempurna. Hanya tenninasi kehamilan yang dapat di-

anggap sebagai terapi yang definitif.

HDK adalah komplikasi kehamilan setelah kehamilan 20 minggu yang ditandai dengan timbulnya hipertensi, disertai salah satu dari : edema, proteinuria, atai – edua-duanya. Klasifikasinya sebagai berikut :

  1. HDK sebagai penyulit yang berhubungan langsung dengan kehamilan :
    1. 1)Pre-eklamsia
    2. 2)Eklamsia
    3. HDK sebagai penyulit yang tidak berhubungan langsung dengan kehamilan :
      1. Hipertensi kronik.
      2. Pre-eklamsia/eklamsiapadahipertensikronik/superimposed.
      3. 4.      Transient hypertension.
      4. 5.      HDK yang tidak dapat dikiasifikasikan.

 

  1. a.      Definisi dan Kriteria
  2. Hipertensi ialah :

a)  Bila tekanan darah sistolik 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik >_ 90 mmHg.

b)  Kenaikan tekanan darah sistolik 30 mmHg.

c)  Kenaikan tekanan darah diastolik  15 mmHg. Untuk mengukur tekanan darah yang pertama dilakukan dua kali setelah istirahat duduk 10 menit. Pengukuran tekanan darah ini harus dilakukan sekurang-kurangnya 2 kali dengan selang waktu 6 jam dan ibu dalam keadaan istirahat.

  1. Pre-eklamsia

Ialah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan/atau edema akibat kehamilan, setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblas.

  1. Eklamsia

ialah timbulnya kejang pada penderita pre-eklamsia yang disusul dengan koma. Kejang ini bukan akibat dari kelainan neurologik.

  1. Hipertensi kronik

Hipertensi yang menetap oleh sebab apapun, yang ditemukanpada umur kehamilan kurang dari 20 minggu, atau hipertensi yang menetap setelah 6 minggu pasca persalinan.

  1. Superimposed pre-eklamsia/eklamsia

Ialah timbulnya pre-eklamsia atau eklamsia pada hipertensi kronik.

  1. Transient hypertension

lalah hipertensi dalam kehamilan pada wanita yang tekanan darahnya normal sebelum hamil dan tidak mempunyai gejala-gejala hipertensi kronik atau pre-eklamsia atau eklamsia.  Gejala ini akan hilang setelah 10 hari pasca persalinan.

  1. b.      Etiologi

Faktor predisposisi :

1)      Primigravida atau nullipara, terutama pada umur reproduksi ekstrem, yaitu remaja dan umur 35 tahun ke atas.

2)      Multigravida dengan kondisi klinis :

a) Kehamilan ganda dan hidrops fetalis.

b) Penyakit vaskuler termasuk hipertensi esensial kronik dan diabetes mellitus.

c) Penyakit-penyakit ginjal.

3)      Hiperplasentosis : Molahidatidosa,kehamilan ganda, hi drops fetalis, bay i besar, diabetes mellitus.

4)      Riwayat keluarga pernah pre-eklamsia atau eklamsia.

5)      Obesitas dan hidramnion.

6)      Gizi yang kurang dan anemi.

7)      Kasus-kasus dengan kadar asam urat yang tinggi, defisiensi kalsium, defisiensi asam lemak tidak jenuh, kurang antioksidans.

 

  1. c.       Patogenesis

Belum diketahui dengan pasti. Proses iskemik uteroplasenter menyebabkan vasospasmus arteriole/kapiler secara umum sehingga menimbulkan kelainan patologis pada organ-organ vital.

  1. 1.      Pre-Eklamsia Ringan

Kriteria :

1)      Tekanan darah > 140/90 mmHg atau tekanan darah sistolik naik > 30 mmHg atau kenaikan tekanan darah diastolik > 15 mmHg tetapi < 160/110 mmHg.

2)      Edema

3)      Proteinuria, setelah kehamilan 20 minggu.

  1. 2.      Pre-Eklamsia Berat

Kriteria :

1)    Tekanan darah 160/110 mmHg.

2)    Proteinuria lebih 5 gram/24 jam atau kualitatif 3+/4+.

3)    Oliguria 500 ml/24 jam.

4)    Nyeri kepala frontal atau gangguan penglihatan.

5)    Nyeri epigastrium.

6)    Edema paru atau sianosis.

7)    Pertumbuhan janin intrauterin yang terlambat (IUFGR).

8)    HELLP syndrome (H = Hemolysis; EL = Elevated Liver enzymes; LP = Low Platelet counts).

 

  1. 3.      Eklamsia

Eklamsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang dan atau koma. Sebelumnya wanita tadi menunjukkan gejala-gejala pre-eklamsia (kejang-kejang timbul bukan akibat kelainan neu- rologik).

 

  1. 4.      Hipertensi Kronik Dalam Kehamilan

Adanya hipertensi yang persisten oleh sebab apapun juga yang ditemukan pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu atau hipertensi persisten setelah 6 minggu pasca persalinan. Diagnosis klinik Diagnosis hipertensi kronik pada kehamilan ditegakkan berdasarkan gejala-gejala sebagai berikut :

a)   Adanya riwayat hipertensi sebelum kehamilan atau didapatkan hipertensi pada kehamilan kurang dari 20 minggu.

b)   Ditemukan kelainan organik, misalnya : pembesaran jantung, kelainan ginjal, dan sebagainya.

c)   Umur ibu di atas 30 tahun dan umumnya multigravida.

d)   Bila terjadi superimposed preeclampsia, maka didapatkan : tekanan darah sistolik lebih dari 200 mmHg adanya perubahan-perubahan pada pembuluh darah retin berupa eksudasi, perdarahan, dan penyempitan.

e)   Retensi air dan natrium tidak menonjol. Jarang didapatkan edema dan proteinuria.

f)   Hipertensi masih temp didapatkan sampai 6 bulan pasca persalinan.

 

  1. Komplikasi

Gagal ginjal, gagal jantung, edema paru-paru, kelainan pembekuan darah, perdarahan otak, kematian janin.

 

  1. II.                UPAYA PENANGGULANGAN

 

  1. A.    DIET RENDAH GARAM
    1. a.      Pengertian

Yang dimaksud dengan garam dalam Diet Rendah Garam adalah garam natrium seperti yang terdapat ddi dalm garam dapur (NaCl), soda kue (NaHCO3), baking powder, natrium benzoat, dan vetsin (mono sodium glutamate). Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraselular tubuh yang mempunyai fungsi menjaga keseimbangan cairan dan asam tubuh, serta berperan dalam transmisi saraf dan kontraksi otot. Asupan makanan sehari-hari umumnya mengandung lebih banyak natrium daripada yang dibutuhkan tubuh. Dalam keadaan normal, jumlah natrium yang dikeluarkan tubuh melalui urin sama dengan jumlah yang dikonsumsi, sehingga terdapat keseimbangan.

Makanan sehari-hari biasanya cukup mengandung natrium yang dibutuhkan sehingga tidak ada penetapan kebutuhan natrium sehari. WHO menganjurkan pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari (ekuivalen dengan 2400 mg)

Asupan natrium yang berlebihan, terutama dalam bentuk natrium klorida, dapat menyebabkan gangguan keseimbangan cairan tubuh, sehingga menyebabkan edema atau asites, dan hipertensi. Penyakit-penyakit tertentu seperti sirosis hati, penyakit ginjal tertentu, dekomsio kordis, toksemia pada kehamilan dan hipertensi esensial dapat menyebabkan gejala edema atau asites, dan hipertensi. Dalam keadaan demikian asupan garam natrium perlu dibatasi.

 

  1. b.      Tujuan Diet

Tujuan Diet  Garam Rendah adalah membantu menghilangkan retensi  garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi

 

  1. c.       Syarat Diet Rendah Garam:
  2. Cukup energi, protein, mineral dan vitamin.
  3. Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit.
  4. Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau air dan hipertensi.

 

  1. d.      Macam Diet dan Indikasi Pemberian

Diet Garam rendah diberikan kepada pasien denan edema, asites atau hipertensi seperti yang terjadi pada penyakit dekompensasio kordis, serosis hati, penyakit ginjal tertentu, toxemia pada kehamilan, dan hipertensi esensial. Diet ini mengandung cukup zat-zat gizi. Sesuai dengan keadaan penyakit dapat diberikan berbagai Diet Rendah Garam.

a)      Diet Rendah Garam I (200-400 mg Na)

Diet Rendah Garam I diberikan kepada pasien dengan edema, asites, dan Hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak ditambahkan garam dapur . Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya misalnya   daun seledri (96 mg/100 gr bahan makanan), pisang (18 gr bahan makanan).

b)     Diet Rendah Garam II (600-800 mg Na)

Diet rendah garam II diberikan kepada pasien dengan edema, acites, dan hipertensi tidak terlalu berat. Pemberian makanan sehari sama dengan diet rendah garam I. Pada pengolahan makananya boleh menggunakan setengah sendok teh garam dapur (2gr).  Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya, misalnya roti bakar (700 mg/100gr  bahan makanan), susu asam bubuk (600 mg/ 100 gr bahan makanan), biskuit  (500mg/100gr bahan makanan), kue-kue (250mg/100gr bahan makanan), roti cokelat (500mg/100gr bahan makanan), ayam (100mg/100gr bahan makannan), daging bebek (200mg/100gr bahan makana), putih telur bebek( 228mg/100gr), susu skim bubuk (470mg/100gr bahan makanan).

c)      Diet Rendah Garam III (1000-1200 mg Na)

Diet rendah garam III diberikan kepada pasien dengan edema dan hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari samadengan diet rendah garam I. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan I sdt (4gr) garam dapur. Contoh pengaturan makanannya; keju  (1200 mg/100gr makanan), sosis (1000 mg/ 100gr bahan makanan), lemak babi (1500 mg/100 gr bahan makanan), garam (38758 mg/100 gr bahan makanan).

 

  1. e.       Bahan Makanan Sehari

Bahan Makanan

Berat(gr)

Takaran

Beras

Daging

Telur Ayam

Tempe

Kacang Hijau

Sayuran

Buah

Minyak

Gula Pasir

300

100

50

100

25

200

200

25

25

5 gls nasi

2 ptg sdg

1 butir

4 ptg sdg

2 ½ sdm

2 gelas

2 ptg sdg papaya

2 ½ sdm

2 ½ sdm

 

  1. f.       Nilai Gizi

Energi                    2230 kkal

Protein                   75 gr

Lemak                   53 gr

Karbohidrat           365 gr

Kalsium                 500 mg

Besi                       24 mg

Tiamin                   1,2 mg

Vitamin                 87mg

Natrium                 305 mg

 

  1. g.      Pembagian Bahan Makanan Sehari
  2. 1.      Pagi

Beras 70 gr                  1 gelas nasi

Telur 50 gr                   1 btr

Sayuran 50 gr              ½ gelas

Minyak 5 gr                 ½ sdm

Gula Pasir 10 gr          1 sdm

  1. 2.      Pukul 10.00

Kacang hijau 25 gr      2 ½ sdm

Gula Pasir 15 gr          1 ½ sdm

  1. 3.      Siang dan Sore

Beras 140 gr                2 gelas nasi

Daging 50 gr               1 potong sedang

Tempe50 gr                2 potong sedang

Sayuran 75 gr              ¾ gelas

Buah 100gr                 1 potong sedang papaya

Minyak 10 gr               1 sdm

 

  1. h.      Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan

Bahan Makanan

Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Sunber karbohidrat

 

Beras, kentang, singkong, terigu, tapioca, hongkue, gula, makanan yang diolah dari bahan makanan tersebut diatas tanpa garam dapur dan soda seperti : macaroni, mie, bihun, roti, biskuit, kue kering.

 

Roti, biskuit, dan kue-kue yang dimasak dengan garam dapur, baking powder dan soda.

 

 

Sumber protein hewani,

 

Daging dan ikan maksimal 100 gr sehari, telur maksimal 1 butir sehari.

 

Otak, dinjal, lidah, sardine, daging, ikan, susu, dan telur yang diawetkan dengan garam dapur seperti daging asap, ham, bacon, dendeng, abon, keju, ikan asin, ikan kaleng, kornet, ebi, udang kering, telur asin dan telur pindang.

 

Sumber protein nabati.

 

Semua kacang-kacangan dan hasilnya yang diolah dan dimasak tanpa garam dapur.

 

Keju, kacang tanah dan semua kacang-kacangan dan hasilnya yang dimasak dengan garam dapur dan lain ikatan matrium.

 

Sayuran.

 

Semua sayuran segar, sayuran yang diawet tanpa garam dapur dan natrium benzoate.

 

Sayuran yang dimasak dan diawetkan dengan garam dapur dan lain ikatan natrium, seperti sayuran dalam kaleng, sawi asin, asinan dan acar.

 

Buah-buahan.

 

Semua buah-buahan segar, buah yang diawet tanpa garam dapur dan natrium benzoate.

 

Buah-buahan yang diawet dengan garam dapur dan lain ikatan natrium, seperti buah dalam kaleng.

 

Lemak.

 

Minyak goring, margarine dan mentega tanpa garam.

 

Margarine dan mentega biasa.

 

Minuman.

 

The dan kopi.

 

Minuman ringan.

 

Bumbu. Semua bumbu-bumbu kering yang tidak mengandung garam dapur dan lain ikatan natrium. Garam dapur sesuai ketentuan untuk diet rendah garam II dan III

 

Garam dapur untuk diet rendah garam I, baking powder, soda kue, vetsin, dan bumbu yang mengandung garam dapur seperti kecap, terasi, magi, tomato kecap,petis, tauco.

 

  1. i.        Contoh Menu Sehari

Pagi                       Nasi

Telur dadar

Tumis kacang panjang

 

Pukul 10.00          Bubur kacang hijau

 

Siang                     Nasi

Ikan acar kuning

Tahu bacem

Sayur lodeh

Papaya

 

Malam                  Nasi

Daging pesmol

Keripiktempe

Cah sayuran

Pisang

 

  1. B.     DIET PREEKLAMSI
    1. a.      Gambaran umum

Preeklamsia murupakan sindrom yang terjadi pada saat kehamilan masuk pada minggu ke-20 dengan tanda dan gejala seperti hipertensi, proteinuria, kenaikan berat badan yang cepat karena edema, mudah timbul kemerah-merahan, mual, muntah, pusing, nyeri lambung, oligouria, gelisan dan kesadaran menurun. Cirri khas diet ini adalah memperhatikan asupan garam dan protein.

 

  1. b.      Tujuan Diet :
    1. Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal
    2. Muncapai dan mempertahankan tekanan darah normal
    3. Mencegah atau mengurangi retensi garam atau air
    4. Mencapai keseimbangan nitrogen
    5. Menjaga agar penambahan berat badab tidak melebihi normal
    6. Mengurangi atau mencegah timbulnya factor risiko lain  atau penyakit baru pada saat kehamilan atau setelah melahirkan

 

  1. c.       Syarat Diet :
    1. Energi dan semua zat gizi cukup. Dalam keadaan berat, makanan diberikan secara berangsur, sesuai dengan kemampuan pasien menerima makanan. Penambahan energy tidak lebih dari 300 kkal dari makanan atau diet sebelum hamil.
    2. Garam diberikan rendah sesuai dengan berat ringannya retensi garam atau air. Penambahan berat badan diusahakan dibawah 3 kg/bulan atau dibawah 1 kg/minggu.
    3. Protein tinggi (1 ½ – 2 gr/kg berat badan).
    4. Lemak sedang, sebagian lemak berupa lemak tidak jenuh tunggal dan lemak tidak jenuh ganda.
    5. Vitamin cukup, vitamin C dan B6 diberikan sedikit lebingg tinggi.
    6. Mineral cukup terutama kalium dan kalsium.
    7. Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan makan pasien.
    8. Cairan diberikan 2500 ml sehari. Pada keadaan oligouria, cairan dibatasi dan disesuaikan dengan cairan yang keluar melalui urine, muntah, keringat, dan pernapasan.

 

  1. d.      Macam Diet dan Indikasi Pemberian
    1. 1.      Diet Preeklamsi I

Diet preeklamsi I diberikan pada pasien dengan preeklamsi berat. Makanan diberikkan dalam bentuk cair, yang terdiri dari susu dan sari buah. Jumlah cairan diberikan paling sedikit 1500 ml sehari per oral, dan kekurangan diberikan secara parenteral. Makanan ini kurang energy dan zat gizi, karena itu hanya diberikan selama 1-2 hari.

  1. 2.      Diet Preeklamsi II

Diet preeklamsi II diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet preeklamsi I atau kepada pasien preeklamsia yang penyakitnya tidak begitu berat. Makanan berbentuk saring atau lunak dan diberikan sebagai diet rendahgaramI.makanan ini cukup energy dan gizi lainnya.

  1. 3.      Diet Preeklamsi III

Diet preeklamsi III diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet preeklamsi II atau kepada pasien dengan preeklamsi ringan. Makanan ini mengandung protein tinggi dan garam rendah, diberikan dalam bentuk lunak atau biasa. Makanan iini cukup semua zat gizi. Jumlah energy harus disesuaikan dengan kenaikan berat badan yang boleh lebih dari 1 kg setiap bulan.

 

  1. e.       Bahan Makanan Sehari

 

Bahan Makanan

Diet Preeklamsia I

Diet Preeklamsia II

Diet Preeklamsia III

Berat (gr)

urt

Berat (gr)

urt

Berat (gr)

Urt

Beras

Telur

Daging

Tempe

Sayuran

Sari buah/

buah

 

Gula pasir

Minyak

nabati

Susu Bubuk

1000

 

 

80

 

75

15

 

 

8 sdm

 

15 sdm

150

50

100

50

200

400

 

 

30

15

 

25

3 gls tim

1 butir

2 ptg sdg

2 ptg sdg

2 gls

4 ptg sdg

pepaya

 

3 sdm

1 ½ sdm

 

5 sdm

200

50

100

100

200

400

 

 

30

25

 

50

4 gls tim

1 butir

2ptg sdg

4 ptg sdg

2 gls

4 ptg sdg

Papaya

 

3 sdm

2 ½ sdm

 

10 sdm

Susu khusus ibu hamil bila diberikan susu biasa energi hanya sebagian yang terpenuhi.

 

 

  1. f.       Nilai gizi
 

Diet   Preeklamsia I

Diet Preeklamsia II

Diet Preeklamsia III

Energi (kkal)

Protein (gram)

Lemak (gram)

Karbohidrat

(gram)

Kalsium

(gram)

Besi (gram)

Vitamin A (RE)

Tiamin (mg)

Vitamin C (mg)

Natrium (mg)

1032

20

19

211

 

600

 

6,9

750

0,5

2,46

228

1604

56

44

261

 

500

 

17,3

2796

0,8

212

248

 

2128

80

63

305

 

800

 

24,2

3035

1

213

403

 

 

  1. g.      Pembagian Bahan Makanan Sehari
  2. 1.      Diet Preeklamsia I

Pukul 06.00                       teh                   1 gelas

 

Pukul 08.00                       sari tomat        1 gelas

susu                 1 gelas

 

Pukul 10.00                       sari jeruk          1 gelas

 

Pukul 13.00                       sari alpukat      1 gelas

susu                 1 gelas

 

Pukul 16.00                       sari tomat        1 gelas

Susu                1 gelas

 

Pukul 18.00                       sari papaya      1 gelas

sari jeruk          1 gelas

 

Pukul 20.00                       teh                   1 gelas

Susu                1 gelas

 

  1. 2.      Diet preeklamsia II & III

Waktu

Bahan Makanan

Diet Preeklamsi II

Diet Preeklamsi III

Berat (g)

urt

Berat (g)

urt

Pagi

Beras

Telur ayam

Sayuran

Minyak

Susu bubuk

Gula pasir

50

50

50

5

25

10

1 gls tim

1 btr

½ gelas

½ sdm

5 sdm

1 sdm

50

50

50

5

25

10

1 gls tim

1 btr

½ gelas

½ sdm

5 sdm

1 sdm

10.00

Buah

Gula pasir

100

10

1ptg

papaya

1 sdm

100

10

1ptg

papaya

1 sdm

Siang

Beras

Daging

Tahu

Sayur

Buah

Minyak

50

50

50

75

100

5

1 gls tim

1 ptg sdg

½ bh bsr

¾ gelas

1ptg

papaya

½ sdm

75

50

100

75

100

10

1 ½ gls tim

1 ptg sdg

1 bh bsr

¾ gelas

1 ptg sdg

papaya

1 sdm

16.00

 

Buah

Gula Pasir

Susu bubuk

 

100

10

1 ptg

pepaya

1 sdm

100

10

25

Ptg

pepaya

1 sdm

5 sdm

Malam

Beras

Ikan

Tempe

Sayuran

Buah

Minyak

50

50

25

75

100

5

1 gls tim

1ptg sdg

1 ptg sdg

¾ gls

1ptg

pepaya

½ sdm

75

50

50

75

100

10

1 ½ gls tim

1 ptg sdg

2 ptg sdg

¾ gls

1 ptg sdg

papaya

1 sdm

 

 

  1. h.      Contoh Menu Sehari

Diet Preeklamsi II

Pagi                    Nasi Tim

Telur Ceplok

Tumis kacang panjang taoge

Susu

 

Pukul 10.00        Selada buah

 

Siang                  Nasi Tim

Daging bumbu terik

Tempebacem

Pisang

 

Pukul 16.00        Jeruk

 

Malam                Nasi tim

Ikan bumbu kuning

Gadon tahu

Jeruk

Teh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III
PENUTUP

  1. Hipertensi, preeklamsi dan eklamsi termasuk salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu hamil diIndonesia.
  2. Nutrisi (gizi) memegang peranan penting dalam upaya pencegahan dan penyembuhan penyakit. Sehingga untuk masalah Hipertensi dan komplikasi kehamilan yang lain perlu adanya pengaturan dan penyusunan menu yang baik (baik kualitas maupun kuantitasnya).
  3. Diet Rendah Garam (garam Na) sangat penting bagi penderita Hipertensi khususnya bagi ibu hamil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Almastar, Sunita. Penuntun Diet. 2006.Jakarta : Gramedia.

Arisman. Gizi dalam Daur Kehidupan. 2007.Jakarta : EGC

Francin Paath, Erna, dkk. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. 2005.Jakarta: EGC

www. cermindunia.com/edisi khusus 80/1992. Selasa, 31 Maret 2008. 19.00 WIB

http://www.balita-anda.com. Selasa, 31 Maret 2008. 19.00 WIB

Image

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

 

Kehamilan dengan hipertensi ialah keadaan hipertensi yang diimbas oleh kehamilan. Istilah ini diadopsi oleh “The American College of Obstetrician and Gynecologist” untuk mengganti istilah preeklampsia dan eklampsia. Sindrom ini terdiri atas trias: yaitu hipertensi, proteinuria, dan edema. Hipertensi jenis ini lazim menjangkiti primigravida (kehamilan minggu XX) berusia antara 20-35 tahun yang berasal dari lapisan social ekonomi tingkat bawah, dan menderita malnutrisi. Badan Kesehatan dunia memperkirakan ada 8% (eklamsia) dan 4% (hipertensi) dari 21 kasus penyebab kematian (selain abortus) yang ada.

Seorang wanita hamil boleh dicurigai menderita hipertensi kehamilan, jika yang bersangkutan sering mengeluh pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri perut bagian atas (ulu hati), nafsu makan lenyap, rasa mual, dan muntah. Tanda yang mudah diperiksa alah pertambahan berat badan secara progresif (. 3kg tiap minggu). Sehingga perlu adanya penyusunan menu dan trik  khusus untuk menanggulangi masalah tersebut seperti Diet Rendah Garam karena nutrisi mempunyai peranan penting dalam upaya pencegahan dan penyembuhan hipertensi maupun komplikasi lain saat kehamilan.

Dengan disusunnya makalah ini diharapkan dapat memberikan sedikit informasi tentang hipertensi dan diet untuk menanggulangi masalah hipertensi. Selain itu makalah ini dapat digunakan sebagai acuan dan refrensi untuk menyusun menu bagi penderita hipertensi khususnya ibu hamil. Sehingga dapat membantu dalam mengatasi masalah nutrisi bagi penderita hipertensi khususnya bagi ibu hamil.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

 

  1. I.                   INFORMASI TENTANG HIPERTENSI

Sampai sekarang penyakit hipertensi dalam kehamilan (HDK) masih merupakan masalah kebidanan yang belum dapat dipecahkan dengan tuntas. HDK adalah salah satu dari trias

penyebab utama kematian ibu di camping perdarahan dan infeksi. Penanganan kasus HDK atau Gestosis atau EPH Gestosis masih tetap merupakan kontroversi karena sampai saat ini etiologi dan patofisiologi penyakit HDK masih belum jelas diketahui, sehingga penanganan yang definitif belum mungkin dijalankan dengan sempurna. Hanya tenninasi kehamilan yang dapat di-

anggap sebagai terapi yang definitif.

HDK adalah komplikasi kehamilan setelah kehamilan 20 minggu yang ditandai dengan timbulnya hipertensi, disertai salah satu dari : edema, proteinuria, atai – edua-duanya. Klasifikasinya sebagai berikut :

  1. HDK sebagai penyulit yang berhubungan langsung dengan kehamilan :
    1. 1)Pre-eklamsia
    2. 2)Eklamsia
    3. HDK sebagai penyulit yang tidak berhubungan langsung dengan kehamilan :
      1. Hipertensi kronik.
      2. Pre-eklamsia/eklamsiapadahipertensikronik/superimposed.
      3. 4.      Transient hypertension.
      4. 5.      HDK yang tidak dapat dikiasifikasikan.

 

  1. a.      Definisi dan Kriteria
  2. Hipertensi ialah :

a)  Bila tekanan darah sistolik 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik >_ 90 mmHg.

b)  Kenaikan tekanan darah sistolik 30 mmHg.

c)  Kenaikan tekanan darah diastolik  15 mmHg. Untuk mengukur tekanan darah yang pertama dilakukan dua kali setelah istirahat duduk 10 menit. Pengukuran tekanan darah ini harus dilakukan sekurang-kurangnya 2 kali dengan selang waktu 6 jam dan ibu dalam keadaan istirahat.

  1. Pre-eklamsia

Ialah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan/atau edema akibat kehamilan, setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblas.

  1. Eklamsia

ialah timbulnya kejang pada penderita pre-eklamsia yang disusul dengan koma. Kejang ini bukan akibat dari kelainan neurologik.  

  1. Hipertensi kronik

Hipertensi yang menetap oleh sebab apapun, yang ditemukanpada umur kehamilan kurang dari 20 minggu, atau hipertensi yang menetap setelah 6 minggu pasca persalinan.

  1. Superimposed pre-eklamsia/eklamsia

Ialah timbulnya pre-eklamsia atau eklamsia pada hipertensi kronik.

  1. Transient hypertension

lalah hipertensi dalam kehamilan pada wanita yang tekanan darahnya normal sebelum hamil dan tidak mempunyai gejala-gejala hipertensi kronik atau pre-eklamsia atau eklamsia.  Gejala ini akan hilang setelah 10 hari pasca persalinan.

  1. b.      Etiologi

Faktor predisposisi :

1)      Primigravida atau nullipara, terutama pada umur reproduksi ekstrem, yaitu remaja dan umur 35 tahun ke atas.

2)      Multigravida dengan kondisi klinis :

a) Kehamilan ganda dan hidrops fetalis.

b) Penyakit vaskuler termasuk hipertensi esensial kronik dan diabetes mellitus.

c) Penyakit-penyakit ginjal.

3)      Hiperplasentosis : Molahidatidosa,kehamilan ganda, hi drops fetalis, bay i besar, diabetes mellitus.

4)      Riwayat keluarga pernah pre-eklamsia atau eklamsia.

5)      Obesitas dan hidramnion.

6)      Gizi yang kurang dan anemi.

7)      Kasus-kasus dengan kadar asam urat yang tinggi, defisiensi kalsium, defisiensi asam lemak tidak jenuh, kurang antioksidans.

 

  1. c.       Patogenesis

Belum diketahui dengan pasti. Proses iskemik uteroplasenter menyebabkan vasospasmus arteriole/kapiler secara umum sehingga menimbulkan kelainan patologis pada organ-organ vital.

  1. 1.      Pre-Eklamsia Ringan

Kriteria :

1)      Tekanan darah > 140/90 mmHg atau tekanan darah sistolik naik > 30 mmHg atau kenaikan tekanan darah diastolik > 15 mmHg tetapi < 160/110 mmHg.

2)      Edema

3)      Proteinuria, setelah kehamilan 20 minggu.

  1. 2.      Pre-Eklamsia Berat

Kriteria :

1)    Tekanan darah 160/110 mmHg.

2)    Proteinuria lebih 5 gram/24 jam atau kualitatif 3+/4+.

3)    Oliguria 500 ml/24 jam.

4)    Nyeri kepala frontal atau gangguan penglihatan.

5)    Nyeri epigastrium.

6)    Edema paru atau sianosis.

7)    Pertumbuhan janin intrauterin yang terlambat (IUFGR).

8)    HELLP syndrome (H = Hemolysis; EL = Elevated Liver enzymes; LP = Low Platelet counts).

 

  1. 3.      Eklamsia

Eklamsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang dan atau koma. Sebelumnya wanita tadi menunjukkan gejala-gejala pre-eklamsia (kejang-kejang timbul bukan akibat kelainan neu- rologik).

 

  1. 4.      Hipertensi Kronik Dalam Kehamilan

Adanya hipertensi yang persisten oleh sebab apapun juga yang ditemukan pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu atau hipertensi persisten setelah 6 minggu pasca persalinan. Diagnosis klinik Diagnosis hipertensi kronik pada kehamilan ditegakkan berdasarkan gejala-gejala sebagai berikut :

a)   Adanya riwayat hipertensi sebelum kehamilan atau didapatkan hipertensi pada kehamilan kurang dari 20 minggu.

b)   Ditemukan kelainan organik, misalnya : pembesaran jantung, kelainan ginjal, dan sebagainya.

c)   Umur ibu di atas 30 tahun dan umumnya multigravida.

d)   Bila terjadi superimposed preeclampsia, maka didapatkan : tekanan darah sistolik lebih dari 200 mmHg adanya perubahan-perubahan pada pembuluh darah retin berupa eksudasi, perdarahan, dan penyempitan.

e)   Retensi air dan natrium tidak menonjol. Jarang didapatkan edema dan proteinuria.

f)   Hipertensi masih temp didapatkan sampai 6 bulan pasca persalinan.

 

  1. Komplikasi

Gagal ginjal, gagal jantung, edema paru-paru, kelainan pembekuan darah, perdarahan otak, kematian janin.

 

  1. II.                UPAYA PENANGGULANGAN

 

  1. A.    DIET RENDAH GARAM
    1. a.      Pengertian

Yang dimaksud dengan garam dalam Diet Rendah Garam adalah garam natrium seperti yang terdapat ddi dalm garam dapur (NaCl), soda kue (NaHCO3), baking powder, natrium benzoat, dan vetsin (mono sodium glutamate). Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraselular tubuh yang mempunyai fungsi menjaga keseimbangan cairan dan asam tubuh, serta berperan dalam transmisi saraf dan kontraksi otot. Asupan makanan sehari-hari umumnya mengandung lebih banyak natrium daripada yang dibutuhkan tubuh. Dalam keadaan normal, jumlah natrium yang dikeluarkan tubuh melalui urin sama dengan jumlah yang dikonsumsi, sehingga terdapat keseimbangan.

            Makanan sehari-hari biasanya cukup mengandung natrium yang dibutuhkan sehingga tidak ada penetapan kebutuhan natrium sehari. WHO menganjurkan pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari (ekuivalen dengan 2400 mg)

            Asupan natrium yang berlebihan, terutama dalam bentuk natrium klorida, dapat menyebabkan gangguan keseimbangan cairan tubuh, sehingga menyebabkan edema atau asites, dan hipertensi. Penyakit-penyakit tertentu seperti sirosis hati, penyakit ginjal tertentu, dekomsio kordis, toksemia pada kehamilan dan hipertensi esensial dapat menyebabkan gejala edema atau asites, dan hipertensi. Dalam keadaan demikian asupan garam natrium perlu dibatasi.

 

  1. b.      Tujuan Diet

Tujuan Diet  Garam Rendah adalah membantu menghilangkan retensi  garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi

 

  1. c.       Syarat Diet Rendah Garam:
  2. Cukup energi, protein, mineral dan vitamin.
  3. Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit.
  4. Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau air dan hipertensi.

 

  1. d.      Macam Diet dan Indikasi Pemberian

Diet Garam rendah diberikan kepada pasien denan edema, asites atau hipertensi seperti yang terjadi pada penyakit dekompensasio kordis, serosis hati, penyakit ginjal tertentu, toxemia pada kehamilan, dan hipertensi esensial. Diet ini mengandung cukup zat-zat gizi. Sesuai dengan keadaan penyakit dapat diberikan berbagai Diet Rendah Garam.

a)      Diet Rendah Garam I (200-400 mg Na)

Diet Rendah Garam I diberikan kepada pasien dengan edema, asites, dan Hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak ditambahkan garam dapur . Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya misalnya   daun seledri (96 mg/100 gr bahan makanan), pisang (18 gr bahan makanan).

b)     Diet Rendah Garam II (600-800 mg Na)

Diet rendah garam II diberikan kepada pasien dengan edema, acites, dan hipertensi tidak terlalu berat. Pemberian makanan sehari sama dengan diet rendah garam I. Pada pengolahan makananya boleh menggunakan setengah sendok teh garam dapur (2gr).  Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya, misalnya roti bakar (700 mg/100gr  bahan makanan), susu asam bubuk (600 mg/ 100 gr bahan makanan), biskuit  (500mg/100gr bahan makanan), kue-kue (250mg/100gr bahan makanan), roti cokelat (500mg/100gr bahan makanan), ayam (100mg/100gr bahan makannan), daging bebek (200mg/100gr bahan makana), putih telur bebek( 228mg/100gr), susu skim bubuk (470mg/100gr bahan makanan).

c)      Diet Rendah Garam III (1000-1200 mg Na)

Diet rendah garam III diberikan kepada pasien dengan edema dan hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari samadengan diet rendah garam I. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan I sdt (4gr) garam dapur. Contoh pengaturan makanannya; keju  (1200 mg/100gr makanan), sosis (1000 mg/ 100gr bahan makanan), lemak babi (1500 mg/100 gr bahan makanan), garam (38758 mg/100 gr bahan makanan).

 

  1. e.       Bahan Makanan Sehari

Bahan Makanan

Berat(gr)

Takaran

Beras

Daging

Telur Ayam

Tempe

Kacang Hijau

Sayuran

Buah

Minyak

Gula Pasir

300

100

50

100

25

200

200

25

25

5 gls nasi

2 ptg sdg

1 butir

4 ptg sdg

2 ½ sdm

2 gelas

2 ptg sdg papaya

2 ½ sdm

2 ½ sdm

 

  1. f.       Nilai Gizi

Energi                    2230 kkal

Protein                   75 gr

Lemak                   53 gr

Karbohidrat           365 gr

Kalsium                 500 mg

Besi                       24 mg

Tiamin                   1,2 mg

Vitamin                 87mg

Natrium                 305 mg

 

  1. g.      Pembagian Bahan Makanan Sehari
  2. 1.      Pagi

Beras 70 gr                  1 gelas nasi

Telur 50 gr                   1 btr

Sayuran 50 gr              ½ gelas

Minyak 5 gr                 ½ sdm

Gula Pasir 10 gr          1 sdm

  1. 2.      Pukul 10.00

Kacang hijau 25 gr      2 ½ sdm

Gula Pasir 15 gr          1 ½ sdm

  1. 3.      Siang dan Sore

Beras 140 gr                2 gelas nasi

Daging 50 gr               1 potong sedang

Tempe50 gr                2 potong sedang

Sayuran 75 gr              ¾ gelas

Buah 100gr                 1 potong sedang papaya

Minyak 10 gr               1 sdm

 

  1. h.      Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan

Bahan Makanan

Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Sunber karbohidrat

 

Beras, kentang, singkong, terigu, tapioca, hongkue, gula, makanan yang diolah dari bahan makanan tersebut diatas tanpa garam dapur dan soda seperti : macaroni, mie, bihun, roti, biskuit, kue kering.

 

Roti, biskuit, dan kue-kue yang dimasak dengan garam dapur, baking powder dan soda.

 

 

Sumber protein hewani,

 

Daging dan ikan maksimal 100 gr sehari, telur maksimal 1 butir sehari.

 

Otak, dinjal, lidah, sardine, daging, ikan, susu, dan telur yang diawetkan dengan garam dapur seperti daging asap, ham, bacon, dendeng, abon, keju, ikan asin, ikan kaleng, kornet, ebi, udang kering, telur asin dan telur pindang.

 

Sumber protein nabati.

 

Semua kacang-kacangan dan hasilnya yang diolah dan dimasak tanpa garam dapur.

 

Keju, kacang tanah dan semua kacang-kacangan dan hasilnya yang dimasak dengan garam dapur dan lain ikatan matrium.

 

Sayuran.

 

Semua sayuran segar, sayuran yang diawet tanpa garam dapur dan natrium benzoate.

 

Sayuran yang dimasak dan diawetkan dengan garam dapur dan lain ikatan natrium, seperti sayuran dalam kaleng, sawi asin, asinan dan acar.

 

Buah-buahan.

 

Semua buah-buahan segar, buah yang diawet tanpa garam dapur dan natrium benzoate.

 

Buah-buahan yang diawet dengan garam dapur dan lain ikatan natrium, seperti buah dalam kaleng.

 

Lemak.

 

Minyak goring, margarine dan mentega tanpa garam.

 

Margarine dan mentega biasa.

 

Minuman.

 

The dan kopi.

 

Minuman ringan.

 

Bumbu.

Semua bumbu-bumbu kering yang tidak mengandung garam dapur dan lain ikatan natrium. Garam dapur sesuai ketentuan untuk diet rendah garam II dan III

 

Garam dapur untuk diet rendah garam I, baking powder, soda kue, vetsin, dan bumbu yang mengandung garam dapur seperti kecap, terasi, magi, tomato kecap,petis, tauco.

 

  1. i.        Contoh Menu Sehari

Pagi                       Nasi

Telur dadar

Tumis kacang panjang

 

Pukul 10.00          Bubur kacang hijau

 

Siang                     Nasi

Ikan acar kuning

Tahu bacem

Sayur lodeh

Papaya

 

Malam                  Nasi

Daging pesmol

Keripiktempe

Cah sayuran

Pisang

 

  1. B.     DIET PREEKLAMSI
    1. a.      Gambaran umum

Preeklamsia murupakan sindrom yang terjadi pada saat kehamilan masuk pada minggu ke-20 dengan tanda dan gejala seperti hipertensi, proteinuria, kenaikan berat badan yang cepat karena edema, mudah timbul kemerah-merahan, mual, muntah, pusing, nyeri lambung, oligouria, gelisan dan kesadaran menurun. Cirri khas diet ini adalah memperhatikan asupan garam dan protein.

 

  1. b.      Tujuan Diet :
    1. Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal
    2. Muncapai dan mempertahankan tekanan darah normal
    3. Mencegah atau mengurangi retensi garam atau air
    4. Mencapai keseimbangan nitrogen
    5. Menjaga agar penambahan berat badab tidak melebihi normal
    6. Mengurangi atau mencegah timbulnya factor risiko lain  atau penyakit baru pada saat kehamilan atau setelah melahirkan

 

  1. c.       Syarat Diet :
    1. Energi dan semua zat gizi cukup. Dalam keadaan berat, makanan diberikan secara berangsur, sesuai dengan kemampuan pasien menerima makanan. Penambahan energy tidak lebih dari 300 kkal dari makanan atau diet sebelum hamil.
    2. Garam diberikan rendah sesuai dengan berat ringannya retensi garam atau air. Penambahan berat badan diusahakan dibawah 3 kg/bulan atau dibawah 1 kg/minggu.
    3. Protein tinggi (1 ½ – 2 gr/kg berat badan).
    4. Lemak sedang, sebagian lemak berupa lemak tidak jenuh tunggal dan lemak tidak jenuh ganda.
    5. Vitamin cukup, vitamin C dan B6 diberikan sedikit lebingg tinggi.
    6. Mineral cukup terutama kalium dan kalsium.
    7. Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan makan pasien.
    8. Cairan diberikan 2500 ml sehari. Pada keadaan oligouria, cairan dibatasi dan disesuaikan dengan cairan yang keluar melalui urine, muntah, keringat, dan pernapasan.

 

  1. d.      Macam Diet dan Indikasi Pemberian
    1. 1.      Diet Preeklamsi I

      Diet preeklamsi I diberikan pada pasien dengan preeklamsi berat. Makanan diberikkan dalam bentuk cair, yang terdiri dari susu dan sari buah. Jumlah cairan diberikan paling sedikit 1500 ml sehari per oral, dan kekurangan diberikan secara parenteral. Makanan ini kurang energy dan zat gizi, karena itu hanya diberikan selama 1-2 hari.

  1. 2.      Diet Preeklamsi II

      Diet preeklamsi II diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet preeklamsi I atau kepada pasien preeklamsia yang penyakitnya tidak begitu berat. Makanan berbentuk saring atau lunak dan diberikan sebagai diet rendahgaramI.makanan ini cukup energy dan gizi lainnya.

  1. 3.      Diet Preeklamsi III

Diet preeklamsi III diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet preeklamsi II atau kepada pasien dengan preeklamsi ringan. Makanan ini mengandung protein tinggi dan garam rendah, diberikan dalam bentuk lunak atau biasa. Makanan iini cukup semua zat gizi. Jumlah energy harus disesuaikan dengan kenaikan berat badan yang boleh lebih dari 1 kg setiap bulan.

 

  1. e.       Bahan Makanan Sehari

 

Bahan Makanan

Diet Preeklamsia I

Diet Preeklamsia II

Diet Preeklamsia III

Berat (gr)

urt

Berat (gr)

urt

Berat (gr)

Urt

Beras

Telur

Daging

Tempe

Sayuran

Sari buah/

buah

 

Gula pasir

Minyak

nabati

Susu Bubuk

1000

 

 

80

 

75

15

 

 

8 sdm

 

15 sdm

150

50

100

50

200

400

 

 

30

15

 

25

3 gls tim

1 butir

2 ptg sdg

2 ptg sdg

2 gls

4 ptg sdg

pepaya

 

3 sdm

1 ½ sdm

 

5 sdm

200

50

100

100

200

400

 

 

30

25

 

50

4 gls tim

1 butir

2ptg sdg

4 ptg sdg

2 gls

4 ptg sdg

Papaya

 

3 sdm

2 ½ sdm

 

10 sdm

Susu khusus ibu hamil bila diberikan susu biasa energi hanya sebagian yang terpenuhi.   

 

 

  1. f.       Nilai gizi

 

Diet   Preeklamsia I

Diet Preeklamsia II

Diet Preeklamsia III

Energi (kkal)

Protein (gram)

Lemak (gram)

Karbohidrat

(gram)

Kalsium

(gram)

Besi (gram)

Vitamin A (RE)

Tiamin (mg)

Vitamin C (mg)

Natrium (mg)

1032

20

19

211

 

600

 

6,9

750

0,5

2,46

228

1604

56

44

261

 

500

 

17,3

2796

0,8

212

248

 

2128

80

63

305

 

800

 

24,2

3035

1

213

403

 

 

  1. g.      Pembagian Bahan Makanan Sehari
  2. 1.      Diet Preeklamsia I

Pukul 06.00                       teh                   1 gelas

 

Pukul 08.00                       sari tomat        1 gelas

                                          susu                 1 gelas

 

Pukul 10.00                       sari jeruk          1 gelas

 

Pukul 13.00                       sari alpukat      1 gelas

                                          susu                 1 gelas

 

Pukul 16.00                       sari tomat        1 gelas

                                          Susu                1 gelas

 

Pukul 18.00                       sari papaya      1 gelas

                                          sari jeruk          1 gelas

 

Pukul 20.00                       teh                   1 gelas

                                          Susu                1 gelas

 

  1. 2.      Diet preeklamsia II & III

Waktu

Bahan Makanan

Diet Preeklamsi II

Diet Preeklamsi III

Berat (g)

urt

Berat (g)

urt

Pagi

Beras

Telur ayam

Sayuran

Minyak

Susu bubuk

Gula pasir

50

50

50

5

25

10

1 gls tim

1 btr

½ gelas

½ sdm

5 sdm

1 sdm

50

50

50

5

25

10

1 gls tim

1 btr

½ gelas

½ sdm

5 sdm

1 sdm

10.00

Buah

 

Gula pasir

100

 

10

1ptg 

papaya

1 sdm

100

 

10

1ptg

papaya

1 sdm

Siang

 

 

 

 

 

 

Beras

Daging

Tahu

Sayur

Buah

 

Minyak

50

50

50

75

100

 

5

1 gls tim

1 ptg sdg

½ bh bsr

¾ gelas

1ptg

papaya

½ sdm

75

50

100

75

100

 

10

1 ½ gls tim

1 ptg sdg

1 bh bsr

¾ gelas

1 ptg sdg

papaya

1 sdm

 

16.00

 

Buah

 

Gula Pasir

Susu bubuk

 

 

100

 

10

 

 

1 ptg

pepaya

1 sdm

 

100

 

10

25

 

 

Ptg

pepaya

1 sdm

5 sdm

 

Malam

Beras

Ikan

Tempe

Sayuran

Buah

 

Minyak

50

50

25

75

100

 

5

1 gls tim

1ptg sdg

1 ptg sdg

¾ gls

1ptg

pepaya

½ sdm

75

50

50

75

100

 

10

1 ½ gls tim

1 ptg sdg

2 ptg sdg

¾ gls

1 ptg sdg

papaya

1 sdm

 

 

  1. h.      Contoh Menu Sehari

Diet Preeklamsi II

Pagi                    Nasi Tim

Telur Ceplok

Tumis kacang panjang taoge

Susu

 

Pukul 10.00        Selada buah

 

Siang                  Nasi Tim

Daging bumbu terik

Tempebacem

Pisang

 

Pukul 16.00        Jeruk

 

Malam                Nasi tim

Ikan bumbu kuning

Gadon tahu

Jeruk

Teh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III
PENUTUP

  1. Hipertensi, preeklamsi dan eklamsi termasuk salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu hamil diIndonesia.
  2. Nutrisi (gizi) memegang peranan penting dalam upaya pencegahan dan penyembuhan penyakit. Sehingga untuk masalah Hipertensi dan komplikasi kehamilan yang lain perlu adanya pengaturan dan penyusunan menu yang baik (baik kualitas maupun kuantitasnya).
  3. Diet Rendah Garam (garam Na) sangat penting bagi penderita Hipertensi khususnya bagi ibu hamil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Almastar, Sunita. Penuntun Diet. 2006.Jakarta : Gramedia.

Arisman. Gizi dalam Daur Kehidupan. 2007.Jakarta : EGC

Francin Paath, Erna, dkk. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. 2005.Jakarta: EGC

www. cermindunia.com/edisi khusus 80/1992. Selasa, 31 Maret 2008. 19.00 WIB

http://www.balita-anda.com. Selasa, 31 Maret 2008. 19.00 WIB

INTISARI

Hubungan antara pelaksanaan IMD dengan Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Mlati II tahun 2011

 

Latar Belakang :Puskesmas Mlati II salah satu Puskesmas rawat inap di Kabupaten Sleman  telah menerapkan pertolongan persalinan APN dengan IMD. IMD sebagai pilar utama  proses menyusui dapat  memberikan  ibu kesempatan meningkatkan rasa percaya diri dalam memberikan  ASI sehingga keberlangsungan menyusui terjadi, sudah dilaksanakan lebih dari 90%. Cakupan ASI Eksklusif di Kabupaten Sleman tertinggi dibandingkan kabupaten lain sebanyak  35,28%.

Tujuan : Diketahuinya hubungan antara pelaksanaan IMD dengan pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Mlati II tahun 2011.

Metode : Penelitian observasional ini menggunakan metode cross sectional dengan teknik pengambilan subjek accidental sampling. Subjek yang diteliti sejumlah 64 ibu dengan kriteria inklusi memiliki anak minimal usia 6 bulan dan berkunjung ke Puskesmas. Hasil penelitian dianalisis secara analitik korelasional dengan uji statistika Chi Square.

Hasil : Karakteristik subyek pada penelitian ini sebagian besar berumur 20-35 tahun (79,68%), berpendidikan SMA (56,25%), dan tidak bekerja (46%). Berdasarkan dari analisa data menunjukkan bahwa p-value 0,00 < 0,05 yaitu menunjukkan ada hubungan antara pelaksanaan  IMD dengan pemberian ASI Eksklusif. Hubungan antara kedua variabel rendah dengan hasil perhitungan koefisien kontingensi yaitu 0,347.

Kesimpulan : Terdapat hubungan antara pelaksanaan IMD dengan pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Mlati II tahun 2011.

Kata Kunci : IMD, ASI Eksklusif

BAB I

PENDAHULUAN

 

Banyak istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa bayi KMK ini menderita gangguan pertumbuhan di dalam uterus (IUGR) seperti Pseudopremature, Small for Dates, dysmature, Fetal Malnutrition Syndrome, Chronic Fetal Distress, IUGR dan Small for Gestational Age (SGA). Batasan yang diajukan oleh Lubchenco (1963) adalah bahwa setiap bayi yang berat lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari 10th percentile oleh masa kehamilan pada Denver Intra uterine Growth Curves adalah bayi SGA. Gambaran kliniknya tergantung daripada lamanya, intensitas dan timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut.

 

Kejadian PJT bervariasi, berkisar 4-8% pada negara maju dan 6-30% pada negara berkembang. Hal ini perlu menjadi perhatian karena besarnya kecacatan dan kematian yang terjadi akibat PJT. Pada umumnya 75% janin dengan PJT memiliki proporsi tubuh yang kecil, 15-25% terjadi karena insufisiensi uteroplasenta, 5-10% terjadi karena infeksi selama kehamilan atau kecacatan bawaan.

Meskipun sekitar 50% dari pertumbuhan janin terhambat belum diketahui penyebabnya namun ada beberapa faktor yang diketahui dapat menyebabkannya, yaitu pertumbuhan maternal yang kurang, infeksi janin, malformasi kongenital, kelainan kromosom, penyakit vaskuler, penyakit ginjal kronis, anemia, abnormalitas plasenta dan tali pusat, janin multipel(kembar).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

A. Definisi

Pertumbuhan janin terhambat (PJT) ditegakkan apabila pada pemeriksaan ultrasonografi (USG) perkiraan berat badan janin berada di bawah persentil 10 dibawah usia kehamilan atau lebih kecil dari yang seharusnya (sesuai grafik). Terminologi “kecil untuk masa kehamilan” adalah berat badan bayi yang tidak sesuai dengan masa kehamilan dan dapat muncul pada bayi cukup bulan atau prematur. Pada umumnya janin tersebut memiliki tubuh yang kecil dan risiko kecacatan atau kematian bayi kecil akan lebih besar baik pada saat dilahirkan ataupun setelah melahirkan.

PJT terbagi atas dua, yaitu:

  1. Pertumbuhan janin terhambat tipe I : simetris atau proporsional (kronis)

Memiliki kejadian lebih awal dari gangguan pertumbuhan janin yang tidak simetris, semua organ mengecil secara proporsional. Faktor yang berkaitan dengan hal ini adalah kelainan kromosom, kelainan organ (terutama jantung), infeksi TORCH (Toxoplasmosis, Other Agents <Coxsackie virus, Listeria), Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex/Hepatitis B/HIV, Syphilis), kekurangan nutrisi berat pada ibu hamil, dan wanita hamil yang merokok

  1. Pertumbuhan janin terhambat tipe II : Asimetris atau disproportional (akut)

Gangguan pertumbuhan janin asimetris memiliki waktu kejadian lebih lama dibandingkan gangguan pertumbuhan janin simetris.  Beberapa organ lebih terpengaruh dibandingkan yang lain, lingkar perut adalah bagian tubuh yang terganggu untuk pertama kali, kelainan panjang tulang paha umumnya terpengaruhi belakangan, lingkar kepala dan diameter biparietal juga berkurang. Faktor yang mempengaruhi adalah insufisiensi (tidak efisiennya) plasenta yang terjadi karena gangguan kondisi ibu termasuk diantaranya tekanan darah tinggi dan diabetes dalam kehamilan dalam kehamilan

Ada dua betuk IUGR menurut Renfield (1975), yaitu :

1.      Proportionate IUGR

Janin yang menderita distres yang lama dimana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-mingu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir sehingga berat, panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih dibawah masa gestasi yang sebenarnya. Bayi ini tidak menunjukkan adanya wasted oleh karena retardasi pada janin ini terjadi sebelum terbentuknya adipose tissue.

2.      Dispropotionate IUGR

Terjadi akibat distress. Gangguan yang terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. Bayi tampak wasted dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit, kulit kering keriput dan mudah diangkat, bayi kelihatan kurus dan lebih panjang.

B. Penyebab

  1. Penyebab ibu

a.       Fisik ibu yang kecil dan kenaikan berat badan yang tidak adekuat

Faktor keturunan dari ibu dapat mempengaruhi berat badan janin. Kenaikan berat  tidak adekuat selama kehamilan dapat menyebabkan PJT. Kenaikan berat badan ibu selama kehamilan sebaiknya 9-16 kg. apabila wanita dengan berat badan kurang harus ditingkatkan sampai berat badan ideal ditambah dengan 10-12 kg

b.      Penyakit ibu kronik

Kondisi ibu yang memiliki hipertensi kronik, penyakit jantung sianotik, diabetes, serta penyakit vaskular kolagen dapat menyebabkan PJT. Semua penyakit ini dapat menyebabkan pre-eklampsia yang dapat membawa ke PJT.

c.       Kebiasaan seperti merokok, minum alkohol, dan narkotik

  1. Penyebab janin

a.       Infeksi selama kehamilan

Infeksi bakteri, virus, protozoa dapat menyebabkan PJT. Rubela dan cytomegalovirus (CMV) adalah infeksi yang sering menyebabkan PJT

b.      Kelainan bawaan dan kelainan kromosom

Kelaianan kromosom seperti trisomi atau triploidi dan kelainan jantung bawaan yang berat sering berkaitan dengan PJT. Trisomi 18 berkaitan dengan PJT simetris serta polihidramnion (cairan ketuban berlebih). Trisomi 13 dan sindroma Turner juga berkaitan dengan PJT

c.       Pajanan teratogen (zat yang berbahaya bagi pertumbuhan janin)

Berbagai macam zat yang bersifat teratogen seperti obat anti kejang, rokok, narkotik, dan alkohol dapat menyebabkan PJT

  1. Penyebab plasenta (ari-ari)

a.       Kelainan plasenta sehingga menyebabkan plasenta tidak dapat menyediakan nutrisi yang baik bagi janin seperti, abruptio plasenta, infark plasenta (kematian sel pada plasenta), korioangioma, dan plasenta previa

b.      Kehamilan kembar

c. Twin-to-twin transfusion syndrome

 

C. Problematik Bayi IUGR
Bayi IUGR harus diwaspadai akan terjadinya beberapa komplikasi yang harus ditanggulangi dengan baik.

1.      Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotoraks

2.      Usher (1970) melaporkan bahwa 50% bayi IUGR mempunyai HB yang tinggi mungkin karena hipoksia kronik di dalam uterus.

3.      Hipoglikemi terutama bila pemberian minum terlambat.

4.      Keadaan ini yang mungkin terjadi : asfiksia, perdarahan paru yang masif, hipotermi, cacat bawaan akibat kelainan kromosom dan infeksi intrauterin.

D. Perkembangan PJT Intrauterin :

Peningkatan rasio berat plasenta terhadap berat lahir ditimbulkan oleh kondisi diet rendah nutrisi terutama protein

1.      Kondisi kekurangan nutrisi pada awal kehamilan

Pada kondisi awal kehamilan pertumbuhan embrio dan trofoblas dipengaruhi oleh makanan. Studi pada binatang menunjukkan bahwa kondisi kekurangan nutrisi sebelum implantasi bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan nutrisi pada awal kehamilan dapat mengakibatkan janin berat lahir rendah yang simetris. Hal sebaiknya terjadi kondisi percepatan pertumbuhan pada kondisi hiperglikemia pada kehamilan lanjut

2.      Kondisi kekurangan nutrisi pada pertengahan kehamilan

Defisiensi makanan mempengaruhi pertumbuhan janin dan plasenta, tapi bisa juga terjadi peningkatan pertumbuhan plasenta sebagai kompensasi. Didapati ukuran plasenta yang luas.

3.      Kondisi kekurangan nutrisi pada akhir kehamilan

Terjadi pertumbuhan janin yang lambat yang mempengaruhi interaksi antara janin dengan plasenta. Efek kekurangan makan tergantung pada lamanya kekurangan. Pada kondisi akut terjadi perlambatan pertumbuhan dan kembali meningkat jika nutrisi yang diberikan membaik. Pada kondisi kronis mungkin telah terjadi proses perlambatan pertumbuhan yang irreversibel

E. Tanda dan Gejala

PJT dicurigai apabila terdapat riwayat PJT sebelumnya dan ibu dengan penyakit kronik. Selain itu peningkatan berat badan yang tidak adekuat juga dapat mengarah ke PJT. Dokter dapat menemukan ukuran rahim yang lebih kecil dari yang seharusnya.

F. Prognosis
Tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa gestasi, asfiksia/iskemia otak, sindroma gangguan pencernaan dll. Juga tergantung pada sosial ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada saat hamil, persalinan dan postnatal.

 

G. Pengamatan Langsung

Bila bayi ini dapat mengatasi problem yang dideritanya, maka perlu diamati selanjutnya oleh karena kemungkinan bayi ini akan mengalami gangguan pendengaran, penglihatan, kognitif, fungsi motor SSP dan penyakit-penyakit seperti hidrosefalus, cerebral palsy dan sebagainya

H. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) diperlukan untuk mengukur pertumbuhan janin. Selain itu USG juga dapat digunakan untuk melihat kelainan organ yang terjadi. Pengukuran lingkar kepala, panjang tulang paha, dan lingkar perut dapat dilakukan untuk menilai pertumbuhan janin melalui USG.  Penggunaan ultrasound doppler dapat digunakan untuk melihat aliran dari pembuluh darah  arteri umbilikalis.

I. Penatalaksanaan
Pada umumnya sama dengan perawatan neonatus umumnya, tetapi karena bayi ini mempunyai problem yang agak berbeda maka perlu diperhatikan hal-hal berikut :
1. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterin.
2. Memeriksa kadar gula darah dengan dextrostix jika hipoglikemi harus segera diatasi.
3. Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.
4. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibanding dengan bayi SMK
5. Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi mekonium.

 

J. Terapi

Kecacatan dan kematian janin meningkat sampai 2-6 kali pada janin dengan PJT. Tatalaksana untuk kehamilan dengan PJT bertujuan, karena tidak ada terapi yang paling efektif sejauh ini, adalah untuk melahirkan bayi yang sudah cukup usia dalam kondisi terbaiknya dan meminimalisasi risiko pada ibu. Tatalaksana yang harus dilakukan adalah :

  1. PJT pada saat dekat waktu melahirkan. Yang harus dilakukan adalah segera dilahirkan
  2. PJT jauh sebelum waktu melahirkan. Kelainan organ harus dicari pada janin ini, dan bila kelainan kromosom dicurigai maka amniosintesis (pemeriksaan cairan ketuban) atau pengambilan sampel plasenta, dan pemeriksaan darah janin dianjurkan

a.  Tatalaksana umum : setelah mencari adanya cacat bawaan dan kelainan kromosom serta infeksi dalam kehamilan maka aktivitas fisik harus dibatasi disertai dengan nutrisi yang baik. Apabila istirahat di rumah tidak dapat dilakukan maka harus segera dirawat di rumah sakit. Pengawasan pada janin termasuk diantaranya adalah melihat pergerakan janin serta pertumbuhan janin menggunakan USG setiap 3-4minggu

b.     Tatalaksana khusus : pada PJT yang terjadi jauh sebelum waktunya dilahirkan, hanya terapi suportif yang dapat dilakukan. Apabila penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil tidak adekuat  maka nutrisi harus diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat, penggunaan narkotik dan alkohol, maka semuanya harus dihentikan

c.   Proses melahirkan : pematangan paru harus dilakukan pada janin prematur. Pengawasan ketat selama melahirkan harus dilakukan untuk mencegah komplikasi setelah melahirkan. Operasi caesar dilakukan apabila terjadi distress janin serta perawatan intensif neonatal care segera setelah dilahirkan sebaiknya dilakukan. Kemungkinan kejadian distress janin selama melahirkan meningkat pada PJT karena umumnya PJT banyak disebabkan oleh insufisiensi plasenta yang diperparah dengan proses melahirkan

  1. Kondisi bayi. Janin dengan PJT memiliki risiko untuk hipoksia perinatal (kekurangan oksigen setelah melahirkan) dan aspirasi mekonium (terhisap cairan mekonium). PJT yang parah dapat mengakibatkan hipotermia (suhu tubuh turun) dan hipoglikemia (gula darah berkurang). Pada umumnya PJT simetris dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan pertumbuhan bayi yang terlambat setelah dilahirkan, dimana janin dengan PJT asimetris lebih dapat “catch-up” pertumbuhan setelah dilahirkan.

K. Pencegahan

Beberapa penyebab dari PJT tidak dapat dicegah. Bagaimanapun juga, faktor seperti diet, istirahat, dan olahraga rutin dapat dikontrol. Untuk mencegah komplikasi yang serius selama kehamilan, sebaiknya seorang ibu hamil mengikuti nasihat dari dokternya; makan makanan yang bergizi tinggi; tidak merokok, minum alkohol dan menggunakan narkotik; mengurangi stress; berolahraga teratur; serta istirahat dan tidur yang cukup. Suplementasi dari protein, vitamin, mineral, serta minyak ikan juga baik dikonsumsi. Selain itu pencegahan dari anemia serta pencegahan dan tatalaksana dari penyakit kronik pada ibu maupun infeksi yang terjadi harus baik.

 

 

PENDOKUMETASIAN PELAYANAN KB SUNTIK DAN PIL

A. Penapisan Klien KB suntik dan Pil

Tujuan utama penapisan klien sebelum pemberian metode suntik dan pil adalah untu menentukan

1.      Adanya keadaa yang membutuhkan perhatian khusus

2.      Adanya masalah yang membutuhkan perhatian khusus

Daftar Tilik Penapisan Kliaen Suntik dan Pil

No Keadaan Klien YA TIDAK
1 Hari pertama Haid terakhir 7 hari yang lalu atau lebih    
2 Menyusui dan kurang dari 6 minggu pasca persalinan¹⁾²⁾    
3 Perdarahan/ perdarahan bercak antara haid setelah senggama    
4 Ikterus pada kulit atau mata    
5 Nyeri kepala hebat/ gangguan visual    
6 Nyeri hebat pada betis,paha,dada,atau tungkak bengkak (edema)    
7 Tekanan darah diatas 150 mmHg(sistolik) atau 90 mmHg(diastolik)    
8 Massa atau benjolan pada payudara    
9 Sedang minum (mengkonsumsi) obat-obatan anti kejang(epilepsi)³⁾    

Keterangan :

1) apabila klien menyusui dari 6 minggu pasca persalinan maka pil kombinasi adalah metode pilihan terakhir.

2) tidak cocok untuk pil progestin (mini pil), suntikan (DMPA NET-ET)

3) Tidak cocok untuk suntikan progestin (DMPA  atau NET-ET)

Jika semua jawaban diatas adalah “Tidak” dan tidak dicurigai adanya kehamilan dapat diteruskan dengan konseling khusus. Bila respon banyak yang “Ya” berarti klien perlu dievaluasi sebelum keputusan akhir dibuat.

Catatan : klien tidak selalu memberikan informasi yang benar tentang kondisi diatas. Namun, petugas harus mengetahui bagaimana keadaan klien sebenarnya. Bila diperlukan petugas dapat mengulang pertanyaan dengan cara yang berbeda. Juga  perlu diperhitungkan masalah social, budaya, atau agama yang mungkin berpengaruh terhadap espon klien tersebut ( dan pasangannya).

Bagaimana menyakini klien tidak dalam keadaan hamil, yaitu apabila:

a)      Tidak senggama sejak haid terakhir

b)      Sedang memakai metode efektif secara baik dan benar

c)      Sekarang di dalam 7 hari pertama haid terakhir

d)     Didalam 4 minggu pasca persalinan

e)      Dalam 7 pasca keguguran

f)       Menyusui dan tidak haid (MAL)

B. Pencatatan dan pelaporan pelayanan KB Suntik dan Pil

1) Jenis dan Kegunaan Kartu, Register, Formulir dalam Pelayanan KB Suntik dan Pil

a. Kartu Peserta KB (K/I/KB/10)

Kartu ini diberikan oleh klinik KB kepada peserta KB dan digunakan sebagai tanda bukti diri sebagai  KB. Kartu ini juga dapat digunakan untuk mencari kembal kartu status peserta KB (K/KIV/KB/10) ditempat pelayanan pertama, dan dapat digunakan pula untuk memperoleh pelayanan ulang di semua klinik KB/ tempat pelayanan KB lain.

b. Kartu Status Peserta KB (K/KIV/KB/10)

Adalah kartu yang digunakan untuk mencatat identitas diri, catatan medic hasi skrining dalam pelayanan dan pemilihan penggunaan metode/alat kontrasepsi yang tepat bagi peserta KB. Kartu ini dibuat untuk setiap pengunjung baru di klinik KB, baik sebagai peserta KB baru maupun sebagai peserta KB lama dan disimpan secara rapi di klinik KB.

c. Register hasil pelayanan KB di klinik KB(R/I/KB/10)

Buku ini digunakan oleh klinik KB untuk mencatat tiap hari hasil pelayanan kontrasepsi yang diberikan pada Pasangan Usia Subur (PUS), termasuk PUS dari keluarga Pra Sejahtera (Pra S) dan keluarga sejahtera I(KS I), yang datang untuk menjadi peserta KB baru, atau peserta KB lama yang datang berkunjung ulang (ulangan) di klinik KB tersebut. Register ini menjadi sumber data untuk membuat laporan bulanan klinik KB pada setiap akhir bulan

d. Register alat kontrasepsi di klinik KB(R/II/KB/10)

Register ini digunakan oleh klinik KB Untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran (Mutasi), serta peserdiaan semua jenis alat kontrasepsi di klinik KB. Register ini menjadi sumber data untuk membuat laporan bulanan klinik KB tentang keadaan alat kontrasepsi pada setiap akhir bulan.

e. Buku Bantu Hasil Pelayanan Kontrasepsi pada Dokter/Bidan Praktek Swasta (B/I/DBS/10)

Buku bantu hasil pelayanan kontrasepsi dokter/BPS ini digunakan oleh dokter/BPS utu mencatat hasil pelayanan peserta KB baru/ulangan pada setiap hari pelayanan KB di tempat pelayanan dokter/BPS.

f. Laporan Bulanan Petugas Penghubung tentang Hasil Pelayanan Kontrasepsi, oleh Dokter/BPS ( F/I/PH/DBS/10 )

Formulir ini digunakan oleh petugas penghubung DBS untuk mencatat dan melaporkan hasil pelayanan kontrasepsi. Laporan ini dibuat dengan cara mengambil atau mencatat data atau informasi dari buku bantu hasil peayanan kontrasepsi pada dokter/BPS setiap akhir bulan.

g. Laporan Bulanan Klinik KB ( F/II/KB/10 )

Digunakan oleh klinik KB untuk melakukan kegiatan dan hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi, baik pelayan peserta KB baru maupun pelayan KB ulang. Laporan ini mencakup identitas klinik KB, termasuk jumlah dokter dan bidan praktek swasta hasil pelayanan peserta KB baru, kontrasepsi ulang dan persediaan alat kontrasepsi

 

2) Penggunaan Kartu Catatan Pasien KB Suntik dan Pil.

a. Penjelasan Umum

1) K/IV/KB/10 dibuat untuk setiap pengunjung baru klinik KB, yaitu peserta KB baru dan peserta KB lama, pindahan dari klinik KB atau tempat pelayanan KB lain. Sedangkan untuk pelayanan di dokter/bidan praktek swasta menggunakan kartu pasien yang sudah ada di masing-masing DBS.

2)K/KB/10 berfungsi untuk mencatat identitas, catatan medic hasil skrining atau pemeriksaan dan kunjungan ulang peserta KB

3)K/IV/KB/10 terdiri dari dua halaman

b. Halaman Depan

1) Bagian pertama : berisikan Nomor Kode Klinik KB, Nomor Seri Kartu Peserta KB, Nama Peserta KB, Tgl/Bln/Thn lahir/Umur Istri, Nama Suami dan Istri, Pendidikan Suami dan Istri, Alamat Peserta KB, Pekerjaan Suami dan Istri, serta Tahapan KS.

2) Bagian kedua : menunjukkan jumlah anak hidup, umur Anak terkecil, Status Peserta KB(Baru, Pernah pakai alat kontrasepsi berhenti sesudah bersalin/ keguguran dengan anti cara) dan cara KB terakhir 7 jenis ( IUD, MOW, MOP, Kondom,  Implant, Suntikan dan Pil).

3) Bagian ketiga : berisi penapisan (skrining) untuk menentukan alat kontrasepsi yang dapat digunakan calon peserta KB yang terdiri dari Anamnesa dan pemeriksaan

  • Anamnesa tersebut mencakup Haid Terakhir Tanggal, Hamil/Diduga Hamil, Jumlah GPA(Gravida, Partus, Abortus), Menyusui dan riwayat penyakit sebelumnya ( sakit kuning, perdarahan pervaginam yang tidak diketahui sebabnya, keputihan yang lama dan tumor)
  • Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, Berat badan dan Tekanan darah

Catatan : untuk klien KB suntik dan pil tidak memerlukan pemeriksaan point 9, 10 dan 11 (pemeriksaan dalam, pemeriksaan tambahan)

  • Jenis alat kontrasepsi yang boleh diberikan 7 jenis ( IUD, MOW, MOP, Kondom, Implant, Suntikan dan Pil)

4) Bagian  keempat : merupakan kesimpulan dai ketiga bagian diatas yang meliputi pemberian alat kontrasepsi, tanggal pelayanan dan tanggal dipesan kembali, serta tanda tangan dokter/bidan/perawat yang memberikan pelayanan

HALAMAN BELAKANG :

Berisi tentang kunjungan ulang untuk mencatat tanggal dating, haid terakhir, berat badan, tekanan darah, akibat kontrasepsi ( komplikasi berat dan kegagalan), pemeriksaan dan tindakan serta tanggal yang dipesan kembali.

C. Dokumentasi Rujukan

Merujuk berarti meminta pertolongan secara timbale balik kepada fasilitas pelayanan yang lebih kompeten untuk penanggulangan masalah yang dihadapi. Efek samping dari Kontrasepsi yang memerlukan rujukan :

Efek samping dan masalah KB Suntik / Pil
1.Kegagalan (kehamilan, termasuk kehamilan ektopik)

2.Acne/kulit berminyak (tanpa perbaikan setelah penanganan)

3.Amenorea menetap 3-6 bulan (tanpa perbaikan setelah penanganan)

4.Perdarahan tanpa perbaikan setelah penanganan

5.Depresi

6.Sakit abdomen yang hebat

7.Sakit dada hebat

8.Sakit kepala hebat

9.Sakit tungkai bawah hebat

 

Mekanisme dan Arus Pencatatan dan Pelaporan yang KB

a. Tahunan Pendaftaran Klinik KB

1.   Pembukaan Klinik : Peresmian klinik KB → Kartu Pendaftaran Klinik KB ( SKPD-KB, Arsip )

2.   Pemutakhiran data : Daftar Ulang klinik KB → Kartu Pendaftaran Klinik KB ( SKPD-KB, Arsip )

b.Laporan Bulanan Yang Klinik

1.   Peserta KB baru dan pindahan : Kartu Status peserta KB, Kartu peserta KB

2.   Register Pelyanan KB

3.   Alat-alat Kontrasepsi

4.   Pelayanan KB oleh dokter/BPS

  • Laporan melalui klinik KB Induk

Pelayanan KB → buku bantu pelayanan KB→ Laporan bulanan petugas penghubung→Laporan bulanan klinik→SKPD→KB→Kabupaten/Kota

  • Laporan melalui pengurus IDI / IBI

Pelayanan KB→Buku bantu pelayanan KB→Pengurus Ranting→Cabang→SKPD→KB

c. Rekapitulasi Kartu Pendaftaran Klinik KB tingkat Propinsi TK II

1.   BKKBH

2.   Arsip

d.   Petugas penghubung : 2 rangkap : KB Induk dan Arsip

e. Laporan Bulanan Klinik KB : Rangkp 4

  • SKPD
  • Mitra Kerja
  • Kantor Camat
  • Arsip

 

Dalam melaksanakan rujukan harus telah pula diberikan :

1.      Konseling tentang kondisi klien yang menyebabkan perlu dirujuk

2.      Konseling tentang kondisi yang diharapkan diperoleh di tempat rujukan

3.      Informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan tempat rujukan dituju

4.      Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang dituju mengenai kondisi klien saat ini dan riwayat sebelumnya serta upaya/tindakan yang telah diberikan

5.      Bila perlu upayakan mempertahankan kondisi umum klien

6.      Bila perlu, karena kondisi klien dalam perjalanan menuju tempat rujukan harus didampingi tenaga kesehatan

7.      Menghubungi fasilitas tujuan rujukan

Fasilitas pelayanan rujukan setelah melakukan upaya penanggulangan dan kondisi klien telahmemungkinkan, harus mengembalikan klien ke tempat fasilitas pelayanan asalnya dengan terlebih dahulu memberikan:

1.      Konseling tentang kondisi klien sebelum dan sesudah diberi upaya penanggulangan

2.      Nasihat yang perlu diperhatikan klien mengenai kelanjutan penggunaan kontrasepsi

3.      Pengantar tertulis kepadafasilitas pelayanan yang merujuk mengenai kondisi klien berikut upaya penanggulangan yang telah diberikan serta saran – saran upaya pelayanan lanjutan yang harus dilaksanakan, terutama tentang penggunaan kontrasepsi.

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Indonesia menghadapi masalah dengan jumlah dan kualitas sumber daya manusia dengan kelahiran 5.000.000 pertahun. Untuk dapat mengangkat derajat martabat bangsa telah dilaksanakan secara bersamaan pembangunan ekonomi dan keluarga berencana yang merupakan sisi masing-masing mata uang. Bila gerakan Keluarga Berencana tidak dilakukan bersamaan dengan pembangunan ekonomi dikhawatirkan hasil pembangunan tidak akan berarti.

Pendapat “Malthus” yang mengemukakan bahwa pertumbuhan dan kemampuan mengembangkan sumber daya alam laksana deret hitung , sedangkan pertumbuhan dan perkembangan manusia laksana deret hitung, sehingga pada suatu titik sumber daya alam tidak mampu menampung pertumbuhan manusia-telah menjadi kenyataan. Berdasarkan pendapat demikian diharapkan setiap keluarga, memperhatikan dan merencanakan jumlah keluarga yang diinginkan.

Dalam upaya mewujudkan pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi Gerakan Keluarga Berencana Nasional, hal-hal yang harus dilakukan oleh setiap petugas dan pelaksana KB adalah mengetahui dan memahami batasan-batasan pengertian dari istilah-istilah yang dipergunakan serta mengetahui dan memahami berbagai jenis dan fungsi instrumen-instrumen pencatatan dan pelaporan yang dipergunakan, cara-cara pengisiannya serta mekanisme dan arus pencatatan dan pelaporan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Batasan

Dalam melaksanakan pencatatan dan pelaporan yang tepat dan benar diperlukan keseragaman pengertian sebagai berikut :

1.      Pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi adalah suatu kegiatan merekam dan menyajikan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan oleh fasilitas pelayanan KB.

2.      Peserta KB adalah pasangan usia subur (PUS) yang menggunakan kontrasepsi.

3.      Peserta KB baru adalah PUS yang pertama kali menggunakan kontrasepsi atau PUS yang kembali menggunakan kontrasepsi setelah mengalami kehamilan yang berakhir dengan keguguran atau persalinan.

4.      Peserta KB lama adalah peserta KB yang masih menggunakan kontrasepsi tanpa diselingi kehamilan.

5.      Peserta KB ganti cara adalah peseta KB yang berganti pemakaian dari satu metode kontrasepsi ke metode kontrasepsi lainnya.

6.      Pelayanan fasilitas pelayanan KB adalah semua kegiatan pelyanan kontrasepsi oleh fasilitas pelayanan KB baik berupa pemberian atau pemasangan kontrasepsi maupun tindakan-tindakan lain yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang diberikan pada PUS baik calon maupun peserta KB.

7.      Pelayanan kontrasepsi oleh fasilitas pelayanan KB di dalam fasilitas pelayanan adalah pemberian atau pemasangan kontrasepsi maupun tindakan-tindakan lain yang berkaitan kontrasepsi kepada calon dan peserta KB yang dilakukan dalam fasilitas pelayanan KB.

8.      Pelayanan kontrasepsi oleh fasilitas pelayanan KB di luar fasilitas pelayanan adalah pemberian peayanan kontrasepsi kepada calon dan peserta KB maupun tindakan-tindakan lain yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang dilakukan di luar fasilitas pelayanan KB (TKBK,Safari,Posyandu).

9.      Definisi fasilitas pelayanan KB:

a.  Fasilitas pelayanan KB sederhana adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimal seorang paramedis atau dan yang sudah mendapat latihan KB dan memberikan pelayanan: cara sederhana (kondom,obat vaginal), pil KB,suntik KB,IUD bagi fasilitas pelayanan yang mempunyai bidang yang telah mendapat pelatihan serta upaya penanggulangan efek samping, komplikasi ringan dan upaya rujukannya.

b.  Fasilitas pelayanan KB lengkap adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimaldokter umum yang telah mendapat pelatihan dan memberikan pelayanan: cara sederhana, suntik KB,IUD bagi dokter atau bidan yang telah mendapat pelatihan, implant bagi dokter yang telah mendapat pelatihan, kontap pria bagi fasilitas yang memenuhi persyratan untuk pelayanan kontap pria.

c.   Fasilitas pelayanan KB sempurna adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimal dokter spesialis kebidanan, dokter spesialis bedah/dokter umum yang telah mengikuti pelatihan dan memberikan pelayanan: cara seerhana, pil KB, suntik KB, IUD, pemasangan dan pencabutan implant, kontap pria, kontap wanita bagi fasilitas yang memenuhi persyaratan untuk pelayanan kontap wanita.

d.  Fasilitas pelayanan KB paripurna adalah fasilitas pelayanan KB yang dipimpin oleh minimal dokter spesialis kebidanan yang telah mngikuti pelatihan penanggulangan infertilisasi dan rekanalisasi/dokter spesialis bedah yang telah mengikuti pelatihan pengaggulangan

infertilitas dan rekanalisasi serta memberikan pelayanan semua jenis kontrasepsi ditambah dengan pelayanan rekanalisasi dan penanggulangan infertilitas.

10.   Status fasilitas pelayanan KB adalah status kepemilikan pengelolaan fasilitas pelayanan KB yang dikelompokkan dalam 4 (empat) status kepemilikan yaitu: Depkes, ABRI, Swasta serta instansi pemerintah lain diluar Depkes dan ABRI.

11.   Konseling adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh petugas medis atau paramedic dalam bentuk percakapan individual dalam usaha untuk membantu PUS guna meningkatkan kemampuan dalam memilih pengunaan metode kontrasepsi serta memantapkan penggunaan kontrasepsi yang telah dipilih.

12.   Konseling baru adalah suatu kegiatan konseling yang dilakukan oleh petugas medis atau paramedic kepada calon peserta KB yang akhirnya menjadi peserta KB baru pada saat itu.

13.   Konseling lama adalah suatu kegiatan konseling yang dilakukan oleh petugas medis atau paramedic kepada peserta KB untuk memantapkan penggunaan kontrasepsi.

14.   Akibat sampingan atau komplikasi adalah kelainan dan atau gangguan kesehatan akibat penggunaan kontrasepsi.

15.   Akibat sampingan atau komplikasi ringan adalah kelainan dan atau gangguan kesehatan penggunaan kontrasepsi yang penanganannya tidak memerlukan rawat inap.

16.   Akibat sampingan atau komplikasi berat adalah kelainan dan atau gangguan kesehatan akibat penggunaan kontraspsi yang penanganannya memerlukan rawat inap.

17.   Kegagalan adalah terjadinya kehamilan pada peserta KB.

 

  1. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN

Dalam upaya mewujudkan pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi Gerakan Keluarga Berencana Nasional, hal-hal yang harus dilakukan oleh setiap petugas dan pelaksana KB adalah mengetahui dan memahami batasan-batasan pengertian dari istilah-istilah yang dipergunakan serta mengetahui dan memahami berbagai jenis dan fungsi instrument-instrumen pencatatan dan pelaporan yang dipergunakan, cara-cara pengisiannya serta mekanisme dan arus pencatatan dan pelaporan tersebut.

 

1.      Jenis-jenis Serta Kegunaan, Register, dan Formulir.

a.  Kartu Pendaftaran Klinik KB (K/O/KB/85)

Digunakan sebagai sarana untuk pendaftaran pertama bagi klinik KB baru dan pendaftaran ulang semua klinik KB.

Pendaftaran ulang dilakukan setiap akhir tahun anggaran (bulan maret setiap tahun). KArtu ini berisi infomasi tentang identitas klinik KB, jumlah tenaga, dan sarana klinik KB serta jumlah desa di wilayah kerja klinik KB yang bersangkutan.

b.  Kartu Tanda Akseptor KB Mandiri (K/I/B/89)

Dipergunakan sebagai tanda pengenal dan tanda bukti bagi setiap peserta KB. Kartu ini diberikan terutama kepada peserta KB baru baik dari pelayanan KB jalur pemerintah maupun swasta (dokter/bidan praktek swasta/apotek dan RS/Klinik KB swasta). Pada jalur pelayanan pemerintah, kartu ini merupakan sarana untuk memudahkan mencari kartu status peserta KB (K/IV/KB/85). Kartu ini merupakan sumber informasi bagi PPKBD/Sub PPKB tentang kesertaan anggota binaannya di dalam berKB.

c.   Kartu Status Peserta KB (K/IV/KB/85)

Dibuat bagi setiap pengunjung baru klinik KB yaitu peserta KB baru dan peserta KB lama pindahan dari klinik KB lain atau tempat pelayanan KB lain.

Kartu ini berfungsi untuk mencatat ciri-ciri akseptor hasil pemeriksaan klinik KB dan kunjungan ulangan peserta KB.

d.  Kartu Klinik KB (R/I/KB/90)

Dipergunakan untuk mencatat semua hasil pelayanan kontrasepsi kepada semua peserta KB setiap hari pelayanan.

Tujuan penggunaan register ini adalah untuk memudahkan petugas klinik KB dalam membuat laporan pada akhir bulan.

e.  Register Alat-alat Kontrasepsi di Klinik KB (R/II/KB/85)

Dipergunakan untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran (mutasi) alat-alat kontrasepsi di klinik KB.

Tujuan adalah untuk memudahkan membuat laporan tentang alat kontrasepsi setiap akhir bulan.

f.    Buku Bantu Hasil Pelayanan Kontrasepssi Pada Dokter/Bidan Praktek Swasta (B/I/DBS/10)

Buku Bantu hasil pelayanan kontrasepsi dokter/bps ini digunakan oleh dokter/bps untuk mencatat hasil pelayanan peserta KB baru/ ulangan pada setiap hari pelayanan KB di tempat pelayanan dokter/ bps.

g.  Laporan Bulanan Tugas Penghubung Tentang Hasil Pelayanan Kontrasepsi Oleh Dokter/Bps (F/I/PH/DBS/10)

Formulir ini digunakan oleh penghubunng DBS untuk mencatat dan melaporkan hasil pelayanan kontrasepsi. Laporan ini dibuat dengan cara mengambil atau mencatat data/ informasi dari buku Bantu hasil pelayanan kontrasepsi pada dokter/ bps setiap akhir bulan.

h.  Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90)

Dipergunakan sebagai sarana untuk melaporkan kegiatan dan hasil-hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi oleh klinik KB didalam dan diluar klinik KB yang meliputi frekuensi pelayanan dan hasil pelayanan KB dan peserta ganti cara konseling, akibat sampingan/komplikasi dan kegagalan dan persediaan kontrasepsi diklinik KB dan didesa.

i.    Rekapitulasi Laporan Bulanan Klinik KB (Rek/F/II/KB/90)

Digunakan sebagai sarana untuk melaporkan kegiatan dan hasil-hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi oleh klinik KB diwilayah kabupaten/kotamadya (Rekapitulasi Laporan F/II/KB/90)

  1. Cara Pengisian Kartu, Register dan Formulir

a.  Kartu Pendaftaran Klinik Keluarga Berencana (K/O/KB/85)

Penjelasan umum

a)     Kartu ini digunakan sebagai sarana untuk pendaftaran pertama dan pendaftaran ulang semua klinik KB. Pendaftaran ulang dilakukan setiap akhir tahun anggaran (bulan Maret setiap tahun). Kartu ini berisi informasi tentang identitas klinik, tenaga dan saran klinik KB yang bersangkutan.

b)     Kartu ini dibuat dalam rangkap 5 (lima) dengan tambahan lembar ”khusus” pada lembar pertama yang dipergunakan untuk laporan ke BKBN pusat.

c)     Ditandatangani oleh penanggung jawab klinik KB yang bersangkutan.

d)     Kartu pendaftaran ini setelah diisi dan masing – masing dikirim :

–       1 lembar K/O/KB/85 yang khusus (bagian sebelah kanan dari lembar pertama untuk BKBN pusat di Jakarta.

–       1 lembar untuk BKBN propinsi

–       1 lembar untuk Unit Pelaksana Propinsi

–       1 lembar untuk BKBN Kabupaten/kotamadya

–       1 lembar untuk Unit Pelaksana Kabupaten/Kotamadya.

–       1 lembar untuk arsip klinik KB yang bersangkutan.

b.  Kartu Tanda Akseptor KB Mandiri (K/I/KB/89)

Penjelasan Umum

a)     Kartu Tanda Akseptor KB Mandiri diisi oleh klinik KB/RS pemerintah maupun swasta dan Dokter/Bidan yang berpraktek swasta, untuk diberikan kepada setiap peserta KB baru.

b)     Kartu ini dimaksudkan sebagai kartu tanda pengenal (kartu identitas) dan agar selalu dibawa keklinik KB/RS atau ketempat pelayanan KB lainnya yang dikehendaki  oleh peserta KB.

c)     Bagi peserta KB aktif yang masih menggunakan kartu lama (K/I/KB/85) dan ingin mendapatkan pelayanan KB melalui jalur swasta dapat pula diberikan kartu akseptor yang baru ini.

d)     Apabila kartu ini hilang, rusak (tidak dapat dibaca lagi) atau peserta KB yang bersangkutan berganti cara  maka harus diganti dengan kartu yang baru.

c.   Kartu Tanda Status Peserta Keluarga Berencana ( KB/IV/KB/85)

Penjelasan umum.

a)     Kartu Status Peserta KB diisi dan diberikan lagi setiap pengunjung baru, yaitu pengunjung yang datang keklinik KB dengan status sebagai peserta KB baru atau peserta KB pindahan dari klinik KB/tempat pelayanan kontrasepsi lain.

b)     Kartu Status Peserta KB ini terdiri dari dua halaman :

(1)    Halaman  belakang, dipergunakan untuk catatan pemeriksaan lanjutan apabila peserta KB melakukan kunjungan ulangan keklinik.

(2)    Halaman depan terdiri dari dua bagian yaitu:

(a)  Bagian sebelah kiri, untuk mencatat ciri-ciri peserta KB. Bagian ini terutama dimaksudkan untuk mencatat cir-ciri setiap peserta KB baik peserta KB baru maupun peserta KB pindahan dari klinik KB/tempat pelayanan kontrasepsi lain.

Data dibagian ini sangat diperlukan apabila suatu saat untuk mengetahui ciri-ciri akseptor KB secara Nasional maupun tingkat wilayah lainya.

(b)  Bagian sebelah kanan, untuk mencatat hasi-hasil pemeriksaan klinik.

(c)  Petugas klinik KB yang melakukan pengisisan K/IV/KV/85 membutuhkan tanda tangan dan nama terang pada K/IV/KV/85 di tempat yang telah disediakan.

d.  Register Alat-alat Kontrasepsi KB (R/II/KB/85)

a)     Register ini dibuat dengan tujuan untuk mempermudah petugas klinik KB memuat/mengisi laporan bulanan klinik KB (F/II/KB/9), khususnya untuk bagian tabel V : “Persediaan Kontrasepsi di Klinik KB”.

b)     Pada setiap hari pelayanan, semua penerimaan dan pengeluaran kontrasepsi dicatat/dibukukan dalam register alat-alat kontrasepsi ini.

c)     Setiap baris menunjukan penerimaan/pengeluaran kontrasepsi pada satu tanggal tertentu. Pada hari/tanggal berikutnya,

d)     pengeluaran/pemasukan dicatat pada hari/tanggal berikutnya, emikian seterusnya untuk setiap hariplayanan, sampai habis periode satu bulan.

e)     Setelah sampai pada hari/tanggal terakhir dari satu bulan yang bersangkutan dilakukan penjumlahan untuk penerimaan dan pengeluaran alat kontrasepsi selama satu bulan.

f)      Disamping, kedalam register ini dituliskan pula siss(stock) alat-alat kontrasepsi yang ada diklinik KB pada akhir bulan.

g)     Untuk tiap hari dalam bulan berikutnya pencatatan dilakukan pada lembar (halaman) baru.

 

e.  Laporan Bulanan Klinik Keluarga Berencana (F/II/KB/90)

Penjelasan Umum

a)     Laporan bulanan klinik KB dibuat oleh petugas klinik KB sebulan sekali, yaitu pada setiap akhir bulan kegiatan pelayanan kontrasepsi di klinik KB.

b)     Laporan bulanan klinik KB sebagai sarana untuk melaporkan kegiatan pelayanan kontrasepsi dan hasilnya, yaitu pelayanan oleh klinik KB (di dalam dan diluar klinik KB) serta PPKBD/Sub PPKBD diwilayah binaan klinik KB yang bersangkutan.

c)     Laporan bulanan klinik KB ditandatangani oleh pimpinan klinik KB atau petugas yang ditunjuk.

d)     Laporan bulanan klinik KB dibuat rangkap 5(lima), yaitu:

–       1 (satu) lembar dikirim ke BKKBN Pusat

–       1(satu) lembar dikirim ke BKKBN Kabupaten Kota Madya

–       1 (satu) lembar dikirim ke Unit Pelaksana tingkat Kabupaten Kota Madya

–       1 (satu) lembar dikirim ke Camat

–       1 (satu) lembar sebagai arsip untuk klinik kB yang bersangkutan

e)     Laporan bulanan klinik KB yang dikirim ke BKKBN Pusat (Minat Biro Pencatatan dan Pelaporan) dengan menggunakan sampul atau amplop khusus tanpa dibubuhi perangko dan sudah harus dikirimkan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

f)      Pengisian laporan bulanan klinik kB ini didasarkan pada data yang terdapat dalam :

–       Register klinik KB (R/I/KB/89)

–       Register alat kontrasepsi KB (R/I/KB/85)

–       Laporan bulanan PLKB (F/I/PLKB/90)

–       Laporan-laporan serta catatan-catatan lainya.

 

f.    Rekapitulasi Laporan Bulanan Klinik KB (REK/F/II/89)

Penjelasan Umum.

a)   Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB (REK/F/II/KB/89) ini dibuat sebulan sekali, yaitu pada awal bulan berikutnya dari bulan laporan. Tujuannya untuk melaporkan seluruh kegiatan pelayanan KB dan hasilnya dari seluruh klinik KB yang berada di suatu wilayah kabupaten/kotamadya pada satu bulan laporan.

b)   Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB ini dibuat oleh BKKBN Kabupaten/Kotamadya dalam rangkap 3 (tiga) dan dikirim kepada:

–       1 (satu) lembar untuk BKKBN Propinsi.

–       1 (satu) lembar untuk Unit Pelayanan KB Departemen Kesehatan Tingkat Kabupaten/Kotamadya.

–       1 (satu) lembar untuk arsip.

c)    Rekapitulasi

Rekapitulasi laporan bulanan klinik KB ini harus sudah dikirimkan ke BKKBN Propinsi yang bersankutan selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya dari bulan laporan.

Lembar rekapitulasi ini ditandatangani oleh Kepala BKKBN Kabupaten/Kotamadya yang bersangkutan.

 

  1. MEKANISME DAN ARUS PENCATATAN DAN PELAPORAN PELAYANAN KONTRASEPSI.

1.      Pada waktu mendaftar untuk pembukuan/peresmian klinik KB baru dibuat Kartu Pendaftaran Klinik KB(K/O/KB/85) dalam rangkap 5, masing-masing untuk BKKBN Pusat, BKKBN Propinsi, Unit pelaksana KB tingkat propinsi, BKKBN Kabupaten/Kotamadya, Unit Pelaksana KB tingkat kabupaten /kotamadya dan arsip.

2.      Setiap bulan maret dilakukan pendaftaran ulang klinik KB dengan mengisi K/O/KB/85 untuk setiap klinik KB. Hal ini dimaksudkan untuk melakukan ”updating” data dan informasi mengenai klinik KB yang bersangkutan.

3.      Bagi setiap pengunjung baru di Klinik KB, yaitu meliputi peserta KB baru dan peserta KB pindahan dari klinik KB atau tempat pelayanan kontrasepsi lainya, dibuatkan Kartu Tanda Akseptor KB Mandiri (K/I/KB/89) untuk peserta KB yang bersangkutan.

4.      Bagi setiap pengunjung baru tersebut dibuat pula kartu status peserta KB (K/IV/KB/85) yang antara lain memuat ciri-ciri peserta KB yang bersangkutan. Kartu ini disimpan di klinik KB yang bersangkutan untuk digunakan kembali sewaktu peserta KB melakukan kunjungan ulang di klinik tersebut. Untuk seorang peserta KB, menurut seri peserta KB dalam K/IB/KB/85 harus sama dengan nomor seri peserta KB pada K/I/KB/89.

5.      Semua hasil pelayanan kontrasepsi oleh klinik KB setiap hari, baik didalam maupun diluar klinik KB tersebut, dicatat didalam register klinik KB (R/I/KB/90).

 

6.      Semua penerimaan/pengeluaran alat kontrasepsi oleh klinik KB setiap hari dicatat di dalam Register alat-alat kontrasepsi Klinik KB (R/II/85).

7.      Setiap akhir bulan, data pada R/I/KB/90 dan R/II/KB/85 dijumlahkan untuk selanjutnya dimasukan kedalam Laporan Bulanan Klinik KB.

8.      Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90) dibuat oleh petugas klinik KB setiap awal bulan berikutnya dengan sumber-sumber data dari R/T/KB/90, R/II/KB/85 dan F/I/PLKB/90.

Laporan bulanan klinik KB (F/II/KB/90) dibuat dalam rangkap 5, masing-masing dikirim kepada: BKKBN Pusat, BKKBN Kabupaten/Kotamadya, Unit Pelaksan tingkat Kabupaten/Kotamadya, Camat, dan Arsip.

Selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya, laporan ini sudah harus dikirimkan dari klinik KB.

a.  Lembar pertama Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90), dikirim ke BKKBN Pusat minat Biro Pencataan dan Pelaporan, selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

b.  Lembar kedua Lembar Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90) dikirim ke BKKBN Kabupaten/Kotamadya yang bersangkutan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

c.   Lembar ketiga Laporan Bulanan Klinik Kb (F/II/KB/90) dikirim ke Unit Pelaksana Kabupaten/Kotamadya yang bersangkutan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

d.  Lembar keempat Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90)dikirim ke Camat yang bersangkutan, minat Pengawas PLKB selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

9.      BKKBN Kabupaten/Kotamadya setiap bulan merekapitulasi F/II/Kb/90 yang diterima dari klinik KB diwilayah Kabupaten/Kotamadya yang bersangkutan kedalam Rek/F/II/KB/90. Rekapitulasi ini dibuat dalam rangkap tiga masing-masing untuk dikirimkan ke BKKBN Propinsi,

Unit Pelaksana Depkes tingkat Kabupaten/Kotamadya, dan Arsip.

a.    Rekapitulasi laporan Bulanan Klinik KB (Rek/F/II/KB/90), dikirim ke BKKBN Propinsi selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

b.    Lembar kedua Rekapitulasi laporan Bulanan Klinik KB (Rek/F/II/KB/90), dikirim ke Unit Pelaksana KB Depkes di Kabupaten/Kotamadya diwilayah kerjanya selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya.

10.   BKKBN Pusat (Biro Pencatatan dan Pelaporan)

Menyampaikan umpan balik ke komponen-komponen di BKKBN Pusat, BKKB Propinsi dan Instasi lain di tingkat pusat selambt-lambatnya 2 bulan sesudah bulan laporan.

11.   BKKBN Propinsi di Bidang Bina Program.

Menyampaikan umpan balik kepada BKKBN Kabupaten/Kotamadya di wilayah kerjanya dengan tembusan kepada bidang-bidang lain di BKKBN Propinsi dan instansi terkait di Propinsi selambat-lambatnya 1 bulan sesudah bulan laporan.

  1. CARA-CARA ANALISA

Tujuan dari analisa ini adalah untuk melihat trend (perkembangan dengan cara membandingkan hasil kegiatan pelayanan, kontrasepsi dari bulan kebulan(tahun-ketahun).

Misalnya mengenai :

–       Pencapaian peserta KB dari bulan ke bulan.

–       Komposisi alat kontrasepasi yang dipakai.

–       Perkiraan pencapaian diakhir tahun anggaran

–       Dan lain-lain.

 

  1. MONITORING DAN EVALUASI SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN PELAYANAN KONTRASEPSI

Dalam pelaksanaan system pencatatan dan pelaporan kontrasepsi masih dirasakan adanya kelebihan dan kekurangan, sehingga perlu selalu dilakukan monitoring dan evaluasi. Melalui sitem Pencatatan dan pelaporan Pelayanan Kontrasepsi dari hasil monitoring dan evaluasi tersebut dapat diketahui hambatan dan permasalahan yang timbul, sehingga dapat dilakukan perbaikan.

a.    Cakupan Laporan.

Dalam melakukan monitoring dan evaluasi tehadap cakupan terhadap laporan meliputi jumlah, ketepatan waktu data yang dilaporkan, mulai dari tingkat lapangan sampai ketingkat pusat.

b.    Kualitas Data

Dalam melakukan evaluasi terhadap kualitas dan pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi perlu dilihat bagaimana masukan laporanya, baik laporan bulanan maupun laporan tahunan serta bagaimana informasi yang disajikan setiap bulanan atau tahunan. Dalam hal ini sering/dapat terjadi laporan mengalami keterlambatan dan cakupanya belum dapat optimal maupun kualitas dan kuantitas datanya serta informasi yang disampaikan belum optimal. Keterlambatan penyajian data dan informasi setiap bulannya dapat disebabkan oleh proses pengumpulan laporan yang terlambat serta banyaknya kesalahan pengolahan ke bawah dan kesamping sehingga memperlambat proses pengolahanya.

c.    Tenaga

Dalam melakukan evaluasi terhadap tenaga pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi, hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu ketersediaan/jumlah tenaga dan kualitas tenaga:

  • Ketersediaan/jumlah tenaga

Bagaimana kondisi jumlah petugas RR Klinik yang melakukan pencatatan pelaporan pelayanan kontrasepsi.

  • Kualitas Tenaga

d.    Sarana

Dalam melakukan evaluasi terhadap sarana, perlu dilihat bagaimana sarana pendukung kelancaran pelaksanaan pencatatan dan pelaporan diantaranya :

  • Ketersediaan formulir dan kartu
  • Ketersediaan Buku Petunjuk Teknis Pencatatan dan Pelaporan Pelayanan Kontrasepsi
  • Ketersediaan faksimili untuk seluruh Kabupaten/Kota untuk kecepatan pelaporan
  • Ketersedian computer sampai dengan tingkat Kabupaten/Kota

 

  1. PENDOKUMENTASIAN RUJUKAN KB

Tujuan sistem rujukan disini adalah untuk meningkatkan mutu, cakupan, dan efisiensi pelaksanaan pelayanan metode kontrasepsi secara terpadu. Perhatian khusus terutama ditujukan untuk menunjang upaya penurunan angka kejadian efek samping, komplikasi, dan kegagalan penggunaan kontrasepsi.

System rujukan upaya kesehatan adalah suatau system jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas masalah yang timbul, baik secara vertical maupun secara horizontal kepada fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau dan rasional, tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. Dengan pengertian tersebut, maka merujuk berarti meminta pertolongan secara timbal balik kepada fasilitas pelayanan yang lebih kompeten untuk penanggulangan masalah yang sedang dihadapi.

Tata Laksana

Rujukan Medik dapat belangsung:

1.        Internal antar petugas disatu puskesmas

2.        Antara puskesmas pembantu dengan puskesmas

3.        Antara masyarakat dan Puskesmas

4.        Antara satu Puskesmas dan Puskesmas lain

5.        Antar Puskesmas dan Rumah Sakit, Laboratorium atau fasilitas pelayanan lainya

6.        Internal antara bagian atau unit pelayanan dalam satu Rumah Sakit

7.        Antara Rumah Sakit, Laboratorium atau fasilitas pelayanan lain dan Rumah Sakit Laboratorium atau fasilitas pelayanan yang lain

 

Rangkaian jaringan fasilitas pelayanan kesehatan dalam system rujukan tersebut berjenjang dari yang paling sederhana ditingkat keluarga sampai satuan fasiltas pelayanan kesehatan nasional dengan dasar pemikiran rujukan ditujukan secara timbal balik kesatuan fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, dan rasional serta tanpa dibatasi oleh wilayah administrasi.

Tabel

Jaringan Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Jenjang Komponen atau unsur Yankes
Tingkat Rumah Tangga

 

Tingkat Masyarakat

 

 

 

Fasilitas pelayanan kesehatan professional Tingkat Pertama

 

Fasilitas Pelayanan Kesehatan Profesinal Tingkat kedua

 

Fasilitas Pelayanan Kesehatan Profesional Tingkat ketiga

Pelayanan kesehatan oleh individu atau oleh keluarganya sendiri.

Kegiatan swadaya masyarakat dalam menolong mereka sendiri oleh kelompok paguyuban, PKK, Saka Bhakti Husada, anggota RW,RT dan masyarakat (Posyandu).

Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, Praktek Dokter Swasta, Bidan, Poliklinik Swasta

 

Rumah Sakit Kabupaten, RS Swasta, Laboratorium Klinik Swasta, dll.

Rumah Sakit Kelas B dan A serta lembaga Spesialitik Swasta, Lab. Kesehatan Daerah dan Lab Klinik Swasta

 

Rujukan bukan berarti melepaskan tanggungjawab dengan menyerahkan klien-klien ke fasilitas pelayanan kesehatan lainya, akantetapi karena kondisi klien yang mengharuskan pemberian pelayanan yang lebih kompeten dan bermutu melalui upaya rujukan.

 

Untuk itu dalam melaksanakan rujukan harus telah pula diberikan :

1.    Konseling tentang kondisi klien-klien yang menyebabkan perlu dirujuk.

2.    Konseling tentang kondisi yang diharapkan diperoleh di tempat rujukan.

3.    Informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan tempat rujukan yang dituju.

4.    Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang dituju mengenai kondisi klien saat ini riwayat sebelunyaa serta upaya/tindakan yang telah diberikan.

5.    Bila perlu berikan upaya mempertahankan keadaan umum klien

6.    Bila perlu, karena kondisi klien, dalam perjalanan menuju tempat rujukan harus didampingi perawat/bidan.

7.    Menghubungi fasilitas pelayanan tempat rujukan dituju agar memungkinkan segera menerima rujukan klien.

 

Fasilitas pelayanan kesehatan yang menerima rujukan, setelah memberikan upaya penanggulangan dan kondisi klien telah memungkinkan, harus segera mengembalikan klien ke tempat fasilitas pelayanan asalnya dengan terlebuh dahulu memberikan:

1.    Konseling tentang kondisi klien sebelum dan sesudah diberi upaya penaggulangan

2.    Nasehat yang perlu diperhatikan klien mengenai kelanjutan penggunaan kontrasepsi

3.    Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang merujuk mengenai kondisi klien berikut upaya penanggulangan yang telah diberikan serta saran-saran upaya pelayanan lanjutan yang harus dilaksanakan, terutama tentang penggunaan kontrasepsi.

 

BAB III

PENUTUP

 

Pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi adalah suatu kegiatan merekam dan menyajikan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan oleh fasilitas pelayanan KB.  Terdapat bermacam – macam kartu dalam pencatatan dan pelaporan kontrasepsi. Jenis-jenis Serta Kegunaan, Register, dan Formulir antara lain :

  • Kartu Pendaftaran Klinik KB (K/O/KB/85)
  • Kartu Tanda Akseptor KB Mandiri (K/I/B/89)
  • Kartu Status Peserta KB (K/IV/KB/85)
  • Kartu Klinik KB (R/I/KB/90)
  • Register Alat-alat Kontrasepsi di Klinik KB (R/II/KB/85)
  • Buku Bantu Hasil Pelayanan Kontrasepssi Pada Dokter/Bidan Praktek Swasta (B/I/DBS/10)
  • Laporan Bulanan Tugas Penghubung Tentang Hasil Pelayanan Kontrasepsi Oleh Dokter/Bps (F/I/PH/DBS/10)
  • Laporan Bulanan Klinik KB (F/II/KB/90)
  • Rekapitulasi Laporan Bulanan Klinik KB (Rek/F/II/KB/90)

Setelah pencatatan dilakukan maka catatan pelayanan kontrasepsi tersebut masing-masing dikirim kepada: BKKBN Pusat, BKKBN Kabupaten/Kotamadya, Unit Pelaksan atingkat Kabupaten/Kotamadya, Camat, dan Arsip. Pencatatan tersebut juga dianalisa untuk melihat trend (perkembangan dengan cara membandingkan hasil kegiatan pelayanan, kontrasepsi dari bulan kebulan(tahun-ketahun).

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Ida Bagus Gde.1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

BKKBN. 1994. Informasi Pelayanan Kontrasepsi . Jakarta.

Sujiyatini dkk.2009. Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini. Yogyakarta : Nuha Medika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ilmu kesehatan anak

Posted: Maret 2, 2011 in makalah
Tag:, ,

BAB I

PENDAHULUAN

            Setiap orangtua tentu berkeinginan agar anaknya dapat tumbuh kembang optimal, yaitu agar anaknya dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang terbaik sesuai dengan potensi genetik yang ada pada anak tersebut. Hal ini dapat tercapai apabila kebutuhan dasar anak (asah, asih, dan asuh) terpenuhi. Kebutuhan dasar anak harus dipenuhi yang mencakup imtaq, perhatian, kasih sayang, gizi, kesehatan, penghargaan, pengasuhan, rasa aman/perlindungan, partisipasi, stimulasi dan pendidikan (asah, asih dan asuh).

Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa bayi. Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa ini, bayi memperoleh kemampuan berinteraksi dengan dunia dengan cara lain, kemampuan komunikasi dimulai, dan hal ini merupakan landasan bagi perkembangan selanjutnya. Selain itu, pertumbuhan fisik, kemampuan berbahasa, dan berkomunikasi juga dimulai pada periode ini.

Perkembangan yang optimal sangat dipengaruhi oleh peranan lingkungan dan interaksi antara anak dan orang tua / orang dewasa lainnya. Interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan, bahkan sejak bayi dalam kandungan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.    PENGERTIAN

Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan.

Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm,meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh); sedangkan perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.(Soetjiningsih. 1998)

Pertumbuhan adalah bertambah banyak dan besarnya sel seluruh bagian tubuh yang bersifat kuantitatif dan dapat diukur; sedangkan perkembangan adalah bertambah sempurnanya fungsi dari alat-alat tubuh. (Depkes RI )

Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu; perkembangan lebih menitikberatkan aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ atau individu, termasuk perubahan aspek sosial atau emosional akibat pengaruh lingkungan. (Markum, 1991)

  1. B.     KONSEP DASAR
  2. Prinsip-Prinsip Tumbuh Kembang

Tumbuh kembang merupakan proses yang dinamis dan terus menerus. Prinsip tumbuh kembang antara lain :

  1. Tumbuh kembang terus menerus dan komplek
  2. Tumbuh kembang merupakan proses yang teratur dan dapat diprediksi
  3. Tumbuh kembang berbeda dan terintegrasi
  4. Setiap aspek tumbuh kembang berbeda dalam setiap tahapnya dan dapat dimodifikasi
  5. Tahapan tumbang spesifik untuk setiap orang

Prinsip tumbuh kembang menurut Potter & Perry ( 2005 ) :

  1. Perkembangan merupakan hal yang terartur dan mengikuti rangkaian tertentu
  2. Perkembangan adalah sesuatu yang terarah dan berlangsung terus menerus, dalam pola sebagai berikut :

1)      Cephalocaudal : pertumbuhan berlangsung terus dari kepala ke arah bawah bagian tubuh.

2)      Proximodistal : perkembangan berlangsung terus dari daerah pusat (proksimal) tubuh ke arah luar tubuh (distal).

3)      Differentiation : ketika perkembangan berlangsung terus dari yang mudah kearah yang lebih kompleks.

4)      Perkembangan merupakan hal yang kompleks, dapat diprediksi, terjadi dengan pola yang konsisten dan kronologis.

Prinsip Perkembangan dari Kozier dan Erb:

  1. Manusia tumbuh secara terus menerus.
  2. Manusia mengikuti bentuk yang sama dalam pertumbuhan dan perkembangan.
  3. Manusia berkembang menyebabkan dia mendapatkan proses pembelajaran dan kematangan.
  4. Masing-masing tahapan perkembangan memiki karakteristik tertentu. Selama bayi (infancy) dan balita merupakan saat pembentukan perilaku, gaya hidup, dan bentuk pertumbuhan.

 

  1. Ciri–Ciri Tumbuh Kembang

Tumbuh kembang yang dimulai sejak konsepsi sampai dewasa mempunyai cirri-ciri tersendiri, yaitu (Soetjiningsih, 1995) :

  1. Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi sampai maturitas atau dewasa, dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan.
  2. Dalam periode tertentu terdapat adanya masa percepatan atau masa perlambatan, serta laju tumbuh kembang yang berlainan diantara organ-organ.
  3. Pola perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu dengan lainnya.
  4. Perkembangan erat hubungannya dengan maturasi system susunan saraf.
  5. Aktivitas seluruh tubuh diganti respon individu yang khas.
  6. Arah perkembangan anak adalah cephalocaudal.
  7. Refleks primitive seperti refleks memegang dan berjalan akan menghilang sebelum gerakan volunter tercapai.

                

  1. Tahap–Tahap Tumbuh Kembang Bayi Tahun Pertama
    1. Bulan Pertama

Orang seringkali menganggap bahwa kelahiran bayi adalah merupakan permulaan dari kehidupan, tentu saja hal ini tidak bisa disalahkan, tetapi sebenarnya kelahiran hanyalah suatu tahap dalam proses pertumbuhan yang telah dimulai 9 bulan sebelumnya. Banyak hal yang terjadi pada seorang ibu selama kehamilan yang bisa memberikan pengaruh terhadap bayi baru lahir. Selama beberapa jam setelah kelahiran, obat-obatan yang ada dalam aliran darah ibu selama persalinan bisa juga terus mempengaruhi seorang bayi.

         Dalam perkembangan dan pertumbuhan bayi pada bulan pertama, terjadi hal-hal berikut :

  1. Pengenalan

      Tidak benar kalau dikatakan bahwa bayi-bayi masih buta dan tuli ketika lahir. Bayi-bayi baru lahir akan memusatkan perhatian pada wajah salah satu orang tua dan mengikutinya dengan mata mereka. Bahkan di meja persalinan, mereka akan memusatkan perhatian pada ibu mereka, dan akan lebih suka melihat gambar wajah normal daripada gambaran dimana ciri-cirinya telah diacak. Suara-suara keras akan mengakibatkan bayi baru lahir terkejut atau gemetar, dan mereka akan menanggapi bunyi suara yang lembut dan tinggi. Menginjak umur 4 minggu, bayi mungkin sudah dapat menunjukkan dengan tingkah laku mereka bahwa mereka mengenali ayah dan ibunya.

  1. Reflek

            Bayi baru lahir memiliki variasi refleks yang luar biasa untuk diuji. Bila kita menyentuh pipi atau kulit di sekitar mulut, bayi baru lahir akan membuka mulutnya dan beralih ke jari kita, mencari-cari puting untuk dihisap. Bila kita menyentuh kaki atau tangan, bayi akan berusaha menggenggam, dan mungkin sangat kuat.

            Salah satu refleks paling populer adalah refleks Moro. Ketika kepala seorang bayi terlempar ke belakang atau ia terkejut, ia akan merentangkan kaki dan tangannya, memanjangkan lehernya, dan berteriak sebentar. Lalu ia akan mengatup-ngatupkan lengannya dengan cepat, seolah-olah hendak memeluk batang pohon atau ibunya. Mudah meyakini bahwa refleks ini berkembang untuk membantu mencegah bayi agar tidak jatuh.

            Gerakan lain yang menakjubkan adalah refleks berjalan: bila anda menurunkan kedua kaki seorang bayi kecil dan mengijinkan satu kaki menyentuh tempat tidur, ia akan mengangkat kaki itu dan menurunkan yang satunya, dan seterusnya, dalam gerakan berjalan. Refleks ini akan hilang seluruhnya belakangan, dan tidak berhubungan dengan proses belajar berjalan.

  1. Bulan Kedua

Inilah masa yang datar, waktu keluarga mulai menyesuaikan kehidupan dengan seorang bayi yang baru. Orang tua mulai tertata hidupnya dan bayi mulai masuk dalam pola perilaku yang dapat dikenali. “Saat-saat tenang” seorang bayi bisa berubah-ubah dengan masa-masa rewel selama waktu ini, dan bayi mungkin bisa menemukan cara untuk menenangkan diri dan tidak menangis terus: mengisap jari, bolak-balik, atau mencari dan menemukan mainan gantung di atas tempat tidur bayi.

Pada bulan-bulan pertama, menangis sebenarnya hanya merupakan cara seorang bayi untuk berkomunikasi. Menangis sering menandakan rasa lapar, tetapi tidak selalu. Bayi mungkin merasa terlalu panas atau terlalu dingin, basah, takut, atau hanya merasa tidak enak badan. Bayi mungkin sering menangis khususnya selama beberapa hari setelah tiba di rumah dari rumah sakit, karena ia harus menyesuaikan diri dengan rutinitas baru. Bayi yang masih muda sering menangis lama meskipun tidak ada apapun yang terjadi. Beberapa dokter mengatakan bahwa seorang bayi tidak mempunyai cara lain untuk menenangkan diri atau keluar dari proses yang membuatnya lemah karena belajar tentang dunia ini.

Beberapa bayi di bawah usia 4 bulan menangis selama 12 hingga 14 jam per hari. Masalah yang mengganggu ini dikenal sebagai kolik, dan inilah suatu kondisi yang penyebabnya belum diketahui. Umumnya, kolik mulai pada usia 2 hingga 3 minggu dan menghilang antara bulan ketiga dan keempat. Beberapa bayi yang mempunyai kolik tiba-tiba menjerit; yang lain hanya menangis normal, tetapi selama berjam-jam baru diam. Bayi ini mungkin tampaknya sangat kesakitan, menarik kakinya dan mengeluarkan udara dari perutnya.

Mengenai penglihatan, para ahli berbeda pendapat tentang apa tepatnya yang dapat dilihat seorang bayi pada usia ini. Beberapa studi mengatakan bahwa bayi pada usia bulan kedua tidak dapat melihat benda sejauh 2 atau 2,5 m, tetapi banyak dokter anak dan orang tua beranggapan bahwa bayi ini sudah sanggup melihatnya, kalau mereka tertarik.

Pada akhir bulan kedua, sebagian besar bayi senyum pada sesuatu yang menyenangkannya dan mengeluarkan suara karenanya, bukan menangis.

Bukan hal yang asing dan sangat umum terjadi kalau bayi pada usia ini mulai mengisap jarinya. Jenis perilaku ini merupakan tanda awal dan penting dalam hal kepuasan diri. Isapan jari bukan tanda kurangnya susu atau kurangnya makanan. Hampir setiap bayi perlu bahan isapan tambahan, dan jempol dan jari lainnya merupakan sumber alaminya.

  1. Bulan Ketiga

Ini sering menjadi titik peralihan ajaib dalam perkembangan bayi. Sesuatu terjadi dalam sistem saraf bayi yang tampaknya menggantikan kebutuhannya menangis. Bayi memperoleh kemampuan berinteraksi dengan dunia dengan cara lain. Pentingnya tahap pencapaian ini ditekankan oleh fakta bahwa inilah usia ketika anak-anak, yang dipelihara dalam institusi dan tanpa mendapatkan rangsangan yang memadai, mulai memperlihatkan tanda-tanda kehilangan sesuatu.

Bayi berusia 3 bulan mulai meraih segala sesuatu dengan kedua tangannya dan bukannya menangis lagi. Seluruh tubuhnya mungkin ikut merasakan kegembiraan karena melihat orang tertawa; bayi ini mungkin mendekut, menendang, dan meraih semuanya sekaligus. Bayi pada usia ini mungkin merengek pada waktu lapar, dan tidak lagi menangis, dan mungkin bahkan sanggup menunggu selama beberapa menit. Kemampuan menunggu untuk mendapatkan ganjaran/imbalan ini merupakan tahap penting, yang memperlihatkan tingkat pengertian dan kepercayaan yang belum terlihat pada bayi yang lebih muda.

Bayi rata-rata mungkin sanggup mengangkat kepalanya agak lama, dan tentu saja sanggup menahannya beberapa saat tanpa jatuh. Ia mungkin juga sanggup membantu mempertahankan bentuk tubuhnya waktu sedang duduk. Bayi berusia tiga bulan biasanya dapat mengikuti benda dengan matanya dalam lingkaran penuh 180 derajat.

  1. Bulan Keempat

Usia 4 bulan merupakan awal kesadaran akan kedua sisi tubuh, dan ini mungkin merupakan akhir kesimetrisan gerakan. Bayi dapat memutar kepalanya untuk melihat ke banyak arah dan mengeluarkan beberapa suara yang dapat dikenali, terutama suara vokal seperti “ooh” dan “aah”. Selama empat jam perhari mungkin dihabiskan untuk menyedot (selain makan), yang mungkin menunjukkan pertumbuhan gigi awal tetapi mungkin hanya merupakan bagian normal dari makin tingginya keingintahuan tentang segala sesuatu.

Pada beberapa bayi, gigi mulai tumbuh pada awal bulan keempat. Pertumbuhan gigi dimulai dengan gigi seri bagian bawah. Gigi yang muncul ini akan menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit pada gusi yang dapat dihilangkan sementara dengan cara menggosokkan jari yang bersih dan es ke gusi. Bayi mungkin mulai menggaruk gusi (yang membantu mengurangi rasa sakit) dan mungkin mulai menggigit-gigit. Apakah rasa tidak nyaman merupakan pertanda tumbuhnya gigi? Kalau tindakan menggosok gusi menyebabkan dia menangis mendadak, jawabannya ialah ya. Dengan terus menggosoknya, bayi akan merasa enak dan tenang. Dengan memberikan sedikit cairan bayi asetaminofen, rasa sakit bayi akan terobati untuk sementara. Tetapi hati-hati, gigi yang mulai keluar pada usia 4 bulan mungkin tidak akan benar-benar muncul selama berminggu-minggu.

  1. Bulan Kelima

Ini adalah usia penemuan, usia menyelidiki berbagai hal dengan memainkan dan menirukan hal-hal tersebut. Mengamati sesuatu tidak lagi cukup; seorang bayi berumur 5 bulan hendak merasakan bentuknya baik dengan tangan maupun mulut. Seorang anak yang mungkin tampak siap memakan makanan padat mungkin masih lebih tertarik dalam menirukan bentuk-bentuk baru daripada mengkonsumsi makanan. Rentang perhatian untuk bermain, meningkat menjadi lebih dari satu jam.

Pada akhir bulan kelima, kebanyakan bayi bisa tersenyum dengan spontan. Mereka meraih obyek-obyek, dan bisa mendapat genggaman yang kuat bila anda memberi mereka giring-giring. Kebanyakan bayi bisa melihat dan memandang obyek sebesar kismis, dan mereka tertawa serta menjerit. Pada masa ini, bayi-bayi yang terutama aktif sudah akan mulai tumbuh melebihi kursi lipat mereka, dan bisa dengan mudah merosot atau merangkak keluar dari kursi tersebut.

  1. Bulan Keenam

Pada saat ini, rata-rata anak telah mulai berceloteh sepanjang waktu. Walau orang tua mungkin tidak mengetahui banyak apa yang dikatakannya, bayi berumur 6 bulan bisa mengerti beberapa kata, dan mungkin membuat dua suara yang bisa dikenali – mama dan dada -walau keduanya belum mempunyai arti pada anak tersebut.

Beberapa bayi mungkin telah menemukan permainan yang menyenangkan dengan menjatuhkan barang, biasanya sebelum mereka menemukan keasyikan waktu mengambil barang-barang itu. Kegiatan ini biasanya mendatangkan respon dari orangtua, dan memberikan pengalaman awal dari suatu tindakan sebab-akibat untuk bayi, yang menikmati kontrol baru atas lingkungannya ini. Aktivitas tersebut juga mewakili kemajuan dalam perkembangan otot-otot halus pada tangan, yang disini sama dengan perkembangan otot-otot besar untuk daya gerak.

Pada usia ini, perkembangan anak akan menjadi jelas. Anak yang sangat aktif mungkin sudah mulai merangkak, menarik perut dan kakinya di sepanjang lantai dengan menggunakan tangan. Bayi aktif bisa duduk beberapa menit pada suatu saat, dan akan menyukai untuk menapakkan kaki setahap demi setahap ketika dipegang tegak lurus. Anak rata-rata bisa berguling sendiri, dan akan mampu duduk tegak lurus tanpa memiringkan kepalanya ke satu sisi. Anak rata-rata akan mampu bergerak ke belakang dan ke depan, membuat kebanyakan bayi terlalu aktif waktu diberi makan atau dipasangi popok pada tahap ini. Jangan mengharapkan bayi berumur 6 bulan untuk tetap diam.

  1. Bulan Ketujuh

Seorang bayi pada usia ini mungkin juga menemukan permainan menyenangkan menjatuhkan sesuatu dan meminta orangtua mengambilkannya. Memungut barang yang jatuh lagi dan lagi mungkin memberikan kegembiraan besar pada seorang anak, tetapi melakukannya jauh lebih tidak menarik bagi orangtua. Tidak ada jalan untuk menyarankan seberapa sering orangtua harus menyerah pada tingkah laku yang jelas-jelas mempermainkan ini.

Pada bulan ketujuh, banyak bayi telah mulai berjalan-jalan dan tidak bisa lagi ditinggalkan sendiri dengan aman. Kemampuan merangkak meningkat, walau beberapa bayi lebih suka menyeret pantat di lantai. Banyak juga yang sudah mulai menarik diri mereka ke posisi berdiri, suatu pengalaman yang mungkin mereka rasa sangat menyenangkan tetapi juga sedikit menakutkan pada mulanya, karena mereka belum tahu bagaimana menurunkan diri mereka. Jangkauan lengan dan tangan juga banyak meningkat. Bayi menggunakan setiap tangan terlepas dari lainnya, mungkin tanpa memilih tangan yang disukai. Kebanyakan bayi suka membanting mainan atau obyek lain bersama-sama, dan membandingkan perbedaan ukuran atau bentuk mereka. Bayi juga mungkin tertarik menusuk barang-barang. Semua colokan listrik yang tidak terpakai di rumah kini harus dibungkus dengan plastik.

Pertumbuhan gigi biasanya aktif selama masa ini. Gigi pertama, di rahang bawah, biasanya adalah yang terburuk. Selain meraba-raba gusi dan mulut, bayi suka meletakkan jari-jari di telinga mereka. Bila mereka terus menariki satu telinga dan tampak lekas marah atau terganggu, mereka mungkin memiliki infeksi telinga dan harus diperiksa oleh dokter.

  1. Bulan Kedelapan

Bayi-bayi pada usia ini bisa jadi sangat bandel, terutama ketika mereka lelah. Hanya sedikit anak-anak yang ingin berhenti bermain ketika waktu tidur tiba, tetapi tentu saja anda tidak boleh membiarkan buah hati anda menjadi sangat lelah. Di sisi lain, bayi yang sangat aktif mungkin hendak bangun di tengah malam. Tidak ada cara menyelesaikan untuk masalah ini. Beberapa orang tua akan mengikuti jejak bayi; sedangkan sebagian lain menolak pergi ke kamar tidur setelah bayi ditidurkan.

Kemajuan fisik bayi pada usia ini, kebanyakan bayi bisa menyuapi diri mereka sendiri dengan roti kering dan bermain cilukba. Usaha untuk mengambil sebuah mainan darinya bisa mendapat perlawanan; dan bila sesuatu diletakkan di luar penglihatan atau jangkauan, bayi akan mencoba mencarinya. Bayi bisa dengan mudah memindahkan mainan dari satu tangan ke tangan lain, dan mungkin menirukan beberapa suara yang dibuat oleh orang dewasa ketika bermain dengannya. Sejak dulu, bayi sudah belajar bagaimana duduk tanpa bantuan dan menahan sebagian beratnya ketika dipegang berdiri

  1. Bulan Kesembilan

Suatu saat antara bulan kesembilan dan keduabelas, bayi-bayi yang masih menyusui mungkin mulai kehilangan minat untuk itu, dan ini adalah waktu yang tepat untuk mengangkat mereka dari rasa bosan. Pada beberapa kasus, penyapihan secara psikologis mungkin sebenarnya lebih sulit untuk ibu, yang menyadari peningkatan kebebasan bayinya. Bayi-bayi yang sudah makan makanan padat mungkin kini siap menerima daging dan jus buah.

Pada tahap ini, banyak bayi bisa duduk sendiri dan mencapai posisi berdiri dengan sedikit usaha. Dengan munculnya kemampuan baru ini, mungkin hadir pula pemahaman dan mungkin ketakutan akan ketinggian. Namun, anak-anak biasanya merasakan kegembiraan dalam usaha untuk berdiri, dan bisa jadi akan berkeras untuk berdiri pada waktu makan dan dipakaikan baju. Bayi yang amat aktif mungkin telah merangkak dan belajar memanjat tangga. Turun tangga jauh lebih menakutkan daripada naik, dan bayi mungkin terhenti beberapa langkah ke atas. Memasang karpet tangga adalah ide yang baik; memasang pagar di atas dan di bawah tangga adalah penting. Dengan kemampuan untuk duduk dan membungkuk ke depan dengan tangan bebas, seorang bayi 9 bulan memiliki kebebasan penuh untuk menjelajahi seluruh tubuh dan menemukan kesenangan dalam latihan ini.

Kadangkala bayi tidak menumbuhkan gigi sampai hampir akhir tahun pertama atau bahkan sesudahnya. Namun, masalah-masalah yang menyebabkan gigi tak sehat sebenarnya seringkali berasal dari bulan-bulan awal atau bahkan sebelum kelahiran. Membiarkan bayi tidur dengan botol susu dapat menimbulkan kerusakan gigi, yang disebabkan interaksi antara bakteri di mulut dan gula pada susu atau jus. Kontak terlalu lama dengan gula akan mendorong pembentukan plak, yang akan menyebabkan kerusakan gigi.

Walau gigi pertama hanya “gigi susu”, yang diharapkan tanggal pada umur 6 atau 7 tahun, kondisi gigi susu tersebut menyiapkan suatu tahap untuk gigi tetap. Bila gigi ini tanggal dini akibat kerusakan, gigi permanen bisa salah tumbuh dan, selain tidak menarik untuk dilihat, mungkin tidak berfungsi dengan baik. Juga, gigi yang rusak pada usia berapapun seringkali terasa sakit dan bisa mengganggu nutrisi yang normal.

  1. Bulan Kesepuluh

Bayi berumur sepuluh bulan seringkali bisa mulai membantu berpakaian, mengangkat tangan dan kaki, dan banyak dari mereka bisa mengenali bagian-bagian badan dari namanya. Namun, anak-anak pada usia ini masih terlalu kecil untuk berpakaian sendiri.

Pada bulan kesepuluh, hampir semua anak bisa menarik diri mereka ke atas dan berdiri sementara berpegangan pada sesuatu, dan banyak yang dapat berjalan di sisi jalan sambil berpegangan pada perabot seperti sofa. Kebanyakan bayi bisa menarik diri mereka dari posisi berbaring ke posisi duduk tanpa bantuan. Beberapa bisa berdiri sendiri, setidaknya untuk sementara. Mungkin tampaknya bayi-bayi akan pertama merangkak, lalu merayap, kemudian berdiri, dan akhirnya berjalan. Tetapi bayi-bayi cenderung belajar untuk berdiri dan lalu merayap, seolah mereka merasakan keperluan untuk mempunyai lebih banyak pengalaman tingkat dasar sebelum berjalan tegak.

Banyak relasi atau pengasuh bayi yang “kuno” mungkin mulai membuat ibu yang lebih muda merasa kekurangan bila ia tidak melatih buang air anaknya mendekati akhir tahun pertamanya. Pada beberapa kebudayaan, anak-anak secara rutin dipaksa berlatih buang air di tahun pertama mereka.

Pertanyaan-pertanyaan di sekitar latihan buang air selalu sulit, tetapi tampaknya paling baik untuk anak bila praktek itu tidak dipaksakan padanya. Mungkin ada sedikit kontrol otot sfingter (otot yang dapat dilatih untuk menahan keluarnya air seni) pada bayi berusia 10 bulan, tetapi itu masih merupakan suatu refleks. Hanya sedikit bayi yang cukup matang untuk memerlukan atau memahami latihan buang air di bulan kesepuluh. Pada usia ini mereka mungkin menurut dengan pasif, tetapi konsekwensinya cenderung untuk menjadi suatu tindakan perlawanan dan penahanan tinja pada usia tahun kedua.

  1. Bulan Kesebelas
  2. Bulan Keduabelas

 

  1. C.    ISU TERKINI / EVIDENCE BASED
  2. D.    PEMANTAUAN / MONITORING

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan :

1)      Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.

2)      Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.

3)      Perkembangan fisik mencakup pertumbuhan biologis. Misalnya, pertumbuhan otak, otot, tulang serta penuaan dengan berkurangnya ketajaman pandangan mata dan berkurangnya kekuatan otot-otot.

4)      Sebagai pemberi pelayanan keperawatan, perawat memberikan pelayanan dari mulai manusia sebelum lahir sampai dengan meninggal, dalam merawat kasus yang samapun tindakan yang diberikan akan sangat berdeda karena setiap orang adalah unik, sehingga seorang perawat dituntut untuk mengerti proses tumbuh kembang.

5)      Tumbuh kembang merupakan proses yang dinamis dan terus menerus

  1. B.     Saran
  2. Agar anak dapat tumbuh kembang dengan baik maka  ibu – ibu diharapkan dapat memperhatikan gizi pada bayi dan melatih anak untuk belajar sesuai dengan tahapanya. Sebab belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki anak
  3. Dalam mengajar, guru hendaknya mampu mengomunikasikan materi dan menyampaikan informasi dengan menggunakan berbagai metode mengajar agar setiap anak dapat menyerap dan memahaminya untuk kemudian digunakan pada saat diperlukan. Hal ini hanya dapat dicapai bila guru mengetahui karakteristik murid-muridnya yang visual, yang auditorial maupun yang kinestik.
  4. Bagi ibu – ibu yang mempunyai anak diharapkan dapat membimbing anaknya ke arah yang benar agar anaknya memiliki kognitif yang luas dan tidak meniliki gangguan mental.

 

DAFTAR PUSTAKA

Markum, A.H. 1991. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

http://www.infoibu.com/tipsinfosehat/balita.htm