Posts Tagged ‘merujuk’

DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 x/menit

pada dua kali penilaian dengan jarak 5 menit

(gawat janin)

  1. Pengertian Gawat Janin

Gawat janin terjadi bila janin tidak menerima O2 cukup, sehingga mengalami hipoksia. Situasi ini dapat terjadi kronik (dalam jangka waktu lama) atau akut. Gawat janin dalam persalinan dapat terjadi bila :

  1. Persalinan berlangsung lama
  2. Induksi persalinan dengan oksitosin
  3. Ada perdarahan atau infeksi
  4. Insufisiensi plasenta : postterm , preeklamsi.
    Tanda-tanda gawat janin tersebut :

    1. Denyut Jantung Janin (DJJ) kurang dari 100 per menit atau lebih dari 180 per menit.
    2. Air ketuban hijau kental.

DJJ ireguler dalam persalinan sangat bervariasi dan dapat kembali setelah beberapa waktu. Bila DJJ tidak kembali normal setelah kontraksi, hal ini menunjukkan adanya hipoksia.

DJJ lambat (kurang dari 100 per menit) saat tidak ada his, menunjukkan adanya gawat janin. dan DJJ cepat (lebih dari 180 per menit) yang disertai takhikardi ibu bisa karena ibu demam, efek obat, hipertensi, atau amnionitis. Jika denyut jantung ibu normal, denyut jantung janin yang cepat sebaliknya dianggap sebagai tanda gawat janin.

 

  1. Alasan

Alasan merujuk pasien dengan DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 x/menit, yaitu:

  1. Terhadap Janin

Beresiko akan menimbulkan kematian  janin

  1. Terhadap Ibu

Beresiko akan menimbulkan

 

  1. Perawatan Selama Merujuk
    Jika denyut jantung janin diketahui tidak normal, lakukan hal-hal sebagai berikut:
  2. Pasien dibaringkan miring ke kiri dan anjurkan untuk bernafas secara teratur. Hal ini dilakukan agar vena cafa inferior tidak tertekan oleh janin, sehingga pasokan oksigen ke bayi dapat terpenuhi.
  3. Pemberian oksigen 8-12 l/menit. Perubahan posisi dan pemberian O2 8-12 l/menit membantu mengurangi demam pada maternal dengan hidrasi anti piretik dan tindakan pendinginan.
    1. Hentikan infus oksitosin (jika sedang diberikan infus oksitosin). Pasang infuse menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau garam fisiologis (NS) dengan tetesan 125 cc/jam.
    2. Jika sebab dari ibu diketahui (seperti demam, obat-obatan) mulailah penanganan yang sesuai dengan kondisi ibu:
      1. Istirahat baring
      2. Banyak minum
      3. Kompres untuk menurunkan suhu tubuh ibu
      4. Jika sebab dari ibu tidak diketahui dan denyut jantung janin tetap abnormal sepanjang paling sedikit 3 kontraksi, lakukan pemeriksaan dalam untuk mencari penyebab gawat janin:
        1. Jika terdapat perdarahan dengan nyeri yang hilang timbul atau menetap, pikirkan kemungkinan solusio plasma.
        2. Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam, sekret vagina berbau tajam) berikan anti biotik untuk amnionitis.
        3. Jika tali pusat terletak di bawah janin atau dalam vagina lakukan penanganan prolaps tali pusat.
        4. Jika denyut jantung janin tetap abnormal atau jika terdapat tanda-tanda lain gawat janin (mekonium kental pada cairan amnion, rencanakan persalinan dengan kolaborasi atau merujuk).

Sesuai dengan standart pelayanan bidan diharapkan dapat mengambil bagian terbesar pada pertolongan persalinan normal dengan mempergunakan potograf WHO. Kewaspadaan dalam persalinan sudah dilakukan sejak semula(salah satunya pemantauan denyut jantung janin) sehingga setiap saat keadan ibu dan janin dapat diketahui dengan pasti. Puncak kewaspadaan dilaksanakan dengan melakukan rujukan penderita kepusat pelayanan dengan fasilitas setelah melampaui garis waspada agar penderita diterima di pusat peleyanan dalam keadaan optimal. Bidan diharapkan dapat berkrjasama dengan tenaga kesehatan lain sehingga dapat mendeteksi secara dini keadaan pasien.

Dalam hal ini bidan harus berkolaborsi atau merujuk, karena upaya menyelesaikan pertolongan persalinan dengan intervensi kekuatan dari luar bukan tugas utama bidan, sehingga setiap persalinan yang diduga akan mengalami kesulitan sudah dirujuk ke pusat dengan fasilitas yang mencukupi. Sehingga dalam pertolongan pertamanya bidan perlu melakukan tindakan medis:

  1. Perubahan posisi lataran dan pemberian O2 8-12 l/menit membantu mengurangi demam pada maternal dengan hidrasi anti piretik dan tindakan pendinginan.
  2. Jika sebab dari ibu diketahui (seperti demam, obat-obatan) mulailah penanganan yang sesuai dengan kondisi ibu:

a. Istirahat baring

b. Banyak minum

c. Kompres untuk menurunkan suhu tubuh ibu

  1. Ibu di miringkan kekiri
  2. Pemsantauan DJJ dengan rutin.
  3. Mengantar atau mendampingi pasien untuk  mendapatkan pertolongan lebh lanjut, sehingga dapat memberikan keterangan atau memberikan keterangan tertulis.
  4. Intervensi lainnya tidak perlu dilakukan sebab kemungkinan akan menambah bahaya ibu maupun janin dalam kandungan.

Demikianlah kewenangan bidan dalam menghadapi persalinan dengan DJJ<100 atau >180 sehingga mata rantai pelayanan dan pengayoman medis dapat lebih bermutu dan menyeluruh.

Iklan

ASUHAN KEBIDANAN

PERSALINAN PREMATUR

Definisi Persalinan Preterm

Persalinan preterm adalah persalinan yang berlangsung pada umur kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (ACOG 1995).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa bayi premature adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37 minggu atau kurang.

Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI di Semarang tahun 2005 menetapkan bahwa persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu.

 

 

Diagnosis Persalinan Preterm

Sering terjadi kesulitan dalam menentukan diagnosis ancaman persalinan preterm. Tidak jarang kontraksi yang timbul pada kehamilan tidak benar-benar merupakan ancaman proses persalinan. Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman persalinan preterm, yaitu:

  1. Kontraksi yang berulang sdikitnya setiap 7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit
  2. Adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain)
  3. Perdarahan bercak
  4. Perasaan menekan daerah serviks
  5. Pemeriksaan serviks menunjukan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm, dan penipisan 50-80%
  6. Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika
  7. Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal terjadinya persalinan preterm
  8. Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu

ALASAN MERUJUK

Kelahiran preterm merupakan masalah rasional yang multikompleks dan perlu pemecahan yang konseptual. Secara mikro ada program yang komprehensif di tiap klinik untuk mencegah kelahiran preterm. Ibu sebaiknya dirujuk kepada klinik yang mampu menangani resusitasi, stabilisasi, dan perawatan bayi preterm. Kebijakan penanganan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi setempat yang memerlukan evaluasi teus-menerus guna mengurangi mortalitas dan morbiditas bayi preterm.

Bila dijumpai serviks pendek (<1cm) disertai dengan pembukaan yang merupakan tanda serviks matang/inkompetensi serviks, memunyai risiko terjadinya persalinan preterm 3-4 kali.

Efek persalinan preterm tidak bisa dianggap ringan. Pada ibu  dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia karena perdarahan. Plasentitis, dan endometritis pasca persalinan. Misal persalinan preterm  pada ibu yang  penyebabnya perdarahan antepartum, tentu ibu akan melahirkan melalui section sesarea.

Bayi premature dengan tengkorak yang lunak dan daya tahan yang rendah tidak akan mampu menghadapi trauma. Kalau mungkin, kontraksi kuat yang berlebihan dan partus presipitatus harus dihindari. Sayangnya baik bayi maupun uterus tidak siap untuk persalinan yang normal. Sering serviks yang belum matang menambah kesulitan-kesulitan tersebut. Monitoring denyut jantung anak secara terus-menerus merupakan hal yang penting.

Selain itu dampak pada bayi, salah satunya pembentukan organ yang belum sempurna setelah ia dilahirkan. Seperti paru-paru dan saluran cerna yang belum matang. Bayi pun akan mudah mengalami hipotermi (kedinginan), mudah mengalami infeksi dan hipoglikemi (gula darah yang rendah).  Karena itulah, bayi prematur kemungkinan besar akan masuk ICU. Persalinan preterm menyumbang angka kematian pada bayi hingga 65-75%.

Ibu hamil yang mempunyai risiko terjadi persalinan preterm dan/atau menunjukan tanda-tanda persalinan preterm perlu dilakukan intervensi untuk meningkatkan neonatal outcomes.

CARA MERUJUK

Penatalaksanaan

Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada persalinan preterm, terutama mencegah mordibitas dan mortalitas neonates preterm adalah:

  1. Menghambat proses persalinan preterm dengan pemberian tokolisis
  2. Pematangan surfaktan paru janin dengan kortikosteroid
  3. Bila perlu dilakukan pencegahan terhadap infeksi

Menurut FKUI. Kapita Selekta Kedokteran. 2001.

Setiap persalinan preterm harus dirujuk ke rumah sakit. Cari apakah faktor penyulit ada. Dinilai apakah termasuk risiko tinggi atau rendah.

  1. Sebelum dirujuk, berikan air minum 1.000 ml dalam waktu 30 menit dan nilai apakah kontraksi berhenti atau tidak.
  2. Bila kontraksi masih berlanjut, berikan obat takolitik seperti Fenoterol 5 mg peroral dosis tunggal sebagai pilihan pertama atau Ritodrin mg peroral dosis tinggi sebagai pilihan kedua, atau Ibuprofen 400 mg peroral dosis tungga sebagai pilihan ketiga.
  3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan beri dukungan.
  4. Persalinan tidak boleh ditunda bila ada kontraindikasi mutlak (gawat janin, karioamnionitis, perdarahan antepartum yang banyak) dan kontraindikasi relative (gestosis, DM, pertumbuhan janin terhambat dan pembukaan serviks 4 cm).

Perdarahan pervaginam yang biasa terjadi pada saat menjelang persalinan (trimestre akhir) kehamilan dapat disebabkan  oleh 3 macam yaitu :

A. PLASENTA PREVIA

Pengertian Placenta Previa

Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Wiknjosastro, 2006).

Alasan Placenta Previa harus Dirujuk

Perdarahan pada plasenta previa terjadi tanpa sakit pada saat tidur atau sedang melakukan aktivitas. Mekanisme perdarahan karena pembentukan segmen bawah rahim menjelang kehamilan aterm sehingga plasenta lepas dari implantasi dan menimbulkan perdarahan. Bentuk perdarahan dapat sedikit atau banyak dan menimbulkan penyulit pada janin maupun ibu. Penyulit pada ibu dapat menimbulkan anemia sampai syok. Sedangkan untuk janin dapat menimbulkan asfiksia sampai kematian janin dalam rahim (Manuaba, 1998).

Pengaruh Plasenta Previa

  1. Pengaruh plasenta previa terhadap kehamilan

Karena dihalangi oleh plasenta maka bagian terbawah janin tidak terfiksir ke dalam pintu atas panggul, sehingga terjadilah kelainan letak janin seperti letak kepala mengapung, letak sungsang, letak lintang. Sering terjadi partus prematurus karena adanya rangsangan koagulum darah pada serviks. Selain itu juga banyak plasenta yang lepas, kadar progesteron turun dan dapat terjadi his, juga lepasnya plasenta sendiri dapat merangsang his. Dapat juga karena pemeriksaan dalam (Mochtar, 1998).

  1. Pengaruh plasenta previa terhadap partus.
    1. Letak janin yang tidak normal, menyebabkan partus akan menjadi patologik.
    2. Bila pada plasenta previa lateralis, ketuban pecah atau dipecahkan dapat terjadi prolaps funikuli.
    3. Sering dijumpai inersia primer.

d.  Perdarahan.

3.    Pengaruh plasenta previa terhadap janin.

  1. Lahir prematur.
  2. Infeksi.
  3. Asfiksia berat sampai IUFD.

Komplikasi

  1. Pada ibu
  • Perdarahan pascasalin
  • Syok hipovolemik
  • Infeksi-sepsis
  • Laserasi serviks
  • Plasenta akreta
  • Emboli udara (jarang)
  • Kelainan koagulapati sampai syok
  • Kematian
  1. Pada anak
  • Hipoksia
  • Anemia
  • Prolaps tali pusat
  • Prolaps plasenta
  • Prenaturiotas atau lahir mati
  • Kematian

Cara Merujuk

Penanganan Awal sebelum Dirujuk

Bidan yang menghadapi perdarahan plasenta previa dapat mengambil sikap melakukan rujukan ke tempat pertolongan yang mempunyai fasilitas yang cukup.

Dalam melakukan rujukan penderita plasenta previa sebaiknya dilengkapi dengan:

  1. Pemasangan infus untuk mengimbangi perdarahan.
  2. Sedapat mungkin diantar petugas.
  3. Dilengkapi keterangan secukupnya.
  4. Dipersiapkan donor darah untuk tranfusi darah.

Manajemen Umum

Menurut Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, Sp.OG. (2004), manajemen umum pada plasenta previa adalah sebagai berikut:

  1. Tergantung dari:
    1. Keadaan umum penderita.
    2. Jumlah perdarahan.
    3. Keadaan janin intrauterin.
    4. Upaya preventif:
      1. Memasang infus.
      2. Menyiapkan transfusi darah.
      3. Menyiapkan referal (rujukan) bila di Puskesmas.
      4. Diagnosis pasti:
        1. Pemeriksaan ultrasonografi.
        2. Pemeriksaan dalam di meja operasi.

d. Bila dijumpai di Puskesmas, sebaiknya direferal (dirujuk) ke rumah sakit umum tipe C.

e. Kejadian plasenta previa makin berkurang seiring dengan semakin diterimanya konsep Well Born Baby dan

Well Health Mother.

B. SOLUTIO PLASENTA

Pengertian

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada uterus sebelum janin dilahirkan. Definisi ini berlaku dengan masa gestasi diatas 22 minggu atau berat janin diatas 500 gram. Istilah solusio plasenta juga dikenal dengan istilah abruptio plasenta atau separasi prematur dari plasenta. Plasenta dapat lepas seluruhnya yang disebut solusio plasenta totalis atau terlepas sebagian yang disebut solusio plasenta parsialis atau terlepas hanya pada sebagian kecil pinggir plasenta yang sering disebut ruptur sinus marginalis

Alasan Merujuk

Pelepasan sebagian atau seluruh plasenta dapat menyebabkan perdarahan baik dari ibu maupun janin. Kejadian ini merupakan peristiwa yang serius dan merupakan penyebab sekitar 15% kematian prenatal. 50% kematian ini disebabkan oleh kelahiran prematur dan sebagian besar dari sisa jumlah tersebut meninggal karena hipoksia intrauterin. Terlepasnya plasenta sebelum waktunya menyebabkan timbunan darah antara plasenta dan dinding rahim yang dapat menimbulkan gangguan penyulit terhadap ibu maupun janin

Penyulit terhadap ibu dapat dalam bentuk :

  1. Berkurangnya darah dalam sirkulasi darah umum
  2. Terjadi penurunan tekanan darah, peningkatan nadi dan pernapasan
  3. Penderita tampak anemis
  4. Dapat menimbulkan gangguan pembekuan darah, karena terjadi pembekuan intravaskuler yang diikuti hemolisis darah sehingga fibrinogen makin berkurang dan memudahkan terjadinya perdarahan
  5. Setelah persalinan dapat menimbulkan perdarahan postpartum karena atonia uteri atau gangguan pembekuan darah
  6. Menimbulkan gangguan fungsi ginjal dan terjadi emboli yang menimbulkan komplikasi sekunder
  7. Peningkatan timbunan darah dibelakang plasenta dapat menyebabkan rahim yang keras, padat dan kaku
  8. Penyulit terhadap janin dalam rahim, tergantung luas plasenta yang lepas, dimana dapat menimbulkan asfiksia ringan sampai kematian janin dalam rahim.

Komplikasi

Komplikasi pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dan lamanya solusio plasenta berlangsung.  Komplikasi yang dapat terjadi adalah :

  1. Komplikasi pada ibu
    1. Perdarahan
    2. Variasi turunnya tekanan darah sampai keadaan syok
    3. Perdarahan tidak sesuai dengan keadaan penderita yang anemis sampai syok (waspada perdarahan tersembunyi)
    4. Kesadaran bervariasi dari baik sampai koma
    5. Gangguan pembekuan darah
    6. Masuknya tromboplastin kedalam sirkulasi darah menyebabkan pembekuan darah intravaskuler dan disertai hemolisis
    7. Terjadi penurunan fibrinogen, sehingga hipofibrinogen dapat mengganggu pembekuan darah
    8. Oliguria
    9. Terjadinya sumbatan glomerulus ginjal dan dapat menimbulkan produksi urin makin berkurang
    10. Perdarahan postpartum
    11. Pada solusio plasenta sedang sampai berat terjadi infiltrasi darah ke otot rahim, sehingga mengganggu kontraksi dan menimbulkan perdarahan karena atonia uteri
    12. Kegagalan pembekuan darah menambah beratnya perdarahan

m.  Perdarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah, kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. Bila persalinan telah selesai, penderita belum bebas dari bahaya perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala 3 dan kelainan pembekuan darah. Kontraksi uterus yang tidak kuat itu disebabkan ekstravasasi darah diantara otot-otot miometrium, seperti yang terjadi pada uterus couvelaire.

  1. Komplikasi pada janin
    1. Perdarahan yang tertimbun dibelakang plasenta mengganggu sirkulasi dan nutrisi ke arah janin sehingga dapat menimbulkan asfiksia ringan sampai berat dan kematian janin dalam rahim
    2. Rintangan kejadian asfiksia sampai kematian janin tergantung pada seberapa bagian plasenta telah lepas dari implantasinya si fundus uteri

 

 

Cara Merujuk

Sikap bidan dalam menghadapi solusio plasenta

Bidan merupakan tenaga andalan masyarakat untuk dapat memberikan pertolongan kebidanan, sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun perinatal. Dalam menghadapi perdarahan pada kehamilan, sikap bidan yang paling utama adalah melakukan rujukan ke rumah sakit. Dalam bentuk rujukan diberikan pertolongan darurat :

  1. Pemasangan infus
  2. Tanpa melakukan pemeriksaan dalam/vaginal toucher
  3. Diantar petugas yang dapat memberikan pertolongan
  4. Mempersiapkan donor dari keluarga atau masyarakat
  5. Menyertakan keterangan tentang apa yang telah dilakukan untuk memberikan pertolongan pertama

 

C. RUPTUR UTERI

Pengertian

Terjadinya rupture uteri pada seorang ibu hamil atau sedang bersalin masih merupakan suatu bahaya besar yang mengancam jiwanya dan janinnya. Kematian ibu dan anak karena rupture uteri masih tinggi. Insidens dan angka kematian yang tinggi kita jumpai dinegara-negara yang sedang berkembang, seperti afrika dan asia. Angka ini sebenarnya dapat diperkecil bila ada pengertian dari para ibu dan masyarakat. Prenatal care, pimpinan partus yang baik, disamping fasilitas pengangkutan dari daerah-daerah periver dan penyediaan darah yang cukup juga merupakan faktor yang penting.

Cara Merujuk

  1. Segera hubungi dokter, konsultan, ahli anestesi, dan staf kamar operasi
  2. Buat dua jalur infus intravena dengan intra kateter no 16 : satu oleh larutan elektrolit, misalnya oleh larutan rimger laktat dan yang lain oleh tranfusi darah. ( jaga agar jalur ini tetap tebuka dengan mengalirkan saline normal, sampai darah didapatkan ).
  3. Hubungi bank darah untuk kebutuhan tranfusi darah cito, perkiraan jumlah unit dan plasma beku segar yang diperlukan
  4. Berikan oksigen
  5. Buatlah persiapan untuk pembedahan abdomen segera ( laparatomi dan histerektomi )
  6. Pada situasi yang mengkhawatirkan berikan kompresi aorta dan tambahkan oksitosin dalam cairan intra vena.

 

Riwayat Sectio Caesaria

 

Alasan Merujuk dengan Riwayat Sectio Caesaria

Tindakan rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas kesehatan rujukan atau yang memiliki saran lebih lengkap diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan BBL. Walaupun  sebagian besar ibu menjalani persalinan normal, namun masih ada sekitar 10-15% diantaranya akan mengalami masalah selama proses persalinan.

 

Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam melakukan rujukan (BAKSOKUDA) :

B : (Bidan) Selama tindakan rujukan dilakukan, ibu dan atau bayi lahir didampingi oleh penolonng persalinan yang kompeten dan memiliki kemampuan untuk menatalaksana kegawatdaruratan obstetri dan BBL untuk dibawa ke fasilitas rujukan

A : (Alat). Bahan-bahan dan perlengkapan untuk asuhan persalinan, masa nifas dan BBL (tabung suntik, selang IV, dll) harus dibawa bersama ibu ke tempat rujukan. Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin diperlukan jika ibu melahirkan sedang dalam perjalanan.

K : (Keluarga). Ibu dan keluarga harus diberitahu mengenai kondisi terakhir baik mengenai kondisi ibu dan atau bayinya serta mengapa ibu dan bayi perlu dirujuk. Jelaskan pada mereka alasan keperluan dan upaya rujukan tersebut. Suami atau anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan atau BBL ke tempat rujukan.

S : (Surat). Buat surat pengantar ke tempat rujukan. Surat ini harus memberikan identifikasi mengenai ibu dan atau BBL, cantumkan alasan rujukan dan uraikan hasil pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang telah diterima ibu dan atau BBL. Lampirkan partograf hasil persalinan ibu pada saat rujukan.

O : (Obat). Bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu ke tempat rujukan. Obat mungkin diperlukan selama perjalanan.

K : (Kendaraan). Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu dalam kondisi yang cukup nyaman. Pastikan kondisi kendaraan cukup baik untuk mencapai tempat rujukan dalam waktu yan tepat.

U : (Uang). Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan BBL tinggal di fasilitas rujukan.

DA : (Doa, darah). Ingatkan pada ibu dan keluarga untuk selalu memanjatkan doa sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Ajak keluarga/tetangga yang mempunyai golongan darah yang sama dengan pasien bila kasusnya memerlukan tranfusi darah

 

  1. Pengertian

Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

 

II. Jenis – jenis operasi sectio caesarea

1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis)

a. Sectio caesarea transperitonealis

  • SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri)

Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira2 10 cm.

Kelebihan :

-Mengeluarkan janin dengan cepat

– Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik

– Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal

Kekurangan

–  Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik

-Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan

  • SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim)

Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm

Kelebihan :

– Penjahitan luka lebih mudah

– Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik

– Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum

– Perdarahan tidak begitu banyak

– Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil

Kekurangan :

– Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak

– Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi

b. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal

 

2. Vagina (section caesarea vaginalis)

Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Sayatan memanjang ( longitudinal )

2. Sayatan melintang ( Transversal )

3. Sayatan huruf T ( T insicion )

 

III. Indikasi

Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu atau pun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia )

– Fetal distress

– His lemah / melemah

– Janin dalam posisi sungsang atau melintang

– Bayi besar ( BBL ³ 4,2 kg )

– Plasenta previa

– Kalainan letak

– Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul)

– Rupture uteri mengancam

– Hydrocephalus

– Primi muda atau tua

– Partus dengan komplikasi

– Panggul sempit

– Problema plasenta

 

IV. Komplikasi

Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain :

1. Infeksi puerperal ( Nifas )

– Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari

– Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung

– Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik

2. Perdarahan

– Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka

– Perdarahan pada plasenta

3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi

4. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya

 

Riwayat operasi sesar pada persalinan yang lalu, dimungkinkan untuk persalinan pervaginam pada kehamilan berikutnya, dengan indikasi :

  1. Bekas insisi tunggal yang melintang dan pada bagian servikal bawah uterus.
  2. Indikasi untuk prosedur pertama bukan disproporsi
  3. Harapan akan kelahiran dan persalinan yang mudah.

 

Kontraindikasi riwayat SC sehingga perlu dilakukan rujukan :

  1. Bekas  insisi vertical tipe apapun
  2. Insisi yang  tipenya tidak diketahui
  3. Pernah sectio caesarea lebih dari satu kali
  4. Saran untuk tidak melakukan trial of labor dari dokter bedah yang melaksanakan pembedahan pertama
  5. Panggul sempit
  6. Presentasi abnormal seperti presentasi dahi, bokong, atau letak lintang.
  7. Indikasi medis untuk segera mengakhiri kehamilan, termasuk diabetes, toxemia gravidarum dan plasenta previa.

 

V. Penanganan

Riwayat SC menjdi resiko rupture uteri pada kehamilan selanjunya, namun hal tersebut dapat dicegah. Pencegahan rupture uteri pada wanita yang pernah mengalami SC, di beberapa Negara terdapat pendapat bahwa sekali seksio, seterusnya seksio. Pendirian tersebut tidak dianut di Indonesia. Seorang wanita yang mengalami SC untuk sebab yang hanya terdapat pada persalinan yang memerlukan pembedahan itu untuk menyelesaikannya, diperbolehkan untuk melahirkan pervaginampada persalinan berikutnya. Akan tetapi, ia harus bersalin di rumah sakit supaya diawasi dengan baik. Kala II tidak boleh berlangsung terlalu lama dan pemberian oksitosin tidak dibenarkan. Ketentuan bahwa tidak perlu dilakukan SC ulangan pada wanita yang pernah mengalami SC tidak berlaku untuk SC klasik.

Karena adanya bahaya yang lebih besar akan timbulnya rupture uteri pada riwayat SC, maka perlu dilakukan SC ulang. Selain itu, ibu hendaknya dirawat 3 minggu sebelum HPL. Dapat dipertimbangkan untuk melakukan SC sebelum persalinan dimulai, asal kehamilannya benar-benar lebih dari 37 minggu.

 

Rencana untuk asuhan atau perawatan oleh bidan :

  1. Menjelaskan pada ibu tentang kondisinya saat ini bahwa harus dilakukan rujukan untuk operasi section cesarea.
  2. Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan psikologis
  3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang mempunyai kemampuan untuk melakukan bedah sesar.
  4. Melakukan observasi kala I menggunakan partograf, mengenai DJJ, penurunan kepala, pembukaan serviks, frekuensi his dan tanda-tanda vital ibu
  5. Memantau keadaan umum ibu seperti kesadaran
  6. Memantau intake cairan seperti minum
  7. Mempersiapkan peralatan persalinan selama perjalanan
    1. Menyiapkan alat-alat persalinan : partus set, heating set, dll
    2. Menyiapkan alat resusitasi
    3. Menyiapkan pakaian bayi, memantau kemajuan persalinan, partograf, periksa dalam setiap 4 jam
    4. Menyiapkan alat penanganan syok dan perdarahan
    5. Memenuhi kebutuhan fisik ibu, makan dan minum, eliminasi
    6. Memenuhi kebutuhan psikologis ibu : memberikan dukungan persalinan
    7. Menyiapkan alat-alat untuk penolong / bidan : mitela, masker, skort, handscone
    8. Menjelaskan dan memberikan keyakinan pada ibu bahwa persalinannya akan berjalan dengan lancar
    9. Memastikan pada ibu untuk mengikuti petunjuk bidan agar persalinannya berjalan dengan baik
    10. Menganjurkan ibu untuk berkemih atau BAB
    11. Mendampingi ibu ke tempat rujukan, berikan dukungan dan semangat.