Posts Tagged ‘penatalaksanaan’

BAB I

PENDAHULUAN

Pembangunan Nasional mencakup upaya peningkatan semua segi kehidupan bangsa. Agar penduduk dapat berfungsi sebagai modal pembangunan dan merupakan sumberdaya manusia yang efektif dan produktif maka perlu ditingkatkan kualitas fisik dan nonfisik  Salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan dalam mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia adalah gizi. Pentingnya gizi dalam pembangunan kualitas hidup didasarkan pada beberapa hal yaitu: pertama keadaan gizi erat hubungannya dengan tingginya angka kesakitan dan angka kematian; kedua meningkatnya keadaan gizi penduduk merupakan sumbangan yang besar dalam mencerdaskan bangsa; ketiga lebih baiknya status gizi dan kesehatan akan memperbaiki tingkat produktifitas kerja penduduk. Masalah gizi di Indonesia tidak lepas dari masalah pangan karena tubuh manusia memerlukan sejumlah pangan dan gizi secara tetap sesuai dengan standart kecukupan gizi namun kebutuhan tersebut tidak selalu dapat terpenuhi.

Penduduk yang miskin tidak mendapatkan pangan dan gizi dalam jumlah yang cukup. Mereka menderita lapar pangan dan gizi mereka menderita lapar gizi. Sebaliknya sekelompok masyarakat mengkonsumsi pangan secara berlebihan. Oleh karena itu timbullah penyakit-penyakit degeneratif akibat gizi lebih. Akibat dari keadaan tidak seimbangnya antara zat gizi yang masuk kedalam tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi.

Di Indonesia penyakit gangguan gizi yang masih sering ditemukan dan merupakan masalah gizi utama adalah :

a). gangguan gizi akibat kekurangan kalori dan protein (KKP),

b). gangguan gizi akibat kekurangan vitamin A (KVA),

c). gangguan gizi akibat kekurangan Iodium (GAKI),

d). gangguan gizi akibat kekurangan zat besi (Anemia gizi)

Anemia gizi pada umumnya dijumpai di Indonesia terutama disebabkan karena kekurangan zat besi, sehingga anemia gizi sering disebut sebagai anemia kurang besi  Disamping itu kekurangan asam folat dapat merupakan faktor kontribusi terhadap terjadinya anemia, terutama terjadi pada segmen populasi tertentu yaitu ibu hamil. Kekurangan vitamin B 12 tidak umum terjadi, dan tidak mempunyai peranan penting dalam penyebab terjadinya anemia gizi.

Anemia kurang besi adalah salah satu bentuk gangguan gizi yang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di seluruh dunia, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyebab utama anemia kurang besi tampaknya adalah karena konsumsi zat besi yang tidak cukup dan absorbsi zat besi yang rendah dari pola makanan yang sebagian besar terdiri dari nasi, dan menu yang kurang beraneka ragam. Konsumsi zat besi dari makanan tersebut sering lebih rendah dari dua pertiga kecukupan konsumsi zat besi yang dianjurkan, dan susunan menu makanan yang dikonsumsi tergolong pada tipe makanan yang rendah absorbsi zat besinya. Selain itu infeksi cacing tambang memperberat keadaan anemia yang diderita pada daerah-daerah tertentu, terutama di daerah pedesaan.

Kelompok masyarakat yang paling rawan adalah ibu hamil, anak prasekolah dan bayi. Terjadinya anemia pada bayi erat hubungannya dengan taraf gizi ibunya. Berkurangnya zat besi dalam makanan, meningkatnya kebutuhan akan zat besi, atau kehilangan darah yang khronis dan adanya infeksi kecacingan akan menambah kemungkinan timbulnya anemia.

Anemia kurang besi merupakan penyebab penting yang melatar belakangi kejadian morbiditas dan mortalitas, yaitu kematian ibu pada waktu hamil dan pada waktu melahirkan atau nifas sebagai akibat komplikasi kehamilan. Sekitar 20 % kematian maternal negara berkembang penyebabnya adalah berkaitan langsung dengan anemia kurang besi. Disamping pengaruhnya kepada kematian, anemia pada saat hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin, berat bayi lahir rendah dan peningkatan kematian perinatal.

Berdasarkan hasil penelitian terpisah yang dilakukan di beberapa tempat di Indonesia pada tahun 1980, prevalensi pada ibu hamil berkisar antara 50-70 %, wanita dewasa tidak hamil 30-40 %, laki-laki dewasa 20-30 %, pekerja berpenghasilan rendah 30-40 % dan anak sekolah 25-35 % serta Balita 30-40 % .

Dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992 menemukan bahwa angka prevalensi anemia gizi ibu hamil cukup tinggi yaitu 55,1 %. Keadaan ini menunjukkan bahwa masalah anemia pada ibu hamil belum banyak berubah dibandingkan pada akhir Pelita IV yang juga masih sekitar 55 % (12).

Prevalensi anemia kurang besi pada ibu hamil masih sangat memprihatinkan terutama pada usia kehamilan trimester III dibandingkan trimester I. Infeksi kecacingan di Indonesia, prevalensinya juga cukup tinggi terutama di daerah pedesaan yang kondisi lingkungannya sangat mendukung untuk perkembangan cacing yang daur hidupnya adalah di dalam tanah. Hasil survei yang telah diadakan hingga saat ini memberikan prevalensi yang cukup tinggi yaitu 70-90 % untuk cacing gelang, 80-95 % untuk cacing cambuk dan untuk cacing tambang prevalensinya lebih rendah dari kedua di atas yaitu 30-59%, karena untuk cacing tambang lebih banyak ditemukan di daerah perkebunan dan pertambangan .

Anemia kurang besi dipengaruhi juga oleh konsekuensi dari infeksi kecacingan dengan hilangnya darah secara khronis . Penyakit kecacingan dan anemia gizi merupakan masalah yang saling terkait dan dijumpai bersamaan dalam suatu masyarakat, yaitu karena rendahnya sosial ekonomi masyarakat dan sanitasi lingkungan yang sangat tidak memadai sehingga memudahkan terjadinya penularan penyakit infeksi terutama infeksi kecacingan.

Interaksi antara infeksi kecacingan dan anemia gizi sudah banyak terungkap dari berbagai penelitian yang telah dilakukan. Masing-masing saling memberikan kontribusi terhadap terjadinya kesakitan. Besarnya kontribusi dari infeksi kecacingan terhadap anemia kurang besi masih belum banyak dibuktikan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kecacingan merupakan masalah kesehatan yang perlu penanganan serius terutama di derah tropis karena cukup banyak penduduk menderita kecacingan.  Penyakit kecacingan merupakan salah satu penyakit infeksi yang paling sering ditemukan di negara-negara berkembang. Di Indonesia penyakit kecacingan masih merupakan masalah yang besar untuk kasus anemia defisiensi besi, karena diperkirakan cacing menghisap darah 2-100 cc setiap harinya (Nasution, 2004).

Cacingan dan anemia merupakan dua hal saling terkait. Isu kesehatan seperti cacingan dan anemia tidak mendapat banyak perhatian karena dipandang tidak “seseksi” isu-isu kesehatan yang lain. Menurut Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), anemia merupakan isu yang kritis, khususnya kalau dihubungkan dengan angka kematian ibu melahirkan (AKI) akibat anemia berkisar 70 persen dari seluruh penyebab AKI sejak 20 tahun lalu yang ahttp://www.pppl.depkes.go.id/ngkanya tidak pernah turun tiap tahunnya.

Secara umum, kecacingan pada ibu hamil dapat menyebabkan :

  1. Menyebabkan anemia defisiensi zat besi

Infeksi kecacingan pada manusia baik oleh cacing gelang, cacing cambuk maupun cacing tambang dapat menyebabkan pendarahan yang menahun yang berakibat menurunnya cadangan besi tubuh dan akhirnya menyebabkan timbulnya anemia kurang besi. Pada daerah-daerah tertentu anemia gizi diperberat keadaannya oleh investasi cacing terutama oleh cacing tambang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan memakan darah. Akibat gigitan sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari dalam badan bersama tinja. Jumlah cacing yang sedikit belum menunjukkan gejala klinis tetapi bila dalam jumlah yang banyak yaitu lebih dari 1000 ekor maka orang yang bersangkutan dapat menjadi anemia.

  1. Menurunkan efektivitas vaksin TT dan DPT pada ibu hamil

Infeksi cacing merupakan masalah kesehatan di negara-negara tropis, termasuk Indonesia, yang terabaikan. Padahal, infeksi cacing kronis menurunkan respons imun pada ibu hamil dan bayi yang dilahirkan terhadap antigen tetanus toksoid atau TT meski telah divaksinasi. Respon imun terhadap TT pada ibu hamil yang rendah dan ditambah infeksi cacing yang menyertai, dimungkinkan akan berakibat pada bayi yang dilahirkan.

Infeksi tetanus merupakan penyakit yang dapat dicegah. Di sejumlah negara maju di mana kontrol terhadap sanitasi, higienis, dan penyakit infeksi seperti cacing sudah berhasil, pemberian vaksinasi tetanus sangat efektif untuk menurunkan angka kasus infeksi tetanus. Di lain pihak, vaksinasi TT di negara-negara tropis dan berkembang kurang optimal hasilnya.

Sejumlah studi membuktikan, antigen dari ibu hamil terinfeksi cacing dapat menembus plasenta dan menstimulasi sistem imun janin yang dikandung. Keadaan ini akan memengaruhi respons imun bayi pada antigen lain seperti vaksin.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan banyaknya kasus kegagalan program vaksinasi tetanus di daerah Asia dan Afrika terkait dengan beberapa faktor, seperti ketidaktepatan jadwal imunisasi, potensi vaksin rendah, serta rendahnya respons imun ibu. Padahal, angka kasus infeksi cacing di banyak negara di Asia dan Afrika masih tinggi.

  1. Menurunkan berat badan ibu hamil

Kekurangan micronutrient dalam darah menyebabkan pasokan gizi ibu hamil dan janin berkurang. Keadaan yang demikian jika dibiarkan berlanjut selama kehamilan akan meyebabkan berat badan ibu hamil tidak bertambah bahkan bisa berkurang karena cadangan gizi ibu hamil ditujukan untuk pertumbuhan janin.

  1. Menyebabkan perdarahan pada usus

Perdarahan terjadi akibat proses penghisapan aktif oleh cacing dan juga akibat perembesan darah disekitar tempat hisapan. Cacing berpindah tempat menghisap setiap 6 jam perdarahan ditempat yang ditinggalkan segera berhenti dan luka menutup kembali denqan cepat karena turn over sel epithel usus sangat cepat.

Kehilangan darah yang terjadi pada infeksi kecacingan dapat disebabkan oleh adanya lesi yang terjadi pada dinding usus juga oleh karena dikonsumsi oleh cacing itu sendiri walaupun ini masih belum terjawab dengan jelas termasuk berapa besar jumlah darah yang hilang dengan infeksi cacing ini.

5.  Menyebabkan kekurangan mikronutrien ibu hamil

Cacing pada usus ibu hamil selain menyebabkan perdarahan, juga menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi makanan yang masuk. Jika selama kehamilan tersebut cacing masih terdapat pada usus, maka penyerapan micronutrient akan terganggu. Micronutrient dalam darah cenderung menurun.

Pada ibu hamil, kekurangan micronutrient menyebabkan menurunnya kemampuan untuk melahirkan anak-anak yang sehat dan berotak cerdas. Sementara cacing trikhuris dapat menimbulkan perdarahan kecil yang dapat menimbulkan anemia, meski tak separah cacing tambang.

Komplikasi

  1. Bila cacing dalam jumlah besar menggumpal dalam usus dapat terjadi obstruksi usus (ileus)
  2. Anemia berat
  3. Perdarahan
  4. BBLR
  5. Kecacingan berat dapat menyebabkan radang paru, gangguan hati, kebutaan, penyumbatan usus, bahkan kerusakan tubuh secara signifikan yang meninggalkan kecacatan

Diagnosis

Dilakukan skrining uji feces pada ibu hamil. Untuk mengetahui banyaknya cacing di dalam usus dapat dilakukan dengan menghitung banyaknya telur dalam tinja. Bila didalam tinja terdapat sekitar 2000 telur/ gram tinja, berarti ada kira-kira 80 ekor cacing tambang di dalam perut dan dapat menyebabkan darah yang hilang kira-kira sebanyak 2 ml per hari. Dengan jumlah 5000 telur/gram tinja adalah berbahaya untuk kesehatan orang dewasa. Bila terdapat 20.000 telur/gram tinja berarti ada kurang lebih 1000 ekor cacing tambang dalam perut yang dapat menyebabkan anemia berat.

Tanda dan Gejala Klinis

Tanda Kecacingan adalah ditemukan minimal 2000 telur/gram tinja.

Gejala-gejala cacingan antara lain:

  1. Perut buncit
  2. Gatal-gatal sekitar anus
  3. Muntah ada cacing
  4. Cacing dalam kotoran
  5. Anemia atau kurang darah
  6. Penyumbatan usus
  7. Fesesnya encer, kadang bercampur lendir dan darah, cacing tampak keluar dalam feses

Penanganan

Pada kondisi hamil, selama sepertiga pertama kehamilan (trimester pertama) sebaiknya tidak minum obat yang membunuh cacing. Namun, langkah-langkah kebersihan saja dapat bekerja. Cacing mati setelah sekitar enam minggu. Dengan syarat ibu hamil tidak menelan telur baru, maka tidak ada cacing baru akan tumbuh. Selama 6 minggu tersebut ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan untuk mematahkan siklus cacing sehingga tidak terjadi re-infeksi. Setelah trimester pertama, pengobatan mungkin perlu dilakukan namun harus dibawah pengawasan dokter. Obat yang biasa digunakan yaitu :

  1. Pirantel pamoat 10 mg/kg BB per hari selama 3 hari.
  2. Mebendazol 500 mg dosis tunggal (sekali saja) atau 100 mg 2 x sehari selama tiga hari berturut-turut
  3. Albendazol 400 mg dosis tunggal (sekali saja)
  4. Ditambah sulfas ferrous 500 mg 2 x sehari

Langkah pencegahan :

Pertama, bertujuan untuk membersihkan telur:

  1. Mencuci pakaian tidur, sprei, handuk.  Membuang kain setelah digunakan. Perhatian khusus pada kamar tidur termasuk debu kasur.
  2. Benar-benar membersihkan kamar mandi.

Kemudian, setiap anggota rumah tangga harus melakukan berikut ini selama dua minggu:

  1. Tidak menyentuh kulit di dekat anus dan menggaruk daerah anus
  2. Setiap pagi mandi mencuci di sekitar dubur langsung setelah bangun dari tempat tidur.
  3. Idealnya, perubahan dan mencuci pakaian tidur setiap hari.

Dan kebersihan umum langkah-langkah yang harus selalu bertujuan untuk lakukan untuk mencegah mendapatkan infeksi cacing lagi:

  1. Cuci tangan dan gosok di bawah kuku di pagi hari, setelah menggunakan toilet atau, dan sebelum makan atau menyiapkan makanan.
  2. Cobalah untuk tidak menggigit kuku atau menghisap jari
  3. Jika mungkin, hindari berbagi handuk atau flanel. Bilas dengan baik sebelum digunakan.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN KECACINGAN

KASUS:

Seorang ibu primigravida umur 22 tahun, HPMT: 15 Desember 2009, HPL : 22 September 2010. Umur Kehamilan 9 minggu 1hari. Mengeluh merasa dan gatal-gatal pada telapak kaki  sejak 3 minggu yang lalu, tinja encer ketika BAB dan mual muntah ±3 kali dalam 1 hari. Ibu bekerja sebagai  ibu rumah tangga.

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

G1P0Ab0Ah0 umur 22 tahun uk 9 minggu, normal

Di BPRB Amanah Husada.

Tanggal Pengkajian     : 17 Februari 2010, jam 14.00

Data Subjektif

  1. Ibu mengatakan bahwa ia merasa gatal-gatal pada telapak kaki sejak 3 minggu yang lalu.
  2. Ibu mengeluh mual, muntah dengan frekuensi ± 3kali sehari dan tinja encer ketika BAB.

Data Objektif

  1. Pemeriksaan fisik
    1. Keadaan umum     : Baik. Kesadaran : compos mentis
    2. Tanda vital

Tekanan darah       : 120/80 mmHg

Nadi                      : 86 kali permenit

Pernafasan : 12 kali permenit

Suhu                      : 36.6 0C

  1. BB: 47 kg
  2. Kepala dan leher

Mata :konjungtiva merah muda, sklera putih, tidak ada odem palpebrae.

Mulut : bibir lembab, gusi merah muda, tidak ada caries gigi, tidak ada pembesaran tonsil.

  1. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium (feces)

Tanggal 16 Februari 2010 jam : 10.00

Hasil pemeriksaan : Terdapat sekitar 2000 telur/ gram tinja dengan jenis cacing ankilostomiasis.

ASSESMENT

  1. Diagnosis Kebidanan

G1P0Ab0Ah0 umur 22 tahun, uk 9 minggu dengan kecacingan.

  1. Masalah

Gatal-gatal pada sekitar telapak kaki dan mual muntah.

  1. Kebutuhan

KIE tentang cara menjaga kebersihan dan cara mengatasi mual dan muntah yang dialami ibu.

  1. Diagnosis Potensial

Kecacingan potensial menjadi anemia.

  1. Masalah Potensial

Untuk saat ini tidak ada

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Tidak ada

  1. Kolaborasi

Laboratorium Avicena untuk pemeriksaan feces

  1. Merujuk

Tidak ada

PLANNING ( Termasuk Pendokumentasian implementasi dan Evaluasi )

Tanggal 17 Februari 2010 jam 14.20 WIB

  1. Memberitahu ibu bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium ibu menderita kecacingan.

E: Ibu mengerti dengan kondisinya sekarang.

  1. Memberi KIE kepada ibu tentang cara meringankan mual dan muntah yang dialami ibu yaitu:
    1. Makan dengan porsi sedikit tetapi sering
    2. Mengkonsumsi biskuit atau roti kering untuk mengurangi muntah
    3. Menghindari makanan yang berbumbu tajam.
    4. Berhati-hati setiap kali bangun dari tempat tidur, tunggu 5-10 menit dahulu baru kemudian diperkenankan untuk bangun.

E: Ibu mampu untuk menyebutkan kembali bagaimana cara untuk meringankan mual dan muntah yang dialaminya.

  1. Memberi KIE kepada ibu tentang bagaimana mengatasi kecacingan yang dialaminya, yaitu :

Pada kondisi hamil tiga bulan pertama, sebaiknya ibu tidak minum obat yang membunuh cacing karena cacing mati setelah sekitar enam minggu. Tetapi ibu perlu untuk meningkakan kebersihan dirinya. Selama 6 minggu tersebut ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan sehingga cacing tidak berkembangbiak kembali.

Cara meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan misalnya dengan cara:

  1. Menjaga kebersihan dengan mencuci pakaian tidur, sprei, handuk
  2. Benar-benar membersihkan kamar mandi, sering mencuci kain dengan air panas.
  3. Menjaga kebersihan makanan dan mencuci tangan sebelum makan.

E: Ibu mampu menyebutkan kembali bagaimana cara meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan..

  1. Memberikan suplement kepada ibu yaitu tablet besi 1×1 250 mg yang diminum malam hari dan yang diminum tiap pagi.

Menyarankan ibu untuk mengkonsumsi tablet besi menggunakan air jeruk dan tidak menggunakan air teh, susu atau kopi.

E: Ibu bersedia untuk minum suplement secara teratur dan ibu mampu menyebutkan kembali bagaimana cara minum suplement dengan benar.

  1. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1 bulan kemudian yaitu tanggal 17 Maret 2010.

E: Ibu akan melakukan kunjungan ulang pada tanggal 17 Maret 2010.

DAFTAR PUSTAKA

Cacingan, Anemia, AKI, Gaya Hidup diunduh tanggal 23 Maret 2010 jam 19.00 WIB dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0411/01/swara/1356956.htm.

http://indobic.biotrop.org diunduh tanggal 13 Maret 2010 jam 21.00 WIB

Threadworms diunduh tanggal 29 Maret 2010 jam 12.30 WIB dari http://www.patient.co.uk/health/Threadworms.htm.

Mencegah dan Mengatasi Cacingan diunduh tanggal 29 Maret 2010 jam 10.05 WIB dari http://www.dechacare.com/Mencegah-dan-Mengatasi-Cacingan-I757.html

Anemia Defisiensi Besi diunduh tanggal 29 Maret 2010 jam 12.15 WIB dari http://www.pppl.depkes.go.id/

Rubrik Sehat diunduh tanggal 27 Maret 2010 jam 16.00 WIB dari http://www.tabloid-nakita.com/artikel

Iklan

BAB I

PENDAHULUAN

Banyak istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa bayi KMK ini menderita gangguan pertumbuhan di dalam uterus (IUGR) seperti Pseudopremature, Small for Dates, dysmature, Fetal Malnutrition Syndrome, Chronic Fetal Distress, IUGR dan Small for Gestational Age (SGA). Batasan yang diajukan oleh Lubchenco (1963) adalah bahwa setiap bayi yang berat lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari 10th percentile oleh masa kehamilan pada Denver Intra uterine Growth Curves adalah bayi SGA. Gambaran kliniknya tergantung daripada lamanya, intensitas dan timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut.

Kejadian PJT bervariasi, berkisar 4-8% pada negara maju dan 6-30% pada negara berkembang. Hal ini perlu menjadi perhatian karena besarnya kecacatan dan kematian yang terjadi akibat PJT. Pada umumnya 75% janin dengan PJT memiliki proporsi tubuh yang kecil, 15-25% terjadi karena insufisiensi uteroplasenta, 5-10% terjadi karena infeksi selama kehamilan atau kecacatan bawaan.

Meskipun sekitar 50% dari pertumbuhan janin terhambat belum diketahui penyebabnya namun ada beberapa faktor yang diketahui dapat menyebabkannya, yaitu pertumbuhan maternal yang kurang, infeksi janin, malformasi kongenital, kelainan kromosom, penyakit vaskuler, penyakit ginjal kronis, anemia, abnormalitas plasenta dan tali pusat, janin multipel(kembar).

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. A. Definisi

Pertumbuhan janin terhambat (PJT) ditegakkan apabila pada pemeriksaan ultrasonografi (USG) perkiraan berat badan janin berada di bawah persentil 10 dibawah usia kehamilan atau lebih kecil dari yang seharusnya (sesuai grafik). Terminologi “kecil untuk masa kehamilan” adalah berat badan bayi yang tidak sesuai dengan masa kehamilan dan dapat muncul pada bayi cukup bulan atau prematur. Pada umumnya janin tersebut memiliki tubuh yang kecil dan risiko kecacatan atau kematian bayi kecil akan lebih besar baik pada saat dilahirkan ataupun setelah melahirkan.

PJT terbagi atas dua, yaitu:

  1. Pertumbuhan janin terhambat tipe I : simetris atau proporsional (kronis)

Memiliki kejadian lebih awal dari gangguan pertumbuhan janin yang tidak simetris, semua organ mengecil secara proporsional. Faktor yang berkaitan dengan hal ini adalah kelainan kromosom, kelainan organ (terutama jantung), infeksi TORCH (Toxoplasmosis, Other Agents <Coxsackie virus, Listeria), Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex/Hepatitis B/HIV, Syphilis), kekurangan nutrisi berat pada ibu hamil, dan wanita hamil yang merokok

  1. Pertumbuhan janin terhambat tipe II : Asimetris atau disproportional (akut)

Gangguan pertumbuhan janin asimetris memiliki waktu kejadian lebih lama dibandingkan gangguan pertumbuhan janin simetris.  Beberapa organ lebih terpengaruh dibandingkan yang lain, lingkar perut adalah bagian tubuh yang terganggu untuk pertama kali, kelainan panjang tulang paha umumnya terpengaruhi belakangan, lingkar kepala dan diameter biparietal juga berkurang. Faktor yang mempengaruhi adalah insufisiensi (tidak efisiennya) plasenta yang terjadi karena gangguan kondisi ibu termasuk diantaranya tekanan darah tinggi dan diabetes dalam kehamilan dalam kehamilan

Ada dua betuk IUGR menurut Renfield (1975), yaitu :

  1. Proportionate IUGR

Janin yang menderita distres yang lama dimana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-mingu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir sehingga berat, panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih dibawah masa gestasi yang sebenarnya. Bayi ini tidak menunjukkan adanya wasted oleh karena retardasi pada janin ini terjadi sebelum terbentuknya adipose tissue.

  1. Dispropotionate IUGR

Terjadi akibat distress. Gangguan yang terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. Bayi tampak wasted dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit, kulit kering keriput dan mudah diangkat, bayi kelihatan kurus dan lebih panjang.

  1. B. Penyebab
    1. Fisik ibu yang kecil dan kenaikan berat badan yang tidak adekuat
  1. Penyebab ibu

Faktor keturunan dari ibu dapat mempengaruhi berat badan janin. Kenaikan berat  tidak adekuat selama kehamilan dapat menyebabkan PJT. Kenaikan berat badan ibu selama kehamilan sebaiknya 9-16 kg. apabila wanita dengan berat badan kurang harus ditingkatkan sampai berat badan ideal ditambah dengan 10-12 kg

  1. Penyakit ibu kronik

Kondisi ibu yang memiliki hipertensi kronik, penyakit jantung sianotik, diabetes, serta penyakit vaskular kolagen dapat menyebabkan PJT. Semua penyakit ini dapat menyebabkan pre-eklampsia yang dapat membawa ke PJT. Hipertensi dan penyakit ginjal yang kronik, perokok, penderita DM yang berat, toksemia, hipoksia ibu, gizi buruk, drug abuse, peminum alkohol.

  1. Kebiasaan seperti merokok, minum alkohol, dan narkotik
  1. Penyebab janin

a.       Infeksi selama kehamilan

Infeksi bakteri, virus, protozoa dapat menyebabkan PJT. Rubela dan cytomegalovirus (CMV) adalah infeksi yang sering menyebabkan PJT

b.      Kelainan bawaan dan kelainan kromosom

Kelaianan kromosom seperti trisomi atau triploidi dan kelainan jantung bawaan yang berat sering berkaitan dengan PJT. Trisomi 18 berkaitan dengan PJT simetris serta polihidramnion (cairan ketuban berlebih). Trisomi 13 dan sindroma Turner juga berkaitan dengan PJT

c.       Pajanan teratogen (zat yang berbahaya bagi pertumbuhan janin)

Berbagai macam zat yang bersifat teratogen seperti obat anti kejang, rokok, narkotik, dan alkohol dapat menyebabkan PJT

  1. Penyebab plasenta (ari-ari)

a.      Kelainan plasenta sehingga menyebabkan plasenta tidak dapat menyediakan nutrisi yang baik bagi janin seperti, abruptio plasenta, infark plasenta (kematian sel pada plasenta), korioangioma, dan plasenta previa

b.      Kehamilan kembar

c. Twin-to-twin transfusion syndrome

  1. C. Problematik Bayi IUGR
    Bayi IUGR harus diwaspadai akan terjadinya beberapa komplikasi yang harus ditanggulangi dengan baik.
  2. Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotoraks
  3. Usher (1970) melaporkan bahwa 50% bayi IUGR mempunyai HB yang tinggi mungkin karena hipoksia kronik di dalam uterus.
  4. Hipoglikemi terutama bila pemberian minum terlambat.
  5. Keadaan ini yang mungkin terjadi : asfiksia, perdarahan paru yang masif, hipotermi, cacat bawaan akibat kelainan kromosom dan infeksi intrauterin.
  1. D. Perkembangan PJT Intrauterin :

Peningkatan rasio berat plasenta terhadap berat lahir ditimbulkan oleh kondisi diet rendah nutrisi terutama protein

  1. Kondisi kekurangan nutrisi pada awal kehamilan

Pada kondisi awal kehamilan pertumbuhan embrio dan trofoblas dipengaruhi oleh makanan. Studi pada binatang menunjukkan bahwa kondisi kekurangan nutrisi sebelum implantasi bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan nutrisi pada awal kehamilan dapat mengakibatkan janin berat lahir rendah yang simetris. Hal sebaiknya terjadi kondisi percepatan pertumbuhan pada kondisi hiperglikemia pada kehamilan lanjut

  1. Kondisi kekurangan nutrisi pada pertengahan kehamilan

Defisiensi makanan mempengaruhi pertumbuhan janin dan plasenta, tapi bisa juga terjadi peningkatan pertumbuhan plasenta sebagai kompensasi. Didapati ukuran plasenta yang luas.

  1. Kondisi kekurangan nutrisi pada akhir kehamilan

Terjadi pertumbuhan janin yang lambat yang mempengaruhi interaksi antara janin dengan plasenta. Efek kekurangan makan tergantung pada lamanya kekurangan. Pada kondisi akut terjadi perlambatan pertumbuhan dan kembali meningkat jika nutrisi yang diberikan membaik. Pada kondisi kronis mungkin telah terjadi proses perlambatan pertumbuhan yang irreversible

  1. E. Tanda dan Gejala

PJT dicurigai apabila terdapat riwayat PJT sebelumnya dan ibu dengan penyakit kronik. Selain itu peningkatan berat badan yang tidak adekuat juga dapat mengarah ke PJT. Dokter dapat menemukan ukuran rahim yang lebih kecil dari yang seharusnya.

  1. F. Prognosis
    Tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa gestasi, asfiksia/iskemia otak, sindroma gangguan pencernaan dll. Juga tergantung pada sosial ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada saat hamil, persalinan dan postnatal.
  1. G. Pengamatan Langsung

Bila bayi ini dapat mengatasi problem yang dideritanya, maka perlu diamati selanjutnya oleh karena kemungkinan bayi ini akan mengalami gangguan pendengaran, penglihatan, kognitif, fungsi motor SSP dan penyakit-penyakit seperti hidrosefalus, cerebral palsy dan sebagainya.

  1. H. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) diperlukan untuk mengukur pertumbuhan janin. Selain itu USG juga dapat digunakan untuk melihat kelainan organ yang terjadi. Pengukuran lingkar kepala, panjang tulang paha, dan lingkar perut dapat dilakukan untuk menilai pertumbuhan janin melalui USG.  Penggunaan ultrasound doppler dapat digunakan untuk melihat aliran dari pembuluh darah arteri umbilikalis.

  1. I. Penatalaksanaan
    Pada umumnya sama dengan perawatan neonatus umumnya, tetapi karena bayi ini mempunyai problem yang agak berbeda maka perlu diperhatikan hal-hal berikut :
    1. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterin.
    2. Memeriksa kadar gula darah dengan dextrostix jika hipoglikemi harus segera diatasi.
    3. Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.
    4. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibanding dengan bayi SMK
    5. Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi mekonium.
  1. J. Terapi

Kecacatan dan kematian janin meningkat sampai 2-6 kali pada janin dengan PJT. Tatalaksana untuk kehamilan dengan PJT bertujuan, karena tidak ada terapi yang paling efektif sejauh ini, adalah untuk melahirkan bayi yang sudah cukup usia dalam kondisi terbaiknya dan meminimalisasi risiko pada ibu. Tatalaksana yang harus dilakukan adalah :

  1. PJT pada saat dekat waktu melahirkan. Yang harus dilakukan adalah segera dilahirkan
  2. PJT jauh sebelum waktu melahirkan. Kelainan organ harus dicari pada janin ini, dan bila kelainan kromosom dicurigai maka amniosintesis (pemeriksaan cairan ketuban) atau pengambilan sampel plasenta, dan pemeriksaan darah janin dianjurkan

a.       Tatalaksana umum : setelah mencari adanya cacat bawaan dan kelainan kromosom serta infeksi dalam kehamilan maka aktivitas fisik harus dibatasi disertai dengan nutrisi yang baik. Apabila istirahat di rumah tidak dapat dilakukan maka harus segera dirawat di rumah sakit. Pengawasan pada janin termasuk diantaranya adalah melihat pergerakan janin serta pertumbuhan janin menggunakan USG setiap 3-4minggu

b.     Tatalaksana khusus : pada PJT yang terjadi jauh sebelum waktunya dilahirkan, hanya terapi suportif yang dapat dilakukan. Apabila penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil tidak adekuat  maka nutrisi harus diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat, penggunaan narkotik dan alkohol, maka semuanya harus dihentikan

c.   Proses melahirkan : pematangan paru harus dilakukan pada janin prematur. Pengawasan ketat selama melahirkan harus dilakukan untuk mencegah komplikasi setelah melahirkan. Operasi caesar dilakukan apabila terjadi distress janin serta perawatan intensif neonatal care segera setelah dilahirkan sebaiknya dilakukan. Kemungkinan kejadian distress janin selama melahirkan meningkat pada PJT karena umumnya PJT banyak disebabkan oleh insufisiensi plasenta yang diperparah dengan proses melahirkan

  1. Kondisi bayi. Janin dengan PJT memiliki risiko untuk hipoksia perinatal (kekurangan oksigen setelah melahirkan) dan aspirasi mekonium (terhisap cairan mekonium). PJT yang parah dapat mengakibatkan hipotermia (suhu tubuh turun) dan hipoglikemia (gula darah berkurang). Pada umumnya PJT simetris dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan pertumbuhan bayi yang terlambat setelah dilahirkan, dimana janin dengan PJT asimetris lebih dapat “catch-up” pertumbuhan setelah dilahirkan.
  1. K. Pencegahan

Beberapa penyebab dari PJT tidak dapat dicegah. Bagaimanapun juga, faktor seperti diet, istirahat, dan olahraga rutin dapat dikontrol. Untuk mencegah komplikasi yang serius selama kehamilan, sebaiknya seorang ibu hamil mengikuti nasihat dari dokternya; makan makanan yang bergizi tinggi; tidak merokok, minum alkohol dan menggunakan narkotik; mengurangi stress; berolahraga teratur; serta istirahat dan tidur yang cukup. Suplementasi dari protein, vitamin, mineral, serta minyak ikan juga baik dikonsumsi. Selain itu pencegahan dari anemia serta pencegahan dan tatalaksana dari penyakit kronik pada ibu maupun infeksi yang terjadi harus baik.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

Ny. A 27 Tahun G2 P1 Ab0 Ah1 dengan umur kehamilan 30 minggu dengan riwayat IUGR

NO REGISTER                                  : 09058

MASUK RS TANGGAL, JAM         : 13 Mei 2009 JAM 08.00 WIB

DI RAWAT DI RUANG                   : RB Mangkuyudan

Biodata                               IBU                                    SUAMI

Nama               :  Ny. Agnes                                        Tn. Andreas

Umur               : 27 tahun                                             30 tahun

Agama             : Katholik                                             Katholik

Suku/ bangsa   : Jawa / Indonesia                                Jawa / Indonesia

Pendidikan      : SMA                                                  S1

Pekerjaan         : Pemilik salon                                     Direktur

Alamat                        : Jl. Raya III/35 Yk                             Jl. Raya III/305 Yk

No Tel./ HP     : (0274) 550170                                   (0274) 550170

DATA SUBYEKTIF

  1. Keluhan Utama

Ibu mengatakan bahwa gerakan bayi kurang begitu aktif.

  1. Riwayat kehamilan ini
    1. Riwayat ANC

ANC sejak umur kehamilan 5 minggu. ANC di RSUD Wirosaban

Frekuensi                    : Trimester I  1 kali.

Trimester II  1 kali.

Trimester III  belum.

  1. Pergerakan janin yang pertama pada umur kehamilan 16 minggu

Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir ± 10 kali.

  1. Pola nutrisi                  Makan                                                  Minum

Frekuensi                     3 kali sehari                                         5-7 kali sehari

Macam                                    nasi, sayur, lauk, buah          air putih, susu, jus buah

Jumlah                         1 piring/makan                                  5-7 gelas sehari

Keluhan                       tidak ada                                              tidak ada

Pola Aktivitas

Kegiatan sehari-hari    : Ibu mengatakan ia mengerjakan pekerjaan

di salon dibantu 10 asisten

  1. Imunisasi

TT1 tanggal sebelum menikah                            TT4 tanggal tahun 2004

TT2 ± 1 bulan setelah TT1                                  TT5 tanggal belum

TT3 tanggal tahun 2003

  1. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

G2 P1 Ab0 Ah1

Hamil ke Persalinan Nifas
Tgl lahir UK Jenis persalinan Penolong Komplikasi JK BB lahir Laktasi Komplikasi
Ibu bayi
1 Tahun 2006 37 Vakum ekstraksi Dr Obsgyn IUGR Laki-laki 2450gr 2 th
2 Hamil ini
  1. Riwayat kesehatan
    1. Penyakit yang / sedang diderita

Ibu mengatakan dirinya tidak menderita penyakit menurun seperti jantung, DM, asma, atau hipertensi.

  1. Penyakit yang pernah / sedang diderita keluarga

Ibu mengatakan bahwa dari keluarga ada riwayat penyakit DM dari ayah mertua dan jantung dari ibu.

  1. Riwayat keturunan kembar

Ada riwayat keturunan kembar dari ibu mertua.

  1. Kebiasaan-kebiasaan

Merokok :  suami merokok, lingkungan kerja ada yg merokok

Minum jamu-jamuan :  ibu tidak minum jamu

Minum-minuman keras : ibu dan suami tidak  minum minuman keras

Makanan / minuman pantang / alergi : ibu tidak mempunyai makanan/minuman /alergi

Perubahan pola nafsu makan (termasuk nyidam, nafsu makan turun dll) : nafsu makan ibu tidak bermasalah.

Hewan peliharaan : Ibu dan keluarga memelihara hewan peliharaan berupa kucing.

DATA OBYEKTIF

  1. Pemeriksaan fisik
  1. Keadaan umum           : baik     Kesadaran : compos mentis
  2. Tanda vital

Tekanan darah             : 130/80 mmHg

Nadi                            : 90 kali/ menit

Pernafasan                   : 22 kali/ menit

Suhu                            : 37,3 0 C

  1. TB                                     : 159 cm
  2. BB                                     : sebelum hamil  48 kg ; BB sekarang: 52 kg
  3. IMT                                   : 19,04
  4. LLA                                  : 23 cm
  5. Abdomen (Palpasi Leopold)

Leopold I                          : TFU 2 jari di atas pusat, teraba bagian lunak, kurang bulat, kurang  melenting (bokong)

Leopold II                                     : bagian kiri teraba bagian luas rata tahanan kuat (punggung), kanan teraba bagian sempit, berbenjol-benjol, tahanan kurang kuat (ekstremitas)

Leopold III                       : teraba bagian bulat, keras, melenting, bias digoyang-goyang (kepala belum masuk panggul)

Leopold IV                       : posisi tangan konvergen

ASSESMENT

  1. Diagnosis kebidanan

Seorang  sekundigravida , 27 th, UK30 minggu, intra uterin, janin tunggal, hidup, letak memanjang, presentasi kepala belum masuk panggul, punggung sebelah kiri dengan riwayat IUGR.

  1. Masalah

Ibu mengalami kekhawatiran janinnya kurang sehat karena gerakan janin kurang aktif.

  1. Kebutuhan

Konseling tentang menghindari kebiasaan buruk.

  1. Diagnosis potensial

Riwayat IUGR pada kehamilan sebelumnya dapat menimbulkan IUGR pada kehamilan berikutnya.

  1. Masalah potensial

IUGR pada janin dapat menyebabkan hipoksia perinatal , aspirasi mekonium, hipotermia dan hipoglikemia, bahkan kematian.

  1. Kebutuhan tindakan segera berdasarkan kondisi klien
  1. Mandiri

KIE terhadap pasien untuk menghindari zat teratogen seperti rokok.

  1. Kolaborasi

Kolaborasi dengan dr. Erlina SpPOG untuk melakukan USG pada ibu hamil.

  1. Merujuk

Untuk saat ini tidak dilakukan.

PLANNING ( termasuk pendokumentasian implementasi dan evaluasi)

Tanggal  13 Mei 2009 jam 08.00 WIB

  1. Memberi tahu Ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu dan janinnya dalam kondisi normal.
  2. Memberikan konseling kepada ibu agar menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk, seperti menghindari asap rokok dari suami dan meminta ibu agar mendiskusikan pada suami untuk mencoba mengurangi kebiasaan merokok.
  3. Memberikan konseling kepada ibu bahwa ibu memiliki potensi untuk mengalami kehamilan dengan IUGR karena ibu memiliki factor predisposisi antara lain : riwayat IUGR, kenaikan BB kurang adekuat, dan memiliki riwayat keluarga menderita penyakit sistemik dan merokok.
  4. Meminta kepada ibu bahwa untuk mengetahui secara pasti kondisi kehamilannya saat ini, yaitu dengan melakukan pemeriksaan USG di tempat dr. Erlina SpPOG atau pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas USG.
  5. Mengingatkan ibu untuk dating control ulang 1 minggu lagi tanggal 20 Mei 2009 atau jika ada keluhan.

Evaluasi

Tanggal 13 Mei 2009 jam 08.00

  1. Ibu senang mendengar kondisi dirinya dan bayinya sehat
  2. Ibu setuju menghindari asap rokok dan bersedia untuk berbicara dengan suami
  3. Ibu dan suami mengerti penjelasan bidan
  4. Ibu dan suami mengerti penjelasan bidan dan bersedia melaksanakan nasehat bidan
  5. Ibu bersedia untuk control ulang 1 minggu lagi atau jika ada keluhan

(Paraf)