Posts Tagged ‘askeb IV patologis’

S

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN IUFD

NY. ”S” G1P0Ab0Ah 0 UK 32 MINGGU

DI RSUD SLEMAN

 

Pengkajian ( Tanggal 27 Oktober 2008, jam 20:30 WIB)

1. IDENTITAS

  Ibu Suami
Nama Ny. S Tn. AD
Umur 22 tahun 22 tahun
Agama Islam Islam
Suku bangsa Jawa/Indonesia Jawa/Indonesia
Pendidikan D1 SMA
Pekerjaan Ibu rumah tangga Swasta
Alamat Temulawak, Triharjo, Sleman

 

2. ANAMNESA (Data Subyektif)

a.      Keluhan Utama

Ibu mengatakan hamil 8 bulan, ibu merasa gerakan janinnya berkurang sejak 3 hari yang lalu.

b.      Riwayat Perkawinan

Ibu kawin 1 kali, kawin pertama kali umur 21 tahun, dengan suami sekarang sudah 1 tahun.

 

 

c.      Riwayat Haid

Menarche umur 12 tahun, siklus 30 hari, lama 7 hari, teratur, encer, tidak sakit, bau khas darah. Mengganti softek 4-5 kali/hari pada hari pertama dan kedua, hari berikutnya 3-4 kali/hari. Keluhan : tidak ada

HPMT 18 Maret 2008, HPL 25 Januari 2009. Umur kehamilan saat pengkajian 32 minggu.

d.      Riwayat Obstetri : G1P0Ab0Ah 0

e.      Riwayat KB

Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi.

f.       Riwayat Kesehatan

1)  Menurun : Ibu mengatakan tidak ada riwayat penyakit seperti DM, hipertensi, asma, epilepsi, jiwa dari pihak keluarga ibu maupun suami.

2)  Menular : Ibu mengatakan tidak ada riwayat penyakit seperti TBC, Hepatitis, Herpes, cacar maupun penyakit kelamin baik dari  keluarga ibu maupun dari  keluarga suami.

3)  Melahirkan kembar/cacat : Ibu mengatakan dari keluarga ibu maupun suami tidak ada yang pernah melahirkan kembar maupun cacat.

g.      Riwayat Kehamilan Sekarang

1)  Selama hamil ibu periksa di bidan di Puskesmas

2)  Mulai periksa sejak UK 13 minggu

3)  Frekuensi periksa; Trimester I: 2 kali, Trimester II: 3 kali.

4)  TT I : 27 Agustus 2008, TT II : 29 September 2008

5)  Obat yang diminum: B6, Vit C, Kalk, Tablet Fe.

6)  Selama hamil ibu tidak pernah minum jamu

7)        Keluhan/masalah yang dirasakan ibu: Selama hamil ibu mengatakan sering mual. Saat periksa ibu diberi obat dan KIE. Masalah dapat teratasi.

h.     Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari

1)    Nutrisi

Porsi makan per hari           : 3 kali, porsi sedang

Jenis makanan                    : nasi, sayur, lauk

Makanan pantang               : tidak ada

Keluhan                                : tidak ada

2)    Eliminasi

BAK                           BAB

Frekuensi                  4-5 kali                       1 kali

Konsistensi               cair                              lunak

Warna dan Bau        khas urin                   khas feses

Keluhan                    tidak ada                    tidak ada

3)     Istirahat

Tidur siang                     : jarang, kadang-kadang 1 jam

Tidur Malam                   : 8 jam per hari

Keluhan             : tidak ada, ibu mengatakan tidak biasa tidur siang

4)     Aktifitas

Di luar rumah               : tidak ada aktivitas rutin.

Di dalam rumah                        : mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti biasa

Aktivitas terakhir 3 hari yang lalu : ibu mengatakan semenjak 3 hari yang lalu tidak ada aktivitas khusus yang ibu lakukan. Tidak ada perbedaan aktivitas sebelum ibu merasakan gerakan janinnya berkurang sampai datang ke rumah sakit.

 

 

 

 

 

5)    Personal Hygiene

ü Membersihkan alat kelamin : setiap mandi, setelah BAB dan BAK.

ü Mengganti pakaian dalam    : saat mandi, tiap kali kotor dan lembab

ü Jenis pakaian yang dipakai   : katun

6)    Seksualitas : 1-2 x/ minggu

i.       Data Psikososial-spiritual

a)  Tanggapan ibu terhadap keadaan dirinya: Ibu merasa takut atas kedaan yang terjadi pada dirinya

b)  Tanggapan ibu terhadap kehamilannya: Ibu dan keluarga sangat mengharapkan kehamilannya

c)  Ibu semakin taat beribadah sejak tahu ibu hamil, mengerjakan sholat 5 waktu.

d)  Pemecahan masalah dari ibu selalu dibicarakan dengan suami

j.    Pengetahuan ibu tentang kehamilannya: Ibu cukup tahu tentang kehamilannya. Ibu mengerti saat ini kehamilannya sudah 32 minggu. Ibu belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kehamilannya.

k.   Lingkungan yang berpengaruh : Ibu tinggal bersama suami.Di dalam rumah tidak mempunyai hewan peliharaan. Tetangga ada yang memelihara kucing dan ibu mengatakan kucing tersebut sering buang kotoran di samping rumahnya.

 

O

Pemeriksaan Umum

K/U                 : sedang                     BB Sebelum hamil  : 47 kg

Kesadaran    : composmentis        BB setelah hamil     : 54,5 kg

TD                   : 150/90 mmHg         Kenaikan BB                        : 7,5 kg

Nadi                : 82 x/menit               Status Gizi                 : baik

Suhu              : 36,80C                      TB                               : 156 cm

Respirasi       : 24 x/menit               Lila                              : 24 cm

IMT                              :

: 22,43

Pemeriksaan Khusus

–  Inspeksi

Kepala         :  mesochepal, kulit dan rambut bersih, tidak ada kerontokan

Muka           :  tak oedema, tidak ada cloasma, bibir sedikit pucat

Mata            :  konjungtiva merah muda, sklera putih, bersih

Leher           :  tidak ada peninggian vena jugularis

Dada           :  mamae membesar, tegang, hiperpigmentasi areola,  puting susu menonjol, bersih

Perut           :  pembesarn memanjang, tidak ada bekas luka

Genetalis    :  tidak odem, tidak varises

Ekstremitas   : gerakan aktif, tidak oedema, tidak ada varises

–  Palpasi

Leopold I     : TFU 3 jari diatas pusat. Terba bulat, lunak (bokong)

Leopold II    : lateral kanan teraba bagian-bagian kecil (ekstremitas)

lateral kiri terba keras dan datar (punggung)

Leopold III   : teraba keras dan bulat (kepala)

Leopold IV  : kepala belum masuk panggul

Mc. Donald : TFU 23 cm

TBJ              : (23-12) x 155=1705 gram

–  Auskultasi  : DJJ tidak ditemukan

–  PD               : v/u tenang, dinding vagina licin, serviks tebal, pembukaan belum ada, selaput ketuban belum dapat dinilai, STLD (-)

Pemeriksaan Penunjang

a)      USG (tanggal 27 Oktober 2008 oleh dr. Ryo)

Hasil : Janin tunggal, intrauterin, gerak negatif, DJJ negatif

b)      Laboratorium (tanggal 28 Oktober 2008)

hemoglobin           : 11,9 gr%

protein urin                        : negatif

 

 

A

Primigravida umur 22 tahun, hamil 32 minggu, dengan IUFD

Masalah  : ibu dan keluarga belum mengetahui janinnya meninggal

Kebutuhan : memberitahu ibu dan keluarga secara hati-hatibahwa janinnya sudah meninggal

P

 

tanggal 27 Oktober 2008, jam 20:40 WIB)

1.                          Memberitahu ibu dan keluarga dengan hati-hati bahwa dari

hasil pemeriksaan, didapatkan bahwa janin yang dikandungnya sudah meninggal. Ibu menangis, suami tampak sedih dan keluarga terilahat menenangkan

  1. Memberitahu keluarga bahwa janin harus segera dilahirkan. Menjelaskan mengenai pilihan untuk mengeluarkan janin, yaitu dengan menunggu janin lahir sendiri, dengan kemungkinan akan menunggu dalam waktu lama dan tidak dapat ditentukan serta dapat menjadikan adanya risiko gangguan pada proses pembekuan darah atau pilihan kedua dengan dipacu (diinduksi) menggunakan obat.

Keluarga sepakat memilih proses kelahiran dengan induksi.

  1. Membuat kesepakatan terhadap pihak keluarga atas tindakan yang akan dilakukan. Keluarga menyetujui tindakan dengan induksi misoprostol misoprostol 200 mg per oral/12 jam yang akan dimulai tanggal 28 Oktober 2008 jam 15:00 WIB sambil menunggu kesiapan mental dan ketenangan hati ibu untuk menerima kenyataan..
  2. Memberi dukungan mental agar ibu dan keluarga bersabar dan menerima apa yang terjadi. Ibu dapat menerima dan lebih tenang.
  3. Mengobservasi KU dan VS ibu.

KU lebih baik dari sewaktu datang, TD : 140/80 mmHg, Suhu : 37,10C, Nadi 80 x/menit, respirasi 20x/menit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RIWAYAT PERKEMBANGAN

s

(tanggal 28 Oktober 2008, jam 19.55 WIB)

Ibu mengatakan kenceng-kenceng belum dirasakan

O

KU ibu : baik, his belum ada

N : 80 x/mnt, R : 20x/mnt, TD : 140/90 mmHg

A

misoprostol 200 mg per oral pertama jam 15:00 WIB telah diminum

Primigravida berumur 22 tahun, hamil 32 minggu dengan IUFD telah diberikan induksi misoprostol 200 mg oral per 12 jam

 

P

(28 Oktober 2008, jam 20:00 WIB)

1.    Menjelaskan pada ibu rencana induksi misoprostol 200 mg oral yang kedua pada nanti malam tanggal 29 Oktober 2008 jam 03:00 WIB.

2.    Memotivasi ibu untuk beristirahat sambil menunggu kemajuan induksi. Ibu mengatakan akan mencoba istirahat. Ibu terlihat dapat tidur sampai dengan pukul 02:00 WIB.

3.    Mengobservasi kemajuan induksi. Kemajuan induksi tidak dapat dikaji karena ibu tertidur.

s

(tanggal 29 Oktober 2008, jam 02.55 WIB)

Ibu mengatakan kenceng-kenceng sudah dirasakan

O

KU ibu : baik, his : 2x/10 menit lamanya 25 detik

N : 88 x/mnt, R : 20x/mnt, TD : 130/80 mmHg

A

 

Primigravida berumur 22 tahun, hamil 32 minggu dengan IUFD telah diberikan induksi misoprostol 200 mg oral per 12 jam

 

P

(29 Oktober 2008, jam 03.00 WIB)

1.    Memberi ibu misoprostol 200 mg oral. Misoprostol 200 mg oral yang kedua telah diterima dan ibu meminumnya langsung dengan air putih.

2.    Mengobservasi kemajuan induksi dan keadaan ibu. Menjelaskan pada ibu jika ibu merasa sakit karena kenceng-kenceng, membimbing ibu untuk menarik nafas dalam melalui hidung dan membuangnya melalui mulut. Ibu terlihat kesakitan dan dapat mengatasi rasa sakitnya.

3.    (29 Oktober 2008, jam 03:00 WIB)

Ibu mengatakan ingin mengejan. Membantu ibu melahirkan bayi dengan memimpin persalinan.Bayi lahir secara spontan, jenis kelamin laki-laki, berat 950 gram, keadaan bayi sudah meninggal. Delapan menit setelahnya, plasenta lahir lengkap. Membersihkan dan merapikan ibu. Ibu sudah dalam keadaan bersih dan rapi.

4.         Memberitahu ibu dan keluarga mengenai bayi yang ibu lahirkan dan menyerahkannya pada pihak keluarga untuk dilakukan perawatan selanjutnya.

 

 

s

(tanggal 29 Oktober 2008, jam 07.30 WIB)

Ibu mengatakan sudah lega atas lahirnya bayi. Ibu dapat menerima kematian bayi dan terlihat tabah

O

Ku ibu baik

N : 80 x/mnt, R : 20x/mnt, TD : 130/80 mmHg

Ibu sudah makan setengah porsi makanan dari RS

A

 

Primipara umur 22 tahun, postpartum normal dengan riwayat IUFD membutuhkan dukungan dan pendampingan

 

 

P

(29 Oktober 2008, jam 07:30 WIB)

1.    Menjelaskan pada ibu bahwa secara umum dari hasil pemeriksaan ibu dalam keadaan baik. Ibu mengatakan lebih baik keadaannya.

2.    Memberi dukungan dan pendampingan pada ibu untuk tetap tabah dan menyerahkan segalanya pada yang lebih berkuasa, yaitu Tuhan. Ibu mengatakan sudah dapat menerima kematian bayinya dan mengatakan ikhlas atas hal tersebut.

3.    Menganjurkan pada ibu dan suami untuk memikirkan tentang pemeriksaan kesehatan secara keseluruhan guna mempersiapkan kehamilan yang berikutnya agar penyebab kematian bayinya dapat diketahui dan kejadian yang sama tidak akan terulang kembali. Menjelaskan pada ibu bahwa di RSUD Sleman tidak ada fasilitas pemeriksaan kesehatan yang dimaksud sehingga menganjurkan ibu untuk memeriksakan di RSUP Sardjito.  Ibu bersedia namun akan membicarakannya terlebih dahulu dengan suami.

4.     Memberikan alternatif alat kontrasepsi sebelum ibu merencanakan hamil lagi. Ibu mengatakan akan membicarakan hal tersebut dengan suami.

5.    Tanggal 29 Oktober 2008 jam 08:05 WIB ibu telah dipindahkan ke ruang nifas di Bangsal Melati RSUD Sleman.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

Di negara beriklim lembab, penyakit parasit masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius. Salah satu di antaranya adalah infeksi protozoa yang ditularkan melalui tubuh kucing. Infeksi penyakit yang ditularkan oleh kucing ini mempunyai prevalensi yang cukup tinggi, terutama pada masyarakat yang mempunyai kebiasaan makan daging mentah atau kurang matang. Di Indonesia faktor-faktor tersebut disertai dengan keadaan sanitasi lingkungan dan banyaknya sumber penularan.

Toksoplasmosis, suatu penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii, merupakan penyakit parasit pada manusia yang biasanya terjadi melalui kontak dengan tinja kucing, makan makanan mentah, atau makanan daging yang terkontaminasi dengan toxo ini. . Infeksi yang disebabkan oleh T. gondii tersebar di seluruh dunia, pada hewan berdarah panas dan mamalia lainnya termasuk manusia sebagai hospes perantara, kucing dan berbagai jenis Felidae lainnya sebagai hospes definitif.

Manusia dapat terkena infeksi parasit ini dengan cara didapat (Aquired toxoplasmosis) maupun diperoleh semenjak dalam kandungan (Congenital toxoplasmosis). Diperkirakan sepertiga penduduk dunia mengalami infeksi penyakit ini.

B.  Tujuan

  1. Untuk mengetahui definisi infeksi toxoplasmosis
  2. Untuk mengetahui patofisiologi infeksi toxoplasmosis
  3. Untuk mengetahui tanda dan gejala infeksi toxoplasmosis
  4. Untuk mengetahui cara mendiagnosa infeksi toxoplasmosis
  5. Untuk mengetahui dampak infeksi toxoplasmosis dalam kehamilan
  6. Untuk mengetahui pencegahan infeksi toxoplasmosis dalam kehamilan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.  Definisi infeksi toxoplasmosis

Infeksi toxoplasmosis adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Semua orang bisa terkena infeksi toxoplasma. Yang menjadi sumber infeksi toxoplasma adalah:

  1. 1. Tinja / kotoran kucing
  2. 2. Hewan potong yang terinfeksi
  3. 3. Ibu yang terinfeksi saat hamil
  4. 4. Organ / donor yang terinfeksi

Seseorang dapat terinfeksi toxoplasma jika :

  1. 1. Makan sayuran / buah yang terkontaminasi tinja kucing yang terinfeksi
  2. 2. Makan daging mentah / kurang matang
  3. 3. Penularan dari ibu ke janin
  4. 4. Transplantasi organ
  5. 5. Tranfusi darah

Infeksi toxoplasmosis tidak berbahaya bila mengenai orang dewasa dan anak-anak yang sistem kekebalanya berfungsi baik, tapi berbahaya bagi janin apabila ibu yang sedang hamil mengalami infeksi primer (infeksi yang pertama kali sepanjang hidupnya) atau seseorang yang mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh.

B. Patofisiologi infeksi toxoplasmosis

Parasit toksoplasma cenderung untuk masuk ke dalam sel organ ( intrasel ) tubuh manusia dan terdapat dalam tiga bentuk, yaitu bentuk trofozoit yang beredar dalam darah, bentuk ookista yang dikeluarkan dalam tinja kucing, dan bentuk kista yang menetap dalam jaringan tubuh seperti paru, jantung, otot, dan otak. Bentuk kista berupa sebuah kantung yang di dalamnya berisi beribu-ribu trofozoit T gondii. Kucing adalah tempat hidup utama parasit toxoplasma, parasit ini dapat berkembang biak secara seksual maupun aseksual. Adapun dalam tubuh manusia, unggas dan hewan ternak lain sebagai hospes perantara, parasit ini berkembang biak secara aseksual, yaitu kemampuan untuk berkembang biak dengan cara membelah diri.

Di tanah yang tercemar, ookista (toxoplasma) dapat dibawa oleh lalat, kecoak, semut atau cacing tanah ke berbagai tempat di kebun. Ookista dapat menempel di sayuran, buah-buahan atau termakan oleh hewan ternak seperti ayam, kambing, anjing, sapi, dan menembus epitel usus, berkembang biak dengan membelah diri serta menetap dalam bentuk kista pada organ hewan tersebut.

Bentuk parasit T gondii seperti batang melengkung dengan ukuran lebih kecil dari sel darah merah (3-6 mm) bergerak dengan gerakan aktinomisin di bawah membran plasma, dapat menembus sel secara aktif masuk ke berbagai jaringan seperti otot, otak, mata, dan usus. Kucing yang menderita toksoplasmosis akan mengeluarkan beribu-ribu ookista yang tetap infektif selama berbulan-bulan di tanah yang tidak terkena sinar matahari.

Ookista yang tertelan akan membentuk trofozoit dan ikut aliran darah serta memasuki sel berinti organ tubuh atau membentuk kista. Manusia dapat terinfeksi bila menelan ookista atau makan daging ternak seperti ayam, kambing atau sapi yang mengandung kista dan tidak dimasak matang.

C.  Tanda dan Gejala infeksi toxoplasmosis

Secara umum, infeksi Toxoplasma tidak menunjukkan gejala klinis sehingga diagnosis terhadap penyakit ini sering terabaikan dalam praktik dokter sehari-hari. Umumnya, penderita hanya merasa demam ringan, lemas, mual, dan pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi parasit ini pada manusia sehat tidak menyebabkan sakit berat karena sistem kekebalan tubuh dapat menghancurkan parasit ini. Pada keadaan di mana terjadi penurunan kekebalan seperti pada penyakit AIDS, pemakaian kortikosteroid jangka lama, dan penderita keganasan dengan kemoterapi, maka parasit yang semula diam dalam bentuk kista dapat pecah dan tiba-tiba mengganas serta mematikan.

 

D.  Cara mendiagnosa infeksi toxoplasmosis

Toksoplasma dapat ditegakkan dengan mengidentifikasi parasit di sekresi jaringan, cairan tubuh atau adanya peninggian titer antibodi yang sangat tinggi sampai delapan kali. Pada kasus-kasus terbatas dan hanya menggunaan test tunggal dengan peninggian titer antibodi IgM, seseorang sudah dikatakan terinfeksi akut toksoplasma . Walaupun secara klinis diagnosis penyakit ini sulit ditegakkan, tetapi dapat mudah diketahui apakah seseorang bebas dari penyakit, sedang sakit atau telah kebal, melalui pemeriksaan darah terhadap antibodi Toxoplasma dengan teknik Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Pemeriksaan darah seperti ini dapat dilakukan di banyak laboratorium kesehatan, sayangnya biayanya cukup mahal, sehingga pemeriksaan ini benar-benar dilakukan pada kelompok wanita yang berisiko tinggi, seperti kelompok wanita yang memelihara kucing, suka makan daging tidak matang, dan adanya abortus ataupun ada riwayat kematian janin dalam rahim.

Pemeriksaan laboratorium :

  1. pemeriksaan parasit secara langsung : rumit, tidak praktis, butuh waktu lama, mahal.
  2. pemeriksaan antibodi spesifik Toxoplasma : IgG, IgM dan IgG affinity

 

IgM adalah antibodi yang pertama kali meningkat di darah bila terjadi infeksi Toxoplasma. IgG adalah antibodi yang muncul setelah IgM dan biasanya  akan menetap seumur hidup pada orang yang terinfeksi atau pernah terinfeksi. IgG affinity adalah kekuatan ikatan antara antibodi IgG dengan organisme penyebab infeksi. Manfaat IgG affinity adalah pada keadaan IgG dan IgM positif diperlukan pemeriksaan IgG avidity untuk memperkirakan kapan infeksi terjadi, apakah sebelum atau pada saat hamil. Infeksi yang terjadi sebelum kehamilan tidak perlu dirisaukan, hanya infeksi primer yang terjadi pada saat ibu hamil yang berbahaya, khususnya pada Trimester I. Tes toksoplasma yang perlu dilakukan idealnya :

  1. Sebelum hamil tes IgG
  2. Saat hamil, sedini mungkin (bila belum pernah atau hasil sebelumnya negatif) IgG dan IgM Toxoplasma .

Bila hasil negatif, diperlukan pemantauan setiap 3 bulan pada sisa kehamilan

Interpretasi datanya adalah :

  1. bila IgG (-) dan IgM (+)

Kasus ini jarang terjadi, kemungkinan merupakan awal infeksi. Harus diperiksa kembali 3 minggu kemudian dilihat apakah IgG berubah jadi (+). Bila tidak berubah, maka IgM tidak spesifik, yang bersangkutan tidak terinfeksi Toxoplasma.

  1. 2. bila IgG (-) dan IgM (-)

Belum pernah terinfeksi dan beresiko untuk terinfeksi. Bila sedang hamil, perlu dipantau setiap 3 bulan pada sisa kehamilan (dokter mengetahui kondisi dan kebutuhan pemeriksaan anda). Lakukan tindakan pencegahan agar tidak   terjadi infeksi.

  1. 3. bila IgG (+) dan IgM (+)

Kemungkinan mengalami infeksi primer baru  atau mungkin juga infeksi lampau tapi IgM nya masih terdeteksi (persisten = lambat hilang).
Oleh sebab itu perlu dilakukan tes IgG affinity langsung pada serum yang sama untuk memperkirakan kapan infeksinya terjadi, apakah sebelum atau sesudah hamil.

  1. bila IgG (+) dan IgM (-)

Pernah terinfeksi sebelumnya, bila pemeriksaan dilakukan pada awal kehamilan, berarti infeksinya terjadi sudah lama (sebelum hamil) dan sekarang telah memiliki kekebalan, untuk selanjutnya tidak perlu diperiksa lagi.

Bila ada pertimbangan lain, dokter anda akan meminta izin untuk pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan.

 

  1. Dampak infeksi toxoplasmosis dalam kehamilan

Toksoplasmosis sering disebut sebagai salah satu penyebab terjadinya kegagalan kehamilan, dengan berbagai jenis manifestasi klinis seperti abortus, lahir prematur, IUGR, lahir mati dan lahir dengan cacat bawaan seperti kebutaan (retinokoroiditis), hidrosefalus, meningoencephalitis (radang otak), tuli, pengapuran otak,retardasi mental, kejang-kejang, dan gangguan neurologis lainnya.

Biasanya tanda-tanda radang otak (encephalitis) dan serebral palsi berkembang dalam beberapa hari sampai sebulan setelah bayi lahir (Kasper and Boothroyd, 1993; Remington, 1995; Denney, 1999). Prevalensi toksoplasmosis secara serologik pada berbagai populasi di dunia termasuk di Indonesia mencapai lebih dari 50% (Partono dan Cross, 1975; Samil, 1988; Decavalas, 1990; Allain, 1998; Jenum, 1998; Sardjono, 2001a), namun apakah toksoplasmosis memang menyebabkan kegagalan kehamilan dan bagaimana mekanisme terjadinya hal tersebut, sampai sekarang masih belum dapat dijelaskan dengan baik.

Risiko seorang ibu hamil yang terinfeksi akut dengan toksoplasma menurunkan infeksi pada bayi bila tidak segera mendapat pengobatan sangat variatif,. Pada kehamilan trimester pertama risiko penurunan 25 %, trimester kedua 54 % dan 65 % pada trimester ketiga.

 

  1. Pencegahan infeksi toxoplasmia dalam kehamilan
  2. Penting melaksanakan pemeriksaan darah terhadap kemungkinan infeksi penyakit ini pada masa pranikah atau sebelum kehamilan bagi kelompok yang mampu, karena penyakit ini dapat diobati sehingga dampak negatif seperti keguguran, lahir mati atau cacat setelah lahir dapat dihindari .
  3. Hindari makan makanan yang dimasak mentah atau setengah matang.
  4. Bersihkan dan cucilah buah-buahan atau sayuran sebelum dimakan dengan baik.
  5. Bersihkan tangan, alat-alat dapur ( seperti; papan atau alas untuk memotong) yang dipakai untuk mengelola daging mentah, hal ini untuk mencegah kontaminasi dengan makanan lainnya.
  6. Jangan minum susu unpasteurized dari hewan..
  7. Bila akan membersihkan sampah atau tempat sampah, jangan lupa menggunakan sarung tangan, dan cucilah tangan atau sebaiknya serahkan tugas ini kepada anggota keluarga lainnya, bila sedang hamil.
  8. Pakailah sarung tangan bila ingin mengerjakan pekerjaan kebun atau perkarangan, untuk menghindari kontak langsung dari kotoran hewan yang terinfeksi.
  9. Untuk yang memelihara kucing :
  10. Bila memelihara kucing, maka saat mencoba untuk hamil atau sedang hamil, serahkanlah tugas membersihkan kotoran kucing kepada anggota yang lainnya.
  11. Bersihkanlah kotoran kucing yang dipelihara setiap hari dan ingat untuk menggunakan sarung tangan dan selalu mencuci tangan setiap selesai membersihkan.
  12. Mencuci tangan setiap selesai bermain dengan kucing yang dipelihara.
  13. Buanglah kotoran kucing dalam plastik ke tempat sampah, jangan menanam atau meletakanya di dekat kebun atau taman.
  14. Jangan memberi makan daging mentah untuk kucing yang dipelihara.
  15. Periksakanlah ke dokter hewan bila melihat bahwa kucing yang dipelihara terdapat tanda-tanda sakit.
  16. Kucing yang dipelihara didalam rumah, yang tidak diberi daging mentah, dan tidak menangkap burung atau tikus, biasanya tidak terinfeksi
  17. Tidak dianjurkan pemeriksaan skrinig toxoplasma secara masal mengingat biaya relatif tinggi dan masih tingginya hasil positif palsu dari laboratorium. Hindari para wanita hamil makan daging yang tidak dimasak matang

G.  Pengobatan infeksi toxoplasmia dalam kehamilan

Pengobatan pada ibu yang terinfeksi akut toksoplasma diberikan oleh dokter yaitu antibiotika spiramycin yang diikuti pyrimetamin dan sulfadiazine, pemberian antibiotika bertujuan menurunkan risiko menurunnya infeksi pada jabang bayi. Sebaiknya pada wanita yang terinfeksi diperiksa juga Protein C Reaktif (PCR) dari cairan amnion , untuk menilai adakah infeksi pada bayinya. Bila Test PCR positif pengobatan cukup dengan pirymthamin dan sulfadiazine, sedangkan bila tes PCR negatif spyramicin dilanjutkan untuk mencegah risiko infeksi lanjutan bagi bayinya.

Mengingat risiskonya yang besar pada ibu hamil dan janin, dokter akan memberinya obat khusus untuk membunuh parasit dan mencegah infeksi toksoplasma aktif atau bertambah parah. Sementara bagi yang pernah menderita infeksi toxoplasma, hendaknya terus memantau kondisi tubuhnya dna mengonsumsi obat untuk mencegah aktifnya kembali toxoplasma, hingga tubuh benar-benar dinyatakan bersih dari parasit.

 

H.  Rangkuman

  1. Toxoplasmosis berbahaya bagi janin bila ibu terinfeksi pada saat hamil, khususnya pada Trimester I
  2. Gejalanya tidak spesifik perlu pemeriksaan laboratorium pada awal kehamilan
  3. Bila IgG & IgM negatif, hindarilah sumber infeksi yang dapat menyebabkan ibu tertular dan selanjutnya perlu dilakukan pemantauan sepanjang kehamilan.
  4. Bila IgG  dan IgM positif belum tentu terinfeksi, tes lanjutan IgG avidity dapat memperkirakan kapan infeksi terjadi (sebelum atau pada saat hamil)

 

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN

 

Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil

Ny. S 27 tahun G3P0Ab2Ah0 umur kehamilan 24 minggu dengan toxoplasmosis

 

DATA SUBJEKTIF

Seorang ibu hamil dengan umur kehamilan 24 minggu mengeluh merasa lemah, mudah capek, dan merasa agak pusing seperti akan flu, serta ibu mengatakan memelihara 3 ekor kucing dan sudah keguguran dua kali, sehingga cemas dengan kehamilannya yang sekarang.

DATA OBJEKTIF

Pemeriksaan Fisik

  1. Keadaan umum      : baik               kesadaran        : Compos Mentis
  2. Status emosional    : stabil
  3. Tanda vital

Tekanan darah        : 110 / 80 mmHg

Nadi                       : 78 kali / menit

Pernafasan              : 19 kali / menit

Suhu                       : 36,60 C

  1. BB/TB                    : 59 kg / 155 cm

 

Pemeriksaan penunjang

Tanggal 24 Maret 2010 hasil IgG (+) dan IgM (+)

 

 

 

 

ASSESMENT

  1. Diagnosa Kebidanan

Ny ‘S’ umur 27 tahun G3P0Ab2Ah0 UK : 24 minggu dengan toxoplasmosis

  1. Masalah

Ibu mengatakan merasa lemah, mudah capek, dan merasa agak pusing seperti mau flu dan cemas dengan kehamilan sekarang karena sudah abortus dua kali.

 

  1. Kebutuhan

KIE tentang penyakit infeksi toxoplasmosis

 

  1. Diagnosa potensial

Kehamilan dengan toxoplasmosis berpotensi terjadinya abortus pada ibu, serta lahir prematur, IUGR, lahir mati dan lahir dengan cacat bawaan seperti kebutaan (retinokoroiditis), hidrosefalus, meningoencephalitis (radang otak), tuli, pengapuran otak,retardasi mental, kejang-kejang, dan gangguan neurologis pada janin.

 

  1. Masalah Potensial

Tidak ada

 

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
  2. Mandiri

Tidak dilakukan

 

  1. Kolaborasi

Laboratorium Pramita untuk pemeriksaan IgG dan IgM darah

 

  1. Merujuk

Untuk pemberian terapi obat dan penanganan selanjutnya dirujuk ke dr. Katia Amanda, SpOg

 

Planning (Termasuk Pendokumentasian Implementasi dan Evaluasi)

Tanggal 27 Maret 2010           jam 09.00 WIB

 

  1. Memberitahu ibu bahwa kondisinya saat ini baik namun menurut hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa ibu sekarang positf terkena infeksi toxoplasmosis
  2. Menganjurkan keluarga agar memberi dukungan pada ibu
  3. Memberikan ibu rasa aman dan nyaman pada ibu
  4. Mengajurkan ibu untuk menenangkan pikiran dan perasaannya

 

Ibu mengerti kondisinya saat ini

  1. Keluarga berjanji untuk memberikan bantuan psikologis pada ibu
  2. Ibu mengatakan sudah merasa lebih aman dan nyaman
  3. Ibu mengatakan pikiran dan perasaannya sudah lebih tenang.

 

  1. Memberitahu ibu bahwa kondisi janinnya saat ini baik, namun perlu pemantauan yang ketat karena kemungkinan bisa terjadi abortus, lahir prematur, IUGR, lahir mati dan lahir dengan cacat bawaan seperti kebutaan (retinokoroiditis), hidrosefalus, meningoencephalitis (radang otak), tuli, pengapuran otak,retardasi mental, kejang-kejang, dan gangguan neurologis lainnya.

 

ibu mengerti kondisi yang dialami dan kemungkinan yang akan terjadi pada janinnya

  1. Memberi dukungan psiklogis untuk mengurangi kecemasan ibu
  2. Menganjurkan ibu untuk tetap tenang dan berdoa bahwa kehamilannya akan baik- baik saja.
  3. Meyakinkan ibu, bahwa tim medis akan membantu ibu dengan baik.
  4. Melibatkan keluarga untuk terus memberi dukungan pada ibu.
  5. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dan mengurangi aktifitas yang berhubungan dengan hewan peliharaannya.

Cemas ibu berkurang

  1. Ibu mengatakan sudah lebih tenang
  2. Ibu mengatakan, ia yakin bahwa tim medis akan membantunya dengan baik.
  3. Keluarga berjanji akan terus memberikan dukungan pada ibu
  4. Ibu bersedia mengurangi aktifitas yang berhubungan dengan hewan peliharaannya
  5. Memenuhi cairan dan nutrisi ibu
  6. Menganjurkan ibu untuk menghindari makan makanan yang dimasak mentah atau setengah matang.
  7. Menganjurkan ibu untuk membersihkan dan mencuci buah-buahan atau sayuran sebelum dimakan dengan baik.
  8. Menganjurkan ibu untuk tidak minum susu unpasteurized dari hewan.
  9. Menganjurkan pada ibu untuk makan dan minum yang cukup.
  10. Melibatkan keluarga untuk membantu ibu agar makan dan minum yang cukup.

 

Ibu bersedia untuk menuruti saran bidan yaitu:

  1. Menghindari makan makanan yang dimasak mentah atau setengah matang.
  2. Membersihkan dan mencuci buah-buahan atau sayuran sebelum dimakan dengan baik.
  3. Tidak minum susu unpasteurized dari hewan.
  4. Makan dan minum yang cukup.
  5. Keluarga berjanji akan membantu ibu agar makan dan minum yang cukup.

 

  1. Kegiatan sehari- hari ibu :
  2. Menganjurkan ibu untuk membersihkan tangan, alat-alat dapur (seperti; papan atau alas untuk memotong) yang dipakai untuk mengelola daging mentah, hal ini untuk mencegah kontaminasi dengan makanan lainnya.
  3. Menganjurkan ibu bila membersihkan sampah atau tempat sampah, jangan lupa menggunakan sarung tangan, dan mencuci tangannya atau sebaiknya serahkan tugas ini kepada anggota keluarga lainnya, karena ibu sedang hamil.
  4. Menganjurkan ibu untuk memakai sarung tangan bila ingin mengerjakan pekerjaan kebun atau perkarangan, untuk menghindari kontak langsung dari kotoran hewan yang terinfeksi.

 

ibu dan keluarga bersedia untuk melakukan saran bidan yaitu :

  1. Membersihkan tangan, alat-alat dapur (seperti; papan atau alas untuk memotong) yang dipakai untuk mengelola daging mentah.
  2. Membersihkan sampah atau tempat sampah, ibu tidak lupa menggunakan sarung tangan, dan ibu akan mencuci tangannya atau akan menyerahkan tugas ini kepada anggota keluarga lainnya.
  3. Memakai sarung tangan bila ingin mengerjakan pekerjaan kebun atau perkarangan, untuk menghindari kontak langsung dari kotoran hewan yang terinfeksi.

 

  1. Karena ibu memelihara kucing :
  2. Maka saat ibu sedang hamil, serahkanlah tugas membersihkan kotoran kucing kepada anggota yang lainnya, membersihkan kotoran kucing yang dipelihara setiap hari dan ingat untuk menggunakan sarung tangan dan mencuci tangan setiap selesai membersihkan.
  3. Menganjurkan ibu untuk mencuci tangan setiap selesai bermain dengan kucing peliharaan
  4. Menganjurkan ibu untuk tugas membuang kotoran kucing dilakukan oleh anggota keluarga lain yaitu dengan membuang kotoran dalam plastik dibuang di tempat sampah dan tidak menanam atau meletakanya di dekat kebun atau taman.
  5. Menganjurkan ibu untuk jangan memberi makan daging mentah untuk kucing peliharaan.
  6. Menganjurkan ibu untuk memeriksakan kucingnya ke dokter hewan bila melihat bahwa kucing peliharaan ibu terdapat tanda-tanda sakit.

ibu bersedia untuk melakukan saran bidan yaitu:

  1. Menyerahkan tugas membersihkan kotoran kucing kepada anggota yang lainnya.
  2. Mencuci tangan setiap selesai bermain dengan kucing peliharaan
  3. Keluarga bersedia membuang kotoran kucing dalam plastik ke tempat sampah, dan tidak menanam atau meletakanya di dekat kebun atau taman.
  4. Tidak memberi makan daging mentah untuk kucing peliharaan.
  5. memeriksakan kucingnya ke dokter hewan bila melihat bahwa kucing peliharaan ibu terdapat tanda-tanda sakit.
  6. Melakukan kolaborasi dengan laboratorium pramita untuk memgecek IgG dan IgM serta merujuk ke dokter untuk pemberian obat-obatan yang sesuai dengan kebutuhan ibu.

Telah dilakukan kolaborasi dengan laboratorium pramita dan dilakukan rujukkan pada dokter sehingga ibu sudah diberikan obat-obatan dan sudah mendapatkan tindakan kuretase dari dokter

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=1&ved=0CAgQFjAA&url=http%3A%2F%2Fpdfdatabase.com%2Ftoxoplasma-pada-kehamilan.html&rct=j&q=toxoplasmosis+dalam+kehamilan&ei=wRmvS4TtFYy1rAe57PSmAQ&usg=AFQjCNHfFM_uvgZ_QamzZzE9FEgv8H3C8g

http://www.harianku.com/2008/12/bahaya-virus-toxoplasma-pada-ibu-hamil.html

http://74.125.153.132/search?q=cache:XVnADqk_0PQJ:www.harianku.com/2008/12/bahaya-virus-toxoplasma-pada-ibu-hamil.html+toxoplasmosis+dalam+kehamilan&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id

PRE EKLAMSI BERAT

PENGERTIAN
Pre-eklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu (akhir triwulan kedua sampai triwulan ketiga) atau bisa lebih awal terjadi. Pre-eklamsi dapat berupa pre-eklamsi ringan dan pre-eklamsi berat.
GEJALA DAN TANDA PRE EKLAMSI BERAT
1. Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg
2. Tekanan darah diastolik ≥ 140 mmHg
3. Peningkatan kadar enzim hati atau dan ikterus
4. Trombisit < 100.000/mm3
5. Oligouria 3 g/liter
7. Nyeri epigastrum
8. Skotoma dan gangguan virus lain atau nyeri frontal yang berat
9. Perdarahan retina
10. Edema pulmonum
11. Koma
ALASAN MERUJUK
1. Bukan kewenangan bidan
2. Perlu tindakan emergency lebih lanjut
3. Berpotensi besar terjadinya eklamsi
4. Termasuk penyebab terbesar kematian ibu selain perdarahan dan infeksi
5. Sangat beresiko bagi ibu dan janin
KOMPLIKASI PRE EKLAMSI BERAT
1. Solusio plasenta
2. Hipofibrinogenemia
3. Hemolisis
4. Perdarahan otak
5. Kelainan mata
6. Edema paru-paru
7. Nekrosis hati
8. Sindroma HELLPS ( haemolysis, elevated liver enzymes, dan low platelet )
9. Kelainan ginjal
10. Komplikasi lain : lidat tergigit, trauma dan fraktur karena jatuh akibat kejang-kejang, gangguan pernapasan, dan DIC
11. Prematuritas, dismaturitas, dan kematian janin intra-uterin

RENCANA ASUHAN
1. Baringkan ibu miring ke kiri.
2. Pasang infuse RL dengan tetesan 60-125 cc/jam menggunakan jarum berdiameter besar ( ukuran 16 atau 18 )
3. Berikan magnesium sulfat dengan syarat reflek patella (+) dan frekuensi nafas lebih 16 kali/menit. Dosis awal 4 gr MgSO4 ( 20% dalam 20 cc ) selama 20 menit. Diikuti segera 10 gr MgSO4 50% ( 5gr pada bokong kiri dan kanan )
4. Segera merujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan gawatdarurat obstetric dan bayi baru lahir. Dan mendampingi ibu ke tempat rujukan.

SUMBER
Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.
JNPK-KR. 2008. Asuhan Persalinan Normal & Inisiasi Menyusui Dini.
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. EGC : Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon.

Penularan tuberculosis terjadi karena penderita TBC membuang ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar. Dalam dahak dan ludah penderita terdapat basil TBC-nya, sehingga basil ini mengering dalam bentuk spora lalu diterbangkan angin. Kuman yang terbawa angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-paru.

Penyakit ini perlu diperhatikan dalam kehamilan, karena penyakit ini masih merupakan penyakit rakyat; sehingga sering kita jumpai dalam kehamilan. TBC paru ini dapat menimbulkan masalah pada wanita itu sendiri, bayinya dan masyarakat sekitarnya.

Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya perjalanan penyakit ini, banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. Keluhan yang sering ditemukan adalah batuk-batuk yang lama, badan terasa lemah, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, kadang-kadang ada batuk darah, dan sakit sekitar dada.

Tingginya angka penderita TBC di Indonesia dikarenakan banyak faktor, salah satunya adalah iklim dan lingkungan yang lembab serta tidak semua penderita mengerti benar tentang perjalanan penyakitnya yang akan mengakibatkan kesalahan dalam perawatan dirinya serta kurangnya informasi tentang proses penyakitnya dan pelaksanaan perawatan dirumah kuman ini menyerang pada tubuh manusia yang lemah dan para pekerja di lingkungan yang udaranya sudah tercemar asap, debu, atau gas buangan.

Pada penderita yang dicurigai menderita TBC paru sebaiknya dilakukan pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (purified protein derivate) 5u dan bila hasilnya positif diteruskan dengan pemeriksaan foto dada. Perlu diperhatikan dan dilindungi janin dari pengaruh sinar X. Pada penderita dengan TBC paru aktif perlu dilakukan pemeriksaan sputum, untuk membuat dianosis secara pasti sekaligus untuk tes kepekaan. Pengaruh TBC paru pada ibu yang sedang hamil bila diobati dengan baik tidak berbeda dengan wanita tidak hamil. Pada janin jarang dijumpai TBC kongenital, janin baru tertular penyakit setelah lahir, karena dirawat atau disusui oleh ibunya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. DEFINISI

Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah karena sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon, sedangkan batuk darah (hemoptisis) adalah salah satu manifestasi yang diakibatkannya. Darah atau dahak berdarah yang dibatukkan berasal dari saluran pernafasan bagian bawah yaitu mulai dari glottis kearah distal, batuk darah akan berhenti sendiri jika asal robekan pembuluh darah tidak luas, sehingga penutupan luka dengan cepat terjadi.

  1. B. PENULARAN TUBERKULOSIS

Sumber penularana penyakit tuberculosis adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi bila droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran linfe,saluran napas, atau penyebaran langsung kebagian-nagian tubuh lainnya.

Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

Resiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan berfariasi antara 1 – 2 %. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %, berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk, 10 (sepuluh) orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TB, hanya 10 % dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TB. Dari keterangan tersebut diatas, dapat diperkirakan bahwa daerah dengan ARTI 1 %, maka diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 100 (seratus) penderita tuberkulosis setiap tahun, dimana 50 % penderita adalah BTA positif. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita TB adalah daya tahan tubuh yang rendah; diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS.

Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran linfe akan membawa kuman TB ke kelenjar linfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer selama 4 – 6 minggu.            Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.

Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.

Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.

Komplikasi Pada Penderita Tuberkulosis antara lain hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas, kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial, bronkiectasis dan fibrosis pada paru, pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru, penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya, insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit.Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simptomatis. Bila perdarahan berat, penderita harus dirujuk ke unit spesialistik.

Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50 % dari penderita TB akan meninggal, 25 % akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 25 % sebagai menjadi kronik yang tetap menular (WHO 1996).
Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular Immunity), sehingga jika terjadi infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah penderita TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

Gejala umum tuberculosis antara lain batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih.Gejala lain yang sering dijumpai antara lain dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas dan rasa nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, dan demam meriang lebih dari sebulan.

  1. C. TUBERKULOSIS PADA KEHAMILAN
    1. 1. Efek tuberculosis terhadap kehamilan

Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. Stressor tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. Lebih dari 50 persen kasus TB paru adalah perempuan dan data RSCM pada tahun 1989 sampai 1990 diketahui 4.300 wanita hamil,150 diantaranya adalah pengidap TB paru .

Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa factor antara lain tipe, letak dan keparahan penyakit, usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis, status nutrisi ibu hamil, ada tidaknya penyakit penyerta, status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB.

Status nutrisi yang jelek, hipoproteinemia, anemia dan keadaan medis maternal merupakan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal.

Usia kehamilan saat wanita hamil mendapatkan pengobatan antituberkulosa merupakan factor yang penting dalam menentukan kesehatan maternal dalam kehamilan dengan TB.

Kehamilan dapat berefek terhadap tuberculosis dimana peningkatan diafragma akibat kehamilan akan menyebabkan kavitas paru bagian bawah mengalami kolaps yang disebut pneumo-peritoneum. Pada awal abad 20, induksi aborsi direkomondasikan pada wanita hamil dengan TB.

Selain paru-paru, kuman TB juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti usus, selaput otak, tulang, dan sendi, serta kulit. Jika kuman menyebar hingga organ reproduksi, kemungkinan akan memengaruhi tingkat kesuburan (fertilitas) seseorang. Bahkan, TB pada samping kiri dan kanan rahim bisa menimbulkan kemandulan. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran pada pengidap TB atau yang pernah mengidap TB, khususnya wanita usia reproduksi. Jika kuman sudah menyerang organ reproduksi wanita biasanya wanita tersebut mengalami kesulitan untuk hamil karena uterus tidak siap menerima hasil konsepsi.

Harold Oster MD,2007 mengatakan bahwa TB paru (baik laten maupun aktif) tidak akan memengaruhi fertilitas seorang wanita di kemudian hari. Namun, jika kuman menginfeksi endometrium dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Tapi tidak berarti kesempatan untuk memiliki anak menjadi tertutup sama sekali, kemungkinan untuk hamil masih tetap ada. Idealnya, sebelum memutuskan untuk hamil, wanita pengidap TB mengobati TB-nya terlebih dulu sampai tuntas. Namun, jika sudah telanjur hamil maka tetap lanjutkan kehamilan dan tidak perlu melakukan aborsi.

  1. 2. Efek tuberculosis terhadap janin

Menurut Oster,2007 jika kuman TB hanya menyerang paru, maka akan ada sedikit risiko terhadap janin.Untuk meminimalisasi risiko,biasanya diberikan obat-obatan TB yang aman bagi kehamilan seperti Rifampisin, INH dan Etambutol. Kasusnya akan berbeda jika TB juga menginvasi organ lain di luar paru dan jaringan limfa, dimana wanita tersebut memerlukan perawatan di rumah sakit sebelum melahirkan. Sebab kemungkinan bayinya akan mengalami masalah setelah lahir. Penelitian yang dilakukan oleh Narayan Jana, KalaVasistha, Subhas C Saha, Kushagradhi Ghosh, 1999  tentang efek TB ekstrapulmoner tuberkuosis, didapatkan hasil bahwa tuberkulosis pada limpha tidak berefek terhadap kahamilan, persalinan dan hasil konsepsi. Namun juka dibandingkan dengan kelompok wanita sehat yang tidak mengalami tuberculosis selama hamil mempunyai resiko hospitalisasi lebih tinggi (21% : 2%), bayi dengan APGAR skore rendah segera setelah lahir (19% : 3%), berat badan lahir rendah (<2500 )

Selain itu, risiko juga meningkat pada janin, seperti abortus, terhambatnya pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB congenital). Gejala TB congenital biasanya sudah bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi,seperti prematur, gangguan napas, demam, berat badan rendah, hati dan limpa membesar. Penularan kongenital sampai saat ini masih belum jelas,apakah bayi tertular saat masih di perut atau setelah lahir.

  1. 3. Tes Diagnosis TB pada Kehamilan

Bakteri TB berbentuk batang dan mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. Karena itu disebut basil tahan asam (BTA). Kuman TB cepat mati terpapar sinar matahari langsung,tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembap.

Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat melakukan dormant (tertidur lama selama beberapa tahun). Penyakit TB biasanya menular pada anggota keluarga penderita maupun orang di lingkungan sekitarnya melalui batuk atau dahak yang dikeluarkan si penderita. Hal yang penting adalah bagaimana menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat.

Seseorang yang terpapar kuman TB belum tentu akan menjadi sakit jika memiliki daya tahan tubuh kuat karena sistem imunitas tubuh akan mampu melawan kuman yang masuk. Diagnosis TB bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti pemeriksaan BTA dan rontgen (foto torak). Diagnosis dengan BTA mudah dilakukan,murah dan cukup reliable.

Kelemahan pemeriksaan BTA adalah hasil pemeriksaan baru positif bila terdapat kuman 5000/cc dahak. Jadi, pasien TB yang punya kuman 4000/cc dahak misalnya, tidak akan terdeteksi dengan pemeriksaan BTA (hasil negatif). Adapun rontgen memang dapat mendeteksi pasien dengan BTA negatif, tapi kelemahannya sangat tergantung dari keahlian dan pengalaman petugas yang membaca foto rontgen. Di beberapa negara digunakan tes untuk mengetahui ada tidaknya infeksi TB, melalui interferon gamma yang konon lebih baik dari tuberkulin tes.

Diagnosis dengan interferon gamma bisa mengukur secara lebih jelas bagaimana beratnya infeksi dan berapa besar kemungkinan jatuh sakit. Diagnosis TB pada wanita hamil dilakukan melalui pemeriksaan fisik (sesuai luas lesi), pemeriksaan laboratorium (apakah ditemukan BTA?), serta uji tuberkulin.

Uji tuberkulin hanya berguna untuk menentukan adanya infeksi TB, sedangkan penentuan sakit TB perlu ditinjau dari klinisnya dan ditunjang foto torak. Pasien dengan hasil uji tuberkulin positif belum tentu menderita TB. Adapun jika hasil uji tuberkulin negatif, maka ada tiga kemungkinan, yaitu tidak ada infeksi TB, pasien sedang mengalami masa inkubasi infeksi TB, atau terjadi anergi.

Kehamilan tidak akan menurunkan respons uji tuberkulin. Untuk mengetahui gambaran TB pada trimester pertama, foto toraks dengan pelindung di perut bisa dilakukan, terutama jika hasil BTA-nya negatif.

  1. 4. Penatalaksanaan medis pada Kehamilan dengan TB

Regimen yang sama direkomondasikan pada wanita hamil dengan TB maupun wanita non hamil dengan TB kecuali streptomycin. penggunaanPyrazinamide dalam kehamilan masih menjadi perdebatan.

  1. 5. Peran Perawat dalam Kehamilan dengan TB

Dalam perawatan pasien hamil dengan TB perawat harus mampu memberikan pendidikan pada pasien dan keluarga tentang penyebaran penyakit dan pencegahannya, tentang pengobatan yang diberikan dan efek sampingnya, serta hal yang mungkin terjadi jika penyakit TB tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat. Pasien dan keluarga harus tahu system pelayanan pengobatan TB sehingga pasien tidak mengalami drop out selama pengobatan dimana keluarga berperan sebagai pengawas minum obat bagi pasien. Pemantuan kesehatan ibu dan janin harus selalu dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang mungkin terjadi akibat TB.

Perbaikan status nutrisi ibu dan pencegahan anemia sangat penting dilakukan untuk mencegah keparahan TB dan meminimalkan efek yang timbul terhadap janin.

Pendidikan tentang sanitasi lingkungan pada keluarga dan pasien penting diberikan untuk menghindari penyebaran penyakit lebih luas.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN

Ny “D” umur 30 tahun G2P1Ab0Ah1 UK 30 minggu

hamil dengan penyakit TBCdi RSUD Wirosaban

DATA SUBJEKTIF

Ny. Deswari (30 tahun) mengatakan hamil ke-2, umur kehamilan 30 minggu,

HPMT  13 September 2009

Keluhan utama ;

  • Ibu mengeluh batuk terus hingga sesak napas, nyeri dada, keringat malam, nafsu makan menurun,susah tidur dan panas
  • Ibu mengatakan pernah menderita TBC ketika masih SMA dan dalam keluarga satu rumah sedang ada yang menderita TBC.

DATA OBJEKTIF

Pemeriksaan fisik

Keadaan umum agak lemah, batuk,

BB     : 50 kg

LILA : 22,5 cm

Tanda Vital:

TD                   : 110/70 mmHg

S                      : 36ºC

N                     : 84 x/menit

RR                   : 22 x/ menit

Pada kulit terjadi sianosis, dingin dan lembab, tugor kulit menurun

·Inspeksi : Adanya tanda-tanda penarikan paru, diafragma, pergerakan napas yang tertinggal, suara napas melemah

·Palpasi : Fremitus suara meningkat .

·Perkusi: Suara ketok redup.

·Auskultasi : Suara napas brokial dengan atau tanpa ronki basah, kasar dan yang nyaring

Adanya takipnea, takikardia, sianosis, bunyi P2 yang mengeras

Adanya nafsu makan menurun, anoreksia, berat badan turun

Adanya keterbatasan aktivitas akibat kelemahan, kurang tidur dan keadaan sehari-hari yang kurang meyenangkan

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium

· Darah

sel-sel darah putih yang meningkatkan serta laju endap darah meningkat terjadi pada proses aktif.

· Sputum

Ditemukan adanya Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum yang terdapat pada penderita tuberkulosis paru

· Test Tuberkulosis

Mantoux test positif

ASSESMENT

  1. Diagnosis kebidanan

Ny “D” umur 30 tahun G2P1Ab0Ah1 UK 30 minggu hamil dengan penyakit TBC

  1. Masalah

Ibu merasa cemas dengan kehamilannya

  1. Kebutuhan

KIE tentang TBC dalam kehamilan

  1. Diagnosis potensial

Berpotensi terjadinya hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah), kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru, penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya, insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

  1. Masalah potensial

Tidak ada

  1. Tindakan
  2. Mandiri

Tidak ada

  1. Kolaborasi

Kolaborasi dengan dokter spesialis paru-paru

  1. Rujukan

Tidak ada

PENATALAKSANAAN

  1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu mengalami TBC dalam kehamilan.

Ibu sudah mengetahui tentang keadaannya

  1. Menjelaskan kepada ibu tentang TBC dalam kehamilan

Ibu mengerti dan paham dengan penjelasan yang diberikan

  1. Melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis paru-paru
  2. Memberikan obat INH, PAS, rifadin dan streptomisin

Ibu telah diberi obat

  1. Memberitahu ibu untuk selalu rutin dan taat minum obat

Ibu bersedia untuk rutin minum obat

  1. Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat, makan yang teratur dan minum obat sesuai anjuran

Ibu bersedia mengikuti saran yang diberikan

  1. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan

Ibu bersedia untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan

BAB IV

PENUTUP

Tingginya angka penderita TBC di Indonesia dikarenakan banyak faktor, salah satunya adalah iklim dan lingkungan yang lembab serta tidak semua penderita mengerti benar tentang perjalanan penyakitnya yang akan mengakibatkan kesalahan dalam perawatan dirinya serta kurangnya informasi tentang proses penyakitnya dan pelaksanaan perawatan dirumah kuman ini menyerang pada tubuh manusia yang lemah dan para pekerja di lingkungan yang udaranya sudah tercemar asap, debu, atau gas buangan. Karena prevalensi TBC paru di Indonesia masih tinggi, dapat diambil asumsi bahwa frekuensinya pada wanita akan tinggi. Diperkirakan 1% wanita hamil menderita TB paru. Menurut Prawirohardjo dan Soemarno (1954), frekuensi bertambahnya jumlah penduduk tiap tahunnya, dapat diperkirakan penyakit ini juga mengalami peningkatan berbanding lurus dengan tingkat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Pada umumnya, penyakit paru-paru tidak mempengaruhi kehamilan dan persalinan nifas, kecuali penyakitnya tidak terkonrol, berat, dan luas yang wanita hamil yang menderita TB paru di Indonesia yaitu 1,6%. Dengan disertai sesak napas dan hipoksia. Walaupun kehamilan menyebabkan sedikit perubahan pada sistem pernapasan, karena uterus yang membesar dapat mendorong diafragma dan paru-paru ke atas serta sisa udara dalam paru-paru kurang, namun penyakit tersebut tidak selalu menjadi lebih parah. TBC paru merupakan salah satu penyakit yang memerlukan perhatian yang lebih terutama pada seorang wanita yang sedang hamil, karena penyakit ini dapat dijumpai dalam keadaan aktif dan keadaan tenang. Karena penyakit paru-paru yang dalam keadaan aktif akan menimbulkan masalah bagi ibu, bayi, dan orang-orang disekelilingnya

DAFTAR PUSTAKA

http://keperawatan-gun.com/2008/06/askep-ibu-hamil-dengan-tbc.html

http://lorenatazo.com/2009/12/ibu-hamil-dengan-penyakit-tbc.html

http://lely-nursinginfo.com/2007/06/pregnancy-and-tuberculosis.html

BAB I

PENDAHULUAN

Setiap anak mempunyai potensi kemampuan kecerdasan otak masing-masing. Kita tidak boleh menyamakan perlakuan terhadap masing-masing anak. Biarkan mereka mempunyai kecenderungan potensi kecerdasan masing-masing, potensi kecerdasan khusus inilah yang bisa kita asah dan kita berdayakan, yaitu dengan cara stimulasi anak dari Program brain booster ini bisa dimulai sejak usia kehamilan. Dengan melakukan stimulasi janin akan mengarahkan sel neuron yang akan membentuk sistem sensorik, motorik. Stimulasi ini bisa dilakukan dengan sentuhan mulai usia janin 8 minggu, pada saat itu sensitivitas janin terhadap sentuhan sudah mulai terbentuk. Stimulasi bunyi dengan cara berbicara dengan janin dengan suasana yang tenang dan mengucapkan secara perlahan. Kemudian juga bisa dengan rangsangan alunan music Oleh para pakar, organ pengontrol pikiran, ucapan, dan emosi ini memang dibedakan atas dua belahan, kiri dan kanan, dengan fungsi berbeda. Otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistik dan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, serta pengembangan kepribadian. Sementara otak kiri merupakan tempat untuk melakukan fungsi akademik seperti baca-tulis-hitung, daya ingat (nama, waktu, dan peristiwa), logika, dan analisis. Oleh karena itu, bila stimulasi dilakukan secara seimbang, diharapkan anak yang dilahirkan kelak tidak cuma memiliki kemampuan akademik yang baik tetapi juga kreatif. Kalau dia pintar matematika, dia juga mampu berbahasa, menulis, dan mengarang dengan baik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. STIMULASI JANIN

Pada tahun 1925, Peiper untuk pertama kalinya meneliti perilaku janin. Ia mengamati reaksi gerakan janin pada akhir masa kehamilan akibat bunyi keras dan melengking dari sepeda motor yang berada dekat dengan perut ibunya. Janin ini ternyata membuat suatu gerakan yang nyata. Jika percobaan ini diulang-ulang ternyata janin tidak lagi bereaksi. Peiper menarik kesimpulan bahwa janin mampu mendengar.

Penelitian-penelitian mutakhir dengan peralatan canggih dan metodologi yang lebih baik terfokus pada dua bidang: perilaku janin dalam kandungan, dan bayi yang baru lahir. Feijee (1981, melaporkan janin usia kehamilan 30-37 minggu yang pada awalnya selalu bergerak, akan menghentikan gerakan setelah diperdengarkan musik yang sama untuk ke-24 kalinya. Efek ini mampu dipertahankan setelah bayi tersebut lahir 6 menit: bayi berhenti menangis, membuka matanya, dan lebih tenang saat ia diperdengarkan musik yang pernah didengarnya saat dijanin.
Jadi, janin menjadi terbiasa dengan rangsangan yang sama.

Efek kebiasaan yang sebenarnya bukan sekadar adaptasi dilaporkan mampu diperlihatkan oleh janin usia kehamilan 28-37 minggu (Madisen, 1986). Kebiasaan ini dapat berefek menurunkan reaksi gerakan tubuh juga detak jantung. Penelitian pada bayi baru lahir dilakukan oleh Salk(1962), menunjukkan bahwa bayi baru lahir dapat bereaksi terhadap nada dengan frekuensi normal detak jantung ibu, dan menjadi gelisah saat diperdengarkan nada 72 kali/menit, berat badannya lebih besar, jarang menangis, juga lebih cepat tertidur. Pada umur 3hari, bayi mampu mengubah pola mengisap puting susu ibu jika mendengar suara ibunya, tetapi tidaklah demikian dengan suara ayahnya (Casper, Spencer 1980). Demikian juga halnya saat diperdengarkan cerita novel yang telah dibaca ibunya saat mengandung, sekalipun cerita tersebut dibacakan oleh wanita lain (Casper, Spencer1986).

Bagaimanakah mekanisme belajar janin tersebut? Menurut Rappert (1988), peneliti laboratorium Chronobiology Harvard Medical School, janin dapat mengenal suara dan cahaya dari luar melalui mekanisme konduksi pasif melintasi jaringan tubuh ibunya. Sedangkan menurut Salk (1960),janin belajar mengenal detak jantung ibunya melalui mekanisme “imprinting”.

Kemampuan belajar janin, secara tidak langsung menunjukkan janin mampu menerima rangsang sensoris, berasosiasi, dan mengingat. Adanya kekurangan dari kemampuan tersebut mungkin merupakan indikator gangguan-gangguan di masa mendatang, misalnya ketidakmampuan belajar atau adanya retardasi mental. Secara teoritis, jika janin dapat mengalami hal-hal yang positif selama dalam rahim, maka hal yang sebaliknya mungkin juga terjadi. Salah satu teori terjadinya depresi pada seseorang adalah belajar tidak berdaya. Ini dapat terjadi jika ia mendapatkan suatu rangsangan yang tidak dikenali, tak terhindarkan, dan ia tidak mampu menanggulanginya. Janin hanya memiliki sedikit kemampuan untuk menanggulangi rangsangan yang diterimanya. Beberapa rangsangan yang mungkin merugikan adalah suara keras, nikotin, dan yang paling menarik adalah stres. Reaksi janin terhadap emosi ibu termasuk stres mungkin melalui hormon yang melindungi plasenta, peningkatan tekanan arterial ibu, atau peningkatan tonus otot rahim yang dapat membatasi ruang geraknya.

Kelahiran janin dari ibu yang mengalami stres akan menyebabkan bayi lahir dengan predisposisi menderita gangguan jiwa di kemudian hari. Pada kondisi ketidakberdayaan tubuh akan banyak mengeluarkan hormon kortisol yang dapat menyebabkan turunnya daya kekebalan tubuh dan pada gilirannya nanti akan menyebabkan penyakit-penyakit psikosomatis. Akan tetapi pengetahun kita saat ini mengenai perilaku janin khususnya kemampuan belajarnya belum lengkap. Populasi normal kemampuan belajarnya yang sangat diperlukan untuk pedoman diagnosis belum diketahui. Namun dengan bukti-bukti bahwa stimulasi janin mampu meningkatkan perkembangan fisik, kematangan, dan kemampuan bayi, maka stimulasi umum pada janin tampaknya merupakan alternative yang dapat dipilih. Dengan adanya kemajuan teknologi dan peningkatan minat meneliti perilaku janin, maka di masa mendatang pengetahuan ini akan sangat bermanfaat, untuk membentuk manusia-manusia berkualitas sejak di dalam kandungan.

  1. BRAIN BOOSTER

Brain booster adalah pendorong / penguat otak. Brain booster merupakan suatu program yang diberikan pada ibu hamil. Hal ini bertujuan untuk membantu proses pertumbuhan dan perkembangan janin, terutama otak. Program brain booster ini bisa dimulai sejak usia kehamilan. Dengan melakukan stimulasi janin akan mengarahkan sel neuron yang akan membentuk sistem sensorik, motorik. Stimulasi ini bisa dilakukan dengan sentuhan mulai usia janin 8 minggu, pada saat itu sensitivitas janin terhadap sentuhan sudah mulai terbentuk. Stimulasi bunyi dengan cara berbicara dengan janin dengan suasana yang tenang dan mengucapkan secara perlahan. Kemudian juga bisa dengan rangsangan alunan musik atau bacaan tilawah qur’an.

Nutrisi yang sangat dibutuhkan untuk mengungkit kecerdasan otak antara lain suplemen Vit A 1400 iu, Vit C 225 mg, Vit E 15 mg, Vit B6 2mg, Folic acid 400 mcg, Vit B123 mcg, Ca 500 mg, Fe 10 mg, DHA 95 mg, Fish Oil 400 mg. Tablet ini diberikan pada saat ibu melakukan pemeriksaan kehamilan pada awal usia kehamilan.

Biasanya dalam program brain booster ini, ibu hamil diberi asam folat yang mengandung DHA dan omega. Asam folat ini lebih baik diberikan pada trisemester pertama kehamilan.

Fungsi asam folat antara lain:

a)      Membantu untuk proses pembentukan jaringan, terutama otak. Diberikan dengan jumlah yang cukup, tidak boleh kurang atau lebih. Asam folat dapat diperoleh pada bayam, kacang-kacangan dan sayuran hijau. Sedangkan omega banyak ditemukan pada ikan laut

b)      Nutrisi secara keseluruhan pada proses pembentukan jaringan / organ tubuh. Zat seng (Zinc) juga berperan pada proses tersebut.

Asam folat sebaiknya diberikan sejak dini (sejak diketahui hamil). Jika mengkonsumsi asam folat berlebihan akan bisa berpengaruh tidak baik bagi bayi, yaitu terjadi penumpukan asam folat pada tubuh bayi dan akibatnya bayi bisa menjadi tempramental, menangis terlalu keras, gerakan kaku, kegemukan, tidak bisa diam, selalu menangis kalau merasa tidak nyaman, menangis hingga tremor, dsb.

Pada trimester I, yang terbentuk pertama adalah otak dan bagian eksoderm. Brain booster-nya antara lain makanan / nutrisi, sentuhan untuk stimulasi. Janin bisa merasakan sentuhan, bisa melihat, mengecap, dan membau.

Jalan-jalan pagi bagi ibu hamil sebaiknya dilakukan setelah waktu subuh, hal inilah yang paling bagus untuk perkembangan calon bayi.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL NORMAL

G1P0Ab0Ah0 UK 12 minggu

di RSUD Wirosaban

DATA SUBJEKTIF

Ny. Sumarni (23 tahun) mengatakan hamil ke-1, umur kehamilan 2,5 bln,

HPMT  1 Januari 2010

Keluhan utama : Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya dan ingin mengetahui perkembangan janinnya.

DATA OBJEKTIF

Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis

BB     : 52 kg

LILA : 24 cm

Tanda Vital:

TD                    : 110/70 mmHg

S                       : 36ºC

N                     : 84 x/menit

RR                   : 22 x/ menit

Pemeriksaan Penunjang  à HB : 11,5 gr%

ASSESMENT

  1. Diagnosa Kebidanan   :

Seorang ibu, umur 27 tahun G1P0Ab0Ah0 UK 12 minggu dengan kehamilan normal.

  1. Masalah

Untuk saat ini tidak ada.

  1. Kebutuhan segera : untuk saat ini tidak ada
  2. Diagnosa Potensial : untuk saat ini tidak ada
  3. Masalah Potensial : untuk saat ini tidak ada
  4. Kebutuhan tindakan segera : untuk saat ini tidak ada

PENATALAKSANAAN

  1. Memberitahu ibu bahwa keadaan ibu dan janin saat ini baik.
  2. Menjelaskan kepada ibu tentang nutrisi pada ibu hamil yang menunjang perkembangan otak janin.
  3. Menjelaskan kepada ibu tentang cara melakukan stimulasi  pada janin, yaitu dengan melakukan sentuhan mulai usia janin 8 minggu, pada saat itu sensitivitas janin terhadap sentuhan sudah mulai terbentuk. Stimulasi bunyi dengan cara berbicara dengan janin dengan suasana yang tenang dan mengucapkan secara perlahan. Kemudian juga bisa dengan rangsangan alunan musik.
  4. Memberikan suplemen kepada ibu, yaitu : Vit A 1400 iu, Vit C 225 mg, Vit E 15 mg, Vit B6 2mg, Folic acid 400 mcg, Vit B123 mcg, Ca 500 mg, Fe 10 mg, DHA 95 mg, Fish Oil 400 mg.

Tablet besi dan folic acid diminum sebelum tidur (karena mempunyai efek samping mual muntah),  satu kali sehari, sebaiknya diminum dengan air jeruk atau air putih. Hindari dengan teh, susu dan kopi karena akan mengganggu penyerapan.

  1. Menyarankan ibu untuk istirahat cukup dan tidak melakukan pekerjaan berat.
  2. Memberitahu ibu untuk datang I bulan lagi tanggal 30 April 2010

BAB III

PENUTUP

Setiap anak memiliki tingkat intelegensi yang berbeda – beda, namun tingkat inteegensi anak tersebut data dirangsang dan diasah mulai dini bahkan sejak dalam kandungan.. Ada beberapa cara mengasah intelegensi anak sehingga sehingga akan menghasilkan generasi yang berkualitas.

  • Stimulasi janin

Jika janin distimulasi rangsangan yang sama secara terus menerus maka janin akan terbiasa dan mulai menyesuaikan diri dengan rangsangan yang diterima untuk menanggapinya. Contohnya janin usia kehamilan 30-37 minggu yang pada awalnya selalu bergerak, akan menghentikan gerakan setelah diperdengarkan musik yang sama untuk ke-24 kalinya. Efek ini mampu dipertahankan setelah bayi tersebut lahir 6 menit: bayi berhenti menangis, membuka matanya, dan lebih tenang saat ia diperdengarkan musik yang pernah didengarnya saat dijanin.

  • Brain boster

Brain booster adalah pendorong / penguat otak

membantu proses pertumbuhan dan perkembangan janin, terutama otak. Program brain booster ini bisa dimulai sejak usia kehamilan. Stimulasi ini bisa dilakukan dengan sentuhan mulai usia janin 8 minggu, pada saat itu sensitivitas janin terhadap sentuhan sudah mulai terbentuk. Rangsangan ini dapat dilakukan dengan cara berbicara dengan janin, mendengarkan alunan musik lembut. Dalam program brain booster ini, ibu hamil diberi asam folat yang mengandung DHA dan omega. Selain itu nutrisi untuk menunjang perkembangan otak janin yang penting adalah vitamin A,C,A,Ca,Fe,dll.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah06309-01.htm

http://www.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=830

http://keluargacemara.com/featured/agar-anak-pintar-sejak-dalam-kandungan.html

http://keluargacemara.com/pendidikan/pendidikan-anak/anak-cerdas-dan-kreatif-berkat alunan-musik.html

BAB I

PENDAHULUAN

Pembangunan Nasional mencakup upaya peningkatan semua segi kehidupan bangsa. Agar penduduk dapat berfungsi sebagai modal pembangunan dan merupakan sumberdaya manusia yang efektif dan produktif maka perlu ditingkatkan kualitas fisik dan nonfisik  Salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan dalam mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia adalah gizi. Pentingnya gizi dalam pembangunan kualitas hidup didasarkan pada beberapa hal yaitu: pertama keadaan gizi erat hubungannya dengan tingginya angka kesakitan dan angka kematian; kedua meningkatnya keadaan gizi penduduk merupakan sumbangan yang besar dalam mencerdaskan bangsa; ketiga lebih baiknya status gizi dan kesehatan akan memperbaiki tingkat produktifitas kerja penduduk. Masalah gizi di Indonesia tidak lepas dari masalah pangan karena tubuh manusia memerlukan sejumlah pangan dan gizi secara tetap sesuai dengan standart kecukupan gizi namun kebutuhan tersebut tidak selalu dapat terpenuhi.

Penduduk yang miskin tidak mendapatkan pangan dan gizi dalam jumlah yang cukup. Mereka menderita lapar pangan dan gizi mereka menderita lapar gizi. Sebaliknya sekelompok masyarakat mengkonsumsi pangan secara berlebihan. Oleh karena itu timbullah penyakit-penyakit degeneratif akibat gizi lebih. Akibat dari keadaan tidak seimbangnya antara zat gizi yang masuk kedalam tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi.

Di Indonesia penyakit gangguan gizi yang masih sering ditemukan dan merupakan masalah gizi utama adalah :

a). gangguan gizi akibat kekurangan kalori dan protein (KKP),

b). gangguan gizi akibat kekurangan vitamin A (KVA),

c). gangguan gizi akibat kekurangan Iodium (GAKI),

d). gangguan gizi akibat kekurangan zat besi (Anemia gizi)

Anemia gizi pada umumnya dijumpai di Indonesia terutama disebabkan karena kekurangan zat besi, sehingga anemia gizi sering disebut sebagai anemia kurang besi  Disamping itu kekurangan asam folat dapat merupakan faktor kontribusi terhadap terjadinya anemia, terutama terjadi pada segmen populasi tertentu yaitu ibu hamil. Kekurangan vitamin B 12 tidak umum terjadi, dan tidak mempunyai peranan penting dalam penyebab terjadinya anemia gizi.

Anemia kurang besi adalah salah satu bentuk gangguan gizi yang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di seluruh dunia, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyebab utama anemia kurang besi tampaknya adalah karena konsumsi zat besi yang tidak cukup dan absorbsi zat besi yang rendah dari pola makanan yang sebagian besar terdiri dari nasi, dan menu yang kurang beraneka ragam. Konsumsi zat besi dari makanan tersebut sering lebih rendah dari dua pertiga kecukupan konsumsi zat besi yang dianjurkan, dan susunan menu makanan yang dikonsumsi tergolong pada tipe makanan yang rendah absorbsi zat besinya. Selain itu infeksi cacing tambang memperberat keadaan anemia yang diderita pada daerah-daerah tertentu, terutama di daerah pedesaan.

Kelompok masyarakat yang paling rawan adalah ibu hamil, anak prasekolah dan bayi. Terjadinya anemia pada bayi erat hubungannya dengan taraf gizi ibunya. Berkurangnya zat besi dalam makanan, meningkatnya kebutuhan akan zat besi, atau kehilangan darah yang khronis dan adanya infeksi kecacingan akan menambah kemungkinan timbulnya anemia.

Anemia kurang besi merupakan penyebab penting yang melatar belakangi kejadian morbiditas dan mortalitas, yaitu kematian ibu pada waktu hamil dan pada waktu melahirkan atau nifas sebagai akibat komplikasi kehamilan. Sekitar 20 % kematian maternal negara berkembang penyebabnya adalah berkaitan langsung dengan anemia kurang besi. Disamping pengaruhnya kepada kematian, anemia pada saat hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin, berat bayi lahir rendah dan peningkatan kematian perinatal.

Berdasarkan hasil penelitian terpisah yang dilakukan di beberapa tempat di Indonesia pada tahun 1980, prevalensi pada ibu hamil berkisar antara 50-70 %, wanita dewasa tidak hamil 30-40 %, laki-laki dewasa 20-30 %, pekerja berpenghasilan rendah 30-40 % dan anak sekolah 25-35 % serta Balita 30-40 % .

Dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992 menemukan bahwa angka prevalensi anemia gizi ibu hamil cukup tinggi yaitu 55,1 %. Keadaan ini menunjukkan bahwa masalah anemia pada ibu hamil belum banyak berubah dibandingkan pada akhir Pelita IV yang juga masih sekitar 55 % (12).

Prevalensi anemia kurang besi pada ibu hamil masih sangat memprihatinkan terutama pada usia kehamilan trimester III dibandingkan trimester I. Infeksi kecacingan di Indonesia, prevalensinya juga cukup tinggi terutama di daerah pedesaan yang kondisi lingkungannya sangat mendukung untuk perkembangan cacing yang daur hidupnya adalah di dalam tanah. Hasil survei yang telah diadakan hingga saat ini memberikan prevalensi yang cukup tinggi yaitu 70-90 % untuk cacing gelang, 80-95 % untuk cacing cambuk dan untuk cacing tambang prevalensinya lebih rendah dari kedua di atas yaitu 30-59%, karena untuk cacing tambang lebih banyak ditemukan di daerah perkebunan dan pertambangan .

Anemia kurang besi dipengaruhi juga oleh konsekuensi dari infeksi kecacingan dengan hilangnya darah secara khronis . Penyakit kecacingan dan anemia gizi merupakan masalah yang saling terkait dan dijumpai bersamaan dalam suatu masyarakat, yaitu karena rendahnya sosial ekonomi masyarakat dan sanitasi lingkungan yang sangat tidak memadai sehingga memudahkan terjadinya penularan penyakit infeksi terutama infeksi kecacingan.

Interaksi antara infeksi kecacingan dan anemia gizi sudah banyak terungkap dari berbagai penelitian yang telah dilakukan. Masing-masing saling memberikan kontribusi terhadap terjadinya kesakitan. Besarnya kontribusi dari infeksi kecacingan terhadap anemia kurang besi masih belum banyak dibuktikan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kecacingan merupakan masalah kesehatan yang perlu penanganan serius terutama di derah tropis karena cukup banyak penduduk menderita kecacingan.  Penyakit kecacingan merupakan salah satu penyakit infeksi yang paling sering ditemukan di negara-negara berkembang. Di Indonesia penyakit kecacingan masih merupakan masalah yang besar untuk kasus anemia defisiensi besi, karena diperkirakan cacing menghisap darah 2-100 cc setiap harinya (Nasution, 2004).

Cacingan dan anemia merupakan dua hal saling terkait. Isu kesehatan seperti cacingan dan anemia tidak mendapat banyak perhatian karena dipandang tidak “seseksi” isu-isu kesehatan yang lain. Menurut Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), anemia merupakan isu yang kritis, khususnya kalau dihubungkan dengan angka kematian ibu melahirkan (AKI) akibat anemia berkisar 70 persen dari seluruh penyebab AKI sejak 20 tahun lalu yang ahttp://www.pppl.depkes.go.id/ngkanya tidak pernah turun tiap tahunnya.

Secara umum, kecacingan pada ibu hamil dapat menyebabkan :

  1. Menyebabkan anemia defisiensi zat besi

Infeksi kecacingan pada manusia baik oleh cacing gelang, cacing cambuk maupun cacing tambang dapat menyebabkan pendarahan yang menahun yang berakibat menurunnya cadangan besi tubuh dan akhirnya menyebabkan timbulnya anemia kurang besi. Pada daerah-daerah tertentu anemia gizi diperberat keadaannya oleh investasi cacing terutama oleh cacing tambang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan memakan darah. Akibat gigitan sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari dalam badan bersama tinja. Jumlah cacing yang sedikit belum menunjukkan gejala klinis tetapi bila dalam jumlah yang banyak yaitu lebih dari 1000 ekor maka orang yang bersangkutan dapat menjadi anemia.

  1. Menurunkan efektivitas vaksin TT dan DPT pada ibu hamil

Infeksi cacing merupakan masalah kesehatan di negara-negara tropis, termasuk Indonesia, yang terabaikan. Padahal, infeksi cacing kronis menurunkan respons imun pada ibu hamil dan bayi yang dilahirkan terhadap antigen tetanus toksoid atau TT meski telah divaksinasi. Respon imun terhadap TT pada ibu hamil yang rendah dan ditambah infeksi cacing yang menyertai, dimungkinkan akan berakibat pada bayi yang dilahirkan.

Infeksi tetanus merupakan penyakit yang dapat dicegah. Di sejumlah negara maju di mana kontrol terhadap sanitasi, higienis, dan penyakit infeksi seperti cacing sudah berhasil, pemberian vaksinasi tetanus sangat efektif untuk menurunkan angka kasus infeksi tetanus. Di lain pihak, vaksinasi TT di negara-negara tropis dan berkembang kurang optimal hasilnya.

Sejumlah studi membuktikan, antigen dari ibu hamil terinfeksi cacing dapat menembus plasenta dan menstimulasi sistem imun janin yang dikandung. Keadaan ini akan memengaruhi respons imun bayi pada antigen lain seperti vaksin.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan banyaknya kasus kegagalan program vaksinasi tetanus di daerah Asia dan Afrika terkait dengan beberapa faktor, seperti ketidaktepatan jadwal imunisasi, potensi vaksin rendah, serta rendahnya respons imun ibu. Padahal, angka kasus infeksi cacing di banyak negara di Asia dan Afrika masih tinggi.

  1. Menurunkan berat badan ibu hamil

Kekurangan micronutrient dalam darah menyebabkan pasokan gizi ibu hamil dan janin berkurang. Keadaan yang demikian jika dibiarkan berlanjut selama kehamilan akan meyebabkan berat badan ibu hamil tidak bertambah bahkan bisa berkurang karena cadangan gizi ibu hamil ditujukan untuk pertumbuhan janin.

  1. Menyebabkan perdarahan pada usus

Perdarahan terjadi akibat proses penghisapan aktif oleh cacing dan juga akibat perembesan darah disekitar tempat hisapan. Cacing berpindah tempat menghisap setiap 6 jam perdarahan ditempat yang ditinggalkan segera berhenti dan luka menutup kembali denqan cepat karena turn over sel epithel usus sangat cepat.

Kehilangan darah yang terjadi pada infeksi kecacingan dapat disebabkan oleh adanya lesi yang terjadi pada dinding usus juga oleh karena dikonsumsi oleh cacing itu sendiri walaupun ini masih belum terjawab dengan jelas termasuk berapa besar jumlah darah yang hilang dengan infeksi cacing ini.

5.  Menyebabkan kekurangan mikronutrien ibu hamil

Cacing pada usus ibu hamil selain menyebabkan perdarahan, juga menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi makanan yang masuk. Jika selama kehamilan tersebut cacing masih terdapat pada usus, maka penyerapan micronutrient akan terganggu. Micronutrient dalam darah cenderung menurun.

Pada ibu hamil, kekurangan micronutrient menyebabkan menurunnya kemampuan untuk melahirkan anak-anak yang sehat dan berotak cerdas. Sementara cacing trikhuris dapat menimbulkan perdarahan kecil yang dapat menimbulkan anemia, meski tak separah cacing tambang.

Komplikasi

  1. Bila cacing dalam jumlah besar menggumpal dalam usus dapat terjadi obstruksi usus (ileus)
  2. Anemia berat
  3. Perdarahan
  4. BBLR
  5. Kecacingan berat dapat menyebabkan radang paru, gangguan hati, kebutaan, penyumbatan usus, bahkan kerusakan tubuh secara signifikan yang meninggalkan kecacatan

Diagnosis

Dilakukan skrining uji feces pada ibu hamil. Untuk mengetahui banyaknya cacing di dalam usus dapat dilakukan dengan menghitung banyaknya telur dalam tinja. Bila didalam tinja terdapat sekitar 2000 telur/ gram tinja, berarti ada kira-kira 80 ekor cacing tambang di dalam perut dan dapat menyebabkan darah yang hilang kira-kira sebanyak 2 ml per hari. Dengan jumlah 5000 telur/gram tinja adalah berbahaya untuk kesehatan orang dewasa. Bila terdapat 20.000 telur/gram tinja berarti ada kurang lebih 1000 ekor cacing tambang dalam perut yang dapat menyebabkan anemia berat.

Tanda dan Gejala Klinis

Tanda Kecacingan adalah ditemukan minimal 2000 telur/gram tinja.

Gejala-gejala cacingan antara lain:

  1. Perut buncit
  2. Gatal-gatal sekitar anus
  3. Muntah ada cacing
  4. Cacing dalam kotoran
  5. Anemia atau kurang darah
  6. Penyumbatan usus
  7. Fesesnya encer, kadang bercampur lendir dan darah, cacing tampak keluar dalam feses

Penanganan

Pada kondisi hamil, selama sepertiga pertama kehamilan (trimester pertama) sebaiknya tidak minum obat yang membunuh cacing. Namun, langkah-langkah kebersihan saja dapat bekerja. Cacing mati setelah sekitar enam minggu. Dengan syarat ibu hamil tidak menelan telur baru, maka tidak ada cacing baru akan tumbuh. Selama 6 minggu tersebut ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan untuk mematahkan siklus cacing sehingga tidak terjadi re-infeksi. Setelah trimester pertama, pengobatan mungkin perlu dilakukan namun harus dibawah pengawasan dokter. Obat yang biasa digunakan yaitu :

  1. Pirantel pamoat 10 mg/kg BB per hari selama 3 hari.
  2. Mebendazol 500 mg dosis tunggal (sekali saja) atau 100 mg 2 x sehari selama tiga hari berturut-turut
  3. Albendazol 400 mg dosis tunggal (sekali saja)
  4. Ditambah sulfas ferrous 500 mg 2 x sehari

Langkah pencegahan :

Pertama, bertujuan untuk membersihkan telur:

  1. Mencuci pakaian tidur, sprei, handuk.  Membuang kain setelah digunakan. Perhatian khusus pada kamar tidur termasuk debu kasur.
  2. Benar-benar membersihkan kamar mandi.

Kemudian, setiap anggota rumah tangga harus melakukan berikut ini selama dua minggu:

  1. Tidak menyentuh kulit di dekat anus dan menggaruk daerah anus
  2. Setiap pagi mandi mencuci di sekitar dubur langsung setelah bangun dari tempat tidur.
  3. Idealnya, perubahan dan mencuci pakaian tidur setiap hari.

Dan kebersihan umum langkah-langkah yang harus selalu bertujuan untuk lakukan untuk mencegah mendapatkan infeksi cacing lagi:

  1. Cuci tangan dan gosok di bawah kuku di pagi hari, setelah menggunakan toilet atau, dan sebelum makan atau menyiapkan makanan.
  2. Cobalah untuk tidak menggigit kuku atau menghisap jari
  3. Jika mungkin, hindari berbagi handuk atau flanel. Bilas dengan baik sebelum digunakan.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN KECACINGAN

KASUS:

Seorang ibu primigravida umur 22 tahun, HPMT: 15 Desember 2009, HPL : 22 September 2010. Umur Kehamilan 9 minggu 1hari. Mengeluh merasa dan gatal-gatal pada telapak kaki  sejak 3 minggu yang lalu, tinja encer ketika BAB dan mual muntah ±3 kali dalam 1 hari. Ibu bekerja sebagai  ibu rumah tangga.

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

G1P0Ab0Ah0 umur 22 tahun uk 9 minggu, normal

Di BPRB Amanah Husada.

Tanggal Pengkajian     : 17 Februari 2010, jam 14.00

Data Subjektif

  1. Ibu mengatakan bahwa ia merasa gatal-gatal pada telapak kaki sejak 3 minggu yang lalu.
  2. Ibu mengeluh mual, muntah dengan frekuensi ± 3kali sehari dan tinja encer ketika BAB.

Data Objektif

  1. Pemeriksaan fisik
    1. Keadaan umum     : Baik. Kesadaran : compos mentis
    2. Tanda vital

Tekanan darah       : 120/80 mmHg

Nadi                      : 86 kali permenit

Pernafasan : 12 kali permenit

Suhu                      : 36.6 0C

  1. BB: 47 kg
  2. Kepala dan leher

Mata :konjungtiva merah muda, sklera putih, tidak ada odem palpebrae.

Mulut : bibir lembab, gusi merah muda, tidak ada caries gigi, tidak ada pembesaran tonsil.

  1. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium (feces)

Tanggal 16 Februari 2010 jam : 10.00

Hasil pemeriksaan : Terdapat sekitar 2000 telur/ gram tinja dengan jenis cacing ankilostomiasis.

ASSESMENT

  1. Diagnosis Kebidanan

G1P0Ab0Ah0 umur 22 tahun, uk 9 minggu dengan kecacingan.

  1. Masalah

Gatal-gatal pada sekitar telapak kaki dan mual muntah.

  1. Kebutuhan

KIE tentang cara menjaga kebersihan dan cara mengatasi mual dan muntah yang dialami ibu.

  1. Diagnosis Potensial

Kecacingan potensial menjadi anemia.

  1. Masalah Potensial

Untuk saat ini tidak ada

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Tidak ada

  1. Kolaborasi

Laboratorium Avicena untuk pemeriksaan feces

  1. Merujuk

Tidak ada

PLANNING ( Termasuk Pendokumentasian implementasi dan Evaluasi )

Tanggal 17 Februari 2010 jam 14.20 WIB

  1. Memberitahu ibu bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium ibu menderita kecacingan.

E: Ibu mengerti dengan kondisinya sekarang.

  1. Memberi KIE kepada ibu tentang cara meringankan mual dan muntah yang dialami ibu yaitu:
    1. Makan dengan porsi sedikit tetapi sering
    2. Mengkonsumsi biskuit atau roti kering untuk mengurangi muntah
    3. Menghindari makanan yang berbumbu tajam.
    4. Berhati-hati setiap kali bangun dari tempat tidur, tunggu 5-10 menit dahulu baru kemudian diperkenankan untuk bangun.

E: Ibu mampu untuk menyebutkan kembali bagaimana cara untuk meringankan mual dan muntah yang dialaminya.

  1. Memberi KIE kepada ibu tentang bagaimana mengatasi kecacingan yang dialaminya, yaitu :

Pada kondisi hamil tiga bulan pertama, sebaiknya ibu tidak minum obat yang membunuh cacing karena cacing mati setelah sekitar enam minggu. Tetapi ibu perlu untuk meningkakan kebersihan dirinya. Selama 6 minggu tersebut ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan sehingga cacing tidak berkembangbiak kembali.

Cara meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan misalnya dengan cara:

  1. Menjaga kebersihan dengan mencuci pakaian tidur, sprei, handuk
  2. Benar-benar membersihkan kamar mandi, sering mencuci kain dengan air panas.
  3. Menjaga kebersihan makanan dan mencuci tangan sebelum makan.

E: Ibu mampu menyebutkan kembali bagaimana cara meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan..

  1. Memberikan suplement kepada ibu yaitu tablet besi 1×1 250 mg yang diminum malam hari dan yang diminum tiap pagi.

Menyarankan ibu untuk mengkonsumsi tablet besi menggunakan air jeruk dan tidak menggunakan air teh, susu atau kopi.

E: Ibu bersedia untuk minum suplement secara teratur dan ibu mampu menyebutkan kembali bagaimana cara minum suplement dengan benar.

  1. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1 bulan kemudian yaitu tanggal 17 Maret 2010.

E: Ibu akan melakukan kunjungan ulang pada tanggal 17 Maret 2010.

DAFTAR PUSTAKA

Cacingan, Anemia, AKI, Gaya Hidup diunduh tanggal 23 Maret 2010 jam 19.00 WIB dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0411/01/swara/1356956.htm.

http://indobic.biotrop.org diunduh tanggal 13 Maret 2010 jam 21.00 WIB

Threadworms diunduh tanggal 29 Maret 2010 jam 12.30 WIB dari http://www.patient.co.uk/health/Threadworms.htm.

Mencegah dan Mengatasi Cacingan diunduh tanggal 29 Maret 2010 jam 10.05 WIB dari http://www.dechacare.com/Mencegah-dan-Mengatasi-Cacingan-I757.html

Anemia Defisiensi Besi diunduh tanggal 29 Maret 2010 jam 12.15 WIB dari http://www.pppl.depkes.go.id/

Rubrik Sehat diunduh tanggal 27 Maret 2010 jam 16.00 WIB dari http://www.tabloid-nakita.com/artikel

MAKALAH

ASUHAN KEBIDANAN pada BAYI

dengan TETANUS NEONATORUM

BAB I

PENDAHULUAN

Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 – 28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Peralihan dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan faali. Namun, banyak masalah pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan gangguan atau kegagalan penyesuaian biokimia dan faali.

Masalah pada neonatus ini biasanya timbul sebagai akibat yang spesifik terjadi pada masa perinatal. Tidak hanya merupakan penyebab kematian tetapi juga kecacatan. Masalah ini timbul sebagai akibat buruknya kesehatan ibu, perawatan kehamilan yang kurang memadai, manajemen persalinan yang tidak tepat dan tidak bersih, serta kurangnya perawatan bayi baru lahir.

Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Salah satu kasus yang banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan rendah adalah kasus tetanus. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan, kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. Mortalitasnya sangat tinggi karena biasanya baru mendapat pertolongan bila keadaan bayi sudah gawat. Penanganan yang sempurna memegang peranan penting dalam menurunkan angka mortalitas. Tingginya angka kematian sangat bervariasi dan sangat tergantung pada saat pengobatan dimulai serta pada fasilitas dan tenaga perawatan yang ada.

Di Indonesia, sekitar 9,8% dari 184 ribu kelahiran bayi menghadapi kematian. Contoh, pada tahun 80-an tetanus menjadi penyebab pertama kematian bayi di bawah usia satu bulan. Namun, pada tahun 1995 kasus serangan tetanus sudah menurun, akan tetapi ancaman itu tetap ada sehingga perlu diatasi secara serius. Tetanus juga terjadi pada bayi, dikenal dengan istilah tetanus neonatorum, karena umumnya terjadi pada bayi baru lahir atau usia di bawah satu bulan (neonatus). Penyebabnya adalah spora Clostridium tetani yang masuk melalui luka tali pusat, karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan.

Dengan tingginya kejadian kasus tetanus ini sangat diharapkan bagi seorang tenaga medis, terutama seorang bidan dapat memberikan pertolongan/tindakan pertama atau pelayanan asuhan kebidanan yang sesuai dengan kewenangan dalam menghadapi kasus tetanus neonatorum.


BAB II

LANDASAN TEORI

  1. DEFINISI

Neonatus adalah organisme pada periode adaptasi kehidupan intra uterus ke kehidupan intra uterin hingga berusia kurang dari 1 bulan. (Asri Rosad, 1987)

Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus yang disebabkan oleh clostridium tetani yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) yang menyerang sistem saraf pusat. (Abdul Bari Saifuddin, 2000).

  1. PENYEBAB

Penyebab penyakit ini adalah clostridium tetani Kuman ini bersifat anaerobik dan mengeluarkan eksotoksin yang neorotropoik.. Clostridium tetani berbentuk batang langsing, tidak berkapsul, gram positip. Dapat bergerak dan membentuk spora. Spora tersebut kebal terhadap berbagai bahan dan keadaan yang merugikan termasuk perebusan, tetapi dapat dihancurkan jika dipanaskan dengan otoklaf. Kuman ini dapat hidup bertahun-tahun di dalam tanah, asalkan tidak terpapar sinar matahari, selain dapat ditemukan pula dalam debu, tanah, air laut, air tawar dan traktus digestivus manusia serta hewan. Tetanus tidak menularkan dari orang ke orang. Tetanus hanya dapat terjadi jika bakteri berubah bentuk menjadi bentuk vegetatif dalam tubuh manusia. Sebenarnya bakteri ini menghasilkan 3 toksin namun tetanospasmin merupakan penyebab timbulnya tetanus.

  1. TANDA DAN GEJALA

Masa inkubasi penyakit adalah 5-14 hari sehingga .Gejala dan tanda tersebut biasanya muncul dalam waktu 5-10 hari setelah terinfeksi, tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi. Gejala yang paling umum terjadi adalah kekakuan pada rahang sehingga penderita tidak dapat membuka mulut, dan menelan  serta bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, dan bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.

Bisa juga dengan melihat gejala klinis atau yang lebih jelas lagi, seperti:

  1. Mulut mencucu seperti mulut ikan (karpemound)
  2. Bayi tiba-tiba panas.
  3. Bayi yang semula dapat menetek menjadi sulit menetek karena kejang pada otot faring (tenggorok dan rahang).
  4. Mudah sekali kejang disertai sianosis (biru), kejang terutama apabila terkena cahaya, suara dan sentuhan.
  5. Kejang, otot kaku/spasm dengan kesadaran tak terganggu. Kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi penderita seperti menyeringai dengan kedua alis yang terangkat. Kekakuan atau kejang pada otot-otot perut, leher, dan punggung dapat menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik ke belakang, sedangkan badannya melengkung ke depan(kaku duduk sampai opisthotonus) . Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah akan menyebabkan sembelit dan tertahannya air kemih.
  6. Dinding perut tegang (perut papan)
  1. PENCEGAHAN

Pemberian toxoid tetanus kepada ibu hamil 3 x berturut-turut pada trimester ke-3 dikatakan sangat bermanfaat untuk mencegah tetanus neonatorum. Pemotongan tali pusat harus menggunakan alat yang steril dan perawatan tali pusat selanjutnya.

  1. PENATALAKSANAAN
    1. Pemberian saluran nafas agar tidak tersumbat dan harus dalam keadaan bersih.
    2. Pakaian bayi dikendurkan/dibuka
    3. Mengatasi kejang dengan cara memasukkan tongspatel atau sendok yang sudah dibungkus kedalam mulut bayi agar tidak tergigit giginya dan untuk mencegah agar lidah tidak jatuh kebelakang menutupi saluran pernafasan.
    4. Ruangan dan lingkungan harus tenang
    5. Bila tidak dalam keadaan kejang berikan ASI sedikit demi sedikit, ASI dengan menggunakan pipet/diberikan personde (kalau bayi tidak mau menyusui).
    6. Perawatan tali pusat dengan teknik aseptic dan antiseptic.
    7. Selanjutnya rujuk kerumah sakit, beri pengertian pada keluarga bahwa anaknya harus dirujuk ke RS.
  1. MEDIK DAN PERAWATAN

Menurut Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002 :

  1. Diberikan cairan intravena dengan larutan glukosa 5% dan NaCl fisiologis 4-1 selama 48-72 jam.
  2. Diazepam dosis awal 2,5 mg IV perlahan-lahan selama 2-3 menit

10.  ATS 10.000/hari, diberikan selama 2 hari berturut-turut dengan IM

11.  Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis selama 10 hari

12.  Tali pusat dibersihkan / dikompresi dengan alkohol 70% betadine 10%.

13.  Rawat diruang yang tenang tetapi harus terang juga hangat

14.  Baringkan pasien dengan sikap kepala ekstensi dengan memberikan gajanl dibawah bahunya.

15.  Beri O2 1-2 liter/menit

16.  Pada saat kejang pasang sudit lidah

17.  Observasi tanda vital secara continue setiap ½ jam

  1. KEBUTUHAN NUTRISI DAN CAIRAN

Akibat keadaan bayi yang payah dan tidak dapat menyusui untuk memenuhi kebutuhannya. Perlu di beri infus dengan cairan glukosa 5%, bila kejang sudah berkurang pemberian makanan dapat diberikan melalui sonde dan sejalan dengan perbaikan, pemberian makanan bayi dapat diubah memakai sendok secara bertahap. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002).

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI

DENGAN TETANUS NEONATORUM

Tgl       : 26 Maret 2010

  1. A. DATA SUBJEKTIF
    1. Keluhan Utama

Ibu mengatakan bahwa bayinya panas, tidak mau menyusu dan kadang-kadang mulut bayinya mencucu seperti mulut ikan disertai kejang.

  1. Riwayat Kesehatan
  2. Riwayat kesehatan sekarang

Ibu mengatakan bayinya panas, kejang dan mulut bayi mencucu seperti mulut ikan

  1. Riwayat kesehatan lalu

Ibu mengatakan bayinya lahir sehat dan tidak pernah menderita penyakit apapun.

  1. Riwayat kesehatan keluarga

Ayah dan ibu mengaku tidak pernah menderita penyakit menular ataupun penyakit keturunan.

  1. Riwayat prenatal dan perinatal
    1. Masa kehamilan : 40 minggu
    2. Tgl lahir : 10 Maret 2010 jam 10.00
    3. Penolong : bidan         di BPS Melati
    4. Jenis persalinan : spontan
    5. Lama persalinan : 13 jam
    6. Komplikasi : tidak ada
    7. Keadaan bayi : BB/PB = 3000gram / 49cm
    8. Status Kesehatan Terakhir
      1. Riwayat Alergi

Ibu mengatakan anaknya tidak mempunyai alergi apapun.

  1. Imunisasi

1)   HepatitisB tgl 10 Maret 2010

2)   BCG tgl 17 Maret 2010

  1. Pola Kebutuhan Dasar
    1. Nutrisi

Sebelum sakit : bayi minum ASI sebanyak 8-12 x/hari

Sesudah sakit : bayi tidak mau menyusui sejak kemarin

  1. Eliminasi

Sebelum sakit : BAB 3 x/hari, BAK 6-10 x/hari

Sesudah sakit : BAB 1 x/hari, BAK 3-4 x/hari

  1. Personal Hygiene

Sebelum sakit : 2 x/hari mandi, tidak pernah membersihkan tali pusat

Sesudah sakit : 2 x/hari mandi

  1. Istirahat

Sebelum sakit : tidur 18-20 jam/hari

Sesudah sakit : tidur 7-9 jam/hari

  1. Aktivitas

Sebelum sakit : bayi aktif tampak bugar dan aktif

Sesudah sakit : bayi lemah, aktivitas terganggu, dan sering merintih menangis

  1. B. DATA OBJEKTIF
    1. Pemeriksaan Umum
      1. Keadaan umum      : bayi tampak lemah dan gelisah
      2. Kesadaran               : composmentis
      3. Tanda-tanda vital   :     nadi     : 124 x/mnt

nafas          : 48 x/mnt

suhu           : 38,60C

  1. Status gizi   : BB/PB : 3000gram/49cm

LK :                      LLA :

  1. Kulit           : warna merah muda
  2. Kuku           : pucat
  3. Kelenjar limfe         : tidak teraba pembesaran
  4. Pemeriksaan Fisik
    1. Kepala

Rambut       :

Ubun-ubun :

Wajah         :

Mata           :

Telinga        :

Hidung       :

Mulut          :

Faring dan laring :

  1. Leher          :
  2. Dada

Bentuk dan besar :

Gerakan      :

Payudara     :

Paru                        :

Jantung       :

  1. Abdomen

Ukuran dan bentuk :

Gerakan      :

Dinding perut :

Auskultasi   :

Perkusi        :

Palpasi        :

  1. Tulang belakang :
  2. Ekstremitas :
  3. Neurologis  : gerakan kurang aktif, kejang
  4. Genetalia    :
  5. Anus dan rektum    :
  6. Pemeriksaan Penunjang
  1. C. ASSESMENT
    1. Diagnosis Kebidanan

Bayi umur 16 hari dengan tetanus neonatorum sedang.

  1. Masalah

Tidak ada

  1. Kebutuhan

Mengatasi kejang dan febris

Pemantauan intake nutrisi dan cairan

  1. Diagnosis Potensial

Potensial terjadi tetanus neonatorum berat hingga sepsis neonatorum.

  1. Masalah Potensial

Tidak ada

  1. Kebutuhan Tindakan Segera
    1. Mandiri

Perawatan bayi dengan tetanus neonatorum sedang

  1. Kolaborasi

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat untuk mengatasi kejang.

  1. Merujuk

Merujuk ke rumah sakit setelah mendapatkaan penanganan awal.

  1. D. PLANNING

Tgl. 26 Maret 2010 jam 15.00

  1. Memberitahukan kepada ibu mengenai keadaan bayinya bahwa bayinya menderita penyakit tetanus neonatorum sedang yaitu penyakit tetanus yang terjadi pada bayi kurang dari 1 bulan karena kesalahan perawatan tali pusat. Penyakit tetanus neonatorum ini ditandai dengan demam/panas, mulut mencucu sering kejang, tidak bisa menyusui, dan tali pusat kotor.

Ibu mengerti tentang kondisi bayinya.

  1. Membersihkan saluran pernafasan dan membebaskan jalaan nafas dengan memasang spatel lidah yang dibungkus kain ke dalam mulut bayi. Serta memberikan oksigen.
  2. Memantau intake nutrisi dan cairan. Memasang infuse glucose 10% sebanyak 80ml/kg BB/hari.

Infus dipasang pada tangan kiri secara IV (3tetes/menit)

  1. Kolaborasi dengan dokter untuk mengatasi kejang dengan memberikan diazepam 0,5 mg/kg BB secara IM.
  2. Memberikan antibiotic 1 kali (Penisilin Prokain 50.000 U/kg BB/hari secara IM)
  3. Membersihkan tali pusat.
  4. Memberikan KIE kepada ibu tentang perawatan tali pusat yaitu selalu membersihkan tali pusat dan membiarkan tali pusat kering tanpa diberi ramu-ramuan apa pun.
  5. Memberikan KIE kepada ibu mengenai pemenuhan nutrisi bayinya agar ibu tetap memberikan ASI minimal 8-12 kali sehari meskipun bayi menolak atau bayi tidur.
  6. Mempersiapkan untuk merujuk bayi ke rumah sakit. Serta memberitahukan kepada ibu bahwa dengan keadan bayinya yang seperti itu bayi harus dirujuk ke fasilitas yang lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.

www.shvoong.com

http://id.shvoong.com/

http://creasoft.wordpress.com/2008/04/15/keperawatan-bayi-baru-lahir/

www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=073…

http://www.usu.ac.id/id/files/artikel/Tetanus_Neonatorum.pdf

http://library.usu.ac.id/download/fk/penysaraf-kiking2.pdf

http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://infohidupsehat.com/wp-content/uploads/2007/10/tetanus.thumbnail.jpg&imgrefurl=http://pengobatangalihgumelar.blogspot.com/2009/01/penyakit-tetanus.html&usg=__KqbR1FsZIrvJFaNoomguFn-kyEM=&h=128&w=98&sz=5&hl=id&start=16&um=1&tbnid=zGXyxV3lpp_E2M:&tbnh=91&tbnw=70&prev=/images%3Fq%3Dtetanus%2Bneonatorum%26hl%3Did%26sa%3DN%26um%3D1

http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://mawarmawar.files.wordpress.com/2009/02/ecoli_micrograph187162824_std1.jpg&imgrefurl=http://mawarmawar.wordpress.com/2009/02/27/penyakit-yang-disebabkan-oleh-bakteri/&usg=__2VjcyLeNSCaq1LgSMNdJfMt16wc=&h=360&w=480&sz=38&hl=id&start=2&um=1&tbnid=mEnvoFiChLqq0M:&tbnh=97&tbnw=129&prev=/images%3Fq%3Dbakteri%2BClostridium%2Btetani%26hl%3Did%26sa%3DG%26um%3D1